DAFTAR PUSTAKA
L. M. Friedman mengatakan bahwa berfungsi atau tidaknya hukum dalam menata pembangunan adalah sangat ditentukan oleh tiga komponen
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (LN. 1960 – 104, TLN. 2043), untuk selanjutnya disebut UUPA, diundangkan pada tanggal 24 September 1960. UUPA mengatur macam-macam hak atas tanah dalam Pasal 16 ayat (1), yaitu antara lain Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan (HGB), dan Hak Pakai, sedangkan mengenai perpanjangan HGB diatur dalam Pasal 35 ayat (2) sebagai berikut: atas permintaan pemegang hak dan dengan melihat keperluan serta keadaan bangunan-bangunannya, jangka waktu tersebut dalam ayat (1) dapat diperpanjang dengan waktu paling lama 20 tahun.
Kata “dapat” dalam ketentuan Pasal 35 ayat (2) UUPA ini mempunyai arti yang tidak jelas, karena kata “dapat” tidak memiliki arti final. Kata “dapat” dalam norma tersebut baru memiliki arti final apabila diikuti dengan kata lain, seperti kata “ditolak” atau “dikabulkan”. Dengan diikuti oleh kata-kata tersebut, maka kata “dapat” akan menjadi “dapat ditolak” atau “dapat dikabulkan”. Dengan demikian kata “dapat” dalam norma tersebut memiliki makna ganda, sehingga menjadi norma kabur/tidak jelas.
Norma yang menimbulkan lebih dari satu penafsiran menjadikan norma tersebut tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 5 huruf f UU No. 12 tahun 2011 59. JURNAL HUKUM PERSADA NO. 1 VOL. 1 SEPTEMBER 2013. 58-72
tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (LN. 2012 – 82, TLN.
5234), selanjutnya disebut UU 12 tahun 2011. Ketentuan Pasal 5 huruf f tersebut memerintahkan agar dalam pembentukan peraturan perundang-undangan harus dilakukan berdasarkan asas pembentukan peraturan yang baik, salah satunya adalah “kejelasan rumusan”. Lebih lanjut dalam penjelasan huruf f ditegaskan agar pembuatan peraturan perundang-undangan tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya. Selain itu dengan adanya kekaburan norma tersebut dapat menimbulkan ketidakpastian hukum, ketika dalam penerapannya ternyata mengabaikan eksistensi HGB yang masih memenuhi syarat.
Mengabaikan eksistensi HGB yang masih memenuhi syarat maksudnya adalah, dalam penerapannya ternyata HGB yang masih memenuhi syarat tidak dikabulkan perpanjangannya, di sisi lain HGB yang tidak memenuhi syarat dikabulkan perpanjangannya. Hal ini terjadi karena dalam ketentuan Pasal 35 ayat (2) UUPA mengandung norma kabur, yaitu adanya kata “dapat” dalam norma tersebut. Kata dapat tersebut memberi peluang kepada yang berwenang (pejabat pemerintah) untuk memberi keputusan mengabulkan atau menolak sesuai dengan keperluan pejabat pemerintah itu sendiri tanpa mempertimbangkan keperluan yang sebenarnya harus didahulukan, yaitu keperluan untuk menyejahterakan rakyat.
Mengenai subjek hak dari HGB diatur dalam ketentuan Pasal 36 ayat (1) UUPA, yaitu: a. WNI; dan b. badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia. Dengan demikian maka yang dapat memiliki HGB atas tanah hanyalah WNI dan badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia, sehingga apabila ada subjek hak selain dua yang disebutkan tersebut memiliki HGB atas tanah, maka hal itu menjadi bertentangan dengan UUPA.
Pembentukan UUPA tersebut berdasarkan Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945). Selain menjadi dasar dalam pengaturan tentang keagrariaan khususnya hukum tanah melalui UUPA tersebut, Pasal 33 UUD 1945 juga menjadi dasar dalam pengaturan tentang penanaman modal, baik penanaman modal asing maupun penanaman modal dalam negeri.
I Nyoman Alit Pusmadma. Perpanjangan… 60
Penanaman Modal diatur dengan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (LN. 2007 – 67, TLN. 4724), selanjutnya disebut UUPM. Menurut Pasal 3 ayat (1) UUPM, antara lain dinyatakan bahwa penanaman modal terselenggara berdasarkan asas kepastian hukum, efisiensi berkeadilan, dan berkelanjutan.
Sedangkan ayat (2) menegaskan antara lain, bahwa penanaman modal bertujuan untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pembangunan ekonomi berkelanjutan, mendorong pengembangan ekonomi kerakyatan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, maka penanaman modal yang dilakukan harus mempunyai asas dan tujuan seperti yang diatur dalam Pasal 3 ayat (1) dan (2) UUPM tersebut, dan bagi penanaman modal yang sudah berjalan, apabila telah memenuhi ketentuan tersebut, patut dipertahankan eksistensinya.
Penanaman modal atau yang sering disebut dengan istilah investasi menurut bentuknya ada dua, pertama investasi tidak langsung dan kedua investasi langsung. Investasi tidak langsung (indirect investment) atau investasi portofolio dilakukan melalui pasar modal dengan instrumen surat berharga, seperti saham dan obligasi, sedangkan investasi langsung (direct investment) merupakan bentuk investasi dengan jalan membangun, membeli total, atau mengakuisisi perusahaan.2 Dalam investasi tidak langsung, tujuan investor bukanlah mendirikan perusahaan, melainkan hanya membeli saham dengan tujuan untuk dijual kembali. Tujuan investor di sini adalah bagaimana memperoleh hasil yang maksimal dengan rentang waktu yang tidak terlalu lama sudah bisa menikmati keuntungan. Dengan kata lain, dalam jenis investasi seperti ini, yang diharapkan oleh investor adalah capital gain, artinya adanya penghasilan dari selisih antara beli dan jual saham di bursa efek. Berbeda dengan investasi tidak langsung, dalam investasi langsung, investor harus hadir secara fisik dalam menjalankan usahanya, tepatnya investor harus mendirikan perusahaan untuk menjalankan usaha-usaha nvestasinya.3
2Panji Anoraga, 1994, Perusahaan Multinasional dan Penanaman Modal Asing, Pustaka Jaya, Semarang, hlm: 46.
3Sentosa Sembiring, 2007, Hukum Investasi, CV. Nuansa Aulia, Cetakan I, Bandung, hlm.
70-71.
61. JURNAL HUKUM PERSADA NO. 1 VOL. 1 SEPTEMBER 2013. 58-72
Investasi langsung (Direct Investment) yang mensyaratkan investor mendirikan perusahaan, mengakibatkan investor membutuhkan tanah sebagai tempat berdirinya perusuhaan tersebut. Selain itu setelah perusahaan berdiri, akan diperlukan tenaga kerja untuk menjalankan kegiatan usaha-usaha dari perusahaan tersebut. Dengan demikian investasi langsung (Direct Investment) ini memberikan keuntungan bagi rakyat karena dapat membuka lapangan pekerjaan, oleh karena itu juga memberikan keuntungan bagi Negara (Pemerintah), karena tidak perlu lagi memikirkan lapangan kerja bagi sebagian rakyatnya. Setelah usaha-usaha yang dilakukan oleh perusahaan dalam investasi langsung tersebut berjalan, para pekerjanya pun mendapatkan upah (income) yang dapat digunakan oleh mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari berupa sandang dan pangan, yang dapat dibeli dari para pedagang, selain itu Negara juga dapat menerima pemasukan dari pajak yang dibayar oleh investor.
Dengan demikian investasi langsung dapat menimbulkan efek berganda (multiplier effect), yang menyebabkan sektor riil bergerak dan dapat menimbulkan kesejahteraa rakyat, sehingga dengan adanya investasi langsung semua pihak, baik investor, rakyat, maupun Negara dapat menerima manfaatnya.
Penanaman modal (investasi) tidak saja dilakukan melalui badan usaha perseorangan (seperti: usaha dagang/UD, toko, warung, dan sebagainya), atau badan usaha yang tidak berbentuk badan hukum (seperti: persekutuan firma/Fa, perseroan komanditer/CV), akan tetapi juga dilakukan melalui badan usaha yang berbentuk badan hukum (seperti: perseroan terbatas/PT, koperasi, yayasan, perusahaan Negara/badan usaha milik Negara/BUMN, perusahaan daerah/badan usaha milik daerah/BUMD).4 Dari bentuk-bentuk badan usaha tersebut, yang berhubungan dengan penelitian ini adalah badan usaha yang berbentuk badan hukum dan lebih khusus lagi adalah yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT).
Peneliti menggunakan PT dalam penelitan ini karena dari sekian banyak badan usaha yang berbentuk badan hukum, PT yang paling banyak digunakan oleh masyarakat dan karena PT merupakan badan hukum, maka PT adalah merupakan subjek hukum. PT yang dimaksud adalah PT yang diatur dalam UU
4R. Djatmiko D, 1996, Pengetahuan Hukum Perdata dan Hukum Dagang, Angkasa, bandung, hlm: 38.
I Nyoman Alit Pusmadma. Perpanjangan… 62
No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (LN. 2007 – 106, TLN. 4756).
Sehingga dalam penelitian ini subjek hak dari HGB yang digunakan hanyalah PT yang berkedudukan di Indonesia, karena PT adalah badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia, sedangkan WNI sebagai subjek HGB bukanlah objek dari penelitian ini.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini ada dua, yaitu: Bagaimanakah perpanjangan HGB itu diatur? Bagaimanakah memaknai ketentua Pasal 35 ayat (2) UUPA bila dikaitkan dengan prinsip kepastian hukum?