BAB IV ANALISIS PENDAPAT HAZAIRIN TENTANG WASIAT
C. Relevansi Wasiat kepada Ahli Waris menurut Hazairin
Indonesia sebagai sebuah negara hukum sangat menjunjung tinggi akan pelaksanaan hukum secara universal. Hukum mengenai kewarisan mendapat porsi dalam hukum di Indonesia. Dalam hal ini terdapat kajian yang agak berbeda mengenai suatu ketentuan hukum yang diatur dalam hukum Islam (hukum agama) dan hukum perdata (hukum Nasional).
Masalah besar yang dihadapi umat Islam di Indonesia adalah bagaimana membentuk satu pemikiran hukum Islam yang sesuai dengan tradisi (adat) yang ada di wilayah ini. Pandangan seperti ini merupakan proses awal dari keseluruhan cita-cita untuk menjadikan hukum Islam sebagai bagian integral dari sistem hukum nasional. Kenyataan bahwa selama ini umat Islam hanya mengikuti jalur pemikiran fiqh mazhab Syafi’i, ternyata memberikan pengaruh terhadap karakter pembaruan dan nasib pemikiran hukum Islam di Indonesia.
Salah satu bagian penting dari hukum Islam adalah hukum kekeluargaan dan kebendaan yang di dalamnya mencakup hukum kewarisan Islam. Hukum kewarisan Islam dalam hal ini adalah fokus pada hukum waris Islam di Indonesia. Keberadaan waris dan wasiat yang diakui pada sistem hukum yang berlaku di Indonesia seringkali merupakan jalan keluar bagi seorang pemilik harta untuk berlaku adil dan tidak adil kepada para ahli warisnya, bahkan kepada orang lain. Namun keberadaan aturan mengenai waris dan wasiat pada hakikatnya adalah untuk menjamin keadilan.
Di Indonesia dalam beberapa kurun waktu terakhir telah terjadi reformasi terhadap ketentuan hukum Islam (fiqh) yang telah disesuaikan dengan konteks ke-Indonesia-an. Khusus dalam bidang hukum kewarisan, ide dan pemikiran pembaharuan belum banyak mempengaruhi praktek kewarisan dalam masyarakat akibat masih kuatnya pengaruh hukum adat dan mazhab Syafi’iyyah yang berkembang di kalangan umat Islam di Indonesia.
Hukum waris di Indonesia sampai saat ini masih beraneka ragam, hal ini dipengaruhi oleh keanekaragaman suku di Indonesia dengan hukum adat yang berbeda-beda dan juga agama yang berbeda.
Pergumulan antara hukum Islam dan hukum adat tampak dalam analisis sejarawan dan ahli hukum. Untuk mendaulat hukum mana yang lebih dahulu lahir di Indonesia, salah satunya dapat dilihat dari pendapat sejumlah pakar hukum. Jika seorang pakar hukum bersikap jujur dan tidak tergolong Islam fobia, maka jawabannya amat jelas, bahwa sewaktu L.W.C van dan Berg melahirkan teori Receptie In Complexu, hukum adat belum lahir.148 Pada pemberlakuan hukum tersebut berkembang tiga pola pembagian hukum waris yaitu patrilineal, matrilineal dan bilateral.
Mengenai wasiat, teori mazhab Syafi’i dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) sama-sama berpendapat bahwa wasiat pada dasarnya diperuntukkan kepada mereka yang tidak mempunyai hak waris atau kepada ahli waris yang mempunyai hak waris namun tidak mendapatkannya karena terhijab atau karena harta sudah terbagi habis oleh ahli waris yang berhak atasnya, dengan batasan tidak boleh melebihi sepertiga (1/3) dari seluruh harta. Wasiat kepada ahli waris hanya berlaku apabila disetujui oleh semua ahli waris, demikian pula wasiat yang melebihi batas maksiamal hanya berlaku jika ahli waris menyetujuinya. Ini terdapat dalam pasal 194 ayat (1) dan pasal 195 ayat (2) dan ayat (3) KHI. Tetapi lain halnya dengan Hazairin, ia mempunyai pendirian yang berbeda dengan mazhab Syafi’i dan KHI. Walaupun sama-sama membatasi besarnya wasiat yang dapat diberikan yakni maksimal sepertiga (1/3) dari seluruh harta, tetapi Hazairin membolehkan berwasiat kepada ahli waris yang sudah mempunyai hak waris bahkan diwajibkan, yakni kepada orang tua dan kerabat dengan merujuk pada al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 180 dan janda yang merujuk pada al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 240.
Hal tersebut dikarenakan Hazairin tidak mengakui adanya nasikh mansukh antara ayat-ayat al-Quran.
Tentang penentuan ahli waris, di Indonesia pada umumnya yang bermazhab Syafi’i ini bercorak patrilinial, sehingga mengandung sifat deskriminatif dan terbatas baik dalam menentukan ahli waris maupun dalam
148 Habiburrahman, Rekonstruksi Hukum Kewarisan Islam di Indonesia, (Jakarta:
Kencana, 2011), hlm. 79.
hal penggantian ahli warisnya. Hazairin bercorak bilateral, sehingga tidak ada diskriminasi juga tidak terbatas baik dalam menentukan ahli waris maupun dalam hal penggantian ahli warisnya. Sedangkan Kompilasi Hukum Islam (KHI) walaupun bercorak bilateral, namun masih mengandung diskriminasi dalm menentukan ahli waris.
Indonesia sendiri menurut Ichtijanto SA, cenderung menuju kea rah sistem kekeluargaan yang bilateral. Hal ini terbukti dari yurisprudensi.149 Oleh karena itu, hukum kewarisan yang didasarkan pada system ptrilinial dipandang sudah tidak relevan lagi. Hazairin dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) dalam menentukan ahli waris berorientasi pada sistem kekeluargaan yang bilateral. Sehingga keadilan dan kemaslahatan antar kerabat dalam perolehan harta warisan benar-benar dapat terwujud dan ini dapat dipandang sebagai nilai lebih dari teori Hazairin dan Kompilasi Hukum Islam (KHI). Ini telah sesuai dengan tujuan hukum Islam yaitu memberikan manfaat bagi umatnya.
Relevansi tentang kewarisan Islam, khususnya tentang wasiat kepada ahli waris adalah konsep kewarisan bilateral yang dikemukakan Hazairin sangatlah relevansi diterapkan pada masyarakat Indonesia, karena asas bilateral ini lebih mencerminkan aspek keadilan dan juga asas ini tidak hanya berpihak pada satu garis keturunan, tetapi kepada dua garis keturunan yaitu ayah dan ibu.
149 Ichtijanto SA, Percikan Pemikiran Pembaharuan Hukum Kewarisan oleh al-Qur’an.
Mimbar Hukum Nomor 59 Tahun XIV 2003.
79 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan dan uraian di atas pada bab-bab sebelumnya, pada kali ini dapatlah penulis menarik sebuah kesimpulan yang menjadi fokus masalah dalam skripsi ini:
1. Pendapat Hazairin mengenai wasiat kepada ahli waris berdasarkan paham bahwa tidak ada sesuatu ayat al-Qur’an yang dimansukhkan oleh ayat lain dalam al-Qur’an, maka ia memandang kedua ayat tersebut tetap dapat diberlakukan dan tidak ada sesuatu halangan untuk mentaati surat al-Baqarah ayat 180 dan ayat 240. Hazairin berpendapat bahwa wasiat kepada ahli waris adalah untuk menghadapi hal-hal khusus mengenai bapak, ibu, anak dan saudara-saudara, umpamanya ada diantara mereka itu yang sedang sakit lumpuh yang berlarut-larut sehingga banyak membutuhkan biaya pengobatan;
atau seorang anak yang mempunyai bakat untuk sesuatu cabang ilmu pengetahuan atau kesenian membutuhkan biaya ekstra untuk didikannya; atau seorang saudara sangat terlantar hidupnya bukan karena kesalahannya; atau sangat besar pikulan hidupnya karena banyak anaknya, dibandingkan dengan saudara-saudara yang selainnya dan sebagainya. Terhadap hal-hal istimewa inilah ukuran ma’ruf terbatas kepada kebutuhan istimewa dari anggota keluarga yang bersangkutan itu dan kepada batas umum yang telah ditentukan Rasulullah SAW, yaitu jangan melampaui 1/3 dari harta peninggalan meskipun telah ada bagian-bagian yang diterima oleh ahli waris.
2. Pendekatan yang digunakan Hazairin dalam upaya merumuskan hukum Islam adalah pendekatan sosio-kultural-historis, yang tentunya dengan tetap mengacu pada dalil-dalil Nash. Hal tersebut didasari bahwa hukum Islam atau fiqh bisa berubah menurut situasi dan kondisi yang mengitarinya.
Metode Hazairin dalam penafsirannya adalah membandingkan secara langsung segala ayat yang ada sangkut pautnya dengan pokok persoalan.
Dalam hal ini, mengenai wasiat kepada ahli waris Hazairin memakai metode indutif dan deduktif secara serentak di dalam menginterprestasikan teks al-Qur’an dan hadits.
3. Penentuan ahli waris, di Indonesia pada umumnya yang bermazhab Syafi’i ini bercorak patrilinial, sehingga mengandung sifat deskriminatif dan terbatas baik dalam menentukan ahli waris maupun dalam hal penggantian ahli warisnya. Hazairin bercorak bilateral, sehingga tidak ada diskriminasi juga tidak terbatas baik dalam menentukan ahli waris maupun dalam hal penggantian ahli warisnya. Sedangkan Kompilasi Hukum Islam (KHI) walaupun bercorak bilateral, namun masih mengandung diskriminasi dalm menentukan ahli waris.
Relevansi tentang kewarisan Islam, khususnya tentang wasiat kepada ahli waris adalah konsep kewarisan bilateral yang dikemukakan Hazairin sangatlah relevansi diterapkan pada masyarakat Indonesia, karena asas bilateral ini lebih mencerminkan aspek keadilan dan juga asas ini tidak hanya berpihak pada satu garis keturunan, tetapi kepada dua garis keturunan yaitu ayah dan ibu.
B. Saran-Saran
1. Dianjurkan kepada umat Islam khususnya di Indonesia, agar melaksanakan wasiat dalam hal ini wasiat kepada ahli waris, seyogyanya perlu mempertimbangkan pihak-pihak yang mempunyai hak terhadap harta peninggalan. Hal ini bertujuan agar ahli waris lain yang ditinggalkan merasa tidak dirugikan dan timbul rasa saling iri.
2. Dalam menghadapi perkembangan zaman yang semakin kompleks, dimana banyak persoalan-persoalan baru yang muncul sedangkan literaturnya (sebagai umat Islam), dibidang hukum hampir semuanya produk atau
pemikiran-pemikiran ulama terdahulu yang keadaannya sangat jauh berbeda dengan masa sekarang. Oleh karena itu, diperlukan adanya re-interpretasi dalam konteks kekinian dengan tidak lepas dari metode pemikiran yang sudah ada dan dikaitkan dengan perkembangan zaman.
Abdurrahman. 2010. Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. Cet. 4. Jakarta: CV Akademika Pressindo.
Ali, Muhammad Daud. 1996. Hukum Islam: Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam di Indonesia. Cet. 5. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Ali, Zainuddin. 2008. Pelaksanaan Hukum Waris di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika.
. 2009. Hukum Perdata Islam di Indonesia. Cet. 3. Jakarta: Sinar Grafika.
Arifin, Busthanul. 1996. Pelembagaan Hukum Islam di Indonesia: Akar Sejarah, Hambatan dan Prospektif. Jakarta: Gema Insani Press.
Al-Naisaburi, Muslim Ibnu Hajjaz Abdul Hasan al-Khusairi. Tt. Shahīh Muslim.
Jilid 6. Beyrut: Darul Ihya al-Turas al-Arabi.
Al-Nasā’i, Abdirrahman Ahmad Ibni Syu’aib Ibni Ali al-Khurasani. 2001. Sunan al-Kubro lin-Nasāʼi. Jilid 6. Beyrut: Muasasah al-Risalah.
Al-Syafi’i, Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris. 1993. Al Uum. Jilid 4.
Beyrut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah.
Al-Syafi’i, Imam. 2014. Al Uum. Penerjemah: Misbah. Jakarta: Pustaka Azzam.
Al-Quthny, Imam Dar. 2004. Sunan Dar al-Quthny. Beyrut: Muasasah al-Risalah.
Al-Zuhailiy, Wahbah. 1997. Al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu. Jilid 10.
Damaskus: Dar al-Fikr.
Ambary, Hasan Muarif dkk. 2001. Suplemen Ensiklopedi Islam. Cet. 7. Jakarta:
PT Ichtiar Baru van Hoeve.
Anshori, Abdul Ghofur. 2010. Filsafat Hukum Kewarisan Islam: Konsep Kewarisan Bilateral Hazairin. Cet. 2. Yogyakarta: UII Press.
Anwar, Chairul. 2008. Pendapat Imam Malik tentang Hukum Berwasiat Anak Kecil Belum Baligh (Studi Analisis Dasar Hukum dan Metode Istinbath).
Skripsi: STAIN Cirebon.
Budiono, A. Rachmad. 1991. Pembaharuan Hukum Kewarisan Islam di Indonesia. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.
Dahlan, Abdul Azis dkk. 2003. Ensiklopedia Hukum Islam. Cet. 6. Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve.
Departemen Agama RI. 2012. Al-Qur’an dan Terjemah Al-Hikmah. Bandung: PT Diponogoro.
Fuad, Ma’sun. 2005. Hukum Islam Indonesia: Dari Nalar Partisipatoris Hingga Emansipatoris. Yogyakarta: LKiS.
Habiburrahman. 2011. Rekonstruksi Hukum Kewarisan Islam di Indonesia.
Jakarta: Kencana.
Hadikusuma, Hilman. 2003. Hukum Waris Adat. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Hamid, Abdul Ghoni. Kewarisan dalam Perspektif Hazairin. Jurnal Studi Agama dan Masyarakat. Volume 4. Nomor 1 Juni 2007.
Hazairin. 1982. Hukum Kewarisan Bilateral menurut al-Qur’an dan Hadits. Cet.
6. Jakarta: Tintamas.
Irawan, Muhamad. 2014. Perbandingan Wasiat Menurut Hukum Islam dan KUH Perdata. Universitas Mataram: Jurnal Ilmiah.
Karim, Helmi. 1997. Fiqh Muamalah. Cet. 2. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Kurniasih, Eva. 2012. Studi Perbandingan Wasiat Menurut Hukum Islam, Kompilasi Hukum Islam dan KUH Perdata. Skripsi: UIN Malang.
Kuzani, Akhmad. 1996. Sistem Asabah: Dasar Pemindahan Hak Milik atas Harta Tinggalan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Mughniyah, Muhammad Jawad. 2005. Fiqih Lima Mazhab. Penerjemah: Masykur A.B., dkk. Cet. 13. Jakarta: Lentera Basritama.
Muthohar, Abdul Hadi. 1997. Pengaruh Mazhab Syafi’i di Asia Tenggara.
Jakarta: Wacana Ilmu.
Rafiq, Ahmad. 1995. Fiqh Mawaris. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
. 2004. Hukum Perkawinan, Hukum Kewarisan, Hukum Acara Peradilan Agama dan Zakat. Jakarta: Sinar Grafika.
Ritoliga, lskandar. Hazairin Gelar Pangeran Alamsyah Harahap: Pembela Hukum Islam yang Gigih. Mimbar Hukum. Vol. 2 No. l, Juli I999.
Rudiana, Eddi dkk. 1991. Hukum Islam di Indonesia. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Rusy, Ibnu. 2007. Bidayatul Mujtahid: Analisa Fiqih Para Mujtahid. Penerjemah:
Imam Ghazali Said dan Achmad Zaidun. Jilid 3. Jakarta: Pustaka Amani.
Ichtijanto SA, Percikan Pemikiran Pembaharuan Hukum Kewarisan oleh al Qur’an. Mimbar Hukum Nomor 59 Tahun XIV 2003.
Sabiq, Sayyid. 1987. Fikih Sunnah. Penerjemah: Mudzakir. Cet.14. Bandung: PT Alma’arif.
Shadily, Hassan. T.t. Ensiklopedi Indonesia. Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve.
Soekanto, Soerjono dan Sri Mamudji. 2011. Penelitian Hukum Normatif. Jakarta:
PT RajaGrafindo Persada.
Sudarsono. 1991. Hukum Waris dan Sistem Bilateral. Cet. 2. Jakarta: Rineka Cipta.
Suhrawardi dan Komis Simanjutak. 2009. Hukum Waris Islam. Jakarta: Sinar Grafika.
Sumitro, Warkum. 2005. Perkembangan Hukum Islam di Tengah Kehidupan Sosial Politik di Indonesia. Malang: Banyumedia.
Supriadi, Dedi. 2007. Sejarah Hukum Islam. Bandung: Pustaka Setia.
Syah, Ismail Muhammad dkk. 1999. Filsafat Hukum Islam. Cet. 3. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Syarifudin, Amir. 2004. Hukum Kewarisan Islam. Jakarta: Prenada Media.
Undang-Undang Dasar Negara RI. T.t. Surabaya: Putra Bahari.
Usman, Suparman. 2001. Hukum Islam: Asas-Asas dan Pengantar studi Hukum Islam dalam Tata Hukum Indonesia. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Usmani, Ahmad Rofi’. 2015. Ensiklopedia Tokoh Muslim. Bandung: PT Mizan Pustaka.
Zein, Muhammad Ma’sum. 2004. Arus Pemikiran Empat Mazhab: Studi Analisis Istinbat Para Fuqaha. Jakarta: Sinar Grafika.
Zein, Satria Effendi M. 2004. Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer.
Jakarta: Kencana.