• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sektor 4: Strong driver-weak dependent variables (Independent). Peubah pada sektor ini disebut peubah bebas

III. METODE PENELITIAN

III.2. Pendekatan sistem

III.2. Pendekatan sistem

Dalam perencanaan dan implementasi pengembangan agroindustri yang menjadi bahan pertimbangan awal adalah kemampuan internal yang dimiliki terutama faktor ketersediaan sumber daya yang sesuai dengan tujuan untuk menghasilkan produk tertentu, pengaruh faktor eksternal terutama peluang pasar dari produk yang dihasilkan dan berbagai hambatan yang dapat menyebabkan kegagalan pengembangan, juga proses transformasi yang dibutuhkan..

Komponen-komponen inti dari proses transformasi seperti material bahan baku, tenaga kerja, teknologi, organisasi, komponen pendukung seperti biaya, kebijakan, strategi dan lingkungan akan sangat menentukan kelangsungan usaha agroindustri pada semua tingkatan operasionalnya.

Dilihat dari keseluruhan aktivitas, mulai dari penelusuran dan pengelompokan ide, penetapan kebijakan sampai pelaksanaan kegiatan operasional dilapangan maka aktivitas agroindustri adalah wujud dari suatu sistem. Sistem merupakan kumpulan elemen yang saling berinteraksi dan bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu dalam lingkungan yang komplek.

Ciri dari sistem adalah pada pola hubungan yang menentukan strukturnya.

Menurut Eryatno (2003) sistem merupakan totalitas himpunan hubungan yang mempunyai struktur dalam nilai posisional serta matra dimensional terutama dimensi ruang dan waktu. Oleh karena itu menurut Eryatno setiap pendekatan kesisteman selalu mengutamakan kajian tentang struktur sistem baik yang bersifat penjelasan maupun sebagai dukungan kebijakan.

Pengkajian dengan pendekatan sistem merupakan cara penyelesaian persoalan yang dimulai dengan dilakukannya identifikasi terhadap sejumlah kebutuhan sehingga dapat menghasilkan suatu operasi dari sistem yang dianggap efektif. Flood dan Jackson (1990), menjelaskan ‘sistem’ sebagai suatu jaringan yang sangat terkait dan kompleks dari bagian-bagian yang bersinergi. Suatu sistem berisi sejumlah elemen dan setiap elemen dapat berupa gugus sejumlah sub-elemen dengan tingkat keeratan hubungan yang lebih tinggi. Kualitas peran setiap elemen maupun sub-elemen dapat berbeda dalam pencapaian tujuan suatu sistem. Ketepatan dalam menganalisis peran setiap elemen maupun sub-elemen sangat menentukan keberhasilan dari suatu pengambilan keputusan.

Analisis kebutuhan

Analisis kebutuhan adalah tahap awal dalam penerapan metodologi sistem yang tujuannya mengidentifikasi pelaku (aktor) dari sistem dan menginventarisasi kebutuhan setiap pelaku tersebut. Sistem pengembangan yang dirancang, dalam operasionalnya harus mampu memenuhi kebutuhan setiap pelaku baik pelaku individual, kelompok, atau kelembagaan yang terkait dan terlibat dengan aktifitas agroindustri kajian sehigga perlu dilakukan identifikasi kebutuhan umum dan spesifik dari setiap pelaku.

Analisis kebutuhan selalu menyangkut interaksi antara respon yang timbul dari seorang pengambil keputusan terhadap jalannya sistem. Identifikasi pelaku agroindustri dan kebutuhannya pada penelitian ini ditetapkan melalui pengkajian yang dalam berdasarkan hasil suatu survei, pendapat ahli, diskusi, dan observasi lapang kemudian ditabulasi sebagaimana terlihat pada Tabel 2.

Formulasi permasalahan

Permasalahan yang terjadi pada pengembangan sistem dapat disebabkan karena interaksi antar respon setiap aktor yang terkait dengan kebutuhan yang ingin dipenuhi. Kelompok kebutuhan antar pelaku dapat bersifat (1) sinergi atau saling mendukung, tetapi dapat juga bersifat (2) konflik kepentingan yang akan saling mengganggu. Sebagai tantangan adalah bagaimana menselaraskan konflik kepentingan dengan pencapaian kebutuhan yang komplementer. Permasalahan

pada aspek operasional adalah lemahnya dukungan komponen inti (input, proses, output) agroindustri terhadap kebutuhan operasional dari hulu sampai hilir.

Permasalahan klasik strategis adalah lemahnya strategi manajemen yang digunakan sebagai landasan sistem pengembangan yang mampu mengoptimalkan potensi agroindustri. Potensi-potensi yang dimiliki suatu wilayah merupakan keunggulan komparatif yang dapat dikembangkan sebagai keunggulan kompetitif agroindustri. Kemampuan pengambil keputusan dalam memotret keseluruhan entitas dari suatu sistem dan kecermatan dalam melakukan kajian secara holistik, sibernetik dan effektip akan menentukan keberhasilan pencapaian dari tujuan yang ditetapkan.

Tabel 2 Identifikasi elemen-elemen aktor dan kebutuhannya

Pelaku Kebutuhan

Petani / pemilik kebun Peningkatan pendapatan melalui:

Peningkatan permintaan produksi pertanian (jumlah dan kesinambungan permintaan) Jaminan harga jual yang layak

Pelaku industri hulu Kesinambungan pasokan bahan baku Tersedianya peralatan pengolahan Tenaga kerja trampil

Manajemen yang tepat

Jaminan harga beli dan harga jual yang layak Akses pada lembaga pembiayaan

Pedagang pengumpul Tersedianya pasokan dari industri hulu Meningkatnya permintaan industri hilir Sarana transportasi

Pelaku industri hilir Kesinambungan pasokan bahan baku Standar mutu bahan baku

Pengembangan teknologi Tenaga kerja profesional

Akses pada lembaga pembiayaan Jaminan kebijakan pemerintah

Eksportir Kelangsungan pasokan produk siap ekspor dengan mutu bersaing

Peningkatan fasilitas ekspor (pelabuhan udara / laut) dan kemudahan penggunaannya

Perluasan pasar

Jaminan regulasi perdagangan nasional, maupun global

Akses pada lembaga pembiayaan

Tabel 2 (lanjutan) Identifikasi elemen-elemen aktor dan kebutuhannya

Pelaku Kebutuhan

Tenaga kerja Peningkatan keterampilan Upah yang layak

Perluasan lapangan kerja Pemasok bahan penunjang

agroindustri

Perluasan usaha

Peningkatan sdm / penguasaan teknologi Lembaga pembiayaan Peningkatan jumlah nasabah dan jumlah

penyaluran kredit usaha dengan pengembalian terjamin

Iklim bisnis yang kondusif Pemerintah Pusat (Instansi

terkait)

Peningkatan penerimaan devisa

Realisasi program perencanaan pembangunan nasional

Pemerintah Daerah Peningkatan pendapatan daerah Bertambahnya lapangan kerja

Peningkatan kesejahteraan masyarakat

Koperasi Jaminan usaha petani

Peningkatan peran koperasi Asosiasi (agroindustri hulu,

hilir, eksportir)

Kemudahan birokrasi Komitmen standarisasi mutu

Perguruan tinggi Perluasan lapangan kerja profesional Peningkatan program pelatihan tenaga kerja agroindustri

Pusat / Balai penelitian Peningkatan efektivitas penelitian khususnya pengkajian teknologi

Obyek penilitian yang lebih luas Masyarakat sekitar /

konsumen

Tersedianya produk sesuai kebutuhan dalam hal jumlah, mutu dan kesinambungan

Peluang lapangan kerja

Minimalisasi dampak industri terhadap lingkungan

Identifikasi sistem

Identifikasi sistem merupakan suatu rantai hubungan antara kebutuhan-kebutuhan dengan permasalahan yang harus dipecahkan. Identifikasi sistem kemudian dilanjutkan dengan interpretasi elemen-elemen dengan lebih dahulu mengkaji semua informasi yang diperlukan yang dapat dikategorikan dalam tiga golongan yaitu (1) peubah input, (2) peubah output dan (3)

parameter-parameter yang membatasi struktur sistem sebagaimana ditampilkan dalam diagram input – output (Gambar 8).

Input tak terkontrol 1. Harga bahan/produk 2. Persaingan industri 3. permintaan pasar (domestik/ eksport) 4. Karakteristik wilayah 5. Infrastruktur

6. Nilai tukar rupiah.

Output yang dikehendaki

1. Peningkatan produktivitas & daya saing agroindustri wilayah 2. Peningkatan pendapatan setiap

pelaku usaha

3. Kontinuitas bahan baku 4. Peningkatan nilai ekspor 5. Skenario progresif MANAJEMEN

3. Sumber modal/ investasi 4. Ketrampilan pengelolaan

usaha 5. Kelembagaan 6. Program pembinaan 7. Biaya-biaya 8. Kemitraan

Output tak dikehendaki 1. Sumber daya tidak

ter-identifikasi dengan baik 2. Penetapan strategi yang

kurang tepat 3. Penurunan produksi 4. Tidak memenuhi standar

mutu

Gambar 8 Diagram Input-Output manajemen stratejik pengembangan agroindustri berbasis unggulan wilayah.

Input Lingkungan

1. Kebijakan/ peraturan pemerintah/

birokrasi

2. Globalisasi perekonomian 3. Stabilitas politik, ekonomi, sosial 4. Agro-klimat

Dokumen terkait