• Tidak ada hasil yang ditemukan

6.3 Karakteristik Informan

6.4.1.2 Pendidikan dan Pelatihan

Pendidikan formal yang dimiliki pegawai di Subdinkes Gawat Darurat dan Bencana sangat beragam dan tidak semua karyawan berlatar belakang pendidikan dari kesehatan. Seperti penuturan informan di bawah ini:

“Disini latar belakang pendidikannya macam-macam, ada yang dari bidang Administrasi, SKM, ada juga yang perawat, tidak semuanya dari bidang kesehatan.” (Informan 1)

Dari hasil wawancara mengenai kesesuaian latar belakang pendidikan dengan Tupoksi (Tugas Pokok dan Fungsi) karyawan dapat dilihat bahwa adanya ketidaksesuaian. Berikut kutipan hasil wawancara dengan dua informan mengenai kesesuaian latar belakang pendidikan dengan Tupoksi karyawan:

“Banyak yang ga sesuai.” (Informan 2)

“Seharusnya kan minimal pendidikannya D3, karena kan kita tugasnya bikin kebijakan. Tp kebanyakan baru lulus SMA. Jadinya belum sesuai dengan Tupoksinya.” (Informan 3)

Namun menurut pendapat salah satu informan, pendidikan tidak mempengaruhi pelaksanaan tugas, terutama yang berhubungan dengan penanggulangan bencana banjir. Berikut hasil wawancara dari informan tersebut:

“Kalau untuk menangani bencana banjir, saya rasa siapapun terlepas dari pendidikannya dapat melaksanakan tugas dengan baik yang penting sesuai dengan prosedur.” (Informan 2)

Hal ini senada dengan yang dituliskan Siagian dalam bukunya yang berjudul Teori Motivasi dan Aplikasinya, bahwa belajar adalah proses yang berlangsung seumur hidup dan tidak terbatas pada pendidikan formal yang harus ditempuh di lembaga pendidikan. Pendidikan formal memang penting karena merupakan dasar untuk menempuh pendidikan yang sifatnya non formal. Harbison juga menuliskan dalam bukunya yang berjudul Perencanaan Pendidikan dan Sumber Daya Manusia, bahwa pendidikan formal diarahkan kepada pembentukan orang yang bisa dilatih, sedangkan untuk mengembangkan ketrampilan-ketrampilan khusus untuk bekerja dapat dilatih pada saat bekerja. Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam bekerja tidak selalu dibutuhkan kesesuaian pendidikan dengan pekerjaan yang dimiliki, karena hal ini tergantung dari kemampuan pembelajaran dan adaptasi dari SDM itu sendiri.

Pada Subdinkes Gawat Darurat dan Bencana Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, secara rutin terselenggara pelatihan mengenai penanggulangan bencana, namun pelatihan yang terfokus pada penanggulangan bencana banjir belum pernah diadakan. Berikut hasil wawancara dengan beberapa informan mengenai penyelenggaraan kegiatan pelatihan penanggulangan bencana banjir:

“Kalau khusus banjir ga ada, tapi kalau mengenai bencana secara keseluruhan ada pelatihannya.” (Informan 2)

“Kalau untuk penanggulangan bencana sering ada. Tapi tidak terfokus dengan banjir, jadi bencana umum aja.” (Informan 4)

Dalam buku pedoman penanggulangan banjir bidang kesehatan di Provinsi DKI Jakarta, disebutkan beberapa pelatihan yang harus dimiliki oleh SDM yang menunjang pelaksanaan penanggulangan banjir, yaitu semua tenaga medis dan

paramedis (perawat/bidan) dididik untuk menangani korban banjir dengan masalah kesehatan gawat darurat, pelatihan BHD (Bantuan Hidup Dasar) bagi tenaga non medis, dan pelatihan untuk melakukan Rapid Health Assesment. Terlihat dari jenis pelatihan yang harus dimiliki SDM, diketahui bahwa memang pelatihan mengenai penanggulangan bencana banjir, secara khusus tidak ada.

Dari hasil wawancara dengan salah seorang informan diketahui bahwa selain diperuntukan bagi tenaga kesehatan, pelatihan penanggulangan bencana banjir juga diperuntukan bagi warga masyarakat. Berikut hasil kutipan wawancaranya:

“Pelatihan juga diperuntukan untuk orang awam, polisi, trantib, dan petugas Rumah Sakit juga ikut..semua ikut deh...”(Informan 5)

Hal senada juga dikatakan oleh salah seorang informan, yang merupakan Ketua RT yang wilayah kerjanya terkena banjir. Berikut penuturannya:

“Warga sini, ada beberapa yang dapet pelatihan, yang ngadain pemerintah. Pelatihan nya yah berupa penanggulangan banjir.” (Informan 8)

Dari hasil FGD dengan dua kelompok warga yang terkena bencana banjir diketahui bahwa terdapat pelatihan untuk penanggulangan bencana banjir yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, namun bagi dua kelompok warga tersebut manfaat dari pelatihan masih kurang, karena pelatihan dilakukan di darat sehingga warga tersebut tidak mengetahui bagaimana dalam mempraktikkannya saat terjadi bencana banjir.

Dari hasil wawancara mendalam dan FGD, dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan formal yang dimiliki oleh pegawai di Subdinkes Gawat Darurat dan Bencana Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta masih belum sesuai dengan Tupoksi

yang dimiliki pegawai tersebut, namun hal ini tidak menjadi masalah karena proses pembelajaran dalam melaksanakan pekerjaan dapat dilakukan saat bekerja terlepas dari tingkat pendidikan yang dimiliki oleh seseorang, yang dibutuhkan adalah adaptasi dan kemauan untuk mempelajari hal yang baru. Pelatihan mengenai penanggulangan bencana selain diberikan untuk pegawai di Subdinkes Gawat Darurat dan Bencana, juga diberikan untuk petugas kesehatan, keamanan, dan juga orang awam. Namun, dari hasil FGD dengan para korban bencana banjir diketahui bahwa, menurut pandangan mereka manfaat dari pelatihan penanggulangan bencana banjir masih kurang, karena pelatihan tersebut dilaksanakan di daratan yang kering sehingga saat terjadi bencana banjir para warga kesulitan untuk menerapkan apa yang sudah dilatih dalam pelatihan tersebut.

6.4.1.3 Motivasi

Motivasi adalah kekuatan penggerak dari dalam yang mendatangkan kesenangan dalam bekerja (Hagemann, 1993). Motivasi dalam bekerja sangatlah penting untuk mendukung kualitas dan hasil dari pekerjaan. Semangat dan motivasi kerja para karyawan sudah cukup tinggi, hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara berikut:

“Terlalu semangat, semangatnya luar biasa.” (Informan 1)

“Kalau semangat kerja pada saat terjadi bencana, mereka (pegawai dan petugas lapangani) cukup kompak dalam bekerja.” (Informan 2)

“Kalau saya, karena sudah dikasih kepercayaan dan tanggung jawab dari atasan, jadi saya kerjakan. 24 jam saya siap selalu.” (Informan 5)

Hubungan antar manusia dan kerjasama sangat penting untuk pengembangan motivasi, karena itu pengembangan profesi saja tidak cukup, juga dibutuhkan kemampuan untuk bersosialisasi. Suasana yang menyenangkan dan santai juga mendukung pencapaian sasaran dalam bekerja (Hagemann, 1993). Rekan kerja dapat dijadikan sebagai salah satu motivator dalam bekerja, seperti penuturan informan berikut ini:

“Yang memotivasi saya...yaa teman-teman yang ada disini. Jadi saya semangat.” (Informan 4)

Dari hasil wawancara tersebut, dapat dilihat bahwa motivasi yang timbul adalah dorongan yang berasal dari dalam diri, sementara dorongan dari luar masih kurang. Kesadaran SDM akan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas dalam upaya penanggulangan bencana banjir, menjadikan suatu motivasi dalam bekerja, terlebih lagi kekompakan yang terjadi dalam bekerja juga turut menambah semangat kerja. Keinginan yang tinggi untuk mencapai tujuan yang diinginkan adalah sangat penting untuk terselenggaranya kualitas dan pencapaian yang baik.

6.4.2 Dana

Untuk melakukan aktivitas manajemen diperlukan uang, yang dipergunakan untuk pembayaran gaji karyawan, melakukan proses produksi, membeli peralatan-peralatan kantor, dan lain-lain. Uang ini harus digunakan untuk mencapai tujuan dari proses manajemen itu sendiri, kesalahan atau kegagalan dalam proses manajemen dapat dipengaruhi oleh kesalahan dalam perhitungan keuangan, karena sebab itu uang merupakan unsur yang penting dalam manajemen (Manullang, 1981). Dana yang dimaksud adalah meliputi ketersediaan dan kecukupan dana untuk

penanggulangan bencana banjir tahun 2007 oleh Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.

6.4.2.1 Ketersediaan

Banjir adalah kejadian bencana yang selalu terjadi di DKI Jakarta setiap tahunnya, karena itu dana untuk upaya penanggulangan bencana banjir sudah dianggarkan setiap tahunnya. Berikut penuturan beberapa informan:

“Dana untuk banjir selalu tersedia, karena kan banjir itu kejadian yang rutin terjadi.” (Informan 2)

“Ada dana untuk bencana, namanya dana dedicated” (Informan 6)

Pada saat tanggap darurat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana menggunakan dana siap pakai. Dana siap pakai disediakan oleh Pemerintah dalam anggaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Pasal 62, UU RI No. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana).

Dalam buku pedoman penanggulangan banjir bidang kesehatan di Provinsi DKI Jakarta dijelaskan bahwa, dana yang dibutuhkan dalam penanggulangan bencana banjir terutama untuk bidang kesehatan diperoleh dari APBD, Departemen Kesehatan, dan bantuan lain yang tidak mengikat. Dengan pembagian untuk penanggulangan pra banjir sebesar 40%, saat banjir 30%, dan pasca banjir 30% dari total dana yang tersedia.

Dana untuk kegiatan pra banjir digunakan untuk maping daerah rawan banjir, gladi banjir, piket siaga, sosialisasi protap, pelatihan tenaga kesehatan dan

masyarakat awam dalam penanggulangan banjir, serta pengadaan obat-obatan, alat-alat, makanan PMT (Pemberian Makanan Tambahan) untuk perbaikan gizi balita.

Untuk kegiatan saat banjir dana digunakan untuk biaya kompensasi perawatan kelas tiga korban banjir; honor, transport, konsumsi petugas pada pelayanan kesehatan; honor piket posko terpadu; honor, transport, konsumsi petugas kesehatan untuk imunisasi campak.

Dan untuk pasca banjir dana digunakan untuk biaya kompensasi pengobatan dan perawatan kelas tiga korban banjir, biaya sueveilans penyakit (penyakit-penyakit akibat banjir), perbaikan gizi untuk resiko tinggi (bayi, balita, bumil, busui, manula), honor, transport, konsumsi petugas pada saat kegiatan lisolisasi, kaporisasi dan abatisasi, pengobatan, serta penyuluhan tentang penyakit-penyakit dan akibatnya dan pasca banjir.

Namun ketersedian dana tersebut tidak diiringi dengan ketepatan waktu pengucuran dana, seperti yang dikatakan beberapa informan berikut ini:

“Tersedia sih, tapi sering terlambat. Masalah banget nih” (Informan 5)

“Ada dananya, tapi sering terbentur penyerapan dana jadinya sering terlambat. Tapi kalau ada bencana pakai dana taktis.” (Informan 6)

“Sering tidak tepat waktu dan ini menjadi masalah yang luar biasa, tapi kita sebagai PNS yah nikmatin aja.” (Informan 1)

“Seringnya dana baru turun begitu bencana sudah terjadi.” (Informan 2)

“Sering terlambat, jadinya semua mempengaruhi kinerja juga.” (Informan 3)

Dari hasil wawancara mendalam dan studi kepustakaan dapat diketahui bahwa dana untuk penanggulangan bencana banjir sudah ada, namun sering terjadi keterlambatan dalam pengucuran dana. Adanya keterlambatan ini dapat menghambat pelaksanaan pekerjaan. Terlebih dalam upaya penanggulangan bencana banjir sangat diperlukan kecepatan dalam pemberian dukungan kesehatan.

6.4.2.2 Kecukupan

Kecukupan dana adalah faktor yang sangat penting dalam pelaksanaan suatu kegiatan, termasuk untuk kegiatan penanggulangan bencana banjir. Kejadian banjir pada tahun 2007 di DKI Jakarta, merupakan salah satu kejadian bencana banjir terbesar yang pernah terjadi. Dan untuk menanggulanginya diperlukan dana yang cukup besar untuk dapat memaksimalkan kegiatan penanggulangan bencana banjir.

Dari hasil wawancara mendalam, diketahui bahwa dana yang tersedia belum cukup untuk menunjang usaha penanggulangan bencana banjir tahun 2007, berikut penuturan informan tersebut:

“Tergantung besar bencananya. Banjir 2007 cukup besar jadi menurut saya belum cukuplah” (Informan 3)

“Dana kan sudah diperkirakan setiap tahunnya dan usulan sudah diajukan, tapi sering terlambat. Karena sering terlambat jadinya ga pernah cukup” (Informan 5)

Peneliti melihat masalah ketidak cukupan dana ini terkait dengan masalah adanya keterlambatan dalam pengucuran dana. Dari kegiatan praktikum kesehatan masyarakat yang peneliti lakukan di Subdinkes Gawat Darurat dan Bencana selama

bulan Februari s/d April 2008, peneliti mengetahui bahwa untuk dana kegiatan tahun 2007 baru diperoleh di pertengahan tahun 2007, sehingga kegiatan untuk bulan-bulan sebelumnya ditunda terlebih dahulu. Hal ini tentunya sangat menghambat kegiatan.

6.4.3 Sarana

Dalam pelaksanaan kegiatan dibutuhkan sarana-sarana yang dapat digunakan untuk mendukung kegiatan (Manullang, 1981). Sarana yang dimaksud disini adalah sarana transportasi, komunikasi, dan logistik yang digunakan untuk penanggulangan bencana banjir, dilihat dari segi sumber, kecukupan, dan kondisi.

6.4.3.1 Sumber

Sarana untuk penanggulangan bencana banjir yang terdapat di Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, terutama di Subdinkes Gawat Darurat dan Bencana, baik itu sarana transportasi, komunikasi, maupun logistik diperoleh dari APBN dan APBD. Seperti yang disampaikan beberapa informan berikut:

“Semua sarana yang dimiliki kita peroleh dari APBD” (Informan 1) “Semuanya kita dapat dari APBD dan APBN” (Informan 2)

APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) merupakan instrumen untuk mengatur pengeluaran dan pendapatan negara dalam rangka membiayai pelaksanaan kegiatan pemerintahan dan pembangunan, mencapai pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pendapatan nasional, mencapai stabitas perekonomian, dan menentukan arah serta prioritas pembangunan secara umum (Wikipedia. 2008:

http://id.wikipedia.org/wiki/APBN#Tahapan_penyusunan.2C_pelaksanaan.2C_dan_ pertanggungjawaban_APBN).

APBD merupakan turunan dari APBN, yaitu Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang merupakan rencana keuangan tahunan pemerintah daerah di Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Wikipedia. 2008: http://id.wikipedia.org/wiki/Anggaran_Pendapatan_dan_Belanja_Daerah).

Sarana untuk menghadapi situasi kegawatdaruratan dapat berasal dari berbagai sumber, baik yang diperoleh langsung dari pemerintah, organisasi pemberi bantuan, yang diterima dari sumbangan masyarakat, atau pun pinjaman (PAHO, 2006).

6.4.3.2 Kecukupan

Hasil wawancara dengan informan mengenai kecukupan sarana, beberapa informan berpendapat bahwa sarana yang ada masih kurang. Berikut hasil wawancaranya:

“Kalau kita mau lebih luas lagi untuk mengetahui lokasi di DKI Jakarta, saya rasa sarana yang sekarang masih kurang sesuai dengan kebutuhan.” (Informan 2)

“Ya masih kurang, terutama transportasi. Tapi dengan keterbatasan yang ada harus kita akalin, pake prioritas, daerah yang terparah kita bantu datangi duluan.” (Informan 5)

“Saya rasa belum mencukupi, karena dari semua sarana yang kita ajukan ngga semuanya disetujui.” (Informan 6)

Dari hasil wawancara diketahui bahwa adanya kekurangan sarana untuk penanggulangan bencana banjir. Sarana prasarana yang dibutuhkan dalam

penanggulangan bencana banjir bidang kesehatan meliputi obat-obatan, bahan-bahan, peralatan pelayanan kesehatan, peralatan lapangan dan alat komunikasi dan transportasi.

Menurut buku pedoman penanggulangan banjir bidang kesehatan di Provinsi DKI Jakarta pada pra banjir sarana yang diperlukan adalah sarana untuk kegiatan penyuluhan, rapat koordinasi, penyiapan gladi posko lapangan, mapping lokasi rawan banjir, mapping tempat pengungsi, dan kerja bakti. Pada saat banjir sarana yang dibutuhkan adalah sarana untuk pelayanan kesehatan, evakuasi pasien, obat-obatan, MCK, surveilans, investigasi, dan sistem komando. Dan pada pasca banjir sarana yang dibutuhkan adalah sarana untuk pelayanan kesehatan rujukan, surveilans, vector kontrol, dan sistem komando.

Dalam melakukan penanggulangan bencana banjir jumlah sarana tersebut diatas harus sesuai dengan kebutuhan dan tidak mengalami kekurangan, sehingga pelaksanaan penanggulangan bencana banjir dapat berjalan lancar.

6.4.3.3 Kondisi

Menurut wawancara mendalam dengan beberapa informan diperoleh informasi bahwa kondisi sarana yang ada masih dalam keadaan baik. Berikut kutipan hasil wawancara dengan beberapa informan tersebut:

“75% baik, tapi ada beberapa yang perlu perbaikan.”(Informan 3) “75% masih layak pakai.” (Informan 6)

Untuk menjaga kondisi dari sarana tentunya diperlukan perawatan. Pada Subdinkes Gawat Darurat dan Bencana terdapat perawatan untuk sarana penanggulangan bencana yang dimiliki, namun perawatan yang dilakukan sering

mengalami keterlambatan, hal ini disebabkan adanya keterlambatan pengucuran dana. Berikut hasil wawancara dengan salah satu informan:

“Ada perawatan tapi suka terlambat, yah karena keterlambatan dana tadi.” (Informan 1)

Perawatan terhadap sarana penunjang untuk penanggulangan bencana banjir sangatlah penting untuk menjaga terpeliharanya kondisi sarana tersebut. Inspeksi secara teratur harus dilakukan untuk menentukan kondisi sarana yang ada. Perbaikan yang diperlukan harus dilakukan sesegera mungkin untuk mencegah terjadinya kerusakan menjadi semakin buruk (PAHO, 2006). Keterlambatan dalam pemberian perawatan dapat menurunkan kualitas dan kemampuan sarana tersebut.

6.4.4 Metode

Untuk mencapai tujuan dari kegiatan, dalam pelaksanaannya harus didukung dengan adanya metode (Method) yang sesuai dan berdaya guna sehingga dapat memberikan hasil yang terbaik (Manullang, 1981). Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dalam hal ini Subdinkes Gawat Darurat dan Bencana memiliki acuan, metode atau prosedur mengenai penanggulangan bencana banjir. Hal ini diketahui dari hasil wawancara mendalam dan penelusuran dokumen yang dilakukan oleh peneliti. Berikut kutipan hasil wawancara mendalam dengan dua orang informan:

“Kita sudah punya petunjuknya, semua sudah ada petunjuk penanggulangan banjir.” (Informan 3)

“Ada, kan ada buku pedoman banjir.” (Informan 6)

Untuk keberhasilan program penanggulangan bencana banjir sangat dibutuhkan ketersediaan metode, karena metode merupakan suatu cara yang

diterapkan untuk melaksanakan suatu tugas tertentu. Buku pedoman penanggulangan banjir bidang kesehatan di Provinsi DKI Jakarta dilihat dari segi kelengkapan dan kejelasan isi metode sudah baik, semua metode untuk tiap-tiap level bencana sudah lengkap. Seperti yang dikatakan oleh beberapa informan berikut:

“Sudah lengkap, semua metode penanggulangannya sudah lengkap dimulai dari kesiapsiagaan, mitigasi, pada saat kejadian banjir, dan rehabilitasinya bagaimana. Semua sudah ada prosedurnya.” (Informan 1)

“Pembuatan pedoman kita buat kan berdasarkan pengalaman, jadi semua metode sudah ada untuk tiap-tiap level bencana. Sudah cukup lengkap. Tapi kejelasan bahasanya harus ditingkatkan.” (informan 3)

“Semuanya sudah tercantum di pedoman, sudah cukup jelas semuanya. Perintah-perintahnya juga sudah ada.” (Informan 5)

“Sudah cukup jelas, namun ada beberapa yang harus direvisi. Karena kan situasi di lapangan terus berubah.” (Informan 6)

6.5 Process

Process (proses) adalah langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan proses adalah pemberian dukungan kesehatan dan ketaatan terhadap prosedur.

Dokumen terkait