BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Temuan Khusus
2. Pendekatan Integratif Guru dan Orang Tua pada Aspek Role
Berdasarkan temuan sebelumnya diperoleh keterangan bahwa metode penanaman moral yang menjadi prioritras bagi TK Khodijah adalah role modelling yang dipahami oleh pihak sekolah sebagai upaya menunjukkan keteladanan oleh pendidik dalam hal ini guru dan orang tua dalam rangka menanamkan nilai-nilai moral pada anak usia dini.
Kepala TK Khodijah (KSW0-A) pada satu sesi wawancara tak terstruktur melalui telepon mengungkapkan bahwa keteladanan dalam akhlak dan perilaku terpuji adalah pedoman dasar dalam melaksanakan
penanaman moral pada anak usia dini. Menurut beliau, keampuhan role modelling dalam penanaman moral, akhlak, dan perilaku terpuji teruji efektif sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Oleh sebab itu, TK Khodijah (GA-K) menekankan pentingnya keteladanan yang ditunjukkan oleh guru terlebih lagi oleh orang tua yang banyak menghabiskan waktu bersama anaknya di rumah. Berikut merupakan beberapa temuan dan fakta tentang pelaksanaan role modelling dalam pendekatan integratif antara orang tua dan guru:
a. Persepsi Guru dan Orang Tua tentang Peran Keteladanan Peran keteladanan yang dimaksud adalah keteladanan yang ditunjukkan baik oleh guru maupun orang tua dalam rangka menanamkan nilai moral ke dalam diri anak usia dini. Penelitian lapangan yang dilakukan mencoba mengeksplorasi lebih dalam tentang sisi-sisi kesamaan atau perbedaan yang dimiliki oleh guru maupun orang tua dalam kaitannya dengan peran keteladanan yang ditunjukkan dalam rangka penanaman moral anak usia dini.
Berdasarkan hasil wawancara terhadap guru Khodijah (GA1-PIR-K) ditemukan fakta bahwa para guru di TK Khodijah sepakat akan pentingnya peran keteladanan dalam penanaman moral anak usia dini. Guru di TK Khodijah (GA1-PIR-K) berpendapat cara efektif dalam menanamkan moral pada anak usia dini adalah dengan mempertunjukkan perilaku terpuji di sekolah dan memberikan saling memberi apresiasi terhadap siapapun yang melakukan tindakan terpuji. Salah satu guru yang diwaancarai
menjelaskan, anak usia dini menyerap nilai moral melalui perilaku yang ditunjukkan oleh orang dewasa dan memahami perilaku baik dan buruk melalui penghargaan dan hukuman yang diberikan. Jadi menurutnya, tidak mungkin mengajarkan konsep “baik” dan
“buruk” yang abstrak dalam perspektif moral kepada anak usia dini yang masih mengenal lingkungkan dalam bentuknya yang konkret.
Hasil yang sedikit berbeda ditemukan dalam sesi wawancara terhadap orang tua siswa. Berdasarkan keterangan orang tua (O1-PIR-K) siswa yang berhasil diwawancarai, diperoleh informasi bahwa orang tua sangat mengapresiasi inisiatif sekolah untuk melibatkan orang tua dalam penanaman moral anak dan memberi tanggapan positif terhadap pendekatan tersebut. Namun, beberapa orang tua masih (O23-PIR-K) mempertanyakan tentang skala prioritas keteladanan yang harus ditunjukkan kepada anak usia dini dalam kehidupan sehari-hari. Meski begitu, orang tua menyadari penuh pentingnya peran keteladanan yang ditunjukkan oleh orang dewasa baik guru di sekolah maupun oleh orang tua di dalam keluarga
b. Peran Keteladanan Guru di Sekolah
Salah satu bentuk peran keteladanan yang ditunjukkan oleh guru di sekolah adalah memulai tegur sapa dengan salam,
“assalamu’alaikum”. Budaya salam ini ditujukan untuk menegakkan nilai-nilai moral Islami yang berupaya menebarkan rahmat bagi semesta. Menurut hasil wawancara Kepala Sekolah
(KSW-PIR-K1), setiap guru diharuskan untuk memulai tegur sapa kepada siapapun dengan mengucap salam.
Selain mendahulukan tegur sapa dengan salam, Guru TK Khodijah (GA2-PIR-K1) mengaku berupaya semaksimal mungkin menanamkan moral Islami kepada anak usia dini dengan berkomunikasi dengan bahasa yang baik dan ekspresi yang menyenangkan. Selama proses pembelajaran, guru berperan sebagai pelopor tindakan dan perilaku terpuji. Sisipan inti pembelajaran nilai-nilai moral yang diamati adalah tentang kebersihan lingkungan. Sebagai pelopor perilaku terpuji, guru selalu proaktif mengajarkan nilai kebersihan dengan memberi contoh membuang sampah pada tempatnya, membersihkan meja kelas, dan memperhatikan kelengkapan kelas. Guru juga memberi apresiasi dan penghargaan kepada setiap anak yang meneladani perbuatan terpuji yang ditunjukkan.
Setiap guru memberi keteladanan dengan menjadi pelopor dalam amal ibadah. Pada jadwal shalat dhuha, misalnya, guru terlebih dahulu melaksanakan shalat dhuha dan membimbing para siswa melaksanakan shalat dhuha. Guru (GA2-PIR-K1) juga memberi keteladanan dalam berbagai sikap terpuji yang diajarkan di TK dalam hal ketepatan waktu, saling memaafkan, dan empati terhadap kepentingan sesama. Guru juga member inspirasi dengan membagikan kisah-kisah inspiratif dan pesan-pesan relijius dari al-Qur’an dan al-Sunnah maupun dari petuah-petuah bijak para ulama
panutan untuk menguatkan nilai-nilai moral yang ditanamkan kepada anak usia dini di TK Khodijah.
c. Peran Keteladanan Orang Tua dalam Keluarga
Wawancara terstruktur terhadap orang tua dilakukan melaui aplikasi Zoom. Sesi wawancara tersebut melibatkan 10 orang tua siswa. Pada sesi wawancara peneliti meminta orang tua menceritakan pengalamannya dalam memberi keteladanan dalam menampilkan perilaku bermoral di dalam keluarga. Setelah orang tua menceritakan pengalamannya, peneliti meminta orang tua menyampaikan pesan dan kesan kepada TK Khodijah tentang keterlibatannya dalam penanaman moral anaknya secara konstruktif.
Berdasarkan hasil wawancara (O2-PIR-K2), peneliti menemukan bahwa orang tua telah turut berpartisipasi aktif dalam menunjukkan peran keteladanan selama berada di lingkungan rumah dan keluarga. Orang tua mengaku dalam pengamalan nilai-nilai moral keagamaan, mereka berupaya menegakkan akhlak Islami di rumah mulai dari menjadi Imam Shalat bagi para ayah, menjadi pelopor dalam kegiatan menjaga kebersihan lingkungan rumah, menjadi pelopor dalam berkata baik, bersabar dan ramah.
Hasil dari upaya orang tua memberi keteladanan di rumah dikomunikasikan dan dikonsultasikan secara bertahap dan berkelanjutan kepada Guru TK Khodijah melalui Kelompok Pertemuan maupun melalui media WhatsApp Group.
3. Pendekatan Integratif Guru dan Orang Tua pada aspek