BAB II TINJAUAN TERHADAP KEPASTIAN HUKUM PENJUALAN
D. Pencapaian Kinerja melalui Tugas dan Kewajiban
Kinerja merupakan tingkat pencapaian atau prestasi yang bisa diraih oleh pegawai atau suatu organisasi berdasarkan indikator-indikator kinerja yang telah ditentukan. Mengukur keberhasilan kinerja, baik kinerja pegawai atau kinerja sebuah organisasi sangatlah diperlukan hal ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan yang telah diraih. Sehingga setelah diketahui bagaimana tingkat kinerja yang telah dicapai bisa dilakukan evaluasi.
Menurut Pasolong (2010: 175) konsep kinerja pada dasarnya dapat dilihat dari dua segi, yaitu kinerja pegawai (individu) dan kinerja organisasi. Kinerja pegawai adalah hasil kerja perseorangan dalam suatu organisasi. Sedangkan kinerja organisasi adalah totalitas hasil kerja yang dicapai suatu organisasi. Kinerja pegawai dan kinerja organisasi memiliki keterkaitan yang sangat erat. Tercapainya tujuan organisasi tidak bisa terlepas dari sumberdaya yang dimiliki oleh organisasi yang digerakkan atau dijalankan pegawai yang berperan aktif sebagai pelaku dalam upaya mencapai tujuan organisasi tersebut.33
Kinerja ialah hasil kerja baik secara kualitas maupun kuantitas yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugas sesuai tanggung jawab yang diberikan. Kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu telah disepakati bersama. Sedangkan menurut pendapat Mathis dan Jackson, menyatakan bahwa kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan pegawai. Manajemen kinerja adalah keseluruhan kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja perusahaan atau organisasi, termasuk kinerja masing-masing individu dan kelompok kerja di organisasi tersebut.
Menurut Amstrong dan Baron (Wibowo,2008: 7), kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategis organisasi, kepuasan konsumen dan memberikan kontribusi pada ekonomi.34 Bernardin dan Russel (Ruky, 2002: 15) memberikan pengertian kinerja sebagai berikut: ”performance is defined as the record of outcomes produced on a specified job function or activity during time period”. Prestasi atau kinerja adalah catatan tentang hasil-hasil yang diperoleh dari fungsi-fungsi pekerjaan tertentu atau kegiatan selama kurun waktu tertentu, dalam definisi ini,aspek yang ditekankan oleh kedua penulis tersebut adalah catatan tentang outcome atau hasil akhir yang diperoleh setelah suatu pekerjaan atau aktivitas dijalankan selama kurun waktu tertentu, dengan demikian kinerja hanya mengacu pada serangkaian hasil yang diperoleh seorang pegawai selama periode tertentu dan tidak termasuk karakteristik pribadi pegawai yang dinilai.35.
Akselerasi peningkatan kinerja Balai Harta Peninggalan (BHP) Kementerian Hukum dan HAM. Salah satunya melalui Rapat Kerja Teknis Balai (Rakernis) untuk menyikapi perkembangan dan kebutuhan hukum
34 Armstrong, M. and Baron, A. 1998. Performance Management –The New Realities. London: Institute of Personnel and Development
35 Bernardin dan Russel (dalam Ruky, 2002:15)Pengertian Kinerja diakses dari http://teorionline. wordpress.com/category/kumpulan-teori/msdm/diakses pada tanggal 5 Agustus 2020 jam 14.25
yang melandasi tugas dan fungsi Balai Harta Peninggalan yang sangat penting bagi pribadi atau badan hukum. Terkait dengan peraturan perundang-undangan yang melandasi tugas dan fungsi Balai harta Peninggalan terdapat di berbagai macam peraturan seperti Staatblad, Ordonantie, KUHperdata, UU Kepailitan, UU Perlindungan Anak, UU Tranfer Dana dan Peraturan lain dalam bentuk Peraturan Pemerintah maupun peraturan setingkat di bawahnya.
Tugas Balai harta Peninggalan sangat rentan dengan permasalahan hukum, mengingat BHP bertindak untuk dan atas nama orang maupun badan yang karena hukum atau karena putusan atau penetapan pengadilan tidak cakap bertindak untuk mengurus diri dan hartanya.
Data yang dapat dihimpun berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Taufik H. Simatupang dari Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum dan HAM R.I. pada tahun 2016 berkaitan dengan Penjualan Harta Kekayaan Dalam Kepemilikan Harta Benda Berdasarkan Putusan Pengadilan orang yang dinyatakan tidak hadir (afwezighed).
Menunjukkan bahwa mayoritas responden belum pernah ditunjuk sebagai pengurus kepentingan dan kekayaan orang yang dinyatakan tidak hadir (afwezighed), yaitu sebanyak 15 orang. Sedangkan 12 orang responden pernah. Sebaran data dimaksud dapat dilihat dalam gambar tabel di bawah ini:
Tabel 1. Ditunjuk sebagai pengurus kepentingan dan kekayaan orang yang dinyatakan tidak hadir (afwezighed)
E. Rangkuman
Sistem Hukum yang dimiliki bangsa Indonesia belum sepenuhnya murni bersumber dari nilai nilai dan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia sendiri, sistem hukum yang dilaksanakan saat ini sebagian bersumber dari nilai-nilai peraturan perundang-undangan peninggalan pemerintah kolonial Belanda. Kendati demikian upaya pembenahan hingga saat ini senantiasa dilakukan dengan cara memperbaiki, mengganti.
Sistem Hukum Keperdataan di Indonesia menganut sistem hukum Eropa Kontinental atau Civil Law. Hal ini dapat dilihat dari sejarah dan politik hukum, sumber hukum maupun sistem penegakan hukumnya. Di mana sistem tersebut banyak berkembang di negara-negara Eropa, seperti Belanda, Prancis, Italia, Jerman. Kemudian di Amerika Latin dan Asia. Di Asia, salah satunya Indonesia pada masa penjajahan Belanda.
Pada sistem hukum Eropa Kontinental memiliki karakteristik berasal dari kodifikasi hukum yang berlaku di kekaisaran Romawi pada masa pemerintahan Kaisar Yustinianus. Corpus Juris Civilis dijadikan prinsip dasar dalam perumusan dan kodifikasi hukum di negara-negara Eropa. Prinsip utamanya bahwa hukum itu memperoleh kekuatan mengikat. Karena berupa peraturan yang berbentuk undang-undang yang tersusun secara sistematis dalam kodifikasi.
Tujuan hukum adalah kepastian hukum Adagium yang terkenal ”tidak ada hukum selain undang-undang”. Hakim tidak bebas dalam menciptakan hukum baru. Karena hakim hanya menerapkan dan menafsirkan peraturan yang ada berdasarkan wewenang yang ada padanya. Putusan hakim tidak mengikat umum tetapi hanya mengikat para pihak yang berpekara saja. Sumber hukum utamanya adalah undang-undang yang dibentuk oleh badan legislatif. Pada mulanya hukum hanya digolongkan menjadi dua, yaitu hukum publik (hukum tata negara, hukum administrasi negara, hukum pidana) dan hukum privat (hukum perdata dan hukum dagang).
Tugas Pokok dan Fungsi Balai Harta Peninggalan adalah: Selaku Wali Pengawas dan Wali Sementara (Pasal 366 dan 359 ayat terakhir KUH Perdata); Pengampu Anak dalam Kandungan dan Pengampu Pengawas dalam Pengampuan (Pasal 348 dan 449 KUH Perdata); Pembukaan Surat
Wasiat Tertutup/Rahasia dan Pendaftaran Surat Wasiat Umum (Pasal 937 dan 942 KUH Perdata); Pengurus atas Harta Peninggalan Tak Terurus/tidak ada kuasanya (Pasal 1126 s/d Pasal 1130 KUH Perdata jo. Pasal 64 s/d Pasal 69 Staatsblad 1872/166); Mewakili dan mengurus Ketidak harta kekayaan orang yang dinyatakan tidak hadir/afwezig (Pasal 463 KUH Perdata jo. Pasal 61 Staatsblad 1872/166); Kurator dalam Kepailitan (Pasal 70 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang); Pembuatan Surat Keterangan Hak Waris untuk Warga Negara Indonesia (WNI) Keturunan Timur Asing (ayat 1 Pasal 14 dari Instruksi Voor de Gouvernement Landmeters dalam Staatsblad 1916 Nomor 517 jo. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah);
Penampung Dana Jaminan Kematian dan Jaminan Hari Tua dalam Hal Tenaga Kerja Tidak Mempunyai Ahli Waris dan Wasiat (Pasal 22 ayat (3a), Pasal 26 ayat (5) Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedelapan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja jo. Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 13 Tahun 2013 tentang Penerimaan dan Pengelolaan Dana Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja pada Balai Harta Peninggalan); dan Penerimaan dan Pengelolaan Hasil Transfer Dana secara tunai berdasarkan Pasal 37 ayat (3) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2011 tentang Transfer Dana.
Kinerja ialah hasil kerja baik secara kualitas maupun kuantitas yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugas sesuai tanggung jawab yang diberikan. Kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu telah disepakati bersama.
F. Evaluasi
1. jelaskan Sistem Hukum dalam Politik Hukum Indonesia 2. Jelaskan Peran BHP Dalam Hukum Keperdataan Di Indonesia 3. Uraikan Tugas dan Fungsi Balai Harta Peninggalan