• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Pencapaian Kinerja Tahun 2014

1. Pencapaian Indikator Kinerja Utama Badan Litbang ESDM

Ukuran yang digunakan untuk mengetahui rata-rata pencapaian indikator kinerja setiap sasaran adalah melalui indikator kinerja utama berdasarkan keluaran (output) dan capaian/realisasi hasil (outcome) sesuai Penetapan Kinerja Badan Litbang ESDM Tahun 2014 (Tabel 6). Secara keseluruhan capaian sasaran dan indikator yang telah dilaksanakan Badan Litbang ESDM pada tahun 2014 ditunjukkan pada Tabel 6.

Tabel 6. Pencapaian Kinerja Tahun 2014

No Program / Kegiatan Sasaran Indikator Target Realisasi Capaian %

1 2 3 4 5 6 7 I PROGRAM PENELITIAN DAN PENGEMBAN GAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL Terwujudnya program-program litbang unggulan

Jumlah Laporan Ilmiah 114 122 107,02% Jumlah Makalah Ilmiah yang

diterbitkan oleh media yang terakreditasi

67 98 146,27%

Jumlah Usulan Paten, Hak

Cipta dan Litbang Inovasi 20 26 130,00% Jumlah Peta/Atlas Potensi

Minyak dan Gas Bumi, Ketenagalistrikan, Energi Baru dan Terbarukan, serta Geologi Kelautan 31 24 77,42% Terwujudnya kontribusi dalam perumusan dan evaluasi kebijakan sektor ESDM

Jumlah Usulan Masukan/ Rekomendasi

Kebijakan/Regulasi (NSPK) dan Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI )

31 24 109,68% Terwujudnya sentra teknologi di bidang ESDM Jumlah Pilot Plant/Prototype/Demo Plant atau Rancangan/Rancang Bangun/Formula 21 24 114,29% Terwujudnya peningkatan jasa teknologi

Indeks Kepuasan Pelanggan atas Layanan Jasa Teknologi di Bidang Penelitian dan Pengembangan ESDM dan Sertifikasi Produk

88 88,7 100,80%

P

LKjIP Badan Litbang ESDM Tahun 2014 13

Secara umum, realisasi melebihi target yang telah ditetapkan dikarenakan adanya penambahan jumlah kegiatan litbang dengan melakukan optimalisasi menggunakan anggaran Output Cadangan. Namun demikian pada indikator Jumlah Peta/Atlas Potensi Minyak dan Gas Bumi, Ketenagalistrikan, Energi Baru dan Terbarukan, serta Geologi Kelautan hanya mencapai 77,42% mengingat terdapat sebagian kegiatan penelitian Evaluasi Bersama Intensifikasi Eksplorasi Migas di Kawasan Timur Indonesia tidak terlaksana dikarenakan mengalami gagal lelang untuk kegiatan survei geologi dan geofisika sehingga rencana pembuatan peta tidak terealisasi.

Untuk mendukung tercapainya indikator kinerja utama, pada tahun 2014 jumlah kegiatan penelitian dan pengembangan yang diselenggarakan oleh Puslitbang di Lingkungan Badan Litbang ESDM mencapai 124 kegiatan (Lampiran 1), dengan litbang unggulan sebagai berikut :

a. Bidang Minyak dan Gas Bumi

1. Evaluasi Bersama Kaji Ulang Wilayah Kerja (WK) Migas

Tujuan kegiatan adalah untuk meningkatkan kualitas informasi wilayah kerja migas yang belum/tidak laku, dalam rangka memberikan informasi yang lebih akurat dan menarik tentang potensi migas pada wilayah kerja migas yang akan ditawarkan dan meningkatkan penjualan Wilayah Kerja Migas baru sehingga meningkatkan penerimaan devisa negara.

Gambar 4. Hasil evaluasi bersama WK Migas.

Hasil evaluasi bersama Kaji Ulang WK Migas available terhadap 10 Blok Wilayah Kerja Migas yang masih terbuka dapat di kategorikan dalam tiga

Blok Situbondo : perlu penambahan data seismik untuk mencari

closure lain di area WK karena minimnya data seismik yang ada

Blok Rote II dan West Timor : Ada barrier

fault yang menghalangi migrasi

hidrokarbon dari dalaman kitchen di

bagian utara/baratdaya ke arah tinggian selatan/timur laut. Mina-1 dan Belalang-1 tidak terindikasi terdapat hidrokarbon (dry

hole). Total Sumberdaya kurang dari 1

TCF (Total jumlah dari 21 lead), dan high

risk dan tidak ekonomis untuk eksplorasi

lebih lanjut.

Blok West Abadi : Sebaknya tidak dtawarkan ulang sebelum

ada tambahan data geologi

bawah permukaan. Blok West Aru : Sebaiknya tidak ditawarkan ulang karena beresiko

tinggi dan juga beberapa

permasalahan di daerah ini yaitu keterbatasan data (tidak ada data

sumur dalam blok), kualitas

reservoir yang buruk dari hasil

analisis disekitar blok, ada event

unconformity yang mengakibatkan

beberapa sekuen target hilang,

hingga masalah sealing regional

karena berkembangnya sandy

facies

Blok Morowali : sebaiknya tidak ditawarkan ulang hingga ada penambahan data sumur maupun seismik dengan kualitas yang baik, hasil analisis sementara menunjukkan adanya Pengangkatan sebelum proses sedimentasi Formasi Salodik yang diduga mengakibatkan migas telah matang dan bermigarasi sebelum benturan pada Miosen Awal antara Blok Banggai Sula dan Sulawesi Timur

Blok Tarakan II : daerah ini tidak layak ditawarkan ulang, karena memiliki gradien geothermal rendah < 1,5, TOC rendah < 1, walaupun batuan reservoir cukup

bagus tetapi diperkirakan belum cukup matang untuk meregenerasi hidrokarbon

Blok Buton III :

Blok ini tidak direkomendasikan untuk ditawarkan kembali karena sealing untuk hidrokarbon tidak

berkembang dengan baik dan

juga kedalaman dasar laut lebh dari 5000 meter Daerah North Bone tidak prospek (tidak layak untuk ditawarkan kembali). North Bali III :

Sudah menjadi Blok WK Baru

14 LKjIP Badan Litbang ESDM Tahun 2014

kategori yakni (1) North Bali III sudah menjadi WK baru pada pertengahan Kaji ulang; (2) 4 blok WK masih bisa ditawarkan dengan catatan adanya penambahan data yakni Blok Morowali, Situbondo, Rote II dan West Timor dan 5 Blok WK tidak layak ditawarkan yakni : Blok Tarakan II, Blok Buton III, North Bone, South Aru dan West Abadi, dan (3) 5 WK Migas

available yang ada mempunyai data seismik kurang dan tidak dapat

dihitung sumber dayanya (Gambar 4).

2. Pemetaan Shale Gas Cekungan Sumatera Selatan (Sub-cekungan Palembang Selatan)

Tujuan penelitian adalah mengetahui gambaran geologi dan karakter data singkapan Shale HC play di lapangan dan menghasilkan peta serta angka potensi Sumber Daya Shale Hydrocarbon di Cekungan Sumatra Selatan, yaitu pada sub Cekungan Palembang Selatan dan Utara.

Target shale-HC play di Sub-cekungan Palembang Selatan dan Tengah adalah Formasi Talangakar (TAF) dan Formasi Lahat/Lemat (LAF/LEF). Pengukuran dan pengamatan laboratorium terhadap data lapangan dilakukan untuk mengetahui karakteristik kedua formasi tersebut sebagai

source rock reservoir-hidrokarbon.

Total organic carbon (TOC) Formasi Lahat bagus berkisar 1,7 – 8,5%,

harga hydrocarbon index (HI) mencapai 130 – 290 mg HC/g TOC. Thermal

maturity berkisar antara Ro: 0,64 – 1,40%. Berdasarkan data di atas, maka

dapat disimpulkan Formasi Lahat dapat menghasilkan minyak dan gas di bagian yang lebih dalam. Apabila ditinjau tingkat kematangannya, Formasi Lahat terklasifikasi sudah matang seperti yang teramati di daerah Limau, Beringin dan Muaraenim – Lematang. Harga Tmax 436o - 441o

Berdasarkan peta geologi dari Pusat Survey Geologi (PSG), Formasi Talang Akar dan Formasi Lahat yang menjadi target tersingkap di sekitar daerah Muaradua dan Bungamas (Pegunungan Gumai). Di Bungamas, pengamatan dilakukan di Sungai Empayang dan S. Cawang, sedangkan di sekitar daerah Baturaja-Muaradua dilakukan di Sungai Lengkayap dan di jalan Bumikaya.

C. Berdasarkan data tersebut di atas, maka disimpulkan bahwa Formasi Lahat merupakan potensi yang baik untuk hidrokarbon inconventional.

Formasi Talangakar diendapkan tidak selaras di atas Formasi Lahat dan keduanya dibatasi oleh kontak sesar serta adanya batas sekuen. Berdasarkan jenis satuan batuan penyusunnya, maka formasi ini dibedakan menjadi 2 (dua) satuan batuan, yaitu satuan Batupasir dan satuan Serpih.

LKjIP Badan Litbang ESDM Tahun 2014 15

Pada Gambar 5 ditunjukkan peta kontur struktur daerah penelitian. Pada daerah tersebut dapat disimpulkan bahwa Cekungan Sub-Palembang Selatan dan Tengah ada 3 area yang prospek sebagai area Shale HC (Shale

Gas dan Shale Oil), yaitu area sekitar sumur: Tepus-1, Singa-1 dan

Jelapang-1 dan Kemang-1. Diperkirakan potensi Shale Gas dan Shale oil ada pada area sekitar sumur Jelapang-Kemang dan sumur Singa, sedangkan pada area sekitar sumur Tepus hanya terbentuk shale oil.

Gambar 5. Peta Kontur Struktur SB-3 (Top Formasi Talang Akar). 3. Evaluasi Bersama Pengembangan Kilang BBM dan Petrokimia di

Indonesia

Tujuan penelitian adalah mengkaji beberapa alternatif pembangunan kilang di Indonesia dan merekomendasikan alternatif terbaik yang dianggap layak dan mampu laksana, termasuk dengan pola pendanaan oleh Pemerintah.

Indonesia saat ini memerlukan tambahan kilang baru yang mampu memproduksi BBM minimal 580 ribu bph atau setara dengan dua kapasitas kilang minyak baru masing-masing dengan kapasitas 300 ribu bph. Sedangkan pada tahun 2025, apabila tidak ada pembangunan kilang baru sebelumnya, diperlukan tambahan tiga kilang lagi masing-masing dengan kapasitas 300 ribu bph.

16 LKjIP Badan Litbang ESDM Tahun 2014

Kilang baru sebaiknya dirancang menggunakan minyak berat, karena ketersediaan minyak ringan makin terbatas, sehingga harganya diperkirakan akan makin mahal. Minyak Espo dari Rusia meskipun termasuk light crude, saat ini dan hanya untuk beberapa tahun kedepan diperkirakan masih akan dijual dengan discount karena masih belum banyak peminat dan hubungan politik Rusia dengan dunia Barat.

Kilang dirancang dengan konfigurasi yang dapat menghasilkan produk- produk BBM dengan spesifikasi internasional yang mengikuti standar Euro 4. Konfigurasi kilang minyak yang terintegrasi dengan kilang petrokimia pada umumnya dapat meningkatkan marjin kilang.

Kilang swasta memberikan IRR sebesar 4,36 % tanpa insentif dari pemerintah. Dengan insentif (tax allowance atau tax holiday dan pembebasan PPN barang kena pajak strategis) IRR akan meningkat menjadi 5-5,32 %. Namun inipun belum cukup menarik untuk investor swasta, yang memerlukan IRR minimum sebesar 12 %.

Skema Kerja sama Pemerintah dan Swasta (KPS) memberikan IRR sebesar 12,93% tanpa insentif, pemberian insentif dapat meningkatkan IRR menjadi sekitar 15-17%. Kenaikan IRR ini diakibatkan oleh 70% equity merupakan dana pemerintah sehingga suku bunga bank menjadi BI rate yang diasumsikan sebesar 7,5%. Meskipun demikian, kemungkinan pelaksanaan pendanaan secara KPS akan memerlukan proses dan waktu cukup panjang.

Pembiayaan oleh Pemerintah seluruhnya dapat memberikan IRR 7,22 %. Ini akan menarik apabila Pemerintah dapat menjual obligasi valas atau Sukuk valas/obligasi syariah yang dimasa lalu dengan kupon/imbal jasa lebih rendah dari 6% dan menurun.

Pembangunan kilang baru juga dapat meningkatkan ketahanan energi berupa cadangan BBM nasional dengan sekitar 0,9 hari. Jika dikuantifikasi, ini memberikan manfaat senilai Rp. 2,8 Trilyun, berdasarkan biaya yang diperlukan untuk mengadakan cadangan tersebut.

Pembangunan kilang baru memberikan dampak positif yang besar terhadap perekonomian Indonesia. Perhitungan dengan metode Input- Output (IO), dapat memperkirakan masukan nilai aktivitas ekonomi dari proyek ini berupa dampak kepada PDRB, penerimaan pajak dan penciptaan lapangan kerja. Pembangunan kilang ini diperkirakan memberikan nilai masukan sekitar Rp. 546,266 trilyun, yang cukup besar dibanding investasi sebesar Rp 94 trilyun. Di lihat dari sisi Benefit Cost Ratio (BCR), diperoleh BCR sebesar 3,32.

LKjIP Badan Litbang ESDM Tahun 2014 17 4. Kajian Strategis Susektor Migas: Pra Feasibility Study Pengembangan

Kilang Minyak Mini di Lapangan Minyak Jambi

Kilang minyak mini adalah sebuah kilang kecil yang mengolah minyak mentah kurang dari 5000 barrel per hari yang dibangun secara modular sehingga dapat dengan mudah diangkut dan dipindahkan.

Kilang minyak mini yang dibangun di lapangan minyak Jambi dengan kapasitas 2.000 bbl/hari menghasilkan Kondensat sekitar 90 bbl/hari, Bensin ON 80 sekitar 610 bbl/hari, Kerosin sekitar 122 bbl/hari, Minyak Solar sekitar 1.138 Bbl/hari dan Residu sekitar 2 bbl/hari. Pembangunan kilang minyak mini dengan kapasitas 2.000 bbl/hari memerlukan investasi sekitar 7,81 juta US$ dan biaya operasi sekitar 69,49 juta US$.

Proyek pengembangan kilang mini merupakan proyek yang menguntungkan baik dari sisi pemerintah maupun dari sisi badan usaha, hal ini terlihat dari tingkat pengembalian yang relatif singkat yaitu 3,2 tahun untuk pemerintah dan 4 tahun untuk swasta. Dan IRR yamg relatif besar yaitu 32,43% untuk pemerintah dan 52,42% untuk badan usaha.

Selain itu, jika besaran intangible berupa efek berganda dari pengembangan kilang mini dimasukan dalam analisis kelayakan maka dari sisi pemerintah proyek ini layak bahkan memiliki tingkat pengembalian kurang dari 1 tahun.

5. Prototipe Pabrikasi Rig CBM: Optimalisasi Desain dan Uji Fungsi Prototipe Rig CBM

Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi rancang bangun sebuah rig CBM yang handal dan ekonomis dan optimalisasi prototipe rig yang telah dibuat agar dapat dikomersialkan dan dimanfaatkan oleh industri CBM dan industri migas.

Pada tahun sebelumnya, yaitu 2013 telah dibuat sebuah prototipe rig CBM (Gambar 6). Desain pembuatan Rig CBM ini merupakan Prototype Rig dengan perpaduan teknologi yang digunakan dalam Rig Migas dan Rig Tambang dengan spesifikasi kemampuan setara dengan Rig Migas berkapasitas 350 HP. Komponen TKDN telah mencapai lebih dari 40% pada pembuatan RIG CBM ini, meliputi beberapa bagian struktur Rig antara lain unit carrier rig yang terdiri dari chasis, cabin, roda dan sistem elektrik telah dibuat di dalam negeri, serta beberapa komponen pada peralatan mesin, hidrolik, dan menara (mast). Unit pembawa Rig CBM (carrier) didesain dengan kondisi lebar jalan di Indonesia dan menggunakan sistem penggerak roda 8 x 8 dengan sistem matik, sehingga

18 LKjIP Badan Litbang ESDM Tahun 2014

cocok dioperasikan pada medan berat dan berlumpur seperti kondisi geografis Indonesia.

Hasil pengujian rig up rig down dan koneksi pipa diperoleh catatan sebagai berikut :

• Waktu yang dibutuhkan untuk Rig Up dengan memposisikan rig pada tempatnya dan pemasangan guideline pada mush dibutuhkan kurang lebih 30 menit

• Waktu yang dibutuhkan untuk koneksi Pipa dari sejak pengambilan pada

pipe rack hingga siap pemboran memakan waktu 3 menit

• Waktu yang diperlukan untuk Rig down diperlukan kurang lebih 25 menit • Kemampuan manuver hingga radius kurang lebih 10 meter

• Kecepatan laju kendaraan bisa mencapai kurang lebih 60 km/jam

Pada tanggal 21 Juli 2014 telah diperoleh Sertifikat Kelayakan Penggunaan Instalasi Rig CBM LEMIGAS - Balitbang dari Direktorat Jenderal Migas dengan masa berlaku hingga 18 Juli 2017.

Presentasi mempromosikan Rig CBM dihadapan K3S CBM telah di lakukan di kantor SKK Migas pada bulan September 2014. Kunjungan melihat Rig CBM dan demo uji fungsi di Warehouse PT. Petrodril di Dawuan oleh K3S CBM dan SKK telah dilakukan pada awal bulan Oktober 2014. Presentasi dan kunjungan di beberapa K3S CBM telah dilakukan di antaranya di:

• K3S Nu Energy

• K3S Pertamina Hulu Energy CBM • K3S Epindo

• K3S Medco

Gambar 6. Rig CBM LEMIGAS - Balitbang

6. Evaluasi Bersama Percepatan Konversi BBM Bersubsidi ke BBG di Kementerian/Lembaga

Tujuan penelitian adalah melakukan identifikasi jumlah kendaraan dinas di Kementerian/Lembaga, menentukan lokasi dan jenis SPBG untuk melayani pengisian BBG kendaraan dinas di Kementerian/Lembaga, melakukan analisis ketersediaan pasokan gas untuk SPBG di

LKjIP Badan Litbang ESDM Tahun 2014 19

Kementerian/Lembaga, menyusun rencana bisnis yang sesuai untuk pengoperasian SPBG Kementerian/ Lembaga, membuat Front End

Engineering Design (FEED) SPBG untuk kendaraan dinas di K/L, dan

mengetahui cost benefit pembangunan SPBG.

Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk meningkatkan pemanfaatan gas bumi untuk transportasi jalan (Peraturan Menteri ESDM No. 19 Tahun 2010 tentang Pemanfaatan Gas Bumi Untuk Bahan Bakar Gas yang Digunakan Untuk Transportasi). Selain itu, guna memberikan contoh yang baik dalam pengendalian BBM bersubsidi, Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri ESDM No. 12 Tahun 2012 tentang Pengendalian Bahan Bakar Minyak. Selanjutnya dikeluarkan Peraturan Menteri ESDM no. 1 Tahun 2013 tentang Pengendalian Penggunaan Bahan Bakar Minyak. Kedua peraturan tersebut melarang kendaraan dinas menggunakan BBM bersubsidi.

Penggunaan BBM non subsidi untuk kendaraan dinas mengakibatkan Pemerintah harus mengeluarkan biaya yang lebih besar. Untuk itu, Badan Litbang ESDM melalui PPPTMGB “LEMIGAS” berinisiatif untuk melaksanakan percepatan program konversi BBM ke BBG melalui penggunaan BBG untuk kendaraan dinas di Kementerian/ Lembaga.

Dalam melaksanakan program tersebut diusulkan pembangunan beberapa SPBG di beberapa K/L melalui sistem cluster. Cluster 1, SPBG ditempatkan di Kementerian ESDM sebagai SPBG online dengan kapasitas 0,5 MMscfd. Cluster 2, SPBG ditempatkan di Kementerian Hukum dan HAM sebagai MRU dengan kapasitas 0,1 MMscfd. Cluster 3, SPBG ditempatkan di lokasi Gedung DPR/MPR/DPD sebagai MS dengan kapasitas 1 MMscfd. Cluster 4, SPBG ditempatkan di Kementerian Perindustrian sebagai SPBG onlline dengan kapasitas 0,5 MMscfd. Cluster 5, SPBG ditempatkan di LEMIGAS sebagai SPBG DS dengan kapasitas 0,25 MMscfd.

Untuk merealisasikan terbangunnya SPBG tersebut telah dilakukan pembuatan Front End Engineering Design (FEED) yang siap untuk ketahap

Engineering, Procurement and Construction (EPC).

Total investasi yang diperlukan dalam pembangunan SPBG pada

cluster-cluster tersebut adalah sekitar Rp. 111,7 Milyar. Dengan investasi

tersebut, dapat diperoleh penghematan sekitar Rp. 30,3 Milyar, pada asumsi harga gas Rp. 4.768/lsp, harga BBM non subsidi sekitar Rp. 9.500/liter, dan jumlah kendaraan dinas yang terkonversi sebanyak 1753 kendaraan.

20 LKjIP Badan Litbang ESDM Tahun 2014

Pada asumsi IRR 10%, harga beli gas US$ 4,72 /mmbtu, toll fee US 1.5 / mmbtu dan kurs Rp. 12.000/US$, dan thruput setiap SPBG maksimum, diperoleh harga BBG di MS sekitar Rp. 3.353/lsp dan di DS sekitar Rp.5.161/lsp, MRU KemenkumHam sekitar Rp. 5.584/lsp dan SPBG online KESDM sekitar Rp. 4.270/lsp. Harga rata-rata BBG adalah sekitar Rp. 4.768/lsp.

7. Pemanfaatan DME Sebagai Bahan Bakar pada Sektor Industri dan Transportasi

Tujuan penelitian adalah mendapatkan data-data teknis kinerja burner sektor industri berbahan bakar DME murni yang memiliki efisiensi tinggi dan optimal, mengembangkan sistem konversi DME untuk kendaraan diesel berbahan bakar DME pada sektor transportasi, dan tersusunnya rekomendasi bahan masukan bagi pemerintah DME sebagai salah satu bahan bakar alternatif untuk sektor transportasi di Indonesia.

Pada tahun 2012 dan 2013 telah dilakukan penelitian mengenai pemanfaatan DME sebagai bahan bakar pada burner industri dan mesin diesel dalam hal ini adalah mesin diesel kendaraan bermotor. Penelitian tahun ini merupakan kelanjutan dari penelitian tahun sebelumnya.

Pemanfaatan DME pada motor diesel sektor transportasi dan sektor industri tidak dapat dilakukan secara langsung tetapi memerlukan modifikasi. Pada motor diesel transportasi dengan perbandingan optimum solar dan DME rata - rata 80% - 20% mampu menghasilkan torsi dan daya setara dengan solar 100%. Temperatur mesin dalam kondisi normal. Pemanfaatan DME sebagai bahan bakar mesin diesel dapat mengurangi emisi opasitas rata – rata sebesar 10 % - 20 %.

Sedangkan hasil kinerja burner industri kecil modifikasi (burner DME) bila dibandingkan dengan burner LPG yang ada dipasaran, maka burner DME tersebut memiliki efisiensi rata - rata lebih tinggi 45 %, konsumsi Bahan Bakar rata-rata lebih banyak 23 % dan memerlukan waktu pemanasan lebih lama 31%.

8. Optimasi Uji Coba Sumuran Surfaktan LEMIGAS Berbasis MES dengan Metode Huff and Puff

Dalam jangka pendek, tujuan penelitian ini adalah memformalasikan surfaktan berbasis MES untuk EOR yang memenuhi beberapa kriteria penyaringan pada skala laboratorium dan pada jangka panjang dapat diaplikasikan pada skala pilot dan lapangan. Selanjutnya, dengan tersedianya surfaktan formula baru dari bahan terbarukan dan dapat diproduksi didalam negeri sehingga mampu menaikkan perolehan minyak melalui aplikasi teknologi pengurasan minyak tahap lanjut dengan

LKjIP Badan Litbang ESDM Tahun 2014 21

mekanisme pendorongan pada tegangan antar muka yang rendah dan dengan pengurasan imbibisi spontan.

Penelitian ini dilakukan mengikuti beberapa tahapan yaitu: pembuatan MES dari bahan dasar minyak sawit (curah, kemasan, Oleat), re-formulasi campuran surfaktan dengan beberapa tambahan bahan kimia, dan uji laboratorium yang meliputi: uji kompatibiltas, pengukuran IFT, uji ketahanan panas, uji filtrasi, pengamatan perubahan sifat kebasahan batuan, uji imbibisi spontan dan uji core flooding.

Hasil yang diperoleh adalah :

• Formulasi surfaktan III (1) dan III (2), dgn menggunakan alkali dan tanpa alkali sudah mendapatkan harga IFT 10-3

• Pengujian formulasi surfaktan III (1), tidak terbentuk microemulsion dyne/cm • Pada formulasi surfaktan III (2), terbentuk mikroemulsion ( fasa

tengah )

• Pada pengujian thermal stability formulasi larutan surfaktan III (1,2) selama 90 hari stabil berdasarkan pengukuran IFT tetap di range 10-3 • Uji flitrasi menunjukan nilai FR< 1.2 pada larutan surfaktan tanpa

alkali dyne/cm

• Larutan surfaktan memiliki pH 10-11

• Formula surfaktan dengan menggunakan synthetic brine menunjukan microemulsion yang stabil

• Hasil pengujian core flooding dengan injeksi kimia pada kondisi Sor menunjukkan adanya penambahan produksi minyak dengan variasi PV injeksi dan konsentrasi larutan ASP, surfaktan dan polymer saja 9. Evaluasi Produksi Lapangan Eksisting dan Inventarisasi Data Cadangan

Migas Indonesia 01 Januari 2014

Tujuan kegiatan adalah melakukan evaluasi dan inventarisasi data cadangan Migas, tentang potensi produksi dan cadangan, perkembangan, penyebaran dan laju pengurasan cadangan minyak dan gas bumi untuk semua lapangan dari kontraktor-kontraktor se-Indonesia status 1 Januari 2014.

Dari data yang didapatkan dilakukan kajian evaluasi serta analisis terhadap produksi lapangan eksisting guna mengetahui potensi cadangan Migas dan produksinya dalam rangka membantu pemerintah di dalam meningkatkan perolehan Migas, terutama yang masih memiliki recovery

factor dan angka withdrawal rate rendah.

Hasil kajian evaluasi dan analisis adalah sebagai berikut:

• Data Cadangan Indonesia status 01 Januari 2014 berupa Cadangan Minyak+Kondensat Terbukti (P1) sebesar 3.624,3 MMSTB, cadangan

22 LKjIP Badan Litbang ESDM Tahun 2014

Mungkin (P2) sebesar 1.951,1 MMSTB, cadangan Harapan (P3) sebesar 1.799,7 MMSTB, dan Cadangan Gas Bumi Terbukti (P1) sebesar 100,3 TSCF, cadangan Mungkin (P2) sebesar 24,6 TSCF dan cadangan Harapan (P3) sebesar 24,5 TSCF.

• Produksi minyak terus menurun sementara konsumsi dalam negeri terus bertambah, hal ini menyebabkan peningkatan impor minyak mentah dan BBM.

• Potensi gas bumi yang besar ternyata belum menghasilkan peningkatan konsumsi dalam negeri yang memadai, disebabkan oleh belum tersedianya infrastruktur yang dibutuhkan.

• Penyebab utama laju pengurasan rendah adalah pengelolaan produksi lapangan-lapangan Sumatera Selatan yang tidak dilakukan dengan baik, karena banyak masalah yang dihadapi antara lain tumpang tindih lahan, perijinan, sabotase, hingga pencurian fasilitas migas dan illegal tapping, maka sumur-sumur yang berproduksi di lapangan tersebut menurun produksinya secara drastis dan faktor perolehan yang didapat tidak sesuai dengan yang diharapkan.

• Potensi peningkatan produksi minyak lapangan-lapangan Sumatera Selatan masih cukup tinggi, yang diindikasikan dengan tingkat laju pengurasan pada tahun 2014 yang rendah hanya sekitar 1,4% jauh dibawah rata-rata nasional sebesar 8,0%.

• Lapangan-lapangan Sumatera Selatan dengan cadangan > 10,000 MSTB jika dilakukan optimasi produksi dengan tingkat laju

Dokumen terkait