Ketika minyak masuk ke lingkungan laut, maka minyak dengan segera akan mengalami perubahan fisik dan kimia (Gambar 5). Diantara proses tersebut adalah menyebar dan adveksi (spreading and advection), larut (dissolution), menguap (Evaporation), memecah (dispersion) polymerase (polymerization), bercampur (emulsification), fotooksidasi (photooxidation), biodegradasi mikroba (microbial biodegradation), dan sedimentasi (sedimentation), Semua proses tersebut secara kolektif disebut dengan weathering of oil (Mukhtasor 2007; ITOPF 2002; Sloan, 1993; API, 1999; IMO, 1988). Faktor utama yang mempengaruhi weathering of oil adalah karakteristik fisik minyak seperti gaya grafitasi, viskositas, dan volatility, komposisi dan karakteristik kimia minyak, kondisi meteorologi (kondisi laut, sinar matahari dan temperatur udara), dan karakteristik air laut (gaya gravitasi, arus, suhu, bakteri, nutrient, oksigen terlarut, dan bahan terlarut lainnya) (IMO, 1988).
14
Penyebaran (spreading) merupakan pergerakan minyak secara horizontal di permukaan air laut. Proses penyebaran minyak dipengaruhi oleh densitas, kelembaman, gesekan, viskositas dan tegangan permukaan sedangkan adveksi adalah pergerakan minyak akibat pengaruh dari angin dan arus (API 1999). Menurut IMO (1988), angin memberikan pengaruh sebesar 3% sedangkan arus 100%. Spreading membantu proses weathering menjadi lebih efisien karena meningkatkan luas daerah permukaan.
Penguapan (evaporasi) minyak meningkat dengan meningkatnya kecepatan angin sampai pada waktu tertentu (Fingas 2000). Jenis minyak juga mempengaruhi proses penguapan. Emulsifikasi merupakan proses dimana air bercampur dengan minyak dan bergantung pada komposisi minyak dan keadaan laut. Proses ini meningkatkan volume campuran minyak dengan air sehingga meningkatkan viskositas tumpahan minyak. Biodegradasi mikroba dilakukan oleh berbagai mikroorganisme laut yang mampu menguraikan senyawa minyak. Sedangkan proses sedimentasi terjadi apabila berat jenis minyak meningkat melebihi air.
Minyak bumi masuk ke lingkungan perairan laut dengan beberapa cara, yaitu rembesan alam dari dasar laut (natural seeps), kecelakaan tanker (tanker accident), operasi normal tanker (normal operation of tankers), kebocoran dan semburan dari proses produksi dan eksplorasi lepas pantai (blowout and accidents from offshore exploration and production), river run off, kilang minyak di darat (coastal refineries), limbah kota (urban run off and sewage), dan jatuhan dari atmosfer (atmospheric fall out) (Mukhtasor, 2007).
Di Indonesia, kasus tumpahan minyak telah banyak terjadi seperti terlihat pada Tabel 5.
Tabel 5 Peristiwa tumpahan minyak di perairan Indonesia (Mukhtasor, 2007)
Tahun Lokasi Kejadian
1975 Selat Malaka Kandasnya Showa Maru dan menumpahkan 1 juta
barel minyak solar
1975 Selat Malaka Tabrakan kapal tanker Isugawa Maru dengan kapal
Silver Palace
1979 Bulele, Bali Pecahnya kapal tanker Choya Maru dan menumpahkan
300 ton bensin
1979 Lhokseumawe, Aceh Bocornya kapal tanker Golden Win yang mengangkut
1500 kilo liter minyak tanah
1984 Delta Mahakam,
Kalimantan Timur Semburan liar pemboran minyak milik Total Indonesia
1992 Selat Malaka Tabarakan kapal MT. Ocean Bessing dengan MT.
Nagasaki Spirit yang menumpahkan 500 barel minyak
1993 Selat malaka Tertabraknya tanker Maersk yang memuat minyak
1994 Cilacap Tabrakan antara tanker MV. Bandar Ayu dengan kapal
ikan
1996 Natuna Tenggelamnya KM. Batamas II yang memuat MFO
1997 Kepulauan Riau Tabrakan antara tanker Orapin Global dengan Evoikos
menumpahkan 25000 ton minyak mentah
1997 Kepulauan Riau Kebocoran pipa transfer minyak CALTEX
1997 Selat Makassar Tenggelamnya tanker Mission Vikin
1997 Selat Makassar Kandasnya platrorm E-20 UNOCAL
15
Tahun Lokasi Kejadian
1998 Tanjung Priok Kandasnya kapal Pertamina Supply No. 27 dengan
muatan solar
1999 Cilacap
Robeknya tanker MT. King Fisher dengan
menumpahkan 640.000 liter minyak dan mencemari Teluk Cilacap sepanjang 38 km
2000 Cilacap Tenggelamnya KM. HC yang memuat 9000 aspal
curah
2000 Batam Kandasnya MT. Natuna Sea menumpahkan 4000 ton
minyak mentah
2001 Tegal, Cirebon Tenggelamnya tanker Steadfast yang mengangkut
1200 ton limbah minyak
2003 Sungai Musi
Tabrakan kapal beras milik PT. Toba PulpLestari Angiang Shipping dengan Tongkang PLTU 1mengakibatkan tumpahnya 250 ton minyak bahan bakar diesel milikPLTU Keramasan
2004 Riau Tenggelamnya tanker Vista Marine yang
menumpahkan 200 ton minyak mentah
2008 Indramayu Tanker Arendal mengalami kebocoran pipa dan
menumpahkan 150.000 DWT minyak
2009 Pelabuhan Tanjung Perak
Surabaya
Terbaliknya Tanker MT. Kharisma Selatan yang menumpahkan 500 kilo liter MFO (Marine Fuel Oil)
2009 Laut Timor Ladang minyak Montara meledak dan menumpahkan
sekitar 500 ribu liter minyak mentah kelaut setiap hari Menurut Triatmodjo (1999), Tumpahan minyak di laut dapat mengakibatkan pencemaran hingga di daerah pesisir. Hal ini karena daerah pesisir merupakan daerah yang mendapat pengaruh laut seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air laut. Tumpahan minyak yang terbawa bersama arus pasang dapat terpenetrasi dan terakumulasi di dalam tanah (Pezeshki dkk., 2000).
Kecelakaan atau tumpahan minyak di laut yang menyebabkan terjadinya perubahan sifat fisik-kimia air laut akan berpengaruh terhadap kehidupan dan habitat-habitat ekosistem wilayah pesisir (seperti plankton, benthos, nekton, hutan mangrove, terumbu karang, dan padang lamun). Sehingga ditinjau dari sisi ekonomis tumpahan minyak bisa mendatangkan kerugian yang amat besar, tidak hanya dari produksi perikanan saja akan tetapi juga kehidupan ekosistem- ekosistem pesisir termasuk hutan mangrove (Supriharyono, 2007). Pencemaran dan kerusakan ekosistem yang disebabkan oleh tumpahan minyak tersebut tidak lepas dari komposisi minyak yang sulit diurai oleh mikroorganisme alami laut secara cepat.
Efek dari tumpahan minyak di laut dapat dibagi menjadi dua tipe yaitu minyak yang larut akan mengapung pada permukaan air dan minyak yang tenggelam akan terakumulasi didalam sedimen sebagai deposit hitam pada pasir dan bebatuan di pantai. Minyak yang larut akan mengapung pada permukaan air dan akan menggangu organisme yang hidup pada permukaan perairan. Minyak yang mengapung di atas permukaan laut akan menghalangi masuknya sinar matahari kedalam zona fotik dan tentu saja akan mengurangi intensitas cahaya matahari yang akan digunakan untuk berfotosintesis. Selain itu, genangan minyak juga akan menghalangi pertukaran gas dari atmosfer sehingga dapat mengurangi kelarutan oksigen. Kekurangan oksigen akan mempengaruhi bentuk kehidupan laut yang aerob.
16
Minyak yang tenggelam akan terakumulasi didalam sedimen, pasir dan bebatuan di pantai akan mengganggu organisme interstitial maupun organime intertidal. Ketika minyak tersebut sampai ke pada bibir pantai, maka organisme yang rentan terhadap minyak akan mengalami hambatan pertumbuhan, bahkan dapat mengalami kematian. Minyak-minyak tersebut akan terakumulasi dan terendap pada dasar perairan seperti pasir dan bebatuan sehingga akan mempengaruhi tingkah laku, reproduksi, dan pertumbuhan dan perkembangan hewan yang mendiami daerah ini.