• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Kajian Teori

3. Pendekatan Mengajar dan Belajar dengan Metode Demonstrasi a.Metode Demonstrasi

Keberhasilan belajar ditentukan oleh bagaimana guru menggunakan metode yang bervariasi. Dalam penelitian ini, peneliti memilih dan menggunakan metode demonstrasi. Metode demonstrasi yang dilaksanakn oleh peneliti memberikan kesempatan bagi para siswa belajar secara aktif dengan meragakan alat – alat peraga untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi sehari – hari yang berkaitan dengan pelajaran matematika. Metode demonstrasi memberikan peluang secara luas bagi siswa mempraktekan alat kerja sesuai dengan aturan tertentu. Metode demonstrasi mengantarkan anak untuk mendapatkan pengalaman, pengetahuan, dan ketrampilan baru. Metode demonstrasi dapat mengondisikan siswa menyenangi materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru, sehingga para siswa secara bertahap akan meningkat pristasi belajarnya.

Kata “ Demonstrasi “ berarti unjuk rasa, unjuk pikiran, dan unjuk ketrampilan dalam bentuk fisik. Kita sering melihat peragaan – peragaan yang dilakukan oleh perseorangan, misalnya kalau kita melakukan perjalanan menggunakan alat transportasi laut maupun udara, sebelum berangkat ada seorang demonstrasi muncul untuk meragakan bagaimana menggunakan pelampung dan menggunakan masker tabung gas. Dalam acara – acara televisi sering kita juga dipertontonkan acara seperti demo masak, beladiri, dan dalam kehidupan sehari – hari masih banyak lagi menyaksikan hal serupa.

“ Singkat kata “ demonstrasi “sama dengan meragakan. Metode demonstrasi adalah salah satu motode mengajar yang memberikan kesempatan kepada para siswanya untuk mengembangkan ketrampilan menggunakan alat kerja berdasarkan prinsip tertentu (Wens Tanlain, 2006:49)”.

b. Dasar Pemilihan Metode Demonstrasi

1) Tujuan mengajar adalah menjadikan siswa terampil mengoperasikan suatu alat kerja berdasarkan prinsip tertentu.

2) Bahan ajar mencakup informasi, konsep, prinsip, dan ketrampilan menerapkan prinsip pada alat kerja tertentu.

3) Melalui proses latihan pengamatan siswa memahami bagaimana suatu terjadi atau berlangsung dan apa yang harus dilakukan.

4) Melalui latihan siswa menjadi terampil mengunakan alat kerja.

5) Jumlah siswa antara 3 – 10 orang. Bila kelas besar, maka harus dibagi menjadi kelompok – kelompok kecil.

6) Guru mewujudkan : “makna” belajar mengajar dan meningkatkan peran aktif siswa dalam seluruh tahap pembelajaran.

c. Persiapan Mengajar

1) Tentukan bahan ajar : prinsip kerja dan alat kerja yang ada kaitannya dengan kehidupan sehari – hari.

2) Tentukan alat – alat kerja, bahan – bahan yang dibutuhkan, dan kelompok siswa.

3) Tugas siswa untuk mempelajari bahan ajar terutama mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan besama oleh tiap kelompok siswa.

4) Guru menyiapkan tempat dan prosedur kerja. 4. Kemampuan Belajar Matematika

Kemampuan belajar adalah perubahan tingkah laku yang dapat diamati maupun yang tidak dapat diamati secara langsung terjadi dalam diri seseorang yang diakibatkan dari pengalaman belajar. Kemampuan belajar secara langsung dapat kita ketahui dari perubahan yang dialami setelah seseorang mengalami proses belajar. Perubahan kemampuan dapat dilihat dari tidak bisa menjadi terampil, dan dari tidak tahu menjadi tahu. Pengukuran kemampuan dapat diketahui dengan kegiatan guru yang disebut evaluasi. Para guru untuk mengetahui perkembangan dan tingkat pengetahuan siswa yang telah mengalami proses belajar dengan soal – soal latihan ataupun ulangan harian. Dari kegiatan evaluasi ini guru mendapatkan data kemajuan siswa yang berupa lambang, angka (skor). Peningkatan kemampuan juga dapat diketahui dari perubahan – perubahan tingkah laku anak didik.

Dalam mengetahui perubahan kemampuan yang terjadi akibat dari proses belajar menurut Oemar Hamalik ( 2008 : 145 – 148 ) terdapat tiga istilah yaitu :

a. Pengukuran ( measurement )

Pengukuran yang dilakukan adalah mengumpulan data deskriptif tentang produk siswa, tingkah laku yang sesuai dengan standar

kemampuan ataupun norma. Aplikasi teknik – teknik pengukuran dipusatkan pada dua jenis, yaitu : pengukuran norma dan pengukuran kreteria.

b. Assessment

Assessment adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk mengukur kemampuan belajar sebagai hasil dari suatu program instruksional. Rumus dirancang untuk mengukur kemampuan belajar sebagai hasil dari suatu program instruksional. yang diperoleh dari tes, maupun pengamatan perbuatan.

c. Evaluasi

Evaluasi menurut Kourilski adalah : tindakan untuk menetapkan derajat penguasaan atribut tertentu oleh individu atau kelompok. Evaluasi pada umumnya dipusatkan kepada anak didik (siswa). Evaluasi bertujuan untuk memperbaiki pengajaran dan penguasaan materi tertentu di dalam kelas. Evaluasi adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk mengukur keefektivan sistem mengajar/ belajar sebagai proses menyeluruh.

Syaifuddin Azwar ( 1996 : 9 ) menyatakan bahwa tes kemampuan belajar merupakan salah satu alat ukur di bidang pendidikan yang sangat penting artinya. Tes kemampuan belajar salah satu yang digunakan sebagai sumber impormasi yang dapat untuk mempertimbangkan dalam mengambil keputusan dalam kegiatan formal di kelas. Tes kemampuan belajar dapat berbentuk ulangan – ulangan harian, ulangan blok, ulangan umum, dan juga ujian masuk perguruan tinggi.

Fungsi tes untuk mengetahui kemampuan belajar siswa, ketercapaian kemampuan dapat diketahui sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang dikuasai oleh anak didik, seperti berberikut : 1) Sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu.

2) Sebagai bahan informasi dan inovasi pendidikan.

3) Sebagai bahan indikator intern untuk intitusi dan ekstern anak didik di masyarakat.

4) Sebagai indikator terhadap daya serap anak didik.

Syafuddin Azawar ( 1996 : 63 ) menyatakan bahwa tes kemampuan yang paling penting dan berguna adalah aspek kognitif. Kemampuan belajar yang dimaksud di atas adalah hasil konkrit tes kemampuan belajar siswa yang dicapai setelah proses belajar dari segi kognitif, yaitu : ingatan, pemahaman, dan penerapan pelajaran matematika secara tertulis. Kemampuan belajar siswa yang diperoleh dipengaruhi oleh dua faktor yaitu :

1) Faktor intern ( faktor yang berasal dari dalam individu )

Faktor intern itu antara lain bakat, minat, cara belajar, dan kemampuan awal.

2) Faktor Ekstern ( faktor yang berasal dari luar individu )

Foktor – faktor yang termasuk dalam faktor ekstern itu, seperti : guru, metode pembelajaran, sarana – prasarana, media, dan lingkungan. Faktor – Foktor tersebut dapat mendukung pencapaian kemampuan belajar siswa atau sebaliknya dapat sebagai penghambat pencapaian kemampuan belajar siswa. Misal seorang guru tidak dapat memilih metode

pembelajaran yang tepat dalam menyampaikan materi pelajaran menyebabkan siswa mudah menjadi bosan (tidak tertarik ) akibatnya kemampuan belajar siswa menurun.

Kemampuan belajar matematika siswa dapat diukur. Salah satunya dengan tes. Tes adalah kumpulan pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa. Pertanyaan tes atau tugas – tugas dari guru, dipilih oleh guru. Siswa dalam hal ini diuji dan di tes sebagai sarana untuk mengukur aspek akademik dan perubahan perilaku. Kemampuan belajar siswa diukur dan hasilnya digunakan untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai materi pembelajaran.

Syarat – syarat dalam menyusun tes kemampuan belajar matematika yang baik meliputi :

1) Valid artinya saol tes mengukur apa yang seharusnya diukur. Misalnya tes matematika harus benar – benar mengukur tentang kepandaian anak dalam mata pelajaran matematika.

2) Reliabelitas ( ajeg/tetap ) artinya tes yang diadakan memiliki keajegan hasil.

3) Berkualitas

Kualitas dapat ditinjau dari materi, kunstruksi, dan bahasa. 4) Obyektif

Hasil penelitian tidak tergantung pada subyek peneliti. 5) Disminatif

6) Komprehensif

Mencakup segala persoalan yang harus diteliti.

Tes kemampuan belajar matematika disusun mencakup aspek pengetahuan ( kognitif ), sikap (afektif ), dan ketrampilan ( psikomotorik ). Pengetahuan, pemahaman, dan ketrampilan matematika siswa diperlukan untuk menjawab soal – soal matematika. Dalam hal ini kemampuan belajar siswa dibatasi pada aspek pengetahuan, pemahaman, dan penerapan, karena tingkat kemampuan siswa masih berkisar pada aspek pengetahuan (kognitif). 5. Matematika

Matematika digolongkan ke dalam ilmu pasti. Matematika berkaitan dengan kosep suatu hal, dan proses yang melibatkan ketrampilan menghitung, mengalikan, membagi, dan lain – lain. Matematika mempelajari pola – pola dan hubungan sebab terutama untuk mencari keseragaman ( pengelompokan ) seperti keurutan ( deret hitung ) dan keterkaitannya. Matematika merupakan konsep – konsep tertentu atau model – model tertentu yang merupakan repersentasinya. Dari hubungan konsep – konsep ataupun model – model digeneralisasikan dengan mencari pembuktian kebenaran secara dikduktif (Ruseffedi, 1993 :46).

a. Pecahan

Dokumen terkait