• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori 1 Belanja Daerah

2.1.4 Pendapatan Asli Daerah

Salah satu tujuan pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal

adalah untuk meningkatkan kemandirian daerah dan mengurangi ketergantungan

fiskal terhadap pemerintah pusat. Peningkatan kemandirian daerah sangat erat

kaitannya dengan kemampuan daerah dalam mengelola Pendapatan Asli Daerah

(PAD). Dengan kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah daerah di era otonomi

daerah, maka daerah juga berwenang untuk membuat kebijakan daerah guna

menciptakan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Untuk dapat mencapai hal

tersebut maka pendapatan asli daerah juga harus mampu menopang kebutuhan-

kebutuhan daerah (belanja daerah) bahkan diharapkan tiap tahunnya akan selalu

pendapatan asli daerahnya sebagai wujud asas desentralisasi. Semakin tinggi

kemampuan daerah dalam menghasilkan Pendapatan Asli Daerah maka akan

semakin besar pula kemampuan daerah untuk menggunakan Pendapatan Asli

Daerah tersebut sesuai dengan aspirasi, kebutuhan, dan prioritas pembangunan

daerah.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan

Keuangan Antara Pusat dan Daerah Pasal 1 angka 18 bahwa “Pendapatan asli

daerah, selanjutnya disebut PAD adalah pendapatan yang diperoleh daerah yang

dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-

undangan”. Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan semua penerimaan daerah

yang berasal dari sumber-sumber dalam wilayahnya sendiri atau penerimaan

daerah yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah yang dipungut berdasarkan

peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dan

dapat disimpulkan pendapatan asli daerah merupakan penghasilan yang diperoleh

melalui usaha-usaha yang dilakukan oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan

kas daerah yang berasal dari daerah itu sendiri.

Pendapatan asli daerah juga merupakan usaha daerah untuk meminimalkan

ketergantungan terhadap dana dari pemerintah berupa dana perimbangan.

Pendapatan asli daerah yaitu sumber keuangan daerah yang harus selalu dan terus

menerus ditingkatkan pertumbuhannya. Kenaikan dari jumlah kontribusi

pendapatan asli daerah akan sangat berperan untuk mendukung rencana

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006

tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 26 ayat (1) disebutkan

bahwa pendapatan asli daerah terdiri dari hasil pajak daerah, hasil retribusi

daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain

pendapatan asli daerah.

1. Pajak Daerah

Secara umum, pajak daerah memberikan kontribusi terbesar terhadap

penerimaan Pendapatan Asli Daerah. Menurut Undang-Undang Nomor 34 Tahun

2000 menyebutkan bahwa Pajak merupakan iuran wajib yang dilakukan oleh

orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang

yang dapat dilaksanakan berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang

berlaku yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah

dan pembangunan daerah. Dan Ciri-ciri pajak daerah menurut Josef (2005) dalam

Ferdian (2013) adalah :

a. Pajak daerah yang berasal dari pajak negara yang diserahkan kepada

daerah sebagai pajak daerah.

b. Penyerahan dilakukan berdasarkan undang-undang.

c. Pajak daerah dipungut oleh daerah berdasarkan ketentuan undang-undang

dan peraturan hukum lainnya.

d. Hasil pungutan pajak daerah dipergunakan untuk membiayai

penyelenggaraan urusan-urusan rumah tangga daerah atau untuk

2. Retribusi Daerah

Menurut UU No. 28 Tahun 2009 Retribusi Daerah yang selanjutnya

disebut Retribusi adalah pungutan Daerah sebagian pembayaran atas jasa atau

pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh

Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.

Retribusi daerah pada umumnya merupakan sumber pendapatan

penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) kedua setelah pajak daerah.

Retribusi daerah memiliki karakteristik yang berbeda dengan pajak daerah. Pajak

daerah merupakan pungutan yang dilakukan pemerintah daerah kepada wajib

pajak daerah tanpa ada kontraprestasi langsung yang bisa diterima wajib pajak

atas pembayaran pajak tersebut. Sementara itu, retribusi daerah merupakan

pungutan yang dilakukan pemerintah daerah kepada wajib retribusi atas

pemanfaatan suatu jasa tertentu yang disediakan pemerintah. Jadi dalam hal ini

terdapat kontraprestasi langsung yang dapat dinikmati pembayar retribusi. Jenis

retribusi dikelompokan dalam tiga bagian (Darise, 2008) yaitu :

a. Retribusi Jasa Umum

Retribusi jasa umum merupakan retribusi atas jasa yang disediakan atau

diberikan oleh pemerintah daerah untuk tujuan kepentingan dan pemanfaatan

umum serta dapat dinikmati oleh orang atau badan.

b. Retribusi Jasa Usaha

Retribusi Jasa Usaha merupakan pelayanan yang disediakan oleh

tersebut dapat disediakan oleh swasta, meliputi pelayanan dengan menggunakan

dan memanfaatkan kekayaan daerah yang belum dimanfaatkan secara optimal.

c. Retribusi Perizinan Tertentu

Retribusi Perizinan tertentu merupakan retribusi atas kegiatan tertentu

pemerintah daerah dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau badan

yang dimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan

atas kegiatan pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang,

prasarana, sarana atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum, dan

menjaga kelestarian lingkungan.

Retribusi sangat berhubungan erat dengan jasa layanan yang diberikan

pemerintah kepada yang membutuhkan. Hal tersebut dikarenakan retribusi

merupakan pembayaran yang terkait dengan pelayanan tertentu. Oleh karena itu

setiap pungutan yang dilakukan oleh pemerintah daerah senantiasa berdasarkan

prestasi dan jasa yang diberikan kepada masyarakat, sehingga keluasaan retribusi

daerah terletak pada yang dinikmati oleh masyarakat.

3. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan

Hasil Pengelolaan Kekayaan Milik Daerah yang Dipisahkan merupakan

penerimaan Daerah yang berasal dari pengelolaan kekayaan Daerah yang

dipisahkan (Halim, 2008). Dengan adanya otonomi daerah, salah satu

kewenangan yang dimiliki oleh daerah yaitu mengelola kekayaan daerahnya

seoptimal mungkin yang tujuannya untuk meningkatkan pendapatan asli daerah.

Dan dalam usaha menggali sumber pendapatan daerah dapat dilakukan dengan

perundang-undangan yang berlaku. Salah satu sumber pendapatan asli daerah

yang sangat penting dan mendapat perhatian khusus yaitu perusahaan daerah.

Pemerintah daerah diberikan izin untuk mendirikan Badan Usaha Milik

Daerah (BUMD) sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) bersama dengan sektor swasta dan Asosiasi

Pengusaha Daerah diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi daerah sehingga

dapat menunjang pembangunan perekonomian daerah. Dan Hasil pengelolaan

kekayaan daerah yang dipisahkan terdiri dari (Halim, 2008) :

a. Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik daerah

(BUMD).

b. Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik pemerintah atau

BUMN

c. Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik swasta atau

kelompok usaha masyarakat.

4. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah.

Jenis lain-lain pendapatan asli daerah yang sah disediakan untuk

menganggarkan penerimaan daerah yang tidak termasuk dalam jenis pajak daerah,

retribusi daerah dan hasil pengelolaan kekayaan yang dipisahkan mencakup

(Darise, 2008;136) :

a. Hasil penjualan aset daerah yang dipisahkan;

b. Hasil pemanfaatan atau pendayagunaan kekayaan daerah yang tidak

dipisahkan;

d. Bunga deposito;

e. Penerimaan atas tuntutan ganti rugi;

f. Penerimaan komisi, potongan ataupun bentuk lain sebagai akibat dari

penjualan,pengadaan barang dan jasa oleh daerah serta keuntungan dari

selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing;

g. Pendapatan denda atas keterlambatan pelaksanaan pekerjaan;

h. Pendapatan denda pajak dan denda retribusi;

i. Pendapatan hasil eksekusi atas jaminan;

j. Pendapatan dari pengembalian;

k. Fasilitas sosial dan umum;

l. Pendapatan dari penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan;

m. Pendapatan dari angsuran/cicilan penjualan.

Dokumen terkait