Glycinemax (L.) Merrill atau kedelai merupakan bahan pangan penting dan sumber protein nabati dengan kadar protein ± 39%. Kedelai memiliki nilai ekonomi dalam kehidupan manusia (Prentis, 1990). Kedelai dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, antara lain sebagai bahan pangan dan bahan baku industri. Teknik pengolahan kedelai menjadi suatu produk seperti: tahu, tempe, kecap, susu kedelai, tauco, snack, campuran dalam makanan bayi dan sebagainya menyebabkan kedelai semakin dikenal oleh dunia internasional (Damardjati et al., 2005; Sudaryanto & Swastika, 2007).
Produksi kedelai nasional tahun 2011 mencapai ± 870.000 ton biji kering per tahun, sementara kebutuhan kedelai dalam negeri mencapai ± 2 juta ton per tahun sehingga untuk memenuhi kebutuhan nasional pemerintah harus mengimpor kedelai dari negara lain. Volume impor kedelai yang terus meningkat karena sebagian besar petani tidak lagi berminat menanam kedelai. Hal ini disebabkan karena biaya perawatan tanam yang mahal, produktivitas dan harga jual kedelai yang rendah. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk memenuhi kebutuhan kedelai nasional, diantaranya melalui program bangkit kedelai di tahun 2006, dan target program swasembada kedelai di tahun 2014 (kompas.com, 2012; perum perhutani. com, 2012).
Pengembangan produksi kedelai nasional memerlukan dukungan penyediaan benih bermutu secara berkelanjutan. Penyediaan benih kedelai mengalami kendala karena benih kedelai memiliki periode simpan yang pendek. Keberadaan benih setelah masa panen tersedia, namun disaat dibutuhkan oleh petani sulit untuk didapat karena benih telah mengalami penurunan mutu.
Menurut Kartono (2004), permasalahan benih kedelai terjadi karena menurunnya kualitas benih hingga 75% dalam waktu kurang dari tiga bulan apabila disimpan pada kondisi terbuka. Ditambahkan pula oleh Tatipata (2010), adanya peningkatan kadar air benih kedelai selama proses penyimpanan benih menyebabkan peningkatan asam lemak bebas sehingga daya berkecambah dan kecepatan berkecambahnya menurun.
Program intensifikasi, ekstensifikasi, diversifikasi dan rehabilitasi tanaman pangan merupakan upaya pemerintah. Salah satu bentuk usaha intensifikasi lahan pertanian adalah penerapan teknologi tepat guna berupa penggunaan inokulan mikroba penambat nitrogen (Sihombing, 1985). Penggunaan inokulan ini penting dalam mengurangi kebutuhan akan pupuk kimia dan dapat meningkatkan produktivitas tanaman kedelai karena sumber nitrogen tersedia melalui proses penambatan nitrogen secara hayati.
Bakteri Rhizobium sp. merupakan bakteri tanah yang unik dan mampu menambat nitrogen dan membentuk bintil akar pada tanaman kacang-kacangan. Menurut Sarjoko (1991) hubungan kerjasama bakteri dengan tanaman memberi keuntungan bagi keduanya disebut simbiosis mutualisme. Tanaman memperoleh nitrogen yang dibutuhkan dan bakteri mendapat energi yang berasal dari hasil metabolisme tanaman serta tempat untuk hidupnya. Fatchurochim (1988) & Stevan et al. (2010) juga menambahkan bahwa keunikan karakter bakteri Rhizobium sp. merupakan potensi yang dapat dikembangkan sebagai pupuk biologi pengganti pupuk kimia dan tidak merusak lingkungan (ramah lingkungan).
Simbiosis antara tanaman dengan bakteri Rhizobium bermanfaat dalam menyediakan nitrogen bagi tanaman kedelai. Sejumlah besar ATP diperlukan dalam metabolisme nitrogen. Menurut Tranaviciene et al. (2007), pigment merah (leghemoglobin) yang terdapat pada bintil akar dan enzim nitrogenase mengikat nitrogen bebas disekitar perakaran. Nitrogen yang diikat diionisasi ke dalam bintil akar. Nitrogen yang terionisasi berfungsi sebagai aseptor yang menerima electron bebas hasil oksidasi menjadi nitrit, kemudian direduksi menjadi ammonia. ammonia selanjutnya diasimilasikan menjadi asam glutamat yang berfungsi sebagai bahan dasar dalam biosintesis asam amino dan asam-asam nukleat. Peningkatan metabolisme tanaman dan laju fiksasi nitrogen yang tinggi merupakan dukungan untuk menghasilkan benih bermutu yang diindikasikan oleh tingginya produksi benih.
Penelitian penggunaan bakteri Rhizobium sp. dalam menambat nitrogen telah banyak dilakukan. Salah satunya Slurry method, merupakan aplikasi inokulan yang biasa digunakan masyarakat yakni mencampur inokulan bakteri
dengan sedikit air, dibuat seperti pasta inokulan kemudian dicampurkan dengan benih (Hinson & Hartwig, 1982).
Menurut Yutono (1985), aplikasi penggunaan inokulan bakteri Rhizobium sp. dilakukan dengan cara menginokulasi bakteri Rhizobium sp., setelah itu benih dilapisi dengan bahan kapur kemudian dibuat menjadi butiran agak kasar.
Seed coating merupakan salah satu metode yang digunakan untuk meningkatkan mutu benih yakni memberikan penambahan bahan kimia pada coating yang dapat meningkatkan perkecambahan benih. Penggunaan seed coating dalam industri benih membantu memperbaiki penampilan benih, meningkatkan daya simpan, mengurangi resiko tertular penyakit dari benih disekitarnya dan menggunakan pembawa zat aditif, misalnya antioksidan, anti mikroba, zat pengatur tumbuh dan lain-lain (Copeland & McDonald, 1995).
Pola pikir petani yang sulit untuk dirubah, karena petani lebih menyukai penggunaan pupuk kimia dibandingkan menggunakan inokulanbakteri Rhizobium sp. (Stevan et al., 2010).
Penggunaan inokulan bakteri penambat nitrogen Rhizobium sp. semakin berkembang. LIPI mengembangkan teknologinya yakni teknologi kedelai plus. Benih kedelai plus adalah benih yang dibekali dengan mikroba berpotensi dalam melakukan proses penambatan nitrogen secara hayati. Benih kedelai plus dapat langsung diaplikasikan ke lapangan oleh petani dan tidak memerlukan pemupukkan secara optimal karena kebutuhan nitrogen yang dibutuhkan oleh tanaman telah tersedia. Teknologi yang dikembangkan oleh LIPI masih memerlukan pembuktian apakah bakteri tersebut masuk ke dalam jaringan benih kedelai dan bakteri tetap hidup selama berada dalam benih. Diperlukan penelitian lebih lanjut sehingga teknologi kedelai plus dapat menunjang program pemerintah dalam meningkatkan produksi kedelai secara hayati.
Tujuan Penelitian ini bertujuan
1. Membuktikan keberadaan bakteri Rhizobium sp. yang telah diinsersi ke dalam benih melalui teknologi vakum.
2. Mempelajari viabilitas benih dan bakteri Rhizobium sp. yang berada dalam benih kedelai selama periode simpan benih kedelai.
3. Mempelajari pengaruh insersi bakteri Rhizobium sp. terhadap daya hasil dan mutu fisiologi benihnya.
Hipotesis
Hipotesa yang ingin ditegakkan untuk menunjang penelitian ini adalah
1. Bakteri Rhizobium sp. dapat masuk ke dalam benih dengan metode insersi menggunakan teknologi vakum.
2. Bakteri Rhizobium sp. yang diinsersi dalam benih tetap hidup dan viabilitas benih selama periode simpan benih kedelai.
3. Benih plus dapat meningkatkan daya hasil dan mutu fisiologi benih kedelai.
TINJAUAN PUSTAKA
Kedelai (Glycine max (L.) Merrill)
Tanaman kedelai merupakan tanaman yang berasal dari Cina bagian utara, sekitar abad ke 11 SM. Kedelai selanjutnya tersebar ke negara lain diantaranya: Mancuria, Korea, Jepang dan Rusia. Kedelai kemudian diintroduksi ke sebagian besar negara Asia Selatan dan Asia Tenggara (Maesen & Somaatmadja, 1993).
Umumnya tanaman kedelai berupa terna semusim yang tumbuh tegak kadang menjalar, dengan ketinggian berkisar antara 10 - 200 cm, bercabang sedikit atau banyak, tergantung kultivar dan lingkungan hidupnya. Kultivar kedelai berdaun lebar dapat menghasilkan benih yang lebih banyak karena mampu menyerap sinar matahari lebih banyak dibandingkan jika berdaun sempit. Bunga kedelai merupakan bunga sempurna yang berbentuk kupu-kupu (Papilionaceus). Bentuk polongnya, rata atau agak melengkung (Suprapto, 1992).
Benih kedelai mempunyai dua keping kotiledon. Kotiledon ini sering disebut dengan belahan benih atau keping benih, karena itu benih kedelai digolongkan dalam tanaman berkeping dua (dikotil). Warna kulit benih kedelai beragam, ada yang kuning, hijau, coklat dan hitam. Bentuk benih kedelai berbeda-beda tergantung kultivar, bulat, agak panjang dan bulat telur, sebagian besar kultivar kedelai bijinya bulat panjang (Suprapto, 1992).
Sistem perakaran tanaman kedelai adalah tunggang yang membentuk akar-akar cabang tumbuh menyamping (horizontal) tidak jauh dari permukaan tanah. Perkembangan akar kedelai ini dapat mencapai kedalaman hingga 2 meter yang dipengaruhi oleh cara pengolahan tanah, pemupukan, tekstur tanah, sifat kimia-fisik tanah, air dan lain-lain (Hidayat, 1985). Jika pada akar tanaman kedelai terdapat bakteri maka akan terbentuk bintil akar. Perkembangan bintil akar diawali akar tanaman memberikan sinyal yang hanya dapat dibaca oleh bakteri penambat nitrogen. Kolonisasi bakteri Rhizobium sp. terjadi disekitar bulu akar, selanjutnya enzim dari bakteri merombak dinding sel akar sehingga bakteri dapat masuk ke bulu akar. Bulu akar tersebut membentuk struktur yang disebut dengan benang infeksi. Benang infeksi membawa bakteri berubah menjadi bakteroid, bakteroid menyebabkan sel korteks dalam dan sel perisikel membelah.
Pembelahan dan pertumbuhan sel korteks dan perisikel membentuk bintil akar dewasa seperti yang terlihat pada Gambar 1 (Salisbury & Ross,1955; Hidayat, 1985; Yutono, 1985).
Gambar 1. Bintil akar pada tanaman kedelai
Tanaman kedelai dapat hidup bersama dengan bakteri Rhizobium sp. dalam menambat nitrogen dari udara, yang kemudian dapat digunakan untuk pertumbuhan tanaman kedelai. Sebaliknya, Rhizobium sp. juga memerlukan makanan yang berasal dari tanaman kedelai dan tempat untuk hidupnya. Hubungan hidup yang saling menguntungkan ini disebut simbiosis mutualisme (Jhonston, 1991).
Peranan bakteri Rhizobium sp. sebagai inokulan, adalah menyediakan nitrogen secara tidak langsung sehingga membantu mengurangi biaya produksi (Pasaribu dkk., 1989). Menurut Widiastuti (1989), bakteri Rhizobium sp. dapat menyuburkan tanah secara hayati sehingga meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi tanaman.
Rhizobium sp dan manfaatnya
Rhizobium sp. adalah bakteri tanah yang memiliki karakter yang unik yaitu dapat hidup bersimbiosis pada akar tanaman Leguminosae dengan membentuk bintil akar dan melakukan proses penambatan nitrogen (Suprapto, 1992). Bentuk selnya batang dengan ukuran 0.5-0.9 x 1.2-3.0 µm, tidak membentuk spora, bergerak bebas dengan menggunakan flagela, bersifat aerob, tumbuh baik pada suhu 25-300C dan pH 6-7 (Bergey’s 1984).
Klasifikasi bakteri Rhizobium sp. menurut Salle ( 1961), sebagai berikut: Division : Protophyta Kelas : Schizomycetes Ordo : Eubacteriales Familia : Rhizobiaceae Genus : Rhizobium Spesies : Rhizobium sp.
Sejak ditemukannya bakteri Rhizobium sp., banyak ahli taksonomi mencoba memberi nama bakteri Rhizobium sp. berdasarkan: nama tanaman inangnya, kelompok inokulasi silang (cross inoculation) dimana Rhizobium sp. diinokulasi pada tanaman inang lain, karakter pertumbuhan bakteri Rhizobium sp. sehingga penamaan bakteri Rhizobium seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1.Pengolongan bakteri Rhizobium berdasarkan nama tanaman inangnya, kelompok inokulasi silang dan karakter pertumbuhannya
No. Tanaman inang Bakteri Rhizobium yang tumbuh cepat
Tanaman inang lain inokulasi silang 1. Leguminosae Rhizobium
leguminosarum
Pisum sp., Vicia sp., Lena culinaria
2. Phaseolus Rhizobium phaseoli Phaseolus vulgaris, Phaseolus coccineus
3. Trifolii Rhizobium trifolii Trifolium subterraneum, Trifolium
sp.
4. Melilotus Rhizobium meliloti Medicago sativa, Melilotus sp.,
Trigonella sp. No. Tanaman inang Bakteri Rhizobium
yang tumbuh lambat
Tanaman inang lain inokulasi silang
1. Lupinus Rhizobium lupini Lupinus sp., Ornithopus sp. 2. Glycine Rhizobium japonicum Glycine max
Rhizobium sp. Vigna sp.,Macroptillium sp., dllnya
Pengaruh Rhizobium sp. terhadap mutu fisiologi benih
Sejak orang mengetahui manfaat simbiosis Rhizobium sp. dengan tanaman legum dalam memfiksasi N bebas di udara, penelitian-penelitian dalam bidang fiksasi N secara biologis terus berkembang. Penelitian dilakukan untuk mencari alternatif sumber N sehubungan dengan peningkatan produksi tanaman yang aman dan ramah lingkungan. Kemampuan bakteri Rhizobium sp. mampu memberikan unsur nitrogen dalam bentuk asam amino terhadap tanaman kedelai. Bakteri Rhizobium sp. yang menginfeksi perakaran tanaman membentuk bintil akar sebagai tempat tinggal dalam melaksanakan proses penambatan N dan dalam hidupnya bakteri mendapatkan nutrisi dan energi dari hasil metabolisme tanaman (Suharjo & Joko, 2001).
Penggunaan inokulan dapat memperbaiki kesuburan dan keseimbangan hara dalam tanah. Penggunaan inokulan juga mampu meningkatkan kandungan unsur N tanah total hingga 20% sehingga hasil produksi kedelai dapat ditingkatkan hingga 30-45% bahkan pada tanah yang kurang subur produksi kedelai mampu meningkat hingga 50% (Laporan kegiatan kedelai plus, 2005).
Menurut Sutanto (2002), bakteri Rhizobium sp. yang berasosiasi dengan tanaman legum mampu memfiksasi 100-300 kg N / ha dalam satu musim tanam dan meninggalkan sejumlah N untuk tanaman berikutnya. Permasalahan yang perlu diperhatikan agar proses simbiosis dapat terjadi adalah kecocokan bakteri Rhizobium sp. dengan tanaman inangnya. Beberapa faktor lain seperti pH tanah, suhu, sinar matahari, ketersediaan unsur hara untuk aktifitas bakteri Rhizobium sp. Inokulasi bakteri Rhizobium sp. pada benih (seperti produk legin) biasa digunakan di Indonesia. Beberapa metode aplikasi bakteri Rhizobium sp. yaitu pelapisan benih dan metode tepung inokulan. Aplikasi pelapisan pada benih misalnya benih kedelai dibasahi dengan air secukupnya kemudian diberikan bubuk bakteri Rhizobium sp. sehingga inokulan menempel pada permukaan benih. Aktifitas bakteri Rhizobium sp. terjadi pada saat akar terinfeksi kemudian membentuk bintil akar. Pembentukkan bintil akar terjadi 15 - 20 hari setelah tanam (Adisarwanto, 2005).
Ditambahkan pula oleh Adijaya et al . (2009) peningkatan pertumbuhan tanaman kedelai yang diberi bakteri Rhizobium sp. disebabkan semakin
meningkatnya fiksasi N dari udara. Hal ini berpengaruh terhadap metabolisme tanaman, dimana hasil asimilat/fotosintat ditranslokasikan ke organ penyimpanan seperti terjadinya peningkatan jumlah polong, bobot biji yang berpengaruh terhadap peningkatan produksi benih.
Kenaikkan produksi kedelai karena penggunaan inokulan sangat beragam, hal ini karena pengaruh beberapa faktor antara lain: varietas dan kualitas benih kedelai, tingkat kesuburan tanah, kerapatan dan cara perawatan tanaman. Tabel 2 menunjukkan produksi (ton/ha.) berbagai varietas kedelai dengan pemberian inokulan dibandingkan dengan tanaman kedelai tanpa pemberian inokulan bakteri Rhizobium sp.
Tabel 2. Produksi berbagai varietas kedelai dengan pemberian inokulan
Var. kedelai Hasil (ton/ha.) Kenaikan (%)
Tanpa Inokulan Inokulan
Lokal 1.60 2.40 50.00 Lokon 1.90 3.10 63.15 1340 1.20 1.49 24.16 Taichung 0.76 1.26 65.78 Guntur 0.84 1.04 23.80 Kerinci 1.00 1.10 10.00 Wilis 1.00 1.20 20.00 Tidar 1.20 1.30 8.33 Orba 0.60 1.20 88.33 Galunggung 0.50 1.00 100.00 29 0.60 1.30 116.00 Lokal 0.60 1.10 83.33
Sumber: Hayati Silalahi (2008)
Benih kedelai merupakan benih yang cepat sekali mengalami penurunan mutu. Benih kedelai yang sudah mengalami penurunan mutunya dapat ditingkatkan vigornya melalui invigorasi. Salah satu perlakuan invigorasi dengan Matriconditioning plus inokulan Bradyrhizobium japonicum dan Azospirillum lipoferum selama 12 jam terbukti efektif dalam meningkatkan bobot brangkasan kering, jumlah polong, hasil benih per tanaman, hasil benih per petak lebih tinggi dibandingkan kontrol (Ilyas et al.,2003)
Menurut Khalequzaman & Hossain (2008), perlakuan inokulasi bakteri Rhizobium sp. pada tanaman kacang-kacangan dapat meningkatkan daya berkecambah, indeks vigor, tinggi tanaman, jumlah polong per tanaman, berat
polong per tanaman, berat biji per tanaman dan benih bebas dari serangan penyakit. Daya berkecambah antara kontrol pada benih yang diinokulasi dengan bakteri Rhizobium menunjukkan: Rhizobium binar p6 : 86.85% dan Rhizobium binar p 36: 92.00% sedangkan kontrol menunjukkan daya berkecambah: 70.95%.
Pengembangan produksi tanaman dengan menggunakan inokulan perlu mendapat perhatian karena hasil produksi tanaman lebih aman untuk kesehatan dan penggunaan inokulan tidak merusak lingkungan. Penggunaan inokulan membantu dalam keberhasilan usaha produksi benih tanaman untuk menghasilkan benih bermutu (Saut, 2002).
Hasil penelitian Cooper (1962), menunjukan bahwa benih legum yang telah diinsersi bakteri Rhizobium melilotii berlabel menggunakan teknologi vakum lebih baik dibandingkan dengan benih hanya dicampur dengan inokulan secara manual. Dalam hal inipengaruh nodulasi yang terjadi pada benih yang diinsersi bakteri berlabel lebih baik karena bakteri dalam benih lebih banyak jumlahnya dan membantu dalam melakukan fiksasi nitrogen untuk pertumbuhan tanaman.
Keuntungan benih yang telah diinsersi mengandung mikroorganisme bermanfaat, dimana pada saat benih berkecambah mikroorganisme akan membantu tanaman dalam proses metabolisme sehingga tanaman dapat tumbuh dan kelangsungan hidup mikroorganisme seperti bakteri Rhizobium sp. tetap dapat dipertahankan. Hubungan kerjasama tanaman dengan bakteri ini disebut simbiosis mutualisme (United States Patent, 1995)
Gambar 2 memberikan ilustrasi sederhana dimana populasi bakteri tertentu pada kondisi suhu ruang diinsersi masuk ke dalam benih yang kualitasnya baik.
Gambar 2. Ilustrasi insersi bakteri Rhizobium sp.ke dalam benih
Teknologi ini diharapkan dapat membantu petani dalam menggunakan benih plus dan benih plus memberi nilai tambah ramah lingkungan karena mikroba yang diinsersi memiliki kemampuan melakukan penambatan nitrogen secara hayati (Sukiman, 2008).
Ditambahkan pula oleh Egli et al.(1970), penggunaan pupuk urea untuk meningkatkan pertumbuhan kedelai diperlukan hanya sebagai pemicu sebelum bintil mencapai perkembangan dan sanggup untuk memenuhi kebutuhan N yang dibutuhkan tanaman sedangkan pupuk yang diberikan selanjutnya hanya untuk memenuhi kebutuhan N yang tinggi pada saat pengisian polong pada tanaman kedelai.
Penggunan teknologi insersi bakteri Rhizobium sp. yang juga dikenal dengan kedelai plus telah diuji coba di lapangan dan hasilnya dapat dilihat pada Tabel 3. menunjukkan bahwa produksi kedelai plus dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan produksi kedelai biasa atau tanpa insersi (Sukiman, 2008).
Tabel 3. Uji aplikasi kedelai insersi bakteri Rhizobium sp. di beberapa lokasi di Jawa Barat.
Sumber: Sukiman (2008)
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi produksi dan kualitas benih adalah faktor lingkungan tumbuh tanaman kedelai seperti cahaya (Kantolic & Slafer, 2007), pemberian hormon tumbuh (Golunggu et al., 2007) dan unsur hara (Anetor & Akinrinde, 2006).
Kemunduran benih bersifat inexorable yaitu tidak dapat dihindari dan pasti terjadi, namun kita dapat membuat proses kemunduran benih menjadi lambat dengan mengatur lingkungan simpan yang optimum disertai dengan viabilitas
Lokasi Kedelai Biasa
(ton/ha) Kedelai Plus (ton/ ha) Cihideung Jabar 0.80 1.75 - 2.0 Cikampak Jabar 0.80 1.70 - 2.0 Cicurug, Jabar Ciomas , Jabar Taman Sari ,Jabar Cililin Jabar 0.70 0.70 0.70 0.80 1.70 - 2.0 1.28 - 1.45 1.37 - 1.74 1.70 - 2.00
awal yang tinggi dan kadar air benih yang optimum. Penggunaan inokulan yang diinsersi pada benih kedelai membantu dalam meningkatkan produksi dengan cara simbiosa antara tanaman dan bakteri Rhizobium sp.
Pengaruh periode simpan terhadap mutu fisiologi benih.
Kemunduran benih sering terjadi di daerah tropis, dimana lamanya penyimpanan benih merupakan salah satu faktor pembatas produksi kedelai sehingga penyediaan benih berkualitas tinggi makin menurun. Pengadaan benih kedelai dalam jumlah yang cukup dan tepat waktu menjadi kendala karena daya simpan benih yang rendah, sementara itu pengadaan benih bermutu tinggi merupakan unsur penting dalam upaya peningkatan produksi benih tanaman.
Proses kemunduran benih secara fisiologis ditandai dengan penurunan daya berkecambah dimana jumlah kecambah abnormal lebih besar. Hal ini dapat berpengaruh apabila benih tetap digunakan sehingga banyak benih tidak berkecambah di lapangan (field emergence), pertumbuhan dan perkembangan tanaman terhambat, menurunnya kepekaan terhadap lingkungan yang ekstrim yang akhirnya dapat mengurangi produksi benih tanaman (Copeland & MC. Donald, 1985).
Kemunduran benih kedelai selama penyimpanan dapat terjadi lebih cepat tergantung dari vigor benihnya. Benih yang memiliki vigor rendah akan menyebabkan pemunculan bibit di lapangan rendah, terutama dalam kondisi tanah yang kurang ideal. Hal ini perlu diperhatikan agar benih kedelai yang akan digunakan harus disimpan dalam lingkungan yang menguntungkan (suhu rendah), sehingga kualitas benih tetap tinggi dan stabil sampai diakhir penyimpanan (Viera et al.,2001).
Menurut Harrington (1972), masalah yang dihadapi dalam penyimpanan benih makin kompleks sejalan dengan meningkatnya kadar air benih. Penyimpanan benih yang berkadar air tinggi dapat menimbulkan resiko terserang cendawan. Benih bersifat higroskopis, sehingga benih akan mengalami kemundurannya tergantung dari tingginya faktor kelembaban relatif udara dan suhu lingkungan dimana benih disimpan.
Faktor-faktor lain yang mempengaruhi viabilitas benih selama penyimpanan yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup sifat genetik, daya tumbuh dan vigor, kondisi kulit dan kadar air benih awal. Faktor eksternal antara lain kemasan benih, komposisi gas, suhu dan kelembaban ruang simpan (Copeland & Donald, l985 ; Purnomo, 2010). Ditambahkan pula oleh Justice dan Bass (1994), laju penurunan vigor dan viabilitas benih dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya faktor genetik dari spesies atau kultivar, kondisi benih, kondisi penyimpanan, keseragaman lot benih serta keberadaan mikroba patogen yang dapat merusak benih selama disimpan
Loch dan Ferguson (1999) menyatakan bahwa penggunaan jenis kemasan benih merupakan hal yang paling utama dan penting untuk diperhatikan. Jenis kemasan benih untuk menjaga kelembaban seperti kaleng dari timah, plastik atau aluminium foil. Pemilihan kemasan benih perlu diperhitungkan jumlah dari benih tersebut. Jenis pengemasan untuk penyimpanan jangka panjang atau jangka pendek. Penyimpanan benih dalam jumlah yang kecil dapat disimpan dengan menggunakan kaleng dari aluminium atau fiberboard dengan aluminium foil, kantong polietilen dan karung goni atau kertas.
Hasil penelitian yang dilakukan Andrew (1970) menunjukkan benih kedelai yang berkadar air awal 10,4% atau lebih rendah yang dikemas dengan plastik polietilen dapat mempertahankan viabilitas lebih dari 80% selama 18 bulan. Menurut Chai et al. (2001), perkecambahan benih kedelai akan menurun dari perkecambahan awal yaitu diatas 90% menjadi 0% tergantung spesies dan kadar air selama penyimpanan. Dilain pihak Yaya et al. (2003) menyatakan bahwa benih kedelai yang disimpan dengan kadar air 6% dan 8% selama 4 bulan pada suhu 150C memiliki persentase perkecambahan diatas 70%.
Faktor genetik merupakan faktor bawaan yang berkaitan dengan komposisi genetika suatu benih. Setiap jenis atau varietas benih memiliki identitas genetik yang berbeda. Sebagai contoh, daya simpan benih kedelai lebih rendah jika dibandingkan dengan daya simpan benih tanaman lain seperti benih jagung. Selain itu kekuatan tumbuh atau vigor dari produksi benih jagung hibrida lebih tinggi dari benih jagung biasa. Semua perbedaan tersebut diakibatkan perbedaan gen yang ada di dalam benih (Budiyanto, 2012).
Sukarman dan Raharjo (2000), juga menambahkan bahwa faktor bawaan dari suatu varietas kedelai berbiji kecil dan kulit berwarna gelap lebih toleran terhadap deraan fisik (suhu 420C dan kelembaban 100%) dibanding varietas berbiji besar dan berkulit terang. Hasil penelitiannya, menunjukkan bahwa kedelai varietas Cikuray yang memiliki biji sedang, kulit berwarna hitam dan kedelai varietas Tidar berbiji kecil, kulit berwarna kuning memiliki daya simpan yang lebih baik dibandingkan dengan kedelai varietas Wilis berbiji sedang, berkulit kuning. Daya berkecambah benih varietas Cikuray dan varietas Tidar masih diatas 80% setelah lima bulan penyimpanan, sedangkan daya tumbuh benih kedelai varietas Wilis menurun hingga 60% setelah lima bulan penyimpanan.
Menurut Kartono (2004) cara penyimpanan benih menjadi faktor yang sangat penting. Penyimpanan dalam kondisi terbuka dalam waktu 3 bulan menyebabkan kerusakan benih mencapai 25% dengan daya berkecambah 70%. Penyimpanan ini dilakukan pada kadar air awal sekitar 9 % dan daya berkecambah 95%. Hasil percobaan menunjukkan kadar air awal rendah pada