PENCEMARAN LOGAM BERAT DI PERAIRAN DAN EFEKNYA PADA KESEHATAN MANUSIA
C. Pencemaran Logam Berat di Lingkungan Perairan
Pencemaran logam berat di lingkungan dapat terjadi secara alami maupun karena aktivitas manusia.Proses alami antara lain siklus alamiah sehingga bebatuan gunung berapi bisa memberikan kontribusi ke lingkungan, udara, air dan tanah. Kegiatan manusia dapat menambah polutan logam berat di alam melalui kegiatan industri, pertambangan, pembakaran bahan bakar, serta kegiatan domestik. Di Indonesia, kasus pencemaran logam berat
cenderung meningkat sejalan dengan meningkatnya proses industrialisasi. Menurut Widowati et al (2008) penggunaan logam sebagai bahan baku berbagai jenis industri untuk memenuhi kebutuhan manusia akan mempengaruhi kesehatan manusia melalui 2 jalur, yaitu:
1. Kegiatan industri akan menambah polutan logam dalam lingkungan udara, air, tanah dan makanan.
2. Perubahan biokimia logam sebagai bahan baku berbagai jenis industri dapat memengaruhi kesehatan manusia.
Pencemaran logam baik dari industri, kegiatan domestik, transportasi maupun sumber alami dari batuan akhirnya akan sampai ke sungai atau laut dan selanjutnya mencemari manusia melalui ikan, air minum, air irigasi sehingga mengkontaminasi tanaman pangan. Sedangkan melalui udara dapat terjadi melalui kontak langsung atau inhalasi.
Penentuan kadar logam berat sebagai pemantauan kualitas perairan telah dilakukan di banyak lokasi di Indonesia. Beberapa penelitian logam berat yang berkaitan dirangkum dalam Tabel 1.
Lokasi Logam berat (mg/kg) Referensi
Hg Pb Cd
Perairan Batam - 0,016-0,02 0,01 Ismarti et al, 2015
Perairan Tanjung Pinang - 0,027-0,049 0,093-0,129 Pratiwi et al, 2013 Perairan Natuna - < 0,005 < 0,001 Sagala et al, 2014 Perairan Bungus, Padang - 0,06-0,09 0,006-0,001 Arifin, 2012
Perairan Batam - < 0,008 < 0,001 BLH Batam, 2011
Perairan Surabaya 0,509-1,432 - - Taftazani, 2007
Keterangan: - tidak diamati
Keberadaan logam berat di perairan akan berdampak pada kesehatan manusia. Hal ini berkaitan dengan sifat logam berat yaitu sulit terurai sehingga dapat terakumulasi dalam jaringan biota. Logam-logam tidak terdekomposisi dan berperan sebagai kontaminan lingkungan utama yang menyebabkan efek sitotoksik, mutagenik dan karsinogenik.
Keberadaan logam berat dalam air kurang representatif digunakan sebagai indikator kualitas cemaran logam berat di suatu lokasi. Hal ini disebabkan kandungan logam berat dalam air laut sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Logam berat yang terlarut dalam air secara alamiah berbentuk ion bebas, pasangan ion-ion anorganik, kompleks anorganik maupun organik. Pembentukan logam berat secara fisika dan kimia dalam lingkungan perairan dipengaruhi oleh salinitas, temperatur, pH, potensial redoks, bahan organik dan padatan terlarut, aktivitas biologi dan sifat dasar logam.
Pada pH rendah, logam umumnya berada dalam bentuk kation bebas, sedangkan pada pH tinggi logam cenderung mengendap sebagai
hidroksida tidak larut, oksida, karbonat atau posfat. pH air laut yang cenderung tinggi akan mendorong pengendapan logam-logam sehingga kadar logam berat dalam sedimen umumnya lebih tinggi.
Tabel 2. Perbandingan kadar logam Pb dan Cu dalam air laut dan sedimen di beberapa perairan
Lokasi Air laut Sedimen Tahun
Cu Pb Cu Pb
Natuna < 0,005 < 0,005 3,77-11,0 0,05-22,67 2014 Teluk Klabat 1,00-2,00 1,0-26,0 0,20-6,40 1,00-22,0 2011 Buton 0,001-0,005 0,001-0,0016 1,265-5,712 0,05911,027 2009 Arafuru <0,001 <0,001-0,006 0,39-8,05 0,54-4,10 2004
Sumber: Sagala et al, 2014
Temperatur mempengaruhi laju metabolisme dalam organisme dan karenanya mempengaruhi uptake logam berat. Selain itu temperatur juga mempengaruhi kimia air dan distribusi organisme dalam suatu ekosistem sehingga mempengaruhi toksisitas logam berat. Salinitas dapat mempengaruhi keberadaan logam berat di perairan, bila terjadi penurunan salinitas karena adanya proses desalinasi maka akan menyebabkan peningkatan daya toksik logam berat dan tingkat bioakumulasi logam berat semakin besar.
Organisme yang mengakumulasi logam berat dalam jaringan tubuhnya dapat digunakan untuk menilai kesehatan lingkungan perairan, termasuk keberadaan, tingkat cemaran dan perubahan dari kontaminan
tersebut. Menurut Connel dan Miller (1995) akumulasi logam berat dapat terjadi karena bioakumulasi secara terus-menerus dan proses biomagnifikasi melalui rantai makanan. Alga, kerang dan ikan sering dijumpai digunakan sebagai bioindikator.
Banyaknya logam yang diserap dan terdistribusi dalam tubuh biota bergantung pada bentuk senyawa, konsentrasi polutan, aktivitas mikroorganisme, tekstur sedimen, serta biota yang hidup di lingkungan tersebut. Sedangkan taraf toksisitas logam berat sangat beragam bagi organisme, tergantung dari berbagai aspek, antara lain spesies, cara toksikan memasuki tubuh, frekuensi dan lamanya paparan, konsentrasi toksikan, bentuk dan sifat toksikan serta kerentanan berbagai spesies terhadap toksikan.
Ikan merupakan bioindikator terhadap pencemaran lingkungan, termasuk cemaran kimia. Hal ini disebabkan karena ikan mernunjukkan reaksi terhadap cemaran di perairan dalam batas konsentrasi tertentu, seperti perubahan aktivitas, efek pada pertumbuhan yang tidak normal, hingga kematian. Kadar cemaran logam berat pada ikan di perairan Batam dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Kadar logam berat dalam air laut dan ikan di perairan Batam
Air laut (mg/kg) Ikan (mg/kg) Air laut (mg/kg) ikan (mg/kg) Air laut (mg/kg) ikan (mg/kg) T. Pinggir 0,02 2,015 0,01 0,145 0,02 1,940 Sekupang 0,033 0,520 0,01 0,030 0,02 2,160 T. Riau 0,02 0,490 0,01 0,030 0,02 1,147 Marina 0,023 0,220 0,01 0,020 0,016 1,107 T. Uncang 0,015 0,295 0,01 0,078 0,02 2,107 P. Buluh 0,023 ttd 0,01 0,076 0,02 2,663
Sumber: Ismarti et al, 2015
Berdasarkan data pada Tabel 3, dapat dilihat bahwa keberadaan logam berat di perairan berpengaruh pada kadar logam berat dalam tubuh ikan yang mendiami perairan tersebut. Ikan dapat mengakumulasi logam berat terutama karena adanya kontak dengan medium pembawa bahan kimia dalam larutan atau karena adanya suspense atau karena ikan harus mengekstrak oksigen dari air.
Kandungan logam Cu dalam ikan pada perairan pulau Batam secara umum relatif rendah kecuali pada ikan dari Tanjung Pinggir. Kandungan logam Cd dalam ikan dari Tanjung Pinggir, Tanjung Uncang dan Pulau Buluh sudah melebihi ambang baku yang ditetapkan oleh BPOM yaitu 0,05 mg/kg, sedangkan ikan dari Pelabuhan Sekupang, Tanjung Riau dan Marina masih di bawah ambang batas yang ditetapkan. Kandungan logam Pb dalam ikan dari Pelabuhan Sekupang, Tanjung Uncang dan Pulau Buluh sudah melebihi ambang batas yang ditetapkan BPOM yaitu 2,0 mg/kg, sedangkan ikan dari Tanjung Pinggir, Tanjung Riau dan Pantai Marina masih di bawah ambang baku yang ditetapkan.
Kandungan merkuri total pada ikan jenis cat fish di sungai Musi dilaporkan masih berada di bawah ambang batas. Total merkuri pada ikan baung 17 813 ppb, juaro 16.750 ppb, dan ikan lais 16.375 ppb. Sedangkan ikan dari perairan Pantai Surabaya mengandung total merkuri pada kisaran 0,5085-1,4317 µg/g. Akumulasi logam berat dalam ikan akan berdampak pada kesehatan manusia sebagai makhluk yang ada di tingkat tropik tertinggi.
Konsumsi ikan tercemar logam berat yang tidak mengindahkan aturan dapat memicu berbagai macam gangguan kesehatan, baik penyakit ringan maupun penyakit kronik. WHO menghitung apabila ikan terus menerus dikonsumsi sebanyak 60g/orang/hari, maka batas kadar maksimum merkuri yang diizinkan adalah 0,5µg/g ikan basah. Jika dibandingkan dengan standar WHO, maka ikan dari perairan pantai Surabaya beresiko tinggi untuk dikonsumsi.
Produk perikanan lain yang banyak dikonsumsi dan dicurigai dapat menjadi jalur paparan logam berat adalah kerang. Beberapa penelitian tentang logam timbal dalam kerang telah dilaporkan. Penelitian Nasution dan Siska (2011) melaporkan terdapat korelasi positif antar kadar Pb dalam sedimen dengan Pb dalam kerang. Kadar Pb dalam siput gonggong dari Perairan Bintan berkisar dari 2-4 mg/kg. Kerang darah di wilayah pesisir Makasar mengandung timbal pada kisaran 0,149-0,876 mg/kg. Sedangkan kerang dari Perairan Batam mengandung Pb pada kisaran 1,79-9,35 mg/kg. BPOM menetapkan ambang batas Pb dalam produk kerang adalah sebesar 1,5 mg/kg. Dibandingkan dengan standar BPOM, dapat dikatakan bahwa siput dan kerang dari wilayah Perairan Bintan dan Batam sudah
melampaui ambang batas maksimum sehingga beresiko untuk konsumsi jangka panjang.
D. Dampak Logam Berat pada Manusia