KAJIAN PUSTAKA
A. Kerangka Teori 1. Motivasi Belajar
3. Pendekatan Kontekstual (CTL). a) Pengertian Pendekatan Kontekstual
Pendekatan kontekstual (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru dalam mengkaitkan antara pokok bahasan yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif (Nurhadi, 2002: 5).
Pendekatan kontekstual adalah konsep belajar membantu guru menkaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata serta mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari ( Trianto, 2007: 103).
Berdasarkan beberapa teori diatas, pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Pendekatan kontekstual memiliki tujuh komponen utama, yaitu konstruktivisme (Constructivism), menemukan (Inquiry), bertanya (Questioning) masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi (Reflection) dan penilaian yang sebenarnya
(Authentic Assessment). Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan CTL jika menerapkan ketujuh komponen tersebut dalam pembelajarannya. Dan, untuk melaksanakan hal itu tidak sulit. CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya.
Ciri pembelajaran dengan pendekatan kontekstual adalah: (1) siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran, (2) siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi, (3) pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata dan atau masalah yang disimulasikan, (4) perilaku dibangun atas kesadaran diri, (5) keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman, (6) siswa menggunakan kemampuan berpikir kritis, terlibat penuh dalam mengupayakan terjadinya proses pembelajaran yang efektif, (7) pengetahuan yang dimiliki manusia dikembangkan oleh manusia itu sendiri, (8) siswa diminta bertanggung jawab memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing, (9) penghargaan terhadap pengalaman siswa sangat diutamakan, (10) hasil belajar diukur dengan berbagai cara: proses belajar, hasil karya, penampilan, rekaman, tes, (11) pembelajaran terjadi diberbagai tempat, konteks, dan setting (Depdiknas, 2002).
b) Komponen-komponen Pendekatan Kontekstual
Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL). CTL adalah konsep belajar yang membantu guru dalam
mengaitkan antara pokok bahasan yang diajarkan dengan situasi nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Komponen-komponen pendekatan kontekstual adalah sebagai berikut : (1) Konstruktivisme ( Construktivism)
Salah satu landasan teoritik pendidikan modern termasuk CTL adalah teori pembelajaran konstruktivis. Pendekatan ini pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif proses belajar mengajar, Ide-ide kontruktivis modern banyak berlandaskan pada teori Vygotsky yang telah digunakan untuk menunjang metode pengajaran yang menekankan pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasisa kegiatan dan pemenemuan. Salah satu prinsip yang diturunkan dari teorinya adalah penekanan pada hakekat sosial dari pembelajaran. Siswa belajar melalui interaksi dengan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu. Pengetahuan yang hanya diberikan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Atas dasar asumsi inilah, maka penerapan asas konstruktivisme dalam pembelajaran melalui CTL, siswa didorong untuk mampu mengkonstruksi pengetahuan sendiri melalui pengalaman nyata.
(2) Menemukan (Inquiry)
Inkuiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh
siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merunjuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkan. Siklus inkuiri terdiri dari Observasi, Bertanya, Mengajukan dugaaan, Pengumpulan data dan Penyimpulan
Secara umum proses inkuiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu: Merumuskan masalah, Mengajukan hipotesis, Mengumpulkan data, Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan, Membuat kesimpulan.Penerapan asas ini dalam proses pembelajaran CTL, dimulai dari adanya kesadaran siswa akan masalah yang jelas yang ingin dipecahkan. Dengan demikian siswa harus didorong untuk menemukan masalah.Apabila masalah telah dipahami dengan batasan-batasan yang jelas, selanjutnya siswa dapat mengajukan hipotesis atau jawaban sementara sesuai dengan rumusan masalah yang diajukan. Hipotesis itulah yang akan menuntun siswa untuk melakukan observasi dalam rangka mengumpulkan data. Manakala data telah terkumpul selanjutnya siswa dituntun untuk menguji hipotesis sebagai dasar dalam merumuskan kesimpulan. Asas menemukan seperti yang digambarkan diatas, merupakan asas yang penting dalam pembelajaran CTL.
(3) Bertanya (questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya, bertanya merupakan strategi utama berbasis kontekstual.
Dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berfikir siswa. Bagi siswa kegiatan bertanya merupakan bagian terpenting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inkuiri yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui (Trianto, 2007: 110).
Dalam proses pembelajaran melalui pendekatan kontekstual guru tidak menyampaikan informasi begitu saja, akan tetapi memancing agar siswa dapat menemukan sendiri. Dalam suatu pembelajaran yang produktif kegiatan bertanya akan sangat berguna untuk : (a) Menggali informasi tentang kemampuan siswa dalam penguasaan materi pelajaran, (b) Membangkitkan motivasi siswa untuk belajar, (c) Merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuatu, (d) Memfokuskan siswa pada sesuatu yang diinginkan, (e)Membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sesuatu.
(4) Masyarakat Belajar (Learning Community)
Pengetahuan dan pemahaman anak ditopang banyak oleh komunikasi dengan orang lain. Suatu permasalahan tidak mungkin dapat dipecahkan sendiri tetapi membutuhkan bantuan orang lain. Kerja sama saling memberi dan menerima sangat dibutuhkan untuk memecahkan suatu persoalan. Konsep masyarakat belajar (Learning
Community) dalam pembelajaran CTL diperoleh melalui kerja sama dengan orang lain.
Dalam pembelajaran kontekstual harus dapat diciptakan masyarakat belajar dalam hal ini siswa membentuk kelompok untuk melakukan kerja sama. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya bersifat heterogen baik dilihat dari kemampuan kecepatan belajarnya maupun dilihat dari bakat minatnya. Dalam hal tertentu guru dapat mengundang orang-orang yang diangap memiliki keahlian khusus untuk membelajarkan siswanya. Misalnya dokter untuk memberikan atau membahas masalah kesehatan. Demikian masyarakat belajar, setiap orang bisa saling terlibat bisa saling membelajarkan, bertukar informasi dan bertukar pengalaman.
(5) Pemodelan (Modeling)
Yang dimaksud dengan modeling adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Misalnya guru memberikan contoh bagaimana cara mengoperasikan sebuah alat untuk percobaan di labolatorium. Proses modeling tidak terbatas dari guru saja akan tetapi dapat juga guru memanfaatkan siswa untuk memperagakan. Misalkan siswa yang pernah menjadi juara dalam membaca puisi dapat disuruh untuk menampilkan kebolehannya di depan kelas, dengan demikian siswa dapat dianggap sebagai model. Modeling merupakan komponen pembelajaran kontekstual teaching leraning, sebab melalui modeling
siswa dapat terhindar dari pembelajaran teoritis-abstrak yang dapat memungkinkan terjadinya verbalisme.
(6) Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Melalui proses refleksi pengalaman belajar akan masuk dalam struktur kognitif siswa akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya. Bila terjadi proses refleksi akan memperbarui pengetahuan yang dibentuk atau menambah pengetahuannya. Dalam proses pembelajaran dengan menggunakan CTL setiap berakhir proses pembelajaran guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk “merenung” atau mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya. (7) Penilaian Nyata (Authentik Assesment)
Pembelajaran kontekstual harus dinilai berdasarkan kenyataan yang ada (proses dan hasil) melalui berbagai macam alat dan jenisnya. Menurut Trianto (2007: 115) dalam pembelajaran kontekstual hal-hal yang digunakan sebagai dasar penilaian prestasi siswa adalah : kegiatan lapangan, pekerjaan rumah, kuis, karya siswa, prestasi atau penampilan siswa, demonstrasi, laporan jurnal, hasil tes tertulis dan karya tulis.
Secara garis besar langkah-langkah CTL didalam kelas sebagai berikut :
a) Mengembangkan penilaian siswa bahwa belajar lebih bermakana dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, mengkonstruksikan sendiri pengetahuan dan ketrampilan
b) Melaksanakan sejauh mungkin kegoatan inkuiri untuk semua topik. c) Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
d) Menciptakan masyarakat belajar (belajar kelompok) e) Mengadirkan model sebagai contoh dalam pembelajaran f) Melakukan refleksi di akhir pertemuan
g) Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara yaitu : kegiatan lapangan, pekerjaan rumah, kuis, karya siswa, prestasi atau penampilan siswa, demonstrasi, laporan jurnal, hasil tes tertulis dan karya tulis.