• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN  Anatomi Sendi Temporomandibula

Dalam dokumen PETUNJUK SKILL LAB MAHASISWA (Halaman 40-45)

Sendi temporomandibula merupakan suatu sendi atau perlekatan yang bilateral dan dapat bergerak yang menghubungkan antara mandibula dengan tulang tengkorak. Sendi temporomandibula didukung oleh :

1). Artikulasi tulang

Sendi temporomandibula terdiri dari persendian yang dibentuk oleh tulang, yang terdiri dari fosa glenoidalis dan prosesus kondilaris mandibula. Prosesus kondilaris ini berbentuk elips yang tidak rata apabila dilihat dari potongan melintang. Sedangkan permukaan artikular dari persendian dilapisi oleh jaringan fibrokartilago yang lebih banyak dibanding kartilago hialin.

2). Diskus Artikularis

Diskus tersusun dari tiga bagian, yaitu pita posterior dengan ketebalan 3 mm, zona intermediat yang tipis, dan pita anterior dengan ketebalan 2 mm.

3). Kapsula

Kapsula merupakan ligamen tipis yang memanjang dari bagian temporal fosa glenoidalis di bagian atas, bergabung dengan tepi meniskus, dan mencapai bawah leher prosesus kondilaris untuk mengelilingi seluruh sendi.

4). Ligamen

Ligamen-ligamen yang terdapat pada sendi temporomandibula yaitu ligamen temporomandibula, ligamen sphenomandibula,ligamen stylomandibula, dan ligamen malleolar mandibula. Ligamen tersebut berfungsi sebagai pelekat tulang dengan otot dan dengan tulang yang lain.

5). Suplai pembuluh darah dan saraf

Suplai saraf sensoris ke sendi temporomandibula didapat dari nervus aurikulotemporalis dan nervus masseter cabang dari nervus mandibularis. Jaringan pembuluh darah untuk sendi berasal dari arteri temporalis superfisialis yang merupakan cabang dari arteri carotis eksterna.

Sendi temporomandibula tidak luput dari kelainan seperti yang terjadi pada sendi sinovial lain. The National Institute of Dental Research mengklasifikasikan kelainan sendi temporomandibula dalam 3 kategori, yaitu kelainan otot pengunyahan, kelainan pada kompleks kondilus-diskus, dan penyakit degeneratif sendi.

Kelainan sendi temporomandibula yang paling sering terjadi adalah disebabkan oleh kelainan otot, yang disebut sebagai nyeri miofasial, dan disfungsi sendi temporomandibula. Schwartz merupakan orang pertama yang menemukan bahwa terdapat sejumlah pasien yang mempunyai masalah dengan sendi temporomandibula ternyata juga menunjukkan gejala spasme dari otot-otot pengunyahan. Spasme otot ini menyebabkan rasa sakit dan keterbatasan dalam pergerakan mandibula. Schwartz (I960) menyebutnya dengan sindroma disfungsi nyeri sendi temporomandibula (temporomandibular joint pain-dysfunction syndrome} atau yang lazim disebut dengan istilah sindroma disfungsi nyeri miofasial (myofascial paindysfunction

syndromel MPD).

Disfungsi sendi temporomandibular disebabkan oleh banyak faktor, antara lain disebabkan oleh beban pengunyahan pada gigi yang terlalu besar, pengecilan otot rahang, danketegangan dari otot-otot pendukung sendi temporomandibula. Juga disebabkan oleh, sikap tubuh yang salah, kebiasaan oral yang buruk, kerusakan fascia yang disebabkan oleh traumaatau penyakit.Fascia adalah jaringan fibrosa yang membentuk pembungkus otot dan berbagai organ tubuh.Akibat yang ditimbulkan dapat berupa rasa sakit, bunyi kliking saatmembuka mulut, dan kesulitan saat akan membuka mulut dengan lebar.

1. MEMBUKA MULUT

1.1 Otot-otot yang berperan pada saat membuka mulut M.pterigoideus lateralis

 O: lateral spenoidalis, lateral pterigoid  I : kondilus mandibula, anterior diskus  N: pterigoid dari n.mandibula

 Kelompok m.suprahioid ( m.digastrikus, m.mylohyoid, m.geniohyoid, m.stilohyoid) 1.2 Mekanisme membuka mulut

M.pterygoideus lateralis menarik processus condilaris ke depan menuju eminentia articularis. Pada saat bersamaan serabut posterior M. Temporalis harus relaks dan keadaan ini diikuti dengan relaksasi M. Masseter, serabut anterior M. Temporalis dan M. Pterygoideus Medialis yang berlangsung cepat dan lancar. Keadaan ini akan memungkinkan mandibula berotasi di sekitar sumbu horizontal sehingga proseccus condilaris akan bergerak ke depan sedang angulus mandibula bergerak ke belakang. Dagu akan terdepresi, keadaan ini dibantu dengan gerak membuka yang kuat oleh M. Digastricus, M. Geniohyoideus, dan M. Mylohyoideus yang berkontraksi terhadap os. Hyoid.

2. MENUTUP MULUT

2.1 Otot-otot yang berperan pada saat menutup mulut  M.maseter

O: arkus Zigomatikus

I : angulus mandibula lateral  N: n.maseter dari n.mandibula /n.v  M.temporalis

O: fosa temporalis

 I: prossesus koronoid mandibula  N: n.mandibula

 M.pterigoideus medialis

I:medial angulus mandibula

N: n.pterigoid medialis dari n.mandibula

2.2. Mekanisme menutup mulut

Otot-otot penggerak utama dalam proses menutup mulut yaitu M. Masseter, M. Temporalis, M. Pterygoideus Medialis. Rahang dapat menutup pada berbagai posisi. Mulai dari menutup pada posisi protusi penuh sampai menutup pada keadaan Processus Condylaris berada pada posisi paling posterior dalam fossa Mandibula. Pada posisi protusi memerlukan kontraksi M. Pterygoideus Lateralis yang dibantu M. Pterygoideus Medialis. Caput Mandibula akan tetap pada posisi ke depan Eminentia Articularis. Pada gerak menutup retrusi, serabut posterior M. Temporalis akan bekerjasama dengan M. Masseter untuk mengembalikan Processus Conylaris ke dalam Fossa Mandibula, sehingga gigi geligi dapat saling kontak pada oklusi normal. Pada gerak menutup Cavum Oris, kekuatan yang dikeluarkan otot penguyahan akan diteruskan terutama melalui gigi geligi ke rangka wajah bagian atas m. pterygoideus Lateralis dan serabut posterior M. Temporalis cenderung menghilangkan tekanan dari caput mandibula saat otot-otot ini berkontraksi. Keadaan ini berhubungan dengan fakta bahwa sumbu rotasi mandibula akan melintas di sekitar ramus.

3. PERGERAKAN MANDIBULA 3.1 Protrusi mandibula

1. Kedua kondilus bergerak ke depan mengikuti lereng eminentia artikularis 2. Sliding contact gigi-gigi

3. Kontraksi m. pterygoideus lateralis & medialis

4. Kontraksi m. masseter & serabut anterior m. temporalis 5. Relaksasi serabut posterior m. temporalis

3.2 Retrusi mandibula

1. Kedua kondilus bergerak ke belakang ke bagian posterior fossa glenoid 2. Sliding contact gigi-gigi

4. Relaksasi m. pterygoideus 3.3 Pergerakan lateral

Kondilus pada sisi arah pergerakan tetap terletak pada fossa glenoid oleh karena kontraksi otot-otot pada sisi tersebut

a. Kondilus berotasi pada sumbu vertikal

b. Berotasi dan sliding kecil ke arah lateral, depan dan bawah menyusuri eminentia artikularis (movement of Bennett)

 Pada sisi lain, kondilus tertarik ke depan oleh kontraksi m. ptrygoideus lateralis, sedangkan serabut posterior m. temporalis relax

PEMERIKSAAN TEMPORO MANDIBULAR JOINT

Dalam dokumen PETUNJUK SKILL LAB MAHASISWA (Halaman 40-45)

Dokumen terkait