• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III: GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

C. Pendidikan

Peningkatan mutu pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam suatu masyarakat yang rendahnya tingkat pendidikan akan semakin terpuruk dan semakin ketinggalan dengan penduduk-penduduk lainnya. Oleh sebab itu, peran semua pihak untuk terus mensosialisasikan pentingnya peningkatan mutu pendidikan merupakan suatu hal yang mutlak yang diperlukan dalam setiap masyarakat yang ada di Desa Busung Indah Kecamatan Teupah Tengah.

Keadaan pendidikan di Desa Busung Indah tergolong sudah maju, keadaan tersebut dapat terlihat dari tingkat pendidikan masyarakat yang sudah meningkat, tingkat pendidikan memang menjadi sesuatu yang mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Keadaan kehidupan sosial masyarakat tingkat pendidikan selalu berubah-berubah sesuai tuntutan zaman, sama halnya dengan keadaan sosial masyarakat Desa Busung Indah dulu dengan sekarang sangat terlihat perubahan khususnya ditingkat pendidikan, dahulu minat pendidikan masyarakat yang ada di

22

Desa Busung Indah sangat minim berbeda dengan sekarang, contohnya dulu tidak ada Pendidikan TK (Taman Kanak-kanak) sekarang TK sudah banyak di temukan di daerah Teupah Tengah. Contoh lain ialah dimana dulu anak tidak banyak yang di sekolah kan karena masyarakat merasa tidak sanggup untuk membiayai sekolah anak. Perbedaan nya dengan sekarang itu sangat meningkat kerena sudah ada Pendidikan sekolah dini di Desa Busung Indah.

D. Adat Istiadat

1. Pernikahan dan Kematian

Pada umumnya adat istiadat di Simeulue tidak ada perbedaan, yang membedakan pada masa sekarang ialah masih atau tidak berjalannya tradisi tersebut. Seperti di Desa Busung Indah Kecamatan Teupah Tengah, tradisi-tradisi di dalam masyarakatnya masih terjaga meskipun ada sebagian kecil yang tidak mengikutinya. Masyarakat Desa busung Inadah sangat kental dengan adat istiadat warisan leluhur, yaitu melakukan upacara adat dalam masa hidup, seperti upacara adat kelahiran, kebiasaan yang dilakukan ialah seperti Aqiqah di hari ketujuh sesudah melahirkan, Aqiqah dilaksanakan bagi yang mampu saja dan tidak diwajibkan.

a. Pernikahan

Dalam adat pernikahan, biasanya masyarakat Simeulue sangat menghormati adat rasam tatanan budaya serta nilai nilai keagamaan termasuk dalam hal perkawinan “Adat bersandingkan syarak, syarak bersandingkan hukum, hukum bersandingkan kitabullah.” Adat adalah aturan yang bersendikan syariat Islam yang lazim berlaku dan di hormati sejak dahulu. Agar adat dan rasam

perkawinan di Simeulue dapat berhasil guna dan berdaya guna perlu diadakan/diinventarisasikan kembali sehingga adat dan rasam perkawinan yang sudah mulai hilang dapat tergali kembali sesuai dengan aslinya.

b. Kematian

Adat adat rasam carai mati tetap berlaku di kabupaten Simeulue pada suatu saat takdir Allah SWT. Seorang suami meninggal dunia yang ditinggalkan istri dan beberapa orang anak, maka dari pihak wali waris terhadap istri almarhum yang ditinggalkan ada beberapa hal/tugas tanggung jawab dari pihak yang bermalu/family dari almarhum yaitu mengembalikan istri yang yang di tinggalkan kepada orang tua/wali siperempuan sesuai dengan adat rasam yang berlaku.17

Dari hasil pengamatan peneliti, bahwa masyarakat di Desa Busung Indah menjalankan dua tradisi ini sesuai dengan kemampuan yang ada. Namun ada juga sebagian tidak melakukan dikarenakan beberapa faktor yang diantaranya ialah faktor perekonomian. Dilihat dari hasil pengamatan peneliti, hampir 60%

masyarakat melaksanakan kedua tradisi di atas.

E. Keadaan sosial Keagamaan dan Budaya

Sosial keagamaan masyarakat Desa Busung Indah Kecamatan Teupah Tengah, tidak jauh berbeda dari daerah-daerah lainnya. Sosial keagamaan dalam masyarakat masih tetap dilakukan seperti pengajian dan gotong royong serta maulid Nabi Saw yang dilakukan secara besar-besaran. Adapun pengajian biasanya dilakukan pada malam jum’at secara bergiliran dari satu Desa ke Desa lainnya, dan juga ketika ada undangan dari pihak mana pun. Begitu juga dengan gotong royong,

17 Alfian Afif, dkk, Buku panduan Adat..., hal. 35.

24

dalam hal ini pihak laki-laki yang biasa melakukannya, dalam khanduri blang juga terlihat bagaimana kekerabatan antar-warga masih tetap terjaga, ketika dilakukannya khanduri blang beberapa masyarakat berpartisipasi dalam membuat hidangan makanan, biasanya makanan diminta perorang atau keluarga sesuai dengan kemampuan.

Bagi masyarakat Desa Busung Indah Kecamatan Teupah Tengah, jika hukum adat tidak dilakukan maka merupakan hal yang dianggap tabu (asing).

Meskipun masyarakat tidak seluruhnya berAgama Islam namun tradisi lama masih tetap terjaga, dalam hal ini masyaraka ada yang pro danmada juga yang kontra terhadap tradisi-tradisi yang ada. Tidak dapat dipungkiri bahwa terjadi perpecahan dalam satu atau beberapa desa mengenai adat yang dijalani dalam masyarakat.

Imam berperan besar dalam melakukan tradisi-tradisi tersebut, karena Imam merupakan panutan bagi masyarakat. Hal ini sangat didukung oleh masyarakat, dimana Simeulue merupakan kabupaten yang banyak memiliki adat yang muncul berdasarkan ide-ide dan alasan-alasan yang menguatkan untuk mengadakan suatu adat atau kegiatan yang banyak berkaitan dengan upacara kelahiran, pernikahan, dan juga kematian.

Adapun keadaan sosial kebudayaan dalam masyarakat yang ada di Kecamatan Teupah Tengah adalah sebagai berikut:

a. Memiliki jiwa gotong-royong yang sangat besar dan sangat menjunjung tinggi rasa kebersamaan antar sesame.

b. Memiliki rasa kekeluargaan yang masih sangat erat.

c. Sering mengadakan peringatan acara acara keagamaan dan adat kebudayaan.

Masyarakat mudah memberikan bantuan baik secara moral maupun secara spiritual untuk terlaksanakan nya kegiatan yang bersifat kebersamaan. Adapun bidang sosial budaya sudah banyak mengalami kemajuan di mana para generasi baru sudah banyak yang aktif dan mau mengikuti dibidang seni seperti nandong, debus, silat, rapa’i geleng, dan rebana. Keahlian yang dimiliki oleh generasi-generasi muda ini tidak hanya sebatas itu saja tetapi juga banyak di sukai oleh masyarakat di luar daerah untuk diundang atau di pertandingkan dengan grup seni lainnya. Disini perlu adanya pelestarian ataupun menjaga budaya yang telah ada dengan sebaik-baiknya.

26 BAB IV

PAPAR DALAM ADAT KEMATIAN

DI KECAMATAN TEUPAH TENGAH KABUPATEN SIMEULUE A. Sejarah Tradisi Papar

Berdasarkan hasil wawancara dengan ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Simeulue, asal mula tradisi Papar ialah dimulai dari ambuama, indatu-indatu, susupiu, nenek moyang hingga keturunan.18 Meskipun tidak ada paksaan bagi masyarakat untuk melaksanakan tradisi ini, Masyarakat Kecamatan Teupah Tengah khususnya Desa Busung Indah masih sangat menjaga tradisi Papar secara turun-temurun. Seiring berjalannya waktu, perekonomian di Desa Busung Indah ada yang maju dan ada yang tidak maju. Berdasarkan informasi yang didapat oleh peneliti, tradisi ini dilakukan dengan beberapa proses. Untuk melaksanakan serangkaian proses tersebut maka pelaksana tradisi ini harus menyediakan berbagai peralatan mulai dari makanan hingga peralatan lain yang akan diperlukan. Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat di Desa Busung Indah yang melaksanakan tradisi Papar yaitu 70% saja.

1. Pengertian Papar

Papar di Kabupaten Simeulue Khususnya di Desa Busung Indah Kecamatan Teupah Tengah diartikan sebagai pembagian harta atau pemaparan harta. Papar hanya dilakukan dalam perpisahan mati, sementara perpisahan hidup disebut frait (perceraian). Jika seorang suami meninggal, maka akan dilaksanakan lima tahapan, di antaranya ialah :

18 Hasil wawancara dengan Syamsuir Djam, (Ketua Majelis Adat Aceh Kabupaten Simeulue) pada tanggal 04 Agustus 2020.

a. Tahap Sarak papar.

Sarak adalah penyampaian, sedangkan papar adalah rincian. Dalam tahap awal dari tradisi papar, proses sarak papar ini dilaksanakan pada malam ke tujuh meninggalnya almarhum dan tahap ini dilaksanakan diawal acara karena yang mengawali pembicaraan dan yang bertanggung jawab dalam tradisi papar adalah pihak hukum dengan adat yang disaksikan di hadapan wali dan waris pihak almarhum dan pihak isteri. Sarak papar ini dilaksanakan jika almarhum tidak menuliskan wasiat masalah harta.

Gambar 3.1 : gambar diatas menujukan duduk awal pembicaraan dari hukum dan adat.

b. Tahap Manjalang tuaik faten.

Tahap kedua ini adalah merupakan tahap pemutusan hubungan antara suami dan isteri yang telah berpisah disebabkan oleh meninggal, dalam adat Simeulue ketika pernikahan dilaksanakan dengan adat maka dipulangkan juga secara adat. Dari pemaparan tersebut dapat diketahui bahwa ketika dilaksanakan tradisi Papar, keluarga harus mengundang kembali wali dan waris serta hukum

28

dan adat untuk membicarakan dan memaparkan harta suami dan istri semasa hidup.

Gambar 3.2 : gambar diatas menunjukan bahwa

wali dan waris yang telah hadir duduk di depan hukum dan adat.

c. Tahap Mangatuk lulumang

Proses mangatuk lulumang adalah suatu proses yang mana jika seorang anak telah ditinggal oleh orang tuanya dan berubah status menjadi anak yatim, maka anak-anak dari suami atau istri yang meninggal tersebut memberitahukan hal ini kepada hukum adat dan wali waris. Anak-anak juga meminta kepada hukum adat dan wali waris agar dididik seperti didikan orang tuanya sendiri, yang berperan sangat penting untuk mendidik atau mengasuh anak-anak tersebut ialah dari pihak wali waris almarhum. Tetapi jika anak tersebut suda dewasa dan sudah berkeluarga, cukup memberi tahu bahwa mereka sudah tidak memiliki ayah.

Dalam tahap ini si anak yang masih kecil dan belum berkeluarga wajib menerima

harta dari alhamrhum ayah yaitu satu banding setengah untuk laki-laki dan perempuan.

Gambar 3.3 : gambar anak yang sedang berbicara dengan pihak hukum dan adat.

d. Tahap Mangameleng

Tahap ini hampir sama dengan proses di atas, di mana awal pembicaraan di proses ini akan diingatkan kembali dengan situasi awal lamaran yang dilakukan secara adat, dalam proses ini saat suami telah meninggal, maka anak yang masih kecil akan dibesarkan dan diurus oleh pihak keluarga almarhum dan isteri almarhum akan dikembalikan oleh keluarga almarhum kepada wali waris pihak isteri juga secara adat, tetapi jika anak-anak sudah dewasa hanya isteri almarhum saja yang dikembalikan oleh anak ke pada wali waris pihak isteri.

30

e. Tahap manidau

Manidau artinya ialah meminta. Pada proses ini anak-anak yang sudah dewasa meminta kembali ibu mereka yang pada proses sebelumnya telah dikembalikan kepada wali dan waris dengan disaksikan oleh hukum adat.

Permintaan ini dimaksudkan agar sang ibu diurus oleh anaknya sendiri dan bukan oleh wali waris. Selain itu, si anak juga berjanji akan mengurus lahir dan batin ibunya hingga meninggal bahkan hingga melaksanakan tradisi Papar seperti yang telah dilaksanakan pada almarhum ayah, dengan catatan bagian harta warisan yang ibu dapat dari warisan ayah itu dipegang atau disimpan oleh anak yang mengasuh ibu nya nnti.

Gambar 3.4 : gambar di atas menunjukan ketika anak yang sedang meminta ibunya dari pihak wali waris pihak ibu.

Setelah tahapan di atas selesai dilaksanakan, maka selesai juga dilaksanakan tradisi papar. Dalam hal ini setiap adat kematian selalu diiringi oleh

tradisi papar. Menurut masyarakat, tradisi papar adalah hal yang wajib untuk dilakukan setelah empat perkara yang merupakan fardhu kifayah. Menurut tatanan hukum sosial masyarakat, hal ini sangat berpengaruh bagi kelangsungan kehidupan keluarga. Jika tradisi papar tidak dilakukan maka akan menjadi sebuah kehinaan bagi sanak famili yang ditinggalkan, karena masyarakat menganggap tradisi papar merupakan perwujudan bentuk kasih sayang kepada almarhum yang telah menghadap kepada Yang Maha Kuasa. Selain itu, dilaksanakannya tradisi ini juga bertujuan agar keluarga tidak saling menyalahkan masalah harta warisan yang ditinggalkan oleh almarhum, sehingga bagi kebanyakan masyarakat di Desa Busung Indah tradisi papar menjadi sebuah perantara dari perwujudan bentuk kasih sayang tersebut sekaligus sebagai perwujudan harmonisasi di dalam keluarga.19

B. Proses Pelaksanaan Tradisi Papar a. Persiapan Pelaksanaan Tradisi papar

Setelah selesai dilakukan penguburan, tahap terakhir dalam upacara kematian adalah khanduri yang berlangsung di rumah almarhum Bapak Basir, yang dilakukan sejak hari pertama hingga keempat, kelima, keenam, ketujuh, kesepuluh, keempat belas, keempat puluh, dan keseratus. Khanduri pada hari ketiga, kelima, dan ketujuh dari hari kematian, biasanya dilaksanakan lebih besar (adanya penyembelihan kambing atau kerbau), dikarenakan pada waktu-waktu tersebut diadakannya pembacaan Al-Qur’an, tahlilan, samadiah, dan doa di rumah

19 Hasil wawancara dengan Kamaruddin, (Tokoh Adat Kecamatan Teupah Tengah) pada tanggal 22 Juli 2020.

32

almarhum Bapak Basir dan tradisi papar ini dilaksanakan di malam ketujuh meninggalnya Pak Basir.

Persiapan pelaksanaan yang dilakukan oleh keluarga terdekat almarhum ialah menyediakan beberapa kebutuhan yang diperlukan pada saat dilaksanakannya papar. Persiapan yang harus disediakan oleh pihak keluarga almarhum ialah makanan dan peralatan lain untuk digunakan seperti : tikar, kasur yang sudah disarungkan dengan warna sarung yang berbeda, taber, lagik-langik,dan masi banyak lainnya. Selain makanan, ketika acara papar akan dilaksanakan maka keluarga almarhum harus menyediakan dan menyajikan beberapa talam yang sudah diisi dengan pulut putih ditambah pisang dipinggir piring dan dua pisang di atas pulut, setelah empat talam tersebut suda diisi maka akan ditutupi dengan tudung saji yang dihiasi oleh selendang berbeda warnanya. Makanan yang disediakan oleh keluarga almarhum ini disajikan kepada pihak-pihak tertentu berdasarkan warna dari selendang, yakni:

a. Satu talam pulut untuk pihak Adat yang berselendang warna kuning b. Satu talam pulut untuk pihak Hukum yang berselendang warna putih

c. Satu talam pulut untuk pihak Wali Waris isteri yang berselendang warna hijau

d. Satu talam pulut untuk pihak Talangkae yang berselendang warna Merah e. Satu talam pulut untuk meminta kembali dari pihak anak almarhum kepada

pihak wali waris dari ibu yang berselendang warna Merah Muda.

Selain dari persiapan keluarga almarhum, yang ikut serta dalam menyiapkan perlengkapan untuk proses papar ialah keluarga terdekat dan

masyarakat yang juga ikut membantu menyediakan perlengkapan agar proses papar dapat dilaksanakan dengan baik.

Menurut hasil wawancara dengan Ibu Ainun, beliau menganggap bahwa berkunjung ke tempat duka dengan ikut merayakan dalam acara khanduri menjadi amal kebaikan dan memperoleh pahala. Setiap yang hidup pasti akan mati, oleh karena itu akan memperoleh nasib yang sama. Dengan hadirnya masyarakat ke rumah duka, diharapkan akan menghibur keluarga yang ditinggalkan. Hal ini dilakukan dengan harapan ketika musibah tersebut terjadi pada diri masing-masing, maka orang lain juga akan datang menghibur dan turut serta dalam membantu. Hubungan seperti ini sudah menjadi hal yang umum di dalam masyarakat Desa Busung Indah karena masyarakat memiliki sistem hubungan timbal-balik.20

Gambar 3.5 : gambar di atas menunjukan beberpa saudara dan masyarakat yang ikut membantu masak dan menyiapkan peralatan untuk acara papar.

20 Hasil wawancara dengan Ainun, (38 tahun sebagai anggota yang melaksanakan sekaligus Ibu PKK di Desa Busung Indah) pada tanggal 26 Juli 2020.

34

Gambar 3.6 : gambar di atas merupakan salah satu dari hidangan lima talam yang disediakan.

b. Hari Dilaksanakan Acara Tradisi Papar

Menurut hasil wawancara dengan Kamaruddin bahwa tradisi Papar tetap berlaku pada saat terjadinya kematian.21 Saat seorang suami meninggal dan meninggalkan istri juga beberapa orang anak, maka terhadap istri almarhum terdapat beberapa hal atau tugas dan tanggung jawab dari pihak wali waris atau pihak yang bermalu/famili dari almarhum salah satunya yaitu mengembalikan istri yang ditinggalkan kepada orang tua/wali si perempuan sesuai dengan adat dan rasam yang berlaku. Adapun adat dan rasam tersebut ialah sebagai berikut:

1. Setelah almarhum meninggal, selama tiga bulan sepuluh hari (habis masa ‘iddah), pihak wali almarhum mengadakan acara sarak papar dan menghadirkan wali waris, laulu, talangkai/anak talangkai dari kedua belah pihak, sesuai adat dan rasam yang berlaku di Simeulue. Sarak papar artinya menghitung pencaharian bersama, ini merupakan proses menghitung pencaharian yang didapat semasa hidup almarhum dan

21 Hasil wawancara dengan Kamaruddin, (Tokoh Adat Kecamatan Teupah Tengah) pada tanggal 22 Juli 2020.

pembahagian harta untuk istri dan anak yang ditinggalkan sesuai dengan hukum Fharaid.

2. Mengembalikan istri almarhum kepada wali waris secara adat dan rasam. Dalam hal ini ada dua cara pengembalian, yaitu:

a. Putui tali batali-tali, putui tali dipasambatkan yang artinya dari pihak keluarga ada yang bersedia menggantikan almarhum sebagai suami (malabet).

b. Putui krawang rampung hidung yang artinya istri dikembalikan secara adat kepada walinya. Sebagaimana awal tentu sedemikian akhirnya, sesuai dengan istilah anak ayam pulang kalasong anak itik pulang ke air. Dengan rasam-rasam yang disampaikan oleh pihak wali waris almarhum sebanyak empat buah pulot masing-masing:

1. Satu talam pulut untuk adat 2. Satu talam pulut untuk hukum

3. Satu talam pulut untuk wali waris pihak perempuan 4. Satu talam pulut untuk talangkae

5. Satu talam pulut untuk meminta kembali dari pihak anak almarhum kepada pihak wali waris dari ibu.22

Dengan ketentuan dalam masa seratus hari (sampai habis masa ‘iddah), dalam hal keperluan hidup istri maupun anak tetap menjadi tanggung jawab saudara dari almarhum.23

22 Hasil wawancara dengan Kamaruddin, (Tokoh Adat Kecamatan Teupah Tengah) pada tanggal 22 Juli 2020.

23 Hasil wawancara dengan Syamsuir Djam, (Ketua Majelis Adat Aceh Kabupaten Simeulue) pada tanggal 04 Agustus 2020.

36

Gambar 3.7 : gambar di atas menunjukan masyarakat dan keluarga yang hadir pada malam papar di rumah almarhum pak Basir.

C. Kekhasan Tradisi Papar

Seperti halnya di daerah-daerah lain, Kabupaten Simeulue khususnya di Desa Busung Indah Kecamatan Teupah Tengah, memiliki kekhasan adat yang belum tentu dan bahkan mungkin tidak dimiliki oleh daerah lain. Desa Busung Indah memiliki beragam adat di dalam kehidupannya di samping juga memiliki adat-adat yang dilakukan pada umumnya di Aceh. Namun, Desa Busung Indah memiliki keunikannya sendiri. Kekhasan tersebut dapat dilihat pada adat kematian di Desa Busung Indah, terutama dalam tradisi papar. Papar merupakan sebuah

adat yang pada intinya untuk menghormati jenazah dengan menyediakan beberapa peralatan untuk melaksanakan proses tradisi. Hingga pada saat masa sekarang, tradisi tersebut masih terdapat pada masyarakat Desa Busung Indah.24

Daerah Kabupaten lainnya yang ada di Provinsi Aceh tidaklah memiliki adat seperti tradisi papar. Dalam tatanan upacara kematian, daerah lain hanya berfokus kepada pelaksanaan fardhu kifayah terhadap mayat dan khanduri, yang umumnya dilaksanakan dengan hanya berzikir dan membaca Al-Qur’an.

Persamaannya ialah waktu khanduri tersebut dilaksanakan pada hari ketiga, kelima, ketujuh, keempat puluh, dan keseratus, hanya saja di daerah lain yang ada di Aceh khanduri masih dilaksanakan pada hari kesepuluh, kedua puluh, ketiga puluh dan keempat puluh. Masyarakat Desa Busung Indah, dalam melaksanakan tradisi papar pada acara khanduri itu disaksikan oleh masyarakat desa. Umumnya mereka yang dari kalangan atas atau yang berpenghasilan tinggi, mengadakan acara yang lebih besar dibandingkan masyarakat menengah ke bawah lainnya.

D. Makna Simbolik Dari Peralatan Yang Digunakan Pada Saat Tradisi Papar Dilaksanakan

1. Taber

Taber merupakan simbol adat yang dipakai secara turun-temurun dan telah menjadi suatu budaya di kalangan masyarakat Kabupaten Simeulue khususnya di Desa Busung Indah Kecamatan Teupah Tengah. Taber mencerminkan kehidupan sosial budaya dalam kehidupan masyarakat secara keseluruhan yang terwujud

24 Hasil wawancara dengan Ainun, (39 tahun sebagai masyarakat yang melaksanakan sekaligus Ibu PKK di Desa Busung Indah) pada tanggal 26 Juli 2020.

38

dalam warna-warna tertentu dan simbol-simbol lainnya. Warna-warni taber dapat diartikan sebagai lambang ganda:

a. Warna kuning melambangkan adat b. Warna putih melambangkan hukum c. Warna merah melambangkan panglima d. Warna hijau melambangkan ulam

e. Warna hitam melambangkan cendikiawan f. Warna merah muda melambangkan rasam g. Warna biru tua melambangkan masyarakat

Gambar 3.8 : gambar di atas menunjukan warna-warna taber.

Selain itu, taber juga dapat dilihat bentuk mata-mata, yang terdiri dari:

a. Mata lolak artinya pandangan atau cara pandang masyarakat Simeulue terhadap diri sendiri dan juga kepemimpinannya.

Gambar 3.9

b. Mata Empat bermakna bahwa masyarakat Simeulue lebih mengedepankan gotong royong dan kebersamaan dalam berbuat dan bertindak terutama dalam sosial kemasyarakatan.

Gambar 3.11

c. Mata Sembilan bermakna bahwa pulau Simeulue yang didiami oleh beraneka ragam masyarakat yang terdiri dari beberapa suku, tetap mengedepankan persatuan dan kebersamaan dalam memaknai hidup.

Gambar 3.12

d. Mata barambang dengan corak dan bentuk seperti sinar matahari, hal ini bermakna sumber kehidupan yang berarti bahwa kelak masyarakat akan senantiasa hidup bahagia, rukun dan damai dalam mengarungi hidup dan senantiasa mendapat sumber kehidupan yang baik, juga buah barambang merupakan kesukaan ibu-ibu pada masa itu.

40

Gambar 3.13

e. Kaok alian dalam bahasa Indonesia dikenal dengan lipan artinya keamanan dari berbagai kemungkinan yang akan terjadi, sehingga diberi tanda yang bersangkutan dengan pelindung dan dinaungi.

Gambar 3.14

f. Mata tapak itik artinya melambangkan kehati-hatian dalam melangkah dan bertindak untuk sesuatu yang akan dikerjakan.

Gambar 3.15

g. Mata lida-lida bermakna bahwa dalam kehidupan, masyarakat Simeulue menerapkan dan mengedepankan kesantunan dalam berbicara atau bertutur kata. Hal ini diharapkan dengan kesantunan dan etika berbicara yang dimiliki akan dapat menyampaikan maksud secara baik dan

g. Mata lida-lida bermakna bahwa dalam kehidupan, masyarakat Simeulue menerapkan dan mengedepankan kesantunan dalam berbicara atau bertutur kata. Hal ini diharapkan dengan kesantunan dan etika berbicara yang dimiliki akan dapat menyampaikan maksud secara baik dan

Dokumen terkait