BAB II LANDASAN TEORITIS
2.2 Pendamping
2.2.1 Pengertian Pendamping
Pendamping merupakan suatu aktivitas yang bermakna pembinaan, pengajaran, pengarahan yang lebih berkontasi pada menguasai, mengendalikan dan mengontrol. Istilah pendampingan berasal dari kata damping yang berarti memberikan pembinaan dengan menggangap posisi yang didampingi sejajar dengan pendamping. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah damping berarti dekat, karib, rapat.
Pendampingan merupakan upaya mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki keluarga dan sosialnya untuk mencapai kualitas kehidupan keluarga lebih baik ( Primahendra, 2002 : 38 ). Pendampingan pelayanan yang diberikan kepada keluarga yang masih memerlukan penanganan lebih lanjut dikarenakan oleh permasalahan yang dihadapi. Pendampingan dilaksanakan untuk memfasilitasi proses pengambilan keputusan berbagai kegiatan yang terkait dengan pemberdayaan keluarga. Dalam pendampingan, diperlukan ketersediaan tenaga pendamping yang mempunyai kualifikasi sebagai fasilitator, komunikator bagi keluarga yang memerlukan pelayanan. Tenaga pendamping dapat berasal dari tenaga pendamping lokal diwilayah setempat maupun tenaga pendamping yang berasal dari luar ( LSM atau perguruan tinggi sebagai memenuhi kualifikasi sebagai pendamping ). ( Depsos, 2009 : 23 ).
Pendamping sebagai suatu strategi umum digunakan oleh pemerintah dan lembaga non profit dalam upaya peningkatan mutu dan kualitas sumber daya manusia, sehingga mampu mengindentifikasi dirinya sebagai bagian dari permasalahan yang dialami dan berupaya untuk mencari alternatif pemecahan
masalah yang dihadapi. Kemampuan sumber daya manusia sangat dipengaruhi oleh keberdayaan dirinya sendiri. Oleh karena itu sangat dibutuhkan kegiatan pemberdayaan disetiap kegiatan pendampingan. Suharto menguraikan bahwa pendampingan merupakan suatu strategi yang sangat menentukan keberhasilan program pemberdayaan masyarakat.
2.2.2 Syarat Pendamping
Sebutan pendamping dalam sistem hukum Indonesia dikenal sejak diundangkannya Undang-Undang No.23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak.
Pendamping menurut pasal 1(2) adalah pekerja sosial yang mempunyai kompetensi profesional dibidangnya. Istilah pendamping ini juga ditemukan dalam pasal 17 tentang Pengahapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT) bahwa “relawan pendamping adalah orang yang mempunyai keahlian melakukan konseling, terapi dan advokasi guna penguatan dan pemulihan diri korban kekerasan.
Menurut Depertemen Sosial pendamping bagi anak harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Usia Minimal 21 tahun dan memiliki kecakapan dalam pendampingan
b. Pekerja sosial atau relawan (tenaga kesejahteraan sosial masyarakat) yang telah mengikuti pelatihan/pemantapan pendampingan anak.
c. Memiliki kepedulian tinggi terhadap anak.
d. Terampil dalam berkomunikasi.
2.2.3 Tugas Pendamping
Sebagai seorang pendamping, mereka memiliki tugas untuk melakukan pendekatan awal (intake) yang meliputi kontak dan kesepakatan:
1. Melakukan penggungkapan dan pemahaman masalah penerima manfaat (assment), mendengarkan keluhan, kekhawatiran ataupun kesulitan yang dipahami oleh anak.
2. Membuat renacana pendamping dan membantu untuk merancang sendiri langkah-langkah pemecahan masalah yang dialaminya yang berkaitan dengan pemulihan pisikologisnya.
3. Melakukan pendampingan diantaranya adalah:
a. Memberikan bimgbingan serta motivasi agar penerima manfaat mampu untuk mengatasi masalah yang dialaminya.
b. Melaksanakan pengembangan kemampuan penerima manfaat baik sebagai individu maupun sebagai kelompok dengan mendayagunakan sumber dan potensi yang dimiliki anak.
c. Membantu dalam penyaluran informasi dan kemudahan lainya yang dibutuhkan untuk meningkatkan potensi yang dimiliki anak.
d. Mengkaitkan penerima manfaat dengan sistem sumber yang dibutuhkan.
e. Mengadakan sidang kasus/secara rutin dan berkala antar pendamping terkait atau melengakapi kekurangan masing-masing.
4. Melakukan evaluasi secara berkala.
5. Melakukan rujukan kepada keluarga / lembaga / profesi lain yang lebih berkompeten sesuai dengan kepentingan anak dan juga kebutuhan anak.
2.2.4 Peran Pendamping
Menurut Depertemen Sosial (2007:13) dalam penangan anak, peran pendamping sangatlah dibutuhkan. Peran yang dimiliki harus mencerminkan prinsip metode pekerja sosial, adapun berbagai peranan yang dapat ditampilkan
oleh para pendamping antara lain:
1. Mediator (mediator)
Pendamping berperan sebagai penerima manfaat dengan sistem sumber yang ada baik formal maupun informal.
2. Pemungkin (enabler)
Pendamping berperan memberikan kemudahan kepada penerima manfaat untuk memahami masalah, kebutuhan, potensi yang dimilikinya, dan menggembangkan upaya penyelesian masalah.
3. Pemberi motivasi (motivator)
Pendamping berperan memberikan rangsangan dan dorongan semangat kepada penerima manfaat untuk bersikap positif, sehingga dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya.
4. Pembela (Adokator)
Pendamping melakukan pembelaan pada penerima manfaat yang mendapatkan perlakuan tidak adil. Pendamping sebagai pembela pada dasarnya berfokus pada anak, mendampingin penerima manfaat, mengembangkan peranan , tugas dan sistem yang berlaku serta melakukan advokasi kebijakan yang berpihak pada kepentingan terbaik anak.
2.2.5 Fungsi Pendamping
a. Penyuluhan sosial, merupakan kegiatan penyampaian pesan atau informasi kepada perorangan, keluarga, kelompok maupun masyarakat agar penerima informasi tahu, mau, dan mampu melaksanakan suatu tindakan.
b. Fasilitas, memberikan berbagai kemudahan kepada keluarga dalam usaha mewujudkan kesejahteraan keluarga.
c. Advokasi, memberikan bantuan dan perlindungan dari adanya hambatan atau masalah.
d. Kemitraan, membangun jalinan kemitraan daam rangka memecahkan permasalahan yang dihadapi.
e. Aksibilitas, memberikan berbagai alternatif kemudahan untuk menjalankan kemudahan sumber - sumber pelayanan. ( kemensos 2010:34 ).
2.2.6 Prinsip Pendamping
a. Prinsip Berkelanjutan, seluruh kegiatan penumbuhan dan pengembangan diorientasikan pada terciptanya sistem dan mekanisme yang mendapat pemberdayaan keluarga secara berkelanjutan. Berbagai kegiatan dilakukan merupakan kegiatan yang memiliki potensi untuk berkelanjutan dikemudian hari.
b. Prinsip Keswadayaan, masyarakat diberi motivasi dan didorong untuk maju atas dasar kemauan dan kemampuan mereka sendiri dan tidak selalu terpengaruh pada bantuan dari luar.
c. Prinsip Kesatuan Keluarga, masyarakat tumbuh dan berkembang sebagai kesatuan keluarga yang utuh. Kepala keluarga beserta anggota merupakan pendorng kemajuan usaha.Prinsip ini menuntut para pendamping untuk memberdayakan seluruh anggota keluarga berperan sehingga meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan.
d. Prinsip belajar menemukan sendiri, keluarga bertumbuh kembang atas kemauan dan kemampuan mereka untuk belajar menemukan sendiri apa yang mereka butuhkan dan apa yang akan mereka kembangkan, termasuk untuk mengubah kehidupannya. (Kemensos 2010:36).
2.2.7 Kualifikasi Pendamping
a. Tokoh adat, agama, masyarakat dan LKS.
b. Memiliki pengalaman dan melaksanakan pemberdayaan keluarga
c. Memiliki pengetahuan bidang pekerjaan sosial melalui pendidikan normal d. Memiliki kemampuan berkomunikasi dan menjalin relasi sosial.
e. Memiliki komitmen, profesional, serta kematangan dalam pelksanaan pekerjaan.
f. Memiliki kemauan yang sangat kuat untuk membagi apa yang dianggapnya baik bagi sesama (orang lain)
g. Memiliki kemampuan untuk melakukan interaksi atau membangun hubungan dengan setiap keluarga
h. Memiliki kemampuan berorganisasi dan mengembangkan kelembagaan (Kemensos 2010:37).