1. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Menurut Kurikulum PAI (3: 2002) Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, ajaran Agama Islam, dibarengi dengan tuntutan untuk menghormati penganut Agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa. Sedangkan menurut Zakiyah Daradjat (1987:
87) Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup. Tayar Yusuf (1986: 35) mengartikan Pendidikan Agama Islam sebagai usaha sadar generasi tua untuk mengalihkan pengalaman, pengetahuan, kecakapan dan keterampilan kepada generasi muda agar kelak menjadi manusia bertakwa kepada Allah swt. Sedangkan menurut A. Tafsir Pendidikan Agama Islam adalah bimbingan yang diberikan seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam. (Abdul Majid, Dian Andayani, 2005: 130)
Menurut Undang-undang No. 2 Tahun 1989) Pendidikan Agama Islam adalah usaha untuk memperkuat iman dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan ajaran Islam, bersikap inklusif, rasional dan filosofis dalam rangka menghormati orang lain dalam hubungan kerukunan dan kerjasama antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan Nasional. (Aminuddin, dkk, 2006: 1)
Jadi, berdasarkan pengertian di atas bahwa Pendidikan Agama Islam merupakan usaha sadar yang dilakukan pendidik dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami, dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan Agama Islam adalah ikhtiar manusia dengan jalan bimbingan dan pimpinan untuk membantu dan mengarahkan fitrah Agama si anak didik menuju terbentuknya kepribadian utama sesuai dengan ajaran Agama.
2. Fungsi Pendidikan Agama Islam
Kurikulum Pendidikan Agama Islam untuk sekolah/ madrasah berfungsi sebagai berikut.
a. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Allah swt yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga.
Sekolah berfungsi untuk menumbuh kembangkan lebih lanjut dalam diri anak melalui bimbingan, pengajaran dan pelatihan agar keimanan dan ketaqwaan tersebut dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya.
b. Penanaman nilai sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
c. Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran Agama Islam.
d. Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pehaman dan pengalaman ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
e. Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya.
f. Pengajaran, tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum (alam nyata dan nir-nyata), sistem dan fungsional.
g. Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus di bidang agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain. (Abdul Majid, Dian Andayani, 2005: 134-135)
Agama berfungsi untuk (a) Memenuhi kebutuhan fitri dan emosi manusia (b) Menunjukkan kebutuhan yang baik dan boleh digunakan, serta sebagaimana cara mendapatkan dan menggunakan kebutuhan itu. (c) Mengangkat martabat dan kehormatan manusia. (Aminuddin 2006: 36)
3. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Menurut Kurikulum PAI (2002). Pendidikan Agama Islam di sekolah/
madrasah bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang Agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang harus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaannya, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Oleh karena itu berbicara Pendidikan Agama Islam, baik makna maupun tujuannya haruslah mengacu pada penanaman nilai-nilai Islam dan tidak dibenarkan melupakan etika sosial atau moralitas sosial. Penanaman nilai-nilai ini juga bagi anak didik yang kemudian akan mampu membuahkan kebaikan (hasanah) diakhirat kelak. (Abdul Majid, Dian Andayani, 2005: 135-136)
Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai suatu disiplin ilmu, mempunyai karakteristik dan tujuan yang berbeda dari disiplin ilmu yang lain. Bahkan sangat mungkin berbeda sesuai dengan orientasi dari masing-masing lembaga yang menyelenggarakannya. Pusat Kurikulum Depdiknas (2004: 4) mengemukakan bahwa Pendidikan Agama Islam di Indonesia adalah bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan, peserta didik melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang Agama Islam. Sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaannya kepada
Allah SWT, serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Menurut Arifin (1993) Pendidikan Agama Islam di samping bertujuan menginternalisasikan (menanamkan dalam pribadi) nilai-nilai Islami, juga mengembangkan anak didik agar mampu mengamalkan nilai-nilai itu secara dinamis dan fleksibel dalam batas-batas konfigurasi idealitas wahyu Tuhan.
Dalam arti, Pendidikan Agama Islam secara optimal harus mampu mendidik anak didik agar memiliki “kedewasaan atau kematangan” dalam berpikir, beriman, dan bertaqwa kepada Allah swt. Disamping itu juga mampu mengamalkan nilai-nilai yang mereka dapatkan dalam proses pendidikan, sehingga menjadi pemikir yang baik sekaligus pengamal ajaran Islam yang mampu berdialog dengan perkembangan kemajuan zaman.
Menurut Nizar (2001) tujuan Pendidikan Agama Islam secara umum dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok, jismiyah, ruhiyyat dan aqliyyat.
Tujuan (jismiyyat) berorientasi kepada tugas manusia sebagai Khalifah fi al-ardh, sementara itu tujuan ruhiyyat berorientasi kepada kemampuan manusia dalam menerima ajaran Islam secara kaffah, sebagai abd, dan tujuan aqliyyat berorientasi kepada pengembangan intelligence otak peserta didik.
Dari beberapa definisi di atas, terlihat bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam lebih berorientasi kepada nilai-nilai luhur dari Allah swt yang harus diinternalisasikan ke dalam diri individu anak didik lewat proses pendidikan.
Dan proses inilah yang akan mampu mengantarkan anak didik untuk melaksanakan fungsinya sebagai „abd dan khalifah, guna membangun dan memakmurkan dunia sesuai dengan konsep-konsep yang telah ditentukan Allah melalui Rasul-Nya. Namun yang perlu diperhatikan bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam seperti tergambar di atas harus selaras dengan tujuan pembelajaran yang dirancang. Sebab ketidakselarasan antara keduanya akan mengganggu realisasi target tujuan dari keduanya. (Ahmad Munjin nasih, Lilik Nur Kholidah, 2013: 7-9)
Menurut Aminuddin (2006: 2-36) Tujuan Pendidikan Agama Islam adalah untuk membentuk siswa yang berakhlak mulia dengan cara memahami
ajaran-ajaran Islam, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Membawa manusia kepada kehidupan yang lebih baik, sejahtera, damai, tenteram, di dunia dan akhirat. Dan membebaskan manusia dari kehidupan sesat.
4. Pentingnya Pendidikan Agama Islam
Seseorang baru bisa dikatakan memiliki kesempurnaan iman apabila dia memiliki budi pekerti/akhlak yang mulia. Dengan melihat arti Pendidikan Islam dan ruang lingkungkup itu, jelaslah bahwa dengan Pendidikan Islam kita berusaha untuk membentuk manusia yang berkepribadian kuat dan baik (berakhlakul karimah) berdasarkan pada ajaran Agama Islam. Oleh karena itulah, Pendidikan Islam sangat penting sebab dengan pendidikan Islam, orang tua atau guru berusaha secara sadar memimpin dan mendidik anak diarahkan kepada perkembangan jasmani dan rohani sehingga mampu membentuk kepribadian yang utama yang sesuai dengan ajaran Agama Islam.
Pendidikan Agama Islam hendaknya ditanamkan sejak kecil, sebab pendidikan pada masa kanak-kanak merupakan dasar yang menentukan untuk pendidikan selanjutnya. (Abdul Majid, Dian Andayani, 2005: 138-139)
Jadi, perkembangan Agama pada seseorang sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman hidup sejak kecil, baik dalam keluarga, sekolah, maupun dalam lingkungan masyarakat terutama pada masa pertumbuhan perkembangannya.
D. Urgensi Hubungan Penerapan Ice Breaking dengan Motivasi Belajar