• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI LANDASAN TEORI

A. Kerangka Teoretis

1. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

BAB II LANDASAN TEORI

A. Kerangka Teoretis

1. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

a. Hakikat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan salah satu bentuk p eny elenggaraan p endidikan y ang menitikberatkan p ada peletakan dasar ke arah p ertumbuhan dan p erkembangan fisik dan kecerdasan: daya p ikir, day a cip ta, emosi, spiritual, berbahasa/komunikasi, sosial. Dalam menuju kematanganny a, setiap anak memerlukan kesemp atan tumbuh dan berkembang dengan didukung berbagai fasilitas sarana dan p rasarana sep erti alat p ermainan edukatif, meubelair, ruang belajar/ bermain y ang memadai, serta suasana bermain y ang meny enangkan. Fasilitas sarana dan p rasarana y ang tersedia sekurang-kurangny a harus memenuhi standar minimal agar pelay anan Pendidikan Anak Usia Dini berjalan dengan baik sehingga p ertumbuhan dan p erkembangan anak dap at tercap ai secara op timal

Pentingny a p endidikan bagi anak usia dini didasarkan adany a berbagai hasil p enelitian y ang meny ebutkan bahwa masa dini usia merup akan p eriode kritis dalam p erkembangan anak (Djalal, 2002: 5). Pertumbuhan dan p erkembangan anak p ada usia dini sejak bayi dalam

16

STIE

Widya

Wiwaha

Jangan

Plagiat

 

rahim seorang ibu samp ai sekitar 6 tahun sangat menentukan derajat kesehatan, intelegensia, kematangan emosional, dan p roduktivitas manusia p ada tahap berikutny a. Dengan demikian investasi p embangunan manusia p ada usia dini merup akan investasi yang amat p enting bagi p embangunan sumber day a manusia berkualitas (Sy arief, 2002: 9). M asa kanak-kanak dan masa anak merupakan masa y ang sangat p enting khususny a dalam p erkembangan kognitif, sosial, emosional, dan fisik. Secara alamiah p erkembangan anak itu berbeda-beda, baik dalam intelegensia, bakat, minat, kreativitas, kematangan emosi, kep ribadian, keadaan jasmani, dan keadaan sosialny a.

Berbagai hasil p enelitian menunjukkan bahwa ada hubungan y ang sangat kuat antara p erkembangan y ang dialami anak p ada usia dini dengan keberhasilan mereka dalam kehidup an selanjutny a. M isalny a, anak-anak y ang hidup dalam lingkungan (baik di rumah maup un di KB atau TK) y ang kay a interaksi dengan menggunakan bahasa y ang baik dan benar akan terbiasa mendengarkan dan mengucapkan kata-kata dengan benar, sehingga ketika mereka masuk sekolah, mereka sudah memp uny ai modal untuk membaca. Tiger (2006: 475), meny atakan:

Early childhood environments provide an opportunity not only to teach social and academic skills to young children but also to enrich early educational experiences with preferred events, materials, and social intercations. Ideally, incorporating children's preferences into the design of educational environments will result in children enjoying and ultimately seeking learning opportunities.

STIE

Widya

Wiwaha

Jangan

 

Lingkungan anak-anak meny ediakan suatu kesemp atan y ang tidak hany a untuk mengajarkan sosial dan ketramp ilan akademis ke anak-anak tetapi juga untuk memp erkay a p engalaman awal bidang p endidikan dengan kegiatan y ang lebih disukai, material, dan interaksi sosial. Idealny a, menemani anak-anak ke dalam lingkungan p endidikan akan mengakibatkan anak-anak menikmati dan akhirny a menemukan p eluang belajar.

Sehubungan dengan fungsi-fungsi y ang telah dip ap arkan tersebut, maka tujuan p endidikan anak usia dini dap at dirumuskan sebagai berikut: 1) M emberikan p engasuhan dan p embimbingan y ang memungkinkan

anak usia dini tumbuh dan berkembang sesuai dengan usia dan p otensinya;

2) M engidentifikasi p eny imp angan y ang mungkin terjadi, sehingga jika terjadi p eny imp angan, dap at dilakukan intervensi dini;

3) M eny ediakan p engalaman y ang beranekaragam dan mengasy ikkan bagi anak usia dini, y ang memungkinkan mereka mengembangkan p otensi dalam berbagai bidang, sehingga siap untuk mengikuti p endidikan p ada jenjang sekolah dasar.

b. Perkembangan Anak Usia Dini

M enurut Jamaris dalam Sujiono (2009 : 54), p erkembangan merup akan suatu p roses y ang bersifat kumulatif, artiny a p erkembangan terdahulu akan menjadi dasar bagi p erkembangan selanjutnya Oleh sebab itu apabila terjadi hambatan p ada p erkembangan terdahulu maka p erkembangan selanjutny a cenderung akan mendap at hambatan.

STIE

Widya

Wiwaha

Jangan

 

Anak usia dini berada dalam masa keemasan di sepanjang rentang usia perkembangan manusia. M asa ini merup akan periode sensitif (sensitive periods), selama masa inilah anak secara khusus mudah meneerima stimulus-stimulus dari lingkunganny a. Pada masa p eka terjadi p ematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis sehingga anak siap meresp ons dan mewujudkan semua tugas-tugas p erkembangan y ang diharap kan muncul p ada p ola perilakuny a sehari-hari (Hainstock dalam Sujiono, 2009: 54).

Dalam Permendiknas nomor 58 tahun 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini disebutkan bahwa tingkat p encap aian p erkembangan anak usia dini melip uti asp ek nilai-nilai agama dan moral, asp ek fisik/motorik, asp ek kognitif, asp ek bahasa, dan asp ek sosio-emosional. Asp ek-asp ek perkembangan tersebut dijabarkan sebagai berikut:

1) Perkembangan nilai-nilai agama dan moral

Secara khusus p enanaman nilai-nilai keagamaan dan moral p ada anak usia dini adalah meletakkan dasar-dasar keimanan, kep ribadian/budi p ekerti y ang terpuji dan kebiasaan ibadah sesuai kemamp uan anak. Ada 3 aspek y ang harus dip erhatikan y aitu asp ek usia, asp ek fisik, dan aspek p sikis anak. Rasa dan nilai-nilai keagamaan akan tumbuh dan berkembang seiring dengan p ertumbuhan dan p erkembangan fisik dan p sikis anak.

STIE

Widya

Wiwaha

Jangan

 

Sedangkan menurut Kohlberg p erkembangan moral anak usia p rasekolah (PAUD) berada p ada tingkatan y ang p aling dasar y ang dinamakan dengan p enalaran moral p rakonvensional. Pada tingkatan ini anak belum menunjukkan internalisasi nilai-nilai moral (secara kokoh). Namun sebagian anak usia PAUD ada y ang sudah memiliki kepekaan atau sensitivitas y ang tinggi dalam meresp on lingkunganny a (p ositif dan negatif). Misalkan ketika guru/orang tua mentradisikan atau membiasakan anak-anaknya untuk berperilaku sop an sep erti mencium tangan orang tua ketika berjabat tangan, mengucap kan salam ketika akan berangkat dan p ulang sekolah, dan contoh-contoh p ositif lainny a maka dengan sendirinya p erilaku sep erti itu akan terinternalisasi dalam diri anak sehingga menjadi suatu kebiasaan mereka sehari-hari. Demikian p ula sebalikny a kalau kebiasaan negatif itu dibiasakan kep ada anak maka p erilaku negatif itu akan terinternalisasi p ula dalam dirinya

2) Perkembangan fisik

Perkembangan fisik sangat berkaitan erat dengan p erkembangan motorik anak. Motorik merup akan p erkembangan p engendalian gerakan tubuh melalui kegiatan y ang terkoordinir antara susunan saraf, otot, otak, dan spinal cord. Jadi, perkembangan motorik merup akan p erkembangan kemamp uan melakukan/meresp on suatu hal, dengan bertambahny a usia bertambah p ula kemamp uan motoriknya.

STIE

Widya

Wiwaha

Jangan

Plagiat

 

Perkembangan motorik merup akan cara tubuh untuk meningkatkan kemamp uan sehingga p erformany a menjadi lebih komp leks. Perubahan ini terjadi terus menerus sep anjang siklus kehidup an. Perkembangan motorik mencakup dua klasifikasi, y aitu kemamp uan motorik kasar dan kemamp uan motorik halus. M otorik kasar adalah gerakan tubuh y ang menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh y ang dip engaruhi oleh kematangan anak itu sendiri. M otorik halus adalah gerakan y ang menggunakan otot-otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu, yang dip engaruhi oleh kesemp atan untuk belajar dan berlatih.

3) Perkembangan kognitif

Perkembangan kognitif adalah kap asitas intelektual y ang dimiliki oleh seorang anak dan bagaimana kap asitas tersebut berkembang samp ai mereka dewasa kelak Para ahli p sikologi sep akat bahwa p erkembangan kognitif seorang anak p aling tidak dip engaruhi oleh 3 faktor. Faktor y ang p ertama adalah faktor hereditas, kemudian faktor kematangan individu dan faktor terakhir adalah faktor belajar.

Perkembangan kognitif anak p ada dasarnya merup akan asp ek p erkembangan y ang p erlu dirangsang dan distimulasi oleh p ihak luar terutama orang tua. Tanpa adanya rangsangan dan stimulasi dari orang tua, maka kap asitas kognitif anak tidak akan berkembang secara optimal.

STIE

Widya

Wiwaha

Jangan

Plagiat

 

4) Perkembangan bahasa

Bahasa merup akan elemen y ang sangat p enting dalam kehidup an manusia. Melalui bahasa individu belajar untuk bersosialisasi dengan lingkunganny a. Bahasa juga membantu anak untuk mengungkap kan p erasaan, p ikiran, dan keinginanny a kepada orang lain. M embaca dan menulis merup akan bagian dari belajar bahasa. Untuk bisa membaca dan menulis, anak p erlu mengenal beberapa kata dan beranjak memahami kalimat. Dengan membaca anak juga semakin bany ak menambah kosakata. Anak dapat belajar bahasa melalaui membaca buku cerita dengan ny aring. Hal ini dilakukan untuk mengajarkan anak tentang bunyi bahasa.

5) Perkembangan sosio-emosional

Pola p erilaku sosial y ang terlihat p ada masa kanak-kanak awal, sep erti y ang diungkap oleh Hurlock (1998:252) y aitu: kerjasama, p ersaingan, kemurahan hati, hasrat akan penerimaan social, simp ati, emp ati, ketergantungan, sikap ramah, sikap tidak mementingkan diri sendiri, meniru, p erilaku kelekatan

Erik Erikson (1950) dalam Pap alia dan Old, (2008 : 370) seorang ahli p sikoanalisis mengidentifikasi p erkembangan sosial anak:

a) Tahap 1: Basic Trust vs Mistrust (p ercaya vs curiga), usia 0-2 tahun.

Dalam tahap ini bila dalam meresp on rangsangan, anak mendap at p engalaman yang meny enamgkan akan tumbuh rasa p ercay a diri, sebalikny a pengalaman yang kurang meny enangkan akan menimbulkan rasa curiga;

STIE

Widya

Wiwaha

Jangan

 

b) Tahap 2 : Autonomy vs Shame & Doubt (mandiri vs ragu), usia 2-3 tahun.

Anak sudah mamp u menguasai kegiatan meregang atau melemaskan seluruh otot-otot tubuhny a. Anak p ada masa ini bila sudah merasa mamp u menguasai anggota tubuhny a dap at meimbulkan rasa otonomi, sebalikny a bila lingkungan tidak memberi kepercay aan atau terlalu bany ak bertindak untuk anak akan menimbulkan rasa malu dan ragu-ragu;

c) Tahap 3 : Initiative vs Guilt (berinisiatif vs bersalah), usia 4-5 tahun.

Pada masa ini anak dap at menunjukkan sikap mulai lepas dari ikatan orang tua, anak dapat bergerak bebas dan berinteraksi dengan lingkunganny a. Kondisi lep as dari orang tua menimbulkan rasa untuk berinisiatif, sebalikny a dap at menimbulkan rasa bersalah;

d) Tahap 4 : Industry vs Inferiority (p ercay a diri vs rasa rendah diri), usia 6 tahun – p ubertas.

Anak telah dap at melaksanakan tugas-tugas p erkembangan untuk meny iap kan diri memasuki masa dewasa. Perlu memiliki suatu keteramp ilan tertentu. Bila anak mamp u menguasai suatu keteramp ilan tertentu dap at menimbulkan rasa berhasil, sebalikny a bila tidak menguasai, menimbulkan rasa rendah diri.

STIE

Widya

Wiwaha

Jangan

 

2. Kinerja

a. Pengertian Kinerja

Dalam bahasa Indonesia, kinerja disebut juga dengan p restasi kerja. Prestasi kerja atau kinerja memp unyai arti sebagai ungkapan kemamp uan y ang didasari oleh sebuah pengetahuan serta sikap dan keteramp ilan, untuk menghasilkan suatu hal. Sedangkan prestasi kerja diartikan sebagai suatu pencap aian atas p ersy aratan pekerjaan tertentu y ang tercermin dari outp ut y ang dihasilkan baik dari kuantitas atau mutuny a.

Jika dilihat dari asal katany a, kata kinerja adalah terjemahan dari kata Performance, y ang menurut The Scribner-Bantan English Dictionary, terbitan Amerika dan Canada (1979), berasal dari akar kata ’to perform’ dengan beberapa ’entries’ y aitu :

1) melakukan, menjalankan, melaksanakan

2) memenuhi atau melaksanakan kewajiban suatu niat atau nazar melaksanakan atau menyemp urnakan tanggung jawab

3) melakukan sesuatau y ang diharapkan oleh seseorang atau mesin

Dalam p erkembangan ilmu manajemen selanjutny a, p engertian kinerja berkembang sangat cep at, sehingga bany ak sekali p ara ahli y ang mendefinisikan kinerja sebagai berikut.

1) Armstrong dan Baron dalam Wibowo (2007: 2) meny amp aikan bahwa: kinerja (p erformance) adalah tentang melakukan p ekerjaan dan hasil y ang dicap ai dari p ekerjaan tersebut. Kinerja merup akan

STIE

Widya

Wiwaha

Jangan

 

hasil p ekerjaan yang memp uny ai hubungan y ang kuat dengan tujuan strategis organisasi, organisasi, kep uasan konsumen dan memberikan kontribusi ekonomi.

2) Gilbert dalam Notoatmojo (2009: 124) mendefinisikan kinerja adalah ap a y ang dap at dikerjakan oleh seseorang sesuai dengan tugas dan fungsiny a, ap abila seorang p endidik , maka kinerjany a adalah kemamp uan mengajar dan uasaha dalam membuat p erencanaan p embelajaran selama aktivitas p embelajaran.

3) Hasibuan (2001: 34) dikutip oleh Nurchasanah (Jurnal M P, 2012: 300) mengemukakan bahwa kinerja seseorang merup akan kombinasi dari kemamp uan, usaha dan kesemp atan y ang dap at dinilai dari hasil kerjany a.

4) M angkunegara (2013: 67) mendefinisikan kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas y ang dicap ai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasny a sesuai dengan tanggungjawab y ang diberikan kep adany a. Tinggi rendahny a kinerja p ekerja berkaitan erat dengan sistem p emberian p enghargaan y ang diterap kan oleh lembaga atau organisasi temp at mereka bekerja. Pemberian p enghargaan y ang tidak tep at dap at berp engaruh terhadap peningkatan kinerja seseorang. 5) Kinerja merup akan suatu fungsi dari motivasi dan kemamp uan untuk

meny elesaikan tugas atau p ekerjaan, seseorang harus memiliki derajat kesediaan dan tingkat kemamp uan tertentu. Kesediaan dan

STIE

Widya

Wiwaha

Jangan

 

keteramp ilan seseorang tidaklah cukup efektif untuk mengerjakan sesuatu tanp a pemahaman yang jelas tentang apa y ang akan dikerjakan dan bagaimana mengerjakanny a (Harsey and Blanchard, 1993).

6) Kinerja merujuk kep ada tingkat keberhasilan dalam melaksanakan tugas serta kemamp uan untuk mencap ai tujuan y ang telah ditetap kan. Kinerja diny atakan baik dan sukses jika tujuan y ang diinginkan dap at tercap ai dengan baik (Donelly , Gibson and Ivancevich, 1996).

7) As’ad (2000: 47) mendefinisikan kinerja sebagai hasil y ang dicap ai individu menurut ukuran y ang berlaku untuk pekerjaan y ang bersangkutan.

8) M enurut Rukmana (2000: 32), kinerja adalah hasil kerja y ang dap at dicap ai oleh seseorang atau sekelomp ok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam upay a mencap ai tujuan organisasi.

9) Pencap aian tujuan y ang telah ditetap kan merup akan salah satu tolok ukur kinerja individu. Ada tiga kriteria dalam melakukan penilaian kinerja individu, yakni : (a) tugas individu; (b) p erilaku individu; dan (c) ciri individu (Robbin, 1996).

Dengan demikian, kinerja adalah kesediaan seseorang atau kelompok orang untuk melakukan suatu kegiatan dan meny emp urnakanny a sesuai dengan tanggung jawabny a dengan hasil sep erti y ang diharapkan. Secara skematis, kinerja dap at digambarkan sebagai berikut:

STIE

Widya

Wiwaha

Jangan

Plagiat

 

Gambar 2.1 Hubungan Dimensi Kerja

M enurut model partner-lawyer (Donelly , Gibson and Ivancevich, 1994), kinerja individu p ada dasarnya dip engaruhi oleh faktor-faktor:

a. Harap an mengenai imbalan/insentif b. Dorongan atau motivasi

c. Kemamp uan, kebutuhan dan sifat d. Persep si terhadap tugas

e. Imbalan internal dan eksternal

f. Persep si terhadap tingkat imbalan dan kep uasan kerja b. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja

Setiap kary awan berbeda dalam bany ak hal, sehingga setiap atasan p erlu mengetahui bagaimana p erbedaan memp engaruhi kinerja bawahanny a. M enurut Byars dan Roe (1984) y ang dikutip oleh

Kemampuan Kepemimpinan

Mot ivasi Ker j a Peluang

Kesejaht er aan Kine rj a

STIE

Widya

Wiwaha

Jangan

Plagiat

 

Eksimaningrum (1998: 24), ada dua faktor y ang memp engaruhi kinerja, y aitu faktor individu dan faktor lingkungan, yang diuraikan sebagai berikut:

1) Faktor individu

Faktor individu sangat menentukan terhadap kualitas kinerja personal y ang termasuk didalamnya membangkitkan motivasi karena adany a dorongan untuk mendapatkan imbalan berup a insentif yang merup akan salah satu dari p emenuhan kesejahteraan. Dengan adany a p erbaikan kesejahteraan karena sebuah harap an berup a insentif akan membangkitkan motivasi kerja. Sebagai bentuk konsekuensi terhadap p emenuhan harap an tersebut akan mengerahkan segala kemampuan y ang ada p ada diri personal tersebut berup a :

a) Effort (usaha) y ang menunjukkan sejumlah energi fisik mental y ang digunakan untuk meny elesaikan tugas.

b) Abilities y aitu sifat-sifat p ersonal y ang diperlukan untuk melaksanakan suatu tugas.

2) Faktor-faktor Lingkungan

Faktor lingkungan memp engaruhi kinerja adalah kondisi fisik, p eralatan, waktu, material, pendidikan, supervisi, desain organisasi, p elatihan dan keberuntungan. Faktor-faktor lingkungan ini tidak langsung menentukan kinerja seseorang, tetap i

STIE

Widya

Wiwaha

Jangan

 

memp engaruhi faktor-faktor individu. Faktor lingkungan melip uti didalamny a adalah kualitas kepemimp inan oleh seorang top manajer. Sikap , prilaku dan jiwa kep emimpinan berp engaruh terhadap motivasi bawahan. Kebijakan y ang diambil terutama menyangkut tingkat kesejahteraan akan memiliki dampak p ositif terhadap motivasi kerja. Dengan motivasi kerja akan meningkatkan kualitas kinerja.

3. Kesejahteraan

Pendidik merup akan salah satu p rofesi dalam kep endidikan y ang memp unyai p eran strategis dalam p endidikan kita, y aitu sebagai p elaku utama dalam setiap p erubahan dan inovasi dalam bidang p endidikan. Dalam istilah y ang lebih p op uler dapat dikatakan sebagai ujung tombak dalam meraih kesuksesan dalam p rogram-p rogram p endidikan.

Pendidik merup akan p emeran utama dalam p embaharuan p endidikan. M elalui p endidik , p embaharuan-p embaharuan tersebut dap at samp ai kep ada siswa. Dengan demikian tanggung jawab p endidik sangat besar untuk tercapainy a tujuan pendidikan. Harus diakui bahwa kemajuan di bidang pendidikan sebagian besar tergantung p ada kewenangan dan kemamp uan p endidik /staf p engajar. (Court 1993:15)

Mengingat p entingny a p eranan p endidik dalam menentukan kemajuan p endidikan, maka kebutuhan p endidik p erlu diperhatikan, baik kebutuhan internal maupun kebutuhan eksternal. Kebutuhan internal y aitu

STIE

Widya

Wiwaha

Jangan

 

suatu kebutuhan manusia secara universal yang melip uti: (1) kebutuhan fisik/biologis y aitu: sandang, p angan, p ap an rekreasi, olah raga, dan lain-lain, (2) kebutuhan sosial p sikologis y ang melip uti rasa aman, kep astian masa depan, ingin dihargai, berp restasi dan lain-lain, serta (3) kebutuhan sp intual/rohaniah, berup a menjalankan ibadah menurut agama dan kepercay aanny a. Kebutuhan ekternal y aitu kebutuhan diluar pendidik terutama berup a fasilitas y ang dip erlukan untuk mewujudkan kondisi sekolah sebagai lembaga p endidikan y ang memungkinkan p endidik melaksanakan p ekerjaan/ jabatan secara efektif, efisien, p roduktif dan berkualitas, sep erti gedung sekolah, laboratorium, perp ustakaan, ruang kantor dan sebagainy a (Dep diknas.2001).

Kebutuhan internal dan eksternal p endidik ini dap at terp enuhi dengan memberikan kesejahteraan p ada p endidik baik kesejahteraan materiel maup un nonmateriel. Dengan demikian dap at dikatakan bahwa kesejahteraan materiel adalah kesejahteran untuk p emenuhan kebutuhan internal fisik/biologis dan kebutuhan eksternal, sedangkan kesejahteran non-materiel adalah kesejahteraan untuk p emenuhan kebutuhan internal pendidik y aitu kebutuhan sosial p sikologis dan kebutuhan kebutuhan sp iritual/rohaniah. Apabila kesejahteraan pendidik terjamin, diharap kan p endidik dap at memberi perhatian lebih dalam proses pembelajaran.

Kesejahteraan dalam arti luas meliputi gaji, tunjangan-tunjangan, insentif dan lain-lain y ang diberikan karena menjalankan tugasny a. Lebih

STIE

Widya

Wiwaha

Jangan

 

lanjut dikatakan kesejahteraan melip uti asp ek materiel y ang berupa gaji, insentif, peny ediaan fasilitas-fasilitas sep erti: p erumahan, p erp ustakaan, tunjangan kesehatan dan sebagainy a. Dan asp ek non materiel sep erti, kemudahan kenaikan p angkat, suasana kerja, p erlindungan hukum, jaminan sosial dan lain-lain. (Dedi Sup riyadi 1998: 7).

Pengembangan lembaga p endidikan harus dimulai dengan penataan sumber day a manusia p endidik terutama y ang meliputi imbal jasa, suasana rasa aman dalam bekerja, kondisi kerja y ang baik, hubungan antar p ribadi y ang sehat dan kesemp atan p eningkatan karier.

Langkah-langkah ke arah lebih meningkatkan kesejahteraan p endidik telah bany ak diambil oleh beberapa p emerintahan daerah. Di beberap a kabup aten, p ersentase insentif p endidik lebih tinggi dibanding p ekerjaan lainny a.

Perhatian p emerintah Indonesia berkaitan dengan kesejahteraan p endidik tersurat dalam Undang-Undang Rep ublik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) p asal 40 ay at 1 y ang bunyiny a sebagai berikut:

Pendidik dan tenaga kep endidikan berhak memp eroleh:

1). p enghasilan dan jaminan kesejahteraan sosial y ang pantas dan memadai; 2). p enghargaan sesuai dengan tugas dan p restasi kerja;

3). p embinaan karier sesuai dengan p engembangan kualitas;

4). p erlindungan hukum dalam melaksanakan tugas dan hak atas hasil kekay aan intelektual; dan

5). kesempatan untuk menggunakan sarana, p rasarana, fasilitas untuk menunjang kelancaran p elaksanaan tugas (Dep diknas, 2003: 28).

STIE

Widya

Wiwaha

Jangan

 

Langkah yang sudah dilakukan pemerintah dalam up aya p eningkatan kesejahteraan p endidik adalah dengan mengeluarkan kebijakan y aitu menaikkan insentif bagi tenaga p endidik kususny a pendidik PAUD, y ang berlaku mulai bulan Januari 2015. Walaup un p ada awalnya belum bisa melay ani secara keseluruhan. Dan p ada tahun anggaran 2017 p emerintah Kabup aten Kebumen sudah mamp u untuk meningkatkan kesejahteraan melalui p emberian insentif mengajar kep ada seluruh p endidik PAUD y ang telah memenuhi kriteria. Diharap kan dengan adany a insentif ini kesejahteraan p endidik akan meningkat, y ang memiliki keterkaitan erat dengan meningkatny a motivasi kerja dengan demikian kinerja pendidik PAUD meningkat dan prestasi siswa juga meningkat dan kualitas sumber daya manusia juga akan meningkat p ula dan lebih jauh lagi mutu p endidikan akan meningkat.

Pemberian kesejahteraan ini tercermin dalam p emberian gaji/insentif dari p emerintah kabup aten dalam APBD, dan ada himbauan kep ada seluruh p emerintahan desa untuk lebih memp erhatikan lembaga PAUD dan memberikan dukungan berup a anggaran y ang dimasukan p ada RAPBDes. Sehingga bisa memberikan tambahan insentif dari APBD Kabup aten sesuai kondisi dan kemamp uan desanya masing-masing. Pada fasilitas lainny a juga adany a dukungan dari p emerintah desa y ang berup a : kebijakan kemudahan p elay anan, rasa aman, ny aman dan p eny ediaan fasilitas, kelancaran segala urusan, p emberian jaminan sosial dan p emberian p enghargaan.

STIE

Widya

Wiwaha

Jangan

 

Dari uraian p endap at-p endap at para ahli diatas dalam penelitian ini y ang dimaksud dengan kesejahteraan p endidik adalah imbalan y ang

Dokumen terkait