• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. PendataanRumahTanggaMiskin

Patut disadari bahwa mengentaskan kemiskinan itu tidak mudah.pada saat Pemerintah Mengeluarkan program BLSM untuk menutupi naiknya harga bahan bakar minyak, masih banyak masyarakat yang tdak dapat bantuan, padahal BLSM di peruntukan untuk Rumah tangga Miskin,di kelurahan Bonto-Bontoa tercatat 4005 jumlah kartu keluarga sedangkan yang terdaftar mendapatkan bantuan social hanya 240. Keterlibatan Petugas pendata memunculkan berbagai macam tanggapan seperti yang di katakan oleh Bapak Khutbah selaku Lurah Bonto-Bontoa di Kantor Lurah Bonto-Bontoa dalam Penegasannya bahwa:

“…Mengenai pesoalan pendataan,tidak ada petugas pendata yang menetap di kantor tetapi semua petugas pendata di ataur oleh kementrian social dan badan pusat statistik (Hasil Wawancara KH,03 maret 2014)”.

Berdasarkan hasil wawancara ini,untuk mengetahui Rumah tangga mana yang tergolong miskin, memang tidak bisa di lakukan dalam satu instansi saja karena Keikutsetraan Badan pusat statistik sebagai Penanggung Jawab

dalam hal pendataan menjadi acuan seperti apa yang dimaksudkan rumah tangga yang tergolong mikin.

Ada beberapa indicator Untuk mengetahui rumah tangga seperti apa yang tergolong sebagai rumah tangga miskin diantaranya :

1. Kondisi Ekonomi

Kondisi ekonomi merupakan tingkat keadaan kehidupannya serba kekurangan sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Lurah Bonto-Bontoa Bapak Khutbah di Kantor Lurah Bonto-Bontoa yang menegaskan bahwa:

“…Kondisi ekonomi di Kelurahan Bonto-Bontoaini tercatat Delapan Puluh Persen (80%) menengah keatas dan Dua Puluh Persen (20%) masih di bawah miskin”

Konsep kemiskinan terkait dengan kemampuan seseran/rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan dasar baik untuk makanan maupun non makanan, seseorang/rumah tangga di katakan miskin bila kehidupannya dalam kondisi serba kekurangan, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuan dasarnya.

a. Luas Bangunan

Dalam pendataan rumah tangga miskin luas bangunan merupakan salah satu faktor menentukan garis kemiskinan dalam sebuah rumah tangga seperti yang di katakan oleh Bapak Yudianto selaku Koordinator Statistik Kecamatan Bajeng di Kantor Badan Pusat Statistik (BPS).

“…Dalam Mendata rumah tangga miskin Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 m2 per jiwa, tetapi kami melihat bukan hanya dari luas bangunan saja, terdapat 14 variabel kemiskinan, dan ini yang menentukan tingkat kemiskinan seseorang (Hasil Wawancara YT, 04 Maret 2014)”.

Luas bangunan tempat tinggal setiap rumah tangga harus berukuran 8 m2 per orang dan dalam pendataan ini BPS menggunakan 14 variabel untuk menentukan suatu rumah tangga layak atau tidak dikategorikan miskin sekaligus menentukan skorsing tingkat keparahan kemiskinannya, yaitu : luas bangunan, jenis lantai, jenis dinding, fasilitas buang air besar, sumber air minum, sumber penerangan, jenis bahan bakar untuk memasak, frekwensi membeli daging, ayam, dan susu seminggu, frekwensi makan sehari, jumlah stel pakaian baru yang dibeli setahun, akses ke puskesmas/poliklinik, lapangan pekerjaan, pendidikan tertingi kepala rumah tangga, serta kepemilikan beberapa aset.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Tajuddin Selaku koordinator Statistik Kecamatan Bontonompo di Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Menegaskan bahwa:

“…Jenis lantai bangunan tempat tinggal terbuat dari tanah/pleter, dan Jenis dinding bangunan tempat tinggal dari bambu/ kayu berkualitas rendah/tembok rusak 60 % (Hasil Wawancara TJ,04 Maret 2014)”.

Jenis lantai bagunan tempat tinggal yang terbuat dari tanah/pleter merupakan kondisi yang memungkinkan masyarakat tergolong miskin, karena bangunan yang terbuat dari tanah/pleter dapat menunjukan tingkat keparahan dalam melihat kondisi rumah, sama halnya dengan dinding bagunan yang tingkat keparahannya dilihat dari jenis bahannya seperti terbuat dari bambu /kayu yang berkualitas rendah dan tembok rusak dengan tingkat keparahan mencapai 60%.

Begitu pula dengan pengakuan dari Ibu UlfaSelaku Koordinator statistik Kecamatan Somba Opu di Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) yang meperjelas variabel kemiskinan bahwa :

“…Tidak memilik fasilitas buang air besar/ bersama-sama dengan rumah tangga lain (MCK Umum), Sumber air minum dari sumur/mata air tidak terlindung/sungai air hujan, Sumber penerangan rumah tidak menggunakan listrik/ tidak punya meter sendiri/ nyalur, Jenis bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/arang/minyak tanah, Frekuensi pembelian daging/ayam/susu satu kali dalam seminggu per anggota keluarga, Frekuensi makan sebanyak satu/dua kali dalam sehari dan tidak memenuhi standar gizi untuk setiap anggota keluarga, Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam satu tahun untuk setiap anggota keluarga (Hasil Wawancara UF,04 maret 2014)”.

Tidak memiliki fasilitas buang air besar adalah salah satu indikator kemiskinan menurut BPS yang dimana rumah tangga yang tidak memiliki fasilitas buang air besar akan kesulitan untuk menjalani kehidupannya dengan demikian petugas pendata dituntut terjun langsung ke lapangan untuk mengetahui kondisi di setiap rumah yang di data. Ke 14 variabel ini menjadi kriteria dalam mendata rumah tangga miskin.

Dari hasil wawancara di atas dapat di simpulkan Seseorang/ rumah tangga dikatakan miskin bila kehidupannya dalam kondisi serba kekurangan, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya. Batas kebutuhan dasar minimal dinyatakan melalui ukuran garis kemiskinan yang disetarakan dengan jumlah rupiah yang dibutuhkan.

b. Pekerjaan

Pekerjaan merupakan sekumpulan kedudukan (posisi) yang memiliki persamaan kewajiban atau tugas-tugas pokoknya. Dalam kegiatan analisis jabatan, satu pekerjaan dapat diduduki oleh satu orang, atau beberapa orang yang tersebar di berbagai tempat.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak TajuddinSelaku Koordinator Statistik Kecamatan Bontonompo di Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) mengemukakan bahwa:

“…kami sebagai koordianor tidak memfokuskan jenis pekerjaan yang akan di data, kami mendata semua jenis pekerjaan, nah dari hasil data ini kami melakukan penyaringan dari hasil saring ini kami melakukan tinjauan ualng untuk melihat sejauh mana tingkat kemiskinan yang akan kami data (Hasil Wawancara TJ,04 Maret 2014)”.

Dengan tidak di fokuskannya jenis pekerjaan maka masyarakat secarah keseluruhan dapat di data dan dalam proses penjaringan, petugas pendata yang merupakan tenaga mitra kerja lapangan BPS, mendatangi rumah Ketua Rukun Tetangga (Ketua RT), untuk mengkaji dan mencatat rumahtangga yang dianggap miskin dalam RT tersebut.

Begitu pula halnya dengan hasil wawancara dengan Bapak Yudianto selaku Koordinator Statistik Kecamatan Bajeng di Kantor Badan Pusat Statistik yang mengemukakan bahwa:

“…Pengkajian di lakukan bersama ketua RT berpedoman pada ketentuan yang telah digariskan oleh BPS yaitu petugas menanyakan ke Ketua RT tentang siapa warga di lingkungan RT tersebut yang sering mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar (pangan dan non-pangan).

PetugasPengkajian dimulai dengan rumahtangga yang dianggap paling miskin di lingkungan tersebut (Hasil Wawancara TJ,04 Maret 2014)”.

Koordinator bekerjasama dengan petugas pendata lapangan yang melibatkan ketua RT dengan melakukan pengkajian dari rumah ke rumah, dengan menanyakan sejauh mana kesulitan dalam memenuhi kebutuhan setiap warganya.

Begitu pula dengan pengakuan dari Bapak Tajuddin Selaku Koordinator Statistik Kecamatan Bontonompo di Kantor Badan Pusat Statistik yang menegaskan bahwa:

“…Kami juga melengkapi data rumahtangga miskin dari Ketua RT dengan informasi keluarga miskin dari hasil pendataan BKKBN yang datanya tersedia di tingkat RT sepanjang belum disebutkan oleh Ketua RT. Data ini pun diperkaya lagi dengan data dari sumber pendataan lain seperti hasil Sensus Kemiskinan BPS Provinsi/BPS Kabupaten/Kota, bagi daerah yang melaksanakan kegiatan tersebut (Hasil Wawancara TJ,04 Maret 2014)”.

Data rumah tangga miskin dari Ketua RT tersebut di cocokkan dengan hasil Pendataan BKKBN yang telah tersedia di masing-masing rumah tangga dan di perjelas degan hasil data dari BPS agar dapat memastikan kecocokan dalam setiap pendataan.

Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat di simbulkan pekerjan bukan salah satu yang menjadi Pendukung dalam hal kemiskinan karena, tingkat kemiskinan ini dilihat sejauh mana rumah tangga memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, petugas pendata seperti koordinator statistik melakukan pendataan lapangan dalam memperkuat hasil data yang di peroleh oleh Petugas

Pencacah lapangan dan pendataan bukan hanya dilakukan oleh petugas pendata melainkan melibatkan RT/RW setempat, dan mereka dilatih sebelum terjun kelapangan.

c. Frekuensi Makan sehari

Kebutuhan makan sehari merupakan kebutuhan paling mendasar bagi setiap rumah tangga karena rumah tangga yang di katakana miskin apa bila kemampuan untuk memenuhi komsumsi makanan hanya mencapai 1900 kalori per orang atau setara Rp 120.000 per bulan.

Berikut hasil wawancara dengan Bapak Tajuddin Selaku Koordinator Statistik Kecamatan Bontonompo Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) yang menjelaskan bahwa:

“…Iya Frekuensi makan sehari sangatlah penting karena ini menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat dan kami sebagai pendata harus tau seberapa sering dia makan dan makanan apa sajakah yang mereka makan (Hasil Wawancara TJ, 06 Maret 2014)”.

Kebutuhan pokok rumah tangga yang di maksud adalah rumah tangga yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya yakni tidak mampu mengkomsumsi makanan 3x dalam sehari, Frekuensi makan sehari adalah jumlah makanan yang di konsumsi setiap harinya dan jenis makanan apa saja yang dimakan.

Begitu pula dengan pengakuan dari Bapak Yudianto Selaku Koordinator Statistik Kecamatan Bajeng Di Kantor badan Pusat Statistik (BPS) yang mengungkapkan bahwa:

“…Rumah tangga yang di kategorikan miskin apa bila mereka makan 1x atau 2x sehari, pembelian daging satu kali seminggu dan tidak mampu

memenuhi kebutuhan makanannya hingga mencapai 1900 kalori per orang (Hasil Wawancara YT,06 Maret 2014)”.

Pembelian daging yang di maksud adalah daging ayam dan daging sapi Rumah tangga yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya telah di kategorikan sebagai rumah tangga miskin.

Dari hasil wawancara di atas dapat di simpulkan Frekuensi makan sehari sangat lah penting untuk mengeahui tingkat keparahan dalam kebutuhan sehari harinya, di kelurahan bonto-bontoa sendiri sudah tidak ada rumah tangga yang makan sehari sekali, kebutuhan pokok sudah terpenuhi namun finansialnya yang menjadi permasalahan.

2. Jumlah Jiwa

Jumlah jiwa merupakan kelompok umur tertentu yaitu keseluruhan jumlah keluarga. Dalam pendataan untuk mengetahui jumlah jiwa dari setiap rumah tangga itu tidak mudah, petugas pendata melakukan verifikasi ke lapangan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Yudianto Selaku Koordinator Statistik Kecamatan Bajeng di Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengutarakan bahwa:

“…Setelah melakukan penjaringan rumahtangga miskin pada langkah pertama, selanjutnya kami melakukan verifikasi di lapangan atas kebenaran informasi yang diperoleh dari berbagai sumber. Dilakukan dengan mendekatkan kondisi mereka dengan kriteria umum kemiskinan dan melihat langsung berapa jumlah jiwa dalam setiap rumah tangga (Hasil Wawancara YT,10 Maret 2014)”.

Verifikasi data yang di maksud adalah melakukan pencocokan data dengan terjun langsung ke lapangan untuk memastikan ke aslian informasi,

yakni melibatkan langsung petugas pendata dengan mendatangi setiap rumah tangga.

Hasil wawancara tersebut dapat di simpulkan bahwa untuk mengetahui jumlah jiwa dalam setiap rumah tangga yang akan di data, petugas pendata mendatangi langsung setiap rumah tangga dan mengumpulkan berbagai macam informasi dari tetangga ke tetangga,Proses Pertama dan kedua ini telah menggabungkan 3 sudut pandang dalam menilai miskin tidak hanya satu rumah tangga meliputi tokoh formal masyarakat (yang di wakili oleh ketua RT), Petugas BPS, dan masyarakat itu sendiri.

a. Keberadaan balita

Keberadaan balita adalah salah sati indikator menetukan kemiskinan dalam setiap rumah tangga, untuk mengetahui rumah tangga yang memiliki balita, petugas pendata melakukan pencacahan dari rumah ke rumah.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Yudianto Selaku Koordinator Statistik Kecamatan Bajeng di Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyatakan bahwa

“…Rumahtangga yang telah terjaring dan dinyatakan layak miskin, selanjutnya didata dengan cara melakukan wawancara langsung dari rumah ke rumah dengan daftar pertanyaan yang memuat 20 pertanyaan dengan 14 variabel diantaranya keberadaan balita, Rumah tangga yang memiliki balita lebih besar kebutuhannya dengan yang tidak memiliki (Hasil Wawancara YT,10 Maret 2014)”.

Layak miskin yaitu rumah tangga yang telah memenuhi kriteria 14 variabel kemiskinan, akan segera di berikan daftar pertanyaan salah satunya

mengenai keberadaan balita, sejauh mana rumah tangga tersebut mampu memenuhi kebutuhan balitanya, dari mulai kebutuhan sandang dan pangan.

Begitu pula dengan pengakuan dari Tajuddin Selaku Koordinator bstatistik Kecamatan Bontonompo di Kantor badan Pusat Statistik (BPS) yang menegaskan bahwa:

“…kami juga menanyakan apa mereka sanggup menyekolahi anaknya sampai ke jenjang SMP, jika kemungkinan tidak, maka kami akan mendatanya dengan menanyakan pertnyaan selanjutnya,”

Pertanyaan yang di ajukan adalah mengenai sejauh mana rumahtangga mampu menyekolahi anak mereka, tingkat pendidikan anak setiap rumah tangga minimal SMP.

Hasil wawancara di atas dapat di simpulkan bahwa dalam proses pendataan tidak mudah dalam menentukan keberadaan balita, Petugas melaukan langsung dari rumah ke rumah

b. Keberadaan anak usia 7 – 18 tahun

Keberadaan Anak usia 7-18 tahun menjadi salah satu indicator dalam variabel kemiskinan, karena dalam sebuah rumah tangga jika terdapat banyak jumlah anak usia 7-18 tahun maka itu wajib bagi petugas utnuk memastikan keberadaannya.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Yudianto selaku Koordinator Statistik Kecamatan Bajeng di Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyatakan bahwa:

“…dalam mendata kami tidak memilih rumah mana yang akan kami data tapi jika ada rumah tangga yang memiliki anak usia 7-18,kami langsung ke rumah tersebut dan menanyakan, tingkat pendidikan anak tersebut, dan

bagaimana untuk biaya pendidikan anak tersebut (Hasil Wawancara YT,12 Maret 2014 )”.

Begitu pula denganhasil wawancara dengan Bapak Taijuddin selaku Koordinator Statistik Kecamatan Bontonompo di Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengemukakan bahwa:

“…kami tidak punya kesulitah apapun dalam mendata karna jmlah keberadaan anak umur 7 -18 dapat langsung di lihat dari kartu keluarga nya.kendalanya tergantung rumah tangganya mau atau tidak di data karena kadang ada rumah tangga yang tidak mau di data (Hasil Wawancara TJ, 12 Maret 2014 )”.

Dari hasil wawancara di atas dapat di simpulkan bahwa setiap rumah tangga yang akan di data sudah pasti memiliki anak di usia7-18 tahun, kalau ada yang tidak memiliki anak 7-18 tahun, tetap akan di data, petugas pendata tidak membedakan rumah yang akan di datanya. Untuk mendata anak usia 7-18 tidak ada kesulitan karena anak tersebut sudah terdaftar pada kartu keluarga sehingga memudahkan petugas pendata mengetahuinya.

C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

Dokumen terkait