5.6 Analisis Sistem Utilitas
5.6.2 Pencegahan Kebakaran
Untuk menghindari terjadinya kebakaraan pada suatu bangunan, diperlukan adanya suatu sistem pencegahan kebakaran. Berikut merupakan beberapa syarat untuk mencegah bahaya kebakaran pada suatu bangunan:
a. Mempunyai bahan struktur utama dan finishing yang tahan api
b. Mempunyai jarak bebas dengan bangunan-bangunan disebelahnya atau terhadap lingkungannya
c. Melakukan penempatan tangga kebakaran sesuai dengan persyaratannya.
d. Mempunyai pencegahan terhadap sistem elektrikal e. Mempunyai pencegahan terhadap sistem penangkal petir
f. Mempunyai alat kontrol untuk ducting pada sistem pengkondisian udara
g. Mempunyai sistem pendeteksian dengan sistem alarm, sistem automatic smoke, dan heat ventilating.
h. Mempunyai alat kontrol terhadap lift
i. Melakukan komunikasi dengan stasiun komando untuk sistem pemadam kebakaran.
Hidran Kebakaran
Hidran kebakaran merupakan suatu alat untuk memadamkan kebakaran yang sudah terjadi dengan menggunakan alat bantu air.
58 Hidran terbagi atas hidran kebakaran di dalam gedung (Gambar 5.23) dan hidran kebakaran di halaman (Gambar 5.24).
Gambar 5.23 Hidran Box
Gambar 5.24 Hidran Halaman
Untuk memasang peralatan hidran diperlukan syarat-syarat sebagai berikut:
a. Sumber persediaan air hidran kebakaran harus diperhitungkan pemakaian selama 30-60 menit dengan daya pancar 200 galon/menit.
b. Pompa-pompa kebakaran dan peralatan listrik lainnya harus mempunyai aliran listrik tersendiri dari sumber daya listrik darurat.
c. Selang kebakaran dengan diameter antara 1,5”-2” harus terbuat dari bahan yang tahan panas, dengan panjang selang 20-30 meter.
d. Harus disediakan kopling penyambungan yang sama dengan kopling dari unit pemadam kebakaran.
59 e. Penempatan hidran harus terlihat jelas, mudah dibuka, mudah dijangkau, dan tidak terhalang oleh benda-benda/barang-barang lain.
f. Hidran di halaman harus menggunakan katup pembuka dengan diameter 4” untuk 2 kopling, diameter 6’ untuk 3 kopling, dan mampu mengalirkan air 250 galon/menit atau 950 liter/menit untuk setiap kopling.
Jumlah pemakaian hidran kebakaran pada suatu bangunan harus ditentukan dari klasifikasi bangunan dan jumlah luas bangunan tersebut. Untuk bangunan A = 1 buah/800m2; B = 1 buah/1000 m2; C = 1 buah/1000 m2.
Sprinkler
Pada peraturan Dinas Pemadam Kebakaran mengenai penggunaan alat pemadam kebakaran berupa mobil kebakaran dijelaskan:
a. Untuk bangunan kelas A mulai dari lantai ke-4/ketinggian 14m ke atas;
b. Untuk bangunan kelas B mulai dari lantai ke-8/ketinggian 40m ke atas.
Jika kebakaran terjadi pada bangunan tinggi yang kesulitan dalam mengadakan pemadaman, harus menggunakan alat pemadam kebakaran tambahan yang bersifat otomatis, tidak dilakukan secara manual atau dengan tenaga manusia.
Selain itu, apabila unit pemadam kebakaran setempat belum memiliki tangga pemadam kebakaran setinggi 40m, maka ketentuan mulai dipakainya instalasi sprinkler harus disesuaikan dengan tangga maksimum 1 unit pemadam kebakaran yang dimiliki di daerah tersebut.
Untuk penyediaan sistem sprinkler harus diperhatikan: penyediaan air, pompa tekan sprinkler, kepala sprinkler, dan alat bantu lainnya.
Sistem Penyediaan Air
Penyediaan air sprinkler dapat diusahakan melalui:
60 a. Tangki gravitasi, harus diletakkan sedemikian rupa sehingga air dapat menghasilkan aliran dan tekanan cukup pada setiap kepala sprinkler.
b. Tangki bertekanan, harus selalu berisi 2/3 dari volume dan diberi tekanan 5kg/cm2.
c. Jaringan air bersih khusus untuk pipa sprinkler.
Kepala sprinkler
Kepala sprinkler adalah bagian dari splinker yang berada pada ujung jaringan pipa, diletakkan sedemikian rupa sehingga perubahan suhu tertentu akan memecah kepala sprinkler tersebut dan akan memancarkan air secara otomatis. Kepala sprinkler mempunyai beberapa jenis, dan dibedakan dengan warna untuk menentukan tingkat kepekaannya terhadap suhu.
Contoh warna kepala sprinkler:
a. Jingga, tabung pecah pada suhu 57oC b. Merah, tabung pecah pada suhu 680C c. Kuning, tabung pecah pada suhu 790C d. Hijau, tabung pecah pada suhu 930C e. Biru, tabung pecah pada suhu 1410C
Untuk ruangan-ruangan kantor dan bangunan-bangunan umum, biasanya digunakan kepala sprinkler warna jingga atau merah.
Penempatan titik-titik sprinkler harus disesuaikan dengan standar yang berlaku dalam kebakaran ringan. Setiap kepala Sprinkler dapat melayani luas area 10-20 m2 dengan ketinggian ruangan 3m. Ada beberapa cara pemasangan kepala sprinkler sperti dipasang dibawah plafon atau ditempel di tembok.
61
Gambar 5.25 Sistem Pemipaan Hidran dan Sprinkler
Alat Pencegah Kebakaran
Dalam usaha memadamkan kebakaran harus diingat bahwa selain api sebagai faktor utama yang harus dipadamkan, asap juga harus diperhatikan. Untuk mencegah alirnya asap kemana-mana diperlukan alat-alat untuk menanggulanginya seperti fire damper, smoke and heat ventilating, vent and exhaust.
Fire Damper
62 Alat ini menutup pipa ducting yang mengalirkan udara supaya asap dan api tidak menjalar kemana-mana. Alat ini bekerja secara otomatis apabila terjadi tanda-tanda kebakaran.
Smoke and Heat ventilating
Alat ini dipasang pada daerah-daerah yang menghubungkan udara luar. Kalau terjadi kebakaran, asap yang timbul segera dapat mengalir keluar, sehingga para petugas pemadam kebakaran terhindar dari asap tersebut.
Vent and Exhaust
Alat ini dipasang pada tempat-tempat khusus seperti berikut ini:
a. Dipasang di depan tangga kebakaran yang akan berfungsi mengisap asap yang akan masuk pada tangga yang dibuka pintunya.
b. Dipasang di dalam tangga, secara otomatis berfungsi memasukkan udara untuk memberikan tekanan pada udara di dalam ruangan tangga. Tekanan tersebut akan mengatur tekanan udara di dalam ruangan lebih besar daripada udara di dalam bangunan, sehingga kalau pintu tangga kebakaran terbuka, udara di dalam tangga akan menekan ke dalam ruangan dan asap tidak masuk ke dalam ruangan tangga.
c. Untuk bangunan dengan sistem atrium (ruangan lantai yang terbuka menerus), dipakai alat exhaust yang secara otomatis terbuka pada saat terjadi kebakaran sehingga asap dapat keluar ke atas melewati alat tersebut.
Tangga Kebakaran
Tangga kebakaran ini mempunyai syarat-syarat tertentu, diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Tangga terbuat dari konstruksi beton atau baja yang mempunyai ketahanan kebakaran selama 2 jam.
63 b. Tangga dipisahkan dari ruangan-ruangan lain dengan dinding beton yang tebalnya minimum 15cm atau tebal tembok 30cm yang mempunyai ketahanan kebakaran selama 2 jam.
c. Bahan-bahan finishing, seperti lantai dari bahan yang tidak mudah terbakar dan tidak licin, railing terbuat dari besi.
d. Lebar tangga minimum 120cm (untuk lalu lintas 2 orang).
e. Pintu tangga terbuat dari bahan yang tahan kebakarannya 2 jam (pintu tahan api)
f. Pintu paling atas membuka kearah luar (atap bangunan) dan semua pintu lainnya membuka kearah ruangan tangga, kecuali pintu paling bawah membuka ke luar dan langsung berhubungan dengan ruang luar.
g. Daun pintu yang terbuat dari pintu tahan api, dilengkapi dengan engsel, kunci, dan pegangan yang juga tahan api. Pintu tidak dapat dibuka secara otomatis dari ruangan tangga, kecuali pintu paling atas atau paling bawah.
h. Letak pintu kebakaran paling jauh dapat dijangkau oleh pengguna dalam jarak radius 25m. Oleh karena itu, diperlukan satu tangga kebakaran dalam suatu bangunan dengan luas 600m2 yang ditempati 50-70 orang.
i. Supaya asap kebakaran tidak masuk ke dalaam ruangan tangga diperlukan: (i) Exhaust Fan, yang berfungsi menghisap asap yang ada didepan tangga; (ii) Pressure Fan, yang berfungsi memberi tekanan didalam ruangan tangga yang lebih besar daripada tekanan pada ruangan luar.
j. Didalam dan didepan tangga diberi alat penerangan sebagai penunjuk arah ke tangga dengan daya otomatis/emergency.