• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

5. Pendekatan Studi Kepemimpinan

Studi kepemimpinan yang terdiri dari berbagai macam pendekatan pada hakikatnya merupakan usaha untuk menjawab atau memberikan pemecahan persoalan yang terkandung di dalam ketiga permasalahan tersebut. Hampir seluruh penelitian kepemimpinan dapat dikelompokkan ke dalam empat macam pendekatan, yaitu pendekatan pengaruh kewibawaan, sifat, perilaku dan situasional.21 Berikut uraian ke empat macam pendekatan tersebut :

a) Pendekatan pengaruh kewibawaan (power influence approach)

Menurut pendekatan ini, keberhasilan pemimpin dipandang dari segi sumber dan terjadinya sejumlah kewibawaan yang ada pada para pemimpin, dan dengan cara yang bagaimana para pemimpin menggunakan kewibawaan

21

tersebut kepada bawahan. Pendekatan ini menekankan proses saling mempengaruhi, sifat timbal balik dan pentingnya pertukaran hubungan kerjasama antara para pemimpin dengan bawahan.

Kewibawaan merupakan keunggulan, kelebihan atau pengaruh yang dimiliki oleh kepala sekolah. Kewibawaan kepala sekolah dapat mempengaruhi bawahan, bahkan menggerakkan, memberdayakan segala sumber daya sekolah untuk mencapai tujuan sekolah sesuai dengan keinginan kepala sekolah. Berdasarkan pendekatan pengaruh kewibawaan, seorang kepala sekolah dimungkinkan untuk menggunakan pengaruh yang dimilikinya dalam membina, memberdayakan, dan memberi teladan terhadap guru sebagai bawahan. Legitimate dan coersive power memungkinkan kepala sekolah dapat melakukan pembinaan terhadap guru, sebab dengan kekuasaan dalam memerintah dan memberi hukuman, pembinaan terhadap guru akan lebih mudah dilakukan. Sementara itu dengan reward power memungkinkan kepala sekolah memberdayakan guru secara optimal, sebab penghargaan yang layak dari kepala sekolah merupakan motivasi berharga bagi guru untuk menampilkan performan terbaiknya. Selanjutnya dengan referent dan expert power, keahlian dan perilaku kepala sekolah yang diimplementasikan dalam bentuk rutinitas kerja, diharapkan mampu meningkatkan motivasi kerja para guru. French dan Raven dalam Wahjosumidjo mengemukakan bahwa: Berdasarkan hasil penelitian terdapat pengelompokan sumber dari mana kewibawaan tersebut berasal, yaitu:

1. Legitimate power: bawahan melakukan sesuatu karena pemimpin memiliki kekuasaan untuk meminta bawahan dan bawahan mempunyai kewajiban untuk menuruti atau mematuhinya,

2. Coersive power: bawahan mengerjakan sesuatu agar dapat terhindar dari hukuman yang dimiliki oleh pemimpin,

3. Reward power: bawahan mengerjakan sesuatu agar memperoleh penghargaan yang dimiliki oleh pemimpin,

4. Referent power: bawahan melakukan sesuatu karena bawahan merasa kagum terhadap pemimpin, bawahan merasa kagum atau

membutuhkan untuk menerima restu pemimpin, dan mau berperilaku pula seperti pemimpin, dan

5. Expert power: bawahan mengerjakan sesuatu karena bawahan percaya pemimpin memiliki pengetahuan khusus dan keahlian serta mengetahui apa yang diperlukan.22

b) Pendekatan sifat (the trait approach)

Pendekatan ini menekankan pada kualitas yang dimiliki pemimpin. Keberhasilan pemimpin ditandai oleh daya kecakapan luar biasa yang dimiliki oleh pemimpin, seperti tidak kenal lelah, intuisi yang tajam, wawasan yang luas, dan kecakapan meyakinkan orang lain. 23 Menurut pendekatan sifat, seseorang menjadi pemimpin karena sifat-sifatnya yang dibawa sejak lahir, bukan karena dibuat atau dilatih. Berdasarkan pendekatan sifat, keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya dipengaruhi oleh sifat-sifat pribadi, melainkan ditentukan pula oleh keterampilan (skill) pribadi pemimpin.

c) Pendekatan perilaku (the behavior approach)

“Pendekatan perilaku” merupakan pendekatan yang berdasarkan pemikiran bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan oleh sikap dan gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh pemimpin dalam kegiatannya sehari-hari dalam hal bagaimana cara memberi perintah, membagi tugas dan wewenang, cara berkomunikasi, cara mendorong semangat kerja bawahan, cara memberi bimbingan dan pengawasan, cara membina disiplin kerja bawahan, dan cara mengambil keputusan.

Pendekatan perilaku menekankan pentingnya perilaku yang dapat diamati yang dilakukan oleh para pemimpin dari sifat pribadi atau sumber kewibawaan yang dimilikinya. Oleh sebab itu, pendekatan perilaku itu mempergunakan acuan yang sifat pribadi dan kewibawaan. Kemampuan perilaku secara konsepsional telah berkembang kedalam berbagai macam cara dan berbagai macam tingkatan abstraksi. Perilaku seorang pemimpin

22

Wahjosumidjo,Kepemimpinan Kepala Sekolah …………, h. 21. 23 Wahjosumidjo,Kepemimpinan Kepala Sekolah …………, h. 21

digambarkan kedalam istilah “pola aktivitas“, “peranan manajerial“ atau “kategori perilaku“.24

d) Pendekatan situasional (Situational Approach)

Pendekatan situasional menekankan pada ciri-ciri pribadi pemimpin dan situasi, mengemukakan dan mencoba untuk mengukur atau memperkirakan ciri-ciri pribadi ini, dan membantu pimpinan dengan garis pedoman perilaku yang bermanfaat yang didasarkan kepada kombinasi dari kemungkinan yang bersifat kepribadian dan situasional.25

Pendekatan situasional atau pendekatan kontingensi merupakan suatu teori yang berpendapat bahwa tiap organisasi adalah unik dan memiliki situasi yang berbeda-beda sehingga harus dihadapi dengan gaya kepemimpinan tertentu. Dan pada situasi yang berbeda perlu penanganan yang berbeda pula. Oleh sebab itu, perlu adanya analisis terlebih dahulu agar organisasi tidak hancur karena ketidak mampuan menganalisis dan beradaptasi dengan lingkungan. Agustinus Sri Wahyudi dalam bukunya mengemukakan ada dua faktor yang membuat analisis lingkungan sangat penting dilakukan oleh pemimpin, yaitu:

1. Bahwa organisasi tidak berdiri sendiri, tetapi berinteraksi dengan bagian-bagian dari lingkungannya dan lingkungan itu selalu berubah-ubah setiap saat.

2. Pengaruh lingkungan yang sangat rumit dan kompleks dapat mempengaruhi kinerja banyak bagian yang berbeda dari sebuah perusahaan.26

Pendekatan situasional dalam kepemimpinan mengatakan bahwa kepemimpinan ditentukan tidak oleh sifat kepribadian individu-individu, melainkan oleh persyaratan situasi sosial. Dalam kaitan ini Ngalim Purwanto menyatakan bahwa “keberhasilan kepemimpin terletak pada bagaimana pemimpin menerapkan perilaku kepemimpinan itu sesuai dengan situasi

24

Wahjosumidjo,Kepemimpinan Kepala Sekolah …………, h. 23 25 Wahjosumidjo,Kepemimpinan Kepala Sekolah ………….., h. 29.

26

organisasi atau lembaga”.27 Jadi, pemimpin dalam situasi yang satu mungkin tidak sama dengan tipe pemimpin dalam situasi yang lain dimana keadaan dan faktor-faktor sosialnya berbeda.

Selanjutnya Kartini Kartono mengatakan dalam bukunya bahwa pendekatan situasional menyatakan bahwa sifat-sifat pribadi pemimpin itu bukan satu-satunya hal yang menentukan derajat dan kualitas pemimpin, melainkan situasi dan lingkungan merupakan faktor penentunya.28 Oleh sebab itu, pemimpin harus peka terhadap situasi yang terjadi disekitarnya.

7. Kepala Sekolah

Pengertian kepala sekolah menurut kamus besar bahasa Indonesia, “kepala sekolah adalah orang yang memimpin suatu sekolah, guru kepala”.29

Sedangkan pengertian kepala sekolah menurut penulis adalah seorang pemimpin dalam sebuah lembaga pendidikan baik di tingkatan Sekolah Dasar, Menengah Pertama ataupun Menengah Atas.

Untuk disebut sebagai kepala sekolah yang profesional diperlukan persyaratan-persyaratan khusus. Sanusi dkk (1991) mengemukakan beberapa kemampuan professional yang harus ditunjukan oleh kepala sekolah, yaitu:

a. Kemampuan untuk menjalankan tanggung jawab yang diserahkan kepadanya

b. Kemampuan untuk menerapkan keterampilan-keterampialn konseptual, manusiawi dan teknis

c. Kemampuan untuk memotivasi para bawahan untuk bekerja sama secara sukarela dalam mencapai tujuan organisasi

d. Kemampuan untuk memahami implikasi-implikasi dari perubahan sosial, ekonomi, politik, dan pendidikan.30

Banyak diantara kepala sekolah kita, karena tidak dipersiapkan secara khusus, pemahamannya terhadap aneka perubahan yang terjadi di luar sistem pendidikan sangatlah rendah. Kepala sekolah sebagai seorang pemimpin yang bertanggung jawab terhadap peningkatan mutu lembaga yang dipimpinnya,

27 Ngalim Purwanto, Administrasi ……….. hal. 38 28 Kartini Kartono, Pemimpin dan …………... Hal. 161

29

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar ………., H.545-546 30

berkewajiban untuk selalu meningkatkan kemampuan diri dan staf yang dipimpinnya agar dapat menjadi tenaga yang professional, yaitu dengan beberapa cara, seperti dengan mengikuti pelatihan atau pembinaan yang menunjang kemampuan diri sendiri maupun stafnya agar teciptanya profesionalisme kerja.

Seorang kepala sekolah juga harus dapat menumbuhkan profesi dalam pengorganisasian bidang kerja yang benar-benar sesuai. Pembagian bidang kerja yang benar-benar tepat dengan staf yang tepat pula, akan menciptakan suatu kondisi kerja yang baik dengan menanamkan suatu sikap profesi dalam diri stafnya. Pelaksanaan etika professional harus selalu dikembangkan serta membina hubungan yang baik dengan para staf dan dewan guru. Hubungan yang baik, akan menciptakan kondisi kerja yang sehat dan mendukung kearah tercapainya pencapaian mutu yang diharapkan.

Kepala sekolah sebagai perencana memiliki peran mengidentifikasi dan merumuskan tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah dengan hasil yang diharapkan. Pada bukunya Ngalim Purwanto menyebutkan bahwa peranan seorang kepala sekolah yang baik dapat disimpulkan menjadi 13 macam, yaitu:

1. Sebagai pelaksana (executive) 2. Sebagai perenrana (planner) 3. Sebagai seorang ahli (expert)

4. Mewakili kelompoknya dalam tindakannya di luar (external group representative)

5. Bertindak sebagai pemberi ganjaran/pujian dan hukuman (purveyor of reward and punishement)

6. Mengawasi hubungan antar kelompok (controller of internal relationship)

7. Bertindak sebagai penengah (mediator) 8. Merupakan bagian dari kelompok (exemple)

9. Merupakan lambang dari kelompok (symbol of group)

10.Pemegang tanggung jawab para anggota kelompok (surrogate for individual responsibility)

11.Sebagai pencipta atau memiliki cita-cita (idieologist) 12.Bertindak sebagai ayah (father figure)

13.Sebagai kambing hitam (scop goat).31

31

Kepala sekolah sebagai seorang pemimpin harus senantiasa berusaha menjalankan/memenuhi kehendak dan kebutuhan kelompoknya yang telah disepakati bersama dalam rangka memajukan sekolah yang dipimpinnya. Tetapi tidak bisa bertindak sesuai kemauan hatinya, seorang pemimpin dalam bertindak harus diperhitungkan dengan baik bagaimana resiko dan akibatnya bagi dirinya dan juga kelompoknya, karena tidakan seorang pemimpin bisa mencerminkan kelompok yang dipimpinnya.

Dalam menjaga jangan sampai terjadi perselisihan dan berusaha membangun hubungan yang harmonis, akan menimbulkan semangat kerja kelompok. Dan juga dalam bertindak pemberian ganjaran atau pujian dan hukuman kepala sekolah harus bisa berani dalam mengambil keputusan bagi anggota yang berbuat merugikan organisasi yang dipimpinnya. Dalam bertindak sebagai penengah kepala sekolah bertindak tegas dan tidak pilih kasih kepada siapapun anggotanya.

Kepala sekolah merupakan lambang kelompoknya, ia harus menyadari bahwa baik buruk kelompok yang dipimpinnya tercermin pada dirinya dan bertanggung jawab terhadap perbuatan anggotanya yang dilakukan atas nama kelompoknya.

Segala sikap atau tindakan yang diberikan kepada setiap anggotanya hendaklah mencerminkan tindakan atau sikap seorang ayah kepada anaknya yang senantiasa bertindak berdasarkan dasar kekeluargaan. Dengan menyadari bahwa dirinya seorang pemimpin yang dibebani tanggung jawab yang besar termasuk tempat melempar kesalahan atau keburukan yang terjadi di dalam kelompoknya, seorang pemimpin harus memiliki kesiapan memikul tanggung jawab tersebut.

Berdasarkan peranan kepala sekolah tersebut, kepala sekolah dapat diartikan sebagai pemberi suri tauladan yang baik apabila berada di depan, sedangkan di tengah-tengah kepala sekolah harus bisa membangun dan membangkitkan, dan di belakang kepala sekolah memberikan motivasi bagi para bawahannya.

Seorang kepala sekolah hendaknya dapat memahami peranan-peranan sebagai seorang pemimpin, sehingga dalam menjalankan tugasnya seorang kepala sekolah dapat lebih hati-hati dan bisa mengembangkan sekolah yang dipimpinnya menjadi lebih baik lagi.

8. Kopetensi Sosial Kepala Sekolah Sebagai Seorang Pemimpin dalam Memperoleh Dukungan Masyarakat

Kopetensi sosial memiliki hubungan yang erat dengan dengan penyesuaian sosial dan kualitas interaksi antar pribadi. Seorang kepala sekolah tidak hanya bertugas sebagai pemimpin dan pendidik, tetapi juga merupakan panutan dan teladan bagi lingkungan. Seorang kepala sekolah yang memiliki hubungan sosial yang baik dengan lingkungannya, maka ia dapat bekerjasama dengan tokoh masyarakat guna melaksanakan berbagai program dalam lingkungan kerja di sekolahnya untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan di daerah yang bersangkutan tersebut. Kepala sekolah juga harus berhadapan langsung dengan para guru dan anak didiknya untuk memberikan pengarahan, bimbingan dan ceramah, selain itu kepala sekolah juga harus berhadapan langsung dengan para orang tua murid untuk memberikan informasi mengenai anak mereka.

Menurut Wahdjosumidjo “tujuan pokok pengembangan hubungan efektif antara sekolah dengan masyarakat setempat adalah untuk memungkinkan orang tua dan warga wilayah berpartisipasi aktif dan penuh arti di dalam kegiatan pendidikan sekolah”.32

Karena di sisi lain, masyarakat juga memerlukan jasa sekolah untuk mendapatkan program-program pendidikan sesuai yang diinginkan. Apabila kepala sekolah sadar dan aktif terhadap hal ini, akan dapat terjalin hubungan yang saling menguntungkan.

Masyarakat dan sekolah memiliki hubungan yang sangat erat, karena keduanya saling membutuhkan, dan apabila kedua bisa menyatu dengan baik maka akan tercapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Oleh karena itu, sekolah berkewajiban memberikan penerangan dan penjelasan mengenai

32

tujuan, program dan kebutuhan yang ada di sekolah serta menyadari keadaan masyarakat dilingkungannya. Dan sekolah juga harus mengetahui dengan jelas kebutuhan, harapan dan tuntutan yang ada di masyarakat.

Dalam hal hubungan sekolah dengan masyarakat, Sutisna mengemukakan maksud hungan tersebut adalah:

1. Untuk mengembangkan pemahaman tentang maksud-maksud dan saran-saran dari sekolah,

2. Untuk menilai program sekolah,

3. Untuk mempersatukan orang tua dan guru dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan peserta didik,

4. Untuk mengembangkan kesadaran tentang pentingnya pendidikan sekolah dalam era pembangunan,

5. Untuk membangun dan memelihara kepercayaan masyarakat terhadap sekolah,

6. Untuk mengerahkan dukungan dan bantuan bagi pemeliharaan dan peningkatan program sekolah.33

Partisipasi masyarakat mengacu pada keikutsertaan secara nyata dalam berbagai kegiatan dan merasakan manfaatnya secara langsung, sehingga masyarakat benar-benar merasa dilibatkan dalam kemajuan sekolah. Partisipasi tersebut dapat berupa gagasan, kritik yang membangun, dukungan dalam pelaksanaan pendidikan.

Sekolah yang bermutu adalah sekolah yang mampu melaksanakan proses pembelajaran yang sesuai dengan rancangan-rancangan yang ditetapkan bersama antara sekolah dengan komite sekolah, hasil belajar sesuai denagn target yang direncanakan serta sesuai dengan harapan orang tua siswa, pemerintah dan para pengguna lulusan baik sekolah atau perguruan tinggi tempat siswa melanjutkan studinya maupun dunia kerja.

Sedangkan menurut E. Mulyasa adalah bahwa sekolah yang bermutu tidak hanya dilihat dari mutu lulusannya tetapi juga mencakup bagaimana lembaga pendidikan maupun memenuhi kebututuhan pelanggan sesuai dengan standar mutu yang berlaku. Pelanggan dalam hal ini adalah pelanggan internal

33

E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional Dalan Konteks Menyukseskan Mbs Dan Kbk , (Bandung: PT. Rosda Karya, 2004), h. 164

(tenaga pendidikan) serta pelanggan eksternal (peserta didik, orang tua, masyarakat dan pemakai lulusan).34

Untuk menjalin hubungan yang harmonis antara sekolah dengan masyarakat, kepala sekolah bertugas untuk mengusahakan dan memeberikan hubungan yang intim dan terpadu dengan masyarakat. Selain itu, kepala sekolah dituntut untuk senantiasa membina dan mengembangkan hubungan kerjasama antara sekolah dan masyarakat guna mewujudkan sekolah yang efektif dan efisien. Hubungan yang harmonis ini hanya akan terbentuk jika adanya saling mengerti antar sekolah, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya persaingan secara sehat antar sekolah dan dapat diaplikasikan dengan cara studi banding dengan sekolah yang memiliki kredibilitas tinggi. Selain kerjasama dengan sekolah lain, kerja sama dengan orang tuapun sangat diperlukan sekali, karena dalam rangka membina peserta didik secara optimal, kerjasama ini sangat penting karena banyak persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh sekolah secara sepihak.

Ada beberapa proses yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah untuk mencari dukungan masyarakat, yaitu:

1. Analisis. Adalah dimana suatu proses dimana isu-isu dari anggota masyrakat diidentifikasi dan dicari hubungannya satu sama lain,

2. Komunikasi, proses interaksi antara sesama anggota masyarakat dan antar sekolah dengan anggota masyarakat,

3. Keterlibatan (involment), melalui proses ini anggota masyarakat memberikan kontribusi langsung baik dari keahlian, energy ataupun bentuk partisipasi lain untuk proses pembuatan keputusan tentang sekolah,

4. Penyelesaian (resolution), proses yang direncanakan untuk memecahkan persoalan dan untuk mengurangi konflik aktual dan potensial diantara keluarga, sekolah dan masyarakat.35

Pada bukunya Wahdjosumidjo ditunjukkan satu program efektif tentang hubungan antara sekolah dengan masyarakat yang berfokus pada pola interaksi dari orang-orang seperti: pengawas, kepala sekolah dan guru yang meduduki peran penting pada berbagai tingkatan organisasi sekolah, kaitannya

34

E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah …………., h. 226 35

dengan para siswa, keluarga, masyarakat sekolah, masyarakat tingkat wilayah. Yang secara garis besar akan dijelaskan pada diagram berikut:36

Diagram 2.1

Analisis tentang Program Efektif Tentang Hubungan Sekolah dengan Masyarakat

Masyarakat Wilayah

Masyarakat Sekolah

Keluarga

Siswa

Analisis Komunikasi PROGRAM Analisis Komunikasi

Keterlibatan PENGAJARAN Keterlibatan

Pemecahan Pemecahan

Guru-guru

Guru-guru

Kepala Sekolah

Pengawas Kakandep/Kakanwil.

Sumber : Wahjosumidjo, kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), H. 339

36

Pada diagram diatas menunjukkan bahwa tujuan akhir setiap sekolah adalah menyediakan program-program sekolah yang baik dan tepat. Dalam hal ini semua pihak ikut terlibat dan ikut serta dalam menyukseskannya. Berawal dari guru yang terlibat langsung dalam keberhasilan belajar siswa, berkoordinasi langsung dengan orang tua wali mengenai program pengajaran yang tepat bagi para siswa. Dalam tingkatan masyarakat setempat, guru juga ikut bertanggung jawab memberikan gambaran yang jelas kepada orang tua wali dan warga sekitar tentang perkembangan kognitif, afektif dan psikomorik para siswa, maupun menerangkan metode mengajar dan belajar yang dipakai.

Seorang kepala sekolah bertanggung jawab untuk memberikan penjelasan tentang sasaran-sasaran yang luas, menguraikan tujuan sekolah dan menciptakan program pelajaran dalam mencapai sasaran.

Akhirnya bermuara pada tingkat masyarakat yang lebih luas yaitu masyarakat wilayah yang akan di tangani langsung oleh kantor tingkat wilayah dan mengusaha dukungan administratif dan moril, dalam mencapai program-program yang diinginkan.

Dalam proses kerja sama antara kepala sekolah dengan masyarakat, ataupun antara staf kantor wilayah dengan masyarakat wilayah membutuhkan proses analisis, komunikasi, keterlibatan dan solusi permasalan.

Jika hubungan sekolah dengan masyarakat berjalan dengan baik, rasa tanggung jawab dan partisipasi masyarakat untuk memajukan sekolah juga akan baik. Agar tercipta hubungan yang tersebut, masyarakat perlu mengetahui dan memiliki gambaran yang jelas tentang sekolah tersebut. Gambaran dan kondisi sekolah ini dapat diinformasikan kepada masyarakat melalui beberapa cara, yaitu:

1. Laporan bulanan/tahunan kepada orang tua murid (melalui rapat/pertemuan),

2. Buletin/surat kabar sekolah,

3. Membuat acara pada hari-hari besar, 4. Open house,

6. Penjelasan para staf/pengajar,

7. Melibatkan tokoh masyarakat pada susunan organisasi sekolah, sehingga kepala sekolah bisa menjadi wakil sekolah di masyarakat. Selnjutnya, keterlibatan masyarakat dalam program-program sekolah dapat dilihat melalui bentuk komunikasi. Sebab pada hakikatnya komunikasi adalah suatu bentuk keterlibatan, dan keterlibatan adalah partisipasi aktif masyarakat di dalam program dan berbagai kegiatan sekolah.37 Pemimpin yang dapat menjalin hubungan baik dengan masyarakat akan menciptakan dukungan masyarakat terhadap sekolah, sehingga tidak ada alasan lagi untuk masyarakat menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah yang di pimpinnya.

9. Kerangka Berpikir

Dari kajian teori di atas dapat dijelaskan bahwa keberhasilan atau kehancuran sebuah organisasi biasanya selalu dihubungkan pada sosok seorang kepala sekolah yang memimpin organisasi tersebut. Begitupun dengan sekolah yang dipimpin oleh seorang kepala sekolah, keberhasilan atau kehancurannya selalu di hubungkan dengan bagaimana cara seorang kepala sekolah memimpin sekolahnya tersebut. Banyak kepala sekolah dalam memimpin sekolahnya belum menyadari bahwa beliau merupakan figure central, hal ini terlihat dari lemahnya kopetensi sosial yang dimiliki oleh kepala sekolah dan kepala sekolah belum bisa menjadi teladan dilingkungannya sehingga kurang memperoleh dukungan dari masyarakat sekitarnya. Selain itu, kurang efektifnya pola kepemimpinan yang digunakan oleh kepala sekolah dan membuat peningkatan mutu sekolah yang dipimpinnya belum dapat berjalan dengan baik..

Seorang kepala sekolah dituntut untuk membuat mutu sekolah menjadi baik dengan kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dan mendapatkan dukungan dari seluruh elemen masyarakat.

Membandingkan dari kedua gambaran di atas, yaitu antara kondisi kepemimpinan yang terdapat di MTs. Al-Hamdaniyah Bojonggede-Bogor dengan harapan kepemimpinan kepala sekolah yang efektif, maka terdapat masalah yaitu

37

kepemimpinan kepala skolah yang belum efektif, sehingga partisipasi masyarakat terhadap sekolah tersebut sangat kurang.

Banyak hal yang perlu diperbaiki oleh kepala sekolah untuk dapat memecahkan masalah tersebut, terutama masalah kemampuan kepemimpinannya, seperti meningkatkan wawasan mengenai kepemimpinan, dengan mengikuti Diklat kepemimpinan, mengadakan studi banding dengan sekolah yang lebih baik mutunya untuk dapat mempelajari program-program perbaikan mutu yang dimiliki oleh sekolah tersebut dan melakukan pendekatan kepada semua elemen masyarakat terutama dengan tokoh masyarakat sebagai orang yang dituakan pada suatu lingkungan, sehingga upaya untuk mendapat dukungan dari masyarakat sekitar dapat tercapai.

Berdasarkan kerangka berpikir di atas, penulis ingin mengetahui sampai sejauhmana hubungan antara pola kepemimpinan MTs. Al-Hamdaniyah Bojonggede-Bogor dengan masyarakat sekitarnya, agar penulis bisa memahami mengenai pola kepemimpinan yang digunakan oleh Kepala sekolah dalam meningkatkan mutu sekolah dan mendapatkan dukungan masyarakat sekitarnya.

Diagram 2.2 Kerangka Pikir

INPUT PROSES OUTPUT

Kondisi Kepemimpinan Kepala MTs. Al-Hamdaniyah Bojonggede- Bogor 1. Lemahnya kopetensi sosial, 2. Belum menjadi teladan, 3. Rendahnya dukungan masyarakat, 4. Pola kepemimpinan kurang efektif, 5. Belum berjalannya upaya peningkatan mutu sekolah. Masalah Belum efektifnya Kepemimpinan Kepala MTs. Al-Hamdaniyah Bojonggede- Bogor Strategi/Solusi 1. Pemberian wawasan tentang kepemimpinan, 2. Mengikuti Diklat mengenai kepemimpinan. 3. Mengadakan studi banding dengan sekolah-sekolah yang lebih maju dalam hal upaya meningkatkan mutu sekolah. 4. Melakukan pendekatan dengan tokoh masyarakat. Harapan/Hasil Kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dan mendapatkan dukungan dari seluruh elemen masyarakat

Dokumen terkait