Kata alam berasal dari bahasa Arab yakni ‘a-l-m yang berarti alam semesta, jagat raya.1 Sementara itu, Alam dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki beberapa pengertian, Yakni: Alam berarti dunia, Alam berarti segala yang ada di langit dan bumi, Alam berarti segala sesuatu yang termasuk dalam satu lingkungan (golongan dan sebagainya) dan dianggap sebagai suatu keutuhan serta Alam yang berarti segala daya (kekuatan dan sebagainya) yang menyebabkan terjadinya dan seakan-akan mengatur segala sesuatu.2
Penciptaan dan eksistensi alam adalah suatu hal yang menarik untuk dipelajari karena alam ini sangat luas dan kelahirannya menjadi sebuah tanda tanya besar bagi umat manusia. Misteri mengenai alam semesta ini selalu menggoda pemikiran manusia untuk menyingkapnya. Dalam hal ini, kata alam semesta atau jagat raya digunakan untuk menjelaskan secara menyeluruh tentang ruang dan waktu dimana umat manusia berada, dengan energi dan materi yang dimilikinya.
Sejauh ini, sains (ilmu pengetahuan alam) sudah mempelajari segala sesuatu yang ada di jagat raya ini (Bhuawana Agung) dari berbagai macam aspek.
1Abdul Rahman Abdulllah, Aktualisasi Konsep Dasar Pendidikan Islam (Rekonstruksi Pemikiran Tinjauan Filsafat Pendidikan Islam), (Yogyakarta: UII Press, 2001), h. 142
2Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008), Cet. XVI., h. 35
Dalam ilmu sains, kita bisa menemukan berbagai macam informasi tentang teori terciptanya alam semesta yang dikemukakan oleh beberapa ilmuwan. Beberapa teori yang akan diulas disini merupakan teori-teori terciptanya alam semesta yang cukup populer dalam kajian ilmu pengetahuan alam secara global. Teori-teori yang dimaksud adalah:
1. Teori Osilasi oleh Fred Hoyle
Ini merupakan teori yang menjelaskan bahwa alam semesta tidak berawal dan tidak berakhir. Pada model osilasi diungkapkan bahwa kondisi alam semesta sekarang ini tidak konstan, melainkan berekspansi yang dimulai dengan dentuman besar (Big Bang), selanjutnya dalam beberapa waktu yang akan datang gravitasi mengatasi efek ekspansi sehingga alam semesta akan mulai mengempis (Collapse), lalu pada akhirnya sampai pada titik koalisensi atau gabungan asal dimana temperatur dan tekanan tinggi akan memecahkan semua materi ke dalam partikel-partikel dasar sehingga terjadi dentuman besar yang baru dan ekspansi akan mulai kembali. Alam semesta mungkin sudah memulai dalam sebuah dentuman besar atau mungkin berada dalam keadaan tetap atau pada kondisi berosilasi.3
2. Teori Ledakan Besar (Big Bang) oleh Georges Lemaitre
Teori ini bertumpu dari asumsi atau anggapan bahwa pada mulanya ada sebuah massa yang luar biasa besarnya dengan berat jenis yang sangat besar.4 Jika
3Bayong Tjasyono, Ilmu Kebumian dan Antariksa, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), Cet.I, h. 51
kita menelaah lebih lanjut, pada saat itu alam semesta meluas. Bayangan atau imajinasi ke masa silam membawa kita pada jagat raya yang lebih kecil dan lebih kecil sampai pada saat awal, nol. Dalam titik nol ini jagat raya bermula, yaitu melalui ledakan atau dentuman besar atau The Big Bang.5
Namun, ada baiknya agar umat manusia untuk berfikir lebih bijak bahwa kemampuan mereka ada batasnya. Sebagai manusia penghuni bumi yang merupakan bagian dari alam semesta, manusia tak mampu mengetahui secara rinci perihal terciptanya alam semesta melainkan hanya bisa menebak-nebak dan menyusun beraneka macam asumsi yang menyentuh rasio atau masuk akal supaya secara keilmuan mampu dipertanggungjawabkan. Sejauh yang kita ketahui, penyelidikan selanjutnya dari para ilmuwan menyatakan bahwa alam ini tersusun atas berbagai macam materi dan energi.
Alam yang sudah tercipta dapat saja berubah, hal ini disebut dengan teori pengembangan. Teori pengembangan menyatakan bahwa, segala sesuatu yang memenuhi alam semesta ini dahulunya merupakan atom tunggal saja, memang besar dalam ukuran pemikiran manusia. Namun, dalam ukuran astronomi ternyata kecil, yang keadannya tidak stabil. Atom tersebut meletus, dan arena letusan itu lalu mengembang, sehingga akhirnya menjadi isi alam yang sekarang ini. Ini merupakan teori yang diajukan oleh Georges Lemaitre, seorang Guru Besar di Leuven, Belgia pada tahun 1948. Carl Friedrich von Weizsacker dari Gottingen, Jerman memiliki teori yang pada dasarnya sama: menurut Weizsacker, atom itu
5Agus Purwanto, Nalar Ayat-ayat Semesta: Menjadikan Al-Qur’an Sebagai Basis Konstruksi Ilmu Pengetahuan, (Bandung: Mizan, 2012), h. 220
merupakan semacam bintang, yang amat padat dan kemudian meletus lalu dari letusan yang berkali-kali tersebut maka terciptalah alam.6 Selain faktor alam yang berdinamika sehingga dapat berubah, manusia juga bisa merubah alam baik secara positif ataupun negatif. Ini terjadi berkat kemampuan mereka dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Manusia merupakan salah satu bagian dari lingkungan hidup yang mempunyai ciri yang berbeda dengan makhluk hidup lainnya. Perbedaan ciri yang menonjol itu adalah manusia memiliki akal, sehingga mempunyai peran yang sentral dalam kehidupan di bumi.
Alam semesta bagi umat Hindu bukan cuma sekadar tempat untuk hidup, tapi secara filosofis bahkan sudah menjadi bagian dari umat Hindu itu sendiri. Dalam ajaran Hindu Dharma dinyatakan bahwa semua unsur dalam diri manusia sama dengan unsur-unsur yang ada di alam semesta.7 Dalam sudut pandang Hinduisme, alam dan manusia adalah ciptaan Tuhan. Sudah jelas tercantum dalam Bhagawad Gita III.10 bahwa Prajapati yaitu Tuhan sebagai raja alam semesta menciptakan Praja atau manusia dan alam yang dilambangkan sebagai Kamadhuk yakni sapi atau lembu kepunyaan Dewa Indra yang mampu untuk memenuhi segala kebutuhan manusia.
Teori penciptaan alam semesta atau jagat raya dalam Hindu bersumber pada Weda dan Sastra Hindu lainnya. Weda merupakan kitab suci umat Hindu yang merupakan wahyu dari Tuhan yang Maha Esa yang terdiri atas kitab
6I Wayan Watra, dkk, Pelestarian Lingkungan menurut Agama Hindu (Dalam Teks dan Konteks), (Surabaya: Paramita, 2010), h. 173
7Dharmasilan, dkk, Cara Umat Hindu Melindungi dan Melestarikan Lingkungan Hidup, (Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup Bekerjasama dengan Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, 2013), Cet. I., h. 1
Rigweda, Yajurweda, Samaweda dan Atharwaweda. Masing-masing kitab tersebut disebut Samhita dan keempatnya disebut Catur Veda Samhita. Tiap-tiap Samhita itu memiliki kitab-kitab Brahmana, Aranyaka dan Upanisad yang jumlahnya cukup banyak. Semua kitab tersebut digolongkan ke dalam kitab-kitab Sruti (Wahyu dari Tuhan). Selain sumber utama yaitu Weda ada pula sumber lainnya yakni kitab-kitab yang digolongkan pada kitab-kitab susastra Hindu, yaitu kitab-kitab Itihasa8 seperti Ramayana dan Mahabharata, serta kitab-kitab Purana yang jumlahnya sebanyak 18 buah. Kitab-kitab-kitab tersebut menjelaskan mengenai penciptaan alam semesta, makhluk hidup didalamnya dan bagaimana proses penciptaan itu terjadi.9
Menurut Weda, unsur dasar dari alam semesta ini adalah aditi yang berarti ketiadaan atau kehampaan. Segala sesuatu yang ada merupakan diti yang artinya terikat. Sebelum adanya alam semesta, yang ada cuma Brahman sebagai sesuatu yang amat sulit digambarkan. Brahman berada di luar kehidupan dan kematian, tak terikat oleh waktu, abadi, tak bergerak, ada dimana-mana dan memenuhi segalanya. Hinduisme percaya, bahwa alam semesta terbentuk secara bertahap dan berevolusi. Brahman menciptakan alam semesta dengan tapa. Dengan tapa itu Brahman memancarkan panas. Setelah menciptakan sesuatu, Brahman menyatu ke dalam hasil ciptaannya.10 Salah satu kebenaran yang tersirat dalam Weda
8Itihasa adalah cerita sejarah yang memang sudah terjadi demikian adanya (It happened so). Lih. I Ketut Rupawan, Saput Poleng dalam Kehidupan Beragama Hindu di Bali, (Denpasar: Pustaka Bali Post, 2008), h. 87
9Artikel di akses pada tanggal 28 Januari 2020 dari
http://soegitha.blogspot.com/2012/04/makalah-penciptaan-alam-semesta-menurut-veda.html
10Artikel di akses pada tanggal 28 Januari 2020 dari
adalah konsep atau ajaran tentang kosmologi atau penciptaan alam semesta. Kosmologi merupakan salah satu pengetahuan penting dalam Hindu. Ajaran Kosmologi Hindu Dharma berada dalam teologi lokal. Khususnya dalam lontar atau teks siwaistik selalu mengedepankan tentang pengetahuan mengenai Tuhan, pengetahuan jalan dalam mencapai-Nya serta penciptaan alam semesta.11
Sementara menurut Purana, pada awal proses penciptaan terbentuklah Brahmanda atau Telur Brahman. Pada awal proses penciptaan sudah dijelaskan dalam Sad Darsana atau enam pemikiran filsafat di India yang diakui eksistensinya sebagai bagian dari sistem kepercayaan Hinduisme, tepatnya pada bagian filsafat Samkhya menyatakan bahwa alam semesta pada dasarnya tersusun dari dua unsur saja, yakni Purusa (rohani) dan Prakerti (materi).12 Kedua kekuatan ini bertemu sehingga terciptalah alam semesta dan tahap ini terjadi secara perlahan serta tidak terjadi secara sekaligus.13 Pada awalnya, yang muncul adalah Citta (alam pikiran) yang sudah mulai dipengaruhi oleh Triguna yang terdiri atas Sattvam, Rajas dan Tamas.14 Tahap selanjutnya adalah terbentuknya
11I Gusti Made Widya Sena, “Konsep Kosmologi Hindu dalam Teks Bhuana Kosa”, (Denpasar: IHDN, t.th), h. 44
12Ida Bagus Agung, “Agama Hindu” dalam Djammanuri (Ed.), Agama Kita: Perspektif Sejarah Agama-Agama (Sebuah Pengantar), (Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2000), h. 55-59
13Sesudah bermanifestasi sebagai Siwa barulah kemudian Tuhan menciptakan dirinya sebagai Sang Hyang Rwa Bhineda dengan dua kekuatan yang berlainan satu sama lain yakni Purusa (cetana) dan Prakerti/Predhana (acetana). Bertemunya kedua kekuatan ini melahirkan Brahmanda atau Telur Brahman. Telur ini sangat panas dan berputar-putar. Dalam kondisi berputar-putar itu, ada bagian-bagiannya yang terpelanting dan berputar secara teratur yang kemudian dikenal sebagai planet-planet, matahari, bulan dan bintang-bintang. Dengan dua kekuatan yang berlainan tersebut lalu diciptakan juga hal yang lain seperti Akasa-Pertiwi, urip-pati dll yang merupakan dua kekuatan yang sifatnya berbeda bahkan berlawanan, namun satu sama lain saling melengkapi. Lih. Ida Bhegawan Istri Suwitra Pradnya, Purusha dan Predhana dalam Agama Hindu dan Hukum Adat Bali, (Tabanan: Pustaka Ekspresi, 2017), Cet. I, h. 9-10
14Triguna (tiga sifat alam material) terdiri dari Sattvam yang artinya kebaikan, Rajas yang artinya nafsu dan Tamas yang artinya kebodohan. Sri Krisna menjelaskan secara rinci mengenai
Tri Antah Karana yang terdiri oleh Buddhi (naluri), Manah (akal atau pikiran) dan Ahamkara (rasa keakuan atau egoisme). Berikutnya adalah terbentuknya Panca Buddhindriya dan Panca Karmendriya yang disebut pula Dasendriya (sepuluh Indriya). Setelah timbulnya Panca Buddhindriya dan Panca Karmendriya, maka
sepuluh Indriya tersebut berevolusi menjadi Panca Tan Matra, yaitu lima benih unsur alam semesta yang sangat halus serta tidak memiliki ukuran tertentu. Panca
Tan Matra merupakan benih saja. Panca Tan Matra berevolusi menjadi
unsur-unsur benda materi yang nyata. Unsur-unsur-unsur tersebut dinamai Panca Maha Bhuta atau Lima Unsur Zat Alam.15
Lontar dalam Hindu yang membahas tentang penciptaan alam semesta adalah Lontar Ganapati Tattwa. Lontar ini pada dasarnya berisi ajaran tentang kelepasan atau kamoksan. Kelepasan atau kamoksan merupakan ajaran kerohanian yang sangat tinggi dalam Hinduisme dan sifatnya abstrak. Ajaran ini disampaikan dengan menggunakan metode dialogis antara Bhatara Siwa dengan putranya yaitu Bhatara Gana (Ganesha).16
Isi dari dialog antara Siwa dan Ganesha dalam Lontar tersebut adalah sebagai berikut: Pada awalnya tidak ada apa-apa. Tak ada bumi, langit, dunia, ilmu pengetahuan dan sebagainya. Yang ada cuma Tuhan yang Maha Esa dalam sebuah kondisi yang disebut Nirguna Sukha Acintya yang artinya adalah maha bahagia yang tak terpikirkan. Lalu, terjadi semacam evolusi dari Tuhan yang
arti dari ketiga sifat tersebut dalam Bhagawad Gita Bab XIV. Lih. Khotimah, Agama Hindu dan Ajaran-ajarannya, (Pekanbaru: Daulat Riau, 2013), Cet. I, h. 28-29
15Artikel di akses pada tanggal 28 Januari 2020 dari
http://sogiibnu.blogspot.com/2014/04/konsep-penciptaan-manusia-menurut-hindu.html
Maha Esa atau Sang Hyang Sukha Cintya tersebut. Dari evolusi ini lahirlah Sang Hyang Jnana Wisesa yaitu sebuah pengetahuan yang mulia. Ia berbadankan alam semesta namun suci tanpa noda, tidak terpengaruh oleh apapun dan tidak dapat dijangkau. Memiliki nama lain yaitu Sang Hyang Jagat Karana, karena memiliki ilmu pengetahuan yang maha kuasa dan sebagai penyebab lahirnya dunia atau alam semesta beserta semua isinya.17
Selanjutnya, muncul keinginan dari beliau untuk melihat keadaan diri-Nya sendiri yang berwujud skala-niskala, maka dari itu beliau menciptakan sesuatu yang berwujud nyata (Paras) dan juga yang berwujud tidak nyata (Para) serta
Sunia sebagai bayangan dari diri-Nya sendiri. Sang Hyang Jagat Karana
bersemayam dalam Sunia. Dari sana, beliau melahirkan ciptaan-ciptaan dari-Nya yang selanjutnya secara berturut-turut, seperti: Ongkara Sudha, Suara, Windu Prana Suci yang didalamnya terdapat Nada Prana Jnana Sudha. Selanjutnya, lahirlah Panca Dewata atau Panca Dewa Atma yakni Brahma, Wisnu, Rudra, Iswara dan Sang Hyang Sadasiwa yang akan menjadi sumber ciptaan yang berikutnya.18
Dari kelima Dewa yang disebutkan di atas, Brahma, Wisnu dan Siwa adalah yang dipandang sebagai badan perwujudan dari Tuhan itu sendiri. Sementara Tuhan yang Maha Esa yang tidak terpikirkan dan Acintya digambarkan berada dalam batin atau hati yang suci yang disebut Guhyalaya. Kembali ke
17Artikel di akses pada tanggal 28 Januari 2020 dari
https://tattwasusilaupacara.blogspot.com/p/blog-page_26.html
18Artikel di akses pada tanggal 28 Januari 2020 dari
pembahasan inti dari Lontar Ganapati Tattwa, yaitu Lontar ini mengajarkan tentang hakikat alam semesta. Alam semesta diciptakan oleh Panca Dewata dari unsur yang paling halus sampai dengan tingkat yang mempunyai wujud nyata. Pertama-tama, yang diciptakan adalah Panca Tan Matra. Dari Brahma lahirlah
Gandha Tan Matra, dari Wisnu lahirlah Rasa Tan Matra, dari Rudra lahirlah Rupa Tan Matra, dari Iswara lahirlah Sparsa Tan Matra dan dari Sadasiwa
lahirlah Sabda Tan Matra.19
Selanjutnya dari kelima Tan Matra tersebut, kelimanya berkembang ke dalam wujud yang lebih konkret. Sabda Tan Matra menjadi Akasa yang berwarna bersih/bening. Sparsa Tan Matra menjadi Bayu yang berwarna putih. Rupa Tan
Matra menjadi Teja yang berwarna putih, merah dan hitam. Rasa Tan Matra
menjadi Apah yang berwarna hitam dan Gandha Tan Matra menjadi Pertiwi yang berwarna kuning.20 Pada tahap perkembangan yang berikutnya, barulah sampai pada tingkat yang memiliki bentuk yang nyata. Dari Pertiwi lahirlah Bumi atau Tanah. Dari Teja lahirlah matahari, bulan dan bintang. Dari Apah lahirlah air. Dari Bayu lahirlah angin dan dari Akasa lahirlah suara. Sesudah alam semesta tercipta, kemudian tumbuhlah semua jenis tanaman dan lahirlah semua jenis hewan. Panca Dewata berperan sebagai penjaganya. Brahma bersemayam di selatan menjaga bumi. Wisnu bersemayam di utara menjaga air. Rudra bersemayam di barat menjaga matahari, bulan dan bintang. Iswara bersemayam di
19Artikel di akses pada tanggal 28 Januari 2020 dari
https://tattwasusilaupacara.blogspot.com/p/blog-page_26.html
20Akasa, Bayu, Teja, Apah dan Pertiwi adalah kumpulan unsur penyusun alam semesta beserta isinya yang disebut juga Panca Maha Bhuta. Lih. I Ketut Pasek Swastika, Bhuta Yajna, (Denpasar: Pustaka Bali Post, 2008), h.15
timur menjaga udara dan Sadasiwa bersemayam di tengah menjaga ether. Demikianlah proses penciptaan dari alam semesta (Bhuwana Agung) oleh Panca Dewata.21
Perihal eksistensi alam, Hinduisme telah mengulas tentang keberadaan alam semesta melalui berbagai jenis kumpulan teks suci yang mereka percayai. Seperti kepercayaan Hindu yang menyatakan bahwa alam semesta ini adalah perwujudan dari Tuhan. Dalam Mantra Yajurweda XXXX.1 dan juga diulang kembali dalam Isopanisad I.1 dinyatakan bahwa:
Isya vasyamidam sarvam Jagat yatkim ca jagatya jagat.
Artinya : “Tuhan berstana (bertempat) di alam semesta yang bergerak maupun yang tidak bergerak.”
Menurut pandangan Mantra Yajurweda tersebut, sudah dijelaskan bahwa alam semesta termasuk bumi tempat manusia berada ini sebagai stana (tempatnya) Tuhan. Tidak ada bagian dari alam ini tanpa eksistensi Tuhan. Tuhan adalah jiwa agung alam semesta atau Bhuwana Agung ini. Sementara itu, Atman sebagai jiwa dari Bhuwana Alit yakni badan wadah manusia itu sendiri. Tuhan yang disebut Brahman itu adalah sumber dari Atman. Alam semesta atau Bhuwana Agung ini sesungguhnya merupakan badan nyata dari Tuhan.22 Selanjutnya, dalam
21Artikel di akses pada tanggal 28 Januari 2020 dari
https://tattwasusilaupacara.blogspot.com/p/blog-page_26.html
22I Ketut Wiana, Menyayangi Alam Wujud Bhakti Pada Tuhan, (Surabaya: Paramita, 2006), h. 5-6
Yajurweda XXX.1 sebagaimana sebelumnya sudah dinyatakan bahwa seluruh alam semesta ini adalah stana Tuhan. Mantra Yajurweda itu juga diulang dalam Mantra Isopanisad I.1. Ini menjelaskan, bahwa ajaran Hindu memandang alam semesta ini adalah badan jasmaninya Tuhan Brahman, layaknya badan manusia sebagai badan jasmaninya Atman. Maka dari itu menjaga eksistensi dari alam ini sama saja dengan menjaga badan Tuhan agar tidak ada yang mengganggu.23 Isi alam semesta selain bumi seperti bulan maupun matahari juga merupakan bagian dari Bhuwana Agung, sehingga Tuhan juga yang mengatur gerak atau peredaran dari alam semesta ini.
Dalam Hindu, terdapat adanya etika kehidupan yang menegaskan bahwa alam atau dunia ini adalah ciptaan Tuhan. Sebagai makhluk yang berakal, manusia harus bekerja keras karena bagi Hindu keselamatan merupakan kesucian pribadi. Keselematan hidup bagi orang awam dan biarawan itu berbeda sekali, dan ini erat kaitannya dengan kelahiran kembali berikutnya, orang awam berharap pada kelahiran kembalinya dapat lahir sebagai biarawan dan biarawan mengharapkan dirinya akan menjadi orang yang lebih dimuliakan dalam kelahiran kembali berikutnya. Sistem seperti inilah yang harus dijalani dalam kehidupan umat Hindu.24 Kelahiran kembali atau Samsara dalam Hindu adalah suatu lingkaran kehidupan karena adanya tiga proses yang wajib dijalankan oleh setiap manusia yaitu Karma, Samsara dan Moksha. Karma adalah hasil dari perbuatan semasa hidup manusia. Samsara adalah atma atau jiwa yang selalu mengalami kelahiran
23Wiana, Menyayangi Alam Wujud Bhakti Pada Tuhan, h. 10
24Syamsuddin Abdullah, Agama dan Masyarakat (Pendekatan Sosiologi Agama), (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), h. 35
yang berulang-ulang. Dan Moksha adalah tujuan akhir dari kehidupan.25 Pada perputaran kembali ini, manusia akan terlepas dari keterikatannya dengan proses ulang kelahiran kembali, maka orang tersebut harus menghancurkan dan menghilangkan keinginan-keinginannya.
Dalam Hindu, reinkarnasi atau kelahiran kembali sangat dipercayai karena reinkarnasi adalah komponen dari lima dasar keyakinan yaitu percaya adanya Tuhan (Brahman/Sang Hyang Widhi), percaya adanya Atman, percaya adanya hukum Karmapahala, percaya adanya Punarbhawa atau reinkarnasi atau Samsara dan percaya adanya Moksha.26 Dalam Bahasa Sanskerta, reinkarnasi disebut sebagai Punarbhawa. Kata tersebut jika dibedah berarti Punar yang artinya “lagi” dan Bhawa yang artinya “menjelma”. Maka dari itu, Punarbhawa memiliki arti kelahiran kembali yang berulang-ulang atau reinkarnasi, dimana penitisan kembali disebut juga Samsara.27
Berbeda dengan kepercayaan pada agama Islam, Kristen dan Yahudi yang mengajarkan bahwa alam semesta itu diciptakan Tuhan yang maha esa dari tidak ada menjadi ada melalui kodrat dan iradatnya yang tanpa batas, maka pada Agama Hindu diajarkan bahwa alam semesta itu merupakan pancaran zat dari Brahman.28 Sudut pandang Hinduisme yang menyatakan bahwa alam ini merupakan bagian dari Tuhan, namun Tuhan tidak sama dengan alam melainkan
25Ali Anwar dan Tono TP, Ilmu Perbandingan Agama dan Filsafat, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2005), h. 80
26Anak Agung Gde Oka Netra, Tuntunan Dasar Agama Hindu, (Denpasar: Widya Dharma, 2009), h. 19
27Yudha Triguna dan S.N. Suwisma, Swastikarana Pedoman Ajaran Hindu Dharma, (Jakarta: PHDI, 2013), h. 118-119
28Ahmad Atabik, “Konsep Penciptaan Alam: Studi Komparatif-Normatif antar Agama-Agama.”, Jurnal Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan Vol. 3 No. 1, 2015, h. 118
mentransendensikannya sejalan dengan salah satu bentuk teisme yaitu Panenteisme. Panenteisme diperkenalkan pertama kali oleh filosof idealis berkewarganegaraan Jerman yang bernama Karl Friedrich Christian Krause (1781-1832). Panenteisme berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu pan yang berarti semua, en berarti didalam dan theos yang berarti Tuhan. Dengan demikian, Panenteisme memiliki arti “Semua berada didalam Tuhan (all-in-God)”. Istilah ini merujuk kepada suatu sistem kepercayaan yang beranggapan bahwa dunia semesta berada dalam Tuhan. Maka dari itu, Panenteisme berarti menempatkan Tuhan sebagai sebuah kekuatan yang tetap ada didalam segala ciptaan dan berkuasa atas semesta.29
Melalui penjelasan di atas, maka bisa disederhanakan bahwa Panenteisme mengartikan bahwa Tuhan dan dunia saling berhubungan satu sama lain. Tuhan punya relasi timbal balik dengan dunia, dunia berada di dalam Tuhan dan Tuhan berada di dalam dunia. Tuhan dalam Hinduisme bersifat maha kuasa, sehingga panenteisme diartikan sebagai Tuhan ada didalam alam selayaknya jiwa berada di dalam tubuh manusia.
Menurut keyakinan umat Hindu, alam semesta disebut Bhuwana Agung dan manusia disebut Bhuwana Alit. Keduanya adalah ciptaan Tuhan dan Tuhan itu sendiri yang menjadi jiwa dari Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit tersebut. Tuhan yang menjadi jiwa pada Bhuwana Agung disebut Brahman, sementara Tuhan yang menjadi jiwa Bhuwana Alit disebut Atman. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
29Suhermanto Ja’far, “Panenteisme dalam Pemikiran Barat dan Islam.”, Jurnal Ulumuna Vol. 14 No. 1, 2010, h. 45
Atman merupakan bagian dari Brahman. Ditegaskan dalam Mantra Brhadaranyaka Upanisad I.4.10 :
Bharman Atman aikyam
Artinya : “Brahman dan Atman itu sama atau satu.”
Maksud dari Mantra Upanisad tersebut adalah yang menjadi jiwa alam