• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Pustaka…

3. Pendekatan Saintifik

sebagai suatu keterampilan proses. Langkah-langkah pada pendekatan saintifik meliputi mengamati, menanya, mencoba, menalar dan mengkomunikasikan.

9 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Bab II pada penelitian ini akan membahas tentang landasan teori, hasil penelitian yang relevan, kerangka berpikir dan hipotesis tindakan.

A. Kajian Teori

1. Keterampilan Eksperimen

a. Pengertian Keterampilan Eksperimen

Roestiyah (dalam Hosnan 2014: 34) mengemukakan bahawa keterampilan eksperimen adalah suatu kegiatan di mana siswa melakukan suatu percobaan tentang sesuatu hal, mengamati prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya, kemudian hasil pengamatan itu disampaikan ke kelas dan dievaluasi oleh guru.

Eksperimen adalah proses pembelajaran dimana siswa aktif mengalami dan membuktikan sendiri apa yang sedang dipelajarinya. Dengan demikian siswa secara optimal dilibatkan dalam melakukan, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri dalam percobaan. Eksperimen tidak lain adalah usaha menguji atau mengetes melalui penelitian sederhana (Conny, 1985: 26).

Kegiatan eksperimen disebut juga sebagi suatu kegiatan yang terperinci yang direncanakan untuk menjawab suatu masalah atau menentukan hipotesis (Hosnan, 2014: 34).

Dapat disimpulkan bahwa dalam proses mengajar dengan menggunakan keterampilan eksperimen ini siswa diberi kesempatan untuk mengalami

10

sendiri, melakukan sendiri, mengikuti dan mengamati suatu proses, mengamati suatu objek, menganalisis, membuktikan serta menarik kesimpulan. Dengan demikian siswa dituntut untuk mencari kebenaran dan menarik kesimpulan pada suatu proses yang diamatinya.

b. Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pelaksanaan Eksperimen

Hosnan (2014: 98) mengemukakan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan eksperimen adalah sebagai berikut :

1. Siswa harus mengadakan percobaan, maka jumlah alat dan bahan atau materi percobaan harus cukup bagi tiap siswa.

2. Siswa perlu teliti dan konsentrasi dalam mengamati proses percobaan, maka perlu adanya waktu yang cukup lama, sehingga mereka menemukan pembuktian kebenaran dari teori yang dipelajari itu.

3. Siswa perlu diberi petunjuk yang jelas, sebab mereka di samping memperoleh pengetahuan, pengalaman serta keterampilan

c. Tahap Eksperimen

Pembelajaran dengan metode eksperimen menurut (Putra, 2014: 136) meliputi tahap-tahap sebagai berikut :

1) Persiapan eksperimen.

Dalam kegiatan eksperimen sangat diperlukan persiapan yang matang, agar memperoleh hasil yang diharapkan. Adapun beberapa tahap yang harus diperhatiakan saat melakukan eksperimen diantaranya adalah; (1) menentukan tujuan eksperimen yang akan dilakukan; (2) mempersiapkan alat dan bahan

11

yang akan digunakan dalam kegiatan eksperimen; (3) memberikan penjelasan kepada siswa tentang hal yang harus diperhatikan dan dilakukan, serta hal-hal yang dilarang untuk dilakukan/ berbahaya.

2) Pelaksanaan Eksperimen.

Siswa mulai bereksperimen/ mencoba, pada saat siswa melakukan percobaan hendaknya guru mengamati proses percobaan agar kegiatan eksperimen dapat berhasil. Pada tahap pelaksanaan eksperimen ini, hal yang harus dilakukan siswa adalah; (1) membaca petunjuk eksperimen; (2) menyusun hipotesis eksperimen; (3) mulai melakukan eksperimen/ percobaan, guru hendaknya mengamati proses eksperiemen dan membimbing; (4) mencatat hasil yang diperoleh saat melakukan eksperimen; (5) siswa menyusun laporan hasil eksperimen.

3) Tindak lanjut

Tindak lanjut merupakan kegiatan akhir, semua siswa mengumpulkan hasil laporan kepada guru, merapikan dan menyimpan alat dan bahan eksperimen, serta mendiskusikan hambatan-hambatan serta masalah yang dihadapi siswa selama melaksanakan eksperimen.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti menyimpulkan indikator keterampilan eksperimen, diantaranya; (1) merancang hipotesis; (2) merangkai alat dengan benar; (3) melakukan percobaan secara runtut; (4) mencatat data hasil percobaan; (5) membuat kesimpulan.

12 2. Pengertian Keaktifan

b. Pengertian Keaktifan

Sardiman (2001: 96) menyatakan bahwa keaktifan adalah kegiatan yang bersifat fisik maupun mental, yaitu berbuat dan berfikir sebagai suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Belajar yang berhasil harus melalui berbagai macam aktivitas, baik aktivitas fisik maupun psikis. Aktivitas fisik adalah siswa giat aktif dengan anggota badan. Siswa yang memiliki aktifitas psikis (kejiwaan) adalah jika daya jiwanya bekerja sebanyak–banyaknya atau banyak berfungsi dalam rangka menerima pembelajaran.

Keaktifan siswa dalam kegiatan belajar tidak lain adalah untuk mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri. Mereka aktif membangun pemahaman atas persoalan atau segala sesuatu yang mereka hadapi dalam proses pembelajaran. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia aktif berarti giat (bekerja, berusaha). Keaktifan diartikan sebagai hal atau keadaan di mana siswa dapat aktif. Rousseau dalam (Sardiman, 2001: 95) menyatakan bahwa setiap orang yang belajar harus aktif sendiri, tanpa ada aktivitas proses pembelajaran tidak akan terjadi.

Keaktifan siswa dalam belajar tidak cukup hanya mendengarkan dan mencatat. Keaktifan siswa dalam belajar dapat dilihat dari berbagai kegiatan atau aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Beberapa keaktifan siswa yang tampak dalam kegiatan belajar menurut Burhanudin (2007: 12) adalah: (1) berbuat sesuatu untuk memahami meteri pelajaran

13

dengan penuh keyakinan; (2) mempelajari, mengalami dan menemukan sendiri bagaiman memperoleh suatu pengetahuan; (3) merasakan sendiri bagaimana tugas-tugas yang diberikan oleh guru; (4) belajar dengan kompak (5) memcoba sendiri konsep-konsep tertentu; (6) mengkomunikasikan hasil pemikiaran, penemuan dan penghayatan nilai-nilai secara lisan. Pengetahuan harus diperoleh dengan pengamatan sendiri, pengalaman sendiri, penyelidikan sendiri, dengan bekerja sendiri.

Dapat disimpulkan bahwa keaktifan siswa dalam belajar merupakan segala kegiatan yang bersifat fisik maupun non fisik siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar sehingga dapat menciptakan suasana kelas menjadi kondusif.

c. Klasifikasi Keaktifan

Banyak jenis aktivitas yang dapat dilakukan oleh siswa di sekolah. Jenis-jenis aktivitas siswa dalam belajar adalah sebagai berikut (Sardiman , (2001: 99):

1) Visual activities, misalnya membaca, memperhatikan gambar

demonstrasi, percobaan.

2) Oral activities, seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi

saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi.

3) Listening activities, sebagai contoh mendengarkan: percakapan,

14

4) Writing activities, seperti menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin.

5) Drawing activities, misalnya menggambar, membuat grafik, peta,

diagram.

6) Motor activities, melakukan percobaan, membuat konstruksi,

bermain.

7) Mental activities, misalnya: menanggapi, mengingat, memecahkan

soal, menganalisis, mengambil keputusan.

8) Emotional activities, seperti: menaruh minat, merasa bosan, gembira,

bersemangat, bergairah, tenang.

Sudjana (2004: 61) menyatakan keaktifan siswa dapat dilihat dalam hal: (1) mengikuti dan melaksanakan tugas belajar; (2) terlibat dalam pemecahan masalah; (3) bertanya kepada siswa lain atau guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya; (4) berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah; (5) melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru; (6) menilai kemampuan dirinya dan hasil– hasil yang diperolehnya; (7) kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang diperoleh dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya.

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli tentang keaktifan, maka peneliti dapat menyimpulkan indikator keaktifan, yaitu; (1) mengikuti dan melaksanakan tugas belajar; (2) menjawab dan bertanya kepada guru dan

15

teman dalam memahami persoalan; (3) mengikuti dan melaksanakan jalannya diskusi; (4) mencari sumber informasi; (5) mengkomunikasikan hasil pengamatan.

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keaktifan

Keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran dapat merangsang dan mengembangkan bakat yang dimilikinya, peserta didik juga dapat berlatih untuk berfikir kritis, dan dapat memecahkan permasalahan-permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.

Putra (2014: 263), menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi keaktifan belajar siswa adalah (1) memberikan motivasi atau menarik perhatian peserta didik, sehingga mereka berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran; (2) menjelaskan tujuan instruksional (kemampuan dasar kepada peserta didik); (3) mengingatkan kompetensi belajar kepada peserta didik; (4) memberikan stimulus (masalah, topik, dan konsep yang akan dipelajari); (5) memberikan petunjuk kepada peserta didik cara mempelajari; (6) memunculkan aktifitas, partisipasi peserta didik dalam kegiatan pembelajaran, (7) memberikan umpan balik (feedback); (8) melakukan tagihan-tagihan kepada peserta didik berupa tes sehingga kemampuan peserta didik selalu terpantau dan terukur; (9) menyimpulkan setiap materi yang disampaikan diakhir pembelajaran.

Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat disimpulkan keaktifan adalah segala kegiatan fisik maupun non fisik siswa dalam proses geiatan

16

belajar mengajar yang optimal sehingga dapat menciptakan suasana kelas menjadi kondusif. Keaktifan siswa dipengaruhi oleh berbagai macam faktor seperti menarik atau memberikan motivasi kepada siswa dan keaktifan juga dapat ditingkatkan, salah satu cara meningkatkan keaktifan yaitu dengan mengenali keadaan siswa yang kurang terlibat dalam proses pembelajaran.

3.Pendekatan Saintifik

a. Pengertian Pendekatan Saintifik

Pendekatan santifik sering disebut juga pendekatan ilmiah, pendekatan saintifik di terapkan dalam kurikulum 2013. (Daryanto, 2014: 51) menyatakan bahwa pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengkonstruksi konsep, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan, dan mengkomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang ditemukan.

b. Tujuan Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik

Daryanto (2014: 54), menyatakan tujuan pembelajaran melalui pendekatan saintifik adalah sebagai:

1) Untuk meningkatkan kemampuan intelektual.

2) Untuk membentuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah.

17

3) Untuk melatih siswa dalam mengkomunikasikan ide-ide, khususnya dalam menulis artikel ilmiah.

4) Untuk mengembangkan karakter siswa. c. Langkah-langkah Pembelajaran Saintifik

Daryanto (2014: 59) menyatakan langkah-langkah pembelajaran saintifik memiliki lima pengalaman pokok dalam proses pembelajaran saintifik, diantaranya :

1. Mengamati

Mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran. Mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik. Sehingga proses pembelajaran dapat bermakna bagi siswa. Siswa dianjurkan untuk mengamati keadaan di sekitar, lalu menuliskan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari benak mereka, untuk menemukan jawabannya para siswa dapat mempelajari konsep sains yang berkaitan dengan hasil pengamatan (Dewi, 2008 : 53).

Kegiatan mengamati dalam pembelajaran dilakukan dengan langkah-langkah seperti berikut yang telah dinyatakan oleh (Daryanto, 2014: 56-58) : (1) menentukan objek apa yang akan diobservasi; (2) membuat pedoman observasi/ diamati; (3) menentukan secara jelas data yang akan diobservasi/ diamati; (4) menentukan tempat yang akan diobservasi; (5) menentukan bagaimana pelaksanaan pengamatan agar

18

berjalan mudah dan lancar; (6) menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi.

2. Menanya

Pertanyaan sering muncul setelah siswa melakukan pengamatan. Melalui kegiatan menanya dapat pula dikembangkan rasa ingin tahu peserta didik, semakin lebih banyak bertanya maka rasa ingin tahu semakin dapat dikembangkan. Pertanyaan adalah dasar untuk mencari informasi yang lebih lanjut dengan sumber yang beragam (Daryanto 2014: 68).

Samatowa (2011: 96) menyatakan bahwa dengan melakukan kegiatan bertanya dapat diukur tingkat pemahaman siswa dalam proses pembelajaran, sejauh mana siswa menggunakan pemahaman dan pemikirannya dalam kegiatan pembelajaran.

3. Menalar

Daryanto (2014: 70) mengemukakan bahwa menalar merupakan kegiatan memproses informasi yang diperoleh dari kegiatan mengamati, mengumpulkan informasi. Penalaran adalah proses berfikir yang logis atas fakta-fakta yang dipahami untuk memperoleh kesimpulan berupa pengetahuan.

19

Eksperimen dimaksudkan untuk mengembangkan tujuan belajar, yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan (Daryanto, 2014: 71):

Agar pelaksanaan percobaan dapat berjalan lancar maka hal yang harus diperhatikan adalah: (1) guru merumuskan tujuan eksperimen yanga akan dilaksanakan; (2) guru bersama murid mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan; (3) perlu memperhitungkan tempat dan waktu; (4) guru menyediakan kertas kerja untuk pengarahan kegiatan murid; (5) guru membicarakan masalah yanga akan yang akan dijadikan eksperimen; (6) membagi kertas kerja kepada murid; (7) murid melaksanakan eksperimen dengan bimbingan guru, dan (8) siswa mengumpulkan hasil pekerjaan eksperimen yang telah dilakukan (Daryanto, 2014: 74).

5. Mengkomunikasikan

Daryanto (2014: 80) menyatakan bahwa mengkomunikasikan adalah menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya. (Samatowa 2011: 96) mengemukakan pendapatnya bahwa melakukan komunikasi yang baik adalah dapat dimengerti dan dipahami oleh pendengar (penerima informasi).

Kompetensi yang harus diperhatikan dalam kegiatan mengkomunikasikan adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berfikir kritis dan kemampuan berbahasa yang baik dan

20

benar agar penyampian informasi baik lisan atau tertulis dapat diterima pendengar dengan baik.

Dokumen terkait