• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.1Latar Belakang Masalah

Kesehatan merupakan salah satu indikator untuk mengukur kesejahteraan masyarakat. Semakin tinggi dan terjamin kesehatan suatu masyarakat, maka tinggi pula kesejahteraannya. Kesehatan juga merupakan hak asasi manusia, dimana setiap masyarakat berhak mendapatkan perhatian mengenai kesehatannya, baik kesehatan masyarakatnya maupun kesehatan lingkungannya. Di indonesia, kesehatan merupakan salah satu permasalahan yang selalu dihadapi setiap harinya. Mulai dari kesehatan masyarakat sampai kesehatan lingkungan bahkan sarana dan prasarana penunjang kesehatan. Permasalahan mengenai kesehatan berkaitan erat dengan permasalahan lainnya seperti kemiskinan dan pendidikan. Dan karena keterkaitan masalah kesehatan dengan permasalahan lainnya inilah,

maka terbentuk sebuah “rantai setan”, yaitu kondisi dimana semua permasalahan

yang ada saling berkaitan dan untuk menyelesaikannya harus dari semua bidang. Kesehatan masyarakat berkaitan erat dengan kesehatan lingkungannya. Karena lingkungan yang sehat dapat menunjang kesehatan masyarakatnya begitupun sebaliknya, ketika masyarakat sudah peduli akan kesehatannya, maka mereka akan peduli juga dengan lingkungannya. Jika lingkungannya masih kumuh, banyak sampah dan sebagainya, maka dapat dipastikan kesadarannya akan pentingnya kesehatan masih rendah dan ini akan mengancam kesehatan masyarakat tersebut. Lingkungan yang kotor dan tidak sehat juga akan membuat penyebaran virus penyebab penyakit menjadi lebih cepat, terutama penyakit yang

berkaitan dengan pencernaan manusia seperti diare. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019, permasalahan kesehatan lingkungan mendapatkan perhatian khusus, yaitu permasalahan mengenai akses terhadap air minum, sanitasi yang layak dan perilaku hidup bersih dan sehat (higine) yang bertujuan untuk meningkatkan mutu lingkungan hidup yang sehat.

Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan menyatakan bahwa kesehatan lingkungan adalah upaya pencegahan penyakit dan/atau gangguan kesehatan dari faktor risiko lingkungan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang baik dari aspek kimia, biologi, maupun sosial. Lingkungan menjadi salah satu faktor yang berperan dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat yang optimal disamping faktor kualitas pelayanan kesehatan dan perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat. Dalam Profil Kesehatan Indonesia pada tahun 2016, program lingkungan sehat bertujuan untuk mewujudkan mutu lingkungan hidup yang lebih sehat melalui pengembangan sistem kesehatan kewilayahan dalam menggerakan pembangunan lintas sektor berwawasan kesehatan. Salah satu program untuk mewujudkn mutu lingkungan hidup yang lebih sehat adalah Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2014 tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) adalah pendekatan untuk mengubah perilaku higienis dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan cara pemicuan. Pelaku pemicuan dalam program STBM terdiri dari tim fasilitator, bidan desa, posyandu, kader posyandu dan Natural Leader. Pelaksanaan

pemicuan dilakukan di satu kampung dengan rentang waktu 1-3 jam. Sasaran program ini adalah komunitas masyarakat (RW/dusun/desa), yaitu semua keluarga yang belum melaksanakan salah satu atau lima pilar STBM dan semua keluarga yang telah memiliki fasilitas sanitasi tetapi belum memenuhi syarat kesehatan. STBM bertujuan untuk mewujudkan perilaku yang higienis dan saniter secara mandiri dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. STBM ditetapkan oleh pemerintah sebagai kebijakan Nasional sejak tahun 2008 dan telah terbukti mampu mempercepat akses sanitasi di Indonesia, yaitu mencapai 3.53% per tahun (Profil Kesehatan Indonesia tahun 2016:245).

Dalam STBM terdapat 5 (lima) pilar yang menjadi pedoman pelaksanaan STBM, yaitu :

1. Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) 2. Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS)

3. Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAM-RT) 4. Pengamanan Sampah Rumah Tangga (PSRT)

5. Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga (PLCRT)

Dalam rangka mencapai taget yang ditetapkan dalam RPJMN tahun 2015-2019, pada akhir tahun 2019 harus tercapai 100% desa/kelurahan yang melaksanakan STBM dan 50% desa/kelurahan STBM harus mencapai SBS/ODF yang terverifikasi. SBS (Stop Buang Air Besar Sembarangan) atau ODF (Open Defecation Free) yang terverifikasi adalah kondisi ketika setiap individu dalam suatu komunitas tidak lagi melakukan perilaku buang air besar sembarangan. Menurut WHO, Perilaku Buang Air Besar Sembarangan (Buang Air Besar

Sembarangan) / Open Defecation Free merupakan suatu tindakan membuang kotoran atau tinja di ladang, hutan, semak-semak, sungai, pantai atau area terbuka lainnya dan dibiarkan menyebar mengkontaminasi lingkungan, tanah, udara dan air. Perilaku ini sangat tidak sehat karena berpotensi menyebarkan penyakit

Pada tahun 2016, dari seluruh desa/kelurahan yang ada di Indonesia, sebanyak 80.314 desa/kelurahan yang telah terdata dan hanya sebanyak 33.927 atau 42.24% desa/kelurahan yang telah melaksanakan STBM. Ini melebihi dari target yang ditetapkan oleh Kementrian Kesehatan pada Rencana Strategis (Renstra) tahun 2016, yaitu 30.000 desa/kelurahan. Jumlah desa/kelurahan yang melaksanakan program STBM mengalami peningkatan setiap tahunnya, hal ini dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1.1

Jumlah Desa/Kelurahan Yang Melaksanakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat Tahun 2014 - 2016 Tahun Jumlah Desa/Kelurahan Jumlah Desa STBM % Desa STBM 2014 82.505 20.497 24,84 2015 80.276 26.417 32,91 2016 80.314 33.927 42,24 Sumber : Data diolah peneliti, Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2016

Banten merupakan salah satu Provinsi yang ada di Indonesia. Dalam Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2016, jumlah desa/kelurahan di Provinsi Banten yang melaksanakan STBM mengalami peningkatan sejak 3 (tiga) tahun terakhir dan pada tahun 2016 telah mencapai angka 54.22% atau melebihi setengah dari

jumlah desa/kelurahan yang tercatat. Peningkatan jumlah desa/kelurahan yang melaksanakan STBM dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1.2

Jumlah Desa/Kelurahan Yang Melaksanakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat di Provinsi Banten Tahun 2014 - 2016

Tahun Jumlah Desa/Kelurahan Jumlah Desa STBM % Desa STBM 2014 1.551 144 9,28 2015 1.551 379 24,44 2016 1.551 841 54,22

Sumber : Data diolah peneliti, Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2016

Pelaksanaan Program STBM juga didukung dengan aplikasi STBM Smart, yaitu aplikasi yang menyajikan mengenai kemajuan program STBM dan dapat diakses melalui telepon genggam. Aplikasi ini dapat diunduh oleh masyarakat untuk melihat perkembangan STBM di Indonesia termasuk perkembangan STBM di Provinsi Banten. Acuan keberhasilan dari program ini dilihat jika desa/kelurahan telah melaksanakan pilar pertama, yaitu Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS). Karena pilar pertama merupakan kunci untuk keberhasilan pilar STBM lainnya. Jika masyarakat sudah mampu meninggalkan kebiasaan Buang Air Besar Sembarangan, maka di asumsikan masyarakat telah memiliki kesadaran akan pentingnya kesehatan dan mampu melaksanakan pilar selanjutnya.

Faktor lain yang menyebabkan masyarakat masih melakukan perilaku Buang Air Besar Sembarangan adalah karena akses terhadap sanitasi yang layak masih

rendah. Berikut adalah data mengenai jumlah desa/kelurahan di Provinsi Banten beserta akses dan persentasi kepemilikan JSP (Jamban Sehat Permanen) :

Tabel 1.3

Persentase Akses Terhadap Sanitasi dan Persentase Kepemilikan Jamban Sehat Permanen (JSP) di Banten berdasarkan Kota/Kabupaten Tahun 2017

No Nama Kota/Kabupaten % Akses % JSP

1 Kota Tangerang Selatan 99.65 79.40

2 Kota Tangerang 98.80 87.19 3 Kota Cilegon 96.97 63.26 4 Kab. Tangerang 72.41 32.27 5 Kab. Lebak 68.41 37.25 6 Kota Serang 64.06 50.68 7 Kab. Serang 61.42 44.09 8 Kab. Pandeglang 60.57 36.27

Sumber : Diolah Peneliti, Website STBM Nasional Tahun 2017

Dari data diatas, dapat dilihat bahwa Kota Serang menempati urutan paling rendah dibandingkan kota lain yang ada di Provinsi Banten. Sebagai Ibu Kota Provinsi Banten, seharusnya Kota Serang dapat menjadi acuan untuk kemajuan daerah yang lainnya, karena merupakan pusat pemerintahan Provinsi Banten. Namun kenyataannya, di Kota Serang permasalahan akses terhadap sanitasi yang layak masih rendah dibandingkan kota lainnya. Masih banyak pula masyarakat yang melakukan Perilaku Buang Air Besar Sembarangan. Karena Kota Serang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Serang, maka meskipun menyandang

nama „Kota‟, namun secara keseluruhan daerahnya masih belum maju dan masih terus melakukan pembangunan. Salah satunya adalah dalam bidang kesehatan.

Karena akses serta kepemilikan sanitasi dasar yang masih rendah di Kota Serang, menyebabkan masih ditemui masyarakat yang melakukan perilaku Buang Air Besar Sembarangan. Berdasarkan data dari aplikasi STBM Smart, jumlah desa/kelurahan yang telah terverifikasi sebagai Desa ODF (Open Defecation Free)

atau Desa yang bebas dari perilaku Buang Air Besar Sembarangan di Kota Serang hanya sebanyak 5 (lima) desa/kelurahan. Lebih rinci desa/kelurahan ODF tersebut dapat dilihat dari tabel berikut:

Tabel 1.4

Desa Yang Ter-verifikasi ODF di Kota Serang Tahun 2017

No. Kecamatan Kelurahan

1. Cipocok Jaya Panancangan

2. Serang Cipare

3. Serang Lopang

4. Serang Serang

5. Serang Sumurpecung Sumber : data diolah, Aplikasi STBM Smart

Dari 67 kelurahan yang ada di Kota Serang, hanya 5 (lima) Kelurahan yang ter-verifikasi bebas perilaku Buang Air Besar Sembarangan dan di dominasi oleh Kecamatan Serang. Sedangkan untuk Kecamatan yang lain masih banyak ditemui masyarakat yang melakukan Buang Air Besar Sembarangan. Hal ini dikarenakan sulitnya mengubah perilaku masyarakat untuk tidak Buang Air Besar Sembarangan, terutama untuk daerah yang jauh dari pusat kota. Maka dari itu, pelaksanaan STBM yang berupa pemicuan di Kota Serang lebih di fokuskan pada desa/kelurahan yang hampir mendekati ODF terlebih dahulu, baru kemudian memfokuskan pada desa/kelurahan lain. Meskipun begitu, pemicuan STBM tetap

dilakukan di semua desa/kelurahan yang ada oleh Tim Fasilitator, yaitu tim yang dibentuk untuk melakukan pemciuan. Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Serang mengenai akses terhadap sanitasi dasar, yaitu Jamban menurut Kecamatan dan Puskesmas di Kota Serang pada tahun 2017 adalah sebagai berikut :

Tabel 1.5

Akses Terhadap Fasilitas Sanitasi Dasar (Jamban) Menurut Kecamatan dan Puskesmas di Kota Serang Pada Tahun 2017

No Kecamatan Puskesmas Jumlah

Penduduk Jumlah Akses Pemakai Jamban Jumlah jiwa %

1. Cipocok Jaya Banjar Agung 46.230 33.385 72 Banten Girang 31.823 18.135 57 Cipocok Jaya 15.726 11.935 76 2 Curug Curug 51.622 29.555 57 3 Kasemen Kasemen 41.667 16,160 39 Kilasah 49.893 12,905 32 Sawah Luhur 9.302 5,930 64 4 Serang Ciracas 28.723 18.700 65 Rau 51.075 37.785 74 Serang Kota 55.848 50.220 90 Singandaru 31.328 25.235 81 Unyur 55.769 52.265 94 5 Taktakan Taktakan 60.635 49.035 81 Pancur 26.675 20.410 77 6 Walantaka Walantaka 48.843 39.970 82 Kalodran 37.797 29.010 79 Sumber : Data diolah peneliti, Dinas Kesehatan Kota Serang Tahun 2017

Dari data diatas, terlihat bahwa penduduk dengan akses sanitasi dasar yaitu jamban di Kota Serang sebagian besar sudah melebihi 50%. Akses paling

tinggi berada di Puskesmas Unyur sebesar 94% dan paling rendah adalah Puskesmas Kilasah yaitu sebesar 32%. Tingginya persentase masyarakat mengakses jamban tidak menjamin bahwa daerah tersebut sudah terbebas dari perilaku Buang Air Besar Sembarangan. Karena Buang Air Besar Sembarangan berbicara tentang perilaku masyarakat dan menjadi kebiasaan. Hal ini dikarenakan kemudahan untuk mengakses jamban tidak menjamin bahwa masyarakat tersebut menggunakan jamban.

Kecamatan Kasemen memang tercatat sebagai daerah dengan tingkat kesehatan lingkungan yang masih rendah dan masih ditemui perilaku Buang Air Besar Sembarangan. Berdasarkan hasil wawancara dengan Camat Kasemen pada tanggal 24 Januari 2018, dikatakan bahwa jika berbicara mengenai perilaku Buang Air Besar Sembarangan atau dolbon (istilah daerah setempat) berarti membicarakan keseluruhan wilayah Kasemen, karena hampir sebagian besar masyarakat Kecamatan Kasemen masih melakukan Buang Air Besar Sembarangan. Untuk kesehatan lingkungannya juga sebagian besar wilayah Kasemen berada di kategori merah, yaitu keadaan kesehatan lingkungannya berada dibawah atau sangat buruk. Dari total 10 Kelurahan yang ada di Kecamatan Kasemen, 6 diantaranya berada di kategori merah dan 5 Kelurahan merupakan wilayah cakupan dari Puskesmas Kilasah. Karena berada di kategori merah inilah membuat masyarakat kesulitan untuk mendapatkan akses sanitasi yang layak dan juga mewujudkan pola hidup yang saniter dan higienis. Hal ini dapat dilihat pada data yang didapat dari aplikasi STBM Smart mengenai akses sanitasi di Kecamatan Kasemen :

Tabel 1.6

Akses Terhadap Sanitasi di Kecamatan Kasemen Tahun 2017

No Desa/kelurahan Jml KK %

Akses JSP JSSP Sharing BAB

1. Banten 4.211 89.41 546 94 3.125 446 2. Kasemen 3.505 89.04 1.534 388 1.199 384 3. Margaluyu 1.746 65.06 580 91 465 610 4. Mesjid Priyayi 1.920 60.63 921 110 133 756 5. Kasunyatan 1.424 60.32 572 117 170 565 6. Sawah Luhur 2.599 48.10 1.092 0 158 1.349 7. Bendung 1.279 45.19 364 91 123 701 8. Warung Jaud 2.024 43.53 465 95 321 1.143 9. Kilasah 1.703 38.70 383 92 184 1.044 10. Terumbu 2.045 33.11 444 111 122 1.368

Sumber : data diolah, Aplikasi STBM- Smart

Dari tabel diatas terlihat bahwa desa/kelurahan dengan jumlah Kepala Keluarga yang masih melakukan perilaku Buang Air Besar Sembarangan di Kecamatan Kasemen paling banyak adalah di Kelurahan Terumbu, yaitu sebanyak 1.368 Kepala Keluarga dengan persentase akses 33.11%, kemudian Kelurahan Sawah Luhur, Kelurahan Warung Jaud dan Kelurahan Kilasah yang memiliki jumlah lebih dari 1000 Kepala Keluarga dan memiliki persentase akses dibawah 50% yang berarti hampir sebagian besar masyarakat tidak mendapatkan akses terhadap sanitasi yang layak. Bahkan Kelurahan Terumbu merupakan desa/kelurahan dengan jumlah Buang Air Besar Sembarangan terbanyak se-Kota Serang.

Berdasarkan hasil observasi awal, wawancara dan data yang diperoleh, peneliti menemukan beberapa permasalahan. Pertama, masih ditemui perilaku Buang Air Besar Sembarangan. Berdasarkan wawancara dengan Kepala Bidang Kesehatan Lingkungan Kota Serang (16 Januari 2018, pukul 10.51 WIB) dikatakan bahwa sulit untuk mengurangi perilaku Buang Air Besar Sembarangan karena masyarakat sudah terbiasa melakukan Buang Air Besar Sembarangan di area terbuka seperti kebun, sawah atau kali. Perilaku ini sudah dilakukan sejak lama, sehingga perilaku Buang Air Besar Sembarangan dilakukan oleh masyarakat sebagai suatu kebiasaan. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Camat Kasemen (tanggal 24 Januari 2018, pukul 15.41 WIB) bahwa masyarakat terbiasa melakukan Buang Air Besar Sembarangan karena adanya kepercayaan masyarakat terhadap mitos yang berasal dari para ulama bahwa tidak semestinya kotoran dibuang di dalam rumah (jamban di dalam rumah) karena rumah merupakan tempat yang sering dipakai untuk ibadah, sehingga kondisi rumah haruslah suci. Mitos ini membuat masyarakat tidak membuat jamban di dalam rumah dan lebih memilih membuang kotoran di luar rumah seperti kebon dan sawah. Mitos ini diyakini oleh masyarakat Kasemen karena nilai agama yang masih sangat kuat dan turun-temurun sampai sekarang.

Disamping itu karena masih luasnya lahan pertanian yang ada membuat masyarakat memilih untuk Buang Air Besar Sembarangan di sawah dengan alasan lebih praktis dan tidak perlu mengeluarkan biaya. Terkadang meskipun sudah memiliki jamban sendiri atau sudah memiliki akses untuk menggunakan jamban, masyarakat tetap memilih melakukan Buang Air Besar Sembarangan karena telah

terbiasa. Sebagai contoh di Kelurahan Terumbu yang merupakan salah satu Kelurahan yang ada di cakupan wilayah Puskesmas Kilasah. Dari hasil wawancara dengan Lurah Terumbu (tanggal 24 Januari 2018, pukul 15.41 WIB) dikatakan bahwa sudah pernah dibangun jamban yang dapat digunakan oleh masyarakat dengan membayar iuran untuk biaya perawatan. Namun hanya bertahan 2-3 bulan saja fasilitas jamban tersebut sudah tidak digunakan lagi karena masyarakat sudah malas membayar iuran dan kembali lagi menggunakan sawah karena tidak perlu membayar dan lebih praktis. Kondisi jamban tersebut juga sudah memprihatinkan, seperti lampu nya yang hilang, pintu nya rusak, bahkan jambannya disumbat oleh serabut kelapa. Di Kelurahan Terumbu juga sudah sering diadakan penyuluhan mengenai bahaya Buang Air Besar Sembarangan, termasuk Program STBM yang berupa pemicuan, namun partisipasi yang diberikan oleh masyarakat terhadap penyuluhan tersebut sangat rendah sehingga tim fasilitator yang terdiri dari sanitarian Puskesmas Kilasah dan anggota lainnya harus mendatangi masyarakat ke tiap-tiap rumah.

Kedua, yaitu keterbatasan ekonomi masyarakat. Terkadang pemicuan dan pendekatan yang dilakukan oleh tim fasilitator STBM tidak selalu gagal, ada saja masyarakat yang menyadari pentingnya jamban dan bahaya dari Buang Air Besar Sembarangan sehingga timbul keinginan untuk merubah kebiasaan lama tersebut. Namun permasalahan ekonomi membuat keinginan masyarakat untuk memiliki jamban keluarga belum bisa terpenuhi karena keterbatasan biaya. Seperti contoh yang terjadi di Kelurahan Terumbu berdasarkan wawancara dengan Lurah Terumbu (tanggal 24 Januari 2018, pukul 15.41 WIB). Beliau mengatakan bahwa

yang membuat masyarakat Terumbu masih melakukan Buang Air Besar Sembarangan adalah karena keterbatasan biaya untuk membangun jamban. Sehingga masyarakat memilih untuk memanfaatkan lahan pertanian yang luas sebagai pengganti jamban, karena tidak perlu mengeluarkan biaya. Meskipun Pak Lurah sendiri secara pribadi sudah pernah menawarkan untuk membantu dalam soal biaya dengan memberikan bantuan kakus dan batu bata untuk membangun jamban, namun ternyata masyarakat menolak untuk menambahkan biaya pembangunannya dan menjual batu bata yang disediakan oleh Pak Lurah. Masyarakat menginginkan fasilitas jamban yang gratis tanpa adanya iuran ataupun tambahan biaya dari masyarakat. Inilah yang menyebabkan masih ditemui masyarakat yang belum memiliki jamban sendiri karena permasalahan ekonomi ini membuat masyarakat berpikir bahwa untuk membangun sebuah jamban memerlukan biaya yang tidak sedikit. Apalagi untuk membangun jamban yang sehat dan sesuai dengan standar jamban sehat. Sehingga masyarakat tidak memprioritaskan pembangunan jamban sebagai keperluan dasar dan memilih untuk memenuhi keperluan lain yang lebih penting. Padahal dengan mengenyampingkan masalah pembangunan jamban bisa merugikan masyarakat itu sendiri serta dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan masyarakat

Ketiga, keterbatasan sarana air bersih. Salah satu yang menjadi pendukung sanitasi yang layak selain jamban yang sehat adalah air bersih. Namun permasalahan air bersih ini masih di rasakan oleh beberapa masyarakat di Kecamatan Kasemen. Berdasarkan wawancara dengan Sanitarian Puskesmas Kilasah (tanggal 27 Januari 2018, pukul 11.20 WIB), dikatakan pada tahun 2016

masyarakat masih memanfaatkan air kali dan air irigasi untuk keperluan sehari-hari, dari mencuci pakaian sampai keperluan MCK, namun untuk tahun 2017 masyarakat sudah mulai menggunakan air dari PDAM. Sebagaimana data berikut mengenai jumlah sarana air bersih di Kecamatan Kasemen berdasarkan Puskesmas :

Tabel 1.7

Jumlah Sarana Air Bersih di Kecamatan Kasemen Berdasarkan Puskesmas Tahun 2017

No Puskesmas Jml

KK

Jumlah Sarana Air Bersih PDAM Sumur Pompa Tangan Sumur Gali Mata Air Sumur Bor/Jet pump Penam pungan Air Hujan Lain nya % 1. Kasemen 10.889 - - 14 - 38 - - 0.48 2. Kilasah 10.565 126 56 2,700 - 1.913 88 - 46.22 3. Sawah Luhur 2.727 8 - 15 - 15 - 2 1.47

Sumber : Diolah peneliti, Dinas Kesehatan Kota Serang

Meskipun sudah banyak masyarakat yang mengandalkan air dari PDAM dan juga sumur, namun air yang di hasilkan bukanlah air bersih, karena berasa asin sehingga tidak bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari, termasuk untuk dikonsumsi. Sehingga masih banyak ditemui masyarakat yang memanfaatkan air kali untuk keperluan sehari-hari. Menurut wawancara dengan Camat Kasemen (tanggal 24 Januari 2018, pukul 15.00 WIB), permasalahan air bersih di Kecamatan Kasemen merupakan permasalahan lainnya yang menyebabkan banyak masyarakat tidak memiliki jamban keluarga. Karena merasa percuma jika

membangun jamban sedangkan air nya terasa asin dan tidak bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari Dalam Musyawarah Perencanaan dan Pembangunan (Musrembang 2019) yang dilaksanakan pada 24 Januari 2018 di Kelurahan Terumbu, Camat Kasemen mengusulkan agar dilakukan pipanisasi untuk instalasi air bersih yang di tujukan untuk kebutuhan masyarakat Kelurahan Terumbu.

Keempat, tingginya angka penyakit yang berbasis lingkungan. Dampak dari masih ditemuinya perilaku Buang Air Besar Sembarangan adalah tingginya angka penyakit yang berbasis lingkungan, karena perilaku Buang Air Besar Sembarangan berkaitan erat dengan kesehatan lingkungan. Jika masih banyak masyarakat yang melakukan Perilaku Buang Air Besar Sembarangan, maka lingkungan sekitar masyarakat akan ikut terkontaminasi oleh kotoran yang berada di area terbuka tersebut. Keadaan kotoran di area terbuka ini, selain mengkontaminasi lingkungan seperti tanah dan air, juga bisa mengkontaminasi makanan yang nanti nya di konsumsi oleh masyarakat dan ini menyebabkan berbagai penyakit yang salah satunya adalah penyakit Diare. Selain diare, penyakit lainnya akibat perilaku Buang Air Besar Sembarangan juga menyebabkan penyakit gatal-gatal atau dermatitis jika masyarakat mandi menggunakan air kali, karena air kali terkontaminasi dengan bakteri yang berasal dari kotoran manusia yang melebur akibat hujan. Berdasarkan wawancara dengan Sanitarian Puskesmas Kilasah (tanggal 24 Januari 2018, pukul 11.20 WIB), dikatakan bahwa penyakit yang berbasis lingkungan selalu masuk kedalam 10 besar penyakit dengan jumlah penderita terbanyak. Hal ini dapat dilihat dari data

yang didapat dari Puskesmas Kilasah mengenai 10 besar penyakit pada tahun 2017, yaitu :

Tabel 1.8

Sepuluh Besar Penyakit di UPT Puskesmas Kilasah Tahun 2016 - 2017

No. Nama Penyakit Jumlah

2016 2017 1. ISPA 1.161 1.401 2. Dermatitis 2.896 1.236 3. Myalgia 2.891 1.220 4. Gastritis 3.052 1.167 5. Diare 1.334 957 6. Konjungtivitis 2.138 786 7. Batuk 3.402 742 8. Sakit Kepala 3.249 502 9. Hipertensi 384 495 10. Caries Dentis 655 - OMNS - 312

Sumber : UPT Puskesmas Kilasah

Dari tabel diatas terlihat bahwa dari 10 besar penyakit yang di derita masyarakat cakupan Puskesmas Kilasah, terdapat 4 penyakit yang merupakan dampak dari perilaku Buang Air Besar Sembarangan, yaitu ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), dermatitis, diare dan batuk. Ini menandakan bahwa masalah kesehatan Lingkungan di wilayah cakupan Puskesmas Kilasah yang terdiri atas 5 Kelurahan, yaitu Kelurahan Kilasah, Kelurahan Mesjid Priayi, Kelurahan Warung Jaud, Kelurahan Terumbu dan Kelurahan Bendung sangat memerlukan perhatian

baik dari pemerintah maupun dari masyarakat itu sendiri. Jika perilaku Buang Air Besar Sembarangan dapat di hilangkan, maka penyebaran penyakit yang berbasis lingkungan pun dapat dicegah sehingga dapat mengurangi jumlah penderita penyakit yang berbasis lingkungan. Karena lingkungan yang sehat membuat kesejahteraan serta kesehatan masyarakatnya meningkat pula.

Sehubungan dengan permasalahan-permasalahan diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Efektivitas Strategi Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Pilar Pertama di Puskesmas Kilasah, Kecamatan Kasemen, Kota Serang”.

1.2Identifikasi Masalah

Berdasarkan pemaparan sebelumnya, peneliti mengidentifikasi masalah sebagai berikut :

a. Masih ditemui perilaku Buang Air Besar Sembarangan

b. Keterbatasan ekonomi masyarakat di wilayah Puskesmas Kilasah c. Keterbatasan masyarakat mengakses sarana air bersih

d. Tingginya angka penyakit berbasis lingkungan

1.3Batasan Masalah

Pembatasan masalah dilakukan agar penulis lebih terfokus pada apa yang diteliti dalam penelitian ini dan mencegah terjadinya pelebaran permasalahan. Adapun penelitian yang dilakukan oleh peneliti hanya terbatas mengenai efektivitas strategi program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) pada pilar pertama di wilayah Puskesmas Kilasah, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Peneliti memfokuskan pada penilaian keberhasilan pemicuan yang dilakukan oleh pelaku pemicuan atau tim fasilitator dan akan dijawab oleh masyarakat yang pernah mengikuti pemicuan sebagai responden dalam penelitian ini.

1.4Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah dipaparkan

Dokumen terkait