• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular 1. Penyakit Menular Langsung

d. Terkendalinya faktor risiko;

PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN SESUAI JENIS PENYAKIT

2.1. Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular 1. Penyakit Menular Langsung

2.1.1.1. Human Immunodeficiency Virus (HIV)/Acquired Immune

Deficiency Syndrome (AIDS)

a. Pengertian, Gejala dan Tanda Klinis, Cara Penularan

Pengertian

HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus ini jika menginfeksi manusia menyebabkan penurunan system kekebalan tubuh karena penurunan CD4 sehingga tubuh menjadi jauh lebih rentan terhadap infeksi-infeksi yang pada orang normal tidak sampai menimbulkan gejala.

AIDS (Aquired Immuno Deficiency Syndrome) merupakan kumpulan gejala yang timbul akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh HIV yang didapat.

II - 2

Gejala dan tanda klinis yang patut diduga Infeksi HIV

1) Keadaan Umum

a) Kehilangan berat badan >10% dari berat badan dasar

b) Demam (terus menerus atau intermiten, temperatur oral >37,50C) yang lebih dari satu bulan

c) Diare (terus menerus atau intermiten) yang lebih dari satu bulan

d) Limfadenopati meluas 2) Kulit

Post Propilaksis Exposure (PPE) dan kulit kering yang luas merupakan dugaan kuat infeksi HIV. Beberapa kelainan seperti kutil genital (genital warts), folikulitis dan psoriasis sering terjadi pada ODHA tapi tidak selalu terkait dengan HIV 3) Infeksi

a) Infeksi Jamur :

1. Kandidiasis oral 2. Dermatitis seboroik

3. Kandidiasis vagina berulang b) Infeksi Viral:

1. Herpes zoster (berulang atau melibatkan lebih dari satu dermatom)

2. Herpes genital (berulang) 3. Moluskum kontagiosum 4. Kondiloma

c) Gangguan Pernafasan:

1. Batuk lebih dari satu bulan 2. Sesaknafas

3. Tuberkulosis

4. Pneumonia berulang

5. Sinusitis kronis atau berulang d) Gejala Neurologis

1. Nyeri kepala yang semakin parah (terus menerus dan tidak jelas penyebabnya)

2. Kejangdemam

3. Menurunnya fungsi kognitif Stadium Klinis Infeksi HIV

II - 3 a. Tidak ada gejala

b. Limfadenopati Generalisata Persisten 2) Stadium 2

a. Penurunan berat badan bersifat sedang yang tak diketahui penyebabnya (<10% dari perkiraan berat badan atau berat badan sebelumnya)

b. Infeksi saluran pernafasan yang berulang (sinusitis, tonsillitis, otitis media, faringitis)

c. Herpes zoster d. Keilitis angularis

e. Ulkus mulut yang berulang

f. Ruam kulit berupa papel yang gatal (Papular pruritic eruption)

g. Dermatisis seboroik h. Infeksi jamur pada kuku 3) Stadium 3

a. Penurunan berat badan bersifat berat yang tak diketahui penyebabnya (lebih dari 10% dari perkiraan berat badan atau berat badan sebelumnya)

b. Diare kronis yang tak diketahui penyebabnya selama lebih dari 1 bulan

c. Demam menetap yang tak diketahui penyebabnya d. Kandidiasis pada mulut yang menetap

e. Oral hairy leukoplakia f. Tuberkulosis paru

g. Infeksi bakteri yang berat (contoh: pneumonia, empiema, meningitis, piomiositis, infeksi tulang atau sendi, bakteraemia, penyakit inflamasi panggul yang berat)

h. Stomatitis nekrotikans ulserative akut, gingivitis atau periodontitis

i. Anemi yang tak diketahui penyebabnya (<8g/dl), netropeni (<0.5 x 109/l) dan/atau trombositopeni kronis (<50 x 109/l) 4) Stadium 4

a. Sindrom wasting HIV

b. Pneumonia Pneumocystis jiroveci

II - 4

d. Infeksi herpes simplex kronis (orolabial, genital, atau anorektal selama lebih dari 1 bulan atau viseral di bagian manapun)

e. Kandidiasis esofageal (atau kandidiasis trakea, bronkus atau paru)

f. Tuberkulosis ekstra paru g. Sarkoma Kaposi

h. Penyakit Cytomegalovirus (retinitis atau infeksi organ lain, tidak termasuk hati, limpa dan kelenjar getah bening)

i. Toksoplasmosis di sistem saraf pusat j. Ensefalopati HIV

k. Pneumonia Kriptokokus ekstrapulmoner, termasuk meningitis

l. Infeksi mycobacteria non tuberkulosis yang menyebar m. Leukoencephalopathy multifocal progresif

n. Cyrptosporidiosis kronis o. Isosporiasis kronis

p. Mikosis diseminata (histoplasmosis, coccidiomycosis) q. Septikemi yang berulang (termasuk Salmonella non-tifoid) r. Limfoma (serebral atau Sel B non-Hodgkin)

s. Karsinoma serviks invasif

t. Leishmaniasis diseminata atipikal

u. Nefropati atau kardiomiopati terkait HIV yang simtomatis

Cara Penularan

Virus HIV dapat ditularkan melalui:

1) Cairan darah(transfusi darah,pemakaian jarum suntik secara bersamaan misalnya penyuntikan obat, imunisasi, pemakaian alat tusuk yang menembus kulit misalnya alat tindik, tato dan alat facial wajah).

2) Cairan sperma dan cairan vagina(melalui hubungan seks penetrative)

3) Air susu ibu

Virus HIV tidak ditularkan dengan cara sebagai berikut: a. Berpelukan sosial, berjabat tangan

b. Pemakaian WC, wastafel atau kamar mandi ebrsama c. Di kolam renang

II - 5

e. Membuang ingus, batuk atau meludah

f. Pemakaian piring, alat makan atau makan bersama-sama b. Input Tambahan

1) Petugas HIV-AIDS telah dilatih

2) Layanan KTS/TIPK di seluruh kab/kota di Jawa Tengah 3) Layanan PDP dan RS rujukan ARV

c. Proses

Setiap daerah diharapkan menyediakan semua komponen layanan HIV yang terdiri dari :

1) Informed consent untuk tes HIV seperti tindakan medis lainnya.

2) Mencatat semua kegiatan layanan dalam formulir yang sudah ditentukan

3) Anamnesis dan pemeriksaan fisik lengkap oleh dokter. 4) Skrining TB dan infeksi oportunistik.

5) Konseling bagi Odha perempuan usia subur tentang KB dan kesehatan reproduksi termasuk rencana untuk mempunyai anak.

6) Pemberian obat kotrimoksasol sebagai pengobatan pencegahan infeksi oportunistik.

7) Pemberian ARV untuk Odha yang telah memenuhi syarat. 8) Pemberian ARV profilaksis pada bayi segera setelah dilahirkan

oleh ibu hamil dengan HIV.

9) Pemberian imunisasi dan pengobatan pencegahan kotrimoksasol pada bayi yang lahir dari ibu dengan HIV positif.

10) Anjuran rutin tes HIV, malaria, sifilis dan IMS lainnya pada perawatan antenatal (ANC).

11) Konseling untuk memulai terapi.

12) Konseling tentang gizi, pencegahan penularan, narkotika dan konseling lainnya sesuai keperluan.

13) Menganjurkan tes HIV pada pasien TB, infeksi menular seksual (IMS), dan kelompok risiko tinggi beserta pasangan seksualnya, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

14) Pendampingan oleh lembaga non kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien

II - 6

Pemeriksaan Laboratorium Untuk Tes HIV

Prosedur pemeriksaan laboratorium untuk HIV sesuai dengan panduan nasional yang berlaku pada saat ini, yaitu dengan menggunakan strategi 3 dan selalu didahului dengan konseling pra tes atau informasi singkat. Ketiga tes tersebut dapat menggunakan reagen tes cepat atau dengan ELISA. Untuk pemeriksaan pertama (A1) harus digunakan tes dengan sensitifitas yang tinggi (>99%), sedang untuk pemeriksaan selanjutnya (A2 dan A3) menggunakan tes dengan spesifisitas tinggi (>99%).

Antibodi biasanya baru dapat terdeteksi dalam waktu 2 minggu hingga 3 bulan setelah terinfeksi HIV yang disebut masa jendela. Bila tes HIV yang dilakukan dalam masa jendela menunjukkan hasil ”negatif”, maka perlu dilakukan tes ulang, terutama bila masih terdapat perilaku yang berisiko.

Hasil Interpretasi Tindak Lanjut

A1 (-) atau

A1 (-) A2 (-) A3 (-)

Non-reaktif

- Bila yakin tidak ada faktor risiko dan atau perilaku berisiko dilakukan LEBIH DARI tiga bulan sebelumnya maka pasien diberi konseling cara menjaga tetap negatif

- Bila belum yakin ada tidaknya faktor risiko dan atau perilaku berisiko dilakukan DALAM tiga bulan terakhir maka dianjurkan untuk TES ULANG dalam 1 bulan A1 (+) A2 (+) A3 (-) Atau A1 (+) A2 (-) A3 (-) Indetermina te

Ulang tes dalam 1 bulan

Konseling cara menjaga agar tetap negatif ke depannya

A1 (+) A2 (+) A3 (+)

Reaktif atau Positif

Lakukan konseling hasil tes positif dan rujuk untuk mendapatkan paket layanan PDP

Pemeriksaan dan Tatalaksana setelah diagnosis HIV

ditegakkan

Setelah dinyatakan terinfeksi HIV maka pasien perlu dirujuk ke layanan PDP untuk menjalankan serangkaian layanan yang meliputi penilaian stadium klinis, penilaian imunologis dan penilaian virologi. Hal tersebut dilakukan untuk: 1) menentukan

II - 7

apakah pasien sudah memenuhi syarat untuk terapi antiretroviral; 2) menilai status supresi imun pasien; 3) menentukan infeksi oportunistik yang pernah dan sedang terjadi; dan 4) menentukan paduan obat ARV yang sesuai.

Penilaian Stadium Klinis

Stadium klinis harus dinilai pada saat kunjungan awal dan setiap kali kunjungan untuk penentuan terapi ARV dengan lebih tepat waktu.

Penilaian Imunologi (Pemeriksaan jumlah CD4)

Jumlah CD4 adalah cara untuk menilai status imunitas ODHA. Pemeriksaan CD4 melengkapi pemeriksaan klinis untuk menentukan pasien yang memerlukan pengobatan profilaksis IO dan terapi ARV. Rata rata penurunan CD4 adalah sekitar 70-100 sel/mm3/tahun, dengan peningkatan setelah pemberian ARV antara 50 – 100 sel/mm3/tahun. Jumlah limfosit total (TLC) tidak dapat menggantikan pemeriksaan CD4.

Pemeriksaan laboratorium sebelum memulai terapi

Pada dasarnya pemantauan laboratorium bukan merupakan persyaratan mutlak untuk menginisiasi terapi ARV. Pemeriksaan CD4 dan viral load juga bukan kebutuhan mutlak dalam pemantauan pasien yang mendapat terapi ARV, namun pemantauan laboratorium atas indikasi gejala yang ada sangat dianjurkan untuk memantau keamanan dan toksisitas pada ODHA yang menerima terapi ARV. Hanya apabila sumberdaya memungkinkan maka dianjurkan melakukan pemeriksaan viral load pada pasien tertentu untuk mengkonfirmasi adanya gagal terapi menurut kriteria klinis dan imunologis.

Di bawah ini adalah pemeriksaan laboratorium yang ideal sebelum memulai ART apabila sumber daya memungkinkan:

1) Darah lengkap 2) Jumlah CD4 3) SGOT / SGPT 4) Kreatinin Serum 5) Urinalisa 6) HbsAg

7) Anti-HCV (untuk ODHA IDU atau dengan riwayat IDU) 8) Profil lipid serum

II - 8 9) Gula darah