2.6.1 Tema
Tema merupakan aspek cerita yang sejajar dengan makna dalam pengalaman manusia, sesuatu yang menjadikan pengalaman begitu diingat. Jadi, dengan kata lain tema merupakan ide pokok atau permasalahan utama yang mendasari jalan cerita novel atau karya sastra. Setiap karya fiksi termasuk novel mengandung atau menawarkan tema kepada pembacanya. Menurut Stanton dan Kenny, tema (theme) merupakan makna yang dikandung oleh sebuah cerita. Namun, ada
banyak makna yang dikandung dan ditawarkan oleh cerita (novel) itu.40
2.6.2 Setting
Setting merupakan latar belakang yang membantu kejelasan jalan
cerita, setting ini meliputi waktu, tempat, sosial budaya. Stanton
menyebutkan setting atau latar merupakan lingkungan yang melingkupi sebuah peristiwa dalam cerita, semesta yang berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung. Latar dapat berwujud dekorasi (tempat), dan juga berwujud waktu-waktu tertentu. Biasanya
latar diketengahkan melalui baris-baris deskriptif.41
40
Burhan Nurgiantoro. Op. Cit. 41 Robert Stanton. Op. Cit.
2.6.3 Sudut Pandang
Menurut Abarms dalam Nurgiantoro memaparkan bahwa sudut pandang (point of view) mengacu pada cara sebuah cerita dikisahkan. Hal ini merupakan cara atau pandagan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk sebuah cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca. Dengan demikian sudut pandang pada hakikatnya merupakan strategi, teknik, siasat yang secara sengaja dipilih pengarang
untuk mengemukakan gagasan ceritanya.42 Secara terperinci, sudut
pandang dikategorikan menjadi: 43
1. Orang pertama tunggal
Pengarang terlibat dalam cerita sebagai tokoh utama atau tokoh sampingan.
2. Orang ketiga serba tahu
Pengarang berada diluar cerita dan mengisahkannya dengan menggunakan kata ganti nama „dia‟ dan atau memakai nama tokoh.
3. Orang ketiga terbatas
Menggunakan kata ganti nama orang ketiga „dia‟ atau menggunakan nama sebenarnya tokoh. Cuma, dalam novel pengarang menentukan satu tokoh saja yang bercerita.
42
Burhan Nurgiantoro. Op, Cit. 43
Othman Puteh, Persediaan Menulis Novel. Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur, 1992, 44-46.
2.6.4 Alur
Alur atau sering disebut dengan plot adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama dan menggerakan jalan cerita melalui kerumitan kearah klimaks dan penyelesaian. Peristiwa yang dialami tokoh disusun sedemikian rupa menjadi sebuah cerita, tetapi tidak berarti semua kejadian dalam hidup tokoh ditampilkan secarang lengkap. Peristiwa-peristiwa yang dijalin tersebut sudah dipilih dengan memperhatikan kepentingtannya dalam membangun alur. Berikut ini adalah contoh dari unsur-unsur alur :
1. Awal
a. Paparan (exposition)
Pengarang menyampaikan informasi sekedarnya kepada pembaca. Misalnya, memperkenalkan tokoh cerita, keadaanya, tempat tinggalnya, pekerjaannya, maupun kebiasaaan-kebiasaannya. b. Rangsangan (inciting moment)
Peristiwa yang mengawali timbulnya gawatan. Misalnya dengan kemunculan seorang tokoh baru yang berlaku sebagai katalisator atau suatu kejadian yang merusak keadaan yang pada mulanya selaras.
c. Gawatan (rising action)
Munculnya masalah antara tokoh utama dengan sesuatu (bisa masalah dengan tokoh lain, diri sendiri, nilai-nilai, lingkungan, dan lain-lain) sebagai kelanjutan dari bagian rangsangan.
2. Tengah
a. Tikaian (conflict)
Perkembangan masalah menjadi pertikaian atau perselisihan antara dua atau lebih kekuatan (tokoh) yang bertentangan.
Konflik dalam novel dibedakan menjadi dua, yakni:
Konflik internal, konflik internal adalah konflik yang terjadi
dan dialami sang tokoh.
Konflik eksternal, konflik eksternal adalah konflik yang terjadi
diluar dirinya, namun tetap ada pengaruhnya pada pelaku. b. Rumitan (complication)
Perselisihan yang semakin meruncing. c. Klimaks
Perselisihan atau rumitan yang mencapai puncaknya. 3. Akhir
a. leraian (falling action)
Perkembangan peristiwa ke arasa selesaian. Di sini nampak titik terang pemecahan masalah, yaitu perselisihan yang tadinya sudah mencapai titik gawat, berangsur-angsur surut dan nampak ada jalan keluarnya. Dalam hal ini ada kalanya diturunkan deus ex machina, yaitu orang atau barang yang muncul tiba-tiba dan memberikan pemecahan.
b. Selesaian (denouement)
Bagian akhir atau penutup cerita. Selesaian bisa menyenangkan (happy ending) bisa menyedihkan (unhappy end/sad ending), atau bisa pula menggantung tanpa pemecahan.
2.6.5 Penokohan
Penokohan menggambarkan karakter untuk pelaku. Pelaku bisa diketahui karakternya dari cara bertindak, ciri fisik, lingkungan tempat tinggal. Penokohan mencakup pada masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan atau karakter tokoh, dan bagaimana penempatan atau pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca. Penokohan sekaligus mencakup pada teknik perwujudan dan pengembangan tokoh dalam sebuah cerita.
Secara garis besar terdapat pembagian jenis-jenis karakter yang
mewarnai sebuah cerita.44
1. Karakter Protagonis
Karakter ini sering disebut karakter utama. Ia mewakili sisi kebaikan dan mencerminkan sifat-sifat kebenaran yang mewarnai setiap aktivitas dalam cerita.
2. Karakter Sidekick
Karakter ini berpasangan dengan karakter protagonis. Tugasnya membantu setiap ada tugas yang diberikan kepada sang karakter protagonis.
44 Sony Set dan Sidharta. Op. cit., 74.
3. Karakter Antagonis
Karakter antagonis selalu berlawanan dengan karakter protagonis. Ia selalu berupaya menggagalkan setiap upaya karakter protagonis dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya.
4. Karakter Kontagonis
Karakter kontagonis adalah karakter yang membantu setiap aktivitas yang dilakuka antagonis dalam menggagalkan langkah tokoh protagonis.
5. Karakter Skeptis
Sesuai dengan sifat skeptis yang disandangnya, tokoh ini adalah karakter yang paling tidak peduli terhadap aktivitas yang dilakukan oleh tokoh protagonis.
2.6.6 Gaya Bahasa
Gaya bahasa ialah susunan perkataan yang digunakan oleh pengarang untuk menyampaikan ide dan perasaan serta pikiran dan maksud dalam penulisannya. Pengarang yang bertanggungjawab memilih kosa kata (sejumlah perkataan) yang sesuai dengan keadaan dan penceritaan serta menggunakan perkataan pilihan dengan wajar dan
berhati-hati.45 Gaya bahasa yang digunakan pengarang berbeda satu
sama lain. Hal ini dapat menjadi sebuah ciri khas seorang pengarang.
45 Sulaiman., et. al. Op. Cit., 446.
2.6.7 Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang menjadi bahan pengarang dalam menciptakan karya sastra atau menjadi bahan pertimbangan bagi pembaca, sepereti biografi, falsafah hidup dan unsur
budaya.46Secara lebih khusus dapat dikatakan sebagai unsur-unsur yang
mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra. Unsur ekstrinsik karya sastra cukup berpengaruh terhadap totalitas keterpaduan cerita yang dihasilkan. Unsur ini meliputi latar belakang penciptaan, sejarah, biografi pengarang, dan lain-lain, di luar unsur intrinsik. Unsur-unsur yang ada di luar tubuh karya sastra. Perhatian terhadap unsur-unsur ini akan membantu keakuratan penafsiran isi suatu karya sastra.
2.6.8 Amanat/Pesan
Pesan adalah seperangkat symbol verbal atau non verbal yang
mewakili perasaan, nilai, gagasan atau maksud dari sumber.47 Dalam
hal ini sumbernya adalah novel. Amanat atau pesan sering disebut message adalah salah satu pilar penting dalam novel. Sebuah novel yang tidak mengandung pesan, menjadi sebuah karya yang dangkal dan tidak banyak faedahnya. Akan tetapi, pesan yang disampaikan sebaiknya terselubung, dibangun serasi, dan wajar, dengan karakter atau ucapan yang wajar dari sang tokoh. Yang perlu diperhatikan dalam penyampaian pesan adalah sebaiknya pesan tersebut tidak bersifat
46
Abdul Rozak Zaidan., et. al. Kamus Istilah Sastra.Balai Pustaka. Jakarta, 2004, 67. 47 Deddy Mulyana. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Rosda. Jakarta, 2005, 63.
menggurui, atau juga menyimpulkan pesan itu sesudah bercerita.
Berikut ini contoh dari pesan yang biasanya disampaikan pengarang: 48
1. Pesan Moral
Pesan moral adalah ajaran kesusilaan yang dapat ditarik dari cerita, puisi, fabel drama atau apapun karya yang bertujuan mengajarkan sesuatu secara langsung atau secara tidak langsung.
2. Pesan Agama
Pesan agama adalah ajaran yang bersifat religi atau spiritual yang berkaitan dengan keyakinan.
3. Pesan Sosial
Pesan sosial mengenai ajaran atau norma yang berada dalam lingkungan masyarakat atau kebenaran umum.
48 Abdul Rozak Zaidan., et. al. Op Cit, 132.