BAB II : KAJIAN KEPUSTAKAAN
8. Pendampingan Penyelenggaraan Pemerintah Desa
Dalam konteks masyarakat yang mengalami krisis, pendampingan sangat dibutuhkan untuk melakukan pemulihan. Pendamping menjadi fasilitator yang mengambil peran sebagai perantara atau katalisator yang mempercepat proses belajar dan peningkatan kesejahteraan.58 Fasilitasi yang dilakukan pendamping meliputi: pertama, membina masyarakat yang mengalami krisis menjadi suatu kolektivitas yang berorientasi pada perbaikan kehidupan; kedua, sebagai pemandu, penghubung dan penggerak (dinamisator) dalam pembentukan kelompok masyarakat dan pembimbing pengembangan kegiatan kelompok.
Pendampingan dan fasilitasi dilakukan untuk mendorong partisipasi aktif kepala Desa Panggak Laut yang berorientasi pada proses pemberdayaan dan sustainabilitas.
Seorang fasilitator memiliki berbagai cara dalam menghadapi masyarakat dan perubahannya. Kecakapan dalam menghadapi pelbagai situasi ini membutuhkan etos kepemimpinan, termasuk kepemimpinan dalam mengatasi konflik yang terjadi di masyarakat. Ada beberapa model untuk menggambarkan karakter-karakter kepemimpinan fasilitator dalam masyarakat, di antaranya Diamond Model, karakter kepemimpinan transformatif dimana tindakan-tindakan fasilitator didasari oleh beberapa asumsi, yaitu vision, courageness, reality, dan ethics. Keempat asumsi itu digunakan fasilitator dalam menghadapi perubahan situasi dan dinamika yang terjadi di masyarakat. Model ini mendorong kinerja tim dalam menghadapi berbagai tantangan dan peluang yang ada.
58 Sumpeno, W. 2009. Fasilitator Genius Kiat Efektif Mendampingi Masyarakat. Jakarta:
Pimpinan Pusat Relawan Pemberdayaan Nusantara (PP-RPDN). Hal. 3.
Pendampingan dan fasilitasi kadang berjalan secara parallel dalam bentuk dukungan berupa dana, tenaga, peralatan, dan metodologi dalam berbagai program pembangunan dan pengentasan kemiskinan. Pendampingan dilakukan untuk menumbuhkan partisipasi dan kemandirian masyarakat. Oleh karena itu, pendamping dituntut memiliki keahlian dan kompetensi untuk mentransfer pengetahuan kepada masyarakat agar berdaya. Beberapa keahlian yang wajib dimiliki pendamping adalah kemampuan menggali potensi dan kebutuhan masyarakat, memecahkan masalah, mengajak masyarakat untuk berpikir, membangun jaringan kerja, mengajari kemandirian dan pengambilan keputusan, dapat menghayati kebutuhan masyarakat, menyadari kekuatan dan kelemahan diri, bekerja dengan penuh tanggung jawab, dan professional. Secara umum, ada enam karakter yang melekat pada seorang pendamping atau fasilitator :59
1. Pembelajar, fasilitator berperan dalam membangun proses yang membuat parapihak yang berkonflik dapat mengidentifikasi dan menentukan preferensi dalam penyelesaian konflik serta menemukan aspek-aspek yang dijadikan pembelajaran;
2. Mediator, menjadi pihak ketiga yang netral dalam membangun suasana egaliter dan dialogis antarpihak;
59 Op. Cit. Sumpeno. Hal. 55
3. Kreatif dan Inovatif, menorong upaya menemukan formulasi penyelesaian konflik secara kreatif dan inovatif sehingga menghasilkan keputusan yang bermanfaat bagi semua pihak;
4. Narasumber, menguasai sesuatu isu atau topic tertentu yang menjadi keahliannya yang digunakan sebagai masukan kepada parapihak untuk dipertimbangkan;
5. Perubah, mendorong pihak-pihak yang terlibat dalam permasalahan untuk membangun visi dan harapan masa depan yang lebih baik;
6. Negosiator, dapat mengajukan penawaran dan konsesi agar-agar masing-masing pihak yang ditengahi dapat menemukan titik sepakat dengan cara sharing dan distribusi sumber daya untuk penyelesaian permasalahan.
Dalam konteks pengembangan masyarakat, pendampingan haruslah berdasarkan pada pemahaman terhadap komunitas tersebut. Seorang pendamping harus mengenali dengan baik situasi dan kondisi komunitas tersebut. Termasuk di dalamnya adalah memahami mekanisme hingga stakeholders sampai kepada konsep pengembangan komunitas. Dalam hal ini asumsinya adalah stakeholder memiliki konsep/pemahaman yang sama mengenai pengembangan komunitas.
Dengan kata lain, pendamping membangun pemahaman bersama stakeholder lain mengenai pengembangan komunitas.
Dengan pemahaman bersama mengenai pengembangan komunitas tersebut, maka lingkup profesionalisme pendampingan dilaukan. Pertanyaanya adalah,
siapa dalam komunitas tersebut yang akan di damping? Ini berkenaan dengan kebutuhan memfasilitasi. Pendampingan yang akan dilakukan, yakni : (1) pendekatan menolong diri sendiri (self-help); (2) pendampingan teknik (technical assistance); dan (3) pendekatan konflik (lihat Tabel 2).60
Pendekatan pertama adalah menolong diri sendiri. Masyarakat menjadi partisipan yang berarti dalam proses pembangunan dan melakukan kontrol dalam kegiatan pengembangan komunitas. Pendamping menjadi fasilitator, sedangkan anggota komunitas memegang tanggung jawab utama dalam: (1) memutuskan apa yangm nejadi kebutuhannya; (2) bagaimana memenuhi kebutuhan itu; dan (3) mengerjakannya sendiri.61
Tabel II.1. Matrik antara Pilihan Pendekatan dalam Proses Pendampingan dan Pengembangan Masyarakat (Komunitas)
Sumber : Buku Pengembangan Masyarakat (Fredian Tonny Nasdian)
Pendekatan kedua adalah pendampingan teknik, yang mendasarkan pada perkiraan kebutuhan oleh para perencana yang dapat mengantarkan dan mengevaluasi proses pengembangan masyarakat. Perencana seolah-olah ditugasi
60 Tonny, Nasdian, Fredian. 2014. Pengembangan Masyarakat (Cetakan Pertama). Yayasan Pustaka Obor. Kakarta. Hal : 106.
61 Ibid
oleh masyarakat setempat untuk mengembangkan sikat rasionalitas mereka.
Pengembangan masyarakat dari perspektif ini bersifat spesifik mencakup pengembangan individu, kelompok, organisasi, dan kelembagaan.
Pendekatan ketiga adalah pendekatan konflik. Pendekatan ini menekankan pada usaha-usaha untuk menyadarkan masyarakat bahwa apa yang baik dilakukan oleh orang tua adalah baik juga untuk dilakukannya. Oleh karena itu anggota komunitas akan berusaha untuk berbuat yang sama dengan referensi grupnya.
Dalam konteks pengembangan komunitas, maka pendampingan dilakukan dengan teknik propaganda sedemikian rupa sehingga anggota komunitas menyadari apa yang menjadi ketertinggalannya dengan komunitas lain.
Adanya kemampuan diri sendiri dan berfungsinya pendampingan akan mengefektifkan pendekatan ketiga, yakni pendekatan konflik dalam pengertian memacu persaingan yang sehat pada setiap organisasi petani. Salah satu bentuk persaingan itu misalnya, berwujud bantuan dana pendampingan sebesar jumlah dana yang telah dimiliki oleh kelompok, atau membantu membiayai penuh setengah dari luas lahan yang digarapnya, yang diharapkan berdampak pada penggunaan dana sendiri (swadana) bagi lahan sisa. Dengan kata lain, bantuan dalam bentuk sarana berorganisasi atau sarana produksi atau sumbangan dalam bentuk natura lainnya yang menunjang kinerja kelompok, khusunya bagi kelompok yang telah menunjukkan kemajuan awal.
Strategi konflik yang lain yang dapat dipakai adalah menjelaskan standar-standar yang harus dicapai oleh anggota komunitas untuk mencapai kebutuhan normatif, dan mengajak komunitas untuk secara bersama-sama mencari jalan
keluar untuk mencapai standar normatif itu. Berdasarkan uraian di atas, maka memfasilitasi merupakan bagian dari suatu proses pendampingan. Istilah memfasilitasi mencakup mengantarkan petani ke dalam pola perilaku.