• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. GAMBARAN PENGHAYATAN PRODIAKON TERHADAP

B. Penelitian Tentang Penghayatan Prodiakon Terhadap Spiritualitas

3. Pendalaman lebih lanjut terhadap hasil penelitian menurut

a. Identitas Responden

Keseluruhan responden dalam penelitian ini berjumlah 36 orang. Mereka adalah seluruh anggota prodiakon Paroki Kristus Raja Barong Tongkok yang statusnya masih aktif. Berdasarkan hasil penelitian, seluruh anggota prodiakon Paroki Kristus Raja Barong Tongkok berjenis kelamin laki-laki dengan rentang usia yang paling dominan yaitu 40 s.d 50 tahun. Selain jenis kelamin dan usia, hasil penelitian juga mengungkapkan pendidikan terakhir dan jenis pekerjaan yang ditekuni oleh prodiakon, yaitu sebagian besar prodiakon adalah lulusan Perguruan Tinggi dan Sekolah Menengah Atas. Prodiakon lulusan Perguruan Tinggi berjumlah 21 orang. Adapun gelar bidang studi yang diperoleh dari perguruan tinggi, di antaranya: Sarjana Ekonomi, Sarjana Pendidikan, Sarjana Ilmu Filsafat/Kateketik, Sarjana Sastra, Sarjana Komunisai, Sarjana Hukum dan Magister. Sedangkan 15 anggota prodiakon lainnya adalah lulusan Sekolah Menengah Atas. Jika dilihat dari latar belakang pendidikan, Prodiakon Patoki Kristus Raja Barong Tongkok terdiri dari orang-orang yang berpendidikan, mampu secara intelektual, memiliki pengetahuan yang cukup luas dan memadai. Selain pendidikan terakhir, jenis pekerjaan yang ditekuni oleh

prodiakon juga sangat beragam, di antaranya: PNS, Pensiunan, Wirausaha, Swasta, dan Petani.

b. Penghayatan Prodiakon Terhadap Spiritualitas Hidup Kristiani Jordan (1985: 22) mengatakan spiritualitas hidup Kristiani bersifat kristosentris. Seluruh corak dan gaya hidup Yesus menjadi pusat kehidupan umat beriman Kristiani. Keselamatan yang Allah janjikan kepada umat manusia terwujud dalam pribadi Yesus Kristus. Selain itu, Heryat no (2008: 9) mengatakan spiritualitas adalah hidup menurut Roh atau hidup di dalam Roh.

Berdasarkan jawaban prodiakon, menghayati panggilan sebagai murid Kristus mereka wujudkan dengan setia menjalani panggilan hidupnya masing-masing di tengah keluarga, Gereja dan masyarakat. Sebagai kepala keluarga mereka berusaha untuk setia dalam perkawinan, menjaga nama baik dan mencintai seluruh anggota keluarga. Sebagai anggota Gereja, mereka berusaha untuk dapat menjadi tokoh umat yang baik. Sedangkan sebagai anggota masyarakat, mereka menyadari perlunya membangun relasi sosial yang baik dengan semua masyarakat.

Spiritualitas hidup Kristiani selain bersifat kristosentris juga bersifat askese. Askese ialah latihan rohani yang ditempuh orang Kristen di bawah bimbingan Roh Kudus untuk memurnikan diri dari dosa, menguasai diri dan memurnikan sikap hati di hadapan Allah, serta menghilangkan berbagai penghalang untuk dapat merasakan hadirat Tuhan. Melalui latihan rohani,

daya-daya yang ada dalam diri manusia meliputi panca indra, naluri, ingatan, imajinasi, emosi dan afeksi dilatih agar dapat didayagunakan dengan baik sehingga mampu membentuk pribadi yang berkembang secara dinamis d alam hidup rohani maupun dalam kehidupan sehari-hari (Mangunhardjana 2013: 42-43).

Berdasarkan jawaban prodiakon, askese mengarahkan mereka untuk dapat menghayati panggilan hidup kudus di tengah keluarga, Gereja dan masyarakat. Penghayatan panggilan hidup kudus yang dimaksud, yaitu prodiakon berusaha untuk mengarahkan diri pada kesucian hidup dengan menghayati hidup rohani. Kegiatan rohani yang dihayati oleh prodiakon di antaranya; berdoa, membaca dan merenungkan Kitab Suci, melakukan refleksi, pengakuan dosa, merayakan Ekaristi, dan mengikuti kegiatan rohani lainnya yang mendukung perkembangan hidup rohani.

Selanjutnya motivasi umat menjadi prodiakon di Paroki Kristus Raja Barong Tongkok. Kekhasan prodiakon terletak pada panggilannya sebagai awam, “....Berdasarkan panggilan mereka yang khas, kaum awam wajib mencari kerajan Allah dengan mengurusi hal-hal fana dan mengaturnya seturut kehendak Allah. Mereka hidup dalam dunia, artinya menjalankan segala macam tugas dan pekerjaan duniawi, dan berada ditengah k enyataan hidup berkeluarga dan sosial. Disitulah mereka dipanggil oleh Allah untuk menunaikan tugas dengan dijiwai oleh semangat Injil. Begitulah mereka memancarkan iman, harapan, dan cinta kasih, terutama dengan kesaksian hidup mereka, serta menampakkan Kristus kepada sesama” (LG art.31).

Selain itu, menurut Prasetya (2015: 38-39) berdasarkan karunia Roh Kudus, kaum awam dipanggil untuk mengupayakan terwujudnya perutusan Gereja Katolik dalam kehidupannya yang nyata demi kesejahteraan bersama. “Kaum awam khususnya dipanggil untuk menghadirkan dan mengaktifkan Gereja di daerah-daerah dan keadaan-keadaan tempat Gereja tidak dapat menggarami dunia selain berkat jasa mereka. Demikianlah setiap awam, karena kurnia-kurnia yang diterimanya, menjadi saksi dan sarana hidup perutusan Gereja sendiri” (LG art. 33).

Akhirnya, Prasetya (2015: 40-41) menyimpulkan sebagai orang beriman Katolik, mereka dapat terlibat dalam kehidupan menggereja, dengan cara mengambil bagian dalam tugas imamat, kenabian, dan rajawi Kristus, serta terlibat dalam kehidupan bermasyarakat demi terwujudnya kesejahteraan bersama. Keterlibatan mereka bukan sebagai kerasulan pribadi, orang perorangan, tetapi harus dipahami sebagai kerasulan Gereja (Lih. AA art. 23).

Berdasarkan jawaban responden, motivasi mereka menjadi prodiakon adalah tergerak hati untuk terlibat dalam hidup menggereja di Paroki Kristus Raja Barong Tongkok. Selain itu mereka juga menyadari bahwa panggilan menjadi prodiakon didasari pada panggilan seluruh umat Kristiani untuk mengemban tugas imamat, kenabian dan rajawi Kristus. Bekat karunia Roh Kudus prodiakon dapat melaksanakan tugas perutusannya di dunia. Roh Kudus menggerakkan, membimbing, dan mengarahkan mereka untuk

mewartakan Kabar Gembira, baik di dalam Gereja maupun di tengah masyarakat.

Menurut Martasudjita (2015, 27) semangat pelayanan identik dengan sikap rendah hati yang mau berkorban untuk Allah dan sesama. Motivasi pelayanan hendaklah didasari sebagai panggilan hidup, karena Allah yang memanggil maka Dia pula yang akan menyertai prodiakon dalam melaksanakan tugas pelayanannya itu. Selanjutnya Sugiyana (2006: 46 -52) mengatakan prodiakon dipanggil untuk melayani umat Allah dengan semangat murah hati, rendah hati, dan setia.

Berdasarkan jawaban prodiakon, mereka menyatakan sangat setuju semangat pelayanan mereka didasarkan pada sikap dan semangat Kristus, yaitu: sabar, setia, murah hati, tulus, peka, bertanggungjawab, mau bekerja sama, rela berkorban, dan penuh kasih. Selain itu, prodiakon juga menyatakan sangat setuju menjadi prodiakon berarti dengan secara sukarela dan penuh pengorbanan mengabdikan diri untuk kemuliaan nama Tuhan.

Selain motivasi, kerja sama tim juga perlu dibangun dan diperhatikan oleh semua pihak yang terlibat dalam pembangunan hidup menggeraja di Paroki Kristus Raja Barong Tongkok. Pastor paroki selalu pimpinan berkewajiban dan berhak melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap seluruh anggota Gereja termasuk prodiakon. Untuk itu, semua pihak yang terlibat dalam pembangunan hidup menggereja dengan rendah hati mau membuka diri untuk saling belajar, bekerja sama, tolong menolong,

mendukung, memotivasi dan menghargai satu lain untuk kemajuan dan kepentingan bersama.

Berdasarkan jawaban prodiakon, mereka menyatakan telah membangun kerja sama tim dengan mengedepankan sikap-sikap seperti yang penulis sebutkan di atas. Harapannya melalui kerja sama tim yang solid, mereka mampu menciptakan budaya kerja yang sehat, berkomitmen, proaktif, bertanggungjawab dan total.

Penghayatan spiritualitas hidup Kristiani tidak berhenti pada kesalehan pribadi belaka yang dapat menjebak prodiakon ke dalam spiritualitas pribadi. Krispurwana (2009:65) mengatakan perjalanan umat Allah adalah perjalanan meniti dua sayap: rohani dan sosial. Sayap rohani yaitu Gereja tubuh Kristus, umat Allah dipanggil kepada kekudusan dan keselamatan. Sedangkan sayap sosial yaitu Gereja adalah mistik sosial atau politis, umat manusia yang konkret dan aktual di tengah hidup bermasyarakat. Maka dari itu, sayap rohani perlu diimbangi dengan sayap sosial, yakni bahwa iman harus diwujudkan secara aktual dan konkret dalam realitas hidup bermasyarakat.

Berdasarkan jawaban prodiakon, mereka sangat setuju Gereja sebagai paguyuban umat beriman dipanggil untuk hidup dalam semangat persaudaraan, persatuan, saling mengasihi, tolong menolong, rela berkorban, jujur, adil, dan toleransi. Dalam pelaksanaannya, prodiakon berusaha untuk dapat mengedepankan sikap pelayanan tanpa pamrih, tidak membeda -bedakan status sosial dan golongan umat yang akan dilayani.

Selain itu, Madya Utama (2014: 4-5) mengatakan penghayatan Ekaristi dalam hidup sehari-hari merupakan bagian dari Gereja sebagai mistik politis yang mendorong adanya perubahan hidup, baik personal maupun sosial. Oleh sebab itu, prodiakon diingatkan dan diajak un tuk menyiapkan ruang bagi orang lain yang membutuhkan pertolongan, memberikan rasa aman, dan membuat dunia menjadi lebih ramah dan bersahabat. Selain itu, prodiakon yang telah disegarkan dan dikenyangkan oleh Tubuh dan darah Kristus sejatinya mengalami transformasi kehidupan dan menjadi pribadi yang Ekaristis.

Berdasarkan jawaban prodiakon, menghayati Ekaristi dalam hidup sehari-hari mereka perjuangkan dengan membangun semangat persaudaraan, persatuan dan kepedulian terhadap sesama tanpa membedakan suku, a gama, rasa dan antar golongan. Ekaristi tidak sekedar menjadi ritual keagamaan, melainkan perayaan iman yang mendorong prodiakon untuk semakin bertumbuh dalam iman, pengharapan dan kasih. Ekaristi juga menjadi jembatan untuk membangun persaudaraan dan kepedulian terhadap sesama umat manusia.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan di atas, penulis berpendapat prodiakon di Paroki Kristus Raja Barong Tongkok telah menghayati spiritualitas hidup Kristiani dengan cukup mendalam. Penghayatan spiritualitas hidup Kristiani didasari pada panggilan menjadi murid Kristus, hidup dalam semangat Roh, mengarahkan diri pada kekudusan dengan menghayati hidup rohani, hidup dalam semangat persaudaraan dan

persatuan, serta meneladani sikap dan semangat Kristus dalam hidup sehari-hari di tengah keluarga, Gereja dan masyarakat.

c. Faktor Pendukung dan Penghambat Dalam Menghayati Spiritualitas Hidup Kristiani

Dokumen terkait