• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI ACUAN PERANCANGAN

6.2 Acuan Perancangan Mikro

6.2.2 Kebutuhan Ruang

Adapun jenis kebutuhan ruang ialah : 1. Ruang kegiatan utama

1) Ruang penjualan 2) Ruang Sortir

2. Ruang Kegiatan administrasi 1) Ruang Kantor Pengelola.

a. Ruang Pimpinan b. Ruang sekertaris

c. Ruang manajer administrasi d. Ruang manajer operasional e. Ruang staf

f. Ruang tamu g. Ruang rapat h. Ruang keamanan i. Meja informasi 3. Ruang kegiatan Penunjang

1) Musollah

2) Balai pertemuan nelayan 3) ruang istrahat karyawan

4) Workshop 5) Cold Storange

4. Ruang Kegiatan Pelayanan 1) Ruang ME

2) Pelataran parker 3) Pos Jaga

4) Pelayana BBM 5) Toilet

1. Pengelompokan Ruang

Untuk mencapai efisiensi dan efektivitas dalam kordinasi hubungan kegiatan fungsi ruang maka perlu diadakan pengelompokan ruang berdasarkan

1) Jenis kegitan

a. Ruang – ruang kegiatan utama b. Ruang – ruang kegiatan administrasi c. Ruang – ruang kegiatan penunjang d. Ruang – ruang kegiatan pelayanan servis 2) Penzoningan

a. Zona public, kegiatan yang langsung berhubungan dengan masyarakat dan merupakan zona dengan tingkat kebisingan yang tinggi

b. Zona semi public, kegiatan yang sifatnya umum tetapi suasananya dapat dikendalikan dan merupakan zona dengan tingkat kebisingan sedang.

c. Zona private, kegiatan yang bersipat khusus dan relative tidak bising. ( tenang)

3) Besaran Ruang

a. Kegiatan yang dilakukan bersama, dan menggunakan ruang yang sama

b. Hubungan antara ruang.

c. Jumla kunjungan dan daya tamping yang direncanakan.

d. Efisiensi Ruang

e. Kapasitas pemakai berdasarkan standar ruang dengan acuan.

a). Data Arsitek, Emst Neufert.

b). Time saver Standar for building types, joseph de chiara.

c). Hasil pengamatan.

Standar – standar besaran ruang tersebut sebagai berikut 1). Standar gerak / orang : 1,20 m2 2). Standar ruang kerja 1 orang : 3,84 m2 3). Standar kerja 2 orang : 8,64 m2 4). Standar ruang kerja pimpinan : 14,96 m2 5). Standar Ruang kerja sekertaris : 6,7 m2 6). Standar ruang kerja/orang : 2,16 m2 7). Ruang pelelangan ikan 1 ton ikan. : 27,00 m2 ( Leonard mamach dan Roger Unfille, Opicce Building )

Kebutuhan Ruang pada Tempat pelelanagn ikan di kabupaten kolaka dapat ini dapat dikelompokan menjadi beberapa kelompok besar, yaitu ; 1) Ruang kegiatan utama

a Ruang Penjualan/pelelangan

Standar = m2 Luas lantai kotor/ orang

Kapasitas = 417 orang

= 1.20 m2 x 417

Sirkulasi 30% = 500.4 m2 x 30% = 150.2 m2 Luas = 500.4 m2 + 150.2 m2 = 650.6 m2 b. Ruang sortir

Standar = Luas Ruang sortir = ½ luas ruang lelang

= ½ x 650.6 m2 = 325 m2

Sirkulasi 30% = 325 m2 + 30 % = 423 m2 c. Ruang Pengeloaan

a). Ruang pengolahan = Asumsi 80 m2 b). Ruang Pembersihan = Asumsi 50 m2 c). Ruang Pengecekan = Asumsi 30 m2 d). Ruang Pengepakan = Asumsi 30 m2 e). Gudang = Asumsi 55 m2 f). Ruang Pengawasan = Asumsi 20 m2 g). Loker

Standar = 0.8 m2/ orang Kapasitas =30 orang

= 0.8 x 30

= 24 m2

Sirkulasi 30% = 24 x 30 % = 7.2 m2 Luas = 24 m2 + 7.2 = 31.2 m2

2) Ruang kegiatan administrasi kantor pengelola a. Ruang Pimpinan

Standar = 14.96 m2 /orang Kapasitas = 1 orang

Sirkulasi 30% = 1 x 14.96 m2 x 30%= 4.49 m2 Luas = 14.96 m2 + 4.49 m2 = 19.5 b. Ruang Sekertaris

Standar = 13 m2

Kapasitas = 1 orang

Sirkulasi 30% = 1 x 13 m2 30% = 3.9 m2 Luas = 13 m2 + 3.9 m2 = 16.9 m2 c. Ruang Personalia

Standar = 4.3 m2

Kapasitas = 4 orang x 4.3 m2

Sirkulasi 30% = 15.40 m2 x 30% = 4.62 Luasn = 15.40 m2 + 4.62 m2 = 20 m2 d. Ruang Bagian operasional

Standar = 3. 84 m2

Kapasitas = 5 orang x 4.3 m2 = 21.5 m2 Sirkulasi 30% = 21.5 m2 x 30% = 6.45 m2 Luas = 7.68 m2 + 6.45 m2= 28 m2

e. Ruang Bagian Operasional

Standar = 4.3

Kapasitas = 3 orang

= 3x4.3 = 12.9

Sirkulasi 30% = 12.9 x 30% = 3.78

Luas = 12.9 + 3.78 = 16.77 m2

f. Ruang Keuangan

Standar = 5.3 m2

Kapasitas = 2 Orang x 5.3 m2 = 10.6 m2

Sirkulasi 30% = 10.6 m2 x 30% = 3.18 m2 Luas = 10.6 m2 + 3.18 m2 = 14 m2 f. Ruang Staff

Standar = 7.4 m2

Kapasitas = 2 orang x 7.4 m2 = 14.8 m2 Sirkulasi 30% = 14.8 m2 x 30% = 4.44 m2 Luas = 14.8 m2 + 4.44 m2 = 19.24 m2 g. Ruang Tamu

Luas = Asumsi 9 m2 + ( 9 m2 + 30% sirkulasi ) = 9 m2 + 2.7 m2 = 11.7 m2

h. Ruang Rapat

Standar = 2.16 m2/ 0rang

Kapasitas = 15 orang x 2.16 m2 = 32.5 m2 Sirkulasi 30% = 32.5 m2 x 30% = 9.75 m2 Luas = 32.5 m2 + 9.75 m2 = 42.25 m2 i. Ruang Keamanan

Standar = 3.84/orang

Kapasitas = 3 Orang x 3.84 m2 =11.52 m2 Sirkulasi 30% = 11.52 x 30% =3.50 m2

Luas = 11. 52 m2 + 3.50 m2 = 11.02 m2 j. Ruang Servis karyawan

a). Ruang Ganti dan Loker

Standar = 0.8 m2 /orang

Kapasitas = 20 orang x 0.8 = 16 m2 Sirkulasi 30% = 16 m2 x 30% = 4.8 m2 Luas = 16 m2 + 4.8 m2 = 21 m2 b).Toilet

Kapasitas = 2 W, 2 Urinior, dan 1 westafel

= Asumsi 10 m2 Sirkulasi 30% = 10 x 30% = 3 m2 Luas = 10 m2 + 3 m2 = 13 m2 c). Ruang istrahat

kapasitas = Asumsi 11 m2 Sirkulasi 30% = 11 x 30% = 3.3 m2 Luas = 11 + 3.3 = 14.3 m2 d). Pantry

Kapsitas = Asumsi 9 m2

Sirkulasi 30% = 9 m2 x 30% =2.7 m2 Luas = 9 m2 + 2.7 m2 = 11.7 m2 3. Ruang kegitan penunjang

1). Musollah = Asumsi 48 m2 2). Mess Karyawan = 90 m2

3). Balai pertemuan nelyan = Asumsi 120 m2 4). Gudang es = asumsi 24 m2 5). cold strorage = 150 m2 6). Ruang ME

a. Ruang ME

Standar = Asumsi 18 – 20 m2/ orang Kapasitas = 1 orang x 20 m2 = 20 m2

Luas = 20 m2

b. Ruang Genset

Standar = 6.75 m2 Kapasitas = 1 unit

Luas = 6.75 m2 30% sirkulasi = 8.8 m2 c. Ruang Pompa

Luas = Asumsi 8 m2 + 30% sirkulasi

= 10.4 m2 7). Pelataran Parkir

a. Parkir Pengunjung Asumsi

a). Bahwa yang dating ke TPI adalah keluarga, dimana tipa keluarga beranggotakan 3 orang, maka jumlah pengunjung TPI adalah 417/ = 139 orang.

b. 60% pengunjung menggunakan kendaran pribadi, yaitu 60% x 139 orang = 70 unit

c. 50% yang membawa kendaraan dengan perbandingan mobil dan motor yaitu 20% : 30%

Mobil = 20% x 139 = 28

= 28 unit mobil

Luas standar = 8 m2

Luas Parkir = 8 m2 x 28 unit + 30% Sirkulasi

=264 m2

Motor = 30% x 139 = 41.7 motor

= 41.7 unit

Luas Standar = 2 – 2.5 m2

Luas parkir = 2 m2 x 41.7 + 30% sirkulasi

= 109 m2

d). Luas dermaga untuk pengunjung Luas standar = 6 m2

Luas dermaga = 6 m2 x(139 x 30% sirkulasi)

= 166 m2 b. Parkiran pengelola

Direncanakan disediakan 10 mobil = 10 x 8 m2

= 80 m2 Direncanakan disediakan 20 motor = 20 x 2 m2

= 40 m2

Jadi luas parkiran untuk pengelola adalah 80 m2 + 40 m2 + 30%

sirkulasi = 156 m2 a). Parkir mobil pick-up

Luasnya ditentukan oleh Luas =

L= produksi rata-rata

R= ruang gerak rata-rata (10.15 m2) D= daya angkut (2 ton)

Luas = 7 ton ×

= 35.53m2 + 30% sirkulasi = 46 m2

8). Dermaga nelayan

Direncanakan disediakan untuk 20% dari jumlah kapal yang menambat pada TPI, yaitu rata-rata setiap bulannya 90 unit.

Perahu/kapal = 20% x 90 unit

= 18 unit Luas standar = 10m2

Luas dermaga = 10 m2 x 18unit + 20% sirkulasi

= 216 m2

Jadi luas keseluruhan pelataran parkir yang direncanakan adalah 957 m2

9). Wc umum

Perbandingan pria: wanita Wc umum Pria

Standar = 6 m2

Urinoir = 3 Buah

Wastafel = 2 Buah

Luas WC = 3 unit x 6 m2

= 18 m2

Luas Urinior = 3 unit x 1,05 m2

= 3.15 m2

Luas westafel = 2 unit x 1,85 m2

= 3.7 m2

Luas toilet yaitu = 18 m2+3.15 m2+ 3.7 m2

= 24.85 m2 + 30% sirkulasi

= 25.15 m2 Wc umum Wanita

Standar = 6 m2

Wastafel = 2 Buah

Luas WC = 3 unit x 6 m2

= 18 m2

Luas westafel = 2 unit x 1,85 m2

= 3.7 m2

Luas toilet yaitu = 18 m2+ 3.7 m2

= 21.7 m2 + 30% sirkulasi

= 22 m2 10). Pos jaga

Asumsi = 16 m2

kapasitas = 2 unit

= 2 x 16

= 32 m2 11). Pelayanan BBM

Depot BBM = asumsi 15 m2 Gedung pelayanan BBM = asumsi 12 m2

Pompa BBM = asumsi 12 m2

Luas pelayanan BBM = 15 +12 +12

= 39 m2

Rekapitulasi

a. Ruang kegiatan utama

1) Ruang penjualan 560.3 m2

2) Ruang sortir 423 m2

3) Ruang Pengelolaan 296 m2 Total luas kegiatan utama 1.279 m2 b. Ruang kegiatan administrasi

1) Ruang pimpinan 19.6 m2 2) Ruang sekretaris 8.71 m2 3) Ruang personalia 20 m2 4) Ruang bagian operasional 11 m2

5) Ruang keuangan 11 m2

6) Ruang staff 9.06 m2

7) Ruang tamu 11,7 m2

8) Ruang rapat 42.25 m2

9) Ruang keamanan 11.02 m2 10) Ruang servis karyawan 60 m2

Total luas kegiatan administrasi 205 m2 c. Ruang kegiatan penunjang

1) Musallah 48 m2 2) Balai pertemuan nelayan 112 m2

3) Mess karyawan 100 m2

4) Workshop 16 m2

5) Cold storage 35 m2

6) Gudang es 25. m2

Total luas kegiatan penunjang 336 m2 d. Ruang kegiatan pelayanan

1) Ruang ME 39.2 m2

2) Pelataran Parkir 1.133 m2

3) WC umum 47.15 m2

4) Pos jaga 32 m2

5) Pelayanan BBM 39 m2 Total luas kegiatan pelayan 1.291 m2 Total luas lahan terbangun 3.372 m2 Luas lahan keseluruhan

Perbandingan minimal lahan terbangun dan ruang terbuka adalah 30:70. Maka luas lahan yang dibutuhkan oleh TTPI Kabupaten Kolaka adalah :

Luas lahan = 3.372 + 30% sirkulasi = 1.012

= 4.384 m2

= 70/30 x 4.384 = 10.229 Luas lahan = 10.229. m2 ± 1. Ha

3. Sistem struktur dan material

Struktur bangunan merupakan komponen utama yang berfungsi sebagai penyalur beban ke tanah dan memberikan perlindungan terhadap beban eksternal dan internal .

Pemilihan sistem struktur didasarkan pertimbangan sebagai berikut:

1) Sistem struktur 2) Model struktur

3) Material yang digunakan 4) Biaya yang tersedia

5) Teknologi yang digunakan

Berdasarkan pertimbangan di atas, maka penentuan bentuk struktur yang akan digunakan didasarkan atas kriteria sebagai berikut:

a. Syarat struktur mampu menahan beban. Tidak mengalami perubahan, stabil dan tahan lama.

b. Tahan terhadap pengaruh alam

c. Faktor estetika yang berpengaruh pada penampilan bangunan d. Penentuan modul dasar yang digunakan sesuai dengan modul

pendukung, yakni skala gerak manusia, skala peralatan, dan sistem struktur dan kontruksi.

e. Ketahanan bahan yang akan digunakan.

f. Kemudahan dalam pengerjaan.

Berdasarkan criteria di atas, maka sistem struktur yang digunakan adalah:

a) Sub struktur

Digunakan pondasi tiang pancang atau caisson dan pondasi paris, tergantung pada beban yang diperuntukkan.

(1) Pondasi untuk struktur yang tidak terkena air laut secara langsung.

(2) Sistem pondasi dangkal

Biasanya digunakan pada kondisi tanah yang memiliki tanah keras yang tidak terlalu dalam atau tanah yang berbatu cadas.

Sistem pondasi yang dangkal yang dapat digunakan di daerah pantai:

(a) Pondasi lajur (b) Pondasi setempat (c) Pondasi apung

(3) Sistem pondasi dalam

Sistem ini direkomendasikan untuk dipakai pada bangunan di daerah pantai karena kondisi tanah yang cenderung kurang stabil. Berdasarkan cara penyaluran bebannya

(a) Tiang tumpu (b) Tiang geser

Sedangkan berdasarkan metode pelaksanaannya (a) Tiang pancang

(b) Tiang bor

Untuk daerah pantai yang langsung terkena air laut secara umum dapat menggunakan sistem pondasi dalam maupun pondasi dangkal.

a). Super struktur

Klasifikasi pemilihan disesuaikan bangunan yang direncanakan:

(1) Struktur rangka bangunan

Sistem struktur yang direncanakan adalah menggunakan struktur rangka kaku/portal karena:

(a) Efektif digunakan pada bangunan dengan ketinggian kurang dari 10 lantai

(b) Ukuran balok dapat lebih kecil karena bebannya tidak begitu besar

(c) Apabila terdapat beban lateral seperti angin, struktur tetap stabil.

(d) Dapat membuat dinding partisi di mana saja.

(2) Struktur lantai bangunan

Alternative pemilihan sistem lantai yang digunakan pada bangunan TPI terdiri dari beberapa jenis, yaitu:

(a) Sistem lantai plat (b) Sistem lantai waffle

(c) Sistem lantai dasar (d) Sistem lantai berusuk

Jenis struktur lantai yang direncanakan akan digunakan pada bangunan TPI Kabupaten Kolaka adalah lantai plat, karena sangat efektif, mudah dan dalam pelaksanaannya, prefabrikasi, serta sesuai dengan rangka kaku.

b) Struktur atas bangunan

Struktur atas bangunan yang digunakan adalah struktur rangka baja, karena struktur tersebut sangat cocok diterapkan pada bangunan tepi pantai, serta pelaksanaannya mudah dan cepat.

Material yang digunakan yaitu perpaduan antara kayu, beton bertulang, batu bata/batu alam.

a. Sistem pengkondisian ruang a) Sistem pencahayaan

1) Pencahayaan alamia

Merupakan pemanfaatan alam yaitu sinar mata hari yang masuk ke dalam bangunan melalui bukaan jendela pada siang hari. Pencahayaan ini efesien untuk penerangan bangunan dengan pertimbangan bahwa cahaya yang masuk tidak meyilaukan mata.

2) Pencahayaan buatan

Pencahayaan buatan digunakan apabila:

(1) Keadaan cuaca buruk sehingga pemenuhan kebutuhan dalam ruang bkebutuhan pencahayaan berdasarkan fungsi ruang yaitu:

(2) Pada malam hari dimana aktivitas dalam ruang sedang atau akan berlangsung

Kebutuhan pencahayaan berdasarkan fungsi ruang yaitu:

(a) Pencahayaan pada ruang-ruang memakai lampu TL (b) Pencahayaan dermaga memakai lampu sorot.

b) Sistem penghawaan a) Penghawaan alamia

Penghawaan alamiah adalah mengkondisikan udara atau mengatur sirkulasi udara dengan memanfaatkan udara alam semaksimal mungkin. Beberapa factor yang diperhatikan dalam menggunakan sistem penghawaan alamiah adalah:

(1) Arah bangunan dan arah angin

(2) Macam penghawaan dan alam yang digunakan

(3) Tingkat kenikmatan pengkondisian ruang yang dibutuhkan b) Penghawaan buatan

Penghawaan buatan adalah pengkondisian udara atau mengatur temperature udara dengan menggunakan alat yang disebut AC.

Spesifikasi sistem penghawaan buatan antara lain:

(1) Mengontrol temperature ruang agar tidak terlalu panas atau dingin

(2) Mengatur kelembaban udara dalam ruang (3) Mengatur sirkulasi udara dalam ruang (4) Membersihkan udara.

Ditinjau dari penggunaanya, maka sistem penghawaan buatan terbagi atas:

(a) Sistem AC Unit (b) Sistem AC Sentral

b. Sistem utilitas dan perlengkapan bangunan 1) Sistem air bersih

Karena bangunan TPI ini memerlukan air bersih dalam jumlah besar. Suplai air bersih didapatkan dari PDAM dan didistribusikan dari suatu penampungan utama ke seluruh fasilitas.

Pengadaan air bersih ini mempertimbangkan berbagai hal diantaranya:

a) Efesiensi biaya

b) Cara pengontrolan terhadap kebocoran c) Kemudahan pengaliran

Untuk keperluan pemadaman kebakaran seperti sprinkler dan hydrant, menggunakan air yang terpisah dari tangki air minum yang diletakkan di bawah:

Gambar 5.3 Skema air bersih Keterangan:

M = meteran P = pompa

2) Sistem air kotor/pembuangan

Sistem jaringan pembuangan air kotor:

a) Cairan non kimia berupa air hujan, air kotor dari KM/WC dan wastafel dialirkan langsung ke roil kota.

b) Air kotor padat yang berasal dari KM/WC ditampung terlebih dahulu dalam septictank baru kemudian dialirkan ke bak peresapan.

c) Cairan yang berupa campuran bahan kimia atau yang mengandung lemak perlu diproses terlebih dahulu sebelum ke pembuangan roil kota.

RESERVI

OR ATAS UNIT

PLUMBING P

RESERVO IR BAWAH

P P

P CHILLER

FASILITA S

UNIT KEBAKARAN PDM M

Gambar 5.4 skema sistem pembuangan air kotor 3) Sistem jaringan listrik

Pelayanan distribusi listriksangat vital dalam menjaga berlangsungnya aktivitas kegiatan pada bangunan TPI ini yaitu sebagai sumber tenaga untuk penerangan dan peralatan penunjang lainnya. Suplai listrik terutama berasal dari PLN dengan genset sebagai back-up pembangkit listrik.

Gambar 5.5 Skema sistem elektrikal 4) Sistem komunikasi

wc Septic tank Peresapan

KM dan

wastafel Bak kontrol

Kitchen sink

Air hujan Roof drain

Roil kota AIR

KOTO R

Grease trao

PLN Gardu M

ATS Panel

utam a

Pane l caba

Penerangan ruangan, taman, ruang

luar, dll Pump, boiler/heater.

Kitchen,equi pment Genset

Sistem komunikasi yang dipergunakan terdiri dari:

a) Telepon

Untuk berkomunikasi dari dalam ke luar bangunan atau sebaliknya hubungan ini menggunakan sistem sambungan langsung fasilitas PT.Telkom

b) Faxcimile

Digunakan untuk menyampaikan atau mengirimkan data secara tertulis baik dalam maupun lura negeri, pemakaian alat ini untuk ruang pengelola.

c) Intercom

Untuk hubungan telekomunikasi antar ruang dalam bangunan.

d) Internet

Sistem komunikasi ini dipergunakan untukkomunikasi dari dan ke luar bangunan serta sebagai media perdagangan elektronik.

e) Sistem tata suara

Digunakan sebagai background music, pengumuman, panggilan, keamanan, dan sistem ini dapat dipadukan dengan sistem CCTV.

5) Sistem pembuangan sampah

Sampah adalah buangan atau barang-barang yang tidak terpakai atau sisa kegiatan manusia dan bangunan. Jenis sampah yang dihasilkan yaitu sampah basah dan sampah kering. Dasar pertimbangan sistem pembuangan sampah:

a) Kemudahan pengontrolan

b) Tidak mengganggu pemandangan dari dan ke dalam bangunan c) Kemudahan pengangkutan

d) Tidak menyebabkan polusi udara

Gambar 5.6 skema sistem pembuangan sampah 6) Sistem penganggulangan kebakaran

a) Smoke dan heat detector, dimana jika suhu ruangan melebihi batas maksimalnya sprinkler head akan pecah dan mengeluarkan air.

b) Fire hydrant, diletakkan di sekitar bangunan dalam radius 25-30 meter sebagai penyedia air untuk pemadam kebakaran c) Pilar hydrant, ditempatkan pada daerah strategis disekitar

bangunan agar jangkauan mobilpemadam kebakaran juga dapat memanfaatkan air laut sebagai sumber air.

d) Fire house cabinet dan fire alarm untuk memberitahukan apabila terjadi kebakaran yang ditempatkan dalam bangunan pada tempat yang mudah dilihat dan mudah dijangkau.

e) Sprinkler, jarak 6-9 m dengan radius pelayanan 25 m2.

f) Tabung CO2 diletakkan pada tempat yang mudah dilihat dan dijangkau

Sampah basah

Sampah kering

Penampungan sementara

Pengangkutan

Pembuangan akhir

Gambar 5.7 Skema sistem pengendalian kebakaran 7) Sistem penangkal petir

Sistem ini merupakan sistem keamanan untuk mencegah adanya bahaya aliran listrik yang dibawa oleh petir. Prinsip dari penangkal petir adalah memusatkan daerah sambaran petir ke titik yang dapat diamankan untuk diredam ke dalam tanah. Persyaratan penggunaan penangkal petir adalah dengan pertimbangan fungsi bangunan, situasi, ketinggian, dan besarnya bangunan. Sistem penangkal petir ini terdiri dari:

a) Sistem Tongkat Franklin

Yakni tongkat yang diletakkan di atas bangunan dengan penghantar listrik yang baik dan dihubungkan dengan kabel penghantar dengan suatu plat atau pipa logam yang ditanam dalam tanah. Syarat penggunaannya adalah:

(1) Tinggi antene diatas puncak 25-90 cm (2) Sudut perlindungan bangunan 450 (3) Jarak antene maximum 60 cm.

b) Sistem Faraday

Yaitu bangunan dikurung dalam suatu kurungan logam yang kemudian akhir dari ujung logam ini ditanam dalam tanah sehingga WATER

SUPPLY

RESERVOIR

PU MP

HYDRANT PILAR HYDRANT OUTDOOR

SPINKLER HYDRANT INDOOR

bangunan tidak lagi peka atau dapat dipengaruhi oleh pengaruh-pengaruh listrik dari luar. Syarat penggunaannya:

(1) Jarak maximum dari tepi bangunan 9 cm

(2) Jarak maksimal antara kedua konduktur parallel adalah 18 cm.

c) Sistem preventor

Penggunaan zat radioaktif pada terminal udara preventor yang terpasang pada antene yang mengandung zat radioaktif yang berfungsi mengisolasi udara dalam medan yang berbentuk setengah bola. Umumnya tipe konduktor yang digunakan :

(1) Type P1, radius 35 m, tinggi tiang 4,6 m dan luas area 3.850 m2 (2) Type P2, radius 50 m, tinggi tiang 4,6 m dan luas area 7.850 m2 (3) Type P3, radius 80 m, tinggi tiang 6 m dan luas area 20.000 m2 (4) Type P4, radius 100 m, tinggi tiang 6 m dan luas area 31.000

m2

Gambar 5.8 Skema sistem penangkal petir

Elektroda pertanahan

Antenna

Daerah perlindungan Terminal tanah

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2013. KabupatenKolakaDalamAngka. BPS KabupatenKolaka

De Chairam, Joseph and koppelman Lee E./ Ir. Januar Hakim. 1990.

StandarPerencanaanTapak, Jakarta :PenerbitErlangga

Ernst Neufert. 1990.Data ArsitekJilid I Jakarta :PenerbitErlangga

Ernst Neufert/SyamsulAmil. 1992.Data ArsitekJilid II Edisi : 33 Jakarta :PenerbitErlangga

Mubyanto Sutrisno Lukman, Nelayan Dan Kemiskinan, Study Ekonomi Antropologi Di Dua Pantai, Jakarta

Sultan, 2008 : Tempat Pelelangan Ikan Di Palopo Propinsi Sulawesi Selatan.

De Chiara, Joseph dan Callender, Jhon Hancock, “Time Saver Standar For Building Type”, Mc. Grow Hill, International Book Company

Sri Aztuti K, 2010 : Tempat Pelelangan Ikan Dengan Fasilitas Fishmarket Universitas “45” Makassar.

Website Resmi Kab. Kolaka http://kab.Kolaka https://docs.google.com/dokpus.kemenperin.go.id.id

http://en.wikipedia.org/wiki/Green_building, Januari 2009 http://www.kamusbesar.com/15085/industri

http://www.wikipedia.com/

Dokumen terkait