BAB II TINJAUAN TEORITIS
2.6 Pendampingan Sosial
Pendampingan sosial dapat diartikan sebagai interaksi dinamis antara kelompok miskin dan pekerja sosial untuk secara bersama-sama menghadapi beragam tantangan seperti (Suharto, 2005):
a. merancang program perbaikan kehidupan sosial ekonomi b. memobilisasi sumberdaya setempat
c. memecahkan masalah sosial
d. menciptakan atau membuka akses bagi pemenuhan kebutuhan.
e. Menjalin kerjasama dengan berbagai pihak yang relevan dengan konteks pemberdayaan masyarakat.
Merujuk pada Payne (1986) dalam Suharto (2005), prinsip utama pendampingan sosial adalah “making the best of the client’s resourcers”. Klien dipandang sebagai sistem sosial yang memiliki kekuatan positif dan bermanfaat bagi proses pemecahan masalah. Bagian dari
pendekatan pekerjaan sosial adalah menemukan sesuatu yang baik dan membantu klien memanfaatkan hal tersebut. Pendampingan sosial berpusat pada 4 bidang tugas atau fungsi yakni:
a. Pemungkinan (enabling) atau fasilitasi
Merupakan fungsi yang berkaitan dengan pemberian motivasi dan kesempatan bagi masyarakat. Beberpa tugas pekerja sosial yang berkaitan dengan fungsi ini antara lain menjadi contoh, melakukan mediasi dan negosiasi, membangun konsensus bersama, serta melakukan manajemen sumber. Pekerja sosial terpanggil untuk mampu memobilisasi dan mengkoordinasi sumber-sumber yang sulit terjangkau masyarakat karena alasan ekonomi maupun birokrasi agar dapat terjangkau. Pengertian manajemen juga meliputi pembimbingan, kepemimpinan dan kolaborasi dengan pengguna atau penerima program PM.
Dengan demikian, tugas utama pekerja sosial dalam manajemen sumber adalah menghubungkan klien dengan sumber-sumber sedemikian rupa sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri klien maupun kapasitas pemecahan masalahnya.
b. Penguatan
Fungsi ini berkaitan dengan pendidikan dan pelatihan guna memperkuat kapasitas masyarakat (capacity building). Pendamping berperan aktif sebagai agen yang memberi masukan positif dan direktif berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya serta bertukar gagsan dengan pengetahuan dan pengalaman masyarakat yang didampinginya. Membangkitkan kesadran masyarakat, menyampaikan informasi, melakukan konfrontasi, menyelenggarakan pelatihan bagi masyarakat adalah beberapa tugas yang berkaitan dengan fungsi penguatan.
c. Perlindungan
Fungsi ini berkaitan dengan interaksi antara pendamping dengan lembaga-lembaga eksternal atas nama dan demi kepentingan masyarakat dampingannya. Pekerja sosial dapat
bertugas mencari sumber-sumber, melakukan pembelaan, menggunakan media, meningkatkan hubungan masyarakat, dan membangun jaringan kerja. Fungsi perlindungan juga menyangkut tugas pekerja sosial sebagai konsultan dan orang yang bisa diajak berkonsultasi dalam proses pemecahan masalah.
d. Pendukungan
Mengacu pada aplikasi keterampilan yang bersifat praktis yang dapat mendukung terjadinya perubahan positif pada masyarakat. Pendamping dituntut tidak hanya mampu menjadi manajer perubahan yang mengorganisasi kelompok, melainkan pula mampu melaksanakan tugas-tugas teknis sesuai dengan berbagai keterampilan dasar seperti melakukan analisasi sosial, mengelola dinamika kelompok, menjalin relasi, bernegosiasi, berkomunikasi dan mencari serta mengatur sumber dana.
Mengacu pada Parson (1994) dalam Suharto (2005) terdapat beberapa peran pekerja sosial dalam pembimbingan sosial yang akan melakukan pendampingan sosial yakni:
a. Fasilitator
Barker (1987) dalam Suharto (2005) memberi definisi pemungkinan atau fasilitator sebagai tanggung jawab untuk membantu klien menjadi mampu menangani tekanan situasional atau transisional.
b. Broker
Pemahaman pekerja sosial yang menjadibroker mengenai kualitas pelayanan sosial di sekitar lingkungannya menjadi sangat penting dalam memenuhi keinginan kliennya memperoleh keuntungan maksimal. Parson (1994) dalam Suharto (2005) menerangkan tiga kata kunci dalam pelaksanaan peran sebagaibroker yaitu:
- Lingking adalah proses menghubungkan orang dengan lembaga-lembaga atau pihak-pihak lainnya yang memiliki sumber-sumber yang diperlukan, memperkenalkan klien
dan sumber referal, tindak lanjut pendistribusian sumber dan menjamin bahwa barang-barang dan jasa dapat diterima oleh klien.
- Goods adalah barang-barang nyata seperti makanan, uang, pakaian dll. Sedangkan service mencakup keluaran pelayanan lembaga yang dirancang untuk memnuhi kebutuhan hidup klien, misalnya perawatan kesehatan, pendidikan, pelatihan, konseling, pengasuhan anak dll.
- Quality control adalah proses pengawasan yang dapat menjamin bahwa produk-produk yang dihasilkan lembaga memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan.
c. Mediator
Pekerja sosial sebagai mediator diperlukan terutama pada saat terdapat perbedaan yang mencolok dan mengarah pada konflik antara berbagai pihak. Kegiatan yang dapat dilakukan seperti kontrak perilaku, negosiasi, pendamaian pihak ketiga serta berbagai macam resolusi konflik.
d. Pembela
Peran pembelaan merupakan salah satu praktek pekerjaan sosial yang bersentuhan dengan kegiatan politik. Peran pembelaan dapat dibagi dua yakni advokasi kasus dan advokasi kausal. Apabila pekerjaan sosial melakukan pembelaan atas nama seorang klien secara individual maka ia berperan sebagai pembela kasus. Pembelaan kausal terjadi manakala klien yang dibela pekerja sosial bukanlah individu melainkan sekelompok anggota masyarakat.
Kegiatan pendampingan sosial melibatkan dua strategi utama yakni pelatihan dan advokasi (pembelaan masyarakat). Terdapat lima aspek penting yang dapat dilakukan dalam
melakukan pendampingan sosial khususnya melalui pelatihan dan advokasi terhadap masyarakat yakni (Adi, 2003):
a. Motivasi
Masyarakat didorong agar dapat memahami nilai kebersamaan, interaksi sosial dan kekuasaan melalui pemahaman akan haknya sebagai warga negara dan anggota masyarakat. Pembentukan kelompok merupakan mekanisme kelembagaan penting untuk melaksanakan kegiatan pengembangan masyarakat. Kelompok dimotivasi untuk terlibat dalam kegiatan peningkatan pendapatan dengan menggunakan sumber-sumber dan kemampuan mereka sendiri.
b. Peningkatan kesadaran dan pelatihan kemampuan
Peningkatan kesadaran dapat dilakukan melalui pendidikan dasar, pemasyarakatan imunisasi dan sanitasi. Keterampilan vokasional dapat dilakukan dengan cara-cara partisipatif, pengetahuan lokal dapat digabungkan dengan pengetahuan luar melalui pelatihan. Hal ini dapat membantu masyarakat menciptakan mata pencaharian atau membantu meningkatkan keahlian mereka untuk mencari pekerjaan di luar wilayahnya.
c. Manajemen diri
Kelompok harus mampu mengatur kelompoknya sendiri. Pada tahap awal, pendamping dari luar dapat membantu mereka dalam mengembangkan sebuah sistem. Kelompok kemudian dapat diberi wewenang penuh untuk melaksanakan dan mengatur sistem tersebut.
d. Mobilisasi sumber
Merupakan metode menghimpun sumber-sumber individual melalui tabungan reguler dan sumbangan sukarela dengan tujuan menciptakan modal sosial. Pengembangan sistem
penghimpunan, pengalokasian dan penggunaan sumber perlu dilakukan secara cermat sehingga semua anggota memiliki kesempatan yang sama. Hal ini dapat menjamin kepemilikan dan pengelolaan secara berkelnjutan.
e. Pembangunan dan pengembangan jaringan
Pengorganisasian kelompok-kelompok swadaya masyarakat perlu disertai dengan peningkatan kemampuan para anggotanya dalam membangun dan mempertahankan jaringan dengan berbagai sistem sosial disekitarnya. Jaringan ini sangat penting dalam menyediakan dan mengembangkan berbagai akses terhadap sumber dan kesempatan bagi peningkatan keberdayaan masyarakat miskin.