• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.6. Pencegahan / Pengobatan

Perbaikan higiene pribadi / lingkungan seperti penyediaan toilet, cuci tangan, dan mengkonsumsi makanan yang matang serta perbaikan sanitasi juga diperlukan untuk mencegah terjadinya pencemaran tanah oleh tinja manusia yang terinfeksi dengan cacing. Ini penting untuk mencegah transmisi lebih lanjut (Jong, 2002; Dent dkk, 2007; Pasaribu dkk, 2008).

WHO memberikan empat daftar anthelmintik yang esensial dan aman dalam penanganan dan kontrol STH, yaitu albendazole, mebendazole, levamisole,

dan pyrantel pamoate. Jika diberikan secara reguler pada komunitas yang

terinfeksi, obat-obat ini efektif dalam mengontrol morbiditas yang berhubungan dengan infeksi cacing yang endemis.

II.6.1. Albendazol

Albendazol adalah antihelmintik spektrum luas golongan benzimidazole

dengan nama kimia methyl [5-(propylthio)-1 H-benzimidazol-2-yl] carbamate

yang digunakan untuk infeksi cacing kremi, cacing gelang, cacing cambuk dan cacing tambang (Gambar 6) (Venkatesan, 1998; Horton, 2000)

Secara farmakologi, Benzimidazole bekerja menghambat mitochondrial

fumarate reductase, pelepasan posporilasi dan mengikat β-tubulin, sehingga menghambat kerja polimerisasi (Goodman, 1996). Pada parasit cacing, albendazol dan metabolit-nya diperkirakan bekerja dengan jalan menghambat sintesis mikrotubulus, dengan demikian mengurangi pengambilan glukosa secara

irreversible, mengakibatkan cacing lumpuh (Bertram, 2004). Albendazol tersedia

dalam bentuk tablet kunyah 200 mg dan 400 mg, serta sediaan suspensi. Untuk infeksi nematoda usus digunakan albendazol 400 mg dosis tunggal baik untuk anak di atas 2 tahun dan dewasa.

Pada pemberian per oral, albendazol langsung bekerja sebagai antihelmintik di saluran cerna. Albendazol memiliki efek larvisid (membunuh

larva) pada penyakit hydatid,cysticercosis, ascariasis, dan infeksi cacing tambang

serta efek ovocid (membunuh telur) pada ascariasis, ancylostomiasis, dan

trichuriasis. Obat ini dimetabolisir terutama menjadi albendazole sulphoxide yang

dapat dimonitor dan menjadi pegangan untuk menentukan dosis obat (Katzung, 1989; Sukarno dkk, 1995; Goodman & Gilmants, 1996). Sekitar 3 jam setelah pemberian dosis oral 400 mg, sulfoxide tersebut mencapai konsentrasi plasma

maksimum 113-367 ng/ml; waktu paruh plasma 8 - 12 jam. Bahan metabolisme dikeluarkan dari tubuh melalui empedu dan urine. Penyerapan albendazol akan meningkat hingga lima kali bila diberikan dengan makanan yang berlemak. Dengan demikian bila kita ingin membunuh cacing yang berada di jaringan, maka obat cacing diberikan bersama makanan, dan bila kita ingin memberantas cacing yang berada di lumen usus, maka obat cacing diberikan pada waktu sebelum makan / perut kosong (Bertram, 2004)

Efek samping yang timbul berupa nyeri ulu hati, diare, sakit kepala, mual, muntah, pusing, gatal-gatal dan/atau ruam kulit bisa dijumpai. Efek samping yang jarang dijumpai termasuk nyeri tulang, proteinuria, dan penurunan eritrosit. Albendazol juga tidak boleh digunakan untuk anak di bawah 2 tahun dan untuk wanita hamil (Katzung, 1989; Sukarno dkk, 1995; Goodman & Gilmants, 1996).

Penelitian yang dilakukan di RSCM menggunakan albendazol 400 mg dosis tunggal menunjukkan bahwa angka penyembuhan dan penurunan jumlah telur rata-rata per gram tinjanya masing-masing 59,35% dan 71,4% (Abidin dkk,1986).

II.6.2. Mebendazol

Gambar 7. Struktur kimia Mebendazol

Mebendazol adalah salah satu antihelmintik spektrum luas merupakan obat pilihan untuk Trichuriasis dengan angka penyembuhan yang tinggi. Nama kimia

mebendazol yaitu methyl [(5-benzoyl-3H-benzoimidazol-2-yl)amino]formate

(Gambar 7). Rumus kimia: C16H13N3O3. Disamping itu, efektifitasnya juga tinggi untuk infeksi nematoda usus lain seperti cacing gelang dan cacing tambang baik infeksi tunggal maupun campuran (Katzung, 1989; Sukarno dkk, 1995; Goodman & Gilmants, 1996).

Obat ini mempunyai efek baik terhadap telur, larva maupun cacing dewasa. Mebendazol menyebabkan kerusakan struktur subselular dan menghambat sekresi asetilkholin-esterase cacing, menghambat sintesis

mikrotubuli nematoda yang mengakibatkan gangguan pada mitosis, juga menghambat ambilan glukosa secara irreversible sehingga terjadi pengosongan (deplesi) pada cacing. Cacing akan mati secara perlahan-lahan. Mebendazol juga

menyebabkan sterilitas pada telur T trichiura, A lumbricoides dan hookworm

sehingga telur ini gagal berkembang menjadi larva. Hasil pengobatan yang memuaskan baru tampak setelah 3 hari pemberian obat (Sukarno-Sukarban, 1995)

Mebendazol biasanya diberikan secara oral. Obat ini memiliki bioavailabilitas sistemik yang rendah karena absorbsinya yang buruk dan mengalami first pass hepatic metabolism yang cepat. Ekskresi terutama melalui

urin dalam bentuk metabolit dan utuh sebagai hasil dekarbosilasi dalam tempo 48 jam . Juga ditemukan metabolit dalam bentuk konyugasi yang diekskresi bersama empedu (Katzung, 1989; Sukarno dkk, 1995; Goodman & Gilmants, 1996).

Mebendazol tidak menyebabkan efek toksik sistemik sehingga aman diberikan pada orang yang mengalami anemia dan malnutrisi sekalipun. Hanya kadang-kadang dilaporkan terjadi tenesmus dan nyeri kepala ringan. Berdasarkan

studi toksikologi terbukti bahwa obat ini memiliki batas keamanan yang baik. Pada binatang, ia bersifat embriotoksik dan teratogenik, oleh karena itu tidak boleh diberikan pada wanita hamil . Obat ini juga tidak dianjurkan untuk anak dibawah dua tahun (Katzung, 1989; Sukarno dkk, 1995; Goodman & Gilmants, 1996).

Dosis yang digunakan untuk trichuriasis bagi dewasa dan anak diatas 2

tahun adalah 2 x 100 mg 3 hari berturut-turut (Katzung, 1989; Sukarno dkk, 1995; Goodman & Gilmants, 1996). Mebendazol tersedia dalam bentuk tablet 100 mg dan sirup 10 mg/ml. Dosis tunggal 500 mg biasa diberikan pada pengobatan massal. Penggunaan mebendazol 500 mg dosis tunggal pada murid SD di Jakarta Selatan menunjukkan penurunan jumlah telur 80-90% (Abidin dkk, 1995). Sementara itu mebendazol dosis yang sama pada murid SD di Sidoarjo ternyata memberikan angka penyembuhan 100% (Bariah-Ideham, 1992).

Berdasarkan hasil meta-analisis, albendazol dan mebendazol ditoleransi dengan baik. Pada 11 studi yang menggunakan albendazol, tidak ada dilaporkan efek samping yang signifikan setelah pemberian albendazol. Satu studi di Filipina melaporkan adanya mual dan diare pada 2 dan 1 individu. Sedangkan pada 3 studi yang menggunakan mebendazol, satu studi melaporkan ketidaknyamanan perut pada 6 dari 45 anak dan tidak adanya laporan efek samping dari 2 studi lainnya (Urbani dkk, 2001).

Hasil penelitian Jackson dkk (1998) dikatakan bahwa dosis tunggal albendazol dan mebendazol tidak memberikan hasil yang maksimal dalam pengobatan infeksi trichuriasis. Menurut Hall dan Nahar (1994) bahwa

pengobatan 3 hari berturut dengan albendazol dan mebendazol menunjukkan hasil yang lebih baik, tetapi pengobatan dalam 5 hari tidak menunjukkan hasil yang lebih baik.

Dari hasil penelitian Lubis tahun 2009 tentang pengaruh albendazol dan mebendazol pada sterilitas telur A lumbricoides didapati bahwa pada pemeriksaan

albendazol sebanyak 19,5%, sedangkan pada kelompok mebendazol sebanyak 14,2%. Pada pemeriksaan tinja minggu ke-4, didapati penurunan jumlah telur yang infeksius pada kelompok albendazol yaitu sebanyak 13,8%, sedangkan pada kelompok mebendazol terjadi peningkatan jumlah telur yang infeksius menjadi 28,3%.

Penelitian oleh Ismid dkk (1996) yang membandingkan pemberian mebendazol dengan pirantel pamoat terhadap perkembangan telur T trichiura

mendapati hasil perkembangan telur T trichiura yang lebih lambat

pascapengobatan dengan mebendazol dibandingkan dengan pengobatan pirantel pamoat. Morfologi telur yang abnormal dan degenerasi juga didapati pada kelompok mebendazol sedangkan keadaan tersebut tidak dijumpai pada kelompok pirantel pamoat.

Satu penelitian untuk melihat efek ovisidal albendazol terhadap telur STH juga dilakukan pada tahun 1985, dimana didapati bahwa albendazol mempunyai efek ovisidal terhadap telur A lumbricoides, T trichiura, dan cacing tambang

(Maisonneuve dkk, 1985). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Margono et al.,

(1995) didapatkan 3,12% telur T trichiura menjadi infektif setelah pengobatan

dengan mebendazol 500 mg dosis tunggal. Dengan demikian antihelmintik tersebut menghambat perkembangan telur T trichiura (Rizal Subahar dkk, 1998).

Waikagul et al., (1995) melaporkan setelah pengobatan dengan

mebendazol (2 x 100 mg, 3 hari berturut-turut) didapatkan adanya perubahan morfologi telur T trichiura antara lain ukuran telur bertambah besar atau kecil,

jumlah kutub berkurang, warna telur menjadi pucat dan lain-lain. Gracia & Bruckner (1988) menyatakan bahwa tidak semua telur T trichiura mengalami

perubahan morfologi setelah pengobatan dengan mebendazol (Rizal Subahar, 1998). Pemilihan antihelmintik yang tepat, yang mempunyai efek vermisidal, larvasidal dan ovisidal penting dalam upaya penurunan transmisi (Ismid dkk, 1996).

II.7. Kerangka Teoritis

Telur-Sel membelah (dua empat sel- morula-blastula-gastrula)

Telur( Satu sel) yang diekskresi via feces Telur ( Bentuk Infektif

berisi larva)

Siklus dalam usus manusia (menetas di usus halus, cacing dewasa di usus besar)

termakan

Albendazol / Mebendazol Telur rusak

Dokumen terkait