• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.7 Pendapat Ekonom Tentang Uang

Menurut Ibnu Khaldun, uang tidak selalu indentik dengan kesejahteraan tetapi hanya alat dimana kesejahteraan akan diraih. Berkaitan tentang fungsi uang, menurutnya uang memiliki dua fungsi, yaitu sebagai ukuran pertukaran (standardof exchange) dan sebagai penyimpan nilai (store of value) (www.agustiantocentre.com). Bagi Ibnu Khaldun, dua logam yaitu emas dan perak, adalah ukuran nilai semua akumulasi modal. Karena logam-logam ini diterima secara alamiah sebagai uang dimana nilainya tidak dipengaruhi oleh fluktuasi subyektif. “Allah menciptakan dua (batuan) logam tersebut emas dan perak sebagai ukuran nilai semua akumulasi modal. Emas dan peraklah yang dipilih untuk dianggap sebagai harta dan kekayaan oleh penduduk dunia”. Oleh

karena itu, Ibnu Khaldun mendukung penggunaan emas dan perak sebagai standar moneter. Baginya, pembuatan uang logam hanyalah merupakan sebuah jaminan yang diberikan oleh penguasa bahwa sekeping uang logam mengandung sejumlah kandungan emas dan perak tertentu.

Percetakannya adalah sebuah kantor religious dan karenanya tidak tunduk kepada aturan-aturan temporal. Jumlah emas dan perak yang dikandung dalam sekeping koin tidak dapat diubah begitu koin tersebut sesudah diterbitkan atau diedarkan (Karim, 2006:401). Disisi lain Ibnu Khaldun menambahkan bahwa uang itu tidak harus mengandung emas dan perak, hanya saja emas dan perak dijadikan standar nilai uang. Sementara pemerintah menetapkan harganya secara konsisten. Oleh karena itu Ibnu Khaldun menyarankan agar harga emas dan perak itu konstan meskipun harga-harga lain berfluktuasi. Berdasarkan pendapat Ibnu Khaldun di atas, sebenarnya standar mata uang yang ia sarankan masih merupakan standar emas atau the gold bullion standard, yaitu ketika logam emas bukan merupakan alat tukar namun otoritas moneter menjadikan logam tersebut sebagai parameter dalam menentukan nilai tukar yang beredar. Koin emas tidak lagi secara langsung dipakai sebagai mata uang.

Dalam sistem ini diperlukan suatu kesetaraan antara uang kertas yang beredar dengan jumlah emas yang disimpan sebagai back up. Setiap orang bebas memperjual-belikan emas, sistem ini berlaku di antara tahun 1890-1914M (Amaliah, 2007:201-202).

2. Ibnu Taimiyah

Secara khusus Ibnu Taimiyah menyebutkan dua fungsi utama uang yaitu sebagai pengukur nilai dan media pertukaran bagi sejumlah barang yang berbeda.

Ia menyatakan: “Atsman (harga atau yang dibayarkan sebagai harga, yaitu uang) dimaksudkan sebagai pengukur nilai barang-barang (mi‟yar al-amwal) yang dengannya jumlah nilai barang-barang (maqadir al-amwal) dapat diketahui; dan uang tidak pernah dimaksudkan untuk diri mereka sendiri.”(Karim, 2006:373).

Pada kalimat terakhir pernyataannya tersebut (...dan uang tidak pernah dimaksudkan untuk diri mereka sendiri), sebagaimana yang diungkapkan juga oleh Al-Ghazali, menunjukkan bahwa beliau menentang bentuk perdagangan uang untuk mendapatkan keuntungan. Perdagangan uang berarti menjadikan uang sebagai komoditas yang dapat diperdagangkan, dan ini akan mengalihkan fungsi uang dari tujuan yang sebenarnya.

Dalam konsep Islam, uang tidak termasuk dalam fungsi utilitas karena manfaat yang kita dapatkan bukan dari uang itu secara langsung, melainkan dari fungsinya sebagai perantara untuk mengubah suatu barang menjadi barang yang lain. Dampak berubahnya fungsi uang dari sari sebagai alat tukar dan satuan nilai menjadi komoditi dapat kita rasakan sekarang, yang dikenal dengan teori “Bubble Gum Economic”. Namun sebenarnya dampak tersebut sudah diingatkan oleh Ibnu Taimiyah yang lahir di zaman pemerintahan Bani Mamluk tahun 1263M. Ibnu Taimiyah dalam kitabnya “Majmu’ Fatwa Syaikhul Islam” menyampaikan lima butir peringatan penting mengenai uang sebagai komoditi, yakni : (Jamaluddin, 2013:257)

1. Perdagangan uang akan memicu inflasi.

2. Hilangnya kepercayaan orang terhadap stabilitas nilai mata uang akan mengurungkan niat orang untuk melakukan kontak jangka panjang dan mendzalimi golongan masyarakat yang berpenghasilan tetap seperti pegawai atau karyawan.

3. Perdagangan dalam negeri akan menurun karena kekhawatiran stabilitas nilai uang.

4. Perdagangan internasional akan menurun.

5. Logam berharga (emas dan perak) yang sebelumnya menjadi nilai intrinsik mata uang akan mengalir keluar negeri.

3. Imam Ghazali

Imam Al-Ghazali (dalam Arman, 2010:20) menegaskan bahwa uang tidak mempunyaimanfaat pada zatnya sendiri sehingga menurutnya, uang ibarat cermin, ia tidak mempunyai warna tetapi dapat merefleksikan semua warna. Dengan kata lain, uang tidak mempunyai harga tetapi dapat merefleksikan semua harga barang.

Uang diciptakan untuk beredar dari tangan ke tangan, sehingga menjadi perantara diantara manusia.

Uang bukan komoditi dan oleh karenanya tidak dapat diperjual-belikan dengan harga tertentu. Imam Al-Ghazali juga mengatakan bahwa memperjual-belikan uang ibarat memenjarakan fungsi uang seperti yang ia katakan: “Uang Dinar dan Dirham ibarat cermin dari kepemilikan dan kekayaan. Ia berfungsi sebagai alat tukar. Jika uang dijadikan komoditi sebagaimana barang, maka hancurlah sistem perekonomian masyarakat” (Arman, 2010:40). Jika banyak uang yang diperjual-belikan niscaya hanya tinggal sedikit uang yang dapat berfungsi

sebagai uang. Bila semua uang telah digunakan untuk memperjual-belikan uang, niscaya tidak akan ada lagi uang yang berfungsi sebagai uang (Nurlaili, 2016:11).

Menurut pendapat Imam Al-Ghazali uang sebagai unit hitungan yang digunakan untuk mengukur nilai harga komoditas dan jasa serta sebagai alat penengah yang membantu proses pertukaran komoditas dan jasa (Arman, 2010:42). Secara panjang lebar, Al-Ghazali membahas fungsi uang dalam bab

“syukur” pada kitab Ihya Ulumuddin. Dalam Bab itu ia mengatakan, “Di antara nikmat Allah ialah berlakunya Dinar dan Dirham. Dengan Dinar dan Dirham itu, kehidupan dunia bisa diatur, padahal keduanya tak lebih dari logam, yakni barang yang pada asalnya tidak berguna apa-apa. Tetapi semua orang tertarik pada kedua mata uang itu, sebab setiap orang membutuhkan bermacam-macam barang untuk makan, pakaian dan kebutuhan-kebutuhan lainnya” (www.dakwatuna.com).

Merujuk pada Al-Qur’an, Al-Ghazali mengecam orang yang menimbun uang (www.dakwatuna.com). Orang demikian, dikatakannya sebagai penjahat, yang lebih buruk lagi adalah orang yang melebur Dinar dan Dirham menjadi perhiasan emas dan perak. Mereka ini dikatakannya sebagai orang yang tidak bersyukur kepada sang pencipta Allah SWT, dan kedudukannya lebih rendah dari orang yang menimbun uang. Menimbun uang berarti menarik uang secara sementara dari peredaran. Sedangkan meleburnya berarti menariknya dari peredaran untuk selamanya (www.dakwatuna.com).

Dokumen terkait