KEBUTUHAN BESARAN RUANG SERVIS
5.11. PENDEKATAN UTILITAS a) Sistem Pencahayaan
Sistem pencahayaan pada bangunan Terminal penumpang Bandar Udara Sultan Muhammad Salahuddin Bima direncanakan menggunakan dua sistem yaitu pencahayaan alami dan buatan.
1. Pencahayaan Alami
Dalam upaya penghematan energi dan biaya maka digunakan sistem pencahayaan alami pada ruang-ruang yang memungkinkan untuk memperoleh sinar matahari. Upaya pencahayaan alami secara maksimal namun tetap menjaga agar kenyamanan ruang tidak terganggu. Oleh karena itu diperlukan suatu perencanaan dalam mengendalikan pencahayaan alami agar tidak melampaui batas kenyamanan, misalnya dengan menggunakan sun shading atau bahan khusus lainnya.
2. Pencahayaan buatan
Diterapkan pada ruang-ruang yang kurang terjangkau pencahayaan alami dari matahari, pada ruang-ruang yang digunakan pada malam hari, dan pada saat matahari tidak stabil (kondisi cuaca). Untuk aktifitas tertentu, pencahaan buatan sangat penting dalam memberi efek-efek visual tertentu.
b) Sistem Pengkondisian Udara
Sistem pengkondisian udara yang diterapkan dalam perencanaan dan perancangan Bangunan Terminal Bandar Udara Sultan Muhammad Salahuddin Bima dilakukan dengan dua cara yaitu :
1. Penghawaan alami
Sistem ini diterapkan untuk efisiensi sehingga pada ruangan-ruangan tertentu tidak harus menggunakan pengkondisian udara. Penghawaan alami berasal dari lubang- lubang dinding seperti jendela dan lubang angin, maupun ruang-ruang terbuka yang langsung berhubungan dengan daerah luar.
2. Penghawaan buatan
Penghawaan buatan diterapkan pada ruangan-ruangan yang di dalamnya dibutuhkan kenyamanan tinggi untuk melakukan kegiatan dan pada ruangan-ruangan yang tidak mungkin mendapatkan penghawaan alami.
c) Sistem jaringan Air Bersih
Kebutuhan air bersih dapat diambil dari jaringan air bersih yang bersumber dari PDAM. Ada dua sistem yang dapat digunakan untuk pendistribusian air bersih yaitu down feed system dan up feed system.
Untuk membedakan pipa satu dengan yang lain, pipa diberi warna dan diberi arah aliran sesuai dengan muatan dan fungsinya. Terdapat dua sistem distribusi air bersih pada bangunan, yaitu :
1. Up Feed Riser System
Pada sistem ini, air bersih langsung dipompa ke atas pada ruang-ruang yang membutuhkan. Apabila tekanan air memenuhi syarat, air yang ditampung pada ground reservoir dapat langsung dengan bantuan pompa. Keuntungannya tidak membutuhkan tangki penyimpanan. Namun, kerugiannya aliran air bersih tidak dapat mengalir bila aliran listrik padam, dibutuhkan beberapa pompa tekan otomatis kekuatan tinggi dan umumnya pada daerah teratas kekuatan air menjadi relatif kecil.
2. Down Feed Riser System
Sistem ini bekerja dengan memompakan air bersih ke atas, ditampung dalam water reservoir, baru kemudian disalurkan ke ruang-ruang yang membutuhkan. Apabila tekanan air tidak memenuhi syarat, maka air yang ditampung di ground reservoir dipompa naik untuk ditampung pada water reservoir. Dari sana baru dialirkan melalui sistem gravitasi. Keuntungannya, sistem ini masih lebih dapat menjamin kelangsungan aliran air bersih walaupun aliran listrik padam dan umumnya kekuatan air relatif sama (tidak tergantung pada ketinggian bangunan). Namun sistem ini membutuhkan ruangan untuk tangki di atas bangunan sehingga menambah beban yang dipikul oleh bangunan. Distribusi air bersih dengan sistem down feed distribution lebih efisien dan hemat dimana energi listrik untuk memompa ke roof tank lebih terpantau serta distribusi air kebawah dengan sistem gravitasi.
d) Sistem Jaringan Air Kotor
Water Treatment System yang pada akhirnya akan digunakan kembali sebagai sumber air bersih pada area Bandar Udara Sultan Muhammad Salahuddin Bima setelah menyelesaikan proses pembersihan dan pemurnian air.
e) Sistem Pembuangan Sampah
Sistem jaringan sampah pada perencanaan Bangunan Terminal Bandar Udara Sultan Muhammad Salahuddin Bima yaitu dengan menyediakan tempat sampah pada ruang- ruang yang menghasilkan sampah basah (café), sedangkan untuk kantor pengelola dan area aktif lainnya yang banyak menghasilkan sampah kering menggunakan shaft untuk pembuangan sampah. Sampah-sampah tersebut kemudian akan dikumpulkan dalam tempat penampungan sampah sementara dengan troli dan selanjutnya diangkut untuk dibuang ke TPA kota dengan truk dari Dinas Kebersihan Kota.
f) Sistem Jaringan Listrik
Penyediaan daya listrik area Bandar Udara Sultan Muhammad Salahuddin Bima dipasok dari Pembangkit Tenaga LIstrik melalui jaringan kabel tegangan tinggi (diatas 20.000Volt), yang kemudian diturunkan menjadi tegangan menengah (1.000-20.000Volt) dan tergangan rendah (< 1000 Volt) oleh transformator step down.
Pemakaian sistem elektrikal yang efektif dan efisien untuk menunjang sistem bangunan seoptimal mungkin dengan pemanfaatan listrik dari PLN serta penggunaan sistem generator sebagai sumber listrik penunjang dan cadangan untuk suplai kebutuhan listrik secara umum, yang digerakkan dengan bantuan mesin diesel. Persyaratan teknis untuk ruang mesin Genset:
1. Ruangannya dijauhkan dari ruang-ruang yang memerlukan ketenangan. 2. Struktur bangunannya harus kuat, termasuk pondasi untuk mesin itu sendiri.
3. Untuk meredam kebisingan dan getaran, dindingnya dibuat rangkap (double) dan untuk dinding dalam ruangan dilapisi filter.
4. Pertukaran udara (ventilasi) dalam ruangan harus berjalan baik. 5. Dilengkapi dengan sistem pemadam kebakaran.
Air Kotor Perangkap Lemak
Sumur Resapan
Over Flow Outlet Tandon Filter
Blower Kolam Renang
Pompa
Over Flow Filter Backwash Air Kotor Sungai
Skema Backwash Skema Turn Over Skema Penyaluran Air Kotor
Gambar 5.2.
Diagram Sistem Jaringan Air Kotor Sumber : Studi Literatur 2014
Gambar 5.4. Jaringan Utilitas Lingkungan Bandar Udara Sumber : Survey Lokasi (data pribadi)
g) Pencegah Kebakaran
Dasar pendekatan diantaranya dengan sistem tata ruang yang memudahkan dalam perlindungan terhadap kebakaran, optimalisasi sistem perlindungan terhadap pencegahan kebakaran, sistem perlindungan bahaya kebakaran yang terintegrasi terhadap sistem lain sehingga memudahkan dalam antisipasi, pencegahan dan pemadaman kebakaran. Sistem ini meliputi:
1. Sistem Deteksi Awal Kebakaran
PLN Tegangan Tinggi
Gardu Listrik
Panel Utama Panel Distribusi Panel Bagian
Genset
Distribusi
Gambar 5.3
Diagram Sistem Jaringan Listrik Sumber : Studi Literatur 2014
yaitu sistem yang bekerja sebagai pendeteksi awal bila ada gejala kebakaran. Sistem ini berupa pendeteksi awal seperti keberadaan asap ataupun panas api, dimana akan diteruskan ke alarm kebakaran sebagai tanda bahaya.
2. Sistem Pemadam Api
yaitu sistem yang bekerja untuk memadamkan api untuk mencegah kebakaran yang lebih besar. Beberapa alat yang dipakai dalam sistem ini adalah: Sprinkler, Hydrant Box, Hydrant pillar,danfire Extinguisher.
Beberapa elemen dalam sistem pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran serta prinsip dasar penggunaannya antara lain :
1. Pencegahan aktif Kebakaran a. Fire Hydrant
Jarak maksimum 30 m dan luas pelayanan 800 m2 ditempatkan pada koridor dan tempat-tempat yang mudah dicapai.
b. Portable Fire Extinguisher
Jarak maksimum 25 m dengan luas pelayanan 200 m2, ditempatkan di daerah umum atau pada ruangan yang kecil.
c. Pylar Hydrant
Jarak 6-9 m dengan luas pelayanan 25 m2, ditempatkan untuk penanggulangan kebakaran pada tingkat awal yang bekerja secara otomatis karena pengaruh suhu, digunakan kepala sprinkler warna jingga atau merah.
d. Heat DetectordanSmoke Detector
Luas pelayanan 75 m2, dihubungkan dengan alarm untuk mendeteksi kemungkinan adanya kebakaran.
2. Pencegahan Pasif Kebakaran a. Tangga Darurat Kebakaran
Bersifat kedap asap dan dilengkapi dengan penerangan darurat, serta dilengkapi dengan pintu kebakaran tahan api, dengan jarak maksimum 25 m, lebar tangga dan bordes minimal 1,20 m antrade 28 cm dan optrade 20 cm. Sebagai jalur penyelamatan, tangga kebakaran harus mempunyai persyaratan sebagai berikut: • Langsung berhubungan dengan lantai dasar atau tempat yang mudah dan
aman untuk menyelamatkan diri. • Konstruksi tahan api minimum 2 jam.
• Pintu dapat menutup sendiri, tanpa harus ditutup kembali setelah dibuka untuk dilalui.
• Pencapaian mudah (jarak tangga maksimum 30 m). b. Koridor
Lebar minimum 1,8 m dan jarak koridor ke pintu kebakaran maksimum 25 m. didalamnya dilengkapi dengan penerangan darurat dengan sumber daya listrik darurat.
c. Pintu Keluar :
Lebar minimum 90 cm dan membuka kearah keluar. d. Sumber Daya Listrik Darurat
Terdiri dari genset dan batere, yang bekerja saat terjadi evakuasi untuk penerangan darurat.
h) Jaringan Komunikasi
Sistem telekomunikasi digunakan untuk menunjang sistem komunikasi/informasi internal dan eksternal bangunan. Penggunaan telepon secara otomatis dengan sistem PABX (Private Automatic Branch Exchange) untuk kemudahan pelayanan telekomunikasi dengan back up sistem manual dengan bantuan operator.
WiFi (jaringan komunikasi tanpa kabel) dan LAN (Local Area Network) yaitu sistem komunikasi data, berupa pertukaran informasi dan data antar komputer dalam satu bangunan untuk kepentingan intern pengelola, pengunjung dan juga penyewa.
Ada dua macam sistem komunikasi berdasarkan lokasi terjadinya komunikasi yaitu: a. Sistem komunikasi internal
Sistem komunikasi ini diterapkan untuk komunikasi yang terjadi antar ruang atau dalam satu ruang yang dilakukan antar pegawai.
b. Sistem komunikasi eksternal
Sistem komunikasi ini di terapkan untuk komunikasi yang terjadi dari dan ke luar Bangunan Terminal Bandar Udara Sultan Muhammad Salahuddin Bima.
Mikrophone Mixer pream Main distribusi Terminal box Calling speaker Calling speaker Gambar 5.5.
Diagram Sistem Komunikasi Internal Sumber : Studi Literatur, 2014
Telkom
Box distribusi
Box relay Mesin
oprator Auto Calling speaker Calling speaker Calling speaker telphon box Gambar 5.6.
Diagram Sistem Komunikasi Eksternal Sumber : Studi Literatur, 2014
5.12. Pendekatan Aspek Teknis