• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pencapaian Pencegahan dan Pengamanan Hutan

Kinerja Penanganan Pengaduan 3 Tahun (2014-2016)

B.2.4. Pencapaian Pencegahan dan Pengamanan Hutan

SASARAN KEGIATAN

INDIKATOR KINERJA KEGIATAN Capaian 2015

Kinerja 2016 ancaman di

bidang kehutanan

dan operasi di 77 lokasi utamanya di 15 DAS prioritas

2 Jumlah Polhut yang dibina dan ditingkatkan kapasitasnya per tahun

107 % 146 orang

448

orang 306% 3 Jumlah Masyarakat Mitra

Polhut (MMP), Tenaga Pengamanan Hutan Lainnya (TPHL) 112 % 10 unit MMP 17 unit MMP 170%

4 Jumlah sarana dan prasarana pelaksanaan pengawasan,

pengamanan, dan

penegakan hukum yang memenuhi standar minimum di 100 % 11 Brigade 11 Brigade 100%

5 Luas kawasan hutan yang dapat dilindungi dari kegiatan ilegal meningkat setiap tahun 101 % 5.000. 000 Ha 5.503. 843 Ha 110 % 6 Tersedianya regulasi penanganan pengaduan dan sertifikasi penegakan hukum

- 20% 20% 100%

Pelaksanaan kegiatan pencegahan dan pengamanan hutan telah dilaksanakan pada di seluruh Indonesia oleh UPT Kemen LHK (KSDA dan Taman Nasional serta BPPHLHK). Pelaksanaan Kegiatan Pencegahan dan Pengamanan Hutan Tahun 2016 menargetkan terlaksananya pengamanan hutan dari ancaman dan gangguan seluas 5.000.000 Ha, sampai dengan Desember 2016 target tersebut telah dicapai seluas 5.503.843 Ha atau 110 %. Upaya pencegahan dan pengamanan hutan dilaksanakan melalui Patroli pada 507 kawasan konservasi; Operasi Pengamanan Hutan pada 77 UPT Kemen LHK di 34 Propinsi; serta pembentukan MMP sebanyak 17 Unit. Pelaksanaan kegiatan pencegahan dan pengamanan tahun 2016 masih difokuskan pada operasi pemulihan kawasan hutan yang dikuasai secara tidak sah sesuai dengan fungsinya. Adapun rincian pelaksanaan kegiatan ini, yakni :

dilaksanakan di 521 kawasan konservasi serta ditambah lokasi-lokasi strategis lainnya seperti pelabuhan, bandara, pasar tradisional dan lokasi transit lainnya. Pelaksanaan kegiatan ini lebih kepada pencegahan terjadinya gangguan dan mengurangi tekanan dan ancaman terhadap kawasan hutan.

b. Operasi pengamanan hutan dilaksanakan pada 36 lokasi, pelaksanaan operasi pengamanan hutan yang menjadi isu-isu nasional antara lain :

o Operasi Pemulihan Hutan Lindung Sekaro di Propinsi Nusa Tenggara Barat; operasi pemulihan kawasan hutan ini disebabkan semakin banyaknya masyarakat yang merambah kawasan HL untuk dijadikan kebun.

o Operasi Pemulihan Kawasan TN Lore Lindu; operasi pemulihan kawasan ini ditujukan mengeluarkan penambang emas liar di TN Lore Lindu. Luas kawasan TN yang telah dibuka untuk PETI seluas 20 hektar.

o Operasi Pemulihan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil, operasi pemulihan kawasan ini ditujukan untuk mengancurkan tanaman sawit illegal seluas 3.000 Ha yang berada dalam kawasan konservasi. Namun operasi ini hanya berhasil memulihkan fungsi kawasan konservasi seluas 336 hektar.

o Operasi Pemulihan Kawasan Hutan Teluk Jambe; operasi pengamanan hutan ini ditujukan untuk menyelesaikan konflik antara masyarakat dengan PT. Pertiwi Lestari seluas 377,6 Ha.

o Operasi Pemulihan TN Tesso Nillo, operasi ini ditujukan untuk mendukung revitalisasi ekositem Taman Nasional Tesso Nillo. Operasi ini berhasil mengamanankan 1 alat berat dan 37,6 hektar kawasan hutan.

Sasaran lokasi pelaksanaan operasi pengamanan hutan ini ditujukan pada pemulihan kawasan, pembalakan liar dan peredaran tumbuhan dan satwa dilindung sebagaimana tabel dibawah ini :

Tabel 32 Lokasi dan sasaran operasi pengamanan hutan tahun 2015 dan 2016

No Pelaksana Kegiatan Luas (Ha)

2015 2016

1 BBKSDA Jawa Timur - 575.00

2 BBKSDA Papua - 509,349.00

3 BBKSDA Riau - 20.00

4 BBKSDA Sulawesi Selatan - 120.00

No Pelaksana Kegiatan Luas (Ha)

2015 2016

6 BBTN Gunung Gede Pangrango 66,000.00 -

7 BBTN Gunung Leuser 838,872.00 - 8 BBTN Lore Lindu 60.00 70.00 9 BKSDA Aceh - 4.00 0 BKSDA Bengkulu 159.47 508.00 11 BKSDA DIY 100.00 632.73 12 BKSDA Jateng 2,608.15 3,055.80 13 BKSDA Kaltim 500.00 - 14 BKSDA Lampung 13,605.00 - 15 BKSDA Sulsel 0.50 - 16 BKSDA Sultra 270,170.00 276,978.96 17 BKSDA Sumbar 247,282.19 - 18 BKSDA Sumut 190.13 230.00

19 BP2HLHK Jabalnusra (CA Papandayan) - 14.50

20 BP2HLHK Kalimantan (CA Mandor) - 2,880.70

21 BP2HLHK Kalimantan & BTN Kutai - 300.00

22 BP2HLHK Sulawesi (CA Morowali) - 20.00

23 BP2HLHK Sulawesi (SM Lombuyan) - 20.00

24 BTN Berbak 47.50 16.50

25 BTN Bogani Nani Wartabone 90,270.00 -

26 BTN Bukit Baka Bukit Raya - 8,024.60

27 BTN Bukit Barisan Selatan 8,055.00 20,795.00

28 BTN Bukit Tiga Puluh - 144.00

29 BTN Kelimutu - 200.00 30 BTN Kerinci Seblat 100.00 64.00 31 BTN Komodo 173,000.00 - 32 BTN Kutai 240,050.00 - 33 BTN Manusela - 69,818.36 34 BTN Rawa Aopa - 105,194.00 35 BTN Tesso Nilo - 19,350.00 36 BTN Ujung Kulon 105,694.46 - 37 BTN Wasur - 431,425.12 38 Dishut DIY 32,172.00 -

42 Dishut Prov Bali 11,906.02 -

44 Dishut Prov Bengkulu 77,924.00 257,847.00

45 Dishut Prov Jambi 194.00 827.00

46 Dishut Prov Lampung - 704,354.00

47 Dishut Prov Sumbar - 1,250.00

48 Dishut Prov. Sulawesi Utara 10.00 -

40 Dishut Prov. Sumut 105.79 583.21

39 Dishut Sulawesi Tenggara 76,180.38 -

13 2 12 10 3 18 9 20 4 14

Sumatera Jabalnusra Kalimantan Sulawesi Papua

Lokasi Operasi Pengamanan Illog dan TSL

Pembalakan Liar TSL

No Pelaksana Kegiatan Luas (Ha)

2015 2016

41 Dit. PPH (HP Bagan Sinembah) - 420.00

49 Dit. PPH, (TN Tesso Nillo) - 37.50

52 Dit. PPH, BBTN Bromo Tengger Semeru - 50.27

51 Dit. PPH, Perum Perhutani (PT. PL) - 377.60

TOTAL : 3,072,198,00 2,431,892.85

Selain operasi pemulihan kawasan hutan, Ditjen Gakkum LHK juga melaksanakan operasi penyelamatan hak-hak negara atas sumber daya alam hutan dan lingkungan hidup. Pelaksanaan operasi pengamanan hasil hutan (Illegal Looging dan TSL) selama tahun 2016 dilaksanakan pada 105 lokasi. Pelaksanaan operasi tersebut dilaksanakan di telah berhasil mengamankan kayu hasil illegal logging sebanyak 5.329 batang kayu ditambah sebanyak 1.227,75 M3 dengan nilai pasar sekitar Rp.12.939.868.800,-. Pelaksanaan operasi pemberantasan pembalakan liar yang pelaksananya tersebar pada 15 Propinsi. Berdasarkan frekuensi terjadinya pembalakan liar maka Regional Pulau Sumatera masih wilayah yang memiliki tingkat frekuensi terjadi illegal logging terbanyak sebesar 32 %, sebagaimana grafik dibawah ini:

Pelaksanaan operasi pemberantasan peredaran TSL illegal dilakukan sebanyak 65 kali operasi dengan hasil berupa satwa dan specimennya sebanyak 6.122 ekor satwa, sebanyak 4.577 lembar kulit satwa dan 711 buah bagian-bagian satwa. Pelaksanaan operasi tersebut paling tinggi terjadi di Regional Kalimantan, Regional Sumatera dan Regional Papua. Berdasarkan hal-hal tersebut diatas maka potensi hilangnya penerimaan negara terbesar terjadi di Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan dan Pulau Papua namun berdasarkan nilai potensi ekonomi berdasarkan besaran barang bukti maka potensial lost terbesar terjadi di Pulau Papua.

Selanjutnya guna menekan/menurunkan potensial lost tersebut maka diperlukan penyidikan dan penegakan hukum pidana, selama tahun 2016 kasus yang telah ditindak lanjuti sampai dengan P.21 sebanyak 105 tersebut tersebar di 5 wilayah Balai Gakkum LHK sebagaimana tabel dibawah ini:

Tabel 33 Hasil operasi dan penyidikan di pusat dan 5 wilayah Balai Gakkum LHK

Wilayah Operasi Penyidikan Jumlah

Illegal Logging TSL Illegal Logging TSL

Pusat 1 1 2 Sumatera 13 18 13 23 67 Jabalnusra 2 9 19 9 39 Kalimantan 12 20 24 5 61 Sulawesi 10 4 6 7 27 Papua Maluku 3 14 2 8 27 Jumlah 40 65 65 50 220

Berdasarkan data-data diatas, diketahui wilayah yang paling tinggi tingkat gangguannya adalah wilayah Sumatera dan wilayah Kalimantan yang berjumlah + 60 kasus per tahun hampir dua kali lebih tinggi dari wilayah Sulawesi dan wilayah Papua Maluku yang berjumlah + 27 kasus per tahun. Hal ini juga menunjukan relasi upaya operasi pengamanan dan penyidikan yang dilakukan oleh Ditjen Gakkum LH sebagaimana gambar dibawah ini.

Pelaksanaan indicator kinerja program tersebut juga didukung oleh indicator kegiatan, yakni :

1. Pembinaan dan peningkatan kapasitas Polhut, pelaksanaan pembinaan dan peningkatan kapasitas polhut dilaksanakan secara rutin tiap tahun. Pembinaan dan peningkatan kapasitas Polhut tahun 2016 ditargetkan sebanyak 146 orang peserta dan sampai dengan Desember 2016 telah dilakukan peningkatan kapasitas kepada 488 orang atau 360 %.

Tabel 34 Pembinaan polisi kehutanan Tahun 2016

No. Kegiatan Lokasi

Jumlah Peserta (orang) 1 Pendidikan dan Pelatihan Polhut

Pembina

Setukpa Polri Sukabumi 29

2 Latihan menembak Markas Komando Paspampres 80

3 Penilaian polhut dalam rangka lomba Wana Lestari

Seluruh Indonesia 14

4 Pembinaan SDM Pengamanan Hutan BBKSDA Riau 20

5 Pembinaan SDM Pengamanan Hutan BTN Baluran 10

6 Pembinaan SDM Pengamanan Hutan BBKSDA Riau 24

7 Pembinaan SDM Pengamanan Hutan BTN Bromo Tengger Semeru 30 8 Pembinaan SDM Pengamanan Hutan Pusdiklat Arhanud Malang 30

9 Pembinaan SDM Pengamanan Hutan BKSDA Papua 17

10 Pembinaan SDM Pengamanan Hutan BTN Bromo Tengger Semeru 30 11 Pembinaan SDM Pengamanan Hutan BTN Bantimurung Bulusaraung 5 12 Pembinaan SDM Pengamanan Hutan BPPHLHK Jabalnusra 29 13 Pembinaan SDM Pengamanan Hutan BPPHLHK Jabalnusra 30 14 Pembinaan SDM Pengamanan Hutan BPPHLHK Jabalnusra 30 15 Pembinaan SDM Pengamanan Hutan BPPHLHK Jabalnusra 10 16 Pembinaan SDM Pengamanan Hutan BTN Betung Kerihun 30

17 Pembinaan SDM Pengamanan Hutan BKSDA NTB 30

Total 448

2. Pembinaan Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan (MMP), Tenaga Pengamanan Hutan Lainnya (TPHL), dan penggiat lingkungan lainnya selama Tahun 2016 dilaksanakan pada 17 lokasi, yakni : BTN Baluran (Bekol), BTN Baluran (K. Tekok), TN Gunung Gede Pangrango, BKSDA Sulawesi Utara, BKSDA Sulawesi Tengah, BTN Gunung Bromo Tengger Semeru, BKSDA NTT, BKSDA Kalimantan Selatan, BBKSDA Riau Seksi Batam, BTN Way Kambas, BTN Ciremai, BTN Bantimurung

Bulusaraung, BTN Ujung Kulon, BKSDA Jawa Barat (Bandung), BKSDA Jawa Barat (Serang) dan BKSDA Sumatera Selatan

3. Peningkatan sarana dan prasarana pelaksanaan pengawasan, pengamanan dan penegakan hukum yang memenuhi standar minimum di 11 Brigade SPORC, Penyediaan sarana dan prasarana pencegahan dan pengamanan hutan tahun 2016 meliputi pengadaan kendaraan roda 4 berupa mobil intelijen, bahan publikasi berupa buku serta seragam dan perlengkapan untuk SPORC yaitu sepatu Coyote & Delta, baju, celana PDL, kopel, sabuk, tas dan rompi. Jumlah pengadaan tersebut selengkapnya disajikan dalam Tabel dibawah ini

Tabel 35 Peningkatan Sarana Prasarana PAMHUT 2016.

No Pengadaan Jenis Barang Jumlah

1. Mobil Mobil Intelijen 5 Unit

2. Bahan Publikasi Buku 250 Buku

3. Seragam dan

Perlengkapan SPORC

Sepatu Coyote 92 Unit

Sepatu Delta 79 Unit

Baju PDL 119 Stel

Celana PDL 119 Stel

Kaos PDL 68 Stel

Kaos Dalam PDL 119 Stel

Kopel Dahrem 121 Set

Topi Rimba 121 Set

Rompi pelindung SPORC 121 Set Tas Backpack 50 lt 121 Set

Ikat Pinggang 121 Set

Pemeliharaan sarana prasarana pencegahan dan pengamanan hutan dilakukan melalui kegiatan fasilitasi penertiban penggunaan senjata api dan fasilitasi pengurusan penggunaan senjata api. Penertiban penggunaan senjata api telah dilakukan di BBTN Ujung Kulon- Jabar, Prov. Sulawesi Tenggara, Prov. Kalimantan Barat, dan Prov. Lampung. Pengurusan penggunaan senjata api dilakukan di Kalimantan Barat dan Provinsi Jawa Barat.

Tabel 36 Pembaharuan buku pas senjata api

No Instansi Jumlah

1 Direktorat PPH 4 buku

2 Relokasi dari BTN Tanjung Puting dan BTN Ujung Kulon ke Direktorat PPH

4 buku

3 Dinas Kehutanan Prov. Sumatera Barat 93 buku

No Instansi Jumlah 5 Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Rejang

Lebong 4 buku

6 Dinas Kehutanan kabupaten Banggai 6 buku

7 BBTN Teluk Cenderawasih 18 buku

8 BTN Bukit Tigapuluh 20 buku

9 BKSDA Sulawesi Utara 6 buku

10 Dinas Kehutanan Provinsi Lampung 30 buku

Jumlah 200 buku

Permasalahan terkait senjata api: 1. Senpi bukan BMN Ditjen Gakkum LHK;Pengurusan senpi merupakan tugas tambahan Dit. PPH: 3. Berdasarkan p.18/menlhk-ii/2015 tentang organisasi dan tata kerja kementerian lhk dan sasaran kerja dalam dipa pengurusan senpi bukan merupakan tupoksi ditjen gakkum sehingga kinerja dit pph dianggap tidak tepat sasaran (temuan itjen tahun 2016); 4. Perlu adanya revisi p 18 terkait pengurusan senpi merupakan sarpras yang melekat pada polhut; 5. Senpi merupakan sarpras pengamanan hutan yang melekat pada personil polhut; dan Senpi yang ada milik bmn ditjen ksdae.

Secara keseluruhan selama tahun 2016, kinerja pencegahan dan pengamanan hutan telah mengalami perbaikan dimana seluruh capaian telah melampaui target yang diberikan sebagaimana tabel dibawah ini.

Tabel 37 Perbandingan Kinerja Pencegahan dan Pengamanan Hutan

No Indikator Kinerja Program 2015 2016

Target Capaian Target Capaian 1 Jumlah lokasi dilaksana kannya

pencegahan serta pengendalian ancaman/ gangguan

77

Lokasi 100 %

26

lokasi 144,44 2 Jumlah Polhut yang dibina dan

ditingkatkan kapasitasnya 2.500 orang 107 % 448 orang 306% 3 Jumlah MMP, TPHL dan

penggiat lingkungan lainnya yang terbina

34

Unit 112 %

17 unit

MMP 170%

4 Jumlah sarana dan prasarana penegakan hukum yang memenuhi standar minimum

11 Brigade

SPORC

100 % 11

Brigade 100% 5 Luas kawasan hutan yang dapat

dilindungi dari kegiatan ilegal

3 Juta

HA 102 %

5.503.

843 Ha 110 % 6 Tersedianya regulasi

Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan memiliki tantangan yang sangat berat dalam mendukung tercapainya sasaran strategis dan mengwujudkan reformasi tata kelola kepemerintahan yang baik di lingkungan Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan . Tahun 2016 ini, ditetapkan indicator kinerja program penegakan hukum dukungan managemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya Ditjen PHLHK adalah SAKIP Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan K ehutanan dengan nilai minimal 72 point sebagaimana dijelaskan pada tabel dibawah ini.

Tabel 38 Sasaran Program Dukungan Manajemen Ditjen PHLHK NO SASARAN PROGRAM/KEGIATAN/

INDIKATOR KINERJA KEGIATAN TARGET REALISASI CAPAIAN I SASARAN PROGRAM :

Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Ditjen PHLHK III INDIKATOR KINERJA KEGIATAN :

a. SAKIP Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (S1.P7.K5.IKK.a)

72 Point 76 Point 105 %

Pelaksanaan kegiatan dukungan manajemen dan kegiatan teknis Ditjen PHLHK tahun 2016 ini dilaksanakan pada 83 (delapan puluh tiga) satuan kerja, yang meliputi penyediaan anggaran, sarana dan prasarana serta perangkat operasional lainnya seperti Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria (NSPK) Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Guna terlaksananya tata kelola birokrasi penegakan hukum maka ditetapkan 10 indicator kinerja kegiatan. Pada tahun 2016, pengukuran kinerja Ditjen Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan dilaksanakan pada semester I dengan Nilai 76 point. Tercapainya nilai SAKIP 2016 sebesar 75,98 point telah melampaui target yang ditetapkan sebesar 72 point dan secara signifikan naik sebesar 15 point dibandingkan SAKIP pada tahun 2015 sebesar 61 point. Beberapa yang mendukung tercapainya hal-hal tersebut adalah :

B.2.5. Pencapaian peningkatan Nilai SAKIP Ditjen Gakkum LHK

Dokumen terkait