BAB III PENGERTIAN PENCEGAHAN PERKAWINAN
A. Pencegahan Perkawinan Menurut Fiqih Klasik
Fiqih islam tidak mengenal adanya pencegahan dalam perkawinan. Akibatnya tidak ditemukan kosa kata pencegahan dalam fiqih islam. Berbeda dengan pembatalan, istilah ini telah dikenal dalam fiqih islam dan kata batal itu sendiri berasal dari bahasa arab.
Didalam fiqih sebenarnya dikenal dua istilah yang berbeda kendati hukumnya sama yaitu nikah al- fasid dan nikah al-batil. Al-Jaziry menyatakan bahwa nikah fasid adalah nikah yang tidak memenuhi salah satu syarat dari syarat-syaratnya, sedangkan nikah batil ialah apabila tidak terpenuhinya rukun. Hukum nikah al-fasid dan batil adalah sama-sama tidak sah.29
Dalam terminologi Undang-Undang perkawinan nikah al-fasid dan al-batil dapat digunakan untuk pembatalan dan bukan pada pencegahan. Bedanya pencegahan itu lebih tepat digunakan sebelum perkawinan berlangsung sedangkan pembatalan mengesankan perkawinan telah berlangsung dan di temukan adanya pelanggaran terhadap
28
http:// husniya.blogspot.com/2007/02/refleksi-keruwetan-fikih klasik.html
29
Amiur Nurudin,Dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam Di Indonesia (studi kritis perkembangan hukum islam dari fiqih,UU NO.1/1974 sampaiKHI), (Jakarta: kencana, 2004), cet.ke-1, h.98
ketentuan baik syarat ataupun rukun serta perundang-undangan. Baik pencegahan dan pembatalan tetap saja berakibat tidak sahnya sebuah perkawinan.
Jika dianalisis diaturnya masalah pencegahan dan pembatalan dalam Undang-Undang perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam, merupakan sebuah upaya efektif untuk menghindarkan terjadinya perkawinan yang terlarang karena melanggar syarat-syarat yang telah ditentukan oleh agama.
Wajarlah jika Cristian Kohler menyatakan bahwa undang-undang Indonesia yang baru itu memberikan bagi mereka yang dapat menuntut pencegahan perkawinan suatu peluang yang besar; mencakup semua orang yang berkepentingan.
Ada kesan, tidak dikenalnya institusi pencegahan dalam fiqih islam itu disebabkan karena kecilnya kemungkinan terjadinya pelanggaran terhadap larangan perkawinan. Kuatnya posisi saksi (ingatan yang kuat- dabit sadran) dan tradisi walimah al-‘urusy tanpa disadari merupakan kontrol yang baik dari masyarakat terhadap kedua mempelai.30 Jika pada diri kedua mempelai diketahui terdapat larangan-larangan perkawinan maka masyarakat segera mengetahuinya.
Seiring dengan perkembangan global seperti yang kita saksikan sekarang ini, maka terjadinya pelanggaran terhadap larangan perkawinan sangat mungkin terjadi. Untuk itulah pasal-pasal pencegahan perkawinan merupakan strategi jitu, meminjam ungkapan Kohler untuk menghindarkan perkawinan yang terlarang.
Secara sederhana pencegahan dapat diartikan dengan perbuatan menghalang-halangi, merintangi, menahan, tidak menurutkan sehingga perkawinan tidak berlangsung. Pencegahan perkawinan dilakukan semata-mata karena dipenuhinya syarat-syarat
30
perkawinan tersebut.31 Akibatnya bisa saja perkawinan itu akan tertunda pelaksanaannya atau tidak terjadi sama sekali.
Ada sebuah kritikan yang menarik dari Hilman Hadikusuma yang menyatakan, hukum perkawinan nasional memakai tiga istilah yang sebetulnya kurang dikenal atau tidak biasa dipakai oleh masyarakat pribumi yaitu, istilah, “pencegahan perkawinan”, penolakan perkawinan”, dan “pembatalan perkawinan”. Pencegahan perkawinan dapat dilakukan oleh pihak keluarga atau yang mengurus calon mempelai atau juga pejabat apabila persyaratan perkawinan tidak terpenuhi. Penolakan perkawinan dapat dilakukan oleh pegawai pencatat perkawinan apabila ada larangan terhadap perkawinan, dan batalnya perkawinan dapat dilakukan oleh keluarga atau oleh pejabat jika perkawinannya itu tidak memenuhi persyaratan. Dengan digunakannya ketiga istilah tersebut tampak bahwa Undang-Undang No.1/1974 dipengaruhi oleh KUH Perdata (BW) yang sebelumnya tidak berlaku bagi masyarakat hukum adat terutama yang beragama islam.32
Terlepas dari persoalan pengaruh memengaruhi, baik pencegahan, pembatalan dan penolakan, semuanya bermuara untuk menghindarkan perkawinan yang terlarang. Muara yang dituju adalah dalam rangka mewujudkan kemaslahatan bagi semua pihak.
Kitab-kitab fiqih tidak membicarakan pencegahan perkawinan itu secara khusus dalam bahasan tertentu. Meskipun demikian, usaha-usaha untuk tidak terjadinya perkawinan terdapat dalam fiqih dan di bicarakan secara sporadis dalam bahasa terpisah pisah.33
31
Martiman Prodjohamidjodjo, Hukum Perkawinan Di Indonesia, (Jakarta: Indonesia Legal Center Publishing, 2002), h. 19.
32
Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia: Menurut Perundangan, Hukum Adat, hukum Agama, (Bandung:Mandar Maju,1990), h.71.
33
Amir Syarifuddin, Antara Fiqih Munakahat Dan Undang-Undang Perkawinan, (Jakarta: PT.Kencana,2006), cet,1, h. 150
Pada dasarnya perkawinan dapat dilangsungkan bila sudah ada sebab-sebab, rukun, dan syaratnya serta sudah tidak ada lagi hal-hal yang menghalangi terjadinya perkawinan itu. Pihak-pihak yang akan melangsungkan perkawinan itu sudah mengevaluasi sendiri segala persyaratan kelangsungan perkawinan itu. Sebaliknya, bila pihak-pihak yang melihat adanya syarat-syarat yang belum terpenuhi akan bertindak sendiri untuk tidak melangsungkan perkawinan itu. Umpamanya, saksi tidak akan mau menyaksikan suatu perkawinan bila ia yakin bahwa laki-laki dan perempuan terlarang untuk melangsungkan perkawinan. Begitu pula wali tidak akan melaksanakan perkawinan jika calon menantunya itu tidak seagama dengan anaknya.
Seorang perempuan yang sudah dicerai oleh suaminya dan masih berada dalam masa iddah harus menolak dilaksanakannya perkawinan bila ia meyakini bahwa dia masih berada dalam masa iddah; begitu pula wali yang masih berada dalam ihram dapat menolak melangsungkan perkawinan dengan penjelasan bahwa ia masih berada dalam ihram, karena bebasnya dari ihram itu menjadi salah satu syarat bagi wali yang akan menikahkan anak perempuannya.
Pencegahan perkawinan dalam kitab-kitab fiqih biasa disebut ضاﺮ إ yang berarti intervensi atau penolakan atau pencegahan. Hal tersebut biasanya berkenaan dengan masalah kafaah dan mahar. Kafaah dan mahar merupakan harga diri dalam suatu keluarga. Pihak keluarga perempuan merasa harga dirinya jatuh bila anak perempuannya kawin dengan laki-laki yang tidak se-kufu atau setatus sosialnya lebih rendah. Demikian pula mahar yang diterima seorang anak perempuan lebih rendah dari apa yang diterima oleh anggota keluarganya yang lain akan merasa harga dirinya jatuh. Untuk menjaga
gengsi atau harga diri itu dia akan mengajukan keberatan untuk melangsungkan perkawinan. Tindakan seperti ini disebut ضاﺮ إ .34
Anak perempuan dan para walinya mempunyai hak yang sama dalam hal kafaah atau mahar itu. Ulama yang membolehkan perempuan dewasa mengawinkan dirinya sendiri seperti di kalangan ulama hanafiah dan syi’ah, bila si anak perempuan mengawinkan dirinya dengan laki-laki yang tak se-kufu dengannya, wali yang juga memiliki hak atas kafaah berhak mengajukan pencegahan perkawinan. Demikian juga bila anak perempuan itu mengawinkan dirinya dengan mahar yang kurang dari mahar mitsl, wali dapat meng-I’tiradh.
Maksud kafa’ah dalam perkawian adalah persesuaian keadaan antara sisuami dengan perempuannya, sama kedudukannya. Suami seimbang kedudukannya dengan isterinya di masyarakat, sama baik akhlaqnya dan kekayaannya. Persamaan kedudukan suami dan isteri akan membawa kearah rumah tangga yang sejahtera, terhindar dari ketidak beruntungan. Demikian gambaran yang diberikan oleh kebanyakan ahli fiqih tentang kafa’ah.
Lantas bagaimana hukum kafa’ah ini menurut islam ? bagaimanakah perakteknya ? sebenarnya, soal kafa’ah bukanlah dari syari’at islam, artinya islam tidak menetapkan bahwa seorang laki-laki hanya boleh kawin dengan perempuan yang sama kedudukannya, seorang miskin tidak boleh kawin dengan orang kaya, orang arab tidak boleh kawin dengan orang indonesia, islam tidak mengajarkan hal demikian.
Islam adalah agama fitrah, yang condong kepada kebenaran, islam tidak membuat aturan tentang kafa’ah tetapi manusialah yang menetapkannya, karena itulah mereka berbeda pendapat tentang hukum kafa’ah dan pelaksanaannya.
34
Ibnu Hazm pemuka mazhab Zahiriyah, yang dikenal sebagai mujtahid tidak mengakui adanya kafa’ah dalam perkawinan. Ia berkata setiap muslim selama tidak melakukan zina boleh kawin dengan perempuan muslimah, siapapun orangnya asal bukan perempuan zina.35
Semua orang islam adalah saudara. Tidaklah haram perkawinan seorang budak hitam dari Ethiopia dengan perempuan keturunan khalifah hasyimi. Seorang muslim yang kelewat fisik, asal tidak berzina adalah sekufu bagi muslimah yang fasik asalkan perempuan itu tidak berzina, beralasan dari firman Allah :
إ
ةﻮْﺧإ نْﻮ ْﺆ ْاﺎ ﱠ
Artinya :
“ Sesungguhnya orang-orang mukmin bersaudara ”. (49 Al-Hujarat :10)
Ada beberapa pendapat dari ulama di kalangan mazhab fiqih mengenai cakupan kafa’ah. Ulama Hanafiah misalnya mengatakan bahwa kafaah itu meliputi : keturunan (an-nasab) dalam kaitan ini terutama arab atau non arab, al-islam, propesi (al-hirfah), merdeka (al-huriyyah), agama / kepercayaan (ad-diyanah).36
Sedangkan menurut mazhab malikiyah menghubungkan kafa’ah hanya dengan satu hal saja yang paling mendasar yakni beragama, dalam artian muslim yang tidak fasik dan sehat fisiknya dalam pengertian sehat dari cacat fisik seperti belang, gila dan lain-lain.
35
Sa’id Thalib Al-Hamdani,Risalah Nikah, (Jakarta: PT. Pustaka Amani, 1989), cet,3, hal. 98.
36
M.Amin Suma, Hukum Keluarga Islam Di Dunia Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), h. 83
Sedangkan harta, nasab dan setatus kemerdekaan itu merupakan kafa’ah yang tidak menjadi persyaratan utama bagi suatu akad pernikahan.
Dan bagi Ulama Syafi’iyah, kafa’ah meliputi empat hal, yakni nasab, addin, merdeka dan setatus sosial terutama pekerjaan (ekonomi). Adapun menurut mazhab Hanabilah, kafa’ah meliputi lima hal. Yaitu: agama (ad-diynah) dalam konteksnya yang sangat luas, status sosial terutama profesi (as-shina’ah), kemampuan finansial terutama dihubungkan dengan hal-hal yang wajib dibayar seperti mas kawin (mahar) dan uang belanja (biaya hidup, nafkah), merdeka (al-huriyyah), nasab dalam kaitan ini antara arab dan non arab (‘ajam).37
Dalam hal pemilihan jodoh, atau ikhtiyar az-zaujah, nabi menetapkan empat hal utama yang berkaitan dengan soal kafa’ah yang layak dipertimbangkan oleh calon suami terhadap calon isterinya; dan sebaliknya, oleh calon isteri kepada calon suaminya. Keempat hal kafa’ah yang dimaksudkan ialah: harta (al-amal), keturunan (nasab), kecantikan (kegantengan) dan agama calon isteri (suami).
Keempat hal ini terasa penting keberadaannya dalam kehidupan sebuah rumah tangga, dan umum terjadi di tengah-tengan masyarakat yang dalam memilih calon suami atau calon isteri kebanyakan sangat mendambakan calon yang memiliki hal-hal tersebut. Yakni, calon suami (isteri) yang berharta (kaya), berasal dari keturunan (lingkungan keluarga) baik-baik, terhormat atau terpandang, ganteng (cantik) sehingga sedap dipandang mata dan penampilannya mendambakan; serta berperilaku baik atau dalam istilah hadist dikenal dengan istilah taat beragama. Hany saja, yang disebutkan terakhir ini (agama) boleh jadi banyak orang yang mengabaikan urgensinya dalam hal pemilihan jodoh. Padahal, bagaimanapun ini akan turut menentukan baik buruknya suatu kehidupan
37
rumah tangga. Itulah sebabnya mengapa nabi menggarisbawahi urgensi dari keberagamaan sang calon suami (isteri) meskipun ditempatkan pada urutan yang paling akhir.38
Kafa’ah dalam perkawinan itu diperlakukan bagi laki-laki bukan bagi perempuan.39 artinya orang laki-lakilah yang disyaratkan harus sekufu dengan perempuan yang akan dikawininya, setingkat dengan siperempuan dan siperempuan tidak disyaratkan harus sepadan dengan laki-lakinya, beralasan dengan sebuah hadist Rasulallah S.A.W.: yang Artinya: (“ barang siapa mempunyai budak perempuan, kemudian didiknya dengan baik, diperlakukan dengan baik, kemudian dimerdekakan lalu dikawinkan maka ia akan mendapat pahala dua kali lipat ” ).
Kebanyakan ulama berpendapat bahwa kafa’ah adalah hak wanita dan walinya. Wali tidak mengawinkanperempuan dengan orang yang tidak sekufu kecuali apabila yang bersangkutan itu ridho.40 Demikian pula para wali lainnya, karena perkawinan yang tidak sekufu akan membuat malu semua walinya, maka siperempuan tidak boleh dikawinkan kecuali dengan persetujuan para wali. Apabila perempuan dan walinya sudah ridho maka perkawinannya boleh dilaksanakan, sebab pencegahan perkawinan adalah hak wali, apabila mereka telah setuju maka hilanglah halangan untuk kawin.
Dan seandainya seorang wanita menikah dengan laki-laki yang tidak sekufu, dan tanpa keridhoan dari para walinya, maka perkawinannya itu batal. Dan menurut sebagian para sahabat bahwasanya: 1.pernikahan itu batal karena tidak adanya ridho dari para walinya.
38
Ibid, h. 85
39
Sa’id Thalib Al-Hamdani,Risalah Nikah, (Jakarta: PT. Pustaka Amani, 1989), cet, 3, hal.104.
40
Dan yang ke-2. pernikahan itu sah akan tetapi ada kekurangan, karena ia menikah dengan yang tidak sekufu.41
Asy-syafi’i berpendapat bahwa mencegah perkawinan adalah hak para wali di saat perkawinan, Imam Ahmad dalam salah satu riwayatnya menyatakan bahwa pencegahan itu adalah hak para wali, aqrab maupun ab’ad. Apabila mereka tidak suka maka wali berhak mengajukan fasakh.42
Sebaliknya dikalangan ulama yang mengharuskan perkawinan itu dilakukan oleh wali dan anak yang akan kawin harus dimintai persetujuannya, bila wali akan mengawinkannya dengan laki-laki yang tidak se-kufu dengannya, si perempuan boleh keberatan atau tidak memberi izin untuk melaksanakan perkawinan. Demikian pula bila ia akan dikawinkan dengan mahar yang kadarnya dibawah mahar mitsl dan ia tidak mau, maka perempuan yang akan dikawinkan itu dapat mengajukan keberatannya. Yang demikian disebut pencegahan. Bila kedua pihak yang sama berhak itu tidak sepakat, seperti yang satu mengatakan telah memenuhi kriteria kafaah sedangkan yang lain mengatakan belum, mesti diselesaikan pihak ketiga dalam hal ini adalah hakim di pengadilan.43
Kafa’ah dinilai pada waktu terjadinya akad nikah, apabila keadaannya berubah sesudah terjadinya akad maka tidak mempengaruhi akad, karena syarat akad diteliti pada waktu akad.
41
Syairozi, Abu ishaq ibrahim ibn ali ibn yusuf al fairuz, asy muhadzidzib fi fiqh al imam asy syafi’I, (bairut : dar al fikr, ) hal. 38-39.
42
Ibid,hal,105.
43
Amir Syarifuddin, Antara Fiqih Munakahat Dan Undang-Undang Perkawinan, (Jakarta: PT.Kencana,2006), cet,1, h. 152
I’tirad juga dapat dilakukan oleh wali yang urutan kekerabatannya lebih dekat bila calon mempelai perempuan akan dikawinkan oleh yang urut kekerabatannya lebih jauh, karena dalam ketentuan urutan wali menurut pendapat kebanyakan ulama wali yang lebih jauh tidak dapat menjadi wali selama lebih dekat masih ada dan memenuhi persyaratan untuk menjadi wali.
Dalam pandangan ulama fiqih urusan perkawinan itu adalah urusan peribadi atau keluarga dan orang luar tidak terdapat didalamnya, kecuali kalau dilibatkan. Dalam syarh minhaj karangan Al-Nawawiy disebutkan bahwa bila seseorang dimintai pandangan dan pendapatnya tentang seseorang laki-laki yang melamar anaknya ia harus menyebutkan segi-segi negatif dari calon menantunya itu secara objektif. Dalam tidak dimintai pendapat seseorang hanya dapat menyampaikan fakta yang dapat dipertanggung jawabkan tentang dipenuhi atau tidaknya syarat perkawinan.
Contoh dalam hal yang di sebutkan di atas umpamanya seseorang yang meyakini pasangan yang akan kawin itu adalah saudara sesusuan, ia dapat menyampaikan sebelum terjadinya perkawinan, namun secara langsung ia tidak dapat mencegah terjadinya perkawinan. Demikian pula bila seseorang yang hadir dalam acara perkawinan bila melihat atau mendengar ucapan akad menyalahi syarat yang ditentukan, ia dapat menyampaikan tidak sahnya akad tersebut, namun tidak dapat mencegah berlangsungnya perkawinan. Pihak luar keluarga tidak berhak mencegah berlangsunngnya perkawinan. Yang dapat dilakukan hanyalah pandangan atau nasihat dalam rangka amar ma’ruf dan nahi munkar meskipun membawa akibat tidak dapatnya perkawinan itu dilaksanakan. 44
B. Pencegahan Perkawinan Menurut Undang-Undang No.1 Tahun 1974.
44