3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.4. Pendapatan Usahatani
Selisih antara pendapatan kotor usahatani dengan pengeluaran total usahatani disebut pendapatan bersih usahatani. Pendapatan bersih usahatani mengukur imbalan yang diperoleh keluarga petani dari penggunaan faktor-faktor produksi kerja, pengelolaan dan modal milik sendiri atau modal pinjaman yang diinvestasikan ke dalam usahatani, oleh karena itu pendapatan bersih merupakan ukuran keuntungan usahatani yang dapat digunakan untuk membandingkan beberapa penampilan usahatani (Soekartawi et al. 1986).
3.2. Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C rasio)
Pendapatan bersih usahatani mengukur imbalan yang diperoleh keluarga petani dari penggunaan faktor-faktor produksi. Oleh karena itu pendapatan usahatani
merupakan keuntungan usahatani yang dapat dipakai untuk membandingkan keragaan beberapa usahatani. Pendapatan selain diukur dengan nilai mutlak, juga dinilai efisiensinya. Salah satu ukuran efisiensi pendapatan adalah penerimaan (R) untuk setiap biaya (C) yang dikeluarkan (rasio R/C). Rasio R/C ini menunjukkan pendapatan kotor yang diterima untuk setiap rupiah yang dikeluarkan untuk memproduksi.
Analisis rasio ini dapat digunakan untuk mengukur tingkat keuntungan relatif terhadap kegiatan usahatani sehingga dapat dijadikan penilaian terhadap keputusan petani untuk menjalankan usahatani tertentu. Usahatani efisien apabila R/C lebih besar dari 1 (R/C>1) artinya untuk setiap Rp. 1,00 biaya yang dikeluarkan akan memberikan penerimaan lebih dari Rp. 1,00. Sebaliknya jika rasio R/C lebih kecil satu (R/C<1) maka dikatakan bahwa untuk setiap Rp. 1,00 yang dikeluarkan akan memberikan penerimanaan lebih kecil dari Rp. 1,00 sehingga usahatani dinilai tidak efisien. Semakin tinggi nilai R/C, semakin menguntungkan usahatani tersebut (Gray et al. 1992).
3.4. Kerangka Pemikiran Operasional
Desa Talaga merupakan memiliki potensi untuk mengembangkan pisang sebagi komoditas unggulan dilihat dari kondisi alam yang mendukung dan juga kondisi sosial masyarakatnya. Pengembangan pisang di Desa Talaga terkendala dengan teknik budidaya yang diterapkan masih sederhana sehingga kualitas pisang yang dihasilkan rendah, dapat dilihat dari penampilan fisik pisang yang tidak menarik dan berat pertandan pisang yang rendah sehingga menyebabkan rendahnya produktivitas yang dihasilkan. Untuk dapat memanfaatkan potensi yang ada, maka kendala-kendala yang ada perlu diatasi. Salah satu program yang dijalankan di Desa Talaga untuk pengembangan pisang adalah Primatani. Pengembangan pisang yang dijalankan Primatani adalah melalui dua inovasi pokok yaitu inovasi teknologi dan inovasi kelembagaan. Pada inovasi teknologi Primatani membina petani untuk membudidayakan pisang sesuai dengan SPO yang ada. Penerapan SPO ini tentunya
akan menimbulkan biaya-biaya yang sebelumnya tidak dikeluarkan oleh petani dengan teknik budidaya tradisional. Oleh karena itu dengan mengadakan analisis pendapatan usahatani, dapat dilihat seberapa besar keuntungan yang didapat petani dengan penerapan SPO. Selain itu, dengan melakukan analisis penerapan SPO dapat diketahui apakah SPO yang diberikan telah dijalankan sepenuhnya oleh petani. Pada inovasi kelembagan dilakukan perubahan-perubahan pada kelembagaan-kelembagaan yang ada yang diharapkan menjadi perbaikan dari kondisi sebelum adanya Primatani.
Perubahan-perubahan yang terjadi pada kelembagaan petani perlu dianalisis apakah telah sesuai dengan yang direncanakan oleh Primatani. Oleh karena itu perlu dilihat kondisi nyata yang terjadi dengan perencanaan yang dilakukan Primatani. Hasil terhadap analisis-analisis yang dilakukan dapat dijadikan rekomendasi kepada petani dan pemerintah. Kerangka pikir operasional disajikan pada Gambar 2.
Gambar 1. Kerangka Pikir Operasional Analisis Pendapatan Usahatani Pisang di Desa Talaga, Cugenang, Cianjur melalui Program Primatani.
Rekomendasi R/C > 1 R/C < 1
Analisis Biaya
Analisis Pendapatan Usahatani Pisang Analisis
Penerimaan
Analisis Penerapan SPO
Rugi Untung
Penerapan SPO Pelaksanaan
Primatani
Potensi Pengembangan Pisang Desa Talaga
Kualitas Produksi Rendah
Perubahan Agribisnis Pisang Desa Talaga,
melalui Program Primatani
IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Talaga, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja berdasarkan pertimbangan bahwa Desa Talaga merupakan salah satu desa penghasil pisang di Kabupaten Cianjur dan di desa tersebut pada tahun 2007-2008 sedang diadakan program Primatani dengan pengembangan komoditas utama adalah pisang yang merupakan komoditas unggulan nasional sehingga menarik untuk dijadikan tempat penelitian. Pengambilan data dilaksanakan pada bulan Februari-Mei 2009.
Topik yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah mengenai, pendapatan cabang usahatani pisang ambon (paling banyak ditanam) dengan teknik budidaya menerapkan SPO dari Primatani.
4.2. Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan merupakan data primer dan data sekunder. Data primer yang digunakan bersumber dari data survei dan data hasil wawancara langsung. Data survei diperoleh dengan melakukan survei langsung ke petani pisang dan melakukan pengamatan langsung pada kegiatan Primatani. Data wawancara diperoleh dengan melakukan wawancara kepada petani, pedagang pisang dan pihak desa serta pihak pelaksana Primatani.
Wawancara dengan petani bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai teknik budidaya, pemasaran dan pendapatan usahatani. Pencarian informasi meliputi karakteristik responden, program Primatani yang diikuti responden, kegiatan budidaya, penggunaan input produksi, kendala-kendala yang dihadapi dilapangan serta faktor-faktor produksi yang digunakan. Wawancara dengan pihak desa untuk mendapatkan gambaran umum mengenai potensi desa yang ada. Wawancara dengan pihak pelaksanaan Primatani untuk memperoleh informasi mengenai pelaksanaan Primatani.
Data sekunder bersumber dari instansi pemerintah, instansi swasta, penelitian terdahulu, studi literatur di perpustakaan IPB yang mencakup skripsi, buku-buku dan artikel yang berhubungan dengan pisang dan Primatani.
4.3. Metode Pengumpulan Data
Petani pisang yang diambil sebagai sampel adalah 30 orang dari 104 petani pisang yang menjadi anggota Primatani dan menerima bantuan dana program PMUK (Pinjaman Modal Usaha Kelompok).
Metode pengambilan data yang digunakan adalah metode acak sederhana (random sampling). Dari sampel yang ada, data dikumpulkan dengan metode wawancara langsung yang dipandu kuersioner. Responden yang diambil diharapkan dapat menggambarkan kondisi usahatani pisang di Desa Talaga.
4.4. Metode Pengolahan Data
Data dan informasi yang diperoleh selanjutnya akan diolah untuk dilakukan analisis secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk melihat gambaran kegiatan usahatani pisang yang dilakukan petani dan membandingkannya dengan SPO yang diberikan Primatani..
Analisis data kuantitatif dilakukan dengan menggunakan data-data hasil dari identifikasi penggunaan faktor-faktor produksi dan nilai output yang dihasilkan pada kegiatan budidaya pisang. Pengolahan data tersebut menggunakan rasio-rasio finansial dasar yang umum digunakan yaitu analisis pendapatan usahatani.
Pengolahan data untuk menganalisis pendapatan menggunakan bantuan program Microsoft Excel.
4.5. Analisis Pendapatan Usahatani
Analisis Pendapatan usahatani akan menganalisis secara kuantitatif pendapatan yang diperoleh petani dari berbudidaya pisang dengan menerapkan SPO dibawah binaan Primatani. Jumlah pendapatan petani dihitung dengan menggunakan analisis usahatani. Variabel-variabel yang akan dianalisis pada usahatani pisang yaitu biaya-biaya, penerimaan dan pendapatan usaha. Biaya adalah semua pengorbanan
input dipergunakan untuk menghasilkan produksi. Biaya usahatani pisang pada analisis pendapatan usahatani dikelompokkan menjadi biaya tunai dan biaya tidak tunai atau biaya yang diperhitungkan. Perhitungan analisis usahatani tersebut menggunakan penjabaran rumus yang diuraikan sebagai berikut:
1) Penerimaan
Penerimaan tunai usahatani (farm receipt) didefinisikan sebagai nilai uang yang diterima dari penjualan produk usahatani (Soerkartawi et al, 1986). Sedangkan penerimaan tidak tunai adalah produk hasil usahatani yang tidak dijual secara tunai, tetapi digunakan untuk konsumsi sendiri dan atau untuk keperluan lain tetapi tidak dijual secara tunai. Penerimaan total dari suatu usaha agribisnis merupakan nilai produksi dari usahatani, yaitu harga produsen dikalikan total produksi, dengan rumus :
TR = Py.Y
Keterangan : TR = Total Revenue (penerimaan total)
Py = Harga Output (harga pisang dalam rupiah perkilogram) Y = Output (produk pisang dalam kilogram)
2) Biaya
Biaya tunai (farm payment) didefinisikan sebagai jumlah biaya yang dikeluarkan untuk pembelian barang dan jasa usahatani secara tunai (Soekartawi et al. 1986).
Biaya tidak tunai usahatani yaitu dengan memperhitungkan sumberdaya yang digunakan tetapi tidak dihitung atau dibayar secara tunai sebagai biaya yang dikeluarkan. Biaya tidak tunai yang dihitung yaitu penyusutan, biaya sewa lahan, bibit yang berasal dari anakan tanaman sebelumnya dan tenaga kerja dalam keluarga. Tenaga kerja dalam keluarga yaitu tenaga kerja yang menggunakan anggota keluarga sebagai tenaga kerja untuk pengelolaan usahatani. Punyusutan peralatan merupakan penurunan nilai inventaris yang disebabkan oleh pemakaian selama satu tahun pembukuan (Soekartawi et al. 1986). Penyusutan yang digunakan yaitu :
Biaya total (pengeluaran) dari suatu usaha agribisnis merupakan jumlah seluruh biaya (tunai maupun tidak tunai) yang dikeluarkan untuk melakukan kegiatan budidaya dalam memproduksi pisang.
Dengan Rumus : 3) Pendapatan usahatani
Pendapatan atas biaya tunai merupakan selisih antara penerimaan total dengan biaya tunai.
Pendapatan total usahatani (total farm income) merupakan selisih antara penerimaan total dengan biaya total, dengan rumus:
TC
Keterangan : π = Pendapatan (Rp) 4) Imbangan penerimaan dan biaya (R/C)
Pendapatan selain dapat diukur dengan nilai mutlak juga dapat diukur analisis efisiensinya. R/C merupakan salah satu ukuran efisiensi yang menggambarkan penerimaan untuk tiap rupiah yang dikeluarkan (reveneu cost ratio). Pengukuran efisiensi masing-masing usahatani terhadap setiap penggunaan satu unit input dapat digambarkan oleh nilai rasio antara jumlah penerimaan dengan jumlah biaya (R/C) yang secara sederhana dapat diturunkan dari rumus :
Tunai Biaya
Total Penerimaan C
R/ tunai =
Total Biaya
Total Penerimaan C
R/ total =
Keterangan : R = Revenue atau penerimaan (Rp) C = Cost atau pengeluaran (Rp)
Nilai R/C secara teoritis, menunjukkan bahwa setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan memperoleh penerimaan, jika R/C >1 maka usaha tersebut menguntungkan dan layak untuk dijalankan. Namun apabila R/C <1 maka usaha tersebut rugi atau tidak layak untuk dijalankan. Hasil analisis penerimaan, biaya dan pendapatan dirangkum dalam bentuk tabel, seperti ditunjukkan oleh Tabel 3.
Analisis pendapatan usahatani tersebut dilakukan pada petani yang menjadi responden, untuk mengetahui seberapa besar pendapatan yang diperoleh dari cabang usahatani pisang, dan apakah usahatani pisang yang mereka jalankan pada tahun 2008 menguntungkan untuk dijalankan
Tabel 3. Komponen Penyusun Pendapatan Usahatani Pisang.
A Penerimaan Tunai Harga x Jumlah Pisang yang dijual (kg) B Penerimaan Non Tunai Harga x Jumlah Pisang yang dikonsumsi
sendiri (kg)
C Total Penerimaan A+B
D Biaya Tunai a. Biaya sarana produksi - Bibit
- Pupuk - Trichoderma - Brongsong
b. Upah tenaga kerja diluar keluarga c. Sewa lahan
d. Pajak
E Biaya Non Tunai a. Upah tenaga kerja dalam keluarga b. Penyusutan
c. Sewa lahan d. Bibit
F Total Biaya D+E
G Pendapatan atas biaya tunai C-D H Pendapatan atas biaya total C-F
I Pendapatan bersih H-Bunga pinjaman (jika ada bunga pinjaman)
J R/C atas biaya tunai I / G K R/C atas Biaya total I / H
V GAMBARAN UMUM DESA TALAGA 5.1. Letak dan Luas Wilayah
Desa Talaga merupakan salah satu desa dari 16 desa yang terletak di Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat. Secara administratif Desa Talaga dibatasi oleh:
- Sebelah utara : Desa Sarampad - Sebalah selatan : Desa Cirumput - Sebelah timur : Desa Benjot - Sebelah barat : Desa Padaluyu
Jarak desa dari ibukota kabupaten adalah 9 km dengan waktu tempuh menggunakan kendaraan bermotor pribadi adalah 0,5 jam, dan jarak desa dengan ibukota propinsi yaitu kota Bandung adalah sejauh 69 km dengan waktu tempuh menggunakan kendaraan bermotor pribadi adalah 2 jam. Jarak ini dihubungkan dengan jalan aspal dengan kondisi baik. Sarana transportasi umum berupa angkutan pedesaan dan ojek. Letak desa sangat berpengaruh terhadap pemasaran produk-produk yang dihasilkan dari desa tersebut. Semakin dekat dengan ibukota baik propinsi maupun kabupaten yang biasanya dijadikan tujuan pemasaran dan saran transportasi yang memadai maka akan mempermudah pemasaran produk-produk yang dihasilkan dan juga akan mempunyai daya saing lebih besar dibandingkan dengan daerah terpencil.
Luas wilayah Desa Talaga mencapai 550,155 hektar yang meliputi areal pemukiman, persawahan, perkebunan, kuburan, pekarangan, taman, perkantoran, prasarana umum lainnya. Perincian luas wilayah Desa Talaga, dapat dilihat pada Tabel 4.
Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa 2,90 persen digunakan untuk pemukiman penduduk, 16,72 persen merupakan lahan persawahan yang sebagian besar adalah sawah padi, 35,25 persen adalah perkebunan (teh, pisang, kelapa, cengkeh). Luas lahan untuk persawahan, perkebunan dan pekarangan yang masih luas akan mempermudah untuk mengembangkan pisang sebagai komoditas pertanian
unggulan dengan memperluas lahan pisang, karena pisang dapat dibudidayakan di persawahan, perkebunan maupun di pekarangan.
Tabel 4. Luas Wilayah Desa Talaga Menurut Penggunaannya Tahun 2008 Penggunaan Lahan Luas Areal (ha) Persentase
Pemukiman 16 2,90
Persawahan 92 16,72
Perkebunan 194 35,26
Kuburan 0,17 0,03
Pekarangan 24 4,36
Taman 27,6 5,02
Perkantoran 0,14 0,02
Prasarana Umum Lainnya 196,24 35,67
550,16 100
Sumber : Laporan Tahunan Desa Talaga, 2008
5.2. Kondisi Alam
Desa Talaga terletak diketinggian 750 mdpl dengan topografi daerah berupa lereng gunung yaitu lereng Gunung Gede Pangrango. Berada pada lereng gunung akan menyebabkan Desa Talaga mempunyai tingkat kemiringan tanah antara 20-35 derajat, dengan tingkat erosi lahan ringan yaitu seluas 15 hektar. Suhu rata–rata berkisar 28°C dan curah hujan rata-rata adalah 450 mm per hari dengan 6 bulan basah dan 6 bulan kering.
Kondisi alam yang demikian berpengaruh terhadap jenis tanaman yang dibudidayakan oleh petani, komoditas tanaman pangan yang banyak dibudidayakan adalah padi sawah dan jagung, untuk komoditas buahnya adalah pisang, alpukat, pepaya. Sedangkan sayuran yang banyak dibudidayakan adalah ceisin. Perincian tanaman dan produktivitasnya dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Jenis, Luas Lahan dan Produktivitas Tanaman Desa Talaga Tahun 2008 Jenis Tanaman Luas Lahan (Ha) Produktivitas (Ton/Ha) Tanaman pangan
Padi Sawah 63 315
Jagung 10 8
Sayuran
Sawi 4 0,8
Buah
Pisang 55 30
Alpukat 10 0,8
Pepaya 1 0,7
Sumber : Laporan Tahunan Desa Talaga, 2008
5.3. Demografi
Penduduk Desa Talaga secara keseluruhan berjumlah 5.458 jiwa yang terdiri dari 2.729 laki-laki dan 2.729 perempuan, dengan jumlah kepala keluarga 1.518 kepala keluarga. Susunan penduduk berdasarkan umur dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Susunan Penduduk Desa Talaga Menurut Kelompok Umur Tahun 2008 Kelompok Usia (Tahun) Jumlah Jiwa Persentase
0 – 4 163 2,97
5 – 7 256 4,69
8 – 19 1.050 19,24
20 – 57 3.060 56,06
≥ 58 929 17,02
5.458 100
Sumber : Laporan Tahunan Desa Talaga, 2008
Pada Tabel 6 dapat dilihat bahwa penduduk Desa Talaga didominasi penduduk dengan usia produktif (20-57 tahun) yaitu sebesar 56,06 persen dari total
penduduk. Jumlah penduduk yang berusia produktif ini akan berpengaruh terhadap ketersedian tenaga kerja bagi sektor-sektor pekerjaan yang ada khususnya pertanian yang membutuhkan banyak tenaga kerja.
Penduduk Desa Talaga sebagian besar besar bekerja pada sektor pertanian baik sebagai petani (47,02 persen), maupun buruh tani (47,02 persen). Selebihnya bekerja pada sektor lain seperti buruh migran 2,26 persen, PNS 0,26 persen, TNI/POLRI 0,07 persen. Susunan penduduk desa Talaga berdasarkan jenis pekerjaan dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Susunan Penduduk Desa Talaga Menurut Kelompok Pekerjaan Tahun 2008 Jenis Pekerjaan Jumlah (jiwa) Persentase
Petani 2.000 47,02
Buruh Tani 2.000 47,02
Buruh Migran 96 2,26
PNS 11 0,26
Pedagang Keliling 5 0,12
Peternak 120 2,82
Montir 5 0,12
Bidan 1 0,02
TNI POLRI 3 0,07
Pengusaha Kecil dan
Menengah 10 0,23
Dukun Kampung Terlatih 2 0,05
4.253 100
Sumber : Laporan Tahunan Desa Talaga, 2008
Komposisi penduduk berdasarkan pekerjaan yang didominasi sebagai petani akan mempermudah dalam pengembangan pisang karena para petani telah memiliki pengalaman dalam bertani.
Saat ini penduduk yang tercatat dalam laporan tahunan sedang mengikuti pendidikan ditingkat formal dapat dilihat pada Tabel 8. Pada Tabel 8 terlihat bahwa tingkat pendidikan yang ditempuh oleh penduduk desa Talaga mayoritas sekolah dasar sebesar 39,47 persen, SLTP sebesar 31,58 persen dan SLTA sebesar 26,31 persen. Sedangkan untuk tingkat pendidikan tinggi hanya ada 0,53 persen Diploma dan 2,10 persen Strata. Hal ini menunjukkan rendahnya tingkat pendidikan yang diikuti oleh penduduk desa Talaga. Hal tersebut menunjukkan bahwa masih sedikit penduduk Desa Talaga yang mengikuti pendidikan formal jika dibandingkan dengan jumlah penduduk usia sekolah, yang jumlahnya mencapai 1.306 jiwa atau sebesar 23,93 persen dari jumlah penduduk total.
Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat suatu desa akan mempersulit masuknya informasi baru ke desa tersebut, karena tidak adanya agen-agen pembawa informasi, selain itu masyarakat akan cenderung sulit untuk menerima perubahan.
Hal ini juga akan berpengaruh pada proses penyaluran informasi pertanian, dimana teknologi-teknologi baru tidak mudah diserap oleh petani sehingga dapat menyebabkan rendahnya produktivitas yang dihasilkan.
Tabel 8. Susunan Penduduk Desa Talaga Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2008 Tingkat Pendidikan Jumlah (jiwa) Persentase
SD 75 39,47
SLTP atau sederajat 60 31,58
SLTA atau sederajat 50 26,31
Diploma 1 0,53
Strata 4 2,10
190 100
Sumber : Laporan Tahunan Desa Talaga, 2008
VI PRIMATANI DESA TALAGA 6.1. Rancang Bangun Primatani Desa Talaga
Progam Primatani dijalankan di Desa Talaga direncanakan akan berjalan selama tiga tahun yaitu dari tahun 2007-2009, sebelum tahun 2007 atau akhir 2006 tim Primatani dan masyarakat melakukan diskusi dan kerjasama untuk mengidentifikasi potensi dan sumber daya yang ada di desa Talaga yang akan dikembangkan yang selanjutnya akan dirumuskan sebagai Rancang Bangun Primatani Desa Talaga. Rancang Bangun Primatani Desa Talaga ini nantinya akan dijadikan sebagai penuntun dalam pelaksanaan progam Primatani di Desa Talaga.
Dari hasil diskusi yang menghasilkan Rancang Bangun Primatani Desa Talaga diketahui bahwa komoditas utama yang akan dikembangkan adalah Pisang dengan komoditas penunjang adalah sayuran (cabai rawit, ceisin), jagung, dan ternak.
Budidaya pisang akan ditanam dengan pola tanam tumpang sari dengan komoditas penunjang.
Sebagaimana disebutkan dalam pedoman umum Primatani bahwa keluaran akhir Primatani adalah terbentuknya unit Agibisnis Industrial Pedesaan (AIP) dan Sistem Usahatani Intensifikasi dan Diversifikasi (SUID), yang merupakan representasi industri pertanian dan usahatani berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi di suatu kawasan pengembangan. Kawasan ini mencerminkan pengembangan agibisnis lengkap dan padu padan antar subsistem, yang berbasis agoekosistem, dan mempunyai kandungan teknologi dan kelembagaan lokal yang diperlukan. Untuk dapat mewujudkan AIP dan SUID, Primatani Desa Talaga akan mengembangkan dua inovasi yaitu inovasi teknologi dan inovasi kelembagaan. Pada penelitian ini inovasi teknologi dan kelembagaan yang akan dibahas hanya meliputi inovasi yang dilakukan kepada komoditas utama yaitu pisang, untuk komoditas sayuran, jagung dan ternak tidak dibahas secara mendalam.
6.1.1. Inovasi Teknologi
Melihat kondisi usahatani pisang yang ada dimana pisang dibudidayakan tanpa aturan, dengan tingkat produktivitas yang rendah dan dijadikan sebatas tanaman sampingan maka inovasi teknologi yang diberikan adalah dengan membina petani untuk melakukan budidaya pisang dengan menerapkan teknik budidaya yang benar sesuai dengan Standar Prosedur Operasional (SPO) yang berlaku untuk budidaya pisang. SPO yang digunakan adalah SPO yang dikeluarkan oleh Dinas Pertanian, secara garis besar SPO yang ada adalah sebagi berikut :
1. Bibit
Bibit dapat berasal dari anakan dan bonggol pisang tanaman sebelumnya Anakan yang dianjurkan untuk digunakan sebagai bibit adalah anakan pisang yang dipilih dari kawasan dan rumpun yang baik dan sehat, anakan diambil dari pohon induk yang telah berproduksi, 1 tandan minimal 10 sisir. Bibit yang berasal dari bonggol diambil dari bonggol tanaman dewasa sehat dan bebas dari hama dan penyakit, bonggol yang sehat memiliki ciri-ciri bila dibelah berwarna putih. Umur bibit yang dipilih antara 3-4 bulan baik untuk bibit yang berasal dari anakan maupun bonggol. Sebelum bibit ditanam daun bibit harus dipotong, bonggolnya dibersihkan dari tanah dan anakan yang tidak perlu, kemudian dilakukan pencelupan kedalam larutan disinfektan selama 15 menit, setelah itu dikeringkan, setelah kering bibit siap untuk ditanam
2. Persiapan lahan
Lahan yang digunakan untuk penanaman pisang harus dibersihkan dari benda-benda yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman, seperti gulma, kotoran-kotoran, daun-daun dan ranting bekas pangkasan yang dapat menjadi sumber penularan hama dan penyakit, selain itu tanaman yang sakit juga perlu dibongkar dan dibakar agar tidak menjadi sumber penularan penyakit dan hama. Aplikasi herbisida dilakukan untuk lahan yang luas dan berdasarkan pedoman penggunaan herbisida yang diijinkan.
3. Penyiapan lubang tanam
Lubang tanam sebagai tempat hidup tanaman pisang perlu disiapkan dengan baik agar bibit yang ditanam dapat tumbuh dengan maksimal. Lubang tanam dibuat dengan ukuran panjang 50-60 cm, lebar 50-60 cm dan dalam 50-60 cm. dengan jarak tanam untuk dataran rendah 4 m x 4 m, untuk dataran tinggi 4 m x 4,25 m.
Pada saat pelubangan pisahkan tanah lapisan atas (arah timur atau kiri) dan tanah lapisan bawah (arah barat atau kanan), kemudian isi lubang dengan pupuk kandang sebanyak 10 kg yang telah dicampur 50 g Trichoderma hingga setengah kedalaman lubang. Biarkan lubang tersebut terbuka selama dua minggu. Hal ini dimaksukkan agar gas-gas racun dalam tanah keluar dan pupuk kandang dingin.
4. Penanaman
Setelah lubang tanan siap, tahap selanjutnya adalah proses memasukkan bibit pisang yang telah disiapkan kedalam lubang tanam. Penanaman dilakukan dengan menggali kembali lubang tanam yang telah disiapkan dengan ukuran yang disesuiakan dengan ukuran bonggol bibit. Bibit ditanam sampai sebatas 5-10 cm diatas pangkal batang. Lubang ditutup kembali dengan tanah galian.
Penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan.
5. Pemupukan
Pemupukan adalah suatu cara untuk memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman dan perakaran bisa berkembang lebih baik. Pemupukan bertujuan untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang optimum, produksi yang tinggi dan kualitas yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan serta memperkuat pertumbuhan tanaman pisang. Pupuk yang diberikan meliputi pupuk kandang dan pupuk kimia. Pupuk kandang yang diberikan sebanyak 10 kg perumpun setiap 6 bulan sekali. Pupuk kimia yang diberikan merupakan pupuk Urea, KCL, SP 36, dengan pemberian sebanyak empat kali dengan perincian sebagai berikut:
Pemupukan I dan IV dilakukan 3 dan 9 bulan setelah penanaman dengan memberikan Urea sebanyak 100 g dan SP 36 sebanyak 50 g. Pemupukan II dan III dilakukan 3 dan 6 bulan setelah pemupukan pertama dengan memberikan
Urea dan KCL masing-masing sebanyak 100 g. Pemupukan selanjutnya diberikan pupuk sesuai dengan dosis seperti pola diatas. Pupuk diberikan dengan membuat parit kecil sedalam 10-15 cm mengitari rumpum dengan jarak 50-60 cm dari pangkal rumpun, kemudian parit ditutup dengan tanah, jerami atau daun kering.
6. Pengairan
Pengairan bertujuan untuk membantu penyediaan air untuk keperluan optimum pertumbuhan. Air yang digunakan untuk penyiraman harus berkualitas baik, tidak tercemar zat berbahaya, dan limbah pabrik serta bibit penyakit. Pengairan
Pengairan bertujuan untuk membantu penyediaan air untuk keperluan optimum pertumbuhan. Air yang digunakan untuk penyiraman harus berkualitas baik, tidak tercemar zat berbahaya, dan limbah pabrik serta bibit penyakit. Pengairan