BAB II TINJAUAN PUSTAKA
G. Hipotesis
Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka dapatlah diberi hipotesa adalah “diduga terdapat pengaruh yang signifikan pemungutan pajak hiburan terhadap peningkatan pendapatan asli daerah Kota Makassar”.
Pajak Hiburan Kota Makassar (X)
Pendapatan Asli Daerah (Y)
27 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian
Pengumpulan data dilakukan sebagai penunjang utama dalam penelitian ini, penelitian bertempat di Kantor Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar ±2 bulan yakni pada bulan Februari-April.
B. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data
Jenis data dalam penelitian ini terdiri atas 2 (dua) yaitu:
a. Data kuantitatif yaitu data yang diperoleh dari instansi dalam bentuk angka-angka seperti: jumlah pegawai, serta data lainnya yang ada hubungannya dengan penelitian ini.
b. Data kualitatif yaitu data yang diperoleh dari instansi melalui keterangan-keterangan secara tertulis, seperti sejarah atau gambaran umum instansi, struktur organisasi, dan informasi tentang jenis pemungutan pajak yang pernah dilaksanakan.
2. Sumber Data
Adapun sumber data dalam penelitian ini yaitu:
a. Data primer, yaitu data yang diperoleh dengan mengadakan pengamatan secara langsung dan wawancara dengan pimpinan instansi dan pegawai lainnya.
b. Data sekunder, yaitu berupa bahan-bahan dokumentasi instansi seperti sejarah berupa bahan-bahan, struktur organisasi, jumlah pegawai, serta data lainnya yang ada hubungannya dengan tujuan instansi.
C. Metode Pengumpulan Data
Banyak metode yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data dalam sebuah penelitian. Metode pengumpulan data pada prinsipnya berfungsi untuk mengungkapkan variabel yang akan diteliti. Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang digunakan adalah:
1. Penelitian Lapangan (Field Research)
Penelitian ini dilakukan dengan mengadakan pengamatan secara langsung pada Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar melalui:
a. Observasi
Metode pengumpulan data dengan melakukan pengamatan langsung maupun tidak langsung terhadap aktivitas yang berhubungan dengan penerimaan pajak hiburan Kota Makassar.
b. Wawancara
Penulis melakukan tanya jawab dan diskusi secara langsung dengan pihak instansi, khususnya dengan bagian yang berhubungan dengan objek penelitian.
c. Kuesioner
Penulis membagikan kuesioner kepada 25 responden sebanyak yang berisikan 10 item pertanyaan mengenai pemungutan pajak hiburan dan
10 item pertanyaan mengenai pendapatan asli daerah Kota Makassar.
2. Studi Pustaka
Dilakukan dengan cara mencari dan membaca literature-literature yang ada hubungannya dengan materi penulisan.
D. Metode Analisis Data
Metode yang digunakan untuk menganalisis dalam penelitian ini adalah:
1. Metode analisis deskriptif kuantitatif yang didasarkan pada penggambaran yang mendukung analisa tersebut, analisis ini menekankan pada pemahaman mengenai masalah-masalah dalam kehidupan sosial berdasarkan kondisi realitas dan natural setting yang holistis, kompleks, dan rinci yang sifatnya menjelaskan secara uraian dalam bentuk kalimat.
2. Analisis regresi linear sederhana dilakukan dengan mengukur pengaruh variabel independen terhadap dependen, dengan menggunakan analisi Regresi Linier Sederhana.
Persamaannya adalah sebagai berikut:
Y = a+ bx Ket :
Y : Peningkatan pendapatan PAD X : Pemungutan Pajak Hiburan a : Konstanta
Untuk menguji pengaruh pemungutan pajak hiburan terhadap peningkatan penerimaan pendapatan daerah Dinas Pendapatan Kota Makassar, maka digunakan uji-t terhadap hipotesis yang ada dimana bentuk penyajiaanya adalah sebagai berikut:
H0 : b1 = 0, maka pemungutan pajak hiburan tidak berpengaruh terhadap peningkatan penerimaan PAD Kota Makassar.
H0 :b1 ≠ 0, maka pemungutan pajak hiburan berpengaruh terhadap peningkatan penerimaan PAD Kota Makassar
Hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak dilakukan dengan cara membandingan nilai thitung dengan ttabel pada tingkat kepercayaan 95% (α=0,05).
Adapun criteria pengujian yaitu: jika thitung < tα(n-k), maka Ho diterima, dan jika thitung ≥ tα(n-k), maka H1 ditolak.
31 BAB IV
GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Kota Makassar merupakan ibu kota dari Provinsi Sulawesi Selatan. Kota yang dulunya bernama Kotamadya Ujung Pandang kini merupakan salah satu kota metropolis dan tergolong pula sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia dari aspek pembangunannya dan secara demografis dengan berbagai suku bangsa yang menetap di kota ini. Adapun suku yang menetap di kota ini yakni suku Makassar, Bugis, Toraja, Mandar, Jawa dan Tionghoa. Wilayah Kota Makassar terus berkembang, khususnya ke arah Timur, pembangunan infrastruktur seperti perluasan pelabuhan laut Makassar, Bandara Hasanuddin, jalan tol, kawasan industri Makassar dan berbagai proyek lainnya tengah dilaksanakan.
Kota Makassar juga memiliki obyek-obyek wisata yang cukup menarik seperti Benteng Ujung Pandang, pelabuhan perahu tradisional pinisi, makam Pangeran Diponegnoro, Taman Budaya Sulawesi, rekreasi wisata bahari, pagelaran tarian dan busana tradisional. Kota Makassar yang juga dikenal dengan sebutan Kota Anging Mammiri memiliki luas wilayah 175,77 km2 yang secara administratif terbagi dalam 14 kecamatan dan 143 kelurahan dengan jumlah penduduk 1.371.904 jiwa. Kota Makassar yang merupakan ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan secara geografis berada di
tengah-tengah kepulauan nusantara atau Center Point of Indonesia dan memiliki posisi strategis sebagai pusat pengembangan, pusat industri, distribusi barang/
jasa, dan ruang keluarga atau "living room" Kawasan Timur Indonesia.
Sebelum terbentuknya Dinas Pendapatan Kota Tingkat II Makassar, Dinas Pasar, Dinas Air Minum dan Dinas Penghasilan Daerah dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Wilikota Nomor 155/Kep/A/V/1973 Tanggal 24 Mei 1973 terdiri dari beberapa Sub Dinas Terminal Angkutan, Sub Dinas Pngelolahan Tanah Pasir, Sub Dinas Taman Hiburan Rakyat, Sub Dinas Pemeriksaan Kendaraan Tidak Bermotor dan Sub Dinas Administrasi. Adanya Keputusan Walikota yang terdapat dalam Keputusan Daerah Tingkat II Ujung Pandang Nomor 74/S/Kep/A/V1977 Tanggal 1 April 1977 bersama dengan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 3/12/43 Tanggal 9 September 1975 dan Instruktur Menteri, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan tanggal 25 Oktober 1975 Nomor Keu/3/22/33 tentang pembentukan Dinas Pendapatan Daerah Kota Ujung Pandang telah disempurnakan dan ditetapkan perubahan namanya menjadi Dinas Penghasilan Daerah yang kemudian menjadi unit-unit yang menangani sumber-sumber keuangan daerah seperti Dinas Perpajakan.
Dinas Pasar dan Sub Dinas Pajak Parkir dan semua Sub-sub Dinas dalam unit penghasilan daerah yang tergabung dalam unit penghasilan daerah dilebur dan dimasukkan pada unit kerja Dinas Pendapatan daerah
Kota Ujung Pandang. Seiring dengan adanya perubahan Kota Ujung Pandang menjadi Kota Makassar, secara otomatis nama Dinas Pendapatan Daerah Kota Ujung Pandang berubah menjadi Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kota Makassar.
B. Visi dan Misi Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar 1. Visi
Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar, yaitu prima dalam Pelayanan dan Unggul dalam Pengelolaan Pendapatan Daerah.
2. Misi
Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar, yaitu sebagai berikut:
a. Menggali sumber-sumber PAD secara optimal.
b. Menyusun/merevisi kembali Peraturan Daerah.
c. Meningkatkan pengawasan pengelolahan pendapatan daerah.
d. Meningkatkan kemampuan Sumber Daya Manusia.
e. Melakukan evaluasi secara berkala.
f. Menyediakan sarana dan prasarana yang memadai.
g. Meningkatkan penyuluhan, pelayanan, dan pengawasan agar terbina kesadaran Wajib Pajak/Wajib Retribusi.
C. Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar 1. Tugas pokok
Tugas pokok Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar yaitu merumuskan, membina, dan mengelolah pendapatan daerah.
2. Fungsi
Fungsi Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar, yaitu sebagai berikut.
a. Penyusunan rumusan kebijakan teknis di bidang pengelolaan pendapatan serta melakukan pendataan potensi pendapatan daerah.
b. Penyusunan rencana dan program evaluasi pelaksanaan pungutan pendapatan daerah.
c. Pelaksanaan perencanaan dan pengendalian teknis operasional bidang pendataan, penetapan, keberatan, dan penagihan serta pembukuan pajak hotel, pajak hiburan, pajak restoran, pajak parkir, pajak reklame, pajak penerangan jalan, pajak pengambilan dan pengelolaan batuan galian golongan C serta pajak/pendapatan daerah dan retribusi daerah lainnya.
d. Pelaksanaan perencanaan dan pengendalian teknis operasional bidang bagi hasil dan pendapatan lainnya serta intensifikasi dan ekstensifikasi.
e. Pelaksanaan perencanaan dan pengendalian teknis operasional pengelolaan keuangan, kepegawaian dan pengurusan barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya.
f. Pelaksanaan kesekretariatan dinas;
g. Pembinaan unit pelaksana teknis.
Gambar 4.1 Struktur Organisasi Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar Golongan C, Pajak Daerah dan
Bagi Hasil
Uraian Tugas Jabatan Struktural pada Dispenda Kota Makassar 1. Kepala Dinas
Merencanakan, merumuskan, mengembangkan, mengkoordinasi, dan mengendalikan tugas desentrasi, dekonsentrasi dan tugas pembantu di bidang pendapatan.
2. Sekretariat
Sekretariat Dinas dipimpin sekretaris di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala Dinas. Sekretariat mempunyai tugas memberikan pelayanan administratif bagi seluruh satuan kerja di lingkungan Dinas Pendapatan Kota Makassar. Dalam melaksanakan tugas, Sekretariat menyelenggarakan fungsi:
a. Pengelolaan kesekretariatan;
b. Pelaksanaan urusan kepegawaian dinas;
c. Pelaksanaan urusan keuangan dan penyusunan neraca SKPD;
d. Pelaksanaan urusan perlengkapan;
e. Pelaksanaan urusan umum dan rumah tangga;
f. Pengkoordinasian perumusan program dan rencana kerja Dinas Pendapatan;
g. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh atasan.
3. Subbagian Umum dan Kepegawaian
Subbagian Umum dan Kepegawaian mempunyai tugas menyusun rencana kerja, melaksanakan tugas teknis ketatausahaan, mengelolah administrasi kepegawaian serta melaksanakan urusan kerumahtanggaan dinas.
Dalam melaksanakan tugas Subbagian Umum dan Kepegawaian menyelenggarakan fungsi:
a. Melaksanakan penyusunan rencana dan program kerja Subbagian Umum dan Kepegawaian;
b. Mengatur pelaksanaan kegiatan sebagian urusan ketatausahaan meliputi surat-menyurat, kearsipan, surat perjalanan dinas, dan mendistribusikan surat sesuai bidang;
c. Melaksanakan urusan kerumahtanggaan dinas;
d. Melaksanakan usul kenaikan pangkat, mutasi dan pensiun;
e. Melaksanakan usul gaji berkala, usul tugas belajar dan izin belajar;
f. Menghimpun dan mensosialisasikan peraturan perundang-undangan di bidang kepegawaian dalam lingkup dinas;
g. Menyiapkan bahan penyusunan standarisasi yang meliputi bidang kepegawaian, pelayanan, organisasi dan ketatalaksanaan;
h. Melakukan koordinasi dengan unit kerja lain yang berkaitan dengan bidang tugasnya;
i. Melakukan koordinasi pada Sekretariat Korpri Kota Makassar;
j. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas;
k. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh atasan.
4. Sub bagian Keuangan
Subbagian Keuangan mempunyai tugas menyusun rencana kerja dan melaksanakan tugas teknis keuangan. Dalam melaksanakan tugas Subbagian Keuangan menyelenggarakan fungsi:
a. Menyusun rencana dan program kerja Subbagian Keuangan;
b. Mengumpulkan dan menyusun Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah;
c. Mengumpulkan dan menyiapkan bahan penyusunan Rencana Kerja Anggaran (RKA) dan Dokumen Perencanaan Anggaran (DPA) dari masing-masing Bidang dan Sekretariat sebagai bahan konsultasi perencanaan ke Bappeda melalui Kepala Dinas;
d. Menyusun realisasi perhitungan anggaran dan administrasi perbendaharaan dinas;
e. Mengumpulkan dan menyiapkan bahan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi dari masing-masing satuan kerja;
f. Menyusun laporan neraca SKPD dengan melakukan koordinasi dengan Subbagian Perlengkapan;
g. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas;
h. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh atasan.
5. Subbagian Perlengkapan
Subbagian Perlengkapan mempunyai tugas menyusun rencana kerja, melaksanakan tugas teknis perlengkapan, membuat laporan serta mengevaluasi semua pengadaan dan pemanfaatan barang.
Dalam melaksanakan tugas Sub bagian Perlengkapan menyelenggarakan fungsi:
a. Menyusun rencana dan program kerja Dinas Pendapatan;
b. Menyusun Rencana Kebutuhan Barang Unit (RKBU) Dinas;
c. Membuat usulan Rencana Kerja Kebutuhan Barang Unit (RKBU) Sekretariat dan Bidang-bidang;
d. Membuat Daftar Kebutuhan Barang (RKB);
e. Membuat Rencana Tahunan Barang Unit (RTBU);
f. Menyusun kebutuhan biaya pemeliharaan untuk tahun anggaran dan bahan penyusunan APBD;
g. Menerima dan meneliti semua pengadaan barang pada Dinas Pendapatan;
h. Melakukan penyimpanan dokumen dan surat berharga lainnya tentang barang inventaris daerah;
i. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas;
j. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh atasan.
6. Bidang I Pajak Hotel dan Hiburan
Bidang I Pajak Hotel dan Hiburan mempunyai tugas melaksanakan pelayanan administrasi, pendataan, penetapan, keberatan, penagihan, pembukuan, verifikasi dan pelaporan Pajak Hotel dan Pajak Hiburan. Dalam melaksanakan tugas Bidang I Pajak Hotel dan Hiburan menyelenggarakan fungsi:
a. Melaksanakan penyusunan rencana kerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya;
b. Melaksanakan pelayanan pendaftaran, pendataan, penetapan, keberatan, penerbitan Surat Ketetapan Pajak Daerah, penagihan, pembukuan, verifikasi dan pelaporan Pajak Hotel dan Pajak Hiburan;
c. Melaksanakan pembinaan sistem manajemen Pengelolaan Pajak;
d. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan;
e. Pengelolaan administrasi urusan tertentu.
7. Bidang II Pajak Restoran dan Parkir
Bidang II Pajak Restoran dan Parkir mempunyai tugas melaksanakan pelayanan administrasi, pendataan, penetapan, keberatan, penagihan, pembukuan, verifikasi dan pelaporan Pajak Restoran dan Pajak Parkir.
Dalam melaksanakan tugas, Bidang II Pajak Restoran dan Pajak Parkir menyelenggarakan fungsi:
a. Melaksanakan penyusunan rencana kerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya;
b. Melaksanakan pelayanan pendaftaran, pendataan, penetapan, keberatan, penerbitan surat ketetapan pajak daerah, penagihan, pembukuan, verifikasi dan pelaporan Pajak Restoran dan Pajak Parkir;
c. Melaksanakan pembinaan sistem manajemen Pengelolaan Pajak;
d. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan;
e. Pengelolaan administrasi urusan tertentu.
8. Bidang III Pajak hiburan dan Retribusi Daerah
Bidang III Pajak hiburan dan Retribusi Daerah mempunyai tugas melaksanakan pelayanan administrasi, pendataan, penetapan, keberatan, penagihan, pembukuan dan pelaporan Pajak hiburan dan Retribusi Daerah.
Dalam melaksanakan tugas, Bidang III Pajak hiburan dan Retribusi Daerah menyelenggarakan fungsi:
a. Melaksanakan penyusunan rencana kerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya;
b. Melaksanakan pelayanan pendaftaran, pendataan, penetapan, keberatan, penerbitan surat ketetapan pajak daerah, penagihan, pembukuan, verifikasi dan pelaporan Pajak hiburan dan Retribusi Daerah;
c. Melaksanakan pembinaan sistem manajemen Pengelolaan Pajak;
d. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan;
e. Pengelolaan administrasi urusan tertentu.
9. Bidang IV Koordinasi, Pengendalian Pajak Penerangan Jalan, Pajak Pengambilan dan Pengelolaan Batuan Galian Golongan C, Pajak Daerah dan Bagi Hasil
Bidang IV Koordinasi, Pengendalian Pajak Penerangan Jalan, Pajak Pengambilan dan Pengelolaan Batuan Galian Golongan C, Pajak Daerah dan Bagi Hasil mempunyai tugas melaksanakan tugas pokok mengendalikan, merencanakan, merumuskan serta melakukan pengembangan, evaluasi, pengendalian dan pelaporan serta audit pajak dan retribusi.
Dalam melaksanakan tugas, Bidang IV Koordinasi, Pengendalian Pajak Penerangan Jalan, Pajak Pengambilan dan Pengelolaan Batuan Galian Golongan C, Pajak Daerah dan Bagi Hasil menyelenggarakan fungsi:
a. Melaksanakan penyusunan rencana kerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya;
b. Koordinasi dan pengendalian intensifikasi dan ekstensifikasi;
c. Mengkoordinasikan dan mengendalikan intensifikasi dan ekstensifikasi pajak-pajak dan retribusi;
d. Koordinasi dan pengendalian bagi hasil dan pajak daerah lainnya;
e. Pengendalian, pelaporan dan verifikasi;
f. Melaksanakan koordinasi antara seksi yang berkaitan dengan bidang tugasnya;
g. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh atasan;
h. Pengelolaanm administrasi urusan tertentu.
43 BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Sistem Pemungutan Pajak Hiburan di Kota Makassar
Pajak hiburan dilihat dari segi lembaga pemungutannya termasuk sebagai pajak daerah, hal ini sebagaimana disebutkan dalam Undang - undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah perubahan atas Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Kepala Bidang III Pajak hiburan diketahui bahwa sistem pemungutan pajak hiburan di Kota Makassar hanya menerapkan satu sistem dalam pemungutan pajaknya. Hasil wawancaranya adalah sebagai berikut:
“Untuk pajak hiburan sendiri kita menerapkan sistem official assessment atau yang biasa orang bilang taksasi.”
Hasil wawancara di atas peneliti menyatakan bahwa untuk pemungutan pajak hiburan itu sendiri DISPENDA hanya menerapkan satu sistem saja yaitu sistem official Assesment dalam sistem ini memberikan wewenang kepada pemerintah untuk menghitung besaran pajak terutang yang akan dibayar oleh wajib pajak.
Ada berbagai jenis komponen pajak daerah yang dikeluarkan oleh Dinas Pendapatan Daerah khususnya di kota Makassar namun dalam penelitian ini difokuskan pada pajak hiburan dan pajak hotel. Pajak hotel adalah pajak atas pelayanan hotel. Hotel juga termasuk rumah penginapan yang memungut bayaran, sedangkan yang menjadi pengusaha hotel adalah
orang pribadi atau badan dalam bentuk apa pun yang dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaannya melakukan usaha di bidang jasa penginapan.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa dalam penelitian ini yang dijadikan sebagai obyek dalam penelitian adalah pajak dengan periode pengamatan tahun 2012-2014. Berikut ini akan
Sumber : Data sekunder DISPENDA Kota Makassar
Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 3 Tahun 2010 Tentang Pajak Daerah menyebutkan bahwa perhitungan besaran pokok pajak hiburan yang terutang dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan pajak atau nilai sewa. Adapun cara perhitungan nilai sewa ditetapkan dalam Keputusan Walikota Makassar Nomor: 500/423KEP/IV/09.
Selanjutnya analisis penerimaan pajak hiburan di Kota Makassar Tahun 2012-2014. Untuk menghitung potensi perolehan pajak hiburan yang diterima Kota Makassar periode tahun 2012-2014 dapat dilihat di bawah ini:
Tabel 5. 2. Penerimaan Pajak Hiburan Tahun 2012 No Bulan Realisasi (Rupiah) Persentase
1 Januari 752.545.173 64
2 Februari 898.130.642 76
3 Maret 1.000.102.567 85
4 April 1.083.225.844 92
5 Mei 1.198.623.441 101
6 Juni 1.226.179.034 104
7 Juli 1.033.336.657 87
8 Agustus 825.680.177 70
9 Oktober 905.588.557 77
10 September 1.242.140.169 105
11 November 1.201.540.299 102
12 Desember 2.310.719.652 196
Jumlah 13.677.812.212 1159
Sumber: Data sekunder DISPENDA Kota Makassar
Berdasarkan pada uraian tabel di atas diperoleh bahwa pendapatan pajak hiburan yang diterima oleh Dinas pendapatan Daerah tahun 2012 sebesar Rp. 13.677.812.212,-. dengan demikian diperoleh bahwa realisasi penerimaan pajak hiburan terealisasi sebesar 96% dari jumlah target pajak hiburan yang sebesar Rp. 1.181.250.000,, ini berarti selisih penerimaan pajak hiburan sebesar Rp. 1.678.437.788,-.
Tabel 5. 3. Penerimaan Pajak Hiburan Tahun 2013 No Bulan Realisasi (Rupiah) Persentase
1 Januari 939.287.853 74
2 Februari 1.448.001.461 115
3 Maret 1.077.432.418 85
4 April 1.319.102.312 104
5 Mei 1.674.500.102 132
6 Juni 1.715.732.396 136
7 Juli 1.868.909.337 148
8 Agustus 810.617.222 64
9 Oktober 1.320.578.536 104
10 September 1.306.170.968 103
11 November 1.257.259.355 99
12 Desember 1.568.130.555 124
16.305.722.515 1288
Sumber: Data sekunder DISPENDA Kota Makassar
Berdasarkan pada uraian tabel di atas diperoleh bahwa pendapatan pajak hiburan yang diterima oleh Dinas pendapatan Daerah tahun 2013 sebesar Rp. 16.305.722.515,-. dengan demikian diperoleh bahwa realisasi penerimaan pajak hiburan terealisasi sebesar 107% melewati jumlah target pajak hiburan yang ditentukan sebesar Rp.1.264.583.333, ini berarti selisih penerimaan pajak hiburan sebesar Rp. 1.333.860.814,-.
Tabel 5. 4. Penerimaan Pajak Hiburan Tahun 2014 No Bulan Realisasi (Rupiah) Persentase
1 Januari 1.783.839.778 126
2 Februari 159.161.0180 113
3 Maret 1.308.800.369 93
4 April 1.476.910.529 105
5 Mei 1.467.332.980 104
6 Juni 1.681.963.623 119
7 Juli 1.255.158.124 89
8 Agustus 1.002.310.489 71
9 Oktober 1.587.141.477 51
10 September 1.371.266.271 44
11 November 1.569.813.647 51
12 Desember 2.358.038.377 76
18.454.185.844 1042
Sumber: Data sekunder DISPENDA Kota Makassar
Berdasarkan pada uraian tabel di atas diperoleh bahwa pendapatan pajak hiburan yang diterima oleh Dinas pendapatan Daerah tahun 2014 sebesar Rp. 18.454.185.844,-. dengan demikian diperoleh bahwa realisasi penerimaan terealisasi sebesar 86% dari jumlah target pajak hiburan yang sebesar Rp.
23.1189.917.114, ini berarti selisih penerimaan sebesar Rp. 4735.731.270,-.
Berikut uraian perbandingan realisasi penerimaan pajak hiburan dengan target penerimaan yang telah di anggarkan oleh Dispenda Kota Makassar:
Tabel 5. 5. Tabel Perbandingan antara Target dan Penerimaan Pajak Hiburan Kota Makassar
1 Januari 1181250000 752545173 64 1264583333 939287853 74 1783839778 1783839778 126
2 Februari 1181250000 898130642 76 1264583333 1448001461 115 1783839778 1591610180 113
3 Maret 1181250000 1000102567 85 1264583333 1077432418 85 1783839778 1308800369 93
4 April 1181250000 1083225844 92 1264583333 1319102312 104 1783839778 1476910529 105
5 Mei 1181250000 1198623441 101 1264583333 1674500102 132 1783839778 1467332980 104
6 Juni 1181250000 1226179034 104 1264583333 1715732396 136 1783839778 1681963623 119
7 Juli 1181250000 1033336657 87 1264583333 1868909337 148 1783839778 1255158124 89
8 Agustus 1181250000 825680177 70 1264583333 810617222 64 1783839778 1002310489 71
9 Oktober 1181250000 905588557 77 1264583333 1320578536 104 1783839778 1587141477 51
10 September 1181250000 1242140169 105 1264583333 1306170968 103 1783839778 1371266271 44
11 November 1181250000 1201540299 102 1264583333 1257259355 99 1783839778 1569813647 51
12 Desember 1181250000 2310719652 196 1264583333 1568130555 124 1783839778 2358038377 76
Sumber : Data sekunder DISPENDA Kota Makassar
B. Pengaruh Penerimaan Pajak Hiburan Terhadap Peningkatan PAD Kota Makassar
Pada penelitian ini teknik analisa data yang digunakan adalah regresi linear sederhana. Teknik analisa ini digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh antara variabel pemungutan pajak hiburan dan variabel peningkatan PAD Kota Makassar. Berikut hasil analisis data SPSS:
Tabel 5. 6. Model Summaryb
Berdasarkan tabel perhitungan di atas diperoleh R sebesar 0,213. Hal ini menunjukkan bahwa kedua variabel yaitu variable independen (Pemungutan Pajak Hiburan) berpengaruh signifikan terhadap PAD (pendapatan asli daerah).
Adapun besar pengaruh pemungutan pajak hiburan terhadap PAD berdasarkan nilai koefisien determinasi, yaitu sebesar 0,46 atau 46% selebihnya sebesar 54% (100- 46) dipengaruhi oleh variabel factor yang tidak diteliti.
Hasil perhitungan diatas maka diperoleh, diperkirakan nilai peningkatan PAD sebesar 46%. Dari persamaan regresi diatas dapat diartikan bahwa, bila nominal pajak hiburan dinaikkan sebanyak 1%, maka rata-rata
peningkatan pendapatan PAD akan bertambah sebesar 20%. Selanjutnya Hasil uji koeficien dan analisis regresi memperlihatkan sebagai berikut:
Tabel ANOVAa
t Sig. Correlations Collinearity Statistics
Persamaan regersinya yaitu Y= 21.925 + 0.137X Persamaan regresinya menunjukkan:
Nilai konstan sebesar 21.925 menunjukkan bahwa jika variabel independen yaitu pemungutan pajak hiburan ditingkatkan, maka akan terjadi peningkatan terhadap pendapatan sebesar 20%. Koefisien X 0.137 menunjukkan bahwa, bila jumlah pajak hiburan dinaikkan sebanyak 1 Rupiah maka peningkatan PAD meningkat sebesar 21.925 Rupiah dengan asumsi kegiatan pemungutan pajak hiburan bernilai konstan.
Selanjutnya untuk mengetahui pengaruh variabel independen (pemungutan pajak hiburan) terhadap peningkatan PAD sebagai variabel dependen, dilakukan pengujian secara parsial dengan menggunakan uji t dengan proses pengujian sebagai berikut:
a. thitung > ttabel = Ho ditolak Ha diterima, (signifikan) b. thitung < ttabel = Ho diterima Ha ditolak, (tidak signifikan)
tabel hasil perhitungan dan pengujian uji t diperoleh hasil dari uji t variabel pemungutan pajak hiburan dan peningkatan PAD didapatkan hasil yaitu :
thitung = 9.182
Menentukan LOS (Level Of Significance) dengan α = 0,05
Dari tabel t diperoleh nilai ttabel sebesar 2,201, sehingga berdasarkan hasil perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa thitung > ttabel (9.182 > 2,201) dengan nilai probabilitas 0.00 < 0,050 sehingga dapat diartikan bahwa variabel pemungutan pajak hiburan yang dilakukan oleh Dispenda Kota Makassar berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan PAD Kota Makassar.
Berdasarkan hasil di atas, menunjukkan bahwa besarnya hubungan antara pemungutan pajak hiburan yang diambil dari 25 sampel responden yang merupakan pegawai Dispenda dihitung dengan koefisien korelasi adalah 0,137.
Hal ini menunjukkan hubungan yang erat/kuat dan arah hubungan yang positif (tidak ada tanda negatif) menunjukkan semakin bertambah usaha hiburan yang dibuka oleh masyarakat Kota Makassar maka tingkat produktivitas dan pendapatan asli daerah Kota Makassar akan semakin meningkat pula.
C. Pembahasan
Sesuai dengan judul penelitian ini yaitu untuk menjelaskan mengenai pengaruh pemungutan hiburan terhadap upaya peningkatan pendapatan asli Daerah di Kota Makassar, maka adapun pembahasan dan hasilnya melingkupi sistem pemungutan pajak hiburan Kota Makassar dan kontribusi pajak hiburan terhadap pendapatan asli daerah Kota Makassar, efektifitas pemungutan pajak hiburan, dan kendala-kendala serta upaya peningkatan pajak hiburan. Adapun hasil penelitian berdasarkan urutan pembahasan di atas adalah sebagai berikut.
1. Sistem Pemungutan Pajak Hiburan di Kota Makassar
Pajak hiburan dilihat dari segi lembaga pemungutannya termasuk sebagai pajak daerah, hal ini sebagaimana disebutkan dalam Undang - undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah perubahan atas Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004. Seperti yang diketahui bahwa sistem pemungutan pajak hiburan di Kota Makassar hanya menerapkan satu
Pajak hiburan dilihat dari segi lembaga pemungutannya termasuk sebagai pajak daerah, hal ini sebagaimana disebutkan dalam Undang - undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah perubahan atas Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004. Seperti yang diketahui bahwa sistem pemungutan pajak hiburan di Kota Makassar hanya menerapkan satu