BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Pendekatan Psikologi Sastra
Psikologi sebagai suatu ilmu, yaitu psikologi merupakan ilmu pengetahuan tentang kejiwaan. Menurut Sartain, psikologi merupakan ilmu jiwa
commit to user
yang ilmiah, yang sensitif. Karena itu dalam mempelajari psikologi harus dari sudut ilmu, psikologi sebagai suatu science (Bimo Walgito, 1992 : 2).
Psikologi sastra adalah kajian sastra yang memandang karya sebagai aktivitas kejiwaan. Pengarang akan menggunakan cipta, rasa, dan karya dalam berkarya. Begitu pula pembaca, dalam menanggapi karya juga tak akan lepas dari kejiwaan masing-masing (Suwardi Endraswara, 2008 : 96). Bahkan, sebagaimana sosiologi refleksi, psikologi sastrapun mengenal karya sastra sebagai pantulan kejiwaan. Pengarang akan menangkap gejala jiwa kemudian diolah ke dalam teks dan dilengkapi dengan kejiwaannya. Proyeksi pengalaman sendiri dan pengalaman hidup di sekitar pengarang, akan terproyeksi secara imajiner ke dalam teks sastra.
Karya sastra yang dipandang sebagai fenomena psikologis, akan menampilkan aspek-aspek kejiwaan melalui tokoh-tokoh juga kebetulan teks berupa drama maupun prosa. Sedangkan jika berupa puisi, tentu akan tampil melalui larik-larik dan pilihan kata yang khas.
Dalam pandangan Wellek dan Warren (1990) psikologi dalam karya sastra bukanlah sesuatu yang sama sekali baru, karena tokoh-tokoh dalam karya sastar harus dihidupkan, diberi jiwa. Pengarang baik sadar maupun tidak sadar memasukkan jiwa manusia ke dalam karyanya. Hal ini akan terlihat dalam diri tokoh cerita dan lingkungan cerita di mana cerita tersebut terjadi.
Perspektif topografis yang dikemukakan Freud, struktur dalam kehidupan psikis: yang tersadar, yang prasadar, dan yang sadar. Yang taksadar adalah keseluruhan isi yang taksadar dalam wilayah kesadaran yang aktual. Istilah ini mengacu pula pada suatu system yang dianggap sebagai tempat pulsi-pulsi yang
commit to user
ada sejak lahir dan hasrat dan kenangan yang ditekan, yang berupaya untuk kembali ke dalam alam sadar dan ke dalam tindakan.
Perpindahan dari yang tak sadar ke yang sadar diatur oleh sensor yang berusaha untuk menghalangi isi alam tak sadar yang ingin masuk ke dalam kesadaran. Di pihak lain, sebenarnya yang pra sadar membentuk suatu sisitem dengan yang sadar; keduanya merupakan Ego. Dengan demikian, walaupun ada juga sensor, masih ada kemungkinan perpindahan dari yang prasadar ke yang sadar.
Menurut Freud, peran yang sangat penting dipegang oleh yang taksadar karena semua proses psikis bersumber pada yang taksadar. Bila proses mencapai ambang yang prasadar dapat terjadi represi, dapat pula muncul dalam bentuknya yang kurang lebih tersamar, yaitu gagasan, kata-kata, perasaan, dan tindakan.
Dalam kajian psikologi sastra akan berusaha diungkap psikoanalisa kepribadian yang dipandang meliputi tiga unsur kejiwaan yaitu id, ego dan super ego. Model kajian ini dikemukakan oleh Sigmund Freud yaitu.
1. Id atau das es, merupakam aspek biologis. Id berisikan hal-hal yang dibawa sejak lahir yaitu instink atau naluri. Id merupakan ‘reservoir’ energi psikis yang menggerakkan ego dan super ego. Dalam fungsinya, id ialah menghindarkan dari ketidakenakan dan mengejar keenakan dalam artian mencapai kepuasan bagi keinginan naluri sesuai prinsip kenikmatan atau dalam prosesnya id akan berusaha memuaskan keinginan atau menyerahkan kepada ego.
2. Ego atau das ich, merupakan aspek daripada kepribadian dan timbul karena kebutuhan organisms untuk berhubungan dengan dunia kenyataan. Dalam fungsinya yang berhubungan dengan dunia kenyataan ‘prinsip realitas’ maka ego bereaksi dengan proses sekunder. Tujuan prinsip realitas adalah mencari obyek yang tepat, proses sekunder itu adalah proses berpikir realistis, dengan menggunakan proses sekunder, ego tersebut merumuskan suatu rencana untuk pemuasan kebutuhan dan mengujinya dengan suatu tindakan.
3. Super ego atau das ueber ich, merupakan aspek psikologis kepribadian, merupakan wakil dari nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat. Super ego dapat dianggap pula sebagai aspek moral kepribadian yang
commit to user
berfungsi menentukan apakah sesuatu benar atau salah, benar atau tidak, susila atau tidak dan dengan demikian pribadi dapat bertindak sesuai dengan moral masyarakat karena super ego dibentuk melalui jalan internalisasi dalam perkembangan jiwa yang berupa hukuman dan hadiah oleh pendidiknya. Adapun fungsi super ego dapat dilihat dalam hubungannya yang pertama dengan id adalah merintangi terutama instink seksual yang agresif yang dalam kanyataannya sangat ditentang oleh masyarakat. Yang kedua adalah dengan ego, mendorong ego untuk mengejar hal-hal yang lebih moralistis daripada realistis, dan yang ketiga adalah mengejar kesempurnaan. Jadi super ego cenderung untuk menentang baik id maupun ego dan membuat dunia menurut konsepsi yang ideal (Sumadi Suryabrata, 2003 : 124-128).
Menurut Sangidu, psikologi sastra adalah suatu disiplin ilmu yang memandang karya sastra sebagai suatu karya yang memuat peristiwa-peristiwa kehidupan manusia yang diperankan oleh tokoh-tokoh yang di dalamnya atau mungkin juga diperankan oleh tokoh faktual (2004: 30).
Psikologi yang berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan logos, yaitu ilmu mengarahkan perhatiannya pada manusia sebagai obyek studi, terutama pada sisi perilaku (behavior atau action) dan jiwa (psyche). Berdasar pengertian singkat tersebut kita bisa memahami formulasi-formulasi yang secara singkat dikategorikan menjadi (1) ilmu atau kajian ilmiah tentang perilaku manusia dan (2) ilmu atau kajian ilmu tentang jiwa manusia. Sebagai disiplin ilmu yang memfokuskan studi pada perilaku manusia, psikologi dikategorikan sebagai behavioral science atau ilmu perilaku.
Dapat disimpulkan bahwa pendekatan psikologi sastra adalah disiplin ilmu yang mempelajari aspek-aspek kejiwaan suatu karya sastra. Diharapkan dengan pendekatan psikologi ini dapat mengetahui proses kejiwaan yang dialami tokoh-tokoh dalam drama radio Nglinggihi Klasa Gumelar karya Retno Hartiningsih.
commit to user