Udara yang tercemar dengan partikel dan gas dapat menyebabkan gangguan kesehatan dengan berbeda-beda tingkatan dan jenisnya, bergantung pada macam, ukuran, dan komposisi kimiawinya. Gangguan tersebut terutama terjadi
pada fungsi faal organ tubuh, seperti paru-paru dan pembuluh darah atau menyebabkan iritasi pada mata dan kulit.
Pencemaran udara karena partikel debu biasanya menyebabkan penyakit pernafasan kronis, seperti emfiesma paru-paru, asma bronchial, dan bahkan kanker paru-paru. Sedangkan bahan pencemar gas yang terlarut dalam udara dapat langsung masuk ke dalam tubuh sampai ke paru-paru, yang pada akhirnya diserap oleh sistem peredaran darah. Kadar timah (Pb) yang tinggi di udara dapat mengganggu pembentukan sel darah merah. Gejala keracunan dini mulai ditunjukkan dengan terganggunya fungsi enzim untuk pembentukan sel darah merah, yang pada akhirnya dapat menyebabkan gangguan kesehatan lainnya, seperti anemia dan kerusakan ginjal. Sedangkan keracunan Pb bersifat akumulatif (Soedomo, 2001).
Keracunan gas CO timbul sebagai akibat terbentuknya karboksi hemoglobin (COHb) dalam darah. Afinitas CO yang lebih besar dibandingkan oksigen (O2) terhadap Hb menyebabkan fungsi Hb untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh menjadi terganggu. Bekurangnya penyediaan oksigen ke seluruh tubuh ini akan membuat sesak napas dan dapat menyebabkan kematian apabila tidak segera mendapat udara segar kembali. Sedangkan bahan pencemar udara seperti SOx, NOx, H2S dapat merangsang saluran pernapasan yang mengakibatkan iritasi dan peradangan (Soedomo, 2001).
Lapisan udara yang mengelilingi bumi merupakan suatu campuran gas dengan komposisi yang selalu berubah-ubah. Beberapa di antaranya, yang konsentrasinya paling bervariasi, adalah H2O dan CO2. Konsentrasi CO2 di udara selalu rendah, yaitu sekitar 0,03%. Konsentrasi ini kadang-kadang sedikit lebih tinggi pada tempat-tempat pembusukan sampah tanaman yang menghasilkan CO2, tempat pembakaran, atau ditempat kumpulan manusia dalam suatu ruang tertutup. Proses fotosintesis pada tanaman juga menyerap CO2 sehingga konsentrasi CO2 di tempat-tempat yang ‘hijau’ relatif lebih rendah. CO2 juga larut dalam air sehingga konsentrasi CO2 udara yang baru melewati lautan juga rendah (Fardiaz, 1992).
Komposisi udara kering dengan semua uap air telah dihilangkan relatif konstan. Komposisi udara kering yang bersih, yang dikumpulkan di sekitar laut, dapat dilihat pada Tabel 8. Konsentrasi gas dinyatakan dalam persen atau per sejuta (part per million, ppm), tetapi untuk gas yang konsentrasinya sangat kecil biasanya dinyatakan dalam ppm. Selain gas-gas yang tercantum dalam Tabel
2.8, masih ada gas-gas lain yang mungkin terdapat di udara, tetapi jumlahnya sangat kecil, yaitu kurang dari 1 ppm (Fardiaz, 1992).
Udara di alam tidak pernah ditemukan bersih tanpa polutan sama sekali (Fardiaz, 1992). Proses-proses alami, seperti aktivitas vulkanik, pembusukan sampah tanaman, dan kebakaran hutan, dapat melepas beberapa gas, seperti SO2, H2S, dan CO ke udara sebagai produk sampingan. Selain itu partikel-partikel padatan atau cairan berukuran kecil dapat tersebar di udara oleh angin, letusan vulkanik, atau gangguan alam lainnya. Selain disebabkan polutan alami tersebut, polusi udara juga dapat disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti pabrik dan transportasi.
Tabel 8. Komposisi Udara Kering dan Bersih
Komponen Formula/Lambang Persen Volume Ppm
Nitrogen N2 78,08 780.800
Oksigen O2 20,95 209.500
Argon Ar 0,934 9.340
Karbon dioksida CO2 0,0314 314
Neon NE 0,00182 18
Helium HE 0,000524 5
Metana CH4 0,0002 2
Kripton Kr 0,000114 1
Sumber: Stoker dan Seager dalam Fardiaz, 1992
Polutan udara primer, yaitu polutan yang mencakup 90% dari jumlah polutan udara seluruhnya dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok, yaitu:
(1) Karbon monoksida (CO), (2) Nitrogen oksida (NOx), (3) Hidrokarbon (HC), (4) Sulfur dioksida (SO2), dan (5) Partikel (SPM).
Menurut Fardiaz (1992), sumber polusi utama berasal dari transportasi, dengan sekitar 60% adalah karbon monoksida dan 15% hidrokarbon. Sumber-sumber polusi lainnya meliputi pembakaran, proses industri, dan pembuangan limbah. Polutan yang utama adalah karbon monoksida, yang mencapai hampir setengah seluruh polutan yang ada. Tingkat toksisitas polutan tersebut berbeda-beda, seperti tertera pada Tabel 9.
Tabel 9. Tingkat Toksisitas Polutan
Polutan Level Toleransi
ppm ug/m³
Toksisitas Relatif CO
HC Sox
NOx Partikel
32,0 40.000 - 19.300 0,50 1.430 0,25 514 - 375
1,00 2,07 28,0 77,80 106,70 Sumber: Babcock (1971) dalam Fardiaz (1992)
Udara yang normal mengandung gas yang terdiri atas 78% nitrogen, 20%
oksigen, 0,93% argon, 0,03% (300 ppm) karbondioksida, dan sisanya terdiri atas neon, helium, metan, dan hidrogen. Komposisi ini dapat mendukung kehidupan manusia. Karbondioksida (C02), metana (CH4), nitrogen oksida (N2O) merupakan efek rumah kaca berguna bagi makhluk hidup di bumi. Jika tidak ada gas rumah kaca, temperatur di bumi rata-rata hanya -180C. Temperatur ini terlalu rendah bagi sebagian besar makhluk hidup, termasuk manusia. Tetapi dengan adanya efek rumah kaca temperatur rata-rata di bumi menjadi 330C lebih tinggi, yaitu 150C. Temperatur ini sesuai bagi kehidupan makhluk hidup (Soemarwoto, 1994).
Karbondioksida merupakan gas rumah kaca yang paling dominan yang terjadi secara ilmiah dan sangat berperan dalam sistem biologis di dunia.
Karbondioksida bersama dengan air merupakan bahan baku fotosintetis.
Aliran karbon dari atmosfer ke vegetasi merupakan aliran yang bersifat dua arah, yaitu pengikatan CO2 ke atmosfer melalui proses dekomposisi dan pembakaran dan penyerapan CO2 oleh tanaman. Secara alamiah berada di atmosfer bumi, berasal dari emisi gunung berapi dan aktivitas mikroba di tanah (perombakan bahan organik) dan respirasi tumbuhan serta hasil pernapasan manusia. Selain dari itu gas ini juga dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar minyak dan gas yang banyak di pergunakan menghasilkan jumlah emisi gas CO2 yang berbeda-beda.
Sumber : IPCC, 2007
Gambar 8. Efek Gas Rumah Kaca (1970 – 2004)
Pada Tabel 10 dapat dilihat nilai emisi karbondioksida yang dihasilkan dari beberapa jenis bahan bakar, yang disebut juga sebagai faktor emisi atau nilai yang digunakan untuk mendapatkan berat karbondioksida berdasarkan besaran-besaran yang dinilai, misalnya minyak tanah, bensin, solar, LPG dan sebagainya.
Tabel 10. Emisi Gas CO2 Yang Dihasilkan Oleh Beberapa Macam Bahan Bakar
No. Jenis Bahan Bakar Jumlah Emisi Satuan
1. Bensin 23,1 kg/lt
2. Solar 2,68 kg/lt
3. Minyak Tanah 2,52 kg/lt
4. LPG 1,51 kg/kg
Sumber: DEFRA (2005)
Perhitungan emisi CO2 yang dihasilkan bahan bakar minyak solar dan gas adalah sebagai berikut: (1) solar mempunyai densitas 0,7329 kg/liter, (2) atom C diasumsikan sama dengan 12, dan (3) berat 1 liter solar sama dengan 0,7329 kg. Kandungan CO2 dalam 1 liter solar sama dengan 44/12 dikalikan dengan 0,7329 kg sama dengan 2,687 kg. Jadi faktor emisi solar adalah sebesar 2,687 kg CO2/liter, yang artinya setiap liter solar akan menghasilkan emisi 2,687
kg
Karbon dan Oksigen dapat bergabung membentuk senjawa karbon monoksida (CO) sebagai hasil pembakaran yang tidak sempurna dan karbon dioksida (CO2) sebagai hasil pembakaran sempurna. Karbon monoksida merupakan senyawa yang tidak berbau, tidak berasa, dan pada temperatur udara normal berbentuk gas yang tidak berwarna.
Karbon monoksida di lingkungan dapat terbentuk secara alamiah, tetapi sumber utamanya adalah dari kegiatan manusia, Korban monoksida yang berasal dari alam termasuk dari lautan, oksidasi metal di atmosfir, pegunungan, kebakaran hutan dan badai listrik alam. Sumber CO buatan, antara lain, adalah kendaraan bermotor, terutama yang menggunakan bahan bakar bensin.
Berdasarkan estimasi, jumlah CO dari sumber buatan diperkirakan mendekati 60 juta ton per tahun. Separuh dari jumlah ini berasal dari kendaraan bermotor yang menggunakan bakan bakar bensin dan sepertiganya berasal dari sumber tidak bergerak, seperti pembakaran batubara dan minyak dari industri dan pembakaran sampah domestik. Dalam laporan WHO (1992) dinyatakan bahwa paling tidak 90% dari CO di udara perkotaan berasal dari emisi kendaraan bermotor. Selain itu asap rokok juga mengandung CO, sehingga para perokok dapat merusak dirinya sendiri dari asap rokok yang sedang dihisapnya. Sumber CO dari dalam ruang (indoor) termasuk dari tungku dapur rumah tangga dan dari tungku pemanas ruang.
Dalam beberapa penelitian ditemukan kadar CO yang cukup tinggi dalam kendaraan sedan maupun bus. Kadar CO diperkotaan cukup bervariasi bergantung pada kerapatan kendaraan bermotor dalam lalulintas yang menggunakan bahan bakar bensin dan umumnya ditemukan kadar maksimum CO yang bersamaan dengan jam-jam sibuk pada pagi dan malam hari.
Selain cuaca, variasi kadar CO juga dipengaruhi oleh topografi jalan dan bangunan di sekitarnya. Pemajanan CO dari udara ambien dapat direfleksikan dalam bentuk kadar karboksi-haemoglobin (HbCO) dalam darah yang terbentuk dengan sangat pelahan, karena butuh waktu (4-12) jam untuk tercapainya keseimbangan antara kadar CO di udara dan HbCO dalam darah. Oleh karena itu kadar CO dalam lingkungan cenderung dinyatakan sebagai kadar rata-rata dalam 8 jam pemajanan. Data CO yang dinyatakan dalam rata-rata setiap 8 jam pengukuran sepajang hari (moving 8 hour average concentration) lebih baik dibandingkan dengan data CO yang dinyatakan dalam rata-rata dari 3 kali
pengukuran pada periode waktu 8 jam yang berbeda dalam sehari. Perhitungan tersebut akan lebih mendekati gambaran respons tubuh manusia terhadap keracunan CO yang berasal dari udara. Karbon monoksida yang bersumber dari dalam ruang (indoor) terutama berasal dari alat pemanas ruang yang menggunakan bahan bakar fosil dan tungku masak. Kadarnya akan lebih tinggi bila ruangan tempat alat tersebut bekerja tidak mempunyai ventilasi yang memadai. Namun umumnya kadar pemajanan yang berasal dari dalam ruangan lebih kecil dibandingkan dengan kadar CO hasil pemajanan asap rokok.
Beberapa Individu juga dapat terpajan oleh CO karena lingkungan kerjanya. Kelompok masyarakat yang paling terpajan oleh CO termasuk polisi lalulintas atau tukang pakir, pekerja bengkel mobil, petugas industri logam, industri bahan bakar bensin, industri gas kimia, dan pemadam kebakaran.
Pemajanan Co dari lingkungan kerja tersebut perlu mendapat perhatian.
Misalnya kadar CO di bengkel kendaraan bermotor ditemukan mencapai 600 mg/m3 dan dalam darah para pekerja bengkel tersebut bisa mengandung HbCO sampai lima kali lebih tinggi daripada kadar nomal. Para petugas yang bekerja di jalan raya diketahui mengandung HbCO dengan kadar (4-7,6) % (porokok) dan (1,4-3,8) % (bukan perokok) selama bekerja sehari. Sebaliknya kadar HbCO pada masyarakat umum jarang yang melampaui 1 % walaupun studi yang dilakukan di 18 kota besar di Amerika Utara menunjukan bahwa 45 % masyarakat bukan perokok yang terpajan oleh CO udara, dalam darahnya terkandung HbCO melampaui 1,5%. Perlu juga diketahui bahwa manusia sendiri dapat memproduksi CO akibat proses metabolismenya yang normal. Produksi CO dalam tubuh sendiri ini (endogenous) bisa sekitar (0,1-1%) dari total HbCO dalam darah.
Karakteristik biologik CO yang paling penting adalah kemampuannya untuk berikatan dengan haemoglobin, pigmen sel darah merah yang mengakut oksigen keseluruh tubuh. Sifat ini menghasilkan pembentukan karboksihaemoglobin (HbCO) yang 200 kali lebih stabil dibandingkan oksihaemoglobin (HbO2). Penguraian HbCO yang relatif lambat menyebabkan terhambatnya kerja molekul sel pigmen tersebut dalam fungsinya membawa oksigen keseluruh tubuh. Kondisi seperti ini bisa berakibat serius, bahkan fatal, karena dapat menyebabkan keracunan. Selain itu, metabolisme otot dan fungsi enzim intra-seluler juga dapat terganggu dengan adanya ikatan CO yang stabil
tersebut. Dampak keracunan CO sangat berbahaya bagi orang yang telah menderita gangguan pada otot jantung atau sirkulasi darah periferal yang parah.
Dampak dari CO bervasiasi bergantung pada kondisi kesehatan seseorang pada saat terpajan. Beberapa orang yang berbadan gemuk dapat mentolerir pajanan CO sampai kadar HbCO dalam darahnya mencapai 40 % dalam waktu singkat. Tetapi seseorang yang menderita sakit jantung atau paru-paru akan menjadi lebih parah apabila kadar HbCO dalam darahnya sebesar (5-10) %. Pengaruh CO kadar tinggi terhadap sistem syaraf pusat dan sistem kardiovaskular telah banyak diketahui. Namun respons masyarakat berbadan sehat terhadap pemajanan CO kadar rendah dan dalam jangka waktu panjang masih sedikit diketahui. Misalnya kinerja para petugas jaga, yang harus mempunyai kemampuan untuk mendeteksi adanya perubahan kecil dalam lingkungannya yang terjadi pada saat yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya dan membutuhkan kewaspadaan tinggi dan terus menerus, dapat terganggu atau terhambat pada kadar HbCO kurang dari 10 % dan bahkan sampai 5 % (hal ini secara kasar ekivalen dengan kadar CO di udara masing-masing sebesar 80 mg/m3 dan 35 mg/m3) Pengaruh ini tidak terlalu terlihat pada perokok, karena kemungkinan sudah terbiasa terpajan dengan kadar yang sama dari asap rokok.
Timah hitam ( Pb ) merupakan logam lunak yang berwarna kebiru-biruan atau abu-abu keperakan dengan titik leleh pada 327,5° C dan titik didih 1.740° C pada tekanan atmosfer. Senyawa organik, seperti tetraetil dan Pb-tetrametil, merupakan senyawa yang penting karena banyak digunakan sebagai zat aditif pada bahan bakar bensin dalam upaya meningkatkan angka oktan secara ekonomi. PB-tetraetil dan Pb tetrametil berbentuk larutan dengan titik didih masing-masing 110° C dan 200° C.
Karena daya penguapan kedua senyawa tersebut lebih rendah dibandingkan dengan daya penguapan unsur-unsur lain dalam bensin, penguapan bensin akan cenderung memekatkan kadar P-tetraetil dan Pb-tetrametil. Kedua senyawa ini akan terdekomposisi pada titik didihnya dengan adanya sinar matahari dan senyawa kimia lain di udara, seperti senyawa holegen asam atau oksidator.
Pembakaran Pb-alkil sebagai zat aditif pada bahan bakar kendaraan bermotor merupakan bagian terbesar dari seluruh emisi Pb ke atmosfer.
Berdasarkan estimasi, sekitar (80–90) % Pb di udara ambien berasal dari pembakaran bensin, dan kondisi ini tidak sama antara satu tempat dengan
tempat yang lain, karena bergantung pada kerapatan lalulintas kendaraan bermotor dan upaya untuk mereduksi kandungan Pb pada bensin.
Penambangan dan peleburan batuan Pb di beberapa wilayah sering menimbulkan masalah pencemaran. Tingkat kontaminasi Pb di udara dan air sekitar wilayah tersebut bergantung pada jumlah Pb yang diemisikan tinggi cerobong pembakaran limbah. Senyawa Pb organik bersifat neurotoksik dan tidak menyebabkan anemia. Hampir semua Pb–tetraetil diubah menjadi Pb Organik dalam proses pembakaran bahan bakar bermotor dan dilepaskan ke udara. Pengaruh Pb dalam tubuh belum diketahui dengan lengkap tetapi perlu diwaspadai pemajanan Pb untuk jangka panjang. Timah Hitam dalam tulang tidak beracun tetapi pada kondisi tertentu bisa dilepaskan karena infeksi atau proses biokimia dan memberikan gejala keluhan. Garam Pb tidak bersifat karsiogenik terhadap manusia.
Gangguan kesehatan adalah akibat bereaksinya Pb dengan gugusan sulfhidril dari protein yang menyebabkan pengendapan protein dan menghambat pembuatan haemoglobin. Gejala keracunan akut didapati bila tertelan dalam jumlah besar yang dapat menimbulkan sakit perut, muntah, atau diare akut.
Gejala keracunan kronis bisa menyebabkan hilang nafsu makan, lelah, sakit kepala, anemia, kelumpuhan anggota badan, kejang, dan gangguan penglihatan.. Peleburan Pb sekunder, penyulingan dan industri senyawa dan barang-barang yang mengandung Pb, serta insinerator juga dapat menambah emisi Pb ke lingkungan. Karena batubara, seperti juga mineral lainnya, pada umumnya mengandung Pb dengan kadar rendah, kegiatan berbagai industri, terutama yang menghasilkan besi dan baja, peleburan tembaga, dan pembakaran batubara, harus dipandang sebagai sumber yang dapat menambah emisi Pb ke udara.
Penggunaan pipa air yang mengandung Pb di rumah tangga, terutama pada daerah yang kesadahan airnya rendah (lunak), dapat menjadi sumber pemajanan Pb pada manusia. Demikian juga dengan rumah tua, yang masih banyak menggunakan cat yang mengandung Pb, dapat menjadi sumber pemajanan Pb.
Pemajanan Pb dari industri telah banyak tercatat, tetapi kemaknaan pemajanan di masyarakat luas masih kontroversi. Kadar Pb di alam sangat bervariasi tetapi kandungan dalam tubuh manusia berkisar antara (100–400) mg.
Sumber masukan Pb adalah makanan, terutama bagi mereka yang tidak bekerja
atau kontak dengan Pb. Diperkirakan rata-rata masukan Pb melalui makanan adalah 300 ug per hari, dengan kisaran antara (100–500) mg perhari. Rata-rata masukan melalui air minum adalah 20 mg, dengan kisaran antara (10–100) mg.
Hanya sebagian asupan (intake) yang diabsorpsi melalui pencernaan. Pada manusia dewasa, absorpsi untuk jangka panjang berkisar antara (5–10) %. Bila asupan tidak berlebihan, kandungan Pb dalam tinja dapat untuk memperkirakan asupan harian karena 90% Pb dikeluarkan dengan cara ini.
Kontribusi Pb di udara terhadap absorpsi oleh tubuh lebih sulit diperkirakan. Distribusi ukuran partikel dan kelarutan Pb dalam partikel juga harus dipertimbangkan. Biasanya kadar Pb di udara sekitar 2 mg/m3 dan dengan asumsi 30% mengendap di saluran pernapasan dan absorpsi sekitar 14 mg/per hari. Mungkin perhitungan ini bisa dianggap terlalu besar dan partikel Pb yang dikeluarkan dari kendaraan bermotor ternyata bergabung dengan filamen karbon dan lebih kecil dari yang diperkirakan walaupun agregat ini sangat kecil (0,1 mm) dan jumlah yang tertahan di alveoli mungkin kurang dari 10 %. Uji kelarutan menunjukkan bahwa Pb berada dalam bentuk yang sukar larut.
Hampir semua organ tubuh mengandung Pb dan kira-kira 90 % dijumpai di tulang. Kandungan Pb dalam darah kurang dari 1% dan dipengaruhi oleh asupan yang baru (dalam 24 jam terakhir). Manusia dengan pemajanan rendah mengandung (10–30) mg Pb per 100 g darah Manusia yang mendapat pemajanan kadar tinggi mengandung lebih dari 100 mg per 100 g darah.
Kandungan Pb dalam darah sekitar 40 mg Pb per 100 g dianggap terpajan berat atau mengabsorpsi Pb cukup tinggi walau tidak terdeteksi tanda-tanda keluhan keracunan.
Terdapat perbedaan tingkat kadar Pb di perkantoran dan perdesaan.
Wanita cenderung mengandung Pb lebih rendah dibandingkan dengan pria, dan pada perokok lebih tinggi dibandingkan dengan bukan perokok. Gejala klinis keracunan Pb pada individu dewasa tidak akan timbul pada kadar Pb yang terkandung dalam darah kurang dari 80 mg Pb per 100 g darah, namun hambatan aktivitas enzim untuk sintesis haemoglobin sudah terjadi pada kandungan Pb normal, yaitu (30–40) mg.
Pb berakumulasi di rambut sehingga dapat dipakai sebagai indikator untuk memperkirakan tingkat pemajanan atau kandungan Pb dalam tubuh. Anak-anak merupakan kelompok dengan risiko tinggi. Menelan langsung bekas cat yang mengandung Pb merupakan sumber pemajanan, selain emisi industri dan
debu jalan yang berasal dari lalulintas yang padat. Mungkin keracunan Pb ada juga hubungannya dengan keterbelakangan mental tetapi hingga saat ini belum ada bukti yang signifikan.
Kendaraan di jalan mengeuarkan banyak emisi CO2 ke udara. Bila lalulintas dibiarkan tumbuh seperti sekarang dan kemacetan lalulintas yang terjadi dibanyak kota semakin parah, emisi CO2 total tahun pada 2020 yang dihasilkan oleh kendaraan di jalan diperkirakan mencapai sekitar 222 juta ton, atau ekivalen dengan berat 63 Candi Borobudur.
Sumber : Susantono, 2011
Gambar 10. Estimasi Emisi CO2 Nasional Tahun 2020 akibat Transportasi Jalan Bila Kemacetan Lalulintas Dibiarkan Bertumbuh Seperti Sekarang (Do Nothing)
Masalah pencemaran udara di kota-kota besar sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu topografi, kependudukan, iklim dan cuaca, serta tingkat atau angka perkembangan sosio-ekonomi dan industrialisasi. Keadaan masalah-masalah ini akan meningkat jika jumlah penduduk perkotaan semakin meningkat, yang mengakibatkan jumlah penduduk yang terpapar polusi udara juga meningkat. Perkiraan PBB menunjukkan bahwa sampai tahun 2000 terdapat 47
% jumlah keseluruhan populasi tinggal di daerah perkotaan. Pada tahun1990, terdapat 60 kota di dunia yang mempunyai jumlah penduduk sekitar 3 juta orang dan pada tahun 2000 diproyeksikan 85 kota-kota akan termasuk jenis kategori ini.
Pertumbuhan polusi kota dan tingginya tingkat industrialisasi yang membutuhkan energi yang lebih besar, umumnya akan menghasilkan pembuangan limbah atau zat pencemar lebih banyak. Pembakaran bahan bakar fosil, untuk pemanasan rumah tangga, untuk pembangkit tenaga listrik,
ken atur ini telah m laporan ya
suplai makanan di beberapa tempat di dunia. Hewan dan tanaman akan bermigrasi ke arah kutub yang lebih dingin dan spesies yang tidak mampu berpindah akan musnah. Meningkatnya frekuensi kebakaran hutan dan menyebarnya penyakit tropis, seperti malaria ke daerah-daerah baru karena bertambahnya populasi serangga, akan menyebabkan daerah-daerah tertentu menjadi padat dan sesak karena arus pengungsian.
Sumber: IPCC, 2007
Gambar 12. Perubahan Temperatur Bumi Tahun 1970 - 2004
Selain karena penambahan gas rumah kaca ke atmosfer, pemanasan yang cepat ini disebabkan karena pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, dan minyak bumi. Ketika atmosfer semakin kaya akan gas-gas rumah kaca ini, maka atmosfer semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari matahari yang dipancarkan ke bumi. Sedangkan penggunaan batu bara, yang dinilai paling berpengaruh dalam pemanasan global, saat ini mencapai 5,3 milyar ton dengan produksi gas buang berupa karbon dioksida untuk setiap kilogram batubara sebanyak 2,7 kilogram. Karena itu lebih dari 13 milyar ton gas CO2 yang dilepas ke atmosfir setiap tahunnya. Hal inilah yang berdampak pada perubahan iklim dunia.
2.11. Kebisingan
Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu, yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan (Kepmen LH No.48 Tahun 1996) atau semua suara yang tidak dikehendaki, yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan/atau alat-alat kerja pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran (Kepmen Tenaga Kerja No.51 Tahun 1999). Menurut Poernomosidhi (1995), pada umumnya terdapat tiga sumber kebisingan, yaitu kebisingan lalulintas atau transportasi, kebisingan pekerjaan atau industri, dan kebisingan penduduk atau permukiman.
Semua kebisingan tersebut dapat menghasilkan kerusakan fisik dan psikologis. Kebisingan lalulintas bersifat konstan dan menyebar luas, sehingga menimbulkan masalah-masalah yang lebih serius. Pada umumnya kecepatan kendaraan yang lebih tinggi akan menghasilkan tingkat kebisingan yang lebih
Semua kebisingan tersebut dapat menghasilkan kerusakan fisik dan psikologis. Kebisingan lalulintas bersifat konstan dan menyebar luas, sehingga menimbulkan masalah-masalah yang lebih serius. Pada umumnya kecepatan kendaraan yang lebih tinggi akan menghasilkan tingkat kebisingan yang lebih