Pembangunan Wilayah
2.5. Pengembangan Komoditas Peternakan
2.5.3. Pendekatan Agribisnis
Menurut Djajalogawa dan Pambudy (2003), agribisnis peternakan diartikan sebagai suatu kegiatan bidang usaha peternakan yang menangani seluruh aspek siklus produksi secara seimbang dalam suatu paket kebijakan yang utuh melalui pengelolaan pengadaan, penyediaan dan penyaluran sarana produksi, kegiatan budidaya, pengelolaan pemasaran dengan melibatkan semua stakeholders (pemangku kepentingan) dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan yang seimbang dan proporsional bagi kedua belah pihak (petani-peternak dan perusahaan swasta).
Sistem agribisnis peternakan merupakan kegiatan yang mengintegrasikan pembangunan sektor pertanian secara simultan (dalam arti luas) dengan industri dan jasa dalam suatu kluster industri peternakan yang mencakup empat subsistem. Keempat subsistem tersebut menurut Saragih (2000) adalah sebagai berikut:
1). Subsistem agribisnis hulu (upstream off-farm agribusiness), yaitu kegiatan ekonomi (produksi dan perdagangan) yang menghasilkan sapronak seperti bibit, pakan, industri obat-obatan, inseminasi buatan, dan lain-lain.
2). Subsistem agribisnis peternakan (on-farm agribusiness) yaitu, kegiatan ekonomi yang selama ini kita sebut sebagai usaha ternak.
3). Subsistem agribisnis hilir (downstream off-farm agribusiness), yaitu kegiatan ekonomi yang mengolah dan memperdagangkan hasil usaha ternak. Ke dalam subsistem ini termasuk industri pemotongan ternak, industri pengalengan dan pengolahan daging, industri pengolahan kulit. 4). Subsistem jasa penunjang (supporting institution), yaitu kegiatan yang
menyediakan jasa agribisnis ternak, seperti: perbankan, asuransi, koperasi, transportasi, penyuluhan, poskeswan, kebijakan pemerintah, lembaga pendidikan serta penelitian, dan lain-lain.
Agribisnis merupakan sistem terpadu yang meliputi 4 (empat) bagian subsistem (Irawan dan Pranadji 2002) yaitu:
1). Subsistem pengadaan dan distribusi sarana/prasarana produksi yang akan dipergunakan sebagai input produksi pada subsistem budidaya.
2). Subsistem produksi atau usahatani, yang akan menghasilkan produk pertanian primer, misalnya: daging, telur, susu, dan lain-lain.
3). Subsistem pengolahan hasil dan pemasaran.
4). Subsistem pelayanan pendukung, berupa fasilitas jalan, kredit, kebijakan pemerintah. Dengan demikian dapat diartikan secara substansial pengertian sistem agribisnis dari kedua teori tersebut tidak ada perbedaan.
Menurut Departemen Pertanian (2001) sebagai suatu sistem, keempat subsistem agribisnis peternakan beserta usaha-usaha di dalamnya berkembang secara simultan dan harmonis, sebagaimana disajikan pada Gambar 4.
Gambar 4 Lingkup pembangunan agribisnis peternakan
Subsistem Agribisnis Hulu
Sistem produksi dan distribusi sarana dan alat-alat peternakan: - Bibit/induk/semen - Pakan/konsentrat - Obat ternak - Lahan - Kandang - Tenaga kerja Subsistem Agribisnis Budidaya Sistem kegiatan produksi peternakan primer, penanganan dan pemasaran produk-produk primer: - Pengolahan lahan - Antisipasi iklim/cuaca - Pencegahan penyakit - Pemberantasan penyakit - Pembelian sapronak - Manajemen - Kegiatan produksi Subsistem Agribisnis Hilir Sistem pengumpulan produk primer peternakan, Pengolahan produk, Distribusi dan pemasaran produk (segar, beku, kaleng, dan sebagainya) sampai ke konsumen akhir
Subsistem Lembaga Penunjang
- Prasarana (jalan, pasar, kelompok peternak, koperasi, dan lembaga keuangan). - Sarana (transportasi, informasi, kredit, peralatan, dan lain-lain).
- Kebijakan (RUTR, makro, mikro, dan lain-lain). - Penyuluhan.
2.5.3.1. Subsistem Agribisnis Hulu
Subsistem agribisnis hulu (upstream off-farm agribusness) dari sistem agribisnis peternakan mencakup kegiatan ekonomi (produksi dan perdagangan) yang menghasilkan sarana produksi peternakan, seperti: bibit ternak, pakan, industri obat-obatan, dan lain-lain. Kegiatan pada subsistem ini memiliki peranan penting dalam pengembangan sistem agribisnis peternakan, terutama ketersediaan bibit ternak.
Salah satu contoh untuk peternakan sapi potong, skala usaha atau jumlah pemilikan induk sapi untuk pembibitan umumnya kecil, berkisar antara 1 – 3 ekor per peternak. Kecilnya usaha ini karena merupakan usaha rumah tangga, dengan modal, tenaga kerja, dan manajemen seluruhnya atau sebagian besar berasal dari keluarga peternak yang serba terbatas. Kecilnya pemilikan ternak mengakibatkan usaha pembibitan umumnya hanya sebagai usaha sampingan (Santoso 2001).
Ada dua macam teknik reproduksi yang sudah dikembangkan di Indonesia untuk menghasilkan bibit ternak, yaitu inseminasi buatan (IB) dan kawin alam. Di antara kedua teknik reproduksi tersebut, IB semakin popular di kalangan masyarakat peternak. Hal ini disebabkan oleh tingginya permintaan akan ternak bakalan, terutama peranakan bangsa sapi yang produktivitasnya tinggi, seperti Simmental, Brahman, Limousin, dan Hereford. Menurut Hadi dan Ilham (2002) ada beberapa permasalahan dalam industri pembibitan sapi potong di Indonesia, antara lain:
1). Angka pelayanan kawin per kebuntingan (service per conception = S/C) masih cukup tinggi mencapai 2.6.
2). Masih terbatasnya fasilitas pelayanan IB yang tersedia baik ketersediaan semen beku, tenaga inseminator, dan masalah transportasi.
3). Jarak beranak (calving interval) masih terlalu panjang.
4). Tingginya tingkat kematian (mortality rate) pedet para sapih, bahkan ada yang mencapai 50 %.
Rendahnya produktivitas sapi pembibitan seperti ini menyebabkan kebutuhan sapi bakalan bermutu belum dapat terpenuhi. Hal ini sekaligus mencerminkan masih lemahnya program perbaikan mutu genetik, yang mengharuskan kita tetap mengimpor sapi bakalan dalam jumlah yang cukup besar.
2.5.3.2. Subsistem Agribisnis Budidaya
Pada subsistem agribisnis budidaya (on-farm agribusness) ada dua kegiatan utama, yaitu kegiatan pembibitan (reproduksi) dan penggemukan. Kegiatan budidaya sapi potong untuk tujuan penggemukan sudah banyak dilakukan, baik dalam skala usaha kecil (petani) maupun dalam bentuk perusahaan besar. Jenis sapi potong yang banyak dikembangkan oleh peternak dalam skala kecil di Indonesia termasuk ke dalam kelompok sapi tropis. Beberapa bangsa sapi tropis yang sudah cukup populer dan banyak dikembangkan sampai saat ini adalah: Sapi Bali, Sapi Madura, Sapi Ongole, dan Sapi American Brahman (Santoso 2001).
Menurut Sugeng (1998) kelompok sapi tropis secara umum memiliki ciri-ciri mencolok yang sangat mudah dibedakan dengan kelompok sapi subtropis (Eropa). Bangsa-bangsa sapi tropis memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Pada umumnya sapi memiliki ponok. 2. Pada bagian ujung telinga meruncing. 3. Kepala panjang dengan dahi sempit.
4. Kulit longgar dan tipis, kurang dari 5 – 6 mm, kelenjar keringat besar. 5. Timbunan lemak, baik yang ada di bawah maupun di dalam kulit, dan
otot-ototnya rendah.
6. Garis punggung pada bagian tengah berbentuk cekung dan pada bagian tingginya miring.
7. Bahunya pendek, halus, dan rata.
8. Kakinya panjang sehingga gerakannya lincah.
9. Lambat dewasa karena pertumbuhannya lambat, berat maksimal baru bisa dicapai pada umur 5 tahun.
10.Bentuk tubuh sempit dan kecil, berat timbangan sekitar 250 – 650 kg. 11.Ambingnya kecil sehingga produksi susunya rendah.
12.Tahan terhadap suhu panas dan kehausan, kadar air kotorannya rendah. 13.Toleran terhadap berbagai jenis pakan yang kandungan serat kasarnya tinggi
dan pakan sederhana.
Menurut Hadi dan Ilham (2002) jenis sapi potong yang banyak dikembangkan oleh perusahaan penggemukan dalam skala usaha besar adalah jenis sapi Subtropis, seperti: Simmental, Limousin, Carolise, dan Hereford. Jenis sapi ini memiliki beberapa keunggulan antara lain:
1). Pertambahan berat badan (PBB) per harinya tinggi. 2). Tingkat konversi pakan tinggi.
3). Komposisi karkas tinggi dengan komponen tulang lebih rendah.
Faktor yang penting untuk diperhatikan dalam usaha budidaya sapi potong adalah manajemen pemberian pakan. Pemberian pakan pada sapi potong dibedakan dua golongan, yaitu pakan perawatan (untuk mempertahankan hidup dan kesehatan) serta pakan produksi (untuk pertumbuhan dan pertambahan berat badan (Santoso 2001).
Jenis pakan sapi potong terdiri atas hijauan dan konsentrat. Pakan hijauan yang merupakan sumber serat kasar, umumnya berasal dari rumput segar (rumput Gajah, Raja, dan lain-lain), rumput alam yang tumbuh di lahan-lahan terbuka, dan limbah pertanian seperti jerami padi, jagung, dan kacang-kacangan. Pakan konsentrat terbuat dari bahan padat energi, seperti: bekatul, jagung, ubi kayu, ampas ketela pohon, dan ampas tahu (Sugeng 1998).
2.5.3.3. Subsistem Agribisnis Hilir
Subsistem agribisnis hilir (downstream off-farm agribusiness) dari sistem agribisnis peternakan adalah kegiatan ekonomi yang mengolah dan memperdagangkan hasil usaha ternak. Ke dalam subsistem ini termasuk industri pemotongan ternak, industri pengalengan dan pengolahan daging, industri pengolahan kulit, dan lain-lain.
Pengembangan teknologi proses dan produk pada subsistem hilir diarahkan untuk peningkatan efisiensi, pengembangan diversifikasi teknologi prosesing untuk menghasilkan diversifikasi produk, meminumkan waste dan pollutan, serta pengembangan teknologi produk. Berikut ini pada Gambar 5, disajikan pohon industri ternak, yang memberikan kontribusi terhadap perbaikan mutu lingkungan
dengan produk pupuk organik. Produk tersebut dibuat dari limbah ternak, yaitu feses dan urin.
Gambar 5 Pohon industri ternak
- Daging Segar - Pengalengan Daging - Pabrik Sosis - Pabrik Baso, dsb. - Kerupuk Kulit - Kerajinan - Tepung Darah - Pupuk Organik - Pupuk Organik - Tepung Tulang - Kerajinan Daging Darah Kulit Feses Urin Tulang, Kuku, dan Tanduk
T e r n a k
Susu Telur Bulu - Telur Segar - Telur Asin, dsb.- Pabrik Susu, Cream - Skim, Susu Segar, dsb.
- Wool - Kerajinan
Menurut Ilham et al. (2002) saluran tataniaga ternak menunjukkan bahwa sebagian besar konsumen akhir adalah konsumen produk peternakan dalam bentuk segar (telur, susu, dan daging segar). Pola umum saluran tataniaga ternak dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6 Pola umum saluran tataniaga ternak
Konsumen membeli hasil ternak (daging, susu, dan telur) dengan harga eceran jika membeli dari pengecer, atau harga produsen jika membeli dari pejagal atau distributor. Kelompok konsumen terdiri atas: konsumen rumah tangga, rumah makan atau restoran, hotel, penjual baso, dan lain-lain.
2.5.3.4. Subsistem Lembaga Penunjang Agribisnis
Subsistem lembaga penunjang agribisnis (supporting institution) merupakan subsistem yang sangat berperan terhadap ketiga subsistem agribisnis lainnya. Subsistem ini akan memberikan dukungan secara kelembagaan dalam pengembangan sistem agribisnis secara keseluruhan. Ada beberapa lembaga yang berperan di dalam subsistem lembaga penunjang untuk pengembangan sistem agribisnis peternakan, seperti: perbankan, asuransi, koperasi, transportasi, penyuluhan, poskeswan, kebijakan pemerintah, lembaga pendidikan, penelitian, dan lain-lain.
Peternak
Pedagang
Peternak Peternak, Pejagal atau Pemotong
Pengecer
Koperasi merupakan salah satu lembaga yang perlu mendapat perhatian dalam upaya pengembangan sistem agribisnis peternakan, mengingan peternak sebagai pelaku mayoritas dan utama dalam sistem ini memiliki kemampuan yang lemah dalam hal permodalan, akses informasi, dan teknologi. Koperasi dapat menjadi media bagi peternak untuk secara bersama-sama membangun usahanya secara terintegrasi dari subsistem hulu sampai subsistem hilir, agar peternak dapat memperoleh nilai tambah yang lebih baik. Untuk saat ini, koperasi yang bergerak di kalangan peternak memang belum berkembang sebaik koperasi yang bergerak di kalangan peternak sapi perah, misalnya Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI).
Menurut Karim (2002) dari aspek permodalan, pihak perbankan masih menganggap bahwa usaha kegiatan agribisnis sapi potong sebagai usaha yang belum mendapat prioritas untuk mendapatkan bantuan kredit usaha. Hal ini dikarenakan, pihak perbankan masih menganggap bahwa agribisnis sapi potong berisiko tinggi (high risk) dan rendah dalam hal pendapatan (low return). Namun menurut Thohari (2003) ada beberapa sumber pembiayaan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan agribisnis peternakan, antara lain: Kredit Taskin, Modal Ventura, Pemanfaatan Laba BUMN, Pegadaian, Kredit BNI, Kredit Komersial Perbankan (Kupedes dari BRI, Swamitra dari Bukopin, Kredit Usaha Kecil dari: BNI, Bank Danamon, BII, Bank Mandiri, Kredit BCA, Kredit Pengusaha Kecil dan Mikro (KPKM) dari Bank Niaga, Kredit Modal Kerja dari Bank Agro Niaga, dan pemanfaatan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) di perdesaan.