BAB III TAQARRUB DALAM PERSPEKTIF BADIUZZAMAN
2. Pendidikan Badiuzzaman Said Nursi
Badiuzzaman Said Nursi mulai menimba ilmu dari bilik ayahnya sendiri, Mirza dan kepada saudara lelakinya, Abdullah. Sebagaimana lazimnya pelajar muslim, ia mulai mengkaji bidang nahwu dan sharf.13 Pendidikan Said Nursi berawal dari kakaknya, Abdullah yang saat itu masih belajar
11Sukran Vahide, Biografi Intelektual…, h. 5. 12Sukran vahide, Biografi Intelektual…, h. 6. 13
Maria Ulfa Siregar, “Pemikiran Teologis Badi’uzzaman Said Nursi”, Tesis, Medan: Pascasarjana UIN Sumatera Utara, 2015, h. 24.
di Tag. Said memanfaatkan kepulangan kakaknya setiap hari Jum’at untuk belajar darinya. Saat usia 10 tahun Said Nursi mulai belajar di Tag bersama Ustadz Muhammad Emin Efendi.
Kecerdasan Said terkenal luar biasa, ia mampu menghafal semua yang diajarkan gurunya dalam waktu singkat. Setelah dari Tag, ia belajar di desa Pirmis, lalu madrasah Syeikh Abdul Rahman di desa Nursin, Kugak, Geyda, Arvas, madrasah Syaikh Muhammad Emin Effendi di Bitlis, Madrasah Mir Hasan Wali di Mukus, Gevas dan Beyazid. Said Nursi adalah anak yang terkenal cerdas. Bahkan pemahaman Said mengungguli teman yang lebih dahulu masuk madrasah tersebut.14
Said Nursi memiliki kecerdasan yang luar biasa. Ia mampu memahami dan menghafal kitab-kitab yang cukup berat dalam waktu singkat, sepeti Jam’u al Jawami’, Syarh al Mawâqif dan Tuhfah al Muhtaj karya Ibnu Hajar al-Haitami yang merupakan kitab induk fikih Syafi’i. Guru-guru beliau juga takjub pada Said Nursi. Ilmu yang semestinya dipelajari selama 15 tahun mampu ia kuasai dalam waktu tiga bulan.15
Pada usia 15 tahun, Said Nursi telah mampu menguasai 80 kitab. Kitab-kitab tersebut telah didalami dan dipahami Said Nursi dengan baik. Bahkan teksnya nyaris
14
Habiburrahman El Shirazy, Novel Api Tauhid, h. 171. 15Ihsan Kasim Salih, Said Nursi: Pemikir…, h. 11.
1. Al-‘Ajz mempunyai arti lemah. Tahap ini mengajak manusia menyadari kelemahan dan ketidakberdayaan diri di hadapan Allah. Al-‘ajz merujuk pada ayat Al-Quran “janganlah engkau menganggap dirimu suci”. Ayat ini mengajarkan manusia jangan pernah menganggap dirinya sendiri sempurna dan tak memiliki dosa. Meskipun fitrah manusia cenderung mencintai dirinya sendiri sehingga ia lebih memuja dirinya sendiri daripada orang lain. Dia menyanjung dirinya seolah –olah dia yang paling baik ibadahnya, dan menganggap dirinya sendiri bebas dari cela. Dia menganggap dirinya bebas dari kesalahan seolah-olah memuja dirinya sendiri.
Al-‘Ajz sebagai tahap pertama agar manusia melihat kelemahan dirinya, sehingga tidak terjebak dalam orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhannya. Dalam artian ia menuhankan dirinya sendiri. Kemampuan serta kecakapan yang dianugerahkan kepadanya seharusnya dijadikan alat untuk mengagungkan dan menyembah Allah. namun jika ia memandang kecakapan-kecakapan berasal dari dirinya dan bukan pemberian Allah, ini adalah kesesatan yang nyata, ia terjebak dalam kesombongan dan sifat ujub.
Pengakuan kelemahan dan ketidakberdayaan diri (al-‘ajz) merupakan sifat yang dapat membawa seorang hamba kepada Allah SWT. Jalan ini laluan yang amat singkat dan
77
Sehubungan dengan aturan dan adat tarekat Nursi mengingatkan bahwa amalan zikir atau wirid yang menghasilkan żauq di dalam hati seyogyanya menjadi jalan pembuka kepada suatu kesadaran yang tinggi dan mulia yakni untuk melaksanakan segala perintah Allah SWT dan mempraktikkan sunnah Rasulullah saw, bukan sebaliknya seperti kebiasaan sebagian penganut awam tarekat yang lebih mengutamakan zikir dan wirid tarekat dibandingkan amalan fardlu dan sunnah.80
Tatacara dzikir dalam konsep Said Nursi adalah mengamalkan segala sunnah-sunnah Nabi Muhammad saw, melakukan semua perintah Allah SWT yang bersifat fardlu seperti melaksanakan ibadah shalat dengan memenuhi syarat dan rukunnya, dilanjutkan dengan membaca dzikir seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw serta meninggalkan dosa-dosa besar.
Menurut Said Nursi langkah sepuluh (al-laṭâif al-‘asyr) dan martabat tujuh (sebagai metode penyucian jiwa dalam usaha mendekatkan diri kepada Allah yang lazim dipraktikkan oleh aliran tarekat tasawuf) adalah jalan yang sulit untuk diamalkan oleh orang awam, oleh karena itu Nursi menggagas empat jalan untuk mencapai hakikat Allah SWT. Jalan ini lebih dekat kepada hakikat syari’ah daripada hakikat tasawuf. Berikut empat jalan pintas dan aman membawa salik kepada hakikat Allah:
80Nursi, Menjawab yang..., h. 609.
46 dihafalnya. Para ulama seringkali menguji kedalaman pengetahuan Said Nursi dengan pertanyaan-pertanyaan berat. Said Nursi mampu menjawab pertanyaan satu persatu dengan tenang, tuntas dan tepat. Seringkali semua yang hadir dalam majelis tersebut takjub akan kedalaman ilmu agama Said Nursi.
Pada tahun 1888, dengan ketekunan luar biasa Badiuzzaman Said Nursi masuk di sekolah Bayazid, yang ditempuhnya hanya dalam waktu tiga bulan.16 Pada tahun 1889 M Badiuzzaman Said Nursi berguru pula kepada seorang ulama terkenal, Fathullah Afandi. Nursi mampu menyelesaikan kitab al-Jami’17 dan beberapa kitab unggul lain dalam waktu cepat. Syaikh Affandi mengujinya seputar kitab-kitab yang telah dibaca Nursi. Ia dengan mantap mampu menjawab setiap soal yang diajukan.
Ia juga menghafal kitab Jam’ul Jawami’ (Kitab tentang ushul fiqih) karya Ibn as-Subki dalam waktu satu minggu. Fakta ini membuat Syaikh Afandi memujinya sebagai perpaduan antara otak jenius dan daya hafal yang luar biasa, serta menulis pada sampul kitab tersebut: “laqad jama’a fi hifẓihi, jam’al-Jawâmi’, jam’ihi fî jum’atin”
16Ihsan Kasim Salih, Said Nursi: Pemikir…, h. 10-11.
Sungguh seluruh kitab Jam’ul Jawâmi’ telah mampu dihafal hanya dalam satu minggu.18
Tidak lama kemudian popularitas Said Nursi tersebar luas. Lebih dari delapan puluh kitab induk tentang ilmu-ilmu keislaman berhasil dihafal. Bukan hanya kitab-kitab yang dihafal Nursi, ia pun menghafal kamus Al-Qamus Al-Muhiṭ, karya al-Fairuz Abadi, sampai pada huruf “Sin”. Badiuzzaman Said Nursi kemudian pergi ke kota Bitlis untuk menelaah sejumlah besar buku ilmiah dan menghafal sebagian darinya. Pada tahun 1894, Badiuzzaman Said Nursi pergi menuju kota Wan untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu modern, seperti geografi, kimia, fisika, geologi, filsafat, sejarah, geografi dan lainnya.19
Berkat potensi beliau yang mampu menyerap berbagai disiplin ilmu dan otaknya yang sangat jenius popularitas Said Nursi tersebar luas dan diberi gelar Badiuzzaman (Bintang Zaman).20