Blok VIII. Informasi Tambahan
BAB 7. PENGAWASAN DOKUMEN VSP04-WPS DAN VSP04-PRIA
1. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Keberhasilan upaya pencegahan infeksi Human Immuno-deficiency Virus (HIV) bergantung pada perubahan perilaku berisiko, dari risiko tinggi ke risiko yang lebih rendah. Perubahan ini antara lain mencakup peningkatan penggunaan kondom dan pengurangan jumlah pasangan seksual di antara mereka yang aktif secara seksual, penurunan pemakaian bersama/bergantian alat/jarum suntik pada kelompok pemakai narkotika psikotropika dan zat adiktif lainnya (Narkoba), dan penundaan hubungan seksual pertama kali pada kalangan remaja.
Dengan semakin meluasnya penyebaran HIV di banyak negara, termasuk di Indonesia, upaya pencegahan semakin mengarah pada upaya perubahan perilaku. Oleh karena itu diperlukan informasi tentang perubahan perilaku yang dapat dijadikan dasar dalam memandu keberhasilan perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan program intervensi.
Pengalaman Survei Surveilans Perilaku (SSP) pada beberapa kelompok populasi tertentu risiko tinggi di beberapa kota Indonesia (1996-2000) oleh Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (Puslitkes-UI) dan oleh Depkes bekerjasama dengan Badan Pusat Statistik tahun 2002 – 2003 memberikan pemahaman perlunya program pencegahan HIV yang lebih intensif dan berkelanjutan dalam kegiatan dan lebih ekstensif dalam cakupan.
SSP memanfaatkan metode survei yang dilakukan berulang untuk memantau dari waktu ke waktu perilaku berisiko HIV pada kelompok-kelompok risiko tinggi, termasuk penjaja seks dan pelanggannya, pria yang berhubungan seks dengan pria, dan pengguna narkoba suntik, Waria dan Pria Penjaja Seks. SSP merupakan salah satu komponen dari sistem surveilans HIV generasi kedua, termasuk surveilans serologik HIV, surveilans IMS (infeksi menular seksual), surveilans perilaku, pelaporan kasus AIDS, dan sumber-sumber data terkait yang lain.
Sebagai pedoman pelaksanaan SSP 2004 maka disusun dua (2) jenis buku pedoman, masing-masing dengan judul:
Pedoman Penyelenggara
Pedoman Pelaksanaan Lapangan
Buku ini merupakan Pedoman pelaksanaan lapangan yang memuat petunjuk teknis pelaksanaan lapangan untuk responden WPS dan Pria pada SSP 2004.
1.2. Tujuan
Secara ringkas SSP 2004 bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai perilaku kelompok sasaran berkaitan dengan penyebaran HIV/AIDS dan memantau perubahan-perubahan perilaku kelompok tersebut.
1.3. HIV/AIDS: Pengertian, Cara Penularan, Epidemi, Implikasi dan Pencegahan 1.3.1. Pengertian HIV/AIDS
AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) yakni sekumpulan gejala yang
didapat akibat menurunnya kekebalan tubuh manusia yang disebabkan oleh virus.
HIV (Human Immuno_deficiency Virus) yaitu jasad renik yang sangat kecil (virus)
yang bisa menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Dalam jumlah besar virus terdapat pada darah, cairan vagina dan sperma penderita.
HIV menyerang sel darah putih dengan cara merusak dinding sel darah putih, kemudian masuk ke dalam sel dan merusak bagian yang memegang peran penting pada kekebalan tubuh. Sel darah putih yang telah dirusak tersebut menjadi tidak mengenal bibit penyakit bahkan merusak sel darah putih yang lain. Lambat laun sel darah putih yang sehat akan sangat berkurang, sehingga kekebalan tubuh menjadi sangat rendah.
1.3.2. Cara-cara Penularan HIV
Virus HIV dapat ditularkan melalui:
Hubungan seksual dengan pengidap HIV, terutama penis-anal, penis vaginal Melalui darah dan produk darah yang terkontaminasi (transfusi darah) Transplantasi organ tubuh
Penggunaan alat tusuk yang terkontaminasi (alat suntik, tindik, tatto, dll)
Penularan secara perinatal yaitu penularan dari ibu pengidap HIV kepada bayi yang dikandungnya, atau selama menyusui.
Kemungkinan penularannya, bergantung antara lain pada jumlah/load virus, jenis kontak, kondisi yang memudahkan penularan (misal: luka, radang), intensitas dan frekuensi kontak.
HIV dapat menular kepada siapapun, tanpa peduli kebangsaan, ras, jenis kelamin, agama, tingkat pendidikan, status ekonomi maupun orientasi seksualnya. Namun bila melihat pola penularan HIV di atas, maka dapat diketahui orang-orang yang termasuk ke dalam kelompok berisiko tinggi terkena HIV yaitu:
Wanita penjaja seks Pelanggan penjaja seks Pasangan penjaja seks
Pria berhubungan seks dengan pria (pria penjaja seks, waria, gay) Pelanggan pria penjaja seks, waria, gay
Pasangan Pria Penjaja seks, waria, gay Pengguna narkoba suntik
Pasangan narkoba suntik
Tenaga kesehatan/pekerja laboratorium
1.3.3. Miskonsepsi mengenai Cara Penularan HIV/AIDS
Berikut merupakan pendapat-pendapat yang keliru (miskonsepsi) mengenai cara penularan HIV/AIDS
HIV dapat menular melalui kontak sosial dengan ODHA (Orang Dengan HIV/ AIDS) seperti; berjabat tangan, penderita bersin, berpelukan, makan dan minum bersama, tinggal serumah dengan ODHA
HIV dapat menular melalui makanan yang disiapkan oleh ODHA HIV dapat menular melalui gigitan nyamuk
HIV dapat menular melalui WC, kamar mandi, pakaian, atau telepon bersama dengan ODHA
HIV dapat menular melalui kontak dengan keringat, atau airmata dengan ODHA
1.3.4. Cara Pencegahan
1. Mencegah penularan melalui hubungan seksual dengan : A (Abstinensi) yaitu dengan melakukan puasa seksual, B (Be faithful) yaitu saling setia pada pasangannya, dan
C (Condom) yaitu menggunakan kondom apabila melakukan hubungan seksual yang berisiko.
2. Mencegah penularan melalui darah dan produk darah dengan skrining darah donor, dan universal precaution
3. Sterilisasi alat suntik, tusuk dan tatto
1.3.5. Gejala-gejala Infeksi HIV
Tahap pertama dimulai dengan masuknya virus HIV ke dalam tubuh seseorang, dengan ciri-ciri sebagai berikut:
Hampir tidak bergejala serta kadang-kadang hanya seperti flu dan akan sembuh beberapa hari kemudian
Tes darah pada periode ini masih belum dapat menunjukkan adanya infeksi HIV. Periode ini disebut juga dengan periode jendela (window period) yaitu dimulai saat seseorang terpapar virus HIV sampai dapat dideteksinya antibodi terhadap virus (reaktif dengan menggunakan pemeriksaan laboratorium antigen – antibodi). Dengan kata lain periode jendela adalah periode dimana hasil pemeriksaan laboratorium negatif, tetapi orang tersebut telah terinfeksi dan dapat menularkan Setelah 1 – 3 bulan barulah tes darah positif (antibodi terbentuk)
Pada tahap ini orang masih nampak sehat
Keadaan nampak sehat ini dapat berlangsung 3 – 10 tahun
Orang tersebut dikenal sebagai pengidap HIV atau disebut ODHA
Pada tahap berikutnya sudah mulai nampak gejala tapi masih seperti gejala umum yang terjadi pada penyakit lain, yaitu :
Demam berkepanjangan (lebih dari 3 bulan) Selera makan hilang
Diare terus-menerus tanpa sebab (lebih dari 1 bulan) Pembengkakan kelenjar
Bercak-bercak di kulit
Berat badan turun drastis (lebih dari 10 % dalam 3 bulan).
Pada tahap lanjut, sistem kekebalan tubuh sudah semakin menurun sehingga perlawanan terhadap penyakit lain sudah sangat rendah. Pengidap HIV telah berkembang menjadi penderita AIDS, dengan gejala:
Radang paru
Radang saluran pencernaan Kanker kulit
Radang karena jamur di mulut dan kerongkongan Gangguan susunan syaraf
1.3.6. Penyakit Menular Seksual (PMS)
Penyakit Menular Seksual (PMS) atau biasa disebut penyakit kelamin adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual . Termasuk PMS adalah Syphilis, gonore, bubo, jengger ayam, herpes, dan lain-lain, termasuk juga HIV/AIDS.
Tanda-tanda atau gejala PMS:
1. Keluarnya cairan dari alat kelamin laki-laki atau perempuan yang berwujud cairan, atau nanah
2. Adanya luka pada alat kelamin 3. Adanya benjolan pada lipatan paha 4. Pembengkakan buah zakar laki-laki
5. Adanya tumor, kutil, jengger ayam atau bunga kol pada alat kelamin 6. Nyeri perut bagian bawah pada perempuan
Perilaku yang mempengaruhi penyebaran PMS:
1. Sering berganti pasangan
2. Mempunyai lebih dari satu pasangan seksual
3. Mempunyai pasangan yang juga mempunyai pasangan lain 4. Berhubungan seksual dengan pasangan yang tidak dikenal 5. Melakukan hubungan seksual meskipun menderita PMS
6. Tidak memberi tahu pasangannya untuk mendapatkan pengobatan PMS
PMS dapat mengakibatkan:
1. Peradangan menahun 2. Gangguan pada syaraf 3. Gangguan jiwa
4. Kemandulan
5. Gangguan kehamilan 6. Kematian
7. Keganasan, misalnya kanker leher rahim 8. Tertular HIV
1.3.7. Testing HIV
Testing HIV adalah suatu test terhadap darah/serum untuk mengetahui keberadaan
antibodi HIV dalam tubuh. Antibodi adalah zat yang dihasilkan oleh sistem kekebalan tubuh sebagai perlawanan terhadap zat asing (antigen, seperti kuman atau alergen). Antigen adalah materi yang dianggap oleh tubuh sebagai zat asing (contoh: virus, bakteri, jamur) sehingga tubuh memproduksi antibodi. Tes antibodi adalah metode yang paling umum, paling efisien dan paling luas pemakaiannya untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi HIV.
Testing HIV mempunyai 3 tujuan:
1. Testing untuk tujuan diagnostik, adalah suatu test HIV untuk memastikan apakah seseorang terinfeksi HIV atas permintaan sendiri yang disertai dengan pre dan pos konseling.
2. Testing untuk tujuan penapisan atau skrining, tujuannya adalah untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dengan memastikan bahwa darah tidak tercemar. Skrining dilakukan sebelum darah ditransfusikan atau ditransplantasikan kepada penerima
3. Testing untuk tujuan surveilans, adalah suatu test dengan tujuan untuk memantau prevalensi HIV dari waktu ke waktu pada suatu populasi tertentu, secara unlinked anonymous.
1.3.8. Konseling HIV
Dialog tertutup (confidential) antara klien dengan konselor yang bertujuan memberdayakan klien untuk menghadapi aspek psiko-sosial-medis dan mengambil keputusan pribadinya sehubungan dengan HIV/AIDS.
1.3.8.1. Konseling dan Tes HIV Secara Sukarela (VCT):
Adalah gabungan dua kegiatan yaitu konseling dan TES HIV dalam satu jaringan pelayanan agar lebih menguntungkan baik klien maupun pemberi pelayanan
Tujuan VCT:
1. Mencegah penularan HIV
2. Akses kepada pelayanan yg ada di tempatnya 3. Menjadi alat kesadaran masyarakat
4. Konseling dan tindak lanjut untuk ODHA
Manfaat VCT:
1. Secara Individu:
Mengurangi perilaku berisiko untuk terkena HIV/AIDS Membantu seseorang menerima status HIVnya
Arahkan seseorang dgn HIV kepada pelayanan tertentu. 2. Di tingkat masarakat:
Memutus rantai penularan HIV dalam masyarakat
Mengurangi reaksi takut dan mitos terhadap HIV yang bisa menjadi stigma Mempromosi dukungan pada ODHA melalui mobilisasi masyarakat dan
Alasan Test HIV:
1. Kekuatiran:
perilaku risiko tertular HIV
tertular HIV dari pasangan seksual
dampak pada bayi dari Ibu hamil dengan HIV+ Pernah terinfeksi IMS
2. Ingin mengetahui status HIV pada diri sendiri 3. Pernah kena jarum suntik, tatoo, atau transfusi darah 4. lain-lain
1.3.9. Epidemi HIV/AIDS
Epidemi HIV/AIDS telah melanda seluruh dunia termasuk Indonesia. Jumlah kasus HIV/AIDS secara kumulatif yang dilaporkan dari 29 propinsi s/d Maret 2004 adalah terdiri dari 2.746 infeksi HIV dan 1.413 kasus AIDS.
Jumlah kasus HIV yang sebenarnya ada di masyarakat sangat sulit diketahui karena merupakan phenomena gunung es. Diperkirakan pada tahun 2002 ada sekitar 90.000 -130.000 orang dengan HIV (ODHA) di Indonesia. Sedangkan populasi rawan tertular HIV diperkirakan ada 12 juta sampai 19 juta orang.
Indonesia dalam 3 tahun terakhir termasuk “ Concentrated level Epidemic” karena prevalensi HIV telah melebihi 5% di beberapa propinsi seperti DKI Jakarta, Riau, Bali dan Papua dan di beberapa sub-populasi yang mempunyai perilaku berisiko tertentu (Wanita penjaja seks dan Pengguna Napza suntik). Dua jalur utama penularan yang mendorong percepatan tingkat penularan HIV adalah jalur penularan seksual berisiko dan jalur penularan melalui penggunaan jarum suntik pada pengguna Napza.
Tingkat penularan HIV melalui penggunaan Napza suntik yang dirawat di RS ketergantungan obat Jakarta bila diikuti sejak tahun 1999 ditemukan HIV positif sebesar 16% dan pada tahun 2000 meningkat menjadi 41% dan meningkat lagi pada tahun 2001 sebesar 48%. Demikian pula pada Napi di Jakarta sejak tahun 1999 angka prevalensi belum ditemukan, namun pada tahun 2000 menjadi 17% dan meningkat lagi pada tahun 2001 menjadi 22%. Dari hasil sero-survei di Bali (Denpasar) pada tahun 2000 diantara Napi penguna Napza suntik angka prevalensi HIV ditemukan sebesar 53%.
Surveilans tahun 2002 pada kelompok waria DKI Jakarta ditemukan prevalensi sebesar 21,7 %, kelompok Pria Penjaja Seks sebesar 3,8 %, dan kelompok gay sebesar 2,5%.
Berikut beberapa informasi perkembangan penyebaran HIV/AIDS
Sejak dimulainya epidemi HIV/AIDS, 58 juta lebih orang telah terinfeksi HIV, 22 juta diantaranya meninggal akibat HIV/AIDS.
Selama tahun 2002, diperkirakan 5 juta kasus baru HIV ( 800.000 orang diantaranya adalah anak-anak di bawah usia 15 tahun dan 2 juta diantaranya adalah perempuan) dan 3,1 juta meninggal karena HIV/AIDS. (UNAIDS, AIDS Epidemi Update: December 2002).
WHO dan UNAIDS memperkirakan bahwa pada akhir tahun 2002, 42 juta orang di seluruh dunia hidup dengan HIV.
Saat ini epidemi HIV/AIDS menyebar secara cepat di Asia. AIDS pertama kali ditemukan di Asia Tenggara pada tahun 1980.
Pada tahun 2001, hasil estimasi orang terinfeksi HIV di India sebesar 3,97 juta, dan data ini merupakan yang terbanyak kedua di dunia setelah Afrika Selatan (WHO, 2002, AIDS Epidemic Update, December 2002).
Sampai akhir tahun 2002, WHO dan UNAIDS memperkirakan bahwa lebih dari 7,2 juta orang hidup dengan HIV/AIDS dan dilaporkan terdapat lebih dari 490.000 kasus AIDS.
Di Indonesia, pada tahun 2001, diperkirakan 80.000 – 120.000 orang terinfeksi HIV. Saat ini Indonesia termasuk negara epidemi HIV terutama diantara populasi pengguna jarum suntik. (WHO, 2001, HIV/AIDS in Asia and The Pasific Region. New Delhi: Regional Offices for The Western Pasific and for South-East Asia). Pada tahun 2002, hasil estimasi diperkirakan 90.000 – 130.000 orang terinfeksi
HIV.
1.3.10. Implikasi Epidemi HIV/AIDS
Terjadinya epidemi HIV/AIDS telah menyebabkan berbagai dampak negatif baik terhadap individu, keluarga, masyarakat maupun pemerintah:
Dampak negatif terhadap individu dan keluarga, antara lain:
Jam dan produktivitas kerja berkurang karena sakit Hilangnya/berkurangnya pendapatan
Meningkatnya pengeluaran rumah tangga untuk biaya kesehatan/pengobatan/ perawatan
Dampak negatif terhadap ekonomi dan negara, antara lain:
Berkurangnya SDM usia produktif
Produktivitas kerja rendah karena rendahnya supply tenaga kerja Menurunnya kegiatan ekonomi baik di sektor formal maupun informal Menurunnya pendapatan negara
Pengeluaran pemerintah untuk biaya kesehatan meningkat
1.3.11. Determinan Epidemi HIV/AIDS
Berbagai faktor dapat berperan dalam mendorong penyebaran HIV dan menentukan tingkat kegawatan epidemi di suatu negara, diantaranya adalah :
Kemungkinan penularan dari orang ke orang
Jumlah populasi dalam kelompok berperilaku risiko tinggi Berganti pasangan seksual
Penggunaan jarum suntik secara bersama – sama Kemiskinan
Tingkat pendidikan yang rendah Insidens IMS yang tinggi
Adanya industri seks
Migrasi penduduk yang tinggi
Tingkat penggunaan kondom yang rendah, dan
Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pendidikan kesehatan reproduksi
1.3.12. Faktor-faktor yang Mendorong Terjadinya Epidemi HIV/AIDS
Ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya epidemi HIV/AIDS yaitu: Berkembangnya industri seks
Tingkat penggunaan kondom yang rendah Prevalensi IMS yang tinggi
Penggunaan narkotik suntik yang terus meningkat, dan Tindakan medis/operatif yang kurang/tidak higienis
1.3.13. Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia (Sektor Kesehatan)
Tujuan upaya penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia adalah mencegah terjadinya penularan dan memberantas IMS termasuk infeksi HIV/AIDS, serta mengurangi dampak sosial ekonomi akibat IMS dan HIV/AIDS.
Strategi upaya penanggulangan IMS, termasuk HIV/AIDS di Indonesia adalah:
Mencegah penularan melalui hubungan seksual yaitu A (Abstinensia/puasa seks), B (Be faithfull/setia pada pasangannya), C (condom)
Mencegah penularan melalui darah dan produk darah, dan Mencegah penularan melalui jarum suntik
Mencegah penularan dari ibu pengidap HIV ke bayi.
1.3.14. Beberapa kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Peningkatan Gaya Hidup Sehat
KIE terhadap anak sekolah dan mahasiswa dan pekerja termasuk life skill education, perlindungan kepada pengungsi dan keluarga miskin, kerjasama dan koordinasi dengan media masa dan perusahaan advertensi, KIE dan perlindungan anggota militer dan polisi serta keluarganya, KIE & Pelayanan kesehatan pada Lapas, KIE terhadap anak sekolah dan mahasiswa dan pekerja termasuk life skill education, perlindungan kepada pengungsi dan keluarga miskin, dan kerjasama, koordinasi dengan media masa dan perusahaan advertensi, KIE dan perlindungan anggota militer dan polisi serta keluarganya, dan KIE & Pelayanan kesehatan pada Lapas .
2. Promosi Perilaku Seksual aman
Advokasi pada pengambil keputusan, mengembangkan proyek-proyek panduan penggunaan kondom 100%, melaksanakan KIE secara sistematis dan bijaksana tentang penggunaan kondom dan hubungan seksual non–penetratif, dan melaksanakan kegiatan pemeriksaan dan pengobatan IMS pada kelompok berisiko. 3. Promosi dan Distribusi Kondom
Melakukan social - marketing dan meningkatkan akses kondom kepada WPS dan pelanggannya, meningkatkan ketersediaan kondom, memperluas jaring distribusinya melalui swasta, LSM dan pemerintah, meningkatkan KIE, dan meningkatkan kualitas kondom.
4. Pencegahan dan Pengobatan IMS
Advokasi, meningkatkan KIE pencegahan IMS dan penggunaan kondom, meningkatkan KIE agar anggota masyarakat memeriksakan dan mengobati IMS sedini mungkin, mendorong swasta dan LSM untuk mendirikan klinik IMS di lokasi dan di lokalisasi, pemeriksaan IMS berkala kepada para PS dan pramuria di lokasi, lokalisasi, bar, karaoke, panti pijat, dan melatih petugas kesehatan untuk melakukan pemeriksaan, diagnosis dan pengobatan IMS dengan pendekatan sindromik.
5. Mengurangi dampak buruk akibat Napza Suntik
Merumuskan kebijakan dan mengadvokasikannya mengenai cara-cara mengurangi dampak buruk (harm-reduction) dari penyalahgunaan Napza suntik. Diharapkan : para penegak hukum, pemuka agama, ahli pendidik dan LSM mempunyai pemahaman dan kesepakatan tentang penerapannya, mengembangkan pilot - project tentang harm reduction, dan meningkatkan KIE dan konseling serta mendistribusikan alat suntik steril secara ketat dan berhati - hati sehingga secara berangsur-angsur mencapai para pengguna Napza suntik.
6. Pengobatan ODHA
Pelatihan tatalaksana perawatan dan pengobatan serta konseling, menyediakan sarana kesehatan dan lab terintegrasi, menyediakan klinik VCT, pengobatan pencegahan terhadap bayi dari ibu hamil HIV +, dan menyediakan obat ARV dan Infeksi opportunistik yg terjangkau (availability, accessibility, dan affordability) . 7. Dukungan ODHA
Sosialisasi Hak Azasi Manusia, memberdayakan masyarakat untuk membantu ODHA, pemberdayaan ODHA secara individu dan kelompok, dan membantu menyantuni anak yatim piatu akibat HIV/AIDS.
8. Pengembangan peraturan & perundang-undangan HIV/AIDS
Melaksanakan pengkajian peraturan dan perundangan nasional yang ada, membuat perangkat peraturan perundangan, memberdayakan praktisi hukum, pengambil keputusan, dan pengelola program
9. Surveilans
Surveilans; adalah suatu proses sistematik dan kontinu dalam pengumpulan,
analisis, interpretasi dan diseminasi informasi untuk memantau masalah kesehatan pada suatu kelompok populasi di suatu tempat.
Surveilans yang berkaitan dengan HIV/AIDS adalah Surveilans HIV, laporan
kasus AIDS, surveilans IMS, surveilans resistensi mikrobiologi, dan surveilans perilaku
10. Pelatihan
Merencanakan kegiatan pelatihan, menyediakan, menyiapkan sarana dan prasarana pelatihan, dan mengembangkan materi pelatihan dan pedoman pelatihan
11. Penelitian & Pengembangan
Uji coba protocol, penyempurnaan protocol, pelaksanaan protocol, evaluasi uji coba, dan pengembangan hasil uji coba
12. Kerjasama Internasional
Kerjasama dengan ASEAN, konsultasi berkala dengan lembaga internasional, promosi kerjasama global, prakarsa mengurangi kerentanan wanita, remaja dan Anak, dan pertemuan berkala dengan wakil-wakil negara sahabat.
HIV merupakan virus penyebab penyakit mematikan yang sebagian besar disebarkan melalui hubungan seks dan penggunaan narkoba suntik yang tidak aman. Secara teknis HIV adalah virus yang menyerang system kekebalan tubuh manusia. Setelah masuk ke dalam tubuh, hasil serangan virus ini akan menimbulkan infeksi lanjut yang memunculkan sekumpulan tanda dan gejala penyakit akibat hilangnya/menurunnya kekebalan tubuh seseorang. Gejala ini dikenal dengan istilah AIDS.
Pemahaman ini telah diketahui sejak lama, lebih dari dua dekade. Dana jutaan dollar telah dikeluarkan di banyak negara guna menangkal penyebaran virus. Sebagian besar upaya penanggulangan HIV adalah dengan menganjurkan masyarakat mengadopsi perilaku aman. Namun demikian, sedikit negara yang melakukan upaya serius dalam memantau dari waktu ke waktu perubahan perilaku tersebut.
1.4. Konteks Surveilans Perilaku 1.4.1. Mengapa Surveilans Perilaku?
Untuk menunjang upaya penanggulangan HIV, kegiatan surveilans selama ini lebih terfokus pada pemantauan angka kasus AIDS dan angka HIV. Padahal konsentrasi hanya pada penyakit/infeksi kurang memadai, karena infeksi HIV mempunyai masa laten (gejala tidak terlihat dan tidak terasakan) yang sangat panjang, belum ada obat, dan mematikan. Gambaran peningkatan prevalensi HIV mengindikasikan kegagalan program, tetapi tidak mengindikasikan mengapa prevalensi meningkat dan mengapa pula program gagal. Sebaliknya tren prevalensi HIV yang tetap atau menurun dapat berarti penurunan kasus infeksi baru, tetapi dapat pula peningkatan jumlah kematian. Karena seseorang dapat hidup bertahun-tahun dengan HIV sampai suatu saat terdeteksi, maka angka prevalensi HIV menggambarkan campuran infeksi baru dan lama, sehingga angka prevalensi HIV kurang dapat menggambarkan perubahan terkini dari angka infeksi baru.
Di samping kekurangan di atas, surveilans serologi-HIV kurang bermanfaat pada situasi di mana tingkat epidemi HIV masih sangat rendah. Angka HIV yang rendah dapat berarti populasi di mana sampel diambil memang tidak berperilaku risiko tinggi karena keberhasilan program, atau virus pada populasi tersebut baru pada awal penyebaran, belum sampai pada tingkat yang memadai untuk terdeteksi dengan mudah. Dengan adanya dasar perilaku yang diketahui dan yang terdokumentasikan, maka data tersebut akan dapat dipakai untuk perencanaan program penurunan risiko pada populasi tertentu pada saat virus belum menyebar luas.
Menyadari bahwa surveilans serologi-HIV tidak sepenuhnya menyediakan informasi yang dibutuhkan bagi upaya pencegahan HIV, maka beberapa organisasi dunia, seperti UNAIDS (Badan Dunia Penanganan AIDS), WHO (Badan Kesehatan Dunia), FHI (Family Health International) telah mengembangkan suatu kerangka baru sistem surveilans HIV yang dikenal dengan Sistem Surveilans HIV Generasi Kedua. Sistem ini dapat dipakai sesuai dengan tingkatan epidemi yang dihadapi, dan memberikan prioritas sumber daya surveilans kepada kelompok-kelompok populasi/sub-populasi di mana HIV kemungkinan akan terkonsentrasi. Sistem surveilans HIV generasi kedua menekankan pentingnya penggunaan data perilaku untuk menjelaskan kecenderungan HIV/AIDS pada populasi/sub-populasi, dan untuk perencanaan dan evaluasi program pencegahan HIV. Sistem ini cocok untuk Indonesia di mana angka HIV pada populasi umum masih relatif rendah, tetapi terkonsentrasi pada kelompok-kelompok risiko tinggi.
Dalam upaya mengumpulkan data dan informasi perilaku kelompok-kelompok berisiko tersebut, Badan Pusat Statistik (BPS) --selaku lembaga yang diberikan wewenang