BAB III METODE PENELITIAN
F. Keabsahan Data
75Mattew B. Milles dan A Michael Huberman, Analisis data Kualitatif (Jakarta:UI Press,1992),15
76Mattew B. Milles dan A Michael Huberman, Analisis data Kualitatif ....95
77Mattew B. Milles dan A Michael Huberman, Analisis data Kualitatif ....99
Keabsahan data disini dibutuhkan bahwa penelitian dapat dipertanggung jawabkan, untuk memperoleh validitas maka peneliti melakukan usaha-usaha sebagai berikut:
1. Perpanjangan Pengamatan
Dengan perpanjangan pengamatan peneliti kembali kelapangan, melakuakan pengamatan lagi, wawancara dengan sumber data yang pernah ditemui maupun yang baru, semakin akrab dengan narasumber sehingga tidak ada informasi yang disembunyikan lagi.78 2. Triangulasi Sumber data Dan Waktu
Triangulasi sumber data adalah menguji kredibilitas data dengan cara mengecek data yang telah diproses melalui beberapa sumber. Sedangkan triangulasi waktu adalah melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dengan waktu atau situasi yang berbeda.79
G. Tahap-tahap Penelitian
Tahap penelitian ada empat tahap sebagai berikut : 1. Tahap pra lapangan
2. Tahap pekerjaan lapangan 3. Tahap analisis data
4. Tahap evaluasi dan pelaporan
78Sugiyono, memahami Penelitian Kualitatif (Bandung:Alfabeta,2014),122
79Sugiyono, memahami Penelitian Kualitatif ....125
BAB IV
PENYAJIAN DAN ANALISIS
Setelah mengumpulkan beberapa informasi tentang bagaimana strategi pedagang di pasar induk Bondowoso, dan apakah strategi mereka sudah sesuai dengan Ekonomi Islam yaitu dengan memanfaatkan semua informasi tersebut kedalam metode penelitian kualitatif agar mendapatkan analisis yang lengkap dan akurat.
Setiap pedagang, baik yang bergerak di bidang produk ataupun jasa, mempunyai tujuan untuk tetap hidup dan berkembang serta mempertahankan pelanggannya, tujuan tersebut dapat dicapai melalui upaya untuk dapat mempertahankan dan meningkatkan tingkat keuntungan atau laba yang diperolehnya. Hal ini dapat tercapai apabila pedagang menerapkan strategi yang tepat dalam memasarkan produk maupun jasa.
Seperti yang kita ketahui, Strategi pemasaran pada dasarnya adalah rencana yang menyeluruh, terpadu dan menyatu dibidang pemasaran, yang memberikan panduan tentang kegiatan yang akan dijalankan untuk dapat tercapainya tujuan pemasaran.
Untuk menganalisis strategi pemasaran pedagang yang berada dipasar induk bondowoso yaitu dengan konsep marketing mix yaitu :
1. Produk 2. Harga
3. Tempat/distribusi 4. Promosi
A. Gambaran Umum Objek Penelitian
1. Letak dan Sejarah pasar tradisional induk Bondowoso
Kabupaten Bondowoso adalah sebuah kabupaten di provinsi Jawa Timur Indonesia, ibu kotanya adalah Bondowoso, ibu kota kabupaten Bondowoso berada di persimpangan jalur dari Besuki dan Situbondo menuju Jember, kabupaten Bondowoso adalah salah satu kota yang tidak memiliki wilayah laut dan terletak di tapal kuda Jawa Timur.
Kabupaten Bondowoso dapat dibagi dalam tiga wilayah, wilayah barat merupakan pegunungan (bagian dari pegunungan layang), bagian tengah berupa dataran tinggi dan bergelombang, sedangkan bagian timur merupakan pegunungan (bagian dari dataran tinggi ijen), kabupaten Bondowoso merupakan satu-satunya kabupaten di wilayah tapal kuda yang tidak memiliki garis pantai.
Luas kabupaten Bondowoso 1.560,10 km2 dan memiliki suhu udara yang cukup sejuk berkisar 15,40oC – 25,10oC karena berada diantara pegunungan kendeng utara dengan puncak gunung raung, gunung ijen dan sebagainya.
kabupaten Bondowoso tidak berada pada daerah yang strategis meskipun berada di tengah namun tidak dilalui jalan negara
yang menghubungkan antar provensi, Bondowoso juga tidak memiliki laut, ini yang menyebabkan Bondowoso sulit berkembang dibandingkan dengan kabupaten lainnya di jawa timur.
Batas wilayah :
Sebelah utara : Kabupaten Situbondo
Sebelah timur :Kabupaten Situbondo dan Banyuwangi
Sebelah selatan : Kabupaten Jember
Sebelah Barat : Kabupaten Situbondo dan Probolinggo80
Pasar tradisional induk Bondowoso terletak dipusat kota bondowoso tepatnya dijalan Teuku umar kecamatan Bodowoso kelurahan dabasa kabupaten Bondowoso , jarak dari pusat pemerintah kota berkisar 2km , pasar tradisional induk Bondowoso merupakan pasar tradisional terbesar di kabupaten Bondowoso dengan luas wilayah pasar sekitar 31.500meter2.81 dengan jumlah pedagang :
80http://www.bondowosokab.go.id
81Miskadin, wawacara,9 april 2016
Tabel 4.1
Jumlah Pedagang Tradisional Induk Bondowoso
NO TEMPAT JUMLAH
1 Toko 68
2 Kios 690
3 Pelataran 480
4 PKL 20
TOTAL 1258
Adapun sejarah pasar Tradisioal Induk Bondowoso ada sejak tahun sebelum kemerdekan, seperti hasil wawancara dengan Bapak Miskadin selaku kepala UPT pasar :
“kalau untuk berdirinya kami kurang paham, tapi keberadan pasar induk sejak jaman koloniel belanda sudah ada, sebelum kemerdekaan indonesia”.82
Dari pernyataan diatas menerangkan bahwasanya keberadaan pasar tradisional induk bondowoso sudah ada sebelum masa kemerdekaan Indonesia, sudah menjadi salah satu pusat perputaran rupiah terbesar di Kabupaten Bondowoso.
“Pasar induk Bondowoso pernah mengalami beberapa kejadian kebakaran, diantaranya pada tahun 1987 terbakar dan selessai direnofasi pada tahun 1990, padatahun 2001 juga terjadi kebakaran akan tetapi tidak parah seperti tahun sebelumnya, kejadian tahun 1987 kembali terjadi pada 14 september 2014 yang menelan kerugian mencapai
82Miskadin, wawancara,9 april 2016
Rp.41.467.385.400 (empat puluh satu miliyar empat ratus enam puluh tujuh juta tiga ratus delapan puluh lima ribu empat ratus rupiah), hingga saat ini masih dikerjakan tahap pembangunan”.83
Seiring dengan berjalannya renofasi pasar, dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan mengambil opsi untuk membuatkan tempat berjualan sementara yaitu ditempatkan di jalan teuku umar hingga proses pembanguan selesai. Proses pembangunan pasar Induk Bondowoso ditargetkan selesai pada akhir tahun 2017 .
B. Penyajian Data dan Analisis
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data melalui Obserasi, Wawancara, dan Dokumentasi catatan lapangan untuk mendukung penelitiann ini.Secara berurutan akan disajikan data data hasil penelitia yang mengacu pada fokus masalah.
1. Analisis Strategi pemasaran pedagang Tradisional di Pasar Induk Bondowoso dalam memproduksi produk, harga, distribusi dan promosi.
Pemasaran merupakan salah satu kegiatan pokok yang dilakukan oleh para penguaha dalam usahanya untuk mempertaruhkan kelangsungan usahanya, untuk berkembang dan mendapatkan laba berhasil tidaknya dalam pencapaian
83Rifai, Wawancara, 9 april 2016
tujuan bisnis tergantung pada keahlian mereka dibidang pemasaran produk keuangan maupun lainnya.
Setiap perusahanan maupun pedagang kecil pasti menerapkan strategi pemasaran untuk menarik minat konsumennya, tak terkecuali pedagang tradisional induk Bondowoso, karena banyaknya pesaing yang kebanyakan menjual produk yang sama, pastinya diperlukan strategi yang matang, dari hal tersebut belum tentu mereka menggunakan strategi pemasaran yang tepat serta sesuai dengan ekonomi islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, karena dari hasil penelitian sebagian besar padagang tradisional beragama islam. Maka peneliti akan menjelaskan secara terperinci dari hasil temuan tentang strategi pemasaran produk, harga, distribusi dan promosi. serta apakah sesuai dengan Ekonomi Islam.
a. Kegiatan Produksi
Produk dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepasar untuk mendapat perhatian dari konsumen dan untuk dibeli.digunakan dan dikonsumsi yang dapat memenuhi kebutuhan.
Keputusan keputusan produksi ini mencakup penentuan bentuk penawaran secara fisik, merknya, pembungkus, dan serfis sesudah penjulan.
Adapun kegiatan produksi dari hasil wawancara terhadap beberapa pedagang kebutuhan pokok yang mereka pasarkan sehari-hari seperti pernyataan Bapak Hanaki mengatakan :
Untuk mendapatkan daging sapi pedagang membeli sapi yang berkualitas di pasar dan dipotong serta dijualnya perkilo. Seperti pernyataan Bapak Hanaki.
“yeh melleh epasar sapeh cong, nyareh sapeh se kualitasah begus, pas ebelli ejuel pole ”84
(beli dipasar sapi, dengan membeli sapi yang kualitasnya bagus, disembeleh dan dipilah menjadi beberapa bagian dagin dan dijual kembali)
Sama halnya dengan pernyataan Bapak Ida :
“untuk memproduksi daging sapi yang bagus, kami harus pintar-pintar memilih sapi dipasar, agar produksi dagingnya untuk dijual hasilnya bagus dan tidak mengecewakan konsumen”85
Daging sapi segar bisa bertahan kurang lebih satu minggu, sisa dari daging sapi yang tidak terjual di letakkan dikulkas, seperti pernyataan Hanaki .
“deging sapeh bisa bertahan korang lebbi samingguh, misalah bedeh karenah, esabek ekulkas , misalah bedeh pembeli deging sapeh karenah berik aeng ngalkal terros ecampor bereng seanyar, muntak deyyeh rogi cong”86
(daging sapi bisa bertahan kurang lebih sekitar satu minggu, misalkan ada sisa disimpan dikulkas, misalnya ada
84Hanaki, wawancara, 6 maret 2016
85Ida, wawancara, 10 maret 2016
86Hanaki, wawancara, 6 maret 2016
pembeli daging sapi tinggal menyiramkan air panas, dan dicampur dengan yang masih segar)
Begitu juga degang pedagang daging ayam, mereka mengakui bahwasanya mereka biasa mencampur daging ayam sisa dengan yang baru, tujuannya agar tidak mengalami kerugian, akan tetapi sisa daging ayam tersebut tidak membahayakan bagi konsumen, karena diletakkan dikulkas dan bukan daging yang tidak layak konsumsi Seperti pernyataan Ibuk Saadah :
“daging sisa ditaruh dikulkas, dan dicampur degan yang baru atau masih segar, agar tidak mengalami kerugian, tapi daging tersebut masih layak konsumsi bukan daging busuk atau tidak layak konsumsi”87
Ibu lilis sebagai pedagang ikan asin juga memberi pernyaaan yang sama :
“terkadang sisa ikan asin seperti teri, saya campur dengan yang baru, dan tidak ada masalah dari segi kualitasnya tetap bagus, karena kalau ikan asin seperti ini dapat berahan kurang lebih sampai satu bulan”88
Dari beberapa pernyataan pedagang diatas sudah sedikit nampak bahwasanya mereka sangat memperhatikan kualitas produknya sebelum diperjual belikan, meskipun pedagang tersebut mengakui bahwasanya terbiasa
87Saadah, wawancara, 30 april 2016
88Lilis,wawancara, 10 april 2016
mencampur daging sisa jualan kemaren dengan yang baru akan tetapi daging tersebut masih layak konsumsi.
Lain halnya dengan pedagang buah Bapak Sapik, menurutnya :
“buah yang sudah lama tidak terjual atau buah yang kurang bagus, tetap saya jual dan dipisah dengan buah yang bagus, misalkan sudah tidak layak konsumsi terpaksa kami buang, tapi kalau dipasar seperti ini jarang dagangan kami tidak terjual dalam jangka waktu tiga hari”.89
Selain kebutuhan pokok di atas, masih banyak produk kebutuhan pokok lainnya yang ditawarkan pedagang tradisional induk Bondowoso yaitu kebutuhan pangan, dari hasil wawancara dengan pedagang sayuran Ibu Tija :
“saya mendapatkan sayuran ini dari pihak disributor yaitu petani, tapi harus pintar-pintar dalam memilih dan memilah, yang masih segar dan yang sudah kurang bagus atau yang ada bahan kimiaanya, kenapa harus seperti itu, karena kami tidak mau mengecewakan konsumen, biasanya sayuran yang ada bahan kimianya itu tidak ada bekas atau sisa dimakan hama mulus bagus semua, dan biasanya yang steril dari bahan kimia itu ada bekas bolong-bolong”90
Sama halnya dengan pernyataan Ibu Naila :
“dipasar seperti ini persaingan sangat ketat, jadi kami sebagai pedagang harus pintar-pintar memilih barang, untuk dijual kepada kosumen, karena konsumen sekarang sangat pintar, jika produk tidak bagus atau cacat maka kosumen tidak akan membeli produk kita, karena di pasar seperti ini banyak pilihan produk yang sama”91
89Sapik,wawancara, 9 april 2016
90Tija, wawancara, 1 mei 2016
91Naila,wawancara, 12 april 2016
Begitu juga menurut Ibu Lilis, sebagai pedagang ikan asin yang sudah berjualan sejak tahun 2007 :
“saya mendapat ikan-ikan asin ini dari distributor yang berada di gebang jember, saya sebagai langganan tetap, dapat memilih sendiri ikan-ikan yang bagus”92
Dari beberapa pernyataan pedagang pangan seperti sayuran sudah semakin nampak bahwasanya pedagang benar-benar memperhatikan kualitas produknya, menurutnya jika kualitas yang dipasarkan itu tidak bagus maka konsumen akan cari produk kepedagang yang lain karena persaingan dipasar Induk itu sangat ketat dan konsumen sudah sangat pintar dalam memilih produk.
Lain halnya dengan proses produksi makanan khas Bondowoso yaitu tape , Tape merupakan makanan khas Bondowoso yang sudah dikenal banyak orang akan kelezatannya, Untuk membuat tape yang berkualitas diperlukan pohong atau sabrang yang berkualitas, seperti tempat produksi tape yang peneliti wawancarai toko tape 27, pedagang menggunakan kualitas pohong pilihan untuk menghasilkan tape yang enak dan unggulan, ada beberapa daerah di Bondowoso merupan penghasil sabrang kualitas unggulan, diataranya daerah tamanan.
92Lilis,wawancara, 10 april 2016
Adapun proses pembuatannya sebagai berikut : 1) Kupas pohong
2) Cuci sampai bersih
3) Dikukus kurang lebih selama 25 menit 4) Proses pembuangan tulang
5) Dipotong kurag lebih 10cm dan didinginkan dengan kipas
6) Proses peragihan 7) Siap dipasarkan
Dari proses peragihan, memerlukan waktu dua sampai tiga hari untuk bisa dikonsumsi.
Misalnya ada sisa dari produksi yang pertama maka akan diolah kembali atau diretor, seperti pernyataan Bapak Budi :
“sisa dari tape yang tidak terjual, sebelum kadaluarsa akan di proses kembali menajadi produk baru, seperti tape bakar, prol tape, dan swarsuwir”.93
Jadi sisa tape yang tidak terjual sebelum kadaluarsa diolah kembali menjadi produk baru, menurut pedagang tidak membahayakkan bagi konsumen .bagitu juga menurut Bapak Adi pedagang toko tape 66 :
“sisa dari produk tape besek yg tidak terjual diolah kembali sebelum kadaluarsa, dan tida membahayakan bagi
93Pak Budi, wawancara, 29 april 2016
konsumen dan kami memproduksinya tidak setiap hari tergantung permintaan”.94
Hal selanjutnnya yang dilakukan adalah pemilihan kemasan produk, kemasan produk tape menggunakan besek sebelum dikemas besek biasanya dijemur terlebih dahulu agar besek tersebut tidak jamuran, dan kemasan kardus dikhususkan untuk tape unggulan, didalam besek ataupun kardus diletakkan daun pisang sebagai alas, agar mendapatkan aroma yang khas dari tape tersebut serta dilakukan penataan yang bagus dan menarik.
b. Harga
Harga dapat didefinisikan sebagai alat tukar, hal ini seperti yang dikemukakan oleh E Jeromi MC. Charty terjemahan Gunawan H bahwa harga adalah apa yang dibebankan untuk sesuatu. Setiap transaksi dagang dapat dianggap sebagai suatu pertukaran uang, uang adalah harga untuk sesuatu.95
Adapun pembentukan harga sendiri yaitu dari perilaku pasar, seperti teori pembentukan harga yaitu jika penawaran lebih tinggi dari permintaan maka harga akan turun dengan sendirinya dan sebaliknya jika permintaan lebih tinggi dari penawaran maka harga akan tinggi.
94Pak Budi, wawancara, 29 april 2016
95Laksana Fajar, Manajemen Pemasaran (Yogyakarta:Graha Ilmu,2008).102
Seperti hasil wawancara terhadap beberapa pedagang kebutuhan pokok yaitu Ibu Tija :
“yang menentukan harga cabe, dan saudara-saudaranya memang terbentuk dengan sendirinya, misalkan cabe pemasoknya banyak harga akan turun dan sebaliknya”96
Sama halnya dengan pernyataan Ibu Il pedagang bumbu-bumbu dapur :
“harga bahan-bahan pokok ini suadah terbentuk dengan sendirinya, akan tetapi juga tergantung dengan bagus atau tidaknya produk yang dijual, misalkan sudah tidak bagus bisa saja dijual dibawah harga pasar, selain itu terjadinya kenaikan harga biasanya disebabkan karena kelangkaan barang dan selain itu biasanya juga disebabkan mahalnya biaya angkut”.97
Dari hasil pengamatan peneliti pedagang tradisional pasar Induk Bondowoso sebagian besar menggunakan metode Mark Up Pricing, mark up sendiri merupakan kelebihan harga jual diatas harga belinya, biaya transportasi dan lainnya.
Seperti halnya pernyataan Ibu Jamila pedagang bumbu-bumbu dapur :
“dalam menentukan harga jual produk ini, kami mengambil keuntungan dengan menambahkan biaya-biaya seperti biaya angkut, bungkus kresek, karena kami mengambil produk ini dari pihak distribitor, akan tetapi juga melihat situasi pasar atau harga pasaran, jika dijual diatas harga mayoritas otomatis konsumen tidak akan membeli, dikarenakan banyaknya pilihan”.98
96Ida, wawancara, 10 april 2016
97Il, wawancara, 25 april 2016
98Jamila,wawancara, 25 april 2016
Sama halnya dengan Ibu Il :
“kami menambahkan biaya-biaya kedalam penentuan harga kami, sehingga kami dapat memperoleh keuntungan sewajarnya”.99
Bapak Sapik sebagai pedagang buah juga menayatakan :
“kami mengambil keuntungan per kilo gram biasanya Rp.2000 sampai Rp.3000 untuk buah yang masih bagus , dan menjual murah untuk buah yang kurang bagus, bahkan harga tidak sampai setengahnya”.100
Dalam penentuan harga, sebagian besar pedagang pasar Induk Bondowoso, menggunakan metode Mark Up Pricing, akan tetapi pedagang juga melihat apakah produk tersebut masih layak dijual dengan harga yang akan ditentukan, dan pedagang sangat berhati-hati pula dalam menentukan harga Karena akan berakibat terhadap laku tidaknya produk tersebut dan lagi-lagi alasan pedagang kenapa sangat berhati-hati dalam menentukan harga yaitu karena ketatnya persaingan.
Lain halnya dengan penetapan harga tape, yang menggunakan metode Cost plus pricing, pada metode ini produsen menentukan harga jual untuk suatu unit barang
99Il,wawancara,25 april 2016
100Sapik,wawancara,9 april 2016
ditambah sejumlah tertentu untuk menutup laba yang diinginkan, laba pada konsep ini disebut margin.
Seperti pernyatan Bapak Budi :
“dalam menentukan harga jual, kami sebagai produsen sekaligus penjual, menentukan harga dengan menghitung biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi produk ditambah dengan jumlah keuntungan yang diinginkan, naik turunnya harga tape tergantung mahal aatau murahnya singkong , dan kami membedakan harga jual terhadap engecer dan konsumen”.101
Sama halnya dengan Pernyatan Bapak Suminto :
“dalam menentukan harga jual, yaitu dengan menghitung biaya produksi ditambah dengan jumlah keuntungan yang diinginkan, harga jual terhadap konsumen dan pengecer kami bedakan dan naik turunnya harga tape tergantung dengan murah atau tidaknya bahan baku yaitu pohong”.
Adapun daftar harga tape 66 dan 27 sebagai berikut
Tabel 4.2
MACAM HARGA TAPE 66 DAN 27 KEPADA KONSUMEN
No Produk Harga
1 Satu renteng kecil tape besek isi lima Rp.12.000,00 2 Satu renteng besar tape besek isi lima Rp.22.000,00
3 Satu renteng jumbo isi dua Rp.22.000,00
4 Satu tape kotak Rp.12.000,00
101Budi, wawancara, 29 april
Tabel 4.3
MACAM HARGA TAPE 66 DAN 27 KEPADA PENGECER
No Produk Harga
1 Satu renteng kecil tape besek isi lima Rp.10.000,00
2 Satu renteng besar tape besek isi lima Rp.20.000,00
3 Satu renteng jumbo isi dua Rp.20.000,00
4 Satu tape kotak Rp.10.000,00
Adapuun harga dari pengecer untuk konsumen disesuaikan dengan harga yang dipatok oleh konsumen, akan tetapi terkadang pengecer menjual dengan harga lebih tinggi dari harga yang dipatok produsen, lebih tepatnya pengecer menggunakan metode Mark Up Pricing. Seperti pernyataan Bapak Minto :
“harga dari kami sebagai pengecer terkadang lebih tinggi dari harga yang dipatok produsen akan tettapi tidak terlalu tinggi paling banyak selisih Rp.500-Rp.1000, karena kami sebagai pengecer mengeluarkan biaya juga, seperti halnya kresek dan bahkan terkadang ada pembeli yang meminta tester, ya otomatis tester tersebut dikonsumsi sendiri”.102
Sama dengan pernataan Bapak Naryo :
102Bpk Minto, wawancara, 27 april 2016
“kami menentukan harga, dengan menghitung biaya tambahan yang kami keluarkan, seperti kresek, akan tapi kami tidak menentukan harga melebihi harga sewajarnya”.103
Dari hasil Observasi peneliti, hampi tidak ada yang namanya monopoli pasar, karena pedagang kebanyakan menjual produk yang sama dengan pesaingnya dan berdekatan, sehingga pedagang lebih berhati-hati dalam menentukan harga dan mahal tidaknya suatu kebutuhan pokok itu biasanya tergantung dengan langka tidaknya kebutuhan pokok tersebut.104
c. Tempat atau Distribusi
Distribusi merupakan kegiatan menyalurkan produk terhadap konsumen, Saluran distribusi merupakan serangkaian organisasi yang terkait dalam semua kegiatan yang digunakan untuk menyalurkan produk dan status kepemilikannya dari produsen kekonsumen.
Ada tiga aspek pokok dalam distribusi (tempat).
Pertama, sistem transportasi, dua, sistem penyimpanan, ketiga, pemilihan saluran distribusi.
Dari hasil Observasi peneliti, sangat nampak perbedaan ketika sebelum terjadinya kebakaran dan paska kebakaran, tempat berjualan pedagang tidak layak untuk
103Naryo, wawancara, 2 mei 2016
104Observasi, 6 maret 2016
ditempati berjualan sehari-hari.105 Seperti pernyataan Ibu Lilis :
“tempat yang saya tempati ini tidak enak untuk berjualan beda dengan sebelum terjadinya kebakaran, adapun dampaknya terhadap kami sebagai pedagang yaitu berkurangnya konsumen, biasanya sebelum kebakaran itu konsumen sudah tau bahwa saya berjualan dimana, dan sekarang banyak yang pindah langganana”106
Dan hasil penelitian di pasar Tradisional Induk Bondowoso peneliti menemukan dua saluran distribusi diantaranya saluran nol tingkat dan saluran satu tingkat.
Saluran nol tingkat yaitu produsen menjual langsung kepada konsumen, sebagian besar pedagang tradisional induk Bondowoso melakukan strategi nol tingkat ini.
Seperti hasil wawancara dengan Ibu Nirah :
“saya sebagai pedagang kecil, hanya mendisribusikan kepada pembeli langsung”.107
Sama halnya dengan pernyataan Ibu Samsul :
“saya mendistribusikan kepada konsumen langsung, kerena yang saya jual hanya sayuran.”108
Begitu juga dengan Ibu Junid :
“saya mendistribsikan produk sayuran ini tidak melalui perantara, karena produksi kami sedikit dan jika masih dititipkan kepada pengecer otomatis harus menaruh harga jual dibawah harga pasar dan produk kami sedikit,
105Observasi, 6 maret 2016
106Lilis, wawancara, 10 April 2016
107Nirah,wawancara, 27 april 2016
108Ibu Samsul,wawancara, 19 april 2016
kalau banyak mungkin-mungkin saja, jadi memilih saluran langsung jual kekonsumen”.109
Kenyataannya karena pedagang traadisional ini merupakan saluran distribusi dari perusahaan-perusahaan atau agen pemasok kebutuhan-kebutuhan pokok, jadi pedagang tradisional ini meggunakan saluran distribusi nol tingkat atau menjual langsung kepada konsumen dan tidak sedikit pula yang menggunakan satu tingkat .
Seperti hasil wawancara dengan Ibu Jamilah :
“tidak sedikit pedagang rumahan atau biasa disebut pedagang pracangan mengambil bahah-bahan kebutuhan pokok dari saya, karena sudah biasa menjadi konsumen sekaligus pengecer”.110
Dan pernyataan Ibu Naila:
“biasanya yang menjadi konsumen sekaligus pengecer atau pedagang pracangan yaitu pedagang dari desa mengambil barang dari kami untuk dijualnya kembali”.111
Sama halnya dengan pernyaaan Ibu Lilis :
“saya memiliki banyak pelanggan tetap, mereka biasanya peracangan dari koncer, jetis dan masih banyak lagi”.112
Lain halnya dengan pendistribusian makanan khas Bondowoso yaitu tape, yang menggunakan saluran satu
109Junid, wawancara, 19 april 2016
110Saroh, wawancara, 25 april 2016
111Amel,wawancara, 1 mei 2016
112Lilis,wawancara,10 april 2016
tingkat mempunyai satu perantara, selain didistribusikan didalam kota pendistribusian tape ini sampai keluar kota seperti situbondo, besuki dan probolinggo, adapun sasaran penjualannya yaitu restoran, depot dan tempat-tempat wisata, sesuai dengan pernyataan pedagang tape 27:
“pendistribusian tape ini bukan hanya didalam kota saja, akan tetapi didistribusikkan keluar kota seperti : situbondo, besuki, probolinggo, pendistribusian tape menggunakan mobil dan sasaran pendistribusian yaitu : restoran-restoran dan tempat wisata”.113
Sama halnya dengan toko tape 66 :
“pendistribusiannya kepada konsumen dan pengecer di toko-toko sebelah bahkan sampai keluar kota.”
Dari pernyataan diatas distributor tape biasanya mendistribusikan kepada pedagang besar seperti direstoran-restoran luar kota selain itu juga didistribusikan kepada pengecer . Dan pendistribusiannya menggunakan mobil Pick Up.
d. Promosi
Seperti yang kita ketahui Promosi merupakan kegiatan yang ditujukan untuk mempengaruhi konsumen agar mereka dapat menjadi kenal akan produk yang
113Budi, wawancara, 29 april 2016