BAB II PEDOMAN PENJAMINAN KUALITAS A. METODE PENJAMINAN KUALITAS
A. PENDELEGASIAN KEWENANGAN
113. Pendelegasian kewenangan pengaturan kepada Peraturan Pimpinan Unit Kerja Eselon I hanya dimungkinkan untuk hal-hal yang sifatnya teknis administratif.
114. Pendelegasian kewenangan harus menyebutkan secara tegas mengenai ruang lingkup materi dan jenis peraturan pelaksanaan.
Contoh:
Ketentuan lebih lanjut mengenai Audit Investigatif diatur lebih lanjut dengan Peraturan Deputi Kepala BPKP Bidang Investigasi
a. Dalam pendelegasian kewenangan sedapat mungkin dihindari adanya delegasi blanko.
Contoh delegasi blanko:
Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Kepala BPKP ini, diatur lebih lanjut dengan Peraturan Deputi Kepala BPKP Bidang …………..
b. Peraturan pelaksanaan hendaknya tidak mengulangi ketentuan norma yang telah diatur di dalam peraturan yang mendelegasikan, kecuali jika hal tersebut memang tidak dapat dihindari.
c. Di dalam peraturan pelaksanaan tidak mengutip kembali rumusan norma atau ketentuan yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi yang mendelegasikan. Pengutipan kembali dapat dilakukan sepanjang rumusan norma atau ketentuan tersebut diperlukan sebagai pengantar (aanloop) untuk merumuskan norma atau ketentuan lebih lanjut di dalam pasal atau beberapa pasal atau ayat atau beberapa ayat selanjutnya.
B. PENCABUTAN
115. Pencabutan dilakukan apabila terjadi hal-hal:
a. Jika ada Peraturan Kepala BPKP yang tidak diperlukan lagi dan diganti dengan Peraturan Kepala BPKP baru, Peraturan Kepala BPKP yang baru harus secara tegas mencabut Peraturan Kepala BPKP yang lama, Peraturan Kepala BPKP yang baru harus secara tegas mencabut Peraturan Kepala BPKP yang tidak diperlukan itu.
b. Jika...
www.bpkp.go.id - 27 -
b. Jika materi dalam Peraturan Kepala BPKP yang baru menyebabkan perlu penggantian sebagian atau seluruh materi dalam Peraturan Kepala BPKP yang lama, di dalam Peraturan Kepala BPKP yang baru harus secara tegas diatur mengenai pencabutan sebagian atau seluruh Peraturan Kepala BPKP yang lama.
c. Peraturan Kepala BPKP hanya dapat dicabut melalui peraturan perundang-undangan yang setingkat atau lebih tinggi.
d. Pencabutan melalui Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya lebih tinggi dilakukan jika Peraturan Perundang-undangan lebih tinggi tersebut dimaksudkan untuk menampung kembali seluruh atau sebagian dari materi Peraturan Kepala BPKP yang dicabut itu.
e. Jika Peraturan Kepala BPKP baru mengatur kembali suatu materi yang sudah diatur dan sudah diberlakukan, pencabutan Peraturan Kepala BPKP itu dinyatakan dalam salah satu pasal dalam ketentuan penutup dari Peraturan Kepala BPKP yang baru, dengan menggunakan rumusan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
f. Pencabutan Peraturan Kepala BPKP yang sudah diundangkan dalam Berita Negara Republik Indonesia tetapi belum mulai berlaku, dapat dilakukan dengan peraturan tersendiri dengan menggunakan rumusan ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku.
g. Jika pencabutan Peraturan Kepala BPKP dilakukan dengan peraturan pencabutan tersendiri, peraturan pencabutan tersebut pada dasarnya memuat 2 (dua) pasal yang tertulis dengan angka arab, yaitu sebagai berikut:
1) Pasal 1 memuat ketentuan yang menyatakan tidak berlakunya Peraturan Kepala BPKP yang sudah diundangkan/ditetapkan.
2) Pasal 2 memuat ketentuan tentang saat mulai berlakunya Peraturan Kepala BPKP pencabutan yang bersangkutan.
Contoh:
Pasal 1
Peraturan Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Nomor … Tahun … tentang … (Berita Negara Republik Indonesia Tahun …Nomor …) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 2…
www.bpkp.go.id - 28 -
Pasal 2
Peraturan Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
116. Pencabutan Peraturan Kepala BPKP yang menimbulkan perubahan dalam Peraturan Perundang-undangan lain yang terkait, tidak mengubah Peraturan Perundang-undangan lain yang terkait tersebut, kecuali ditentukan lain secara tegas.
117. Peraturan Kepala BPKP atau ketentuan yang telah dicabut tetap tidak berlaku, meskipun Peraturan Kepala BPKP yang mencabut di kemudian hari dicabut pula.
C. PERUBAHAN
118. Perubahan dilakukan dengan:
a. menyisipkan atau menambah materi ke dalam Peraturan Kepala BPKP;
b. menghapus atau mengganti sebagian materi Peraturan Kepala BPKP.
119. Untuk perubahan Peraturan Kepala BPKP, batang tubuh terdiri atas 2 (dua) pasal yang ditulis dengan angka Romawi yaitu:
a. Pasal I yang memuat judul peraturan yang diubah atau pasal yang diubah dan memuat seluruh materi perubahan; dan
b. Pasal II yang memuat ketentuan tentang saat mulai berlaku.
120. Jika materi perubahan lebih dari satu pasal, setiap urutan perubahan dirinci dengan angka Arab (1,2,3, dan seterusnya).
Contoh:
Pasal I
Beberapa ketentuan dalam Peraturan Kepala BPKP Nomor … Tahun … tentang …, diubah sebagai berikut:
1. Ketentuan Pasal 10 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 10
………
2. Ketentuan Pasal 17 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 17
………
3. dan…
www.bpkp.go.id - 29 -
3. dan seterusnya………
Pasal II
Peraturan Kepala BPKP ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
121. Jika hanya ditambah atau disisipkan pasal baru, pasal baru dicantumkan di tempat sesuai dengan materi yang bersangkutan.
122. Pasal baru yang disisipkan di antara keduanya, ditambah huruf kapital (A,B,C dan seterusnya) pada nomor pasal baru.
Contoh:
4. Di antara Pasal 5 dan Pasal 6 disisipkan 2 (dua) pasal, yakni Pasal 5A dan Pasal 5B sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 5A
………
Pasal 5B
………
123. Jika dalam Peraturan Kepala BPKP disisipkan ayat baru yang tidak merupakan pengganti ayat yang dihapus, ayat baru itu hendaknya dicantumkan pada tempat yang sesuai dengan materinya. Ayat baru tersebut disisipkan diantara keduanya dengan tambahan huruf/abjad kecil a,b,c dan seterusnya yang diletakan diantara tanda baca kurung (()).
Contoh:
5. Di antara ayat (1) dan ayat (2) Pasal 20 disisipkan 2 (dua) ayat, yakni ayat (1a) dan ayat (1b) sehingga Pasal 20 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 20 (1) …
(1a) … (1b) … (2) …
124. Perubahan Peraturan Kepala BPKP hendaknya tidak mengubah sistimatika yang ada dalam Peraturan Kepala BPKP.
125. Jika sistimatika berubah atau materi berubah lebih dari 50% (lima puluh persen) atau esensinya berubah, Peraturan Kepala BPKP tersebut lebih baik dicabut dan disusun kembali dalam Peraturan Kepala BPKP yang baru.
126. Jika...
www.bpkp.go.id - 30 -
126. Jika yang diubah Lampiran Peraturan Kepala BPKP, nama Peraturan Kepala BPKP ditulis Perubahan Atas Peraturan Kepala BPKP yang diubah. Selanjutnya, redaksional untuk mengubah lampiran dituangkan dalam Pasal.
Contoh:
Pasal I
Mengubah Lampiran I dan Lampiran IV Peraturan Kepala BPKP Nomor
… Tahun … sehingga menjadi sebagaimana tercantum dalam Lampiran I dan Lampiran IV yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Kepala BPKP ini.
Pasal II
Peraturan Kepala BPKP ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
127. Jika dalam suatu Peraturan Kepala BPKP dilakukan penghapusan atas suatu bab, bagian, paragraf, pasal, atau ayat, maka urutan bab, bagian, paragraf, pasal atau ayat tersebut tetap dicantumkan dengan diberi keterangan dihapus.
Contoh:
a. Pasal 20 dihapus.
b. Pasal 25 ayat (3) dihapus, sehingga Pasal 25 berbunyi sebagai berikut:
(1) …..
(2) …..
(3) Dihapus
D. SALINAN
128. Peraturan Kepala BPKP hanya boleh beredar jika salinannya telah disahkan oleh Kepala Biro Hukum dan Humas atau pejabat yang diberi wewenang untuk mengesahkan dan diberi cap dinas sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Contoh…
www.bpkp.go.id - 31 -
Contoh:
Salinan sesuai dengan aslinya,
Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat
tanda tangan
NAMA (tanpa gelar dan/atau pangkat) NIP…….
129. Setiap Peraturan Kepala BPKP diberi nomor halaman pada setiap lembar halaman dengan menggunakan angka Arab diletakkan pada tengah atas, kecuali halaman pertama tidak diberi nomor.
BAB III…
www.bpkp.go.id - 32 -
BAB III
TATA BAHASA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN
A. BAHASA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN