4.2 Sikap Pengadilan Negeri Terhadap Advokat Yang Tidak Dapat Menunjukkan Berita Acara Sumpah Setelah Putusan
4.2.1 Pendapat Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Sebagai Data Pembanding
Advokat yang belum disumpah bisa praktek jika tidak ada
keberatan dari pihak lawan 1
5
Organisasi PERADI dan KAI diakui dalam jangka waktu 2
tahun 7
6 Putusan Mahkamah Konstitusitidak mengikat hakim 4
7 Tidak tahu isi putusan Mahkamah Konstitusi 1
8 Tidak menjawab 7
J u m l a h 30
Sumber : Jurnal Konstitusi, volume 7, nomor 6, Desember 2010 BAGAN 6
Tanggapan Hakim Terhadap Putusan MK
4.2.1 Pendapat Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Sebagai Data Pembanding
Sebagai data pembanding mengenai pendapat dari Pengadlan Negeri atas Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 101/PUU-VII/2009, perlu kiranya di dituliskan pandangan dari Pengadilan Negeri lain selain dari Pengadilan Negeri Cirebon sebagai obyek penelitian dari penelitian ini. Data pendapat dari Pengadilan Negeri Jakarta Pusat ini didapat dari artikel yang berasal dari Varia Advokat - Volume 10 tanggal Agustus 2009.
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat berpendapat, bahwa sikap Mahkamah Agung dalam menerbitkan surat Mahkamah Agung Nomor 052/KMA/V/2009 adalah sudah tepat. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pun secara tegas mendesak agar satu wadah tunggal organisasi advokat dapat menciptakan suatu perdamaian. Dengan adanya wadah tunggal advokat itu tersebut dimaksudkan untuk memudahkan segala sesuatunya karena dampaknya ke pengadilan. Mahkamah Agung dan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mengambil sikap kalau memang sudah disumpah oleh Ketua Pengadilan Tinggi dapat diterima beracara di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan tidak akan mempersulit. Legal standingnya adalah sesuai Surat Mahkamah Agung Mahkamah Agung Nomor 052/KMA/V/2009 yaitu harus ada berita acara sumpah advokat oleh Ketua Pengadilan Tinggi maka di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat apabila tidak dipermasalahkan maka Pengadilan tutup mata dan tidak mau tahu.
Hal yang terpenting adalah sudah ada ID Pengenal Advokat maka diperbolehkan untuk beracara karena menjadi tanggung jawab organisasi Advokat masing-masing. Selain itu, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tidak mau ikut campur mengenai berita acara sumpah. Tapi sekali lagi akan muncul apabila ada pihak yang mempermasalahkan di persidangan. Apabila itu terjadi, solusinya pengadilan akan menengahi dengan menanyakan berita acara sumpah.
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat bersikap netral dan tidak akan terlibat terhadap organisasi advokat yang mengeluarkan suatu pengenal (I.D.),
asalkan sudah disumpah Ketua Pengadilan Tinggi. Masalahnya sekarang ini pengadilan tidak bias kontrol, kalau dulu bisa dikontrol. Sekarang kalau suatu organisasi mengeluarkan suatu ID, apakah itu disumpah atau tidak, pengadilan dan hakim tidak bisa mengetahuinya. Karena dalam hal ini pengadilan hanya melihat kartu pengenal advokat.
Akan menjadi permasalahan ketika nanti Advokat tersebut tidak mau menunjukkan bukti dirinya disumpah ketua Pengadilan tinggi, akan bertambah rumit lagi nanti jika lawan dari advokat yang dalam hal ini adalah Jaksa Penuntut Umum (JPU) juga minta supaya ditunjukkan juga sumpahnya. Ini akan menjadi suatu permasalahan dan akan memunculkan bahkan membuat suatu proses persidangan diluar hukum acara, dan perlu waktu lagi untuk membuktikan benar atau tidak sudah disumpah oleh Ketua Pengadilan Tinggi.
Protes-protes diatas ini akan merepotkan pengadilan, akhirnya perkara akan lebih panjang akibat muncul reaksi dari advokat. Dengan demikian seharusnya Pengadilan Jakarta Pusat tidak perlu berdebat sampai kesana karena pertengkaran akan berdampak pada proses persidangan itu sendiri dan belum tentu persoalannya terselesaikan.
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat akan mengambil solusi dengan cara menengahinya dengan melihat praktek kasus per kasus. Kalau muncul kasus, maka pengadilan akan tegas mengambil sikap dengan suatu pembuktian, apabila Terbukti Advokat yang diambil sumpahnya menyimpang dari Pasal 4 maka harus dianggap tidak sah. Jika terbukti maka
harus dikeluarkan tidak boleh mendampingi klien di dalam pengadilan dan merupakan kewenangan dari pengadilan untuk meminta berita acara sumpah.
Masalah selanjutnya akan terjadi kalau Advokat bersikukuh tidak mau menunjukkan berita acara advokat maka pengadilan akan berpedoman pada Surat Mahkamah Agung Nomor 052/KMA/V/2009 karena sifatnya itu mengikat sehingga kalau advokat tidak bisa menunjukkan berita acara sumpahnya maka akan dikeluarkan dari persidangan, pengadilan harus tegas demi mencegah kerugian para pencari keadilan.
Terkait berita acara sumpah advokat oleh MUI, Sekjen advokat dan rohaniawan Islam serta yang disumpah oleh Pengadilan Tinggi secara tegas yang diakui di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat adalah berita acara sumpah oleh Ketua Pengadilan Tinggi dan selainnya tidak akan berlaku di Pengadilan. Dan pihak Pengadilan sendiri tidak ada maksud semata-mata menjalankan aturan.
Mengenai pendapat Pasal 4 Undang-Undang Advokat tidak wajib, artinya boleh disumpah selain ketua Pengadilan Tinggi. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memandang bahwa Surat Mahkamah Agung tersebut berlaku mengikat kepada Pengadilan sehingga Pengadilan juga berpedoman demikian. Selain itu, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tidak akan lagi berdebat mengenai permasalahan ini, artinya kita sudah memutus demikian maka perdebatan sudah selesai di Mahkamah Agung dengan adanya Surat Mahkamah Agung Nomor 052/KMA/V/2009. Jika masih ingin
memperdebatkannya silahkan saja, tetapi dengan munculnya Surat Mahkamah Agung Nomor 052/KMA/V/2009 ini sudah selesai dan merupakan pedoman. Silahkan setuju atau tidak setuju tetapi proses persidangan harus tetap berjalan dan tidak boleh merugikan pencari keadilan karena Surat Mahkamah Agung itu sifatnya imperatif.
Selama ini yang sering beracara di persidangan adalah advokat dari KAI, Peradi, Peradin. selama ”tidak dieksepsi” maka tidak akan dipermasahkan selama dari advokat itu sendiri tidak ada permasalahan diantara mereka, bagi Pengadilan Negeri Jakarta Pusat itu internal mereka para advokat. Sekali lagi menjadi masalah jika salah satu mereka dieksepsi barulah Surat Mahkamah Agung Nomor 052/KMA/V/2009 diterapkan.
Mengenai Surat Mahkamah Agung Nomor 052/KMA/V/2009, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mengakui belum mengambil sikap apapun, karena masih membaca situasi untuk mengambil sikap. Lebih khusus para hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat belum banyak tahu mengenai surat Mahkamah Agung Nomor 052/KMA/V/2009 tersebut dan belum ada kesamaan diantara para hakim masing-masing masih membaca, mempelajari Surat Mahkamah Agung itu. Oleh karena itu nanti ketua akan memanggil semua hakim untuk memperdebatkan surat tersebut. Namun Surat Mahkamah Agung Nomor 052/KMA/V/2009 tetap digunakan sebagai Pedoman di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk diterapkan, tapi kasusnya sendiri belum ada. Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat belum berani menerapkan surat mahkamah Agung tersebut secara tegas apalagi
untuk menginstruksikan kepada jajaran hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat agar Majelis Hakim diwajibkan untuk menanyakan berita acara sumpah advokat di persidangan. Tetapi kalau memang itu dipermasalahkan oleh para pihak maka surat Mahkamah Agung tersebut baru dimunculkan sebagai pedoman. Artinya disini hakim tidak mencampuri atau tidak berkepentingan (pasif).
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mempersilahkan para Pihak yang aktif. Jadi Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan para hakimnya tidak akan bersifat aktif, Surat Mahkamah Agung tersebut baru akan diterapkan jika terjadi suatu permasalahan. Kalau tidak ada permasalahan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat akan diam. Karena bisa dituduh memihak, mencampuri dan bersikap apriori terhadap ijin advokat tertentu.
Oleh karena itu selama tidak dipermasalahkan maka semua ijin Advokat itu tersebut dianggap benar karena dari Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tidak bisa mengeluarkan advokat dari persidangan tanpa suatu perdebatan hukum, Pengadilan tidak bisa mengusir tanpa dasar hukum yang jelas jika ada yang mempermasalahkan membuat keberatan tertulis lalu diminta agar untuk ditanggapi, berikutnya baru putusan menyatakan sah tidaknya dan memutus advokat itu boleh beracara atau tidak sehingga putusan pengadilan ada pertimbangan hukum yang jelas .
Inilah cara pengadilan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjelaskan Surat Mahkamah Agung Nomor 052/KMA/V/2009, hal diatas merupakan ”sikap proaktif” pengadilan sesuai undang-undang sehingga produk
pengadilan merupakan penetapan dan bisa dikasasi tidak dengan main usir saja , itu merupakan sikap arogan dan hakim dapat digugat secara pribadi, tapi kalau hakimnya mengeluarkan penetapan itu produk hukum dan yang dilawan adalah produk hukum bukan hakimnya secara pribadi jadi kita harus hati-hati sehingga yang benar harusnya dengan produk hukum yaitu penetapan.
Jika hakim mengeluarkan penetapan tanpa ada keberatan dahulu akan menimbulkan perdebatan yang lebih panjang dan apabila ini terjadi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat maka akan diterapkan di Pengadilan lain karena Pengadilan Negeri Jakarta Pusat merupakan barometer berarti disini Pengadilan Negeri Jakarta Pusat bersikap ”bermain aman”. Dan memang harus demikian Pengadilan dimanapun konservatif, harus berdasarkan hukum dan undang-undang dan pengadilan harus fair tanpa kepentingan apapun, sertadiberikan kesempatan yang sama, baru kemudian diputuskan bahwa boleh beracara atau tidak. Jadi yang dilawan produk hukum bukan pribadi hakim yang mengusirnya.
Lalu apabila hakim digugat gara-gara menerapkan Surat Mahkamah Agung tersebut, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mengatakan bahwa majelis hakim tidak bisa digugat karena tidak punya kepentingan apapun dalam menjalankan tugas apapun bahkan dipanggil polisi pun tidak boleh apalagi digugat. Itu adalah sikap dalam menjalankan penegakan hukum dan hakim mengambil sikap tanpa dilandasi kepentingan untuk membela siapapun Kalaupun itu digugat itupun dalam menjalankan pedoman dari Mahkamah
Agung, maka hakimnya harus berani, Kalau hakimnya digugat menjadi tidak menguntungkan, menjadi lucu. Sehingga Pengadilan harapkan ini tidak terjadi dan bersikap dewasa tidak hanya mengungkapkan egonya hanya untuk mencobacoba menggugat seperti itu. Karena pengadilan tidak punya kepentingan sifatnya obyektif dan tidak dalam kapasitas memihak karena menjalankan undang-undang. Jadi itu tidak mendewasakan publik sehingga akhirnya penegakan hukum menjadi kacau tidak karuan.
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat melihat mengenai organisasi advokat Peradi, KAI dan Peradin sah atau tidak sah bukan kapasitas Mahkamah Agung tapi di Depkum HAM dan Depdagri. Begitu juga sikap Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan bukan kapasitasnya Pengadilan kecuali ada satu gugatan sehingga hakim mengambil sikap ditolak atau dikabulkan Artinya belum ada suatu kasus sengketa yang diputus Pengadilan menyangkut organisasi advokat mengenai keabsahannya Sugeng melihat kedepan bahwa sekarang ini diinstruksikan tidak ada penyumpahan, jadi itu baik dari organisasi advokat KAI, dari Peradin, dan dari Peradi sendiri tidak akan ada penyumpahan, lalu apakah iniakan berkelanjutan terus. Menurut Sugeng ini tentunya harus disadari organisasi advokat supaya segera tercapai suatu wadah tunggal. Karena kasihan calon-calon advokat apabilaini terus berkepanjangan makasugeng menyarankan lebih bagus secepatnyalah mereka (PERADI,KAI, PERADIN) berembuk untuk perkembangan dan kewibawaan organisasi advokat supaya lebih berwibawa. Perlu dicontoh
organisasi seperti notaris sudah mempunyai wadah tunggal yaitu INI. Juga seperti hakim yang ada wadah tunggalnya yaitu IKAHI.
Advokat disarankan untuk berkumpuldan bermusyawarah, sedangkan untuk menerbitkan kartu ijin silahkan diatur bersama dan tidak perlu melibatkan organisasi institusi lain sehingga ditarik-tarik dan digugat dan Pengadilan pun menyayangi karena advokat merupakan pilar penegak hukum, kalau pincang akan mempengaruhi penegakan hukum dan keadilan.
Berdasarkan hasil penelitian diatas, ternyata menurut pendapat hakim, baik menurut pendapat pribadi mereka maupun menurut struktur kerja yang dianut oleh Pengadilan Negeri selaku pihak yang berada langsung dibawah kendali Mahkamah Agung maka merekapun lebih memilih untuk menjalankan apa yang diinstruksikan oleh Mahkamah Agung dari pada Mahkamah Konstitusi yang tidak ada hubungan kerja sama sekali baik secara vertikal maupun secara horizontal.
Sehingga dapat ditarik kesimpulan berdasarkan uraian tersebut di atas, bahwa menurut para hakim di Pengadilan Negeri Cirebon sesuai dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat adalah : seorang advokat yang tidak disumpah dalam sidang terbuka Pengadilan Tinggi adalah advokat yang tidak sah, sehingga secara hukum advokat yang tidak disumpah dalam sidang terbuka Pengadilan Tinggi tersebut tidak berhak beracara atau menjadi kuasa hukum dalam persidangan di pengadilan.
Namun dalam prakteknya meskipun telah dikatakan bahwa seorang advokat yang tidak disumpah dalam sidang terbuka Pengadilan Tinggi adalah advokat yang tidak sah, oleh hakim advokat yang belum disumpah dalam sidang terbuka pengadilan tinggi
diperbolehkan menjadi kuasa hukum tetapi sifatnya mendampingi advokat lain yang sudah sah yang telah disumpah oleh Pengadilan Tinggi. Hal ini didasarkan pada alasan kemanusiaan yaitu tidak baik menghalang-halangi orang yang mencari nafkah. Sikap hakim tersebut tidak ada perbedaan antara sebelum ada Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 101/PUU-VIII/2009 dan setelah ada Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 101/PUU-VII/2009. Sebagian besar hakim mengatakan tidak ada Surat Edaran Mahkamah Agung yang merupakan tindak lanjut dari Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 101/PUU-VII/2009. Sehingga hakim bersikap terhadap advokat KAI yang belum disumpah dalam sidang terbuka Pengadilan Tinggi sama seperti sebelum ada Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 101/PUU-VII/2009.
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai Legalitas Sumpah Advokat Untuk Beracara di Pengadilan Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 101/PPU-VII/2009 di atas, dapat disimpulkan bahwa :
1. Pengadilan Tinggi tidak terpengruh atas adanya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 101/PUU-VII/2009. Hal ini disebabkan karena Pengadilan Tinggi merasa bukan sebagai pihak dalam Putusan Mahkamah Konstitusi tersebut, sehingga tidak merasa terikat terhadap putusan tersebut. Pengadilan Tinggi hanya perlu merasa tunduk terhadap lembaga di atasnya yang dalam hal ini adalah Mahkmah Agung.
2. Sikap Pengadilan Negeri terhadap advokat yang tidak dapat menunjukkan berita acara sumpah setelah Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 101/PPU-VII/2009 adalah sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat. Seorang advokat yang tidak disumpah dalam sidang terbuka Pengadilan Tinggi adalah advokat yang tidak sah, sehingga secara hukum advokat yang tidak disumpah tidak berhak bercara di pengadilan atau menjadi kuasa hukum dalam persidangan di pengadilan. Namun dalam prakteknya, advokat yang belum disumpah dalam sidang terbuka pengadilan
tinggi diperbolehkan menjadi kuasa hukum tetapi harus didampingi oleh advokat lain yang sudah sah yang telah disumpah oleh Pengadilan Tinggi. Hal ini didasarkan pada alasan kemanusiaan untuk tidak menghalang-halangi orang yang beracara setelah memperoleh ijin praktek. Sikap hakim tersebut tidak ada perbedaan antara sebelum ada putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 101/PUU-VIII/2009 dan setelah ada Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 101/PUU-VII/2009.
5.2 Saran
Berdasarkan dari hasil penelitian dan pembahasan mengenai Legalitas Sumpah Advokat Untuk Beracara di Pengadilan Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 101/PPU-VII/2009, maka penulis perlu memberikansaran sebagai berikut
1. Agar advokat memiliki legalitas, memenuhi persyaratan sebagai advokat yang sah seperti yang dikehendaki Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, maka Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 101/PUU-VII/2009 seharusnya dilaksanakan oleh Pengadilan Tinggi dengan mengadakan sidang terbuka untuk melakukan penyumpahan terhadap para advokat tanpa memandang organisasinya. Apalagi mengingat asas “ergaomnes” yaitu bahwa Putusan Mahkamah Konstitusi bersifat mengikat setiap orang.
2. Sikap Pengadilan Negeri dalam menanggapi kasus sumpah advokat tersebut sebaiknya menjalankan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 101/PUU-VII/2009 karena mengingat bahwa Mahkamah Konstitusi lebih berwenang
berdasarkan peraturan perundang-undangan. Hal ini juga dimaksudkan agar tidak terjadi permasalahan baru di persidangan. Tentunya hal ini dilakukan sambil menunggu organisasi advokat menyelesaikan permasalahan intern mereka dengan baik, sehingga organisasi advokat mampu melaksanakan amanat dari Undang-Undang Advokat dan memiliki kepastian hukum bagi semua pencari keadilan dalam menegakkan hukum. Apabila kekacauan terus terjadi dimungkinkan dilakukan revisi terhadap Undang-Undang Advokat, dan masalah izin praktek advokat dikembalikan kewenangannya kepada Pengadilan Tinggi.
Daftar Buku-Buku
Arikunto, Suharsini. 1997. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Asshiddiqie, Jimly, 2005. Sengketa Kewenangan Antar lembaga Negara, cetakan pertama. Jakarta : Konstitusi Press.
---. 2004. Format kelembagaan Negara dan pergeseran kekuasan
dalam UUD 1945. Yogyakarta : FH UII Press
---. 2004. Mahkamah Konstitusi dan Pengujian Undang-Undang,
Makalah kuliah umum program doktor (S3) Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia. Jogjakarta : FH UII Press
C. Anwar. 2008. Teori dan Hukum Konstitusi. Malang : In-TRANS Publishing Departemen Pendidikan Nasional dan Kebudayaan Republik Indonesia. 1988.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Pusat pembinaan dan
pengembangan bahasa indonesia
Huda, Ni’matun. 2009. Hukum Tata Negara Indonesia. Jakarta : Rajawali Pers
Jurnal Legislasi Indonesia, Volume 1, Nomor 1, Juli 2004
Mahkamah Konstitusi. 2010. Jurnal Konstitusi, volume 7, nomor 6, Desember. Jakarta: Konstitusi Press
Marzuki, Peter Mahmud. 2007. Penelitian Hukum. Jakarta : Kencana Marwan dan Jimmy. 2009. Kamus Hukum. Surabaya : Reality Publisher
Miles Mattew B, Huberman A Michael. 1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: Daya Widya.
Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Rosdakarya Rambe, Ropaun. 2001. Teknik Praktek advokat. Jakarta : PT Garmedia
widiasarana Indonesia
Daniel, S.Lev. 2001. Advokat Indonesia Mencari LegitimasiI. Jakarta : Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia
Samardi, Sukris. 2007. Advokat Litigasi dan Nonlitigasi Pengadilan. Jogjakarta : Pusaka Prisma
Sutarto, Suryono. 2005. Hukum Acara Pidana Jilid II dan II. Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro Semarang.
Soemitro, Ronny Hanitijo. 1990. Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Varia Advokat , Volume 10, Agustus 2009
Daftar Undang-Undang
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Jakarta. Yayasan Bima
Soesilo R. 1988. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta komentar-komentar
lengkap pasal demi pasal. Bogor. Politeia
Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang
Mahkamah Agung
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Amandemen Keempat
Daftar Web
http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/index.php?page=website.BeritaInterna lLengkap&id=3429 (Accessed : Minggu, 17 April 2011, 13:04:39 Wib)
http://www.mahkamahagung.go.id/ (Accessed : Minggu, 17 April 2011, 13:30:39 Wib)
http://www.hukumonline.com (Accessed : Minggu 13 Maret 2011, 13:30:18 Wib)