Ayam broiler merupakan spesies ayam yang termasuk ke dalam spesies Gallus domesticus. Kelebihan ayam broiler ini yaitu memiliki pertumbuhan yang cepat, perdagingan yang baik dan mempunyai konversi pakan yang efisien. Untuk menunjang pertumbuhan tersebut diperlukan bahan makanan yang berkualitas tinggi supaya diperoleh hasil yang maksimal.
Salah satu bahan makanan yang sering digunakan dalam formulasi ransum adalah dedak padi. Dedak padi merupakan hasil ikutan dari proses penyosohan dan pembersihan gabah padi (SNI, 1996). Tiga puluh persen dari gabah adalah beras sosoh dan 70% murni dedak. Dedak padi sangat kaya dengan minyak dan tinggi serat kasarnya sehingga dedak padi biasanya digunakan sebagai bahan makanan sumber energi. Di samping kelebihannya tersebut, dedak padi memiliki beberapa kekurangan, yaitu mudah teroksidasi, adanya inhibitor tripsin dan tingginya asam fitat. Bagi ayam, inhibitor tripsin dapat mengganggu katabolisme protein. Beberapa proteosa dan pepton dihancurkan oleh tripsin menjadi peptida, sehingga apabila ada inhibitor tripsin maka katabolisme protein akan terganggu. Tingginya asam fitat dapat menyebabkan ketersediaan fosfor sangat rendah sehingga pertumbuhan tertunda dan efisiensi pakan menurun. Selain itu ketersediaan dedak padi bersifat musiman, ketika musim penghujan produksi dedak padi melimpah namun ketika musim kemarau produksinya menurun. Oleh karena itu diperlukan pemecahan untuk mengatasi permasalahan ini. Salah satu cara yang dapat ditempuh yaitu menggantikan dedak padi dengan bahan lain.
Bahan yang dapat digunakan untuk menggantikan dedak padi harus memiliki kandungan nutrisi yang sama atau lebih baik dari dedak padi. Menurut Yanis et al. (2000) limbah restoran memiliki kandungan nutrisi yang hampir sama dengan dedak padi, diantaranya kadar protein kasar 10,89%, lemak kasar 9,7%, serat kasar 9,13% (lebih rendah), kadar kalsium 0,08% dan fosfor 0,39% (lebih tinggi). Penelitian mengenai penggunaan limbah restoran sebagai bahan pakan pada ayam buras telah dilakukan Yanis et al. (2000) dan hasilnya menunjukkan bahwa limbah restoran dapat digunakan maksimal 75% dari total ransum ayam buras. Penelitian mengenai penggunaan limbah restoran terhadap ayam ras
2 khususnya ras pedaging perlu dilakukan. Limbah restoran memiliki peluang yang cukup besar untuk digunakan sebagai bahan pakan mengingat bahwa bahan ini tidak bersaing dengan kebutuhan manusia dan jumlahnya yang tidak tergantung musim. Di Jakarta Pusat terdapat 180 hotel berbintang, 109 hotel non bintang, dan 153 restoran dan kafe dengan rataan pengunjung kurang lebih sebesar 10.500.000 orang per tahun. Sebagai contoh produksi limbah restoran salah satu hotel berbintang yaitu hotel Sahid sebesar 40 ton per hari. Dari data ini dapat dilihat bahwa betapa besar jumlah limbah yang tidak termanfaatkan dengan optimal, sementara perunggasan nasional sedang bangkit kembali dari keterpurukan akibat penyakit flu burung, Apabila kedua peluang ini dapat dimanfaatkan dengan optimal bukan tidak mungkin akan diperoleh penghasilan yang lebih tinggi dari yang ada sekarang.
Perumusan Masalah
Usaha ayam broiler merupakan salah satu jenis usaha yang membutuhkan ketelitian karena banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha ini. Terdapat tiga kunci sukses dalam pemeliharaan ayam broiler, yaitu genetik, pakan dan manajemen. Biaya terbesar yang harus dikeluarkan adalah untuk pakan, karena untuk menunjang pertumbuhan yang cepat diperlukan pakan yang banyak. Bahan baku yang sering digunakan sebagai pakan ayam adalah jagung (40-50%), bungkil kedelai (10-15%) dan sisanya bahan lain dengan porsi yang sangat sedikit (Poultry Indonesia, 2006). Amrullah (2004) menyatakan bahwa penggunaan dedak padi untuk ayam broiler maksimal sebesar 15%. Jagung dan dedak biasa digunakan sebagai sumber energi.
Produksi dedak padi di Indonesia mencapai 3,5 ton per tahun (Busro, 2005). Dedak mengandung minyak dan serat kasar yang cukup tinggi. Karena kandungan minyaknya yang tinggi maka dedak padi sangat mudah mengalami ketengikan oksidatif. Jika dedak padi digunakan hingga taraf lebih dari 40% maka pertumbuhan sering tertunda dan efisiensi pakan menurun, oleh adanya inhibitor tripsin dan tingginya asam fitat. Asam fitat dapat mengikat mineral bervalensi dua sehingga ketersediaannya berkurang. Inhibitor tripsin mudah dihancurkan oleh panas, tetapi asam fitat lebih tahan, sehingga ketersediaan fosfornya sangat rendah dan dapat mengganggu keseimbangan Ca:P. Di samping
3 masalah di atas, saat ini banyak pemalsuan dedak melalui cara pencampuran dedak salah satunya dengan kulit ari kedelai yang dihaluskan sehingga serat kasarnya semakin tinggi. Ternak unggas tidak bisa mencerna serat kasar sebagaimana layaknya ternak ruminansia karena pada saluran pencernaan unggas tidak terdapat enzim selulase sebagai pencerna serat.
Oleh karena itu diperlukan alternatif bahan makanan lain yang memiliki kualitas sama atau lebih dari dedak. Limbah restoran merupakan salah satu bahan makanan yang dapat diujicobakan kepada ternak unggas untuk menggantikan penggunaan dedak padi karena penggunaannya tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, mudah didapat dan harganya murah. Limbah restoran ini terdiri atas nasi, daging, tulang dan sayuran.
Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penggunaan limbah restoran dalam menggantikan dedak padi dalam ransum ayam broiler .
4 TINJAUAN PUSTAKA
Ayam Broiler
Ayam broiler merupakan ayam yang telah mengalami seleksi genetik (breeding) sebagai penghasil daging dengan pertumbuhan yang cepat sehingga waktu pemeliharaannya lebih singkat, pakan lebih efisien dan produksi daging tinggi (Ensminger, 1991). Menurut Amrullah (2004), ayam broiler adalah ayam yang mempunyai ciri khas yaitu tingkat pertumbuhannya yang cepat sehingga dalam waktu singkat sudah dapat dipasarkan kepada konsumen. Pada umur 4 minggu ayam sudah dapat dipasarkan dengan bobot badan kira-kira 0,8-1,0 kg, bahkan terkadang bisa lebih dari itu. Bobot hidup 2,1 kg dicapai pada umur 6 minggu untuk ayam broiler jantan dan 1,7 kg untuk ayam broiler betina pada tahun 1994, sedangkan pada tahun 1984 bobot badan tersebut dicapai pada umur 7 minggu pada program pemberian ransum yang sama (NRC, 1984 dan 1994). Ayam broiler jantan dan betina dipasarkan dengan bobot 1,8-2,0 kg (umur < 8 minggu) dalam bentuk karkas atau potongan komersial karkas dan juga dijual hidup (NRC, 1994). Keunggulan dari ayam broiler tersebut dipengaruhi oleh sifat genetik dan keadaan lingkungan, meliputi pakan, temperatur lingkungan dan cara pemeliharaan atau manajemen.
Ransum Ayam Broiler
Ransum merupakan kumpulan bahan makanan yang layak dimakan oleh ayam dan telah disusun mengikuti aturan tertentu (Piliang, 2006). Aturan itu meliputi kebutuhan gizi bagi ayam dan nilai kandungan gizi dari bahan makanan yang digunakan (Sutardi, 1981). Bahan makanan yang tersedia dan terbanyak dimakan oleh bangsa unggas terutama ayam berasal dari biji-bijian, limbah pertanian dan sedikit dari hasil hewani dan perikanan, yang tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, mudah didapatkan dan harganya relatif murah, seperti bekatul, dedak padi, bungkil kelapa, bungkil kacang, bungkil kacang kedelai, tepung ikan, jagung kuning, lemak dan minyak (Rasyaf, 1992). Jagung memegang porsi terbesar dalam penyusunan ransum yaitu 40-50%, bungkil kedelai 10-15% dan sisanya bahan lain dengan porsi yang sangat sedikit (Poultry Indonesia,
5 2006). Amrullah (2004) menyatakan bahwa penggunaan dedak padi untuk ayam broiler maksimal sebesar 15%.
Dedak Padi
Dedak padi diperoleh dari penggilingan padi menjadi beras. Banyaknya dedak padi yang dihasilkan tergantung pada cara pengolahan. Sebanyak 14,44% dedak kasar, 26,99% dedak halus, 3% bekatul dan 1-17% menir dapat dihasilkan dari berat gabah kering. Menurut Busro (2005) produksi dedak padi di Indonesia mencapai 3,5 ton per tahun. Dedak padi cukup disenangi ternak tetapi pemakaian dedak padi dalam ransum ternak umumnya hanya sampai 15% dari campuran konsentrat karena dedak padi memiliki zat anti nutrisi inhibitor tripsin dan asam fitat (Amrullah, 2004). Inhibitor tripsin dapat menghambat katabolisme protein, karena beberapa proteosa dan pepton dihancurkan oleh tripsin menjadi peptida sehingga apabila terganggu maka ketersediaan asam amino menjadi menurun (NRC, 1994). Asam fitat dapat menyebabkan ketersediaan fosfor menjadi rendah sehingga pertumbuhan tertunda dan efisiensi pakan menurun (Sutardi, 1980). Asam fitat atau phytin pada dedak mencapai 89,9% yang membentuk ikatan kompleks dengan beberapa mineral seperti seng, kalsium, zat besi dan magnesium (Houston, 1972). Pembatasan ini dilakukan karena pemakaian dedak padi dalam jumlah besar dapat menyebabkan susahnya pengosongan saluran pencernaan karena sifat pencahar pada dedak. Selain itu, pemakaian dedak padi dalam jumlah besar dalam campuran konsentrat dapat memungkinkan ransum tersebut mudah mengalami ketengikan oksidatif selama penyimpanan. Winarno (1992) menyatakan bahwa ketengikan oksidatif disebabkan oleh auto oksidasi radikal asam lemak tidak jenuh dalam lemak. Auto oksidasi dimulai dengan pembentukan radikal-radikal bebas, lalu radikal ini dengan oksigen membentuk peroksida aktif yang dapat membentuk hidroperoksida yang bersifat sangat tidak stabil dan mudah pecah menjadi senyawa dengan rantai karbon yang lebih pendek (asam lemak, aldehida, keton) yang bersifat volatil dan menimbulkan bau tengik pada lemak.
Secara kualitatif kualitas dedak padi dapat diuji dengan menggunakan bulk density ataupun uji apung. Bulk density dedak padi yang baik adalah 337,2 – 350,7 g/l. Makin banyak dedak padi yang mengapung, makin jelek kualitas dedak
6 padi tersebut. Selain itu uji organoleptik seperti tekstur, rasa, warna, bau dan uji sekam (flouroglusinol) dapat digunakan untuk mengetahui kualitas dedak padi yang baik. Bau tengik merupakan indikasi yang baik untuk dedak yang mengalami kerusakan. Dedak padi yang berkualitas baik mempunyai protein rata-rata dalam bahan kering adalah 12,9%, lemak 13% dan serat kasar 11,4% (NRC, 1994). Dedak padi menyediakan protein yang lebih berkualitas dibandingkan dengan jagung. Dedak padi kaya akan thiamin dan sangat tinggi dalam niasin.
Limbah Restoran
Limbah pada dasarnya berarti suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari suatu sumber hasil aktivitas manusia, maupun proses-proses alam dan tidak atau belum mempunyai nilai ekonomi, bahkan dapat dikatakan mempunyai nilai ekonomi negatif. Limbah umumnya dibagi menjadi tiga bentuk, yaitu limbah cair, padat dan gas. Limbah restoran merupakan limbah padat yang secara teknis terdiri dari bahan-bahan organik mudah busuk (garbage), terdiri dari sisa dapur, sisa makanan, sampah sayuran dan kulit buah-buahan (Murtadho dan Said, 1988). Pengolahan yang dapat dilakukan untuk menanggulangi limbah tersebut adalah dengan melakukan pengomposan supaya dihasilkan produk yang memiliki nilai guna. Pengomposan secara alamiah memerlukan waktu yang cukup lama sekitar 14 hari, namun dengan sistem baru yang telah dikembangkan Jepang waktu pengomposan dapat lebih cepat, yaitu dengan sistem Environmental Recycling System (ERS). Metode ini menggunakan alat yang di dalamnya terdapat mesin giling, mesin pencampur dan dialiri dengan uap panas bersuhu 36-37oC lalu masuk ke dalam mesin pengering bersuhu 70-80oC. Waktu yang dibutuhkan dalam satu proses pengolahan lebih singkat yaitu 2 jam. Pada proses pengolahan ini terjadi fermentasi oleh mikroba akar bambu. Suhu pengolahan pangan yang baik menurut Winarno (1992) sekitar 60oC. Pada suhu ini bakteri, kapang dan jamur tidak dapat tumbuh serta tidak akan terjadi denaturasi protein. Apriyantono (2002) menyatakan bahwa protein dapat terdenaturasi (rusak) pada kisaran suhu 60-90oC.
Penelitian mengenai limbah restoran telah dilakukan Yanis et al. (2000) dan dilaporkan bahwa pemberian limbah restoran sampai dengan 75% ke dalam ransum ayam buras tidak menunjukkan pengaruh yang negatif. Ransum ayam
7 yang digunakan meliputi 33% jagung, 33% dedak padi, 33% ransum broiler finisher, 0,2% starbio dan 1% vitamin dan mineral. Kandungan gizi limbah restoran tersebut adalah 10,89% protein kasar, 9,13% serat kasar, 9,70% lemak kasar, 0,08% kalsium, 0,39% fosfor dan 1780 kkal/kg energi metabolis. Penggunaan limbah restoran dalam pakan ayam buras antara 50% sampai dengan 75% dapat menekan biaya produksi 23,42% sampai dengan 35,13%.
Konsumsi Ransum
Konsumsi ransum merupakan jumlah ransum yang dimakan oleh ternak dalam jangka waktu tertentu dan ransum yang dikonsumsi oleh ternak akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat nutrisi lain (Wahju, 1992). Tinggi rendah konsumsi pakan pada ternak unggas sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal (lingkungan) dan faktor internal (kondisi ternak itu sendiri) (NRC, 1994). Tingkat energi dalam ransum menentukan banyaknya pakan yang dikonsumsi yaitu semakin tinggi energi ransum akan menurunkan konsumsi (Wahju, 1992). Energi oleh unggas digunakan untuk hidup dan untuk produksi (Leeson dan Summers, 2001).
Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi ransum adalah bentuk fisik ransum, kecepatan pertumbuhan atau produksi telur, umur ternak, strain, stres dan ukuran tubuh (NRC, 1994). Pond et al. (1995) menyatakan bahwa faktor yang dapat mempengaruhi konsumsi ransum adalah palatabilitas, kadar nutrisi ransum dan ukuran tubuh ayam. Palatabilitas dipengaruhi oleh bau, rasa, warna dan bentuk (Bappenas, 2000). Laksmiastuti (2005) menyatakan bahwa bau amis yang berlebihan pada ayam broiler dapat menurunkan konsumsi ransum. Leeson dan Summers (2001) menyatakan bahwa rasa tidak mempengaruhi konsumsi ransum pada ayam broiler, tetapi faktor warna yaitu kuning lebih disukai oleh ayam broiler. Leeson dan Summers (2001) menyatakan bahwa konsumsi ditentukan juga oleh aktivitas dan suhu lingkungan. Lott dan Simmon (2000) menyatakan bahwa temperatur lingkungan juga dapat mempengaruhi tingkat konsumsi, dimana pengaruh suhu lingkungan terlihat dengan menurunnya konsumsi ransum ketika suhu lingkungan di sekitar ternak meningkat. Suhu netral untuk ayam broiler berkisar antara 22-30oC (Appleby et al., 2004). Menurut Payne (1990) titik kritis suhu bagi ayam broiler adalah 27oC. Di Indonesia suhu netral untuk ayam
8 berkisar antara 19-27oC (Amrullah, 2004). Appleby et al. (2004) menyatakan bahwa cahaya berpengaruh terhadap konsumsi ransum. Ayam lebih menyukai makan dengan intensitas cahaya sebesar 200 lux. North dan Bell (1990) menyatakan selain faktor-faktor diatas, konsumsi ransum juga dipengaruhi oleh bobot badan, aktivitas ternak, mortalitas dan kandungan energi dalam ransum. Menurut Tillman et al. (1998) pemberian air minum yang kurang akan mengakibatkan berkurangnya konsumsi pakan. Wahju (1992) menyatakan bahwa ternak akan mencapai penampilan produksi yang optimum sesuai dengan genetiknya, apabila mendapatkan zat-zat makanan yang sesuai dengan kebutuhan yang diperoleh dengan cara mengkonsumsi sejumlah ransum tertentu. Rose (1997) mengemukakan bahwa unggas mengkonsumsi ransum kira-kira setara dengan 5% dari bobot badannya.
Pertambahan Bobot Badan
Ensminger (1991) menyatakan bahwa pertumbuhan adalah suatu proses peningkatan ukuran tulang, otot, organ dalam dan bagian tubuh lainnya yang terdapat sebelum lahir dan sesudah lahir sampai mencapai tubuh dewasa. Salah satu kriteria untuk mengukur pertumbuhan adalah dengan pengukuran pertambahan bobot badan. Pertambahan bobot badan diartikan sebagai kemampuan untuk mengubah zat-zat nutrisi yang terdapat dalam pakan menjadi daging. Menurut Amrullah (2004) laju pertumbuhan yang cepat diimbangi dengan konsumsi makanan yang banyak. Rose (1997) menyatakan bahwa pertumbuhan meliputi peningkatan ukuran sel-sel tubuh dan peningkatan ukuran sel-sel individual.
Kecepatan pertumbuhan diukur dengan melakukan penimbangan berulang setiap hari, minggu atau bulanan (Tillman et al., 1998). Kecepatan pertumbuhan dipengaruhi oleh beberapa faktor, selain faktor lingkungan seperti suhu dan aliran udara (Simmons et al., 1997) juga tergantung pada tipe ayam, strain, jenis kelamin, umur hewan, keseimbangan ransum dan jumlah ransum yang dikonsumsi (North dan Bell, 1990). Pertumbuhan erat kaitannya dengan konsumsi. Leeson dan Summers (1997) menjelaskan bahwa pada temperatur lingkungan yang tinggi, ayam akan melakukan aktivitas panting yang akan mengurangi aktivitas makan. Penurunan konsumsi ransum ini tentu saja akan
9 mempengaruhi pertumbuhan. Selain itu pertambahan bobot badan juga dipengaruhi oleh kandungan zat nutrisi ransum dan kondisi ternak. Pertambahan bobot badan ini akan menentukan bobot badan akhir yang dihasilkan. Respon fisiologis ayam broiler terhadap cekaman panas disajikan pada Gambar 1.
Gambar 1. Respon Fisiologis Ayam Broiler terhadap Cekaman Panas Modifikasi dari Swick (1993)
D’Mello (2000) menyatakan bahwa kadar kalsium dalam makanan juga berpengaruh terhadap bobot badan. Semakin tinggi kalsium dalam makanan maka berat badan ternak akan menurun (Kamal, 1981). Kalsium mempunyai efek negatif terhadap permeabilitas sel-sel usus terhadap absorpsi glukosa (Piliang, 2006). Kalsium yang berlebih tidak akan diserap tubuh tapi bergabung dengan fosfor membentuk trikalsiumfosfat yang tidak dapat larut dan keluar bersama ekskreta yang menyebabkan defisiensi unsur fosfor (Anggorodi, 1979). McDowell (1992) menyatakan bahwa perbandingan Ca dan P yang direkomendasikan untuk ayam pedaging yaitu 1:1 hingga 2:1. Penyerapan Ca dan P bertempat di duodenum melalui proses transpor aktif maupun difusi. Fosfor cepat diserap yaitu dalam waktu lima menit setelah mencapai duodenum, dan efisiensi penyerapan tergantung pada beberapa faktor dari ransum, bentuk dan cara pencernaan makanan, pH usus halus, rasio Ca:P dan jumlah vitamin D yang tersedia (Refnita, 1990). Refnita (1990) menyatakan bahwa peningkatan fosfor dari 0,48% menjadi
Kondisi Lingkungan Panas dan lembab Mengurangi aktivitas Mengurangi konsumsi pakan Defisiensi nutrisi Panting Alkalosis Pernapasan Ketidakseimbangan asam basa PBB turun Efisiensi turun Mortalitas naik Keuntungan turun
10 0,7% (diantaranya 0,3% fosfor berasal dari tanaman) akan menyebabkan naiknya bobot badan dan abu tulang. Batas maksimum level Ca dan P yang bersifat racun bagi ayam masing-masing adalah 1,2% dan 1% (McDowell, 1992). Kelebihan kalsium dapat menyebabkan kelainan tulang, mengurangi konsumsi pakan dan mengurangi bobot badan. Level Ca yang berlebihan dapat juga mengurangi efisiensi penggunaan mineral lain. Kelebihan Ca dapat menyebabkan defisiensi beberapa mineral esensial seperti P, Mg, Fe, I, Zn, dan Mn (NRC, 1994).
Konversi Ransum
Konversi ransum adalah perbandingan antara konsumsi ransum dengan pertambahan bobot badan yang diperoleh selama waktu tertentu. Konversi ransum yang tinggi menunjukan semakin banyak ransum yang dibutuhkan untuk meningkatkan bobot badan per satuan berat, sedangkan semakin rendah angka konversi ransum berarti kualitas ransum semakin baik. Konversi ransum ini digunakan untuk mengukur produktivitas ternak (Lacy dan Vest, 2004). Angka konversi yang baik adalah dibawah 2 (NRC, 1994).
Menurut NRC (1994) konversi ransum merupakan hubungan antara ransum yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu satuan bobot badan. Konversi ransum melibatkan pertumbuhan ayam dan konsumsi ransum. Suhu, ventilasi kandang, kualitas air, penyakit dan pengobatannya, manajemen pemeliharaan dan penerangan akan mempengaruhi nilai konversi (Lacy dan Vest, 2004). Manajemen pemeliharaan meliputi cara pemberian pakan dan air minum, kontrol suhu, kepadatan kandang dan pengawasan kesehatan (Infovet, 2005). Konversi ransum berkaitan erat dengan pertambahan bobot badan sehingga faktor-faktor yang berpengaruh pada konsumsi ransum dan pertambahan bobot badan akan berpengaruh juga pada konversi ransum. Faktor yang mempengaruhi konversi ransum adalah genetik, kualitas pakan, jenis ransum, penyakit, temperatur, sanitasi kandang, ventilasi, pengobatan dan manajemen kandang. Selain itu faktor pemberian pakan dan penerangan juga ikut andil dalam mempengaruhi konversi ransum. Kemudian laju perjalanan ransum dalam saluran pencernaan serta bentuk fisik pakan dan komposisi nutrien ransum juga mempengaruhi nilai konversi ransum (Anggorodi, 1995).
11 Konsumsi Air Minum
Air minum merupakan salah satu bahan makanan terpenting karena hampir 75% tubuh ayam muda, 50% tubuh ayam dewasa terdiri atas air. Air tidak dicerna terlebih dahulu sebelum diabsorpsi dari usus halus. Air tidak mensuplai energi untuk pertumbuhan, pemeliharaan atau untuk kerja fisik, tetapi sebagai zat yang mempunyai sifat-sifat kima dan fisik yang unik (Piliang, 2006). Air berfungsi dalam pengangkutan zat makanan dalam tubuh, pembuangan hasil sisa dan pengaturan suhu. Ayam membutuhkan air yang bersih, segar dan dingin secara bertahap untuk pertumbuhan, produksi dan efisiensi penggunaan ransum. Seekor ternak dapat melangsungkan hidupnya hanya dengan mengambil kebutuhan dari sektor pakan, namun itu hanya pada batas kurun waktu tertentu. Tanpa air ternak akan mati hanya dalam beberapa hari (Wahju, 1992). Menurut NRC (1994) konsumsi air minum akan bertambah sekitar 7% setiap peningkatan suhu 1oC di atas 21oC. Konsumsi air minum ayam broiler menurut NRC (1994) dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Konsumsi Air Minum pada Ayam Broiler
Umur (minggu) Konsumsi air minum (ml/ekor)
1 225 2 480 3 725 4 1000 5 1250 Sumber: NRC (1994)
Wahju (1992) menyatakan bahwa jumlah air yang dikonsumsi oleh ayam tergantung dari beberapa faktor diantaranya adalah jumlah makanan yang dikonsumsi, suhu dan kelembaban lingkungan, aktivitas ayam dan sifat dari makanan yang dikonsumsi terutama kandungan air, garam dan kandungan protein. Willyanto (1997) menyatakan bahwa konsumsi air minum pada unggas dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah faktor keasaman, dimana pH yang mampu ditoleransi oleh unggas adalah sekitar 5-8. Kekurangan air dalam tubuh ayam dapat mengganggu pertumbuhan, kesehatan dan produksi ayam
12 tersebut. Kekurangan air sekitar 20% atau lebih akan menghasilkan penurunan yang nyata dalam efisiensi penggunaan pakan dan suatu penurunan sebanding dalam laju pertumbuhan broiler (Wahju, 1992).
13 METODE
Lokasi dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 19 Januari 2006 sampai 23 Februari 2006, di Laboratorium Lapang Nutrisi Ternak Unggas, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Materi Ternak
Penelitian ini menggunakan 120 ekor anak ayam broiler umur sehari (DOC) tipe berat strain Cobb 500 yang diperoleh dari PT. Sierad Breeding Farm dan dipelihara selama 5 minggu.
Limbah Restoran
Limbah restoran yang digunakan merupakan produk pupuk yang dihasilkan oleh hotel Sahid.
Ransum
Ransum percobaan dibuat di PT. Indofeed serta kebutuhannya disusun berdasarkan NRC (1994) dengan kandungan Energi Metabolis 3200 kkal/kg dan protein kasar 23 % dengan bentuk ransum tepung (mash). Komposisi zat makanan limbah restoran dan dedak padi disajikan pada Tabel 2 serta komposisi dan kandungan zat makanan ransum penelitian disajikan pada Tabel 3. Ransum yang digunakan tersebut menggunakan bahan baku jagung kuning, bungkil kedelai, tepung ikan, tepung daging, limbah restoran, dedak padi, CPO (Crude Palm Oil) dan premiks. Pemberian ransum dilakukan ad libitum setiap hari dan konsumsi ransum diukur setiap minggu.
14 Tabel 2. Komposisi Zat Makanan Limbah Restoran dan Dedak Padi Nama Komponen Limbah Restoran1 Dedak Padi2
Bahan Kering (%) 100 100 Abu (%) 8,88 13,85 Protein Kasar (%) 15,29 14,17 Serat Kasar (%) 8,97 12,53 Lemak Kasar (%) 7,73 14,29 Beta-N (%) 59,12 50,22 Ca (%) 1,63 0,08 P tersedia (%) 0,70 0,24 Na (%) 0,20 0,08 Cl (%) 0,33 0,08 Energi Bruto (kkal/kg) 2760 - Energi Metabolis (kkal/kg) 17803 2980 Keterangan: Hasil Analisa Laboratorium Teknologi Pakan, Fapet IPB (2006)1
NRC (1994)2 Yanis et al. (2000)3
Kandang
Kandang yang digunakan merupakan kandang sistem litter yang menggunakan sekam padi. Kandang tersebut dibagi menjadi 12 unit dengan