Syekh Ibnu Taimiyah mempunyai bakat yang bagus berkenaan dengan bahasannya mengenai ziarah. Setelah berbicara mengenai bid’ahnya banyak bepergian menuju kuburan Nabi Muhammad SAW. Jika tanpa mengunjungi mesjid (Nabawi),ia kembali mengatakan:
Pertentangan ini dan yang sepertinya,membuat mereka (sebagian kaum muslim)beranggapan bahwa berkunjung atau bepergian menuju kuburan para nabi itu sebagai suatu bentuk Taqarrub atau mendekatkan diri kepada Alloh. Kemudian ketika mereka melihat dan memahami apa yang disebutkan oleh para ulama mengenai sunatnya ziarah ke kuburan Nabi kita,mereka menduga semua kuburan lainnya pun berhak dikunjungi sebagaimana terhadap kuburan Nabi Muhammad SAW.
Mereka tersesat karena beberapa alasan berikut:pertama,bahwa safar ke makam Nabi
Muhammad SAW,adalah safar ke mesjidnya(Mesjid Nabawi),hal itu dihukumisunat (mustahabb) menurut nash dan ijmak. Kedua,bahwa safar atau ziarah yang diperbolehkan adalah safar untuk menuju mesjid ketika Rasululloh Saw. masih hidup dan setelah ia dikebumikan,serta sebelum masuk ke kamar(didalam mesjid),juga setelah masuk kamar didalam mesjid…..
Yang keenam,safar berkunjung ke mesjid nabi yang disebut sebagai safar atau berziarah menujukuburannya termasuk yang disepakati kaum muslimin setiap generasi.
ataupun tabi'in bahkan atba tabi'in sekalipun.
Berdasarkan perkataan syekh ibnu Taimiyah, dapatlah diambil sesuatu yang berfaedah yaitu bahwa tidak bergambarkan selamanya dibolehkan banyak berkunjung hanya kekuburan saja,kemudian tidak masuk ke mesjid untuk melakukan shalat didalamnya demi mendapatkan berkahnya dan pahala berlipat dari shalat didalamnya dan
mendapatkan berkah dari "taman surga" raudhah al-jannala yang didalamnya mesjid.
oleh karena itu syekh ibnu Taimiyah tampak dalam perkataannya mengisyaratkan hal itu dengan mengatakan"lalu bagaimana mungkin safar berkunjung ke mesjid Rasululloh SAW disebut oleh sebagian orang sebagai Ziarah?"juga perkataan yang lain"safar kemakam beliau adalah safar ke mesjidnya" ia juga pernah berkata"sesungguhnya safar menuju mesjid Nabi Muhammad SAW yang dikenal dengan berziarah kekuburnya adalah tradisi yang disepakati ijmak oleh kaum muslimin."
pendapat yang sangat bagus ini dapat membantu kita untuk membahas masalah yang pelik yang telah melahirkan pertikaian tajam diantara kaum muslimin.
Bahkan ada diantara mereka yang saling mengkafirkan adapula yang menilai kawannya keluar dari islam alias murtad. Jika orang yang mengaku pengikut salaf itu mengikuti langkah ibnu Taimiyah, ulama salaf pada masanya dan mau memaklumi oranglain atau berbaik sangka terhadap mereka, maka sejumlah kaum muslimin akan selamat dari neraka dan beruntung masuk surga tempat menetap yang abadi.
inilah kebenaran yang semestinya kita ikuti dalam upaya menaati Allah SWT hendaklah kita meyakini dengan penuh kejujuran,baik dinyatakan dengan terus terang maupun tidak terang terangan. Dalam hal ini yang paling jelas ia tidak berterus terang Dalam hal maksud,tujuan dan niatnya karena hubungan antara mesjid dan kuburan tidak begitu erat. Menurut hakikatnya itu adalah berkunjung kepada pribadi nabi Muhammad SAW.
Mengenai kuburan sesungguhnyatidak menjadi sasaran utama setiap yang bekunjung. Kita juga banyak berkunjung hanya untuk menziarahinya seraya mendekatkan diri kita kepada Allah lewat cara berziarah itu. Atas dasar itu imam malik mengatakan:” aku tidak suka jika seseorang mengatakan aku menziarahi kuburan nabi atau rasul.” enurut para tokoh ulama
tidak akan menemukan kerumunan manusia brlomba lomba,berdesakan,bahkan hampir saling membunuh ketika membuka pintu pintu masjid nabawi. Mereka yang sangat menginginkan untuk melakukan shalat di masjid nabawi dan berlomba untuk dapat berada dekat raudhah adalah orang orang yang datang untuk menziarahi nabi Muhammad SAW.
2. Penelitian yang sangat bagus
Berikut ini hasil penelitian allamah syekh ‘Athiyyah muhammad salim,penulis takmilah adhwa ‘Al Bayan. Masalah yang sedang dibahas ini dikupas oleh seorang kadi di kota madinah al munawwarah, ia membahasnya dalam kitab kitabnya ini ia menyempurnakan kitab tafsir yang terkenal,Adhwa ‘Al-Bayan cahaya penjelasan ia mengatakan:
Saya yakin jika raja tidak terjadi pertentangan antara orang orang semasa dengan syaikhul islam (ibnu Taimiyah) dengannya pada masalah masalah lain. Akan tetapi mereka menemukan masalah tersebut sangat sensitif dan berkaitan denga emosi serta kencintaan kepada Rasulullah SAW . Ketika ia mengatakan banyak berpergian ke kuburan nabi itu tidak mungkin hanya sekedar ziarah, justru untuk mendatangi masjid nabawi untuk berziarah sebagai pengalaman terhadap nashadis. Dan tidak pula melarang mengucapkan salam kepadanya. Bahkan beliau mnjadikan hal itu berziarah dan mengucapkan salam sebagai salah satu diantara ibadah yang utama untuk mendeatkan diri kepada Allah SWT.
Perkataan syekh-Atiyyah menunjukan bahwa ziarah kubur dan mendrikan shalat di dalam masjid Nabawi itu saling berkaitan. Barang siapa memisahkan keduanya secara praktik,sungguh ia telah menentang kenyataan jika kaitan keduanya telah ditetapkan,sirna lah khilaf perbedaan pendapat dan hianglah pokok pertentangan; alhamdulillah rabb al-’alamin
dengan pendapat pernyataan tersebut ,jelaslah bawa orang yang pergi dengan tujuan ziarah kubur itu tidak dilarang dan tidak terhalang dari mendapatkan pahala.
3. Ziarah kubur menurut Imam Malik
Imam Malik termasuk diantara kaum muslimin yang paling mencintai nabi Muhammad SAW. Bahkan ia tidak berani berjalan jalan dikota madinah dengan memakai sandal atau sepatu apalagi
menghargai,memuliakan,dan mengagungkan tanah kota madinah yang pernah menjadi wilayah yang dilalui nabi Muhammad SAW. Engkau akan melalui suatu kaum baik yang ada disebelah kanan maupun disebelah kiri yaitu putra putri kaum muhajirin dan anshar. Ucapkanlah salam pada mereka,tidak ada di muka bumi ini kaum yang lebih baik daripada kaum madinah dan tidak ada kota yang lebih baik dari kota madinah.
Imam Malik begitu mencintai dan mengagungkan kota madinah ,ia bahkan tidak suka mendengar kata kata:”kami berziarah mengunjungi kuburan nabi Muhammad SAW .” lakukanlah shalat dirumahmu,dan janganlah kamu jadikan rumahmu sbagai kuburan.
Al hafizh ibnu hajar berkomentar,sesungguhnya Imam Malik tidak suka kata kata itu hanya sebagai adab saja,bukan tidak suka ziarahnya itu sendiri sebab bagaimanapun berziarah ke kuburan nabi Muhammad SAW termasuk amal yang utama dan usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr bekata Imam Malik tidak suka ucapan ini adalah thawaf ziarah dan kami brziarah ke kuburan nabi muhammad kebanyakan orang menggunakan istilah itu. Imam Malik tidak suka jika nabi muhammad disamakan dengan manusia biasa secara umum dengan kata lain seperti itu.
mengunjungi dan menziarahi kuburan itu dibolehkan, dan berpergian menuju kuburan nabi Muhammad SAW itu diwajibkan. Maksudnya bukan wajib dalam pengertian fardhu tetapi sangat dianjurkan wujud nadb. Jadi Imam Malik ingin meluruskan penisbatan kata kata ziarah kepada kata kuburan dan menghindari penyerupaan atau peniruan terhadap perbuatan kaum musyrikin hal itu dilakukannya untuk menghindari bahaya yang lebih besar.
4. Pendapat kaum Hanbailah tentang ziara ke makam nabi Muhammad SAW
berziarah ke makam nabi Muhammad SAW itu di syariatkan dalam islam, hal itu telah
dibahas oleh para ulama khusus nya para imam mujtahid dari kaum salaf. Sedangkan penyebutan kaum hanbaliah secara khusu disini bertujuan untuk menolak kedustaan sebagai kaum muslimin yang menuduh kaum hanbaliah tidak mempunyai pendapat yang jelas berkenan dlam masalah
ziarah ke makam nabi Muhammad SAW. Jika anda berkenan silahkan periksa kitab kitab fikih dalam mazhab hanafi,mazhab maliki,mazhab syafi’I dan hanbali. Bahkan lihat pula secara cermat kitab kitab fikih kalangan mazhab zaidi,ibadhi,dan mazhab imam ja’far ra. Anda akan menemukan para imam itu telah menyediakan bab khusus yang membahas tentang berziarah. 5. Pendapat ulama salaf tentang di syariatkannya berziarah ke makam nab Muhammad SAW dan banyak berpergian ke makamnya
a. pendapat Al-Qadhi ‘Iyadh
kami akan mengungkapkan pendapat Al-Qadhi ‘Iyadh mengenai ziarah ke makam nabi Muhammad SAW,menurut ulama salaf ketika ia menjelaskan hadist yang diriwayatkan oleh imam muslim dari abdullah bin uma ra dari nabi Muhammad SAW berikut:
Sesungguhnya islam itu dimulai secara gharib (asing atau aneh) dan akan kembali aneh/asing seperti permulaannya. Ia akan berlindung diantara dua mesjid seperti ular berlindung dalam sarangnya.
Al-Qadhi ‘Iyadh berkata sabda Rasulullah SAW bahwa islam berada diantara dua mesjid yaitu mesjid Al Haram dan mesjid Nabawi maksud bahwa karakter keimanan itu sejak pertama sampai masa akhir sama. Bahwa pada permulaan islam setiap yang keimanannya murni atau ikhlas dan islamnya benar akan mendatangi kota madinah baik sebagai orang berziarah lalu menetap maupun karena rindu ingin bertemu dengan nabi Muhammad SAW. Demikian pula halnya pada masa khulafa`ur Rasyidin yang dikenal dengan perilaku atau kebijaknnya yang adil yang layak ditiru dan keteladannya para sahabat terkenal dalam menegakkan keadilan. Terbukti yang setiap kokoh keimanannya dadanya begitu lapang mereka sering pergi ke kota madinah begitu pula halnya kaum muslimin setelah itu sampai masa kita sekarang mereka kerap kali berziarah ke kuburan nabi Muhammad SAW. Selain mencari berkah dengan menyaksikan peninggalan para sahabat yang mulai itu.
Itulah pendapat imam Al-Qadhi ‘Iyadh wallahu a’lam. b. Imam Nawawi
pasal khusu tentang berziarah ke makam nabi Muhammad SAW diantara ia mengatakan setelah usai melakukan ibadah haji dan umrah dari mekah,hendaklah kaum muslimin pergi menuju kota madinah,tempat Rasulullah SAW di makamkan untuk berziarah,menziarahi tanah kuburannya sebab ziarah ke makam nabi itu termasuk taqarrub yang utama dan usaha yang paling bagus. c. Imam Ibnu Hajar Al-Haitam
ketika memberika komentar terhadap Al-Idhah karya Imam Nawawi yang menyebutkan bahwa Al-Bazzar dan Al-Daraquthni telah meriwayatkan hadits dengan isnad dari keduanya dari Abdullah bin Umar bin Khatab yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,barang siapa yang mengunjungi kuburan ku, maka wajiblah baginya syafaat (pertolongan) aku.
Diriwayatkan oleh Al-Daraquthni dan Al-Thabrani juga oleh Ibn Al-Sakan yang
mesahihkannya dengan redaksi berikut: barang siapa mendatangiku untuk berziarah yag tidak di dorong oleh suatu kebutuhan apapun selain ziarah kepadaku,maka ia mempunyai hak yang mesti aku lakukan sebagai pemberi syafaat baginya pada hari kiamat.
Dan yang dimaksud dengan tidak di dorong oleh suatukebutuhan selain berziarah kepadaku adalah untuk menghindari maksud lain yang tidak berhubungan berziarah ke makam nabi Muhammad SAW. Banyak ulama mengatakan selain berniat untuk taqarrub melalui ziarah,disunatkan pula niat bertaqarrub dengan banyak pergi/ziarah ke mesjid Nabawi dan melakukan shalat di dalamnya.
Abu Dawud meriwayatkan hadits dengan sanad yang sahih,yaitu sebagai berikut:
Tiada seorang muslim yang mengucapkan salam padaku kecuali Allah akan mengembalikan ruh ku ke jasad ku sehingga aku dapat menjawab salamnya. Adapun yang dimaksud dengan
kembalinya ruh adalah di kembalikannya potensi bicara untuk menjawab salam kepada yang mengucapkan salam kepadanya.
d. Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani
Berkenaan dengan hadits,tidak boleh sering berpergian kecuali ketiga mesjid atau ada
kemungkinan lain yang lebih khusus seperti tidak boleh sering berpergian menuju masjid kecuali tiga masjid.
Tidak ada jalan untuk kemungkinan pertama,karena itu berarrti suatu upaya untuk menutup pintu dibolehkannya safar untuk berniaga,silaturahmi,menuntut ilmu,atau tujuan lainnya. Karena itu
hanya kemungkinan kedua yang benar,yang lebih utama, mestinya diberikan perkiraan yang lebih banyak ke sesuaiannya.
Al-Subqi Al-Kabir mengatakan hal itu dirasakan rancu bagi sebagian orang,ia menganggap banyak berpergian untuk berziarah ke kuburan bagi orag orang yang ada di luar tiga mesjid itu termasuk yang di larang
e. Imam Syekh Al- Karmani Pensyarah Syahih Bukhari
ketika mensyarah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari Khusunya berkenaan dengan hadits kecuali menuju ketiga mesjid. Jika anda mengatakan maka takdir atau perkiraanya adalah tidak boleh sering berpergian menuju ketempat apapun. Jadi,perkiraan yang benar mengenai hadits diatas adalah tidak boleh banyak berpergiaan menuju suatu mesjid kecuali menuju ketiga mesjid.
f. Syekh Imam Badruddin Al-’Aini
Syekh Badruddin Al-’Aini dalam syarah Bukhari mengatakan Al-Rafi’I menghikayatkan dari Al-Qadhi Ibn Kaj bahwa ia berkata menurutku bahwa seseorang bernazar untuk berziarah ke kuburan atau makam nabi Muhammad SAW ia mesti memenuhinya.
Al-Kadhabi mengatakan jangan di intensifkan banyak berpergian. Maksudnya tidak seharusnya memenuhi sedikitpun dari hal hal itu sehingga sering bepergian untuk membuktikannya dan menempuh jalan untuk melakukannya selain ketiga mesjid yang merupakan mesjid peninggalan para nabi.
Syekh Zainuddin mengatakan diantara pemaknaan yang paling bagus terhadap hadits tersebut adalah bahwa hadits itu hanya menerangkan hukum mesjid saja.
Adapun mendatangi berbagai tempat selain mesjid mesjid,baik untuk menuntut
ilmu,berdagang,bertamasya,maupun mengunjungi kuburan oran orang shaleh dan mengnjungi musium musium serta berkunjung ke ikhwan atau saudara saudara seagama dan seperjuangan atau yang seperti itu maka itu tidak termasuk yang di larang. Rasulullah SAW bersabda: tidak pantas bagi pelaku shalat sering pergi menuju suatu mesjid untuk melakukan shalat di dalamnya selain ke mesjid Al-Haram ,mesjid Al-Aqsha dan mesjid Nabawi.
Berdasarkan hadits riwayat Al-Daraquthni dengan Isnadnya dari Abdullah bin Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Barang siapa melakukan ibadah haji lalu ia berziarah ke makam aku setelah aku wafat,seakan akan ia menziarahi ku ketika aku masih hidup.
Jika ada seseorang yang belum melaksanakan ibadah haji akan berhaji yakni tidak melalui jalan Syam hendaklah ia tidak mengambil jalan Madinah sebab saya khawatir akan terjadi sesuatu.sebaiknya ia menuju mekah sebagai jalan yang paling baik,tidak melalui jalan lain. Ketika aku sedang duduk dekat kuburan Muhammad SAW tiba tiba datang seorang arab badwi ia mengucapkan Al-Salamu ‘alaika,ya Rasulullah,semoga salam sejahtera bagimu wahai
Rasulullah. Orang arab badui itupun lalu pergi tiba tiba aku menganttuk dan tertidur,aku bermimpi melihat Rasuluuullah SAW,ia bersabda Hai Atabi,temui orang arab badwi dan sampaikanlah berita gembira bahwa sebenarnya Allah telah mengampuni dosanya.
h. Syekh Abu Al-Faraz Ibnu Quddamah,Imam Mazhab Hanbaliah
Menyatakan jika seorang muslim selesai melaksanakan ibadah haji,disunatkan mustahab baginya berziarah ke makam nabi muhammad SAW dan kuburan kedua sahabatnya.
Kemudian Syekh Ibnu Quddamah menyebutkan satu bentuk ucapan salam kepada nabi Muhammad SAW:
Diantaranya hendaklah mengucapkan Allahumma innaka qulta wa qauluka al-haqq,ya Allah sesungguhnya engkau telah berfirman dan firman-mu itu benar yaitu sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun memohon ampun untuk mreka,tentula merekaa mendapati Allah maha penerima tobat lagi maha penyayang.
kemudian ia mengatakan tidak di sunatkan mengusap-usap dinding kuburan nabi muhammad SAW dan tidak pula menciumnya.
Imam Ahmad mengatakan aku tidak mengenal hal ini Al-Atsram berkata menurut ku, aku tidak pernah melihat ahli ilmu dan kalangan ahli madinah mengusap kuburan nabi Muhammad SAW mereka berdiri dari satu arah lalu mengucapkan salam.
mengatakan dalam kitabnya, jika seseorang telah melaksanakan ibadah haji,disunatkan baginya untuk berziarah ke makam nabi Muhammad Saw dan kedua kuburan sahabatnya Abu Bakar dan Umar ra. Rasulullah SAW bersabda:
barang siapa telah melaksanakan ibadah haji lalu ia berziarah ke kuburanku setelah aku wafat,maka seakan akan ia mengunjungiku di waktu aku masih hidup.
Ibnu Nasrullah berkata adalah lazim disunatkannya berziarah ke makam nabi Muhammad SAW seperti di sunatkannya banyak berpergian kepadanya. Sebab berziarah ke makam nabi yang dilakukan oleh orang yang telah melakukan ibadah haji tidak mungkin tanpa melakukan susah payah untuk pergi melakukan ke makam nabi muhammad SAW.
J. Syaikhul Islam Muhammad Taqiyyuddin Al-Futuhi Al-Hanbali
syekh Al- Futuhi berkata, disunatkan untuk berziarah ke makam nabi Muhammad SAW dan ke kuburan dua sahabatnya dengan mengucap salam kepadanya sambil menghadap. Kemudia menghadaplah kiblat(mekah) seraya menjadikan al hujrah (kamar makam) disebelah kirinya lalu berdoa. Tetapi diharamkan berthawaf,mengelilingi kamar tersebut. Juga di makruhkan mengusap usap kamar itu dan tidak baik mengangkat suara di dekatnya.
k. Syekh Mar’a bin Yusuf Al-Hanbali
menulis: Disunatkan berziarah ke makam nabi muhammad SAW dan makam kedua sahabatnya. Disunatkan pula shalat di masjid Nabawi yang nilainya senilai seribu shalat jika dilakukan di luar masjid Nabawi dan diluar masjidil Al-Haram serta massjid Aqsha. Sedangkan shalat di masjid Haram nilainya seperti shalat seratu ribu kali. Sementara di masjid Al-Aqsha bernilai seperti lima ratus kali shalat jika dilakukan diluar masjid masjid tersebut.
l. Syaikhul Islam Syeklz Majduddin Muhammad bin Ya’qub Al-Fairuzabadi
Syekh Majduddin mengatakan, ketahuilah membaca shalawat di dekat makam nabi
Muhammad SAW itu sangat bagus. Maka di sunatkan memberdayakan orang yang berpergian (melakukan safar) untuk mendapatkan keuntungan dengan kemuliaan yang agung dan
kedudukan yang mulia. Jika seseorang bernazar untuk berziarah ke makam nabi Muhammad SAW maka menurutku itu mesti dipenuhi,ini satu pendapat yang tidak ada pilihan lain.
Sedangkan jika seseorang bernazar untuk berziarah ke makam selain ke makam nabi, menurutku disitu ada dua kemungkinan pendapat. Tetapi,sebagaimana telah diketahui tidak mesti memenuhi nazar kecuali jika berupa ibadah.
Adapun dari kaum Hanbaliah, ia membuat satu pasal mengenai ziarah ke makam nabi
Muhammad SAW seraya menganggapnya ibadah sunat yang paling utama. Sementara dari kaum malikiyah telah terjadi kesepakatan diantara mereka atas disunatkannya ziarah ke makam nabi Muhammad SAW kebanyakan istilah atau ungkapan para fukaha,tokoh mazhab,mengindikasikan perlunya safar atau untuk berpergian berziarah. Mereka menyukai bagi setiap yang melakukan ibadah haji untuk berziarah,yang diantara kebutuhanya adalah Al-Safar/bepergian.
m. Syekh Muhammad bin ‘Alan Al-Shiddiqi Al-Syafi’I
ketika imam Nawawi mengatakan, sesungguhnya berziarah ke makam nabi Muhammad SAW itu ibadah yang paling utama dan usaha atau perjalanan yang paling sukses. Hal itu tentu saja merupakan kabar gembira bagi mereka yang meninggal dunia dalam keadaan beriman. Ditambahkan pula bahwa nabi Muhammad SAW mendengar salam peziarah tanpa perantara. Abu Al-Syaikh meriwayatkan, barang siapa membaca shalawat kepadaku dekat kuburanku, pasti aku mendengarkannya . Dan barang siapa yang membaca shalawat kepadaku dari kejauhan,pasti aku akan diberi tahu.
Al-Hafizh berkata,sejumlah imam bersandar kepada hadits ini mengenai sunatnya berziarah ke makam nabi Muhammad SAW dan itu suatu sikap yang benar sebab ketika peziarah
mngucapkan salam kepada nabi Muhammad SAW,salamnya akan segera dijawab dan yang demikian itu suatu keutamaan yang dituntut.
6. Ziarah nabi kaum salaf
ziarah yang dilakukan oleh ahli tauhid terhadap kaum muslimin itu meliputi ucapan salam dan doa bagi ahli kubur. Hal ini nilainya seperti salat untuk mendoakan jenazah. Sedangkan ziarah kubur yang dilakukan oleh ahli syirk mengandung makna bahwa mereka itu merupakan makhluk dengan khalik. Mereka bernazar untuknya bahkan bersujud terhadapnya. Dengan cara seperti itu ahli syirk kaum musyrikin telah membuat tandingan bagi Allah dan menyamakan makhluk dengan tuhan semesta alam . Padahal Allah SWT telah melarang makhluknya
menyekutukannya,baik dengan malaikat,para nabi maupun makhluk lainnya. Allah SWT
serta kenabian kemudian dia mengatakan kepada manusia,jadilah kamu hamba hamba kepadaku. Bukan penyembah Allah. Akan tetapi dia berkata: hendaklah kamu menjadi orang orang rabbani, orang yang sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.
sejumlah ulama salaf mengatakan,ada beberapa kaum yang meminta kepada para nabi,seperti isa dan uzair,serta memohon kepada malaikat. Maka Allah SWT memberi tahukan bahwa para nabi dan malaikat hanyalah hamba hambanya yang senantiasa memohon rahmatnya,senantiasa takut terhadap siksanya,selalu mendekatkan dirinya kepada Allah melalui berbagai amal ibadah. Allah dan malaikatnya,bahkan semua pengemban Arasy nya beserta penduduk langit dan bumi menyaksikan bahwa ketika kita berziarah mengunjungi makam nabi Muhammad SAW tidak