• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jumlah pendidikan keperawatan saat ini di tanah air telah meningkat pesat. Tahun 2010, AIPNI mencatat sebanyak 309 jenjang sarjana/ners, 15 jenjang magister/spesialis dan 1 jenjang doktoral. Penambahan jumlah tersebut belum disertai dengan peningkatan mutu manajemen yang berdampak pada lulusannya.

Sebagian besar pendidikan keperawatan kurang didukung oleh ketersediaan wahana praktik yang memadai seperti; rumah sakit, puskesmas, panti lansia dan berbagai wahana praktik yang mendukung ketercapaian kompetensi peserta didik. Aspek ketersediaan sumberdaya manusia juga belum memadai. Tercatat sebanyak 80% tenaga pendidik/dosen masih berkualifikasi sarjana (S1), baik yang linier maupun tidak linier dan minim pengalaman klinik. Kondisi ini belum sesuai dengan UU Nomor 14 tahun2005 tentang guru dan dosen bahwa tenaga dosen/pengajar harus memiliki kualifikasi akademik satu tingkat lebih tinggi dibanding dengan level pendidikan yang diampunya.

AIPNI dan PPNI dalam kegiatan Projek Health Professional Education Quality (HPEQ) Direktorat Jenderal pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional pada tahun 2010 telah melakukan survei data dasar pendidikan keperawatan di 33 propinsi untuk mengetahui fungsi-fungsi manajemen meliputi tujuh standar dan diperoleh hasil sebagai berikut: 1) 22,2% institusi memiliki rumusan visi, misi dan tujuan yang belum realistik, tidak memiliki strategi pencapaian visi;2) 14,8% institusi tidak melakukan penjaminan mutu dengan benar; 3) 88,9% insitusi dengan mahasiswa drop out antara 15%-20%; 4)48,1% institusi tidak melakukan pelacakan lulusan; 5) 48,1% pengguna menyatakan lulusan belum sesuai dengan kebutuhan. Sedangkan gambaran tentang menajemen adalah: 1) 25,6% kualifikasi tenaga pendidik masih belum sesuai; 2) 63% institusi memiliki rasio dosen 1:30 dengan tingkat pendidikan dosen tidak sesuai dengan bidang keilmuan; 3)70% manajemen isi atau proses masih rendah terutama penerapan kurikulum.

Kondisi tersebut diatas oleh AIPNI dan PPNI digunakan dasar untuk menyusun standar pendidikan ners agar dapat dijadikan acuan bagi penyelenggara pendidikan ners di seluruh Indonesia.

2. Landasan hukum

Penyusunan standar pendidikan Ners merujuk kepada:

1. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 2. Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

3. Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional 4. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 28 Tahun 2005 tentang Badan

5

BAB II

STANDAR PENDIDIKAN NERS

Program pendidikan Ners adalah program pendidikan yang bertujuan menghasilkan perawat profesional, terdiri dari tahap pendidikan sarjana dan pendidikan profesi yang merupakan satu kesatuan utuh tak terpisahkan.

Standar adalah tolok ukur yang harus dipenuhi oleh pendidikan Ners (Sarjana dan profesi). Standar pendidikan Ners mencakup standar tentang komitmen penyelenggara terhadap kapasitas institusional (institutional capacity) dan komitmen terhadap efektivitas program pendidikan

(educational effectiveness), yang dikemas dalam sepuluh standar, yaitu:

Standar 1. Visi, misi dan tujuan

Standar 2. Tata pamong, kepemimpinan, sistem pengelolaan, dan penjaminan mutu Standar 3. Mahasiswa dan lulusan

Standar 4. Sumber daya manusia

Standar 5. Kurikulum, pembelajaran, dan suasana akademik Standar 6. Wahana pembelajaran klinik dan komunitas Standar 7. Sarana dan prasarana

Standar 8. Sistem informasi Standar 9. Pembiayaan

Standar10. Penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan kerja sama

Disamping 10 item standar diatas program pendidikan Ners juga harus memenuhi unsur eligibilitas yaitu; adanya izin yang sah dan berlaku dalam penyelenggaraan program pendidikan Ners dari pejabat yang berwenang; memiliki statuta dan dokumen-dokumen rencana strategis atau rencana induk pengembangan yang menunjukkan dengan jelas visi, misi, tujuan dan sasaran program pendidikan Ners; nilai-nilai dasar yang dianut dan berbagai aspek mengenai organisasi dan pengelolaan program pendidikan Ners, proses pengambilan keputusan penyelenggaraan program, dan sistem jaminan mutu.

Deskripsi setiap standar program pendidikan Ners adalah sebagai berikut.

Standar 1. Visi, misi dan tujuan

Standar ini adalah acuan keunggulan mutu penyelenggaraan dan strategi program pendidikan Ners untuk meraih cita-cita di masa depan. Strategi dan upaya pewujudan visi, pelaksanaan misi, dan pencapaian tujuannya, difahami dan didukung dengan penuh komitmen serta melibatkan partisipasi seluruh pemangku kepentingannya. Seluruh rumusan yang ada mudah difahami, dijabarkan secara logis, sekuen dan pengaturan langkah-langkahnya mengikuti alur fikir (logika) yang secara akademik wajar.

6

dan instrumen yang sahih dan andal, sehingga menghasilkan landasan langkah-langkah pelaksanaan dan kinerja yang urut-urutannya sistematis, saling berkontribusi dan berkesinambungan. Kesuksesan di salah satu sistem berkontribusi dan ditindaklanjuti oleh sub-sistem yang seharusnya menindaklanjuti. Strategi serta keberhasilan pelaksanaannya diukur dengan ukuran-ukuran yang mudah difahami seluruh pemangku kepentingan, sehingga visi yang diajukan benar-benar visi, bukan mimpi dan kiasan (platitude).

Keberhasilan pelaksanaan misi menjadi cerminan pewujudan visi. Keberhasilan pencapaian tujuan dengan sasaran yang memenuhi syarat rumusan yang baik, menjadi cerminan keterlaksanaan misi dan strategi dengan baik. Dengan demikian, rumusan visi, misi, tujuan dan strategi merupakan satu kesatuan wujud cerminan integritas yang terintegrasi dari program pendidikan Ners.

Kriteria standar:

• Visi, misi, dan tujuan program pendidikan Ners jelas, realistik, saling berkaitan dan konsisten dengan kurikulum dan rencana pengembangan institusi.

Standar 2: Tata pamong, kepemimpinan, sistem pengelolaan, dan

penjaminan mutu

Standar ini adalah acuan keunggulan mutu tata pamong (governance), kepemimpinan, sistem pengelolaan, dan sistem penjaminan mutu program pendidikan Ners sebagai satu kesatuan yang terintegrasi yang menjadi kunci penting bagi keberhasilan program pendidikan Ners.

Tata pamong adalah sistem yang menjamin penyelenggaraan program pendidikan Ners dalam memenuhi prinsip-prinsip kredibilitas, transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, dan keadilan. Tata pamong dikembangkan berdasarkan nilai-nilai moral dan etika, serta norma-norma dan nilai akademik.

Sistem pengelolaan adalah suatu pendekatan sistematik untuk mengelola sumber daya, infrastruktur, proses, dan atau kegiatan serta orang. Manajemen mutu adalah kegiatan untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan pemangku kepentingan serta memenuhi persyaratan peraturan perundang-undangan serta upaya-upaya untuk meningkatkan kinerja organisasi program pendidikan Ners.

Penjaminan mutu program pendidikan Ners adalah proses penetapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan program pendidikan Ners secara konsisten dan berkelanjutan, sehingga semua pemangku kepentingan memperoleh kepuasan. Sistem penjaminan mutu progrm pendidikan Ners pada umumnya merupakan cerminan sistem pengelolaan masukan, proses, keluaran, dampak, umpan, dan balikan untuk menjamin mutu penyelenggaraan akademik. Sistem penjaminan mutu mencerminkan pelaksanaan continuous quality improvement pada semua rangkaian sistem manajemen mutu (quality management system) dalam rangka memenuhi kepuasan pemangku kepentingan (customer satisfaction).

7

Kriteria Standar:

1. Tata Pamong

• Struktur organisasi program pendidikan ners meliputi tahap akademik dan tahap profesi, tertuang secara jelas dalam statuta perguruan tinggi

• Uraian tugas pokok dan fungsi setiap jabatan jelas dan tercantum dalam dokumen kebijakan institusi

2. Kepemimpinan yang terdiri dari;

• Kepemimpinan operasional: pengelola program pendidikan Ners menjabarkan visi misi kedalam kegiatan operasional.

• Kepemimpinan organisasi: pengelola program pendidikan Ners mampu melaksanakan fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian kepada seluruh unsur yang ada.

• Kepemimpinan publik: pengelola program pendidikan Ners menjalin kerjasama dengan berbagai pihak yang terkait dan menjadi rujukan bagi publik.

3. Sistem Pengelolaan

• Memiliki Rencana Induk Pengembangan (RIP), Rencana Strategis (Renstra) serta Rencana Operasional (Renop)

• Kalender akademik program pendidikan ners terdiri dari tahap akademik dan tahap profesi • Mekanisme koordinasi yang jelas antara institusi pendidikan dan wahana

pembelajaran klinik dan komunitas.

• Perencanaan program pembelajaran jelas dan memadai untuk program pendidikan ners yang terdiri dari tahap akademik dan tahap profesi.

• Memiliki sistem monitoring dan evaluasi program pendidikan ners yang terdiri dari tahap akademik dan profesi

4. Sistem Penjaminan Mutu

• Memiliki unit penjaminan mutu

• Standar manual prosedur mengacu pada Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dari Kementrian Pendidikan Nasional

• Dokumen pelaksanaan penjaminan mutu program pendidikan Ners lengkap

• Umpan balik untuk peningkatan mutu proses pembelajaran: sumber umpan balik, hasil umpan balik, dan tindak lanjutnya.

Memiliki program untuk menjamin keberlanjutan (sustainability) program pendidikan Ners.

Standar 3: Mahasiswa dan lulusan

Program pendidikan ners harus memiliki sistem seleksi yang andal, akuntabel, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan kepada seluruh pemangku kepentingan (stakeholders). Standar ini adalah upaya program untuk memberikan kompetensi yang dibutuhkan mahasiswa agar menjadi lulusan yang mampu bersaing. Standar ini juga mencakup bagaimana seharusnya program pendidikan Ners memperlakukan dan memberikan layanan prima kepada mahasiswa dan lulusannya. Termasuk di

8 dalamnya upaya program pendidikan Ners untuk memperoleh mahasiswa yang bermutu tinggi melalui sistem dan program rekrutmen, seleksi, pemberian layanan akademik/fisik/sosial-pribadi, monitoring dan evaluasi keberhasilan mahasiswa (outcome) dalam menempuh pendidikan di program pendidikan Ners, penelaahan kebutuhan dan kepuasan mahasiswa serta pemangku kepentingan, sehingga mampu menghasilkan lulusan yang bermutu tinggi, dan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan pemangku kepentingan.

Mahasiswa adalah kelompok pemangku kepentingan internal yang harus mendapatkan manfaat, dan sekaligus sebagai pelaku proses pembentukan nilai tambah dalam penyelenggaraan pendidikan Ners yang bermutu tinggi. Mahasiswa merupakan pembelajar yang membutuhkan pengembangan diri secara holistik yang mencakup unsur fisik, mental, dan kepribadian sebagai sumber daya manusia yang bermutu di masa depan. Oleh karena itu, selain layanan akademik, mahasiswa perlu mendapatkan layanan pengembangan minat dan bakat dalam bidang spiritual, seni budaya, olahraga, kepekaan sosial, pelestarian lingkungan hidup, serta bidang kreativitas lainnya. Mahasiswa perlu memiliki nilai-nilai profesionalisme, kemampuan adaptif, kreatif dan inovatif dalam mempersiapkan diri memasuki dunia profesi dan atau dunia kerja.

Lulusan adalah status yang dicapai mahasiswa setelah menyelesaikan proses pendidikan Ners sesuai dengan persyaratan kelulusan yang ditetapkan. Lulusan pendidikan Ners memiliki ciri penguasaan kompetensi akademik dan profesi termasuk hard skills dan soft skills sebagaimana dinyatakan dalam sasaran mutu serta dibuktikan dengan kinerja lulusan di masyarakat sesuai dengan profesi dan bidang ilmu keperawatan.

Kriteria Standar: 1. Mahasiswa

• Calon mahasiswa berijasah Sekolah Menengah Umum /Madrasah Aliyah. • Memiliki pedoman seleksi penerimaan mahasiswa baru.

• Lulus seleksi ujian masuk perguruan tinggi.

• Rasio dosen tetap dan mahasiswa pada tahap akademik 1:20, pada tahap profesi ners 1:10. • Tersedia layanan bagi mahasiswa yang dapat dimanfaatkan untuk membina dan

mengembangkan kreatifitas dan penalaran, minat, bakat, seni, dan kesejahteraan.

2. Lulusan

• Lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh lembaga uji kompetensi profesi. • Melakukan perekaman dan pelacakan data lulusan secara terstruktur.

Standar 4: Sumber daya manusia

Standar ini merupakan acuan keunggulan mutu sumber daya manusia, serta bagaimana seharusnya program pendidikan Ners memperoleh dan mendayagunakan sumber daya manusia serta memberikan layanan prima untuk mewujudkan visi, melaksanakan dan menyelenggarakan misi, dan mencapai tujuan program pendidikan Ners. Sumber daya manusia program pendidikan Ners adalah dosen dan tenaga kependidikan yang mencakup pustakawan, laboran, teknisi, dan tenaga kependidikan lainnya yang bertanggung jawab atas pencapaian tridarma perguruan tinggi.

9 Dosen adalah komponen sumber daya utama pada program pendidikan Ners yang merupakan pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas pokok dan fungsi mengakuisisi, mentransformasikan, mengembangkan, menyebarluaskan, dan menerapkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pelayanan/pengabdian kepada masyarakat. Program pendidikan Ners merencanakan dan melaksanakan program-program peningkatan mutu dosen untuk mewujudkan visi, menyelenggarakan misi, dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Program pendidikan Ners menjalin kerja sama dengan program studi lain dan lembaga mitra lainnya untuk memperoleh dosen tidak tetap yang sangat dibutuhkan dalam pencapaian tujuan pendidikan Ners.

Program pendidikan Ners memiliki sistem pengelolaan mutu yang memadai untuk pembinaan dan peningkatan mutu tenaga kependidikan, baik bagi pustakawan, laboran, teknisi, staf administrasi, dan tenaga kependidikan lainnya. Program pendidikan Ners yang baik memiliki tenaga kependidikan dengan jumlah, kualifikasi dan mutu kinerja yang sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan program.

Kriteria Standar:

1. Pengelola institusi pendidikan Ners

• Berkualifikasi minimal S2 keperawatan. • Maksimal berusia 61 tahun saat dilantik

• Memiliki jabatan fungsional akademik, minimal Lektor. • Memiliki kemampuan manajerial dan kepemimpinan

• Memiliki integritas diri yang baik dan dapat menjadi model peran.

2. Staf pendidik/Dosen

• Pendidikan minimal S2 Keperawatan dan S2 Kesehatan dengan latar belakang pendidikan ners dengan rasio 3 : 1

• Dosen memiliki Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN). • Dosen memiliki jabatan fungsional akademik, minimal lektor

• Memiliki sertifikat pelatihan Pekerti, dan atau Ancangan Aplikasi (Applied approach) • Berpengalaman klinik minimal 2 tahun di bidang keperawatan

• Kreatif, dedikatif, inovatif dan memiliki komitmen tinggi untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran mahasiswa baik di kelas maupun di wahana klinik dan komunitas.

• Memiliki sertifikat dosen professional

• Menghasilkan penelitian dan karya ilmiah dosen yang dipublikasikan

• Memiliki integritas diri yang dapat menjadi model peran sebagai tenaga pendidik professional.

3. Dosen Tidak Tetap atau dosen luar biasa

• Pendidikan minimal S2 di bidang keilmuan yang serumpun atau yang relevan dengan kebutuhan pendidikan Ners.

• Memiliki jabatan fungsional akademik, minimal asisten ahli atau yang setara

• Memiliki sertifikat pelatihan Pekerti, dan atau Ancangan Aplikasi (Applied approach), dan atau sertifikat sebagai pendidik klinik, dan atau sertifikat sesuai bidang yang diampu.

10 • Kreatif, dedikatif, inovatif dan memiliki komitmen tinggi untuk terlibat secara aktif

dalam proses pembelajaran mahasiswa .

• Memiliki integritas diri yang dapat menjadi model peran sebagai tenaga pendidik.

4. Tenaga pembimbing klinik

• Berijasah S2 dan atau Spesialis Keperawatan pada bidang-bidang keperawatan tertentu (Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Anak, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Komunitas) atau ners generalis yang telah lulus uji kelayakan dan kesetaraan oleh lembaga yang berwenang

• Menguasai berbagai metoda bimbingan klinik untuk mahasiswa tahap profesi ners yang mempunyai sertifikat pelatihan pembimbing klinik

• Memiliki pengalaman klinik minimal 3 tahun.

• Kreatif, dedikatif, inovatif dan memiliki komitmen tinggi untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran mahasiswa di tatanan klinik atau komunitas.

• Memiliki integritas diri yang dapat menjadi model peran sebagai perawat professional.

5. Tenaga kependidikan

• Berijasah minimal D3 sesuai dengan area tugasnya.

• Kreatif, dedikatif, inovatif dan memiliki komitmen tinggi untuk terlibat secara aktif sesuai dengan pekerjaannya.

Standar 5: Kurikulum, pembelajaran, dan suasana akademik

Kurikulum adalah rancangan seluruh kegiatan pembelajaran mahasiswa sebagai rujukan program pendidikan Ners dalam merencanakan, melaksanakan, memonitor dan mengevaluasi seluruh kegiatannya untuk mencapai tujuan. Kurikulum disusun berdasarkan kajian mendalam tentang hakekat keilmuan bidang keperawatan dan kebutuhan pemangku kepentingan terhadap bidang ilmu dan penjaminan tercapainya kompetensi lulusan seorang Ners dengan memperhatikan standar mutu, dan visi, misi program pendidikan Ners. Kurikulum dan pedoman pendidikan Ners mencakup struktur, tataurutan, kedalaman, keluasan, dan penyertaan komponen tertentu.

Pembelajaran adalah pengalaman belajar yang diperoleh mahasiswa dari kegiatan belajar, seperti perkuliahan, praktika laboratorium, praktika klinik, praktika komunitas, pelatihan, diskusi, lokakarya, seminar, dan tugas-tugas pembelajaran lainnya. Dalam pelaksanaan pembelajaran digunakan berbagai pendekatan, strategi, dan teknik, yang menantang agar dapat mengkondisikan mahasiswa berfikir kritis, bereksplorasi, berkreasi, dan bereksperimen dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar. Pendekatan pembelajaran yang digunakan berpusat pada mahasiswa

(student-centered) dengan kondisi pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk belajar mandiri

dan kelompok. Proses pembelajaran juga mencakup evaluasi untuk mengetahui sampai di mana mahasiswa mampu mencapai tujuan pembelajaran, dan menggunakan hasilnya dalam membantu mahasiswa memperoleh hasil yang optimal. Evaluasi mencakup semua ranah belajar dan dilakukan secara objektif, transparan, dan akuntabel dengan menggunakan instrumen yang sahih dan andal, serta menggunakan penilaian acuan patokan (criterion-referenced evaluation).

Suasana akademik adalah kondisi yang dibangun untuk menumbuhkembangkan semangat dan interaksi akademik antara mahasiswa-dosen-tenaga kependidikan, pakar, dosen tamu, nara sumber,

11 untuk meningkatkan mutu kegiatan akademik, di dalam maupun di luar kelas. Suasana akademik yang baik ditunjukkan dengan perilaku yang mengutamakan kebenaran ilmiah, profesionalisme, kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik, serta penerapan etika akademik secara konsisten.

Kriteria Standar:

1. Kurikulum Pendidikan Ners

• Mencakup kurikulum pendidikan akademik - profesi merupakan satu kesatuan.

2. Landasan Filosofis Kurikulum

• Mencakup konsep sehat-sakit, etika keperawatan, keberagaman budaya, hubungan perawat-klien, dan Caring (pengasuhan)

3. Pendekatan Utama Dalam Proses Pembelajaran

• Menyelesaikan masalah secara ilmiah, pembelajaran berfokus pada peserta didik, berorientasi pada kebutuhan masyarakat, dan ke masa depan.

4. Ketentuan Tentang Kurikulum Pendidikan Ners a. Tahap Akademik

• Beban studi antara 144 - 160 SKS, dengan masa pendidikan minimal 8 semester (dan maksimal 12 semester)

• Berbasis Kompetensi

• Sesuai Visi dan Misi Institusi yang mencirikan kekhasan dari institusi

• Mengacu kepada Kurikulum Inti terdiri dari 70% teori dan 30% praktik (praktik biomedik dasar, laboratorium keperawatan dan praktik klinik).

• Muatan issue global 20%, antara lain: Perawatan HIV / AIDS,

Perawatan Trauma, Flu Burung, SARS, Disaster, Teknik informasi, Entrepreneur, Bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya.

• Muatan lokal 20% sesuai dengan keunggulan masing-masing institusi pendidikan Ners.

b. Tahap Profesi

• Beban studi antara 36 – 40 SKS, dengan masa pendidikan minimal 1 semester dan (maksimal 4 semester), dilaksanakan secara menerus tanpa.

• Berbasis kompetensi dan berfokus pada pencapaian kompetensi individual • Menerapkan kurikulum inti profesi.

• Melaksanakan praktik keperawatan sesuai standar kompetensi.

5. Proses Pembelajaran

• Memperhatikan filosofi pendidikan dan metode pembelajaran yang berfokus pada peserta didik (Student Centered Learning.

• Sarana prasarana sesuai ketentuan.

• Tersedia berbagai pedoman yang terdiri dari: a. Panduan Akademik.

b. Panduan Tugas akhir. c. Rencana Pembelajaran. d. Pedoman Kerja Mahasiswa.

12 e. Pedoman Praktik Laboratorium.

f. Pedoman Praktik Klinik dan Komunitas. g. Modul pembelajaran.

• Kegiatan pembelajaran dilakukan di kelas, laboratorium, perpustakaan, klinik dan komunitas.

• Peran dan fungsi pendidik, meliputi: fasilitator, motivator, tutor, role model, nara sumber dan pemberi umpan balik.

6. Evaluasi pembelajaran

• Hasil belajar peserta didik harus dievaluasi secara berkala, meliputi evaluasi proses dan hasil.

• Sistem evaluasi kinerja mahasiswa berorientasi pada pencapaian kompetensi.

• Hasil evaluasi dijadikan sebagai acuan pengembangan bagi peserta didik, program pendidikan, dan penentuan beban studi selanjutnya.

Standar 6: Wahana pembelajaran klinik dan komunitas

Wahana pembelajaran klinik dan komunitas yang memadai merupakan faktor yang sangat penting untuk membentuk perawat menjadi professional sejak dari masa pendidikannya. Belajar di wahana nyata seperti di klinik/rumah sakit dan komunitas, bertujuan untuk menumbuhkan sikap professional melalui berbagai media yang ada. Media dimaksud adalah berbagai kasus dan pemecahnnya, belajar melalui model peran yang didemonstrasikan oleh perawat yang bekerja di wahana praktik serta belajar berhubungan dengan pasien, sejawat senior dan tim kesehatan lain. Kegiatan ini meliputi diskusi kasus, ronde keperawatan, bedside teaching, presentasi, simulasi atau bermain peran, dan pendidikan kesehatan kepada pasien. Seluruh proses belajar peserta didik dilaksanakan secara dinamis dan terbuka akan perubahan dan penyesuaian sehingga dapat menumbuhkan kompetensi professional yang kokoh sebagai seorang Ners.

Kriteria standar:

1. Wahana Pembelajaran klinik (Rumah Sakit)

• Wahana utama adalah minimal RS tipe B terakreditasi dan mempunyai Surat Kerjasama (MoU).

• Wahana pendukung adalah beberapa RS tipe C dan D sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai.

3. Wahana Pembelajaran di Komunitas:

• Wahana pembelajaran di komunitas meliputi : institusi dan wilayah binaan berkaitan dengan kompetensi yang akan dicapai

• Institusi meliputi Puskesmas, Panti Sosial Tresna Wreda, Sekolah umum dan luar biasa yang mempunyai Surat Kerjasama (MoU)

• Wilayah binaan untuk melakukan praktik keperawatan di komunitas.

13 Sarana pendidikan adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam penyelenggaraan pendidikan Ners sebagai alat teknis dalam mencapai maksud, tujuan, dan sasaran pendidikan antara lain komputer, peralatan dan perlengkapan pembelajaran di dalam kelas, laboratorium keperawatan dan ilmu penunjang, kantor, dan lingkungan akademik lainnya. Prasarana pendidikan adalah sumber daya penunjang dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi yang pada umumnya bersifat tidak bergerak, antara lain bangunan, lahan percobaan, dan fasilitas lainnya.

Pengelolaan sarana dan prasarana program pendidikan Ners meliputi perencanaan, pengadaan, penggunaan, pemeliharaan, pemutakhiran, inventarisasi, dan penghapusan aset yang dilakukan secara baik, sehingga efektif mendukung kegiatan penyelenggaraan pendidikan Ners. Kepemilikan dan aksesibilitas sarana dan prasarana sangat penting untuk menjamin mutu penyelenggaraan pendidikan Ners.

Kriteria Standar:

• Ruang kuliah dengan kapasitas per-ruangan untuk 50 mahasiswa dengan luas minimal 56 m2

• Ruang tutorial atau diskusi dengan kapasitas per ruangan untuk 10 - 15 orang. • Memiliki aula atau auditorium

• Ruang perpustakaan yang memiliki buku-buku teks keperawatan minimal 400 judul, terbit maksimal 5 tahun ke belakang termasuk e- book, berlangganan jurnal keperawatan dalam negeri yang terakreditasi dan jurnal luar negeri, memiliki prosiding dalam 3 tahun terakhir, memiliki karya tulis/ skripsi/tesis/disertasi.

• Ruang laboratorium keperawatan sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai (Keperawatan Dasar, Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Gawat Darurat, Keperawatan Anak, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Jiwa, dan Keperawatan Komunitas) serta biomedik dasar (opsional).

• Laboratorium komputer dengan rasio minimal satu PC untuk 10 mahasiswa serta memiliki akses internet

• Ruang laboratorium bahasa (opsional). • Ruang konseling mahasiswa.

• Ruang pimpinan, ruang administrasi akademik, ruang administrasi kepegawaian, dan ruang rapat

• Ruang dosen per bagian atau kelompok keilmuan keperawatan dengan luas ruang dosen minimal 4 (empat) m2 per dosen yang dilengkapi alat kantor yang sesuai untuk masing-masing dosen.

• Ruang tunggu dosen tamu • Ruang organisasi mahasiswa • Fasilitas pelayanan kesehatan

• Fasilitas penunjang lain seperti kantin kampus, kamar ganti pakaian, kamar mandi untuk laki-laki dan wanita, ruang ibadah, gudang penyimpanan arsip atau alat, fotokopi dan sarana olah raga serta parker kendaran.

Dokumen terkait