• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS YURIDIS TOLOK UKUR PENCEKALAN SAKSI YANG DILAKUKAN KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI DALAM

PENYELIDIKAN DIHUBUNGKAN DENGAN HAK ASASI MANUSIA DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA INDONESIA

3.2. Pencekalan Mahfud Suroso Terkait Kasus Hambalang.

KPK mulai menyelidiki proyek Hambalang sejak Agustus tahun 2011. Jumlah anggaran proyek Hambalang tersebut senilai Rp 2,5 triliun yakni terdiri dari sekitar Rp 1,4 triliun untuk pengadaan barang dan Rp 1,1 triliun biaya pembangunan gedung. KPK mendalami tindak pidana korupsi di proyek Hambalang terindikasi pada dua peristiwa. Pertama, pada proses penerbitan sertifikat tanah Hambalang di Jawa Barat. Kedua, pelaksanaan proyek Hambalang yang dilakukan secara tahun jamak. KPK menyelidiki kasus Hambalang setelah mengembangkan penyidikan kasus suap proyek wisma atlet SEA Games.

Proyek Hambalang dimulai sekitar tahun 2003. Proyek yang dikabarkan ada dugaan korupsi seperti ‘nyanyian’ M. Nazaruddin ini ditargetkan selesai akhir tahun 2012. Proyek pusat olahraga di Hambalang Bogor Jawa Barat menjadi sorotan publik, apalagi dua bangunan telah ambruk dikarenakan tanahnya ambles. Secara kronologi, proyek ini bermula pada Oktober Tahun 2009. Saat itu Kemenpora (Kementerian Pemuda dan Olah Raga) menilai perlu ada Pusat Pendidikan Latihan dan Sekolah Olah Raga pada tingkat nasional. Maka, Kemenpora memandang perlu untuk melanjutkan dan menyempurnakan pembangunan proyek pusat pendidikan pelatihan dan sekolah olahraga nasional di Hambalang, Bogor. Selain untuk meningkatkan dan menyempurnakan pembangunan proyek pusat pendidikan pelatihan dan sekolah olahraga nasional, hal ini juga dilakukan dalam rangka untuk mengimplementasikan UU Nomor 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional.

Pada 20 Januari 2010, sertifikat hak pakai nomor 60 terbit atas nama Kemenpora dengan luas tanah 312.448 meter persegi. Pada 30 Desember 2010, terbit Keputusan Bupati Bogor nomor 641/003.21/00910/BPT 2010 yang berisi Izin Mendirikan Bangunan untuk Pusat Pembinaan dan Pengembangan Prestasi Olahraga Nasional atas nama Kemenpora di desa Hambalang, Kecamatan Citeureup Bogor. Pembangunan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Prestasi Olahraga Nasional mulai dilanjutkan pada tahun 2010 dan direncanakan selesai tahun 2012. Untuk membangun semua fasilitas dan prasarana sesuai dengan master plan yang telah disempurnakan, anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp 1,75 triliun. Berdasarkan hasil perhitungan konsultan perencana Anggaran Rp 1,75 triliun ini sudah termasuk

bangunan sport science, asrama atlet senior, lapangan menembak, extreme sport, panggung terbuka, dan voli pasir. Sejak tahun 2009-2010 Kementerian Keuangan dan DPR menyetujui alokasi anggaran sebagai berikut :

1. APBN murni 2010 sebesar Rp 125 miliar yang telah diajukan pada tahun 2009.

2. APBNP 2010 sebesar Rp 150 miliar.

3. Pagu definitif APBN murni 2011 sebesar Rp 400 miliar

Pada 6 Desember 2010 keluar surat persetujuan kontrak tahun jamak dari Kemenkeu RI nomor S-553/MK.2/2010. Pekerjaan pembangunan direncanakan selesai pada akhir tahun yakni 31 Desember 2012. Penerimaan siswa baru diharapkan akan dilaksanakan tahun 2013-2014. Pada tahun 2003-2004 masih di Direktorat Jenderal (Ditjen) Olahraga Depdikbud, Proyek ini digelontorkan pada tahun itu sesuai dengan kebutuhan akan pusat pendidikan dan pelatihan olahraga yang bertaraf internasional. Selain itu untuk menambah fasilitas olahraga. Pada tahun itu direkomendasikan 3 wilayah yaitu Hambalang Bogor, Desa Karang Pawitan, dan Cariuk Bogor. Akhirnya yang dipilih Hambalang. Pada Tahun 2004, Dilakukan pembayaran para penggarap lahan di lokasi tersebut dan sudah dibangun mesjid, asrama, lapangan sepakbola dan pagar. Tahun 2004-2009,Proyek di Ditjen Olahraga Kemendikbud dipindahkan di Kemenpora. Lalu dilaksanakan pengurusan sertifikat tanah Hambalang tapi tidak selesai. Penganggaran pembuatan maket dan masterplan dilakukan pada tahun 2006. Dari rencana awalnya pusat peningkatan olahraga nasional menjadi pusat untuk atlet nasional dan atlet elite. Pada tahun 2007,

Diusulkan perubahan nama dari Pusat Pendidikan Pelatihan Olahraga Nasional menjadi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Prestasi Olahraga Nasional.

Pengajuan anggaran pembangunan dan mendapat alokasi sebesar Rp 125 miliar dilakukan pada tahun 2009, tapi tidak dapat dicairkan (dibintangi) karena surat tanah Hambalang belum selesai. Pada tanggal 6 Januari 2010 diterbitkan surat Keputusan Kepala BPN RI Nomor 1/ HP/ BPN RI/2010 tentang Pemberian Hak Pakai atas nama Kemenpora atas tanah di Kabupaten Bogor- Jawa Barat dan berdasarkan Surat Keputusan tersebut kemudian pada tanggal 20 Januari diterbitkan sertifikat hak pakai nomor 60 atas nama Kemenpora dengan luas tanah 312.448 m2. Kemudian pada tanggal 30 Desember 2010 keluar IMB.

Pada tahun 2010 juga ada perubahan kembali yakni penambahan fasilitas sarana dan prasarana antara lain bangunan sport sains, asrama atlet senior, lapangan menembak, ekstrem sport, panggung terbuka dan voli pasir dengan dibutuhkan anggaran Rp 1,75 triliun. Kemudian sejak 2009-2010 sudah dikeluarkan anggaran total Rp 675 miliar. Pada tanggal 6 Desember 2010 keluar surat kontrak tahun jamak dari Kemenkeu untuk pembangunan proyek sebesar Rp 1,75 triliun dan pengajuan pembelian alat- alat membengkak menjadi Rp 2,5 Triliun.

Menurut penelusuran tim investigasi dari seputarnusantara.com, Pada awal Desember tahun 2009 Ketua Fraksi Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan Bendahara Fraksi Partai Demokrat M. Nazaruddin meminta tolong kepada Ignatius Mulyono selaku anggota Komisi II DPR yang juga menjabat sebagai Ketua Baleg DPR RI agar Ignatius Mulyono menanyakan kepada BPN (Badan Pertanahan

Nasional) lewat telepon perihal surat tanah Kemenpora yang belum kunjung selesai. BPN merupakan mitra kerja Komisi II DPR RI, oleh karena itu Ignatius Mulyono bersedia membantu menanyakan kepada BPN perihal sertifikat tanah Hambalang tersebut. Kemudian pada tanggal 6 Januari 2010, Surat Keputusan atas nama Kemenpora terbit dari BPN. Ignatius Mulyono ditelepon oleh Sestama BPN bahwa Surat Keputusan sudah selesai dan agar diambil ke BPN. Selanjutnya Ignatius Mulyono mengambil Surat Keputusan tanah tersebut dan langsung menyerahkan kepada Ketua Fraksi Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Pada tanggal 6 Januari 2010, ternyata yang diterima oleh Ignatius Mulyono dari Sestama BPN bukanlah berupa Sertifikat tetapi hanya berupa Surat Keputusan Kepala BPN RI.99

Awal mula proyek Hambalang menjadi kasus publik adalah setelah keluarnya Sertifikat Hambalang Nomor 60 tanggal 20 Januari 2010. Pada Rapat Kerja Menpora dengan Komisi X DPR RI, Menpora mengajukan pencabutan bintang (anggaran Rp 125 Miliar) dan mengusulkan peningkatan program penambahan sarana dan prasarana sport centre dll, sehingga mengajukan anggaran menjadi Rp 1,75 Triliun. Bahkan usulan tambahan pembelian alat- alat menjadi proyek Hambalang membutuhkan dana sampai Rp 2,5 triliun. Kemudian yang menjadi tanda tanya besar adalah ketika proses perubahan besarnya anggaran dari Rp 125 Miliar menjadi Rp 1,175 Triliun bahkan berkembang untuk alokasi anggaran pengadaan alat olahraga senilai Rp 1,4 triliun sehingga total proyek menjadi Rp 2,57 Triliun tidak melalui tahapan- tahapan yang semestinya, dimana dalam pembahasannya seharusnya mengikutsertakan seluruh anggota Komisi X DPR RI. Masalah ini perlu terus

99

Website GOOGLE, www. seputarnusantara.com/?p=13559 (terakhir kali dikunjungi tanggal 11 Februari 2013 Pukul 17.55)

ditelusuri untuk membuka secara jelas dan gamblang siapa sebenarnya yang terlibat kasus Hambalang ini, termasuk membongkar siapa aktor intelektual yang mengendalikan serta pembongkaran terhadap pelaksanaan tender dan siapa yang menerima pembagian “penghargaan jasa” melicinkan kenaikan anggaran dan pemenangan kontraktor pada proses tender.

Terkait kasus Hambalang, aktivis Indonesia Corruption Watch yakni Tama S Langkun menyatakan KPK belum jeli melakukan pemeriksaan. Aktivis muda ini merinci, ada tiga poin pemeriksaan yang belum didalami oleh penyidik KPK secara maksimal. Pertama, mengenai dampak kebijakan pengguna anggaran dalam proyek tersebut. Kedua, mengenai aturan main proses tender. Ketiga, pengubahan rentang waktu pengerjaan dari single years ke multi years yang diduga ilegal. Berkenaan dengan kebijakan pejabat pengguna anggaran dalam kasus ini adalah Menpora, Andi Mallarangeng sudah semestinya KPK dapat mengambil kesimpulan. Kebijakan apa saja yang telah dikeluarkan yang bersangkutan dalam proyek tersebut. Sehingga, ada upaya mensubkan ke kontraktor atau pihak lain. “Apakah memang Menteri yang meminta ke kontraktor pemenang tender untuk mensubkan atau tidak ”. Kedua, dalam proyek senilai Rp 2,5 trilun itu menjadi penting diselidiki mengenai mekanisme tender apakah sesuai dengan Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Tentunya, proyek Hambalang ini wajib menempuh proses tender. Perlu untuk diselidiki alasan PT. Wijaya Karya (Wika) menjadi pemenang, alasan Wika mensubkan sebagian pekerjaannya ke PT. Dutasari Ciptalaras dan apakah sudah sesuai prosedur. Ketiga yang tak kalah penting yakni mengenai rentang waktu pengerjaan dari single years

menjadi multi years. “Apakah ini juga atas persetujuan Andi Mallarangeng? Karena seluruh perubahan tentang proyek instansi pemerintah harus dengan persetujuan pejabat kuasa anggaran di departemen yang bersangkutan.”.100

Dalam kasus korupsi proyek Hambalang, KPK telah menetapkan Deddy Kusdinar selaku mantan Kepala Biro Perencanaan dan Rumah Tangga Kementerian Pemuda dan Olahraga, Andi Mallarangeng selaku mantan Menteri Pemuda dan Olahraga serta Anas Urbaningrum sebagai tersangka. Pada tanggal 3 Desember 2012 KPK sudah mengirim surat pencekalan terhadap Andi Malarangeng , Adik kandung dari menpora bernama Andi Zulkarnain Mallarangeng, dan M. Arief Taufiqurahman selaku Kepala divisi Konstruksi PT. Adhi Karya kepada Direktur Jendral Imigrasi Kementrian Hukum dan HAM dengan surat bernomor 4569/01-23-12-2012. Dalam surat pencekalan KPK tersebut diketahui bahwa Andi malarangeng di cekal dalam statusnya sebagai tersangka. Pencekalan Menpora Andi Mallarangeng ke luar negeri terkait pengembangan penyelidikan kasus dugaan korupsi proyek pembangunan sarana olahraga nasional di Hambalang, Jawa Barat.

Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM) juga telah melakukan cekal terhadap Direktur PT. Dutasari Citralaras yang bernama Mahfud Suroso agar yang bersangkutan tidak bepergian ke luar negeri. Pencekalan terhadap Mahfud Suroso ini dilakukan atas permintaan KPK untuk membantu proses penyelidikan kasus Hambalang. Permintaan cekal tersebut diajukan KPK sejak tanggal 27 April dan berakhir setelah enam bulan kedepan yakni

100

Website GOOGLE, www.beritawmc.com/2012/06/.../soal-hambalang-kpk-dinilai-tidak- jelas) terakhir kali dikunjungi tanggal 11 Februari 2013 Pukul 17.35)

pada bulan Oktober. Selain itu, KPK juga mencekal tiga Direktur terkait kasus pembangunan sport center di Bukit Hambalang, Bogor, Jawa Barat pada tanggal 25 Januari 2013. Mereka adalah Mandiri Santoso selaku Direktur PT. Ciriajasa Cipta, Yudi Wahyono selaku Direktur PT. Yodya Karya, serta Direktur CV. Rifa Medika bernama Lisa Lukitawati.

PT. Ciriajasa Cipta merupakan perusahaan konsultan yang menawarkan jasa konsultasi di bidang manajemen proyek konstruksi. PT. Yodya Karya merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di jasa konstruksi dan CV. Rifa Medika adalah perusahaan konsultasi penyedia jasa perlengkapan kesehatan serta pelatihan simulasi pendidikan kesehatan.

PT. Dutasari Citralaras merupakan perusahaan sub kontrak dari dua BUMN yakni PT. Adhi Karya dan PT Wijaya Karya yang melakukan join operation untuk menggarap proyek sarana olahraga di Hambalang, Jawa Barat. Menurut Wakil Ketua KPK lainnya Bambang Widjojanto, PT. Dutasari Citralaras mendapatkan pekerjaan sub kontraktor dari PT. Adhi Karya sebesar Rp 300 miliar. PT. Dutasari mengerjakan proyek Hambalang di bidang konstruksi. Nilai pekerjaan di bidang konstruksi proyek Hambalang sendiri menurut Bambang sebesar Rp 1,1 triliun. Kecurigaan KPK terhadap PT. Dutasari Citralaras ini terbukti dengan adanya sejumlah pemeriksaan terhadap petinggi dan mantan petinggi perusahaan ini.101

101

Website GOOGLE,www.konstruksi-stel.blogspot.com › hukum (terakhir kali dikunjungi tanggal 15 Februari 2013 Pukul 17.35)

Mahfud Suroso diduga berperan besar dalam proyek Hambalang, hal ini dikarenakan Mahfud Suroso juga terlibat mengurus sertifikat tanah di lokasi proyek seluas 31 hektare. Muhammad Nazaruddin selaku Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat yang membeberkan peran Mahfud Suroso tersebut. Menurut Nazar, Mahfud Suroso memberi uang pelicin kepada Joyo Winoto selaku Kepala Badan Pertanahan Nasional agar pengurusan sertifikat Hambalang mulus. Mahfud Suroso juga memberi pelicin kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga serta Komisi X DPR agar PT. Adhi Karya menjadi rekanan proyek berbiaya Rp 1,07 triliun itu. Pengurusan sertifikat Hambalang dilakukan sejak 2004, namun baru berhasil pada 2009. Diduga kuat, sertifikat tanah Hambalang dapat terbit karena peran Mahfud Suroso selaku Direktur PT. Dutasari Citralaras , Anas Urbaningrum selaku Ketua Umum Partai Demokrat, Ignatius Mulyono selaku anggota DPR dari Partai Demokrat dan Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat bernama M. Nazaruddin.102

Berkenaan dengan penyelidikan dalam kasus Hambalang ini, lebih dari 70 orang diperiksa telah KPK. Pihak-pihak yang telah diperiksa terkait penyelidikan kasus Hambalang ini antara lain : Menteri Pemuda dan Olahraga yakni Andi Mallarangeng, Mahfud Suroso selaku pengurus PT. Dutasari Citralaras, istri Anas Urbaningrum bernama Athiyyah Laila, Munadi Herlambang selaku pejabat Partai Demokrat, Joyo Winoto selaku mantan Kepala Badan Pertanahan Nasional, anggota

102

Website GOOGLE, www.tempo.co/.../Terlibat-Kasus-Hambalang-Mahfud-Suroso Dicekal (terakhir kali dikunjungi tanggal 11 Februari 2013 Pukul 16.35).

Komisi II DPR bernama Ignatius Mulyono dan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat yakni Muhammad Nazaruddin.103

Dalam mengembangkan penyelidikan kasus ini KPK juga telah memeriksa sejumlah pihak terkait selain yang telah penulis sebutkan di atas seperti Anas Urbaningrum. Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum telah dua kali diminta keterangan dalam kasus ini. Mantan anggota Komisi X DPR ini dicecar soal pengurusan sertifikat Hambalang pada pemeriksaan perdana. Adapun dalam pemeriksaan kedua, Anas Urbaningrum dicecar mulai dari hubungannya dengan PT. Adhi Karya hingga kepemilikan mobil yang selama ini disebut Muhammad Nazaruddin diperoleh terkait proyek Hambalang. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Jumat lalu telah menetapkan mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum sebagai tersangka pada kasus dugaan pemberian hadiah dan janji terkait proyek pembangunan pusat sarana dan prasarana olahraga Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Surat perintah penyidikan (Sprindik) atas nama tersangka Anas ini ditandatangani oleh Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto. Menurut Johan, penandatanganan ini dilakukan setelah seluruh pimpinan KPK bersama tim penyelidik melakukan gelar perkara (ekspose). Kemudian dari hasil pemaparan tim penyelidik, seluruh pimpinan KPK bersepakat untuk meningkatkan kasus ini dari tahap penyelidikan ke penyidikan dengan menetapkan Anas sebagai tersangka. Atas

103

Website GOOGLE, www.beritawmc.com/2012/06/.../soal-hambalang-kpk-dinilai-tidak- jelas) terakhir kali dikunjungi tanggal 11 Februari 2013 Pukul 17.35).

perbuatannya itu, Anas disangka melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b dan atau Pasal 11 UU No.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.104

Anas Urbaningrum diperiksa KPK pada tanggal 27 Juni 2012 dan pada tanggal 4 Juli 2012. Dalam pemeriksaan pertama, KPK mempertanyakan masalah yang terkait kepengurusan Demokrat dan kabar intervensinya dalam proses penerbitan sertifikat tanah di Hambalang. Untuk pemeriksaan kedua, Anas Urbaningrum dicecar soal proyek Hambalang dan dugaan penerimaan mobil Harrier dari duit proyek tersebut. Seluruh tudingan yang mengarah pada dugaan korupsi sudah dibantah Anas. Selain Anas Urbaningrum , KPK juga telah meminta keterangan istri Anas yang bernama Athiyyah Laila. Athiyyah Laila diperiksa dalam kapasitas sebagai mantan Komisaris PT. Dutasari Citralaras. Perusahaan tersebut merupakan pihak yang menjadi subkontraktor PT. Adhi Karya dalam proyek Hambalang. Mahfud Suroso yang juga merupakan pemegang saham PT. Dutasari Citralaras juga berkali- kali diperiksa KPK. KPK pun telah melarang Mahfud Suroso bepergian ke luar negeri terkait penyelidikan kasus ini. Sementara Dirut PT. MSons Capital sekaligus Sekretaris Departemen Pemuda dan Olahraga DPP Partai Demokrat bernama Munadi Herlambang merupakan salah satu pemegang saham di PT. Dutasari Citralaras juga telah diminta keterangan. Kemudian, Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Joyo Winoto dan anggota Komisi II DPR Ignatius Mulyono juga pernah diminta keterangan.

104

Website GOOGLE,www.news.liputan6.com/anas+urbaningrum (terakhir kali dikunjungi tanggal 11 Februari 2013 Pukul 17.55).

Berkenaan dengan kasus hambalang yang telah penulis paparkan diatas tentunya sangat berkaitan dengan telah dilakukannya pencekalan terhadap Mahfud suroso. Tanpa tolok ukur atau kriteria yang dapat dijadikan rujukan perihal alasan pencegahan ke luar negeri, maka publik dapat pula mempertanyakan mengapa semua pihak yang menjadi saksi dalam perkara Hambalang itu tidak dicegah keluar negeri ? Mengapa kemudian KPK tidak melakukan tindakan pencegahan yang sama terhadap pihak-pihak yang juga diperiksa dalam tahap penyelidikan seperti Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum yang telah diperiksa beberapa kali oleh KPK, pengurus PT. Dutasari Citralaras yakni istri Anas Urbaningrum bernama Athiyyah Laila, pejabat Partai Demokrat bernama Munadi Herlambang, mantan Kepala Badan Pertanahan Nasional bernama Joyo Winoto, anggota Komisi II DPR yakni Ignatius Mulyono dan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin.105 Hal tersebut yang dimaksud dengan peluang untuk berbuat diskriminasi dan tentunya bertentangan dengan asas persamaan di depan hukum atau equality before the law. Apalagi jika dipahami bahwa tidak setiap pemeriksaan di tahap penyidikan memiliki relevansi untuk kemudian dimasukkan keterangannya dalam berkas perkara. Terlebih lagi bila dengan niat tertentu, penyidik memanggil seseorang untuk kemudian diperiksa lalu dikenakan tindakan pencegahan padahal orang yang sama tidak ada kaitannya dengan penyidikan.

105

Website GOOGLE, http//www.beritawmc.com(terakhir kali dikunjungi tanggal 3 Oktober 2012 Pukul 14.00).

C. Pencekalan Ridwan Hakim Terkait Kasus Pengurusan Kuota Impor