Dalam pemberian bantuan hukum yang bersifat cuma-cuma kepada masyarakat yang kurang mampu, persoalan mengenai dana mempunyai pengaruh yang cukup penting dalam menentukan pengembangannya. Artinya, untuk berhasilnya pengembangan suatu program bantuan hukum, diperlukan sejumlah dana tertentu yang merupakan salah satu faktor penentu utama berhasil atau tidaknya suatu program bantuan hukum.
100
Sebelum lahirnya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 Tentang Bantuan Hukum, banyak terjadi perdebatan mengenai darimanakah dana untuk melaksanakan bantuan hukum diperoleh. Seringkali terjadi kesalahpahaman dimana banyak yang beranggapan bahwa segala sesuatunya dapat diserahkan begitu saja kepada Lembaga/Biro Bantuan Hukum yang ada dengan pemikiran bahwa Lembaga/Biro tersebut akan membantu orang yang termasuk dalam golongan tidak mampu.101
Ketua DPC PERADIN DKI, Yan Apul Girsang, menceritakan bahwa pada masa lalu seringkali advokat-advokat menyisihkan sebagian dana yang diperoleh dari kliennya yang kaya untuk membela orang yang miskin secara gratis.
102
Selain itu, berdasarkan pertimbangan implikasi politis dan ekonomis yang diperhitungkan dalam pemberian dana bantuan hukum, para pengurus LBH ketika itu berpaling kepada penyandang dana di luar negeri untuk membiayai pemberian bantuan hukum cuma-cuma.103
Hal ini sangat memprihatinkan mengingat bahwa bantuan hukum sebenarnya merupakan salah satu bentuk tanggung jawab negara kepada rakyatnya, terutama fakir miskin, sebagaimana yang dirumuskan dalam Pasal 34 Undang-Undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Untuk menjawab persoalan-persoalan yang timbul akibat pendanaan bantuan hukum dan persoalan pemberian bantuan hukum pada umumnya, maka
101 Abdurrahman, Op. cit., hlm. 293.
102 Ibid, hlm. 294.
103 Frans Hendra Winata, Advokat Indonesia – Citra, Idealisme, dan Keprihatinan, Op.
pemerintah membentuk Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 Tentang Bantuan Hukum.
Dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 ini, pengaturan mengenai pendanaan bantuan hukum diatur dalam Bab VII Tentang Pendanaan dalam Pasal 16 sampai dengan Pasal 18.
“(1) Pendanaan bantuan hukum yang diperlukan dan digunakan untuk penyelenggaraan bantuan hukum sesuai dengan Undang-Undang ini dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;
Pasal 16
(2) Selain pendanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sumber pendanaan bantuan hukum dapat berasal dari:
a. hibah atau sumbangan; dan/atau
b. sumber pendanaan lain yang sah dan tidak mengikat.”
“(1) Pemerintah wajib mengalokasikan dana penyelenggaraan
bantuan hukum dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;
Pasal 17
(2) Pendanaan bantuan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dialokasikan pada anggaran kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum dan hak asasi manusia.”
“Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyaluran dana
bantuan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) kepada pemberi bantuan hukum diatur dengan Peraturan Pemerintah.”
Pasal 18
Untuk melaksanakan perintah Pasal 18 tersebut, pemerintah membentuk Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2013 Tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum dan Penyaluran Dana Bantuan Hukum. Dalam
Peraturan Pemerintah tersebut diatur dalam Pasal 18 dan 19 bahwa pendanaan bantuan hukum dibebankan pada APBN dan APBD untuk daerah serta dari hibah atau bantuan lain yang tidak mengikat.
Prosedur pendanaan pemberian bantuan hukum diatur dalam Pasal 21 sampai dengan Pasal 29. Prosedur diawali dengan penetapan standar biaya Anggaran Bantuan Hukum yang diusulkan Menteri Hukum dan HAM kepada Menteri Keuangan. Apabila disetujui, selanjutnya pemberi bantuan hukum dapat mengajukan rencana Anggaran Bantuan Hukum kepada Menteri Hukum dan HAM pada tahun anggaran sebelum tahun anggaran pelaksanaan bantuan hukum yang paling sedikit memuat:
a. Identitas pemberi bantuan hukum;
b. Sumber pendanaan pelaksanaan bantuan hukum, baik yang bersumber dari APBN maupun non-APBN; dan
c. Rencana pelaksanaan bantuan hukum litigasi dan non-litigasi sesuai dengan misi dan tujuan pemberi bantuan hukum.
Dalam hal pengajuan rencana Anggaran Bantuan Hukum dinyatakan memenuhi persyaratan, Menteri akan menetapkan Anggaran Bantuan Hukum yang dialokasikan untuk pemberi bantuan hukum. Menteri dan pemberi bantuan hukum menindaklanjuti penetapan Anggaran Bantuan Hukum dengan membuat perjanjian pelaksanaan bantuan hukum. Dalam hal ini, Menteri berwenang menetapkan perubahan alokasi Anggaran Bantuan Hukum kepada pemberi bantuan hukum apabila berdasarkan pertimbangan tertentu diperlukan penyesuaian atas pagu anggaran pelaksanaan bantuan hukum.
Dalam penetapan Anggaran Bantuan Hukum, diadakan pembedaan antara dana bagi bantuan hukum litigasi dan non-litigasi. Penyaluran dana bantuan hukum litigasi dilakukan setelah pemberi bantuan hukum menyelesaikan perkara pada setiap tahapan proses beracara dan pemberi bantuan hukum menyampaikan laporan yang disertai dengan bukti pendukung. Sedangkan penyaluran dana bantuan hukum non-litigasi dilakukan setelah pemberi bantuan hukum menyelesaikan paling sedikit 1 (satu) kegiatan dalam paket kegiatan non-litigasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat 3 dan menyampaikan laporan yang disertai dengan bukti pendukung.104
Selain pendanaan, hal yang juga penting untuk diperhatikan dan diketahui, terutama oleh masyarakat yang tidak mampu, adalah mengenai tata cara pengajuan permohonan dan pemberian bantuan hukum. Sebagaimana mengenai pendanaan, prosedur pemberian bantuan hukum juga diatur dalam Pasal 14 dan Pasal 15 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 Tentang Bantuan Hukum dan dilaksanakan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2013 Tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum dan Penyaluran Dana Bantuan Hukum dalam Pasal 3 sampai dengan Pasal 15.
Untuk memperoleh bantuan hukum, pemohon bantuan hukum harus memenuhi syarat sebagai berikut.
1. Mengajukan permohonan secara tertulis yang berisi paling sedikit identitas pemohon bantuan hukum dan uraian singkat mengenai pokok persoalan yang dimohonkan bantuan hukum;
104 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2013 Tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum dan Penyaluran Dana Bantuan Hukum: Pasal 18, Pasal 19, Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23, Pasal 24, Pasal 25, Pasal 26, Pasal 27, Pasal 28, Pasal 29.
2. Menyerahkan dokumen yang berkenaan dengan perkara; dan
3. Melampirkan surat keterangan miskin dari Lurah, Kepala Desa, atau pejabat yang setingkat di tempat tinggal pemohon bantuan hukum kepada pemberi bantuan hukum.
Dalam hal pemohon bantuan hukum tidak memiliki identitas, pemberi bantuan hukum membantu pemohon bantuan hukum dalam memperoleh surat keterangan alamat sementara dan/atau dokumen lain dari instansi yang berwenang sesuai domisili pemberi bantuan hukum.
Apabila pemohon bantuan hukum tidak memiliki surat keterangan miskin, maka pemohon bantuan hukum dapat melampirkan Kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat, Bantuan Langsung Tunai, Kartu Beras Miskin, atau dokumen lain sebagai pengganti surat keterangan miskin. Apabila tetap tidak ada juga, maka pemberi bantuan hukum membantu pemohon bantuan hukum dalam memperoleh persyaratan tersebut.
Bagi pemohon bantuan hukum yang tidak mampu menyusun permohonan secara tertulis dapat mengajukan permohonan secara lisan. Dalam hal permohonan bantuan hukum diajukan secara lisan, pemberi bantuan hukum menuangkan dalam bentuk tertulis yang kemudian ditandatangani atau dicap jempol oleh pemohon bantuan hukum.
Pemberi bantuan hukum wajib memeriksa kelengkapan persyaratan yang diajukan oleh pemohon bantuan hukum dalam waktu paling lama 1 (satu) hari kerja setelah menerima berkas permohonan bantuan hukum. Apabila permohonan bantuan hukum telah memenuhi persyaratan, pemberi bantuan hukum wajib
menyampaikan kesediaan atau penolakan secara tertulis atas permohonan tersebut dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja terhitung sejak permohonan dinyatakan lengkap.
Apabila pemberi bantuan hukum menyatakan kesediaannya, maka pemberi bantuan hukum memberikan bantuan hukum berdasarkan surat kuasa khusus dari penerima bantuan hukum. Dalam hal permohonan bantuan hukum ditolak, pemberi bantuan hukum wajib memberikan alasan penolakan secara tertulis dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja terhitung sejak permohonan dinyatakan lengkap.
Pemberian bantuan hukum oleh pemberi bantuan hukum kepada penerima bantuan hukum meliputi masalah hukum keperdataan, masalah hukum pidana, dan masalah hukum tata usaha negara, baik secara litigasi maupun non-litigasi. Pemberian bantuan hukum secara litigasi dilakukan oleh advokat yang berstatus sebagai pengurus pemberi bantuan hukum dan/atau advokat yang direkrut oleh pemberi bantuan hukum.
Pemberian bantuan hukum oleh pemberi bantuan hukum kepada penerima bantuan hukum diberikan hingga masalah hukumnya selesai dan/atau perkaranya telah mempunyai kekuatan hukum tetap, selama penerima bantuan hukum tersebut tidak mencabut surat kuasa khusus.105
105 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2013 Tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum dan Penyaluran Dana Bantuan Hukum: Pasal 3, Pasal 5, Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, Pasal 12, Pasal 13, Pasal 14, Pasal 15.